H. SistemBahasa
1. Pandangan Masyarakat terhadap upacara tolak bala
Tradisi tolak bala dalam bahasa Makassar dipahami oleh masyarakat kecamatan manggarabombang kabupaten takalar yang mengandung makna dalam bahasa Indonesia tolak bala atau dapat juga diartikan meminta keselamatan kepada Allah SWT.
Suatu masyarakat terbentuk tidak terlepas dari unsur-unsur sosial budaya yang ada didalamnya misalnya keberadaan individu atau suatu kebudayaan. kondisi inilah yang menjadi pijakan bagi masyarakat untuk membangun peradaban hidupnya.
Menurut Peneliti Kebudayaan Masyarakat berupa tradisi masih banyak dipertahankan oleh Masyarakat yang bermukim di pedesaan atau di daerah yang jauh dari kota.Gambaran masyarakat yang tinggal di pedesaan identik dengan kesederhanaan dengan gambaran masyarakat yang dihidupkan atau tinggal di perkotaan yang mengagungkan budaya barat sebagai budaya Modern.
Namun,Masyarakat pedesaan lebih memiliki budaya yang diwariskan pada leluhur mereka yang dipercayai mampu Membawa kebahagiaan hidup bagi Mereka dan memberikan rasa aman dalam menjalankan Kehidupannya.
Menurut Haji Abdul Rasyid Dg.Ngerang ( 56 Thn ) Sebagai kepala Imam didusun Bolo kecamataan manggarabombang mengatakan bahwa
“Tradisi Songkabala adalah tradisi yang dilakukan secara turun temurun sampai sekarang yang tidak pernah hilang didesa dusun bollo kecamataan manggarabombang “ ( Hasil wawancara 01-01-2021 )
Tradisi upacara tolak bala ini memiliki histori dan membawa berbagai makna.tradisi ini tetap dijaga dan dipelihara secara utuh oleh masyarakat,serta dipercaya sebagai salah satu cara ampuh untuk menolak bala yang masuk di desa bolo kecamatan manggarabombang dan masyarakat didesa bolo sangat menyakinkan bahwa upacara tola bala itu bisa menjauhkan malah bahaya dan musibah
Menurut Radia sutomo ( 40 Thn ) Mengatakan Bahwa :
“ Masyarakat disini menjunjung tinggi budaya dari nenek moyangnya dan sangat meyakini bahwa upacara tolak bala itu bisa menjauhkan dari musibah”
( Hasil wawancara 01-01-2021 )
Ada juga masyarakat yang menentang atau tidak mempercayai upacara tolak bala karena mereka menganggap tradisi upacara tolak bala itu musyrik tidak ada dalam ajaran agama islam karena melihat proses tradisi upacara tolak bala yaitu seperti menyembah pohon atau roh – roh dan sebagian masyarakat di desa bolo mengikuti ali sunnah
Menurut Ayu amaliah ( 25 Thn ) Mengatakan bahwa :
44
“ Tradisi upacara tolak bala itu bertentangan dengan ajaran agama islam mengapa karena tradisi ini dilakukan di depan pintu dan dibawah pohon bukannya itu musyrik seperti menyembah roh - roh “( Hasil wawancara 01-01-2021 )
Masyarakat di desa bolo kecamatan manggarabombang kabupaten takalar itu ada juga yang sangat menjunjung tinggi tradisi itu dan masih sangat yakin bahwa tradisi upacara tolak bala itu bukan musyrik dan tradisi ini sesuai dengan ajaran islam
Menurut Nur Jannah ( 35 Thn ) Mengatakan bahwa :
“ Semua orang berbeda pendapat tentang upacara tolak bala memang kami melakukan di depan pohon atau depan pintu rumah tetapi niatnya tetap sama meminta kepada Allah seperti niatnya orang sholat ketika Sholat dzuhur niatnya sholat ashar pasti niatnya salah begitupun dengan songkabala kami meminta kepada allah bukan kepada roh – roh jahat dan orang yang mengatakan musyrik karena dia tidak tahu tata caranya. ( Hasil wawancara 01-01-2021 )
Adapun pendapat yang mendukung wacana yang dikemukakan oleh haji abdul Rasyid Dg.Ngerang (56 Thn ),menurut Mifta utami ( 34 Thn ) mengatakan bahwa :
“ aliran muhammadiyah yang biasanya mengadakan upacara tolak bala itu musyrik karena dia tidak dapat doanya bukan dari buku melainkan dari al – quran” ( Hasil Wawancara 01-01-2021 )
Sebagian masyarakat menganggap peraktik ini bid'ah,sehinggah masyarakat banyak yang mengingkari,bahkan ada yang berusaha meniadakan tradisi leluhur ini tetapi ada juga masyarakat yang ingin mempertahankan budaya keduanya agar ada keseimbangan antara agama dan adat
Menurut Dg Salle ( 35 Thn ) Mengatakan Bahwa :
“ kalau tradisi upacara tolak bala memang menjauhkan malapetaka di kampung kita ataupun menjauhkan musibah dan penyakit kenapa tidak dengan cara yang sudah ditentukan allah SWT seperti dzikir,sholat meminta keselamatan kepada allah swt mengapa mesti dibawah pohon ataupun depan pintu rumah”
Kebudayaan masyarakat berupa tradisi – tradisi yang masih banyak dipertahankan oleh masyarakat yang bermukim perdesaan-perdesaan atau daerah – daerah yang jauh dari kota.Gambaran masyarakat yang tinggal di pedesaan identik dengan kesederhanaan tidak seperti yang digambarkan oleh masyarakat yang hidup atau tinggal di perkotaan yang mengagung-agungkan budaya barat sebagai budaya modern.
Adapun pendapat yang mendukung wacana yang dikemukakan oleh Abdillah Khofiyal lutfi ( 25 Thn ) Mengatakan Bahwa :
“ Tradisi ini tidak bisa dihilangkan karena tradisi upacara tolak bala ini sudah turun - temurun dari nenek moyang kita dan itu tetap harus terjaga walaupun sudah banyak masyarakat yang ingin menghilangkan tradisi upacara tolak bala karena sudah banyak masuk budaya barat atau modern“ ( Hasil Wawancara 01–01–2021 )
Namun Masyarakat di desa bolo Kecamatan Manggarabombang Kabupaten Takalar lebih memilih budaya yang diwariskan oleh nenek moyang atau leluhur mereka yang dipercayai mampu membawa kebahagian hidup bagi mereka dan memberikan rasa aman dalam menjalankan kehidupannya.
Adapun pendapat yang mendukung wacana yang dikemukakan oleh Arunk Dg Rate ( 40 ) Mengatakan Bahwa :
46
“Tradisi Upacara Tolak Bala sangat berpengaruh terhadap masyarakat karena tradisi ini diyakini bisa menjauhkan musibah di desa bolo “
Dari praktek upacara tolak bala ini menimbulkan efek pengaruh yang cukup besar terhadap kebiasaan dan pola tingkah laku masyarakat di desa bolo dikecamatan manggarabombang dan Kebiasaan orang desa bolo ada suatu kewajiban untuk melakukan upacara tolak bala tersebut karena masyarakat di desa bolo mempercayai bahwa ketika tidak melakukan upacara tolak bala maka sesuatu yang tidak dinginkan akan terjadi seperti hujan tidak kunjung berhenti dan disertai angin kencang oleh sebab itu masyarakat melakukan upacara tolak bala ini dan senantiasa melakukan tradisi upacara tolak bala dalam rangka untuk kesejahteraan masyarakat dan menjauhkan malapetaka di desa bolo.
Adapun pendapat yang mendukung wacana yang dikemukakan oleh Mifta rezki Utami ( 40 Thn ) Mengatakan Bahwa :
“ Masyarakat di desa sini sangat meyakini bahwa tradisi upacara tolak bala itu sakral dan harus dilakukan ketika tidak melakukan tradisi upacara tolak bala masyarakat akan terkena musibah seperti hujan yang tidak kunjung berhenti dan disertai anging kencang”( Hasil wawancara 01 – 01 -2021 )
Kehidupan yang kami peroleh sekarang adalah jerih payah nenek moyang kami yang terdahulu, upaya yang dilakukan sebagai tanda bersyukur atas pengorbanan yang diberikan oleh nenek moyang terhadap tanah kelahiran ini dan supaya bisa menjauhkan atau terhindar dari segala mara bahaya yang tidak diinginkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Basnawati (46 Thn ) Mengatakan bahwa :
”Tradisi songkabala itu tidak bertentangan dengan islam,sebab dalam prosesi atau pelaksanaanya itu tidak terdapat hal – hal yang tidak sesuai dengan ajaran islam dank arena masyrakat hanya memajatkan doa kepada yang maha kuasa agar menjauhkan segala bencana,malapteka,bahaya yang akan menimpah masyarakat didesa ini “( Hasil Wawancara 01-01-2021 )
Bagi masyarakat di desa bolo kecamatan manggarabombang mempercayai dan melaksanakan upacara tola bala adalah suatu acara yang sangat sakral dan memberikan dampak yang sangat besar bagi semua masyarakat dengan demikian tradisi upacara tolak bala ini bertujuan untuk memohon pada Allah SWT supaya diberikan kesehatan,kebaikan untuk mengusir malapetaka di desa bolo dan ritual tersebut jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pandangan islam mengenai tradisi tolak bala adalah bahwa antara agama dan tradisi tidak bisa disamakan, namun bisa dipadukan melihat perkembangan zaman ini.Dapat kita lihat bahwa dalam pelaksanaan tradisi upacara tolak bala tidak jauh dari allah SWT. hal ini menunjukan bahwa adanya perpaduan antara tradisi dan agama. Jadi sebaiknya tata cara yang tidak sesuai dengan agama