2. Pencahayaan
Pencahayaan yang dibutuhkan oleh bangunan dapat diperoleh dengan dua cara:
a. Pencahayaan alami
Pencahayaan alami pada bangunan kampus ini dapat diperoleh melalui penggunaan jendela dan sky-light pada atap bangunan. Untuk kegiatan belajar-mengajar ini sistem tata cahaya alami yang masuk kedalam ruang belajar berasal dari arah samping (side-lighting) karena tidak menimbulkan silau dan panas langsung yang berlebihan, dimana orientasi bukaan adalah arah Utara-Selatan.
Akan tetapi pada kondisi tertentu pencahayaan alami ini tidak dapat diterapkan pada seluruh ruang, hal ini disebabkan karena matahari langsung. Jarak capai cahaya adalah 2,5 x tinggi bukaan, dimana tinggi bukaan diasumsikan 1,5 m-2m, jadi cahaya matahari dapat masuk ke ruangan sejauh 2,5 x 1,5m = 3,75m samapai dengan 2,5 x 2m = 5m. Maka daerah tengah yang tidak dapat dicapai oleh sinar matahari selebar ± 0,5 – 2,5 m.
Untuk mengatasinya dapat dengan menggunakan light-shelf atau verhang kembar. Dimana light-shelf atau overhang kembar dapat memberikan penetrasi cahaya yang paling dalam dari sinar langsung maupun baur.
Pada ruang yang menghadap langsung ke arah Barat dan Timur dapat diatasi dengan cara sebagai berikut:
Untuk menentukan luas bukaan yang ideal perlu diperhitungkan berdasarkan kebutuhan intensitas ruang. Jadi jika ruang studio membutuhkan ≤750 Lux untuk tinggi plafond sebesar 3-5m, maka rata-rata bukaan jendela terhadap luas lantai adalah 25% x luas lantai ruangan (asumsi bukaan adalah 25%).
Lux, maka penggunaan bukaan luar 25% dari luas lantai yang memadai untuk penerangan alami.
Pada ruang kelas teori sistem tata cahaya alami yang digunakan memiliki kemiripan, hanya pada ruang teori kebutuhan intensitas cahaya adalah ≤500 Lux, dengan bukaan sebesar ± 20%Luas lantai. Luas ruangan yang memiliki besar ± 2/3 x Luas ruang kelas praktek (studio) ini memiliki bentang ruang yang lebih kecil pula sehingga luasan bukaan akan semakin kecil pula.
Pemanfaatan cahaya matahari pada bangunan harus diiringi dengan penaggulangan radiasi panas pada bangunan. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan :
a) Shading, yaitu penyelesaian perbedaan kedalaman permukaan jendela terhadap permukaan dinding lain. Cara ini juga dapat mengurangi silau.
b) Penggunaan kaca solar kontrol
c) Penggunaan bahan bangunan yang memiliki selang waktu pemanasan cukup lama, seperti batu bata d) Pemanfaatan ventilasi yang baik dan efektif
e) Penggunaan clading atau perforated untuk menghalau panas
f) Menggunakan elemen-elemen peneduh seperti pohon, kolam, dan lainnya.
b. Pencahayaan Buatan
Penggunaan cahaya buatan adalah untuk mendukung pencahayaan pada ruangan-ruangan, seperti kelas, auditorium, laboratoruim, ruang pamer, dan lainnya. Cahaya buatan ini digunakan untuk mendukung kegiatan yang ada di ruang tersebut apabila cahaya matahari tidak dapat mendukung, misalnya saat sedang mendung, atau juga digunakan untuk ruang yang tidak memiliki cukup bukaan dengan tujuan privasi.
Intensitas cahaya untuk ketinggian plafond ≤ 3m
RUANG INTENSITAS JENIS LAMPU
Rapat, administrasi ≤500 Lux A≤100W A>100W QT-LV QR-CB-LV Perpustakaan ≤500 Lux T TC-L
Ruang baca ≤500 Lux T
TC-L
Kelas teori ≤500 Lux T
TC-L Gambar teknik Laboratorium ≤750 Lux T TC-L Kantor ≤750 Lux T TC-L Ruang ≤500 Lux QT-LV T TC TC-D TC-L
• Keterangan lampu dapat dilihat pada lampiran
Pada bangunan kampus ini untuk mencapai efisiensi dalam pemakaian cahaya buatan terutama pada area kelas dan ruang pamer maka sIstem pengendaliannya adalah sIstem yang terintegrasi dalam Building Automation System (BAS) dengan adanya penjadwalan yang diprogram dengan komputer, dan sistem penditeksian kondisi ruangan untuk intensitas cahaya yang diperlukan.
Dengan adanya sistem ini dapat mengatur intensitas cahaya yang diperlukan untuk kebutuhan dalam ruangan berdasarkan sensor cahaya yang bekerja berdasarkan tingkat intensitas cahaya yang dipengaruhi oleh keadaan luar sekitar bangunan. Melalui sistem ini, bangunan dapat menghemat penggunaan energi.
T TC
Toilet ±80 Lux T dan TC
Koridor,
3. Akustik
Faktor akustik sangat penting dalam perencanaan Kampus Fakultas Teknik Arsitektur karena letaknya yang dekat dengan pusat kota dan padat lalu-lintas. Selain itu kegiatan didalamnya juga menuntut akan penggunaan akustik untuk mendukung kegiatan, baik itu bising yang berasal dari dalam bangunan karena suatu kegiatan yang sifatnya saling bertolak belakang maupun bising yang berasal dari luar bangunan.
Pengendalian bising yang berasal dari lingkungan dapat diatasi dengan:
• Menekan daerah pusat bising, misalnya dengan pemilihan mesin dan peralatan yang tingkat bisingnya ringan.
• Perencanaan tapak, misalnya dengan peletakkan bangunan yang membutuhkan tingkat ketenangan tinggi pada daerah yang tingkat bisingnya lebih rendah
• Perancangan arsitektur, yaitu dengan penempatan ruang pereduksi bising (ruang perantara)
• Rancangan Struktural, yaitu berhubungan dengan kapasitas daya tahan atau bahan material yang dapat membantu mereduksi bunyi atau bising
Bahan dan konstruksi penyerap bunyi yang dapat dijadikan alternatif:
a. Bahan berpori, dengan kategori unit siap pakai, plesteran akustik, dan bahan yang disemprotkan, isolasi akustik
b. Bahan penyerap panel atau penyerap serabut c. Resonator rongga
KRITERIA 1 2 3
Daya serap pada frekuensi rendah 2 3 3 Daya serap pada frekuensi tinggi 3 1 3 Pemanfaatan dalam interior 1 2 1
Berdasarkan analisa diatas, ketiga jenis material penyerap bunyi memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Oleh karena itu, ketiga bahan tersebut dipergunakan menurut tingkat kepentingannya.
Pada daerah seperti daerah penerima, atau ruang lainnya yang berada dimuka bangunan, menggunakan penyerap panel seperti kayu, kaca, lantai kayu dimana bahan-bahan ini sangat ekonomis dari segi harga maupun dari segi estetika juga memiliki nilai tinggi.
Pada ruang kelas dan ruang pertunjukkan, menggunakan kombinasi bahan berpori pada karpet dan
tempat duduk, resonator celah pada langit-langit, dan penyerap panel pada dinding untuk mengatasi bising dan menghindari bising.
4. Penghawaan
Penghawaan pada bangunan kampus menyangkut segi kenyamanan bagi pengguna bangunan, mengingat udara kota Jakarta yang semakin panas dan padatnya lingkungan sekitar tapak. Selain berhubungan dengan kenyamanan, faktor penghawaan juga mempengaruhi pada faktor pengamanan perangkat komputer dan perangkat keras lainnya.
Pada kampus ini kenyamanan suhu thermal menurut standart adalah berkisar 23-260C dan kelembaban tidak lebih dari 40%. Pencapaian akan suhu tersebut dapat ditempuh dengan beberapa cara, diantaranya:
Penghijauan pada tapak
Penggunaan elemen-elemen yang berhubungan dengan air
Penggunaan sistem penghawaan buatan
Perancangan bangunan yang meletakkan bukaan dengan besar dan kualitas yang baik
Penghawaan Alami Penghawaan Buatan
Murah, tidak memerlukan perawatan khusus
Kelembaban sulit dikontrol Distribusi kurang merata Membawa serta udara kotor dan
debu
Dapat serta membawa bising Tidak memerlukan listrik
Kelembaban dapat dikontrol dan diatur
Distribusi merata
Dapat memberikan kenyamanan setiap saat
Biaya pemasangan dan perawatan relatif mahal
Dapat mereduksi bising dari luar Membutuhkan energi listrik yang
tinggi
Terhindar dari debu dan kotoran
Berdasarkan analisa diatas maka untuk bangunan Kampus Fakultas Teknik Arsitektur ini penggunaan penghawaan buatan hampir mendominasi seluruh bangunan kampus. Secara garis besar sistem pengkondisian udara buatan dalam ruangan dibedakan menjadi dua dimana keduanya dapat dijadikan alternatif bagi penghawaan buatan:
Secara Langsung (direct cooling atau Unitary System)
Udara didinginkan langsung oleh refrigerant dengan menggunakan sistem paket window unit atau package unit tanpa ducting. Keuntungannya adalah biaya awal yang murah, dan fleksibel dalam penempatan. Sedangkan yang menjadi kerugiannya adalah kapasitasnya yang kecil dengan distribusi yang kurang merata dan sulit dalam pengoperasian, serta
membutuhkan space yang tidak sedikit untuk perawatannya.
Package Unit
• kapasitas 3-20 TR, dapat menyuplai udara ruangan seluas 100 m2-650 m2
• Kebisingan tinggi
• Sistem Instalasi sederhana, tanpa ducting • Distribusi udara kurang merata
• Daya tahan mesin ± 10Tahun dengan biaya awal rendah, karena tidak memerlukan peralatan atau tempat khusus
• Sistem pengoperasian kurang efektif karena dinyalakan melalui ruangnya masing-masing Split Unit
• Kapasitas 100 TR, dapat menyuplai udara pada ruangan dengan luas mencapai 3000 m2 -4000 m2
• Kebisingan tinggi
• Sistem instalasi dapat dengan atau tanpa ducting
• Daya tahan mesin kurang lebih sama dengan sistem package
• Peralatan relatif ringan
Secara tidak langsung (indirect cooling atau Central Station System)
• Kapasitas 25–250 TR, dapat menyuplai udara pada ruangan dengan luas mencapai 800 m2-8000 m2
• Kebisingan kecil
• Sistem instalasi dengan ducting • Distribusi udara merata
• Daya tahan mesin 18-20 tahun dengan biaya awal tinggi
• Sistem penoperasiam mudah karena dapat diatur disatu tempat.
Cara kerjanya adalah:
Udara dialirkan melalui kumparan pipi dimana air es disirkulasikan. Mesin pengelola udara (AHU) yang berisi kumparan pipa atau coil, blower, dan filter udara. Keuntungannya adalah mesin pendingin terpusat di satu tempat, distribusi udara merata, dan pengoperasian serta pemeliharaan desentralisasi.
Sedangkan kelemahannya adalah memiliki biaya awal yang tinggi, isolasi yang cukup tinggi serta ukuran shaft dan ductingnya yang cukup besar.
5. Sirkulasi
Jenis-jenis sirkulasi diantaranya: Sirkulasi Horisontal
Menggabungkan ruang yang satu dengan yang lain pada lantai yang sama. Jenis-jenisnya adalah:
Linear
o Sirkulasi yang tercipta melalui jalan yang lurus yang dapat menjadi unsur penghubung utama untuk satu deretan ruang.
o Memperlihatkan kegiatan yang berurutan, tidak ada kegiatan yang utama.
o Memberi kesan mengarah dan keteraturan o Pengembangan dengan sebuah garis maya Radial
Sirkulasi yang berkembang dari atau berhenti pada sebuah pusat
Spiral
Grid
o Terdiri dari dua set jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan bujur sangkar atau kawasan segi empat.
o Memperhatikan keteraturan
o Pengembangan dengan sistem grid dengan modul sama
o Network
Suatu bentuk jaringan yang terdiri dari beberapa jalan yang menghubungkan titik tertentu didalam suatu ruangan.
Sirkulasi Vertikal a. Tangga
Keuntungan :
o Tidak membutuhkan energi (listrik) o Fleksibel
o Murah
o Dapat dipakai setiap saat
o Sangat berguna disaat terjadi kebakaran Persyaratan:
Konstruksi yang tahan api dengan struktur menerus
Tangga ada pada setiap jarak 20-30m dengan pintu pada top floor dan ground floor harus membuka keluar bangunan
Jumlah serta lebar tangga harus sesuai dengan daya tampung dan ketentuan yang berlaku Letaknya mudah dijangkau, komunikatif b. Lift
Bangunan yang direncanakan termasuk dalam kategori medium-rise, untuk itu penggunaan lift diperlukan untuk menunjang transportasi yang lebih efisien dari segi waktu.
Sifat penggunaan lift:
Efisien dalam banguna medium-rise Membutuhkan energi (listrik) yang besar
Memiliki daya angkut yang efisien Memiliki waktu tunggu
Penggunaan lift pada bangunan kampus Arsitek ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan transportasi yang tidak dapat dilayani oleh tangga, seperti membawa maket yang berat dan besar, mengangkut materi pameran, perangkat komputer, orang cacat, dan lainnya.
c. Eskalator
Penggunaan eskalator sangat membantu dalam melayani orang banyak pada bangunan medium-rise. Eskalator fleksibel untuk diletakkan dimana saja, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah eskalator membutuhkan space ruang yang besar untuk penempatannya. Akan tetapi pengangkutan akan lebih menarik apabila berjalan dengan menggunakan eskalator, karena dapat lebih santai dan menikmati view yang ditawarkan oleh bangunan.
d.Ramp
Ramp merupakan sarana pengangkutan yang efisien bagi penderita cacat dan juga memiliki nilai estetika dalam membentuk wajah bangunan. Ramp biasanya diletakkan pada lokasi yang efisien pada bangunan dengan maksud:
• Penyediaan fasilitas bagi penyandang cacat yang berkursi roda
• Efisien bagi jalur trolley (kereta barang), khususnya untuk mengangkut peralatan berat
seperti komputer, peralatan matri pameran dan lainnya.
• Pertimbangan estetika
Sirkulasi-sirkulasi ini dapat diekspose sebagai bagian dari fasade bangunan sesuai dengan konsep Ekspresionisme yang lebih mementingkan apresiasi bentuk dan material atau hal lainnya yang bersifat realistis dan menonjol sehingga didapat kesan monumental dan identitas yang dapat memberi warna pada bangunan kampus itu sendiri.
6. Keamanan
a. Terhadap bahaya kebakaran
Pengamanan terhadap kebakaran dibagi dalam tahap pencegahan, penyelamatan, dan pemadaman.
Pencegahan :
• Smoke-detector, alat ini akan mendeteksi asap temperatur 40-50oC
• Keat-Detector, alat ini akan mendeteksi panas pada temperatur 60-70 oC
• Penggunaan bahan material yang tahan apai, khususnya pada daerah yang mudah terbakar
• Lebar koridor minimum 180 cm Penyelamatan :
• Tangga kebakaran, dimana persyaratan utamanya adalah maksimal 30 m dan ruang sirkulasi harus berhubungan dengan tangga.
• Blower otomatis yang akan meyedot udara segar ke dalam tangga darurat secara otomatis
• Penerangan darurat, lampu petunjuk penerangan pada pintu keluar, tangga kebakaran, koridor, dan lainnya engan menggunakan energi dari batere.
• Fire alarm dan call-box (alaram tombol), diletakkan pada tempat-tempat strategis, jelas, dan mudah dicapai oleh umum untuk memberitahukan kepada petugas, dimana batas pelayanannya adalah ± 185 m2
Pemadaman :
• Tabung pemadam kebakaran kimia, diletakkan setiap jarak 20m dengan luas area pelayanan 200 m2
• Hydrant, diletakkan didalam maupun diluar bangunan dengan luas pelayanan 800 m2-1000 m2
• Spinkler otomatis, dpat berupa liquid maupun gas, dengan jarak peletakkan 9m dan daya jangkau 25 m2/unit.
b. Terhadap pencurian
Dengan penggunaan CCTV dan alaram pada ruangna penting yang membutuhkan penjagaan. Terbagi atas: o Security System dengan CCTV
Berfungsi untuk mengamati suatu tempat atau objek tertentu di dalam bangunan atau dihalaman bangunan atau taman. Dalam CCTV ini pada monitor TV dilengkapi dengan fasilitas VTR (Video, Tape, Recorder) untuk merekam kejadian pada saaat tertentu dan ada juga bagian yang tidak perlu direkam.
o Visual and Communication System dengan CCTV Berfungsi untuk mengamati objek atau tempat tertentu dan juga sebagai media komunikasi dua arah yang sifatnya saru arah pada saat tertentu dan akan diperagakan di layar monitor.
KAMERA KAMERA KONT ROL PANEL VTR TV MONITOR
Detektor Infra Merah, sensor gerakan, pada pintu-pintu, cahaya, dan jika kaca dipecahkan
Sistem Kode, prinsip kerjanya hampir sama dengan kartu, tetapi yang berbeda adalah pengguna harus memasukkan kode sebagai pengganti kartu.
Dalam hal ini kunci yang digunakan akan dikontrol oleh suatu program khusus dan untuk keperluan darurat, dimana kunci tersebut dapat dibuka secara manual.
7. Telekomunikasi
Berikut beberapa alternatif yang dapat digunakan:
Intercom system dan Aiphone, sbagai alat komunikasi intern
PABX (Private Automatic Branch Exchange) yang menguhubungkan dari luar atau dari dalam bangunan melalui operator
Telepon langsung, Telkom menuju ruang-ruang tertentu 8. Sanitasi a. Air Bersih KAMERA KAMERA KONT ROL PANEL VTR TV MONITOR INTERCOM
Kebutuhan air bersih untuk ruang-ruang seperti toilet, pantry, taman, musholla, kantin, dan lainnya memiliki perkiraan jumlah air yang dihitung berdasarkan standart kebutuhan air, yaitu untuk bangunan kampus sebesar 1 m2/hari = 100 m3. Jadi dibutuhkan bak penampungan air yang mampu menampung ± 120 m3. (Poerbo, Ir. Hartono, M.A.; Utilitas Bangunan; hal.16). Suplai air berasal dari PAM yang didistribusikan melaui jalur bawah tanah dengan menggunakan plumbing. Selain itu juga digunakan deep-well untuk membantu memberi pasokan air bersih bagi bangunan ini.
Tangki Atas
Keuntungan: Hemat Energi
Menggunakan gaya gravitasi untuk menurunkan air
Hanya memerlukan pompa bila reservoir atas
P GT P
TOILET
PANTRY
MUSHOLLA …… Pompa Pompa Joky RESERVOIR ATAS
Bila terjadi pemadama listrik, air masih tetap ada karena ada cadangan air.
Kerugian:
Bila satu air dibuka maka, keran lain akan mengalami pengurangan tekanan
Akan tetapi kelemahan diatas dapat diatasi dengan membentuk plumbing berputar diatas plafond agar air dari sumber lain tetap bisa mengalir deras. Tangki bawah
Keuntungan:
Tidak membutuhkan ruang atas
Daya tekan merata kesetian bukaan karena dijalankan dengan pompa
Kerugian:
Bergantung pada energi listrik, sehigga apabila terjadi pemadaman maka air juga tidak ada karena pompa tidak berfungsi.
P GT P
TOILET
PANTRY MUSHOLLA
…… Pompa Pompa Joky
Deep-well
PAM
P HIDRANT
b. Air Hujan
Air hujan juga merupakan potensial bagi keberadaan air tanah, untuk itu air hujan ini sebaiknya dipergunakan. Pada bangunan ini air hujan yang jatuh disimpan dibawah tanah dengan disediakannya bak penampungan disetiap persimpangan saluran yang berfungsi sebagai penampung dan penyaring air hujan yang nantinya akan digunakan untuk keperluan seperti menyiram tanaman, flashing closet, dan lainnya.
• Terbuka
• Grill (Tertutup)
c. Air Kotor dan Kotoran Padat
Air kotor berasal dari pantry, toilet, musholla, wastafel, dan saluran lainnya akan dibuang kesaluran kota dengan
melewati tahap penyaringan terlebih dahulu. Penyaringan ini terjadi bersamaan dengan kotoran padat yang berasal dari pembuangan, keduanya disaring didalam TSP atau bak saringan yang dibuat dengan tujuan pembuangan air kotor jika menggunakan STP (Seaweed Treatment Plan). Dan apabila menggunakan cara konvensional adalah dengan menyaring air yang keluar dari plumbing-plumbing, baru kemudian air kotor tersebut dibuang ke riol kota.
Untuk kotoran padat terdapat beberapa alternatif : Septiktank
Perkiraan kebutuhan volume septic tank untuk bangunan sekolah adalah 0.01 m3/orang. Dengan kapasitas tampung sebesar 1000 orang. Maka volume septiktank yang dibutuhkan adalah 100 m3.
9. Pembuangan Sampah
Sampah dikumpulkan pada bak penampungan semetara pada halaman bangunan, dari tempat sampah dan dari ruang-ruang dalam, selanjutnya diangkut truk sampah ke penampungan sampah terakhir.
10. Penangkal Petir
Beberapa alternatif yang digunakan adalah sebagai berikut : • Sistem Faraday, sistem kurung logam yang terjadi dari
tiang-tiang pada atap bangunan yang masing-masing dihubungkan dengan kawat tembaga untuk disalurkan ke tanah. Alat penerima setinggi 50 cm pada jarak setiap 20 cm.
• Sistem Radio aktif, yang terdiri dari elektroda
Sistem Franklin Rod, merupakan sistem sederhana untuk gedung-gedung kecil. Memberikan perlindungan dengan membentuk sudut 45o dari tanah akan tetapi dari segi estetika kurang baik.
Bak Penampungan Truk Sampah Sampah Tempat Sampah Pembuangan Akhir
NO. SISTEM PEMASANGAN KEUNTUNGAN KERUGIAN 1 Faraday Sistem o Cocok untuk bangunan tinggi o Jarak Jangkauan Luas o Tidak efisien o Dari segi Estetis kurang menunjang
2 Sistem Radio Aktif
o Tiang tidak terlalu tinggi o Jarak Jangkauan Luas o Biaya mahal o Bersifat menolak petir, sehingga dapat membahayakan lingkungan
3 Franklin Rod Sistem
o Praktis bila dibanding Sistem Faraday o Biaya Murah o Daya Jangkauan terbatas o Antena akan semakin tinggi sesuai dengan bangunan.