Dalam sub-bab ini, penulis akan menunjukkan bahwa Latvia benar-benar merasa terancam dengan strategi Hybrid Warfare Rusia dengan melakukan analisis terhadap dua indikator yaitu artikulasi pembuat keputusan dan deskripsi pengamat kontemporer. Kedua indikator ini pada dasarnya memiliki pembahasan yang sama yaitu pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh para pembuat keputusan baik dari Latvia ataupun sekutu Latvia yang melihat kondisi ancaman yang dirasakan oleh Latvia. Untuk pernyataan pembuat keputusan yang berasal dari Latvia, pembuat keputusannya dapat berupa diplomat, presiden, perdana menteri ataupun orang-orang penting dalam negara tersebut yang memberikan pernyataan mengenai ancaman yang dirasakan terhadap Hybrid War Rusia.
Salah satu pernyataan diberikan oleh Sekretaris Menteri Pertahanan Latvia yang bernama Janis Garisons pada tanggal 12 Oktober 2017, beliau menyatakan bahwa “Russia is exploiting our weaknesses”.133 Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa Latvia merasa Rusia sedang mengeksploitasi kelemahannya. Eksploitasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan konflik diskriminasi Etnis Rusia di Latvia. Rusia mendukung aksi-aksi protes yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pro-Rusia yang melakukan demonstrasi di Latvia. pro-Rusia mengirimkan disinformasi untuk mempengaruhi kelompok-kelompok tersebut, sehingga mereka terprovokasi dengan Rusia. Rusia juga memanfaatkan perbedaan bahasa, budaya maupun agama di 133 Reid Standish, “Russia’s Neighbors Respond to Putin’s ‘Hybrid War’” yang diakses melalui
https://foreignpolicy.com/2017/10/12/russias-neighbors-respond-to-putin-hybrid-warlatvia-estonia-lithuania-finland/ pada tanggal 25 Maret 2020 pukul 20.26 WIB.
99
Latgale agar mereka dapat melakukan separatisme. Terlebih lagi Etnis Rusia mendominasi wilayah tersebut sehingga lebih mudah lagi untuk Rusia memprovokasi mereka. Rusia bahkan melakukan cyber attacks terhadap instansi pemerintahan Latvia. Garisons juga mengatakan bahwa :
“Our aims is now to build societies that are resilient to these kinds of
threats”.134
Pernyataan tersebut mengartikan bahwa pemerintahan Latvia saat ini sedang berusaha membuat masyarakatnya tidak terpengaruh dengan disinformasi yang disebarkan oleh Rusia. Pemerintah Latvia juga berharap agar masyarakat tidak mudah percaya atas berita-berita yang disebarkan oleh Rusia.
Pembuat keputusan lain juga menyatakan pandangannya bahwa ancaman saat ini adalah perang informasi. Pandangan tersebut disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Latvia yang bernama Rihards Kozlovskis. Melalui wawancara yang dilakukan oleh pihak Reuters yang diterbitkan pada tanggal 12 Maret 2015, Kozlovskis menyatakan bahwa :
“If we talk about domestic security, then one of the threats is the information war………. in media.”135
Melalui pernyataan tersebut data diketahui bahwa perang informasi merupakan ancaman terbesar bagi Latvia saat ini. Upaya cyber attack maupun penyebaran yang disinformasi yang dilakukan oleh Rusia menjadi hal yang sangat bahaya bagi Latvia. Melalui disinformasi tersebut, Rusia dapat melakukan provokasi terhadap minoritas
134 Ibid.
135 Aija Krutaine, “Latvia Minister Cites Threat From ‘Information War’ Over Russian Minority” diakses melalui https://www.reuters.com/article/us-latvia-threat-idUSKBN0M823L20150312 pada tanggal 25 Maret 2020 pukul 14.10 WIB.
100
Rusia di Latvia sehingga mereka dapat membuat kekacauan bahkan gerakan separatisme di Latvia. Hal tersebut menjadi ancaman berbahaya bagi Latvia saat ini. Kozlovkis juga mengatakan bahwa :
“A number of organizations use funding from the Russian state to spread the idea
that Russian speakers are discriminated against and facism is resurging in Latvia.”136
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Rusia telah memulai perang disinformasinya terhadap Latvia. Serangan tersebut dilakukan dengan cara menyebarkan disinformasi mengenai diskriminasi yang terjadi pada entitas berbahasa Rusia di Latvia yang dilakukan oleh kelompok yang didanai oleh Rusia. Hal ini dapat menyebabkan konflik jika Latvia tidak dapat mengatasi serangan disinformasi tersebut.
Pada tahun 2012, Rusia juga pernah menyebarkan disinformasi berupa referendum untuk menjadikan Bahasa Rusia sebagai bahasa kedua Latvia.137 Berita disinformasi tersebut juga mengatakan bahwa 40% orang Latvia yang berbahasa Rusia adalah warga negara kelas dua. Selain itu, juga mengatakan bahwa ekonomi Latvia lebih buruk setelah bergabung engan Uni Eropa dan Amerika Serikat telah mendikte kebijakan Latvia serta hubungan yang buruk dengan Rusia.138 Menanggapi hal tersebut, Janis Sart seorang pejabat nomor dua di Kementerian Pertahanan Latvia mengatakan bahwa :
136 Ibid.
137 Hal Foster, “#StrongerWithAllies: Meet the Latvian Who Leads NATO’s Fight Against Fake News” yang diakses melalui https://atlanticcouncil.org/blogs/new-atlanticist/strongerwithallies-latvian-leads-nato-s-fight-against-fake-news/ pada tanggal 8 April 2020 pukul 14.24 WIB.
101
“It showed the magnitude of Russia’s hold on the information space in the
country”139
Pernyataan tersebut diterbitkan pada tanggal 19 Maret 2019 oleh Atlantic Council. Pernyataan Sart tersebut mengandung arti bahwa Rusia telah berhasil untuk menguasai informasi di Latvia. Sehingga Rusia dapat menyebarkan berita disinformasi kepada masyarakat, yang dapat mengarahkan opini masyarakat.
Selain itu, juga ada pernyataan oleh Kementerian Pertahanan Latvia mengenai pengembangan nuklir dengan daya ledak kecil yang dilakukan oleh Rusia. Dikatakan juga bahwa pasukan Rusia telah dilatih untuk operasi serangan kilat dengan menggunakan senjata nuklir yang baru dikembangkan itu. Salah seorang pejabat berperingkat dua di Kementerian Latvia, Janis Garisons, pada tanggal 5 Maret 2020 melalui Washington Examiner mengatakan bahwa :
“ That is probably the most dangerous scenario,” beliau melanjutkan “If you look
at Russian exercises, then you would see that they are exercising for such scenario.”140
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa latihan Rusia tersebut merupakan suatu hal yang berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jika dilihat dari bentuk latihannya, Garisons menilai bahwa terdapat skenario yang telah dirancang oleh Latvia. Skenario tersebut bisa saja ditujukan kepada Latvia, terutama setelah perang disinformasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Latvia. Oleh karena itu, latihan perang Rusia tersebut
139 Ibid.
140 Joel Gehrke, “Nuclear ‘blitzkrieg’: NATO Ally Latvia Fears Russia Will Stage Swift Invasin Using Small Nukes” yang diakses melalui https://www.washingtonexaminer.com/policy/defense-national-security/nuclear-blitzkrieg-nato-ally-latvia-fears-russia-will-stage-swift-invasion-using-small-nukes
102
dapat menjadi tambahan ancaman bagi Latvia. Selain itu, Garisons juga mengatakan bahwa :
“If you look at the Crimea scenario that was recently conducted, it is about actually the copy of the Nazi German Blitzkrieg, in Russion implementation, just,
during the Blitzkrieg, there were no nuclear weapon invented yet.”141
Hal tersebut menunjukkan bahwa skenario yang dilakukan oleh Rusia sama seperti yang dilakukan oleh Nazi Jerman, hanya saja Jerman tidak menggunakan nuklir pada saat itu. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, kemungkinan skenario dalam latihan perang Rusia tersebut ditujukan kepada Latvia lumayan besar. Hal tersebut dikarenakan sebelumnya Rusia telah melancarkan perang disinformasi kepada Latvia dan melakukan embargo ekonomi akibat diskriminasi terhadap entitas berbahasa Rusia di Latvia. Latihan perang ini dapat menjadi agresi lanjutan yang akan dilakukan oleh Rusia terhadap Latvia. Sehingga hal ini membuat posisi Latvia semakin terancam.
Sekretaris Negara untuk Luar Negeri, Andrejs Pildegovics, mengatakan keadaan Latvia pasca ancaman yang diberikan oleh Rusia. Melalui wawancara dengan Times yang diterbitkan pada 3 Oktober 2014, Andrejs Pildegovics mengatakan bahwa :
“the largest crisis since the demise of the Soviet Union.”142
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ancaman yang diberikan oleh Rusia melalui militer maupun disinformasi yang disebarkan untuk Etnis Rusia, maupun masalah dugaan diskriminasi terhadap entitas berbahasa Rusia di Latvia menyebabkan Latvia 141 Ibid.
142 Charlotte Mcdonald-Gibson, “Latvia Wary of its Ethnic Russians as Tensions With Moscow Rise” diakses melalui https://time.com/3456722/latvia-election-russia-ukraine/ pada tanggal 8 April 2020 pukul 15.40 WIB.
103
mengalami krisis yang sebelumnya belum pernah dihadapi oleh Rusia. Krisis tersebut paling utama disebabkan oleh tuduhan diskriminasi terhadap entitas berbahasa Rusia terhadap Latvia oleh Rusia dan retorika yang Rusia ciptakan mengenai dugaan diskriminasi tersebut. Krisis yang dimaksud disini adalah krisis penduduk yang diakibatkan oleh tuduhan mengenai diskriminasi minoritas tersebut. Pildegovics juga mengatakan melalui Times bahwa :
“We cannot repeat events of the 1940s or 1930s when many countries in Europe
lost independence because of illegal acts of big powers at that time,many bells ring when we hear that a leader of a neighboring country is dismissing the independent choice of the Ukrainian people… when we hear about the legitimate
right of Russian leaders to protect everyone who knows a word or a syllable in Russian.”143
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa peristiwa aneksasi Krimea yang dilakukan Rusia terhadap Krimea membuat Latvia merasa terancam. Hal tersebut dikarenakan dalam peristiwa tersebut Rusia memanfaatkan retorika minoritas Rusia yang ada di Ukraina. Latvia sebagai negara yang memiliki minoritas Rusia terbanyak di Baltik dan memiliki wilayah dan sejarah yang sangat dekat dengan Rusia menjadi merasa terancam dengan adanya peristiwa tersebut. Latvia tidak ingin peristiwa pada tahun 1940-an atau 1930-an terjadi lagi, karena hal tersebut membuat terjadinya banyak kerusakan dan kesengsaraan di Latvia. Bagi sebuah bangsa yang merdeka, secara otomatis mereka tidak lagi menginginkan adanya penjajahan. Melalui peristiwa yang terjadi di Ukraina membuat Latvia menjadi was-was, terlebih lagi serangan disinformatif telah masuk ke Latvia.
104
Menteri Luar Negeri Latvia, Edgars Rinkevics juga mengatakan pendapatnya terhadap ancaman Hybrid War Rusia. Beliau mengatakan bahwa strategi Rusia telah berubah saat konflik dengan Ukraina dan saat ini Kremlin tidak hanya berusaha untuk mempengaruhi entitas berbahasa Rusia, namun juga seluruh populasi asing.144 Dalam wawancaranya dengan The Daily Beast Rinkevics yang diterbitkan pada tanggal 11 Juli 2017, beliau mengatakan bahwa :
“In Latvia they do not just focus on the Russian speakers, the so-called ‘Russian
information space,’ but also reach out to Latvian speakers trying to undermine the political process, our government’s position on NATO, on the E.U. sanctions, on
the situation in Ukraine.”145
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Rusia tidak hanya memanfaatkan entitas berbahasa Rusia di Latvia. Namun juga menyerang Etnis Latvia untuk merusak proses politik maupun posisi Latvia di Nato dan Uni Eropa. Tindakan Rusia seperti ini justru akan meningkatkan tensi ancaman yang diberikan terhadap Latvia. Sehingga Latvia harus terus waspada terhadap ancaman Rusia yang terus datang. Rinkevics juga mengatakan ke The Daily Beast bahwa :
“But we also have some useful idiots in our political class, They sound like agents of influence. They say we should not care about what Russia does in Ukraine. Some members of the Harmony party frequently visit Syria, Crimea. I do not know
who they are, but their narrative sounds very much the same as Russia’s propaganda machine.”146
144 Anna Nemtsova, “The Baltics Try to Wall Out Russian Agent, But Mocow’s Message Still Comes Through” yang diakses melalui https://www.thedailybeast.com/russias-fear-abroad-the-baltics-try-to-wall-out-russian-agents-but-moscows-message-still-comes-through pada tanggal 8 April 2020 pukul 16.47 WIB.
145 Ibid.
105
Hal tersebut menunjukkan bahwa golongan pro-Rusia bahkan telah ada yang memasuki kursi pemerintahan Latvia. Keberadaan mereka bisa saja sebagai penyebar propaganda agar Latvia tidak waspada terhadap Rusia. Dilihat dari pernyataan tersebut, orang dari Partai Harmony tersebut bisa saja merupakan orang-orang yang mendukung aneksasi Rusia terhadap Krimea. Jika hal tersebut memang benar, orang-orang tersebut dapat menjadi ancaman bagi Latvia karena keberpihakannya atas Rusia. Rusia juga bisa mengandalkan orang-orang tersebut sebagai agen untuk menyebarkan propagandanya. Hal tersebut membuat kekhawatiran akan ancaman dari Rusia semakin tinggi.
Ancaman-ancaman tersebut dirasakan sejak peristiwa aneksasi oleh Rusia terhadap Krimea. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat timbul dikarenakan Latvia memiliki entitas berbahasa Rusia yang begitu besar, sama halnya dengan Ukraina. Terlebih lagi di Latvia terdapat tuduhan diskriminasi terhadap minoritas Rusia dan serangan disnformasi yang telah dilancarkan oleh Rusia sejak tahun 2012. Selain itu, Rusia juga melaksanakan latihan perang yang dianggap Latvia terdapat scenario di dalamnya. Hal-hal tersebut membuat Latvia makin merasakan ancaman terhadap Rusia. Pernyataan-pernyataan mengenai ancaman yang dirasakan oleh Latvia juga diberikan pembuat keputusan ataupun pengamat politik dari sekutu Latvia dan negara-negara lain. Hal tersebut dikarenakan mereka melihat bahwa ancaman yang dirasakan oleh Latvia benar timbul karena aktivitas yang dilakukan oleh Rusia.
106
Salah satu pernyataan diberikan oleh Menteri Pertahanan Inggris yang bernama Michael Fallon, yang merasa prihatin dengan ancaman Rusia yang menyerang Negara-negara Baltik, yang mana salah satunya adalah Latvia.147 Masalah yang mengancam tersebut berupa Hybrid War, Cyber War, maupun ketegangan etnis.148
Pernyataan dari Menteri Pertahanan Inggris tersebut menunjukkan bahwa Latvia saat ini sedang terancam dengan serangan-serangan yang dilakukan oleh Rusia. Fallon merasa khawatir bahwa Vladimir Putin mengulangi kampanye rahasia yang digunakan di Krimea dan Ukraina Timur terhadap negara-negara bekas Uni Soviet, salah satunya adalah Latvia.149 Sekretaris Pertahanan Inggris, menyatakan bahwa bahaya yang datang terhadap Latvia sebagai “real and present.”150 Hal tersebut menunjukkan bahwa ancaman yang datang terhadap Latvia telah benar-benar terjadi. Sekretaris Jendral NATO, Anders Fogh Rasmussen, menyatakan bahwa kemungkinan besar Hybrid War yang dilakukan oleh Rusia bertujuan untuk mengacaukan Negara-negara Baltik termasuk di dalamnya Latvia.151 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ancaman Hybrid War terhadap Latvia memang benar adanya.
147 Jakub Palowski, “British MoD Concerned About the Russian Threat in the Baltic Region” yang diakses melalui https://www.defence24.com/british-mod-concerned-about-the-russian-threat-in-the-baltic-region pada tanggal 8 April 2020 pukul 20.35 WIB.
148 Ibid.
149 Press Association, “Russia a Threat to Baltic States After Ukraine Conflict, Warns Michael Fallon” yang diakses melalui https://www.theguardian.com/politics/2015/feb/19/russia-a-threat-to-baltic-states-after-ukraine-conflict-warns-michael-fallon pada tanggal 8 April 2020 pukul 22.08 WIB.
150 Jakub Palowski, Loc. cit.
107
Pengamat kontemporer lain yang memberikan pandangannya adalah mantan Komandan Militer Inggris, Kolonel Rupert Wieloch. Pernyataan beliau diterbitkan melalui Express pada tanggal 1 November 2016. Beliau mengatakan bahwa:
“ I have no doubt, that Russia had ambitions of invanding Estonia, Latvia, and Lithuania.”152
Pernyataan tersebut menandakan bahwa mantan Komandan Militer Inggris tersebut sangat percaya bahwa Rusia menjadi sebuah ancaman bagi Latvia. Beliau percaya bahwa Rusia akan melakukan agresi terhadap Latvia. Beliau juga mengatakan bahwa:
“Because there’s no doubt that Russia is looking at Estonia, and Latvia and Lithunia as potentially the same as what they did in Ukraine and Crimea.”153
Melalui pertanyaan tersebut Kolonel Rupert Wieloch menunjukkan bahwa Rusia menganggap Latvia sebagai hal potensial sama seperti Krimea. Beliau sangat yakin bahwa Rusia akan melakukan agresi terhadap Latvia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Rusia dapat menjadi ancaman terbesar bagi Latvia.
Badan Penelitian Pertahanan Swedia juga memberikan tanggapan terkait ancaman Rusia terhadap Baltik yang mana salah satunya adalah Latvia. Robert Dalsjo mengatakan bahwa :
“The official view is also that if any war does take place in the Baltic region, then
we will all be affected.”154
152 Ajay Nair, “Now NATO Responds to Putin: Military Drills on Russia’s Doorstep Sends Warning to Moscow” yang diakses melalui https://www.express.co.uk/news/world/727525/nato-forces-respond-russia-military-drills-latvia pada tanggal 8 April 2020 pukul 21.25 WIB.
108
Peryataan tersebut diteribitkan oleh Euractiv pada tanggal 16 April 2019. Melalui pernyataan tersebut dapat menunjukkan bahwa jika Rusia melancarkan agresinya terhadap Baltik akan berdampak ke negara lain termasuk Swedia. Hal tersebut menunjukkan bahwa ancaman Rusia ini memang benar-benar berbahaya. Pada tanggal yang sama Euractiv menerbitkan pernyataan dari Menteri Pertahanan Swedia, Peter Hultqvist kepada AFP. Beliau mengatakan bahwa :
“I don’t talk about the threat directly to Sweden, I talk about a security situation that is worse today than 10 years ago.”155
Pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa keadaan keamanan saat ini sangat buruk. Hal tersebut dikarenakan upaya Rusia yang ingin menciptakan Russian
World dengan memberikan ancaman terhadap negara-negara bekas Uni Soviet
terutama Baltik.
Pengamat kontemporer yang berasal dari Region Baltik juga memberikan tanggapannya terhadap ancaman dari Rusia. Melalui terbitan New Yorks Times pada tanggal 1 Januari 2017, Direktur Departemen Keamanan Lithuania, Darius Jaunikis mengatakan bahwa :
“Here in the Baltics, we experience an avalanche of propaganda against our states,its purpose is to subvert our political and social coherence, to spread
154 Reporter Euractiv dan AFP, “Amid Worries Over Russia, Sweden Returns Troops to Baltic Island” yang diakses melalui https://www.euractiv.com/section/politics/news/amid-worries-over-russia-sweden-returns-troops-to-baltic-island/ pada tanggal 25 April 2020 pukul 13.00 WIB.
109
mistrust between state authorities and society, and even to disclaim our statehood.”156
Pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan dari propaganda yang dilakukan oleh Rusia terhadap Negara-negara Baltik termasuk Latvia adalah untuk memunculkan ketidakpercayaan antara masyarakat dan pemerintahaan. Hal tersebut juga dilakukan untuk menumbangkan koherensi politik di Latvia dan Negara-negara Baltik lainnya. Sehingga Rusia dengan mudah masuk dan mengambil alih wilayah Latvia dari pemerintahan sahnya.
Seorang senior di Atlantic Council sebuah lembaga riset yang berbasis di Washington DC, Agnia Grigas mengatakan pendapatnya kepada Al Jazeera. Grigas mengatakan bahwa Rusia mungkin tidak akan melakukan agresi langsung, namun hal tersebut tidak berarti Latvia dan Negara-negara Baltik lain serta Polandia tidak beresiko. Grigas mengatakan pada Al Jazeera yang diterbitkan pada 7 Juli 2016, bahwa :
“Russia could resort to fomenting separatists, training local radicals or militants, sending its own activists and volunteers over the border. Potential conflicts could spill over the border so Russia’s frontier states are right to bolster their defences
when the security environment in Europe has been transformed.”157
Walaupun di dalam pernyataan tersebut Grigas tidak menyebutkan langsung bahwa ancaman Rusia tersebut menyasarkan Latvia atau Negara-negara Baltik. Namun
156 Eric Schmitt, “U.S Lending Support to Baltic States Fearing Russia” yang diakses melalui
https://www.nytimes.com/2017/01/01/us/politics/us-baltic-russia.html pada tanggal 25 April 2020 pada pukul 13.41 WIB.
157 Jelena Solovjova, “Is Russia Really A Threat to Baltic States?” yang diakses melalui
https://www.aljazeera.com/indepth/features/2016/07/russia-threat-baltic-states-160707054916449.html
110
pernyataan tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa ancaman tersebut ditujukan terhadap Negara-negara Baltik. Ancaman tersebut dapat berupa pembentukan kelompok separatism ataupun pelatihan terhadap kelompok radikal lokal. Melalui perang disinformasi yang telah dilancarkan oleh Rusia, bisa saja hal tersebut menjadi langkah awal untuk membentuk kelompok separatisme di Latvia terutama Latvia memiliki minoritas Rusia yang sangat banyak.
Pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh para pengamat kontemporer tersebut menunjukkan bahwa mereka juga waspada terhadap ancaman yang diberikan oleh Rusia. Selain itu, mereka juga merasa bahwa ancaman yang diberikan kepada Latvia yang merupakan salah satu negara Baltik memang benar adanya. Walaupun agresi Rusia tidak secara langsung, namun kemungkinan untuk itu selalu ada. Hal tersebut dikarenakan perang disinformasi yang telah dilancarkan Rusia kepada Latvia sejak lama yang bisa merujuk pada pembentukan kelompok separatisme di Latvia dengan memanfaatkan situasi diskriminasi minoritas Rusia di Latvia. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa Latvia benar-benar berada dalam ancaman Rusia dengan intensitas yang semakin meninggi. Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian membuktikan bahwa Latvia benar-benar merasakan bahwa strategi Hybrid Warfare Rusia sebagai sebuah ancaman. Latvia takut bahwa Rusia bisa saja melakukan apa yang Rusia lakukan terhadap Krimea pada negaranya. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan oleh Cohen bahwa bukti sebuah negara merasakan negara lain sebagai sebuah ancaman dapat dilihat dari pernyataan negara tersebut maupun sekutu negara
111
tersebut yang menunjukkan bahwa mereka melihat negara tersebut terancam oleh negara lain. Melalui ancaman-ancaman yang Latvia rasakan, Latvia pada akhirnya berusaha untuk membuat respon-repson untuk melindungi negaranya. Respon-respon Latvia ini, akan dijelaskan penulis pada bab selanjutnya.