BAB III METODE PENELITIAN
TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.3 Tingkat Partisiapasi Kader Perempuan dalam Kontestasi Pilkada di Kabupaten Karo Kabupaten Karo
4.3.2 Pandangan Perempuan terhadap Politik dan Pilkada
Untuk melihat tingkat partisipasi dan minat perempuan dalam jabatan politik khusunya jabatan kepala daerah, peneliti ingin mengkaji pandangan dan pemahaman dasar perempuan- perempuan di Kabupaten Karo tentang dunia politik. Pandangan perempuan-perempuan mengenai dunia politik tentunya akan berkaitan erat dengan minat mereka melangkahkan kakinya untuk ikut berpartisipasi dalam politik.
Politik merupakan sebuah seni, sebuah cara dan sebuah kekuatan untuk memperoleh dan mempertahankan sebuah kekuasaan. Keberlangsungan perpolitikan merupakan roda dalam sebuah negara yang terus menerus berputar untuk mencapai tujuan negara pada umumnya dan daerah pada khususnya.
Jabatan politik memiliki kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi karena dipilih langsung oleh rakyat. Berikut hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan terkait pandangan mereka tentang politik dan kedudukan perempuan dalam politik Ibu IR 55 Tahun:
“pendapat saya tentang politik menurut saya pribadi politik itu adalah satu tempat untuk kita memperjuangkan apa yang menjadi hak orang banyak.
Tidak memandang harus laki-laki atau perempuan yang terlibat disana.
Terus juga kalau saya melihat politik di Indonesia ini identik dengan partai. Jadi siapa saja yang ingin berpolitik biasanya akan masuk atau menjadi kader sebuah partai dulu baru bisa berpolitik. Politik menurut saya juga menuntut ketegasan dan kejujuran serta totalitas. Jadi kalau mau berpolitik harus jujur, tegas dan total dalam bekerja. Mungkin itu juga yang saya lihat membuat para perempuan jarang sekali yang terlibat dalam politik, karena politik jika sudah bekerja dair pagi sampai ketemu pagi lagi” ( wawancara pada tanggal 9 oktober 2017).
Ibu LS 52 Tahun:
“politik seperti seni ya, siapa saja bisa menjadi pelakon didalamnya.
Seharusnya tidak ada pembedaan antara laki-laki atau perempuan dalam berpolitik, juga tidak membedakan suku, agama dan status. Asal memiliki wawasan dan pengetahuan tentang politik ya sudah bisa ikut berpartisipasi dalam politik. Politik juga menurut saya berbicara tentang banyak hal.
Berbicara kedaulatan negara, berbicara hak-hak rakyat sampai berbicara pembangunan negara untuk kedepan. Biasanya kita akan mulai dengan daerah masing-masing. Nanti dari daerah baru ke provinsi baru berbicara negara. ( wawancara pada tanggal 9 oktober 2017)
Berdasarkan kutipan dari wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu hal penting untuk bisa ikut berpartisipasi dalam politik adalah memiliki pandangan atau pola pikir yang harus terbuka. Tidak memiliki pola pikir yang tertutup cenderung tidak menirima perbedaan. Karena setiap orang dalam politik
memiliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih. Lebih khusus politik tidak mengenal perbedaan jenis kelamin tapi lebih kepada kemampuan seseorang dalam memberi pengaruh dan perubahan yang baik pada sebuah daerah.
Menurut informan yang berprofesi sebagai warga Kabupaten Karo, ibu Lesna br Sembiring menyatakan bahwa seharusnya orang yang bergelut dalam perpolitikan adalah orang yang pintar dan cerdas untuk mensejahterahkan daerahnya. Berikut hasil kutipan wawancara dengan ibu Lesna br. Sembiring :
“Saya sebagai masyarakat biasa berharap arus perpolitikan di Kabupaten Karo ini lebih bersih. Para perempuan-perempuan yang maju di dunia politik jangan hanya bermodalkan materi dan paras saja, tapi juga kecerdasan, karena nantinya sosok perempuan juga sangat menentukan hasil kebijakan yang dibutuhkan untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat dan memahami segala hal yang terjadi dalam masyarakat.
Makanya kalau saya pribadi menginginkan perempuan yang jadi kader partai dan mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah itu yang bener-bener memiliki kualitas ”
Hal ini diperkuan oleh pernyataan ibu Ratna Ginting:
“ kalau saya melihat perempuan dalam dunia politik sudah biasa saja, siapa saja sekarang sudah berhak untuk maju kedunia politik. Saya rasa yang lain juga sepakat dengan saya. Hal ini terbukti kok dari jumlah pemilih ibu Siti Amina dulu tahun 2010 cukup banyak hingga akhrinya masuk kedalam dua putaran, dari situ kalau saya melihat sebenarnya sudah mulai ada keterbukaan dari masyarakat khusunya kaum perempuan untuk menerima perempuan juga menjadi pemimpin, hanya saja menurut saya justru dari pihak laki-laki yang sepertinya belum bisa menerima persaingan tersebut sehingga terkadang kalau saya lihat banya menggunakan hal-hal yang curang”
Berdasarkan kutipan wawnacara dengan warga Kabupaten Karo, dapat kita analisis bahwa masyarakat saat ini sangat mengharapkan politik yang lebih sehat.
Politik tidak hanya berhubungan dengan materi dan kedudukan semata, tetapi merupakan jalan yang harus digunakan untuk memperbaiki kehidupan bersama bukan hanya kehidupan pribadi ataupun partai yang mengusungnya.
Menurut ibu Wakil Bupati Kabupaten Karo Corry Sibayang, baik itu negara atau pemerintah sudah memberi peluang yang besar kepada kaum perempuan untuk berperan dalam arus perpolitikan negara kita tanpa ada deskriminasi seperti zaman dahulu kala ketika perempuan hanya tinggal di rumah saja. Perempuan sekarang sudah banyak yang berpendidikan tinggi, berkualitas dan dibutuhkan sumbangsih pemikiran dan tenaganya dalam dunia politik.
Berikut hasil wawancara dengan ibu Corry Sibayang:
“Sebenarnya untuk pemahaman dasar, perempuan-perempuan sudah banyak yang paham apa itu politik, tapi masih kurang minat mereka untuk membekalkan dirinya dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih lagi. Karena menurut saya semua harus dimulai dari bawah dulu, paling tidak bergelut dulu dalam organisasi kecil, menjadi pemimpin dalam organisasi kecil, begitu seterusnya sehingga untuk mencalonkan diri jadi bupati atau anggota DPR paling tidak salah satu bekalnya pernah menjadi kepala desa, lurah, camat atau setidaknya pernah memimpin sebuah organisasi. Di Kabupaten Karo ini masih banyak desa yang cukup tertinggal, itu juga yang menyebabkan masih banyaknya perempuan-perempuan di sini yang tidak memiliki pengalaman organisasi, pendidikan politik dan sebagainya.” (Wawancara, 7 oktober 2017).
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibu NS 46 Tahun Anggota DPRD Kab.Karo:
“ Pertama kali Saya hanya berusaha membekalkan diri saya jauh hari sebelum saya maju mencalonkan diri menjadi anggota dprd, berupa pengalaman-pengalaman organisasi yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Kalaupun nantinya saya tidak terpilih, setidaknya saya sebagai perempuan sudah memberanikan diri dan percaya diri untuk ikut sebagai caleg dengan niat ingin ikut menyumbangkan pemikiran-pemikiran untuk memperbaiki kehidupan daerah saya dan membuka pola pikir perempuan dikampung ini agar mau berpikir terbuka dan mau belajar” (wawancara 7 oktober 2017) .
Pandangan dari kutipan diatas yang menarik bahwa perempuan terkadang kurang berminat untuk berpartisipasi dalam politik karena menurutnya politik hanya menghabiskan uang dan hanya bermodalkan kecantikan serta politik hanya untuk kalangan elite saja. Meski peluang terus dibuka untuk eksistensi perempuan di bidang politik namun jika pikiran-pikiran yang seperti itu terus menggerogoti
para perempuan maka minat akan susah untuk diberdayakan. Negara pada umumnya dan daerah pada khususnya masih membutuhkan peran putri bangsa untuk sama-sama berjuang mencapai kesejahteraan bersama. Jadi dapat kita lihat dari pernyataan-pernyataan di atas bahwa politik bukan hal yang instan, tapi sebuah kekuatan dan kapabilitas yang diasah terus menerus untuk memperoleh kekuasaan dengan membekalkan diri dengan pengalaman-pengalaman, pemahaman yang matang dan niat yang tulus untuk kesejahteraan bersama.
Tabel Matrik 4.1
Tingkat Partisipasi Kader Perempuan dalam Kontestasi Politik di Kabupaten Karo
Informan Jumlah Perempuan Dalam Kontes Pilkada
Pandangan Perempuan terhadap Politik dan Pilkada NS Keterlibatan perempuan dalam politik
khusunya pemilihan yang bersifat langsung seperti yang paling rendah yaitu pemilihan kepala desa saja, di
pendapat saya tentang politik menurut saya pribadi politik itu adalah satu tempat untuk kita memperjuangkan apa yang menjadi hak orang banyak.
Tidak memandang harus laki-laki atau perempuan yang terlibat disana. Terus juga kalau saya melihat politik di Indonesia ini identik dengan partai.
CS Dilihat dari jumlah yang mencalonkan diri dalam pilkada, maka memang calonnya itu sangat sedikit sekali . setiap periode itu hanya ada satu calon perempuan saja. Tentu banyak faktor yang menjadi penyebab para kader perempuan untuk tidak terlibat dalam pilkada khusunya pilkada Kabupaten Karo.
JS kalau kader perempuan yang mencalonkan diri untuk pilkada itu sangat sedikit sekali. Sejak 2005 pertama kali pemilihan langsung kepala daerah dulu itu yang mencalonkan diri ya ibu Siti Aminah saja sampai ke priode 2010 juga masih mencalonkan diri di dukung PDIP ditambah ada ibu Riemenda Ginting. Baru yang kemarin ibu Corry mencalonkan diri sebagai wakil dan rejeki menang. bermodalkan materi dan paras saja, tapi juga kecerdasan, karena nantinya sosok perempuan juga sangat menentukan hasil kebijakan
Sumber : Hasil observasi dan wawancara penelitian 2017
4.4 Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Kader Perempuan Dalam