4.5 Pandangan regulator (Kemkominfo) terhadap LTE
4.5.1 Pandangan regulator terhadap Implementasi LTE di Indonesia Berdasarkan penjelasan di dalam Lampiran Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, disebutkan bahwa dalam era globalisasi, informasi mempunyai nilai ekonomi untuk mendorong pertumbuhan serta peningkatan daya saing bangsa.
Masalah utama dalam pembangunan pos dan telematika adalah terbatasnyakapasitas, jangkauan, serta kualitas sarana dan prasarana pos dantelematika yang mengakibatkan rendahnya kemampuan masyarakat mengakses informasi. Kondisi itu menyebabkan semakin lebarnya kesenjangan digital, baik antardaerah di Indonesia maupun antara Indonesia dan negara lain. Dari sisi penyelenggara pelayanan sarana dan prasarana pos dan telematika (sisi supply), kesenjangan digital itu disebabkan oleh :
(a) terbatasnya kemampuan pembiayaan operator sehingga kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada dan pembangunan baru terbatas;
(b) belum terjadinya kompetisi yang setara dan masih tingginya hambatan masuk (barrier to entry) sehingga peran dan mobilisasi dana swasta belum optimal;
(c) belum berkembangnya sumber dan mekanisme pembiayaan lain untuk mendanai pembangunan sarana dan prasarana pos dan
telematika, seperti kerja sama swasta, pemerintah-masyarakat, serta swasta-masyarakat;
(d) masih rendahnya optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada sehingga terdapat aset nasional yang tidak digunakan (idle);
(e) terbatasnya kemampuan adopsi dan adaptasi teknologi;
(f) terbatasnya pemanfaatan industri dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap komponen industri luar negeri masih tinggi; dan
(g) masih terbatasnya industri aplikasi dan materi (content) yang dikembangkan oleh penyelenggara pelayanan sarana dan prasarana.
Globalisasi, kemajuan teknologi, dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang makin meningkat untuk mendapatkan akses informasi menuntut adanya penyempurnaan dalam hal penyelenggaraan pembangunan pos dan telematika. Walaupun pembangunan pos dan telematika saat ini telah mengalami berbagai kemajuan, informasi masih merupakan barang yang dianggap mewah dan hanya dapat diakses dan dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat.
Oleh sebab itu, tantangan utama yang dihadapi dalam sektor sarana dan prasarana pos dan telematika adalah meningkatkan penyebaran dan pemanfaatan arus informasi dan teledensitas pelayanan pos dan telematika masyarakat pengguna jasa. Tantangan lainnya antara lain adalah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi yang menghilangkan sekat antara telekomunikasi, teknologi informasi dan penyiaran.
Dalam upaya meningkatkan penyebaran dan pemanfaatan arus informasi dan teledensitas pelayanan pos dan telematika, maka disusunlah sasaran pembangunan komunikasi dan informatika di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014 melalui penetapan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 – 2014 tersebut merupakan turunan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025.
Sasaran pembangunan komunikasi dan informatika yang terkait dengan upaya meningkatkan teledensitas adalah tersedianya akses dan layanan komunikasi dan informatika yang modern. Di dalam sasaran tersebut ditetapkan adanya 5 indikator dan target pencapaian di akhir tahun 2014 sebagai akhir dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yaitu :
1. Tingkat penetrasi pengguna Internet sekurang-kurangnya 50 persen;
2. Tingkat penetrasi pengguna layanan broadband sekurang-kurangnya 30 persen;
3. Jumlah ibukota kabupaten/kota yang dilayani jaringan broadband mencapai 75 persen dari total ibukota kabupaten/kota;
4. Tingkat penetrasi siaran TV digital terhadap populasi sekurang-kurangnya 35 persen; dan
5. Jaringan backbone serat optik telekomunikasi yang menghubungkan antarpulau besar mencapai 100 persen.
Dengan melihat realisasi pembangunan infrastruktur dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 di dalam Buku I Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2013, maka dapat teridentifikasi bahwa pertumbuhan ibukota kabupaten/kota yang terhubung secara broadband mengalami peningkatan.
Pada akhir tahun 2009, sebagai titik awal RPJMN Tahun 2010-2014, terdata bahwa baru ada 311 ibukota kabupaten/kota yang terhubung secara broadband atau sama dengan 63% dari total jumlah ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Akhir tahun 2011, data tersebut mengalami kenaikan menjadi 328 ibukota kabupaten/kota atau setara dengan 66% dari total jumlah ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pada akhir tahun 2012, data tersebut kembali meningkat menjadi 343 ibukota kabupaten/kota atau setara dengan 69% dari total jumlah ibukota kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Dengan memandang pertumbuhan tersebut, maka target jumlah ibukota kabupaten/kota yang dilayani jaringan broadband mencapai 75%
dari total ibukota kabupaten/kota sebagaimana ditetapkan di dalam RPJMN Tahun 2010-2014 optimis akan tercapai.
Bahkan di pertengahan tahun 2013, tepatnya di bulan Mei 2013, Pemerintah menetapkan target baru untuk melampaui target RPJMN, yaitu menjadi 88% dari total ibukota kabupaten/kota yang dilayani jaringan broadband untuk dicapai di akhir tahun 2014. Target sebesar 88% tersebut sama artinya dengan 437 ibukota kabupaten/kota.
Untuk mengejar target tingkat penetrasi pengguna layanan broadband sekurang-kurangnya 30% yang dicanangkan di dalam RPJMN Tahun 2010-2014, Pemerintah di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 menargetkan adanya pembangunan National Broadband Network (NBN). Berangkat dari data jumlah penduduk sebanyak 240 juta jiwa di akhir tahun 2009, dimana 1,4%-nya telah teridentifikasi sebagai pelanggan broadband (setara dengan 850 ribu jiwa), maka diharapkan di akhir tahun 2014 dengan proyeksi jumlah penduduk Indonesia mencapai 252 juta jiwa terdapat sekurang-kurangnya 66 juta jiwa penduduk Indonesia yang telah menjadi pelanggan dari layanan broadband.
Guna mewujudkan National Broadband Network (NBN), Pemerintah menyusun suatu Rencana Pembangunan Pita Lebar Indonesia atau disebut juga Indonesia Broadband Plan (IBP) yang konsep dokumennya telah mulai dikonsultasipublikkan sejak bulan Juni 2013. Di dalam dokumen rancangan IBP tersebut dijelaskan bahwa IBP merupakan elaborasi rencana pembangunan broadband nasional yang tetap mengacu kepada visi pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005‐2025 dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.
Di dalam dokumen rancangan IBP tersebut diakui bahwa akses broadband Indonesia sangat tergantung pada ketersediaan spektrum frekuensi radio. Dengan tingginya pertumbuhan komunikasi data dan menurunnya komunikasi suara, kebutuhan akan spektrum frekuensi radio semakin meningkat sedangkan pertumbuhan pendapatan operator seluler mengalami penurunan. Kondisinya saat ini, Indonesia sudah mengalami
krisis spektrum frekuensi radio akibat kenaikan trafik mobile broadband. Dengan melihat potret di satu sisi adanya ketergantungan Indonesia pada akses broadband melalui media spektrum frekuensi radio, sedangkan di sisi lain terdapat fakta bahwa pertumbuhan pendapatan operator seluler mengalami penurunan dan adanya krisis spektrum frekuensi radio, maka solusi satu-satunya untuk menciptakan suatu National Broadband Network (NBN) dan mengejar target penetrasi layanan broadband adalah dengan meningkatkan kecanggihan teknologi seluler yang diaplikasikan oleh operator seluler.
4.5.2 Pandangan sekarang dan masa yang akan datang menurut regulator