• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Ulama Fikih Mengenai Permasalahan Zakat fitrah melalui aplikasi Online aplikasi Online

ZAKAT FITRAH SECARA ONLINE A. Praktek Zakat Fitrah Secara Online

B. Pandangan Ulama Fikih Mengenai Permasalahan Zakat fitrah melalui aplikasi Online aplikasi Online

Dalam melakukan ibadah Zakat Fitrah dapat dipandang tidak sah apabila tidak memenuhi syarat-syaratnya atau tidak disalurkan kepada yang mengetahui seluk-beluk zakat dan penyaluran tidak sebagimana dengan syariat.

Dan dalam pokok-pokok permasalahan zakat fitrah melalui aplikasi online ada beberapa yang harus diperhatikan dan diantisipasi oleh muzaki umumnya, diantaranya :

1. Batasan waktu akhir muzaki melakukan pembayaran zakat fitrah. 2. Ijab kabul dalam zakat fitrah.

3. Dalam zakat fitrah melalui aplikasi online zakat yang disalurkan dengan bentuk tunai bukan makanan pokok.

4. Zakat fitrah tersebut disalurkan di wilayah muzaki atau diluar wilayah muzaki.

Sebab permasalahan zakat ini menjadi mutlak yang mesti diperhatikan karena mayoritas umat Islam Indonesia adalah pengikut mazhab Syafi’iyah.

1. Batasan Waktu Akhir Muzaki Melakukan Pembayaran Zakat Fitrah. Pada batasan waktu untuk menunaikan zakat fitrah, para ulama madzhab dan pengikutnya berpendapat.

Syafi'iyah berkata, dianjurkan hendaknya zakat fitrah tidak diakhirkan hingga setelah shalat Id. Jika diakhirkan maka dianjurkan untuk menunaikannya di awal siang kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dan ini berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA yang meriwayatkan hadits perihal zakat fitrah berkenaan dengan batas waktu pembayaran zakat fitrah.

Hadits Rasulullah Saw:

نع نبا سابع ضرف لوسر الله ى لص الله هيلع ملسو ةاكز رطفلا َ ةر هُط مئاصلل نم وغللا و ،ثَف رلا َ ةم عُطو ،نيكاسملل َ نَمف اها دأ لبق ةلاصلا يهف َ ةاكز ، ةلوبقم َ نَمو اها دأ دعب ا ةلاصل يهف َ ةقدص نم تاقَد صلا .

Artinya: Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberikan makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang membayarnya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima. Tetapi siapa saja yang membayarnya setelah shalat Id, maka ia terhidup sedekah sunnah biasa. (HR Abu Dawud No. 161167 dan Ibnu Majah). Hadist ini shahih menurut Imam Al-Hakim.

Dan karena ada perintah untuk menunaikannya sebelum keluar rumah untuk menunaikan shalat Id, sebagaimana tertera didalam kitab shahih Bukhari dan Muslim. Haram hukumnya mengakhirnya setelah shalat Id tanpa

67 Abu Dawud Sulaiman Bin Asy’ats As-Sajtani, Sunan Abi Dawud, (Bairut: Dar Al-Kutub Al-Arobi), Jilid 1, h. 584.

ada halangan, seperti tidak adanya harta atau tidak adanya orang-orang yang berhak menerimanya. Hal itu dikarenakan makna “disyariatkannya zakat fitrah” tidak tercapai, yaitu mencukupkan orang-orang miskin dari meminta-minta di hari ldul Fitri.

Hanabilah berpendapat sebagaimana yang dikatakan oleh Syafi'iyah, batas akhir zakat fitrah adalah tenggelamnya matahari pada hari ldul Fitri, berdasarkan hadits yang telah disebutkan,

مهونغأ نع بلطلا يف اذه مويلا

Artinya: "Cukupkanlah mereka dari meminta-minta pada hari ini (Idul Fitri)." (HR Ad-Daruquthni, No. 2108).68

Jika seseorang mengakhirkan zakat fitrah dari hari Idul Fitri maka dia berdosa karena telah mengakhirkan kewajiban dari waktunya dan melanggar perintah. Oleh sebab itu, dia wajib mengqadha (mengganti), karena zakat fitrah adalah ibadah yang tidak akan gugur sebab keluarnya waktu, seperti halnya shalat. Yang paling utama adalah mengeluarkan zakat fitrah pada hari Idul Fitri sekitar sebelum shalat di sebuah tempat yang tidak dipakai untuk shalat Idul Fitri.

Malikiyah berkata, boleh mengeluarkan zakat fitrah setelah shalat Id pada hari raya Idul Fitri. Zakat fitrah tidak akan gugur sebab telah lewat waktunya. Akan tetapi, kewajiban nya tetap menjadi tanggungan orang yang wajib menunaikannya selamanya, hingga dia mengeluarkannya, sebagaimana kewajiban-kewajiban yang lainnya. Seseorang akan berdosa jika dia mengakhirkannya setelah setelah hari raya, padahal dia mampu. Jika waktunya telah usai karena memang tidak mampu mengeluarkannya maka kewajiban mengeluarkannya gugur.69

Sedangkan Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat mengakhirkan pembayaran zakat selepas hari raya Idul fitri tanpa ada halangan hukumnya haram, sebab akan menghilangkan relevansi makna zakat yang bertujuan

68 Ali Bin Umar Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Daruquthni, (Beirut Libanon: Dar Al-Ma'rifah, Cet.1, 1422 H/2001 M), Jilid 2, h. 348.

69 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar Al-Fikr, Cet Ke-3, 1409 H/1989 M), Jilid 2, h. 908.

mencukupi orang yang membutuhkan di hari penuh suka cita (Idul fitri). Oleh karena itu jika tidak membayar zakat tanpa ada halangan, maka dihukumi maksiat dan harus segera mengqahda. Lain halnya jika tidak maksiat seperti lupa, maka tidak harus segera mengqadha.70

Penamaan istilah qadha hanya berlaku pada zakat fitrah, tidak pada zakat mal, sebab zakat fitrah memiliki keterikatan dengan waktu sebagaimana shalat, berbeda dengan zakat mal yang meski diakhirkan disebut ada’.71

Andaikan seseorang dihadapkan pada dua keadaan, manakah yang harus didahulukan antara mengeluarkan zakat terlebih dahulu atau bersegera shalat Idul fitri dengan berjamaah?. Maka hendaknya ia mendahulukan shalat Idul fitri berjamaah selama kebutuhan orang fakir tidak mendesak sehingga harus mendahulukan mengeluarkan zakat.72

Qadli Abu Thayyib dan yang lain menjelaskan waktu utama membayar zakat fitrah adalah saat hari raya, kendati demikian mengakhirkannya sampai salat Id dihukumi makruh.73

Berikut adalah rincian dan kesimpulan hukum beserta waktu pembayaran zakat fitrah yang dikutip dari kitab Hasyiyah Bujairami:

a. Waktu jawaz (boleh), yakni pada awal bulan Ramadan

b. Waktu wujub (wajib), yakni setelah terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan.

c. Waktu fadhilah (utama), yakni sebelum melaksanakan salat Id. d. Waktu karihah (makruh), yakni mengakhirkan pembayaran

zakat sampai salat Id kecuali memang ada halangan.

e. Waktu hurmah (haram), yakni mengakhirkan pembayaran zakat setelah hari raya.

70 Ahmad Syihabuddin Bin Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj, (Mesir: Dar Ihya At-Turost Al-Arobi), Jilid 3. h. 308.

71 Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyah Bujairomi Ala Al-Khotib/ Tuhfatul Habib Ala Syarhil

Khotib, (Beirut: Dar Al-Fikri), Jilid 2, h. 351.

72 Ahmad Syihabuddin Bin Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj, (Mesir: Dar Ihya At-Turost Al-Arobi), Jilid 3. h. 308.

Hukum ini berlaku jika salat Idul fitri dilaksanakan seperti biasanya. Namun, jika salatnya diakhirkan, maka pembayaran zakat sunah dilakukan pagi hari sebelum shalat Idul fitri.74

2. Ijab Kabul Dalam Zakat Fitrah.

Zakat merupakan ibadah yang dilakukan oleh seorang Muslim dengan jalan mengeluarkan sebagian porsi dari harta yang dimilikinya. Ada dua bentuk penyerahan zakat, yakni:

a. kepada petugas amil zakat

b. kepada orang yang berhak menerimanya atau mustahik secara langsung.

Dalam fikih, untuk menandai telah terjadinya serah terima maka diperlukan sebuah lafaz ijab dan kabul.

Lafaz ijab merupakan lafaz yang dirangkai dalam bentuk kalimat penyerahan. Sementara lafaz kabul adalah kalimat yang dirangkai dalam bentuk lafaz penerimaan. Sebagai pertanda bahwa akad itu sah, biasanya ditandai dengan adanya salaman.

Para ulama berpendapat boleh menyerahkan zakat kepada orang yang tidak tahu bahwa itu sesungguhnya adalah zakat. Alasannya, karena ketentuan penyertaan lafaz niat itu adalah tanggungan pemilik harta, dan hal itu bisa dilakukan saat tidak ada pihak penyalur atau amil yang menanganinya. Adapun, bila ada pihak penyalur, maka niat menagih bagian dari zakat kepada pemilik harta merupakan bentuk pendapat lain, sehingga tidak boleh tanpa adanya niat mengeluarkan zakat.75

Tidak disyaratkan di dalam pemberian hadiah dan shadaqah (zakat) adanya lafaz ijab dan kabul. Akan tetapi yang terpenting dan sudah mencukupi adalah serah terima dan sekaligus terjadinya perpindahan kepemilikan.76

74 Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib/ Tuhfatul Habib Ala Syarhil

Khotib, (Beirut: Dar Al-Fikri), Jilid 2, h. 351.

75 Ahmad Syihabuddin Bin Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj, (Mesir: Dar Ihya At-Turost Al-Arobi), Jilid 3, h. 242.

76 Hafizh Al-Iraqi, Tharhu Al-Tatsrib Fi Syarhi At-Taqrib, (Mesir: Dar Ibnu Al-Jauzi), Jilid 4, h. 415.

3. Dalam Zakat Fitrah Melalui Aplikasi Online Zakat Yang Disalurkan Dengan Bentuk Tunai Bukan Makanan Pokok.

Zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah jenis makanan pokok pada suatu negara. Jika dalam suatu negara tidak memiliki jenis makanan pokok, maka mengikuti jenis makanan negara tetangga. Seperti di negara Indonesia yang menggunakan beras sebagai bahan pokoknya, maka yang harus dibayarkan adalah 1 sha' beras.

Ada beberapa pendapat tentang jenis dan takaran bahan makanan untuk zakat fitrah:

a. Mazhab Hanafi

Zakat wajib: berupa khinthah, sya'ir (sama-sama jenis gandum), tamr dan inab (nama-nama jenis kurma).

Takaran setengah sha' untuk jenis khinthah dan 1 sha' untuk 3 jenis yang lain. 1 sha' menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad setara 8 ritl Irak. 1 ritl sama dengan 130 dirham (3800 gram) takaran Irak.

Takaran zakat diatas didasarkan pada hadis Rasulullah Saw:

ضرف لوسر الله ﷺ هذه ةقدصلا اعاص نم ،رمث وأ ،ريعش وأ فصن عاص نم ،جمق ىلع لك رح وأ ،كولمم ركذ وأ ،ىثنأ ريغص وأ ريبك

Artinya: Rasulullah Saw mewajibkan sedekab ini dengan satu sha' kurma atau sya'ir (gandum) atau seberat setengah sha’ burr (gandum). (HR. Abu Dawud No. 1624).77

Zakat fitrah bagi Hanafi boleh diserahkan dalam bentuk uang karena hakikat kewajiban zakat fitrah terletak pada mencukupi kebutuhan orang fakir, Demikian sesuai sabda Rasulullah Saw:

مهونغأ نع بلطلا يف اذه مويلا

Artinya: "Cukupkanlah mereka dari meminta-minta pada hari ini (Idul Fitri)." (HR Ad-Daruquthni, No. 2108).78

77 Abu Dawud Sulaiman Bin Asy’ats As-Sajtani, Sunan Abi Dawud, (Bairut: Dar Al-Kutub Al-Arobi), Jilid 2, h. 31.

78 Ali Bin Umar Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Daruquthni, (Beirut Libanon: Dar Al-Ma'rifah, Cet.1, 1422 H/2001 M), Jilid 2, h. 348.

Mencukupi kebutuhan yang dimaksud dalam hadis tidak terpaku dengan bahan makanan namun juga bisa dengan uang, bahkan lebih fleksibel. Menurut mazhab Hanafi, ketentuan jenis makanan yang disebutkan dalam hadis di atas didasari oleh alasan "mencukupi fakir miskin" dan tidak bersifat mengikat (harus), tetapi bisa diwujudkan dengan nominal uang.

b. Mazhab Maliki:

Zakat wajib berupa salah satu dari 9 bahan pokok di suatu negara, yakni qamh (gandum), sya'ir (gandum merah), sult (jewawut), dzarrah (jagung), kurma kering, kurma basah, dzakhan, dan keju. Dengan demikian yang digunakan untuk zakat adalah bahan makanan pokok dari 9 macam ini. Tidak diperkenankan menunaikan zakat dengan selain dari 9 bahan pokok di atas. Atau masih dari 9 bahan pokok namun bukan makanan pokok negaranya. Jika membayar zakat dengan bahan pokok sejenis yang lebih bagus (seperti jenis qamh untuk mengganti sya'ir) maka hukumnya boleh.

Takaran 1 sha' yakni 4 mud. 1 mud itu seukuran dengan kepalan tangan yang berukuran sedang.

c. Mazhab Syafii:

Zakat wajib berupa makanan pokok suatu negara atau tempat tinggal. Makanan pokok yang dimaksud adalah makanan pokok tahunan. Kualitas bahan pokok yang lebih tinggi mencukupi pada kualitas yang lebih rendah, tidak sebaliknya, seperti burr (gandum) yang lebih baik daripada kurma dan beras. Menurut pendapat yang ashah, gandum lebih baik daripada kurma dan kurma lebih baik daripada anggur. Apabila dalam suatu negara ada beberapa bahan makanan pokok yang biasa dikonsumsi, maka orang yang zakat bisa memilih salah satu dari beberapa bahan pokok yang ada. Yang paling utama adalah bahan makanan yang baik dan layak konsumsi, sehingga tidak diperkenankan membayar zakat dengan biji-bijian yang sudah rusak atau cacat (sekalipun memang jenis itu yang menjadi bahan pokoknya).

Takaran: 1 sha' menurut kaul asbab setara dengan 685 lebih 5/7 dirham atau 5 lebih 1/3 ritl takaran Baghdad.

Zakat wajib berupa burr (gandum), ya'ir (gandum), tamr (kurma), zabib (kismis) dan keju (sesuai nas yang ada). Jika jenis bahan pokok ini tidak ada, maka cukup menggunakan biji-bijian atau kurma saja, bukan yang lain seperti daging atau susu. Menurut mazhab Hambali, tidak boleh mengganti jenis bahan pokok ini selama masih mampu membayar zakat dengannya. Boleh membayar zakat dengan tepung, bukan dengan jenis roti. Apapun jenis bahan pangan yang telah dinash. maka hukumnya boleh digunakan untuk zakat sekalipun bukan makanan pokoknya.

Takaran: 1 sha' Irak, yakni 4 cidukan telapak tangan ukuran sedang yang setara dengan 2.751 gram (2,75 kg).79

Jika dikonversi ke dalam satuan berat, maka 1 sha' sama dengan: 1. 3,8 kg menurut mazhab Hanafi.

2. 2,75 kg menurut mazhab Maliki. 3. 2,75 kg menurut mazhab Syafii. 4. 2,75 kg menurut mazhab Hambali.

Dan telah diterangkan bahwa dalam madzhab Syafi’iyah tidak boleh mengeluarkan zakat dengan nilai mata uang. Imam Malik, Ahmad dan Dawud juga sependapat, hanya saja menurut imam Malik diperbolehkan mengeluarkan uang dirham untuk zakat dinar dan sebaliknya. Dan Abu Hanifah memperbolehkan zakat dengan uang, seperti seseorang yang berkewajiban mengeluarkan zakat berupa kambing kemudian ia mengeluarkan zakatnya dengan nilai mata uang yang seharga dengan kambing, atau mengeluarkan benda lain yang juga memiliki nilai harga seperti anjing dan pakaian. Ulama yang memperbolehkan zakat dengan uang berdalil dengan perkataan Muadz bin Jabal, ketika Rasulullah Saw mengutusnya ke negeri Yaman, Muadz berkata kepada mereka: “Serahkanlah kepada saya harta dagangan baju khomish atau labis sebagai zakat dari gandum. Cara itu lebih ringan bagi kalian dan lebih berguna bagi sahabat

79 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar Al-Fikr, Cet Ke-3, 1409 H/1989 M), Jilid 2, h. 909-910.

Nabi Saw di Madinah” Riwayat ini disampaikan oleh al-Bukhari dalam kitab sahihnya.80

Dan diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan nilai mata uang menurut kalangan Hanafiyah. Begitu pula diperbolehkan dalam kafarat, zakat fitrah dan nazar. Sedangkan Syafi’i tidak memperbolehkannya, karena berdasarkan nash seperti dalam penyembelihan hewan kurban dan hadiyah (dalam bab haji). Menurut Syafi’i, esensi perintah dalam zakat adalah untuk memberikan rezeki kepada fakir-miskin, sehingga mengeluarkan kambing sebagai zakat bukanlah sebuah ketentuan sebagaimana dalam jizyah. Hal ini tentu berbeda dengan penyembelihan hewan, karena tujuannya adalah untuk mengalirkan darah dan menjadi ibadah yang tidak dapat dinalar. Sedangkan dalam masalah yang dipertentangkan (seperti zakat) adalah untuk memenuhi kebutuhan dan termasuk ibadah yang dapat dinalar.81

4. Zakat Fitrah Disalurkan Di Wilayah Muzaki Atau Diluar Wilayah Muzaki.

Kaidah umumnya adalah hendaknya membagi zakat setiap kaum itu ke kalangan mereka sendiri. Hal itu berdasarkan hadits Nabi kepada Mu'adz secara umum sebagai berikut:

هنعَاللهَيضرَسابعَنباَنع م ثعبَملسوَهيلعَاللهَىلصَيبنلاَنأَ:َا َ اللهَيضرَاذاعم اَهنعَ ناميلاَىل ثيدحلاَركذف درتفَ,مهئاينغأَنمَذخؤتَ,مهلاومأَيفَةقدصَمهيلعَضرتفاَدقَاللهَنأَ:هيفو َ .مهئارقفَيف

Artinya: Dari Ibnu Abbas ra. Bahwasanya Nabi Saw mengutus Muadz ke Yaman, lalu menuturkan isi hadisnya, dan di dalamnya disebutkan, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka pada harta mereka yag diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin mereka." (HR. Bukhari No. 1395).82

80 Muhyiddin Yahya Bin Syaraf An-Nawawi, Majmu Syarahul Muhadzzab, (Beirut: Dar Al-Fikr), Jilid 5, H. 420.

81 Akmaluddin Al-Babarti, Al-‘Inayah Syarh Al-Bidayah, (Dar Al-Kutub Al-Alamiyah), Jilid 2, h. 192-193.

82 Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shahih, (Dar Asy-Sya’ab, Mesir, Cet Ke-1, 1407 H/1987 M), Jilid 2, h. 130.

Adapun untuk zakat fitrah, ia dibagikan di negeri dimana dia berada, baik hartanya ada di sana atau tidak. Sebab kewajiban zakat fitrah itu terkait dengan orangnya, bukan dengan hartanya.83

Yang dipandang oleh ulama Hanafiyyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah dalam zakat maal (harta) adalah tempat harta itu sendiri. Sedangkan yang dipandang dalam zakat fitrah, adalah tempat orang yang mengeluarkan zakat, Hal itu dipandang dari sebab diwajibkannya zakat dalam keduanya (maal dan fitrah). Para fuqaha memberikan penjelasan secara rinci mengenai pemindahan zakat dari satu negeri ke negeri lainnya.

Pandangan madzhab Hanafi yang memperbolehkan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain itu dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili yaitu Madzhab Hanafi berpendapat, memindahkan distribusi zakat dari satu wilayah ke wilayah lain hukumnya makruh tahzih (boleh), kecuali pemindahan tersebut diberikan kepada keluarga dekatnya yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau ke suatu kaum yang paling membutuhkannya, yang lebih baik, yang lebih wirai, yang lebih bermanfaat buat kalang muslim, atau dari dar al-harb (wilayah perang) ke dar al-islam (wilayah aman), kalangan penuntut ilmu, orang-orang yang zuhud, atau zakat tersebut disegerakan penunaiannya sebelum masa haul tiba. Dalam konteks ini maka tidak makruh untuk memindahkan distribusi zakat ke wilayah lain. Dan seandainya pemindahan zakat tersebut bukan dalam konteks ini maka boleh karena penerima zakat adalah orang-orang faqir secara mutlak.

Para ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa yang paling tampak adalah melarang memindahkan zakat dan wajib memberikannya kepada golongan-golongan yang berhak menerimanya di negeri tempat harta tersebut dikumpulkan, berdasarkan hadits Mu'adz yang telah disebutkan. Jika tidak didapati semua golongan yang berhak menerima zakat di negeri tempat diwajibkannya zakat, atau tidak didapati sebagiannya, atau ada kelebihan dari

83 Sulaiman Ahmad.Yahya Al-Fatih, Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), h. 223.

bagian sebagian mereka, maka boleh dipindahkan ke negeri terdekat dari negeri diwajibkannya zakat.84

Malikiyah berpendapat bahwa memindahkan zakat itu tidak boleh kepada daerah seukuran jarak bolehnya mengqasar shalat dan lebih, kecuali kepada orang yang lebih membutuhkannya. Dan boleh memindahkan zakat kepada orang yang berada lebih dekat dari jarak dibolehkannya mengqasar shalat, karena hal itu masih di dalam hukum tempat wajibnya zakat. Pembagiannya dilakukan dengan segera di tempat diwajibkannya zakat. Dalam zakat hasil ladang (pertanian dan buah-buahan) dan hewan ternak, tempat wajibnya adalah tempat dikumpulkannya hasil ladang dan hewan ternak tersebut. Dalam zakat uang dan barang perniagaan, tempat wajibnya adalah tempat si pemiliknya, di mana pun dia berada, selagi tidak bepergian dan mewakilkan kepada seseorang yang berada di negeri tempat harta tersebut.

Ulama Hanabilah berpendapat bahwa yang menjadi pandangan madzhab Hambali adalah tidak boleh memindahkan zakat dari negeri harta zakat ke negeri lain yang berjarak sejauh jarak qasar. Maksudnya adalah diharamkan untuk memindahkan zakat ke negeri yang berjarak sejauh jarak qasar akan tetapi zakatnya sah. Dan boleh memindahkan zakat ke negeri yang berjarak kurang dari jarak qasar dari negeri tempat harta zakat. Dianjurkan untuk membagikan zakat di negeri dimana zakat itu dikumpulkan, kemudian negeri yang terdekat dengannya dan yang terdekat.85

Dan Syaikh Yusuf Al-Qardawi berpendapat bahwa negara dan tempat mana pun yang termasuk dalam pemerintahan Islam yang luas, bukan merupakan bagian yang berdiri sendiri, bukan pula suatu wilayah yang terpisah dengan wilayah lainnya, akan tetapi berhubungan dengan pemerintah pusat dan daerah kaum Muslimin lainnya, perhubungan antara suatu bagian dengan keseluruhan, antara pribadi dengan keluarga dan antara anggota tubuh

84 Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, (Beirut: Dar Al-Fikr, Cet Ke-3, 1409 H/1989 M), Jilid 2, h. 892.

dengan tubuhnya. Inilah kesatuan, perhubungan dan pertanggungan yang diperintahkan Islam. Tidak dibenarkan dalam Islam, suatu daerah dan keadaannya dipisahkan dari daerah lainnya dan dari ibukota pemerintahan Islam, sehingga apabila turun malapetaka, seperti kelaparan, kebakaran atau wabah penyakit, maka penduduknya lebih membutuhkan pertolongan. Dalam kondisi seperti itu, meluluskan kebutuhan mereka adalah lebih wajib daripada meluluskan kebutuhan orang yang membutuhkan di daerah zakat.86

Hanya saja, mesti pembagian atau memindahkan itu sebagian dari zakat, bukan seluruhnya. Memindahkan seluruhnya tidak boleh dilakukan, kecuali secara mutlak zakat itu tidak diperlukan lagi. Dan menurut mazhab Syafi'i yang merupakan mayoritas mazhab empat, sangat memperketat dalam kebolehan memindahkan zakat, apabila yang membagikan zakat itu adalah si pemilik harta itu sendiri. Adapun jika penguasa atau petugas amil yang membagikan, maka bagi mereka diperbolehkan memindahkannya, berdasarkan pendapat yang shahih.87

86 Yusuf al-Qardawi, Hukum Zakat, Penerjemah Salman Harun, Didin Hafidhuddin, Hasanuddin, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur'an dan

Hadis, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa), hal. 806.

52

BAB IV

ANALISA HUKUM ISLAM MENGENAI PERMASALAHAN ZAKAT