BAB II : GAMBARAN UMUM TENTANG RESEPSI, KAIDAH
D. Pandangan Pengasuh dan Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril secara mutawattir. Tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia agar selamat dalam mengarungi kehidupan dunia maupun akhirat.
Sebagai kitab suci yang dijadikan pedoman hidup oleh manusia, Al-Qur’an dalam penerimaannya oleh masing-masing individu memiliki perbedaan walaupun itu sangat sedikit. Hal itu terjadi bisa disebabkan oleh daya tangkap masing-masing individu yang berbeda-beda, tempat tinggal individu yang berbeda, guru yang berbeda dan lain sebagainya.
1. Pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang terhadap al-Qur’an sebagai Syifā’
Praktik pengobatan yang dilakukan Kiai Ghufror Zainuri di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang Purwodadi memiliki dasar
yang termuat dalam al-Qur’an, yakni terdapat dalam surat al-Isrā’ ayat 82126
yang berbunyi :
َنِّم ُلِّ زَ نُ نَو
ٱ
َءرُقل
ِّنا
ُديِّزَي َلََو َيِّنِّمؤُملِّ ل ةَحَرَو ءاَفِّش َوُه اَم
ٱ
ظل
اراَسَخ لَِّإ َيِّمِّل
٨٢
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (suatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang
yang zalim (al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”127
Kiai Ghufror Zainuri mengungkapkan, ayat diatas menunjukan bahwa Allah menurunkan al-Qur’an kepada manusia untuk dijadikan sebagai penawar, maupun rahmat kepada orang-orang yang beriman. Kata Syifā’ yang memiliki arti obat, yang menunjukkan secara jelas bahsannya al-Qur’an dapat dijadikan sebagai penawar untuk berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit jasmaniyah maupun penyakit ruhaniyah.
Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang merupakan salah satu pondok pesantren yang melakukan praktik pengobatan untuk orang-orang yang menderita penyakit ruhaniyah. Diantaranya seperti oarang yang mengalami gangguan kejiwaan, pecandu narkoba, pelaku kriminal seperti pembunuhan dan lain sebagainya.
126 Wawancara dengan Kiai Ghufror Zainuri pada hari Senin, 28 Januari 2019
127 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Terjemah & Tajwid, (Bandung: Sygma Creative Media Corp, 2014), h. 290
Gus Jibril mengungkapkan, orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan, pecandu narkoba, maupun pelaku kriminal tidak seharusnya diperlakukan seperti binatang yang dibiarkan berkeliaran dijalan atau dikucilkan dari masyarakat. Mereka para penderita gangguan kejiwaan, pecandu narkoba, maupun pelaku kriminal pada hakikatnya sama dengan kita, yakni manusia
ciptaan Allah yang seharusnya diperlakukan seperti manusia pada umumnya.128
Gus Jibril menambahkan, penyakit ruhani disebabkan karena hati manusia yang kosong sehingga manusia mudah sekali tergoncang imannya ketika tertimpa suatu musibah. Oleh karena itu, untuk menangani penyakit ruhani Gus Jibril meyakni dengan cara membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an dan mendektakan diri kepada sang pencipta penderita penyakit ruhani akan mudah
disembuhkan.129
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk dijadikan sebagai petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an ini merupakan salah satu media yang digunakan oleh Kiai Ghufror Zainuri untuk mengobati santri-santrinya yang mempunyai penyakit ruhaniyah. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas yang ada di pondok pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang yang diasuh olehnya. Dalam kegiatan rutinnya Kiai Ghufror Zainuri selalu membacakan ayat-ayat al-Qur’an tertentu yang di dengarkan secara langsung oleh santrinya dengan tujuan santri-santrinya dapat sembuh dari penyakit yang dialaminya. Selain itu, dalam kegiatan rutinnya terdapat kegiatan sorogan al-Qur’an yang mana kegiatan ini ditunjukan agar hati para santri-santrinya merasa tenang. Hal ini diyakini oleh Kiai Ghufror Zainuri sebagai cara yang ampuh untuk menyembuhkan santri-santrinya. Al-Qur’an dipercaya memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga dapat menyembuhkan penyakit ruhaniyah.
Selain kegiatan pembacaan ayat al-Qur’an dan sorogan al-Qur’an, tausiyah-tausiyah dan pembelajaran kitab-kitab kuning yang disampaikan oleh Kiai Ghufror Zainuri ataupun ustadz-ustadz yang membantu Kiai Ghufror Zainuri
128 Wawancara dengan Kiai Ghufror Zainuri pada hari Rabu, 17 April 2019 129 Wawancara dengan Gus Jibril pada hari Rabu 17 April 2019
diyakini sebagai salah satu pendukung dalam melakukan pengobatan terhadap orang-orang yang menderita penyakit ruhaniyah. Pengobatan yang dipraktikan oleh Kiai Ghufror Zainuri sudah terbukti dengan banyaknya alumni-alumni yang sudah sembuh dan diizinkan untuk pulang ke rumahnya masing-masing karena penyakitnya sudah sembuh. Pada umumnya Kiai Ghufror Zainuri membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan untuk menyembuhkannya penyakit ruhaniyah, akan tetapi bisa sampai satu tahun karena jenis penyakit ruhaniyah yang dialami sangat parah.
2. Pandangan Pengurus Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang terhadap al-Qur’an sebagai Syifā’
Pak Huri merupakan salah satu orang yang mengabdikan dirinya kepada Kiai Ghufror Zainuri untuk membantu Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang. Beliau ditugaskan oleh Kiai Ghufror Zainuri untuk mengawasi santri-santrinya yang sedang menjalani proses pengobatan. Dalam aktivitas sehari-hari, Pak Huri memiliki peran yang penting diantaranya, ia mengawasi segala aktivitas santri, mencari santri yang kabur, belanja keperluan makan untuk santri dan lain sebagainya.
Menurutnya pengobatan yang dilakukan di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang merupakan pengobatan yang dilakukan atas dasar kemanusiaan, yang mana berawal dari keprihatinan Kiai Ghufror Zainuri terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Cara pengobatan yang dilakukan disini menggunakan doa-doa dan ayat al-Qur’an karena latar belakang pendidikan Kiai Ghufror Zainuri yang berasal dari pesantren. Selain itu, Kiai Ghufror Zainuri sewaktu masih nyantri di Jember pernah mengalami sakit yang disebabkan oleh guna-guna kemudian diobati menggunakan doa-doa
maupun ayat al-Qur’an.130
Pak Huri mengungkapkan, ”al-Qur’an bisa dijadikan sebgai obat untuk pasien gangguan kejiwaan karena izin Allah, ayat al-Qur’an mempunyai kekuatan dapat menyembuhkan orang yang mengalami gangguan kejiwaan atas
izin Allah. Pengobatan yang dilakukan disini dapat dibilang efektif, hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya alumni atau santri-santri yang sudah sembuh, alumni sini tidak hanya puluhan bahkan ratusan santri sudah sembuh setelah
menjalani pengobatan disini.”131
Selain Pak Huri, Pak Adib juga mengungkapkan “Semua tatanan hidup itu ada dalam al-Qu’an, sehingga al-Qur’an dapat difungsikan untuk berbagai macam, seperti halnya yang dilakukan di pondok pesantren ini, yakni untuk mengobati berbagai macam penyakit, mengobati perasaan, dan lain sebagainya. Allah menururnkan penyakit dan memberikan penawar semata-mata hanya untuk menguji hambanya agar hambanya percaya bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan itu berasal dari Allah. Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber yang telah diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw untuk dijadikan sebagai pedoman hidup, karena di dalam al-Qur’an terdapat
segala resep kehidupan dunia dan akhirat.”132
3. Pandangan Santri Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang terhadap fungsi al-Qur’an sebagai Syifā’
Santri di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang merupakan santri-santri yang mengalami gangguan kejiwaan. Mereka dimasukkan di pondok pesantren ini guna disembuhkan dari penyakit ruhaniyah yang dideritanya. Adapin sebab-sebab mengapa santri-santri mengalami gangguan kejiwaan diantaranya yaitu gagal dalam mengikuti pemilihan umum, permasalahan rumah tangga, pergaulan yang salah, dan lain sebagainya.
Sri Mulyani merupakan salah satu santri yang ada di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang. Ia merupakan salah satu santri yang berasal dari Wonogiri. Ia dimasukkan ke pondok pesantren ini oleh keluarganya karena ia sering mengalami halusinasi, selain itu ia juga sering meluapkan emosinya secara berlebihan sehingga membuat kecemasan orang disekitarnya. Adapun sebab ia mengalami hal tersebut karena ia gagal dalam menjalani hubungan rumah tangga dengan suaminya ( kasus perceraian).
131 Observasi dan wawancara dengan Pak Huri, Rabu, 29 Mei 2019 132 Wawancara dengan Pak Adib pada hari Kamis, 30 Mei 2019
Menurutnya di pondok pesantren ini suasananya nyaman dan tenang, sehingga tempat ini ia rasa sebagai tempat yang cocok untuk mengembalikan jiwanya yang sedang tergoncang. Sri Mulyani mengungkapkan al-Qur’an merupakan kitabnya Allah (Tuhan), kitab ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan bisa digunakan untuk apa saja, termasuk untuk berbuat kejahatan. Akan tetapi di pondok pesantren ini al-Qur’an dibacakan dan diajarkan kepada santri agar mereka kembali kejalan yang lurus. Menurutnya penyakit ruhani obatnya dengan al-Qur’an baik dilakukan dengan cara membacanya maupun hanya
mendengarkan. 133
Sodiq merupakan salah satu senior yang sudah lama berada di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang. Ia tidak pulang kerumahnya karena ia sudah merasa nyaman di pondok pesantren ini dan takut ketika pulang kerumahnya akan ada ejekan dari masyarakat sekitar. Sehingga ia memutuskan tetap berada di pondok pesantren untuk memperdalam ilmu keagamaan dan membantu pengasuh dalam menjalankan kegiatan pondok pesantren.
Menurutnya, bacaan al-Qur’an setiap hari dilantunkan dalam kegiatan yag ada. Pembacaan tersebut guna menenangkan santri-santri yang ada di pesantren ini. Selain itu, bacaan-bacaan al-Qur’an dilntunkan secara rutin guna mewujudkan suasana yang nyaman di Pondok Pesantren Roudhotut Tholabah Ki Ageng Serang. Adapun waktu-waktu pembacaan al-Qur’an diantaranya yaitu
setelah sholat jama’ah lima waktu.134
E. Praktik Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an sebagai Syifā’ di Pondok Pesantren