PENDIDIKAN KESEHATAN GIZ
PANGAN, GIZI DAN PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA
<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –> A. KETERSEDIAAN PANGAN DI INDONESIA
Pangan adalah bahan-bahan yang dimakan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jariangan tubuh yang rusak. Pangan juga dapat diartikan sebagai bahan sumber gizi. Ketersediaan pangan di Idonesi sebenarnya cukup bagus hanya saja laju peningkatan kebutuhan pangan untuk beberapa komoditas, lebih cepat dari laju peningkatan produksi.
Disamping produktivitas tanaman ditingkat petani pada berbagai komoditas pangan relative stagnan, juga disebabnya kapasitas produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbatasnya kapasitas produksi Nasional :
1. Berlanjutnya konversi lahan pertanian kepenggunaan non pertanian (khususnya dipulau jawa).
2. Menurunya kualitas dan kesuburan.
3. Semakin terbatas dan tidak pastinya penyediakan air untuk produksin akibat kerusakan hutan.
4. Rusaknya sekitas 30 persen prasarana pengairan.
5. Persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sector industri dan pemukiman.
Akibat hal diatas, Indonesia masih mempunyai permasalahan dan tantangan dalam hal ketersediaan pangan pada beberapa komoditas penting yaitu:
2. Jagung. 3. Kedelai. 4. Gula.
5. Daging sapi.
Dalam bidang produksi pangan terdapat permasalahan-permasalahan, diantarnya adalah:
1. Sentral produksi pangan hanya di daerah tertentu.
Hamper 60% dari produksi pangan Indonesia berasal dari Jawa dengan 40% dianatarnya di Jawa Timur, sebuah propoindi di Jawa yang luasnya 2,5% dari luas daratan Indonesia dan dengan jumlah penduduknya 14,8% dari jumlah penduduk Indonesia. Pemusatan produksi seperti diatas menimbulkan berbagai kerumitan dalam pemasaran dan distribusi pangan, mengingat bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan dengan 3000 pulau yang didiami penduduk. Masalah lain yang dihapai erat berkaitan dengan keadaan geografis, seperti terbatasnya persediaan prasarana dan sarana perhubungan.
1. Produksi pangan masih tergantung kepada musim
Pada musim penghujan hasil panen akan tinggi atau meningkat sedangkan pada musim kemarau hasil panen menurun. Produksi pangan di Indonesia selain tidak merata menurut tempat, tetapi juga tidak merata menurut waktu.
1. Produksi pangan bersifat fluktuatif yang dipengaruhi oleh cuaca dan hama (penyakit)
Produksi cuaca, gangguan fluktasi, sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, gangguan hama, penyakit, dan gangguan alam dan lain sebagainya.
1. Intensifikasi produksi pangan melalui pemakaian jenis tanaman unggul yang cepat tumbuh dan tahan penyakit, pengunaan pupuk, pemakaian irigasi teknis yang efektif di tempat-tempat yang menyediakan air alamiahnya kurang, penggunaan alat dan obat pemberantas hama (penyakti) yang aman dan efektif, dan penerapanan teknologi bercocok tanam modern.
2. Ekstensifikasi atau perluasan produksi pangan, yaitu: memproduksi jenis dan banyaknya bahan makanan yang terutama adalah bahan makanan pokok dengan cara
pengembangan akua kultur secara intensif atau jika memungkinkan pembukaan lahan baru.
3. Diversikasi pangan yang berarti menganekaragamkan makanan pokok masyarakat suatu daerah dengan berbagai makanan pokok yang dapat disediakan oleh pemerintah seperit beras, jagung, gandum, ketela pohon, sagu, dan lain sebagainya.
B. HUBUNGAN PANGAN DAN GIZI
Arti istilah gizi sendiri adalah suatu proses yang terjadi pada makhluk hidup, untuk mengambil dan menggunakan zat yang ada dalam makanan dan minuman guna mempertahankan hidup, pertumbuhan, berproduksi dan untuk menghasilkan energi.
Pangan menyediakan unsr-unsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat gizi.Pada gilirtannya, zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagi tubh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh.
Susunan pangan dalam makanan yang seimbang adalah susunan bahan pangan yang dapat menyediakan zat gizi penting dalam jumlah cukup yang diperlukan tubuh tenaga, pemeliharaan, pertumbuhan dan perbaikan jaringan.
C. STATUS GIZI
Status gizi di bagi menjadi:
1.
1. Kecukupan Gizi (gizi seimbang)
Dalam hal ini asupan gizi, seimbang dengan kebutuhan gizi seseorang yang bersangkutan. Kebutuhan gizi seseorang ditentukan oleh kebutuhan gizi basal, kegiatan dan pada keadaan fisiologis tertentu, serta dalam keadaan sakit.
1.
1. Gizi kurang
merupakan keadaan tidak sehat(patologis) yang timbul karena tidak cukup makan dengan demikian konsumsi energi dan protein krang selama jangka waktu tertentu dinegara berkembang, konsumsi makanan yang tidak menyertakan pangan cukup energi, biasanya juaga kuarang dalam satu atau lebih zat gizi esensial lainnya. Berat badan yang menurun adalah tada utama dari gizi kurang.
1.
1. Gizi Lebih
Keadaan patologis (tidak sehat) yang disebab kebanyakan makan. Mengkonsumsi energi lebih banyak dari pada yang diperlukan tubuh untuk jangka waktu yang panjang dikenal sebagai gizi lebih. Kegemukan (obesitas) merupakan tanda pertama yang bias dilihat dari keadaan gizi lebih. Obesitas jika dibiarkan berkelanjutan akan mengakibatkan berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, ateros klerosis, gangguan kinerja jantung, diabetes mellitus dan lain sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah sebagai berikut :
1. Produk Pangan (Jumlah dan Jenis makanan) 2. Pembagian Makanan atau Pangan
3. Akseptabilitas (Daya Terima)
4. Prasangka Buruk Terhadap Bahan Makanan Tertentu 5. Pantangan Terhapat Makan Tertentu
6. Kesukaan Terhadap Jenis Makanan Tertentu. 7. Keterbatasan Ekonomi
8. Kebiasaan Makan 9. Selera Makan
11.Pengetahun gizi
Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
Kelompok masyarakat yang kehidupannya sulit
Masalah utama yang dihadapi oelh keompok ini adalah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik- baiknya. Kelompok masyarakat seperti ini rentan terhadap masalah kekurangan gizi, baik kekurangan gizi kalori maupun gizi protein. Program pemerintah untuk menyediakan pangan yang murah bagi kelompok ini diharapkan tidak saja berorientasi kepada pemenuhan kalori, tetapi seharusnya diimbangi dengan program penyediaan gizi protein bagi kelompok masyarakat ini. Rasulullah pun juga menghimbau umat-nya agar memperhatikan kehidupan tetangganya.
Kelompok masyarakat yang tergolong beruntung.
Yang dapat membeli jenis makanan apa saja yang diinginkannya dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga pemenuhan gizi dapat terjamin. Malnutrisi pada kelompok ini seringkali diakibatkan oleh kkonsumsi makanan yang terlalu berlebihan, sehingga muncul penyakit atau kelainan seperti hiperglikemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, obesitas, danlain sebagainya. Islam mengajarkan kepada umatnya agar makan yang halal dan thoyiban. Rasulullah SAW bersabda: ―Kami ini adalah suatu kaum yang tidak makan kecuali lapar dan akan berhenti makan sebelum kenyang‖
D.HUBUNGAN PANGAN GIZI DAN PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA GBHN telah menetapkan bahwa pembangunan yang kita galakkan dewasa ini bertujuan untukmembangun manusia seutuhnya, dan masyarakat Indonesia seluruhnya.membangun manusia Indonesia seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Peningkatan taraf tercermin pada pemenuhan kebutuhan pokok yaitu: pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, pendidikan.Masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah
pembangunan di masa yagng akan datang. Keterlambatan dalam memberikan pelayanan gizi akan berakibat kerusakan yang sulit bahkan mungkin tidak dapat di tolong,bagaimana tidak karena jika anak-anak di Indonesia banyak yang kekurangan gizi maka kelak akan terjadi masalah dalam pembangunan dimasa akan datang.
Berkenaan dengan hal diatas perlu penanganan serius terhadap anak-anak, hal ini di sebabkan:
Kekurangan gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan anak-anak
Kekurangan gizi berakibat meningkatnya angka kesakitan dan menurunya produktifitas kerja manusia
Kekurangan gizi berakibat menurunya kecerdasan anak-anak
Kekurangan gizi berakibat menurunya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunya prestasi dan produktifitas kerja manusia