• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANGAN KELUARGA DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Lain-LainLain-Lain

PANGAN KELUARGA DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Oleh : Husaini Pendahuluan

Hingga hari ini, Indonesia masih dalam ancaman Covid-19. Virus paling kecil yang menyerang pernafasan itu telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia. Virus yang muncul dari Wuhan itu kini telah merenggut 983 ribu nyawa manusia, dengan jumlah masyarakat yang terjangkit mencapai 181 juta jiwa dan yang meninggal sebanyak 3,92 juta jiwa (WHO, 2021). Di Indonesia, hingga hari ini tercatat korban yang meninggal dunia akibat serangan Covid-19 mencapai 56.729 jiwa, dengan jumlah kasus 2.09 juta jiwa dan yang sembuh mencapai 1.84 juta jiwa (Kemenkes, 2021).

Covid-19 telah mengganggu sistem pangan Indonesia. Ketenagakerjaan di bidang pertanian diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 4,87 persen, sedangkan produksi pertanian domestik akan menyusut sebesar 6,2 persen akibat wabah tersebut (Adji, Sutikno, Asmanto, 2020). Impor akan turun sebesar 17,11 persen dan harganya diperkirakan akan naik sebesar 1,20 persen dalam jangka pendek dan sebesar 2,42 persen pada 2022. Dengan berkurangnya pasokan dalam negeri dan dari impor, kekurangan pangan dan inflasi harga makanan berpotensi besar terjadi. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi perekonomian khususnya pada level terkecil di tingkat keluarga.

Data terkini menunjukkan sektor pertanian telah mengalami kontraksi. Pada Februari 2020, penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian menurun sebesar 60 ribu orang atau sekitar 0,42 persen dibandingkan dengan tahun lalu (BPS, 2020). Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 menunjukkan bahwa sektor pertanian hanya mampu tumbuh 0,02 persen secara tahunan. Meskipun demikian, sektor pertanian masih cukup potensial untuk menjadi tumpuan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Secara kuartalan, pertanian masih sanggup tumbuh 9,46 persen (BPS, 2020).

Dampak Pandemi Terhadap Masyarakat Menurut Zuraya (2020), pada aspek perdagangan setidaknya terdapat 3 dampak akibat dari pandemi Covid-19. Pertama, membuat konsumsi rumah tangga atau daya beli menurun. Padahal konsumsi rumah tangga merupakan penopang perekonomian relatif besar. Kedua, pandemi menimbulkan adanya ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha. Ketiga adalah seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara juga terhenti. Ketiga dampak tersebut, juga dialami juga oleh sektor pertanian secara umum.

Kelompok Asosiasi Eksport Kopi Indonesia (AEKI) menyebutkan bahwa saat ini penjualan kopi ditingkat petani dan koperasi mengalami masalah besar, dikarenakan banyak perusahaan kopi dunia tidak melayani atau membatasi pembelian konsumsi kopi.

Kondisi ini menyebabkan banyak petani mengalami kesulitan untuk menjual produksinya. Akibatnya, berbagai aktivitas ekonomi petani terganggu. Akses dan distribusi pangan antar wilayah juga terganggu disebabkan kebijakan pemerintah dalam penerapan physical or social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sementara kebutuhan pangan bagi masyarakat tidak berhenti. Apa yang harus dilakukan masyarakat menghadapi kondisi tersebut? Tentu mereka perlu upaya adaptasi untuk bertahan hidup dalam kondisi pandemi ini.

Strategi Adaptasi Masyarakat

Adaptasi merupakan salah satu tindakan manusia dalam menyesuaikan diri tatkala sedang menerima tekanan dengan berbagai bentuk. Menurut teori psikologi, adaptasi adalah perubahan respon perilaku agar sesuai dengan keadaan lingkungan, sedang penyesuaian adalah perubahan lingkungan agar sesuai dengan perilaku.

Dalam konteks kondisi pandemi yang menerpa dunia akhir-akhir ini, pola adaptasi sangat penting dilakukan oleh individu, komunitas

Buletin BPTP Aceh 119 dan masyarakat guna mengatasi berbagai hal

yang merusak dan risiko yang dihadapi.

Adapun beberapa pola adaptasi yang dilakukan komunitas masyarakat dalam menghadapi bencana pandemi Covid-19 di provinsi Aceh adalah dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada.

a. Manfaatkan pekarangan rumah

Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional dari waktu ke waktu. Dalam kondisi pandemi covid1-19, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk pekarangan, dalam menyediakan pangan bagi keluarga.

Untuk menjaga ketahanan pangan dimasa pandemi Covid-19, Pemerintah Aceh beberapa waktu lalu mencanangkan Gerakan Aceh Mandiri Pangan (GAMPANG). Gerakan ini dimotori oleh lima SKPA sekaligus seperti Dinas Peternakan Aceh, Dinas Pangan Aceh, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, dan Dinas Pengairan Aceh. Dalam pelaksanaannya, gerakan tersebut juga dibantu oleh beberapa SKPA terkait, sehingga stok pangan di Aceh dimasa pandemi aman dan stabil. Fokus utama GAMPANG pada beberapa komoditi yaitu padi dan jagung, budidaya ikan lele, dan hortikultura (sayur-sayuran) dengan memanfaatkan lahan pekarangan.

Konsep GAMPANG sejalan dengan program yang pernah digencarkan oleh Kementerian Pertanian dengan pola Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) pada beberapa tahun yang lalu. Prinsip dasar KRPL adalah: (i) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, (ii) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, (iii) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), dan (iv) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa menuju (v) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Gambar 1. Pemanfaatan lahan pekarangan rumah.

b. Pertanian Hidroponik dan Akuaponik (Budikdamber)

 Hidroponik

Hidroponik merupakan cara bercocok tanam tanpa tanah yang tren di tengah pandemi covid-19 saat ini. Media tanah digantikan oleh media steril lainnya seperti rockwool, sekam bakar, cocopeat, pasir kerikil yang semuanya berfungsi untuk menopang tanaman. Bertanam menggunakan hidroponik, nutrisi yang biasanya ada di tanah dibuat sendiri dengan cara dilarutkan dalam air.

Secara teori, hidroponik diklasifikasikan menjadi dua, yakni pasif dan aktif. Hidroponik pasif ialah yang airnya tergenang. Air hanya berada di wadah dan tidak mengalir. Sementara hidroponik aktif dimana air mengalir menggunakan pompa dengan wadah pipa paralon. Sedikit lebih rumit, tapi menarik. Sejatinya, teknik hidroponik ini mudah dilakukan. Bahkan, mereka yang tidak pernah bercocok tanam atau ada yang memberi alasan keterbatasan tempat, kini mampu melakukannya.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk lebih kreatif menghadapi tantangan dalam menjalani kehidupan ini dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada. Diantara potensi

Buletin BPTP Aceh 120 tersebut adalah pemanfaatan pekarangan

untuk menanam sayuran yang bisa dijadikan bahan masakan untuk keluarga atau dengan istilah hidroponik. Kini, sistem pertanian hidroponik sedang digalakkan masyarakat terutama mereka yang memiliki lahan sempit.

Sistem pertanian hidroponik bukan hal sulit dilakukan. Menggunakan paralon juga bisa di tempat sempit/kecil karena hanya membutuhkan ruang 40 x 60 cm. Jika hanya di boks atau air menggenang, akan lebih kecil lagi, yakni hanya 35 x 37 cm.

Bahkan, untuk pemula bisa juga hanya menggunakan ember yang dapat diisi 10 liter air atau ember bekas cat. Tutup ember tersebut hanya dilubangi lima untuk menjadi lubang tanam.

Gambar 2. Pemanfaatan lahan pekarangan di samping rumah dengan sistem hidroponik.

 Akuaponik (Budikdamber)

Selain hidroponik, ada juga sistem Akuaponik yang merupakan budidaya tanaman dengan media air (hidroponik), yang disusun pada sirkulasi air yang sama dengan media budidaya ikan. Tujuan utama dari Akuaponik adalah memanfaatkan nutrien yang dilepaskan oleh ikan untuk menumbuhkan tanaman, sehingga keberadaan nutrien tersebut dalam media budidaya tidak mengganggu pertumbuhan ikan (Graber dan Junge dalam Perwitasari, 2019). Sistem Akuaponik akan menghasilkan keuntungan yang lebih daripada hidroponik, karena dapat memanen tanaman sekaligus ikan. Sistem ini pun dapat diaplikasikan pada lahan sempit. Sayangnya, kondisi ekonomi

masyarakat yang kebanyakan menengah ke bawah menyebabkan masyarakat enggan untuk menanam dengan dua sistem budidaya ini.

Selain itu, sistem budidaya ini memerlukan modal yang cukup dan perawatan berkala yang memerlukan biaya pula, seperti nutrisi tambahan dan juga listrik. Pada sistem ini petani juga dapat melakukan dua budidaya sekaligus dalam pada satu wadah (ember), yakni sayur dan ikan. Kemudian sistem tersebut lebih populer dengan budidaya ikan dalam ember (Budikdamber).

Gambar 3. Pemanfaatan lahan pekarangan dengan sistem Akuaponik (Budikdamber.

Menurut Nursandi (2020) bahan-bahan untuk membuat Budikdamper dan Aquaponik bahan-bahannya sangatlah mudah didapat, yaitu ember ukuran 80 liter, benih ikan lele, bibit kangkung, gelas plastik, arang, kawat, tang, solder. Bahan-bahan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini:

Buletin BPTP Aceh 121 Gambar 4. Alat dan bahan untuk Budikdamber.

Daftar Pustaka

Adji, Sutikno, Asmanto P, 2020. Ringkasan kebijakan Menjaga Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Jakarta, Indonesia.

BPS, 2020. Persentase Tenaga Kerja Informal Sektor Pertanian (Persen), 2018-2020.

https://www.bps.go.id/indicator/6/1171/1/

persentase-tenaga-kerja-informal-sektor-pertanian.html. Diakses tanggal 26 Juni 2021.

Kemenkes, 2021. Data Korban Wabah Pandemi

Covid 19.

https://data.kemkes.go.id/covid19/index.h tml diakses pada 28 Juni 2021.

Nursandi J. 2020. Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber). Kabare Minggir. Tersedia pada:

https://www.kabareminggir.com/2020/05/

cara-mudah-budidaya-ikan-dalam-ember.html. Diakses tanggal 30 Maret 2021.

Perwitasari, dkk. 2019. Penerapan Sistem Akuaponik (Budidaya Ikan Dalam Ember) Untuk Pemenuhan Gizi Dalam Mencegah Stunting Di Desa Gending Kabupaten Probolinggo. Jurnal Abdi Panca Marga, Vol.1 (1).

WHO, 2021. Corona Virus Disease (Covid-19) Report.

https://www.who.int/emergencies/disease s/novel-coronavirus-2019. Diakses tanggal 26 Juni 2021.

Zuraya N, 2020. Tiga Dampak Besar Pandemi Covid19 bagi Ekonomi RI.

https://republika.co.id/berita/qdgt5p38

3/tiga-dampak-besar-%20pandemi-Covid-19-bagi-ekonomi-ri. Diakses tanggal 27 Juni 2021.

Buletin BPTP Aceh 122 POTENSI DAN MANFAAT BUNGA

TELANG (Clitoria ternatea L.) BAGI KESEHATAN Oleh : Cut Maisyura

Belakangan ini bunga telang (Clitoria ternatea L.) semakin populer di Indonesia sebagai bunga yang memberikan banyak manfaat kesehatan. Sajian minuman bunga telang atau dalam bentuk penganan lain semakin mudah dijumpai di restoran. Bunga telang, segar ataupun kering, kini relatif semakin ramai diperjualbelikan. Semakin banyak pula yang menanam tanaman bunga telang di pekarangan rumah untuk keperluan satu keluarga. Bunga telang merupakan bagian dari tanaman merambat menahun yang tergolong dalam keluarga Fabaceae atau polong-polongan. Pohon, bunga, dan bagian-bagian bunga telang dapat dilihat pada Gambar 1. Tanaman ini tumbuh menyebar di berbagai belahan dunia beriklim tropis dan subtropis di benua Asia dan Pasifik, Amerika dan Karibia, Afrika, dan Australia (Gomez &

Kalamani, 2003).

Gambar 1. Bunga Telang.

Bunga telang adalah ‘kearifan’ yang telah lama dikenal di berbagai peradaban, khususnya Asia dan Amerika. Sebagai contoh, masyarakat Betawi memanfaatkan bunga ini untuk membersihkan kotoran pada mata bayi.

Nama ilmiahnya, Clitoria ternatea, membuatnya secara keliru dikira berasal dari Ternate, Maluku Utara, Indonesia. Tidaklah demikian adanya. Hingga saat ini asal-usul tanaman tahunan (perennial) anggota keluarga Fabaceae ini masih kabur. Yang jelas,

tanaman telang adalah salah satu ingridien penting ramuan dalam pengobatan India kuno sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab Ayurveda yang telah ribuan tahun usianya.

Tanaman telang berarti tak hanya bunga, melainkan meliputi seluruh bagian tanaman, seperti akar, biji, batang, bunga, dan daun. Semuanya dipercaya memiliki beragam khasiat. Sering dalam satu artikel yang membahas manfaat bunga telang disebutkan pula khasiat yang tidak ada pada bunga telang, melainkan terdapat pada bagian yang lain. Sebagai contoh, manfaat neuroprotektif dari akar disebut pula sebagai manfaat bunga telang. Kerancuan juga terjadi karena bercampur aduknya informasi khasiat yang dipercaya secara tradisional dengan manfaat yang berasal dari penelitian ilmiah. Misalkan, khasiat bunga telang sebagai penawar bisa ular disandingkan dengan manfaatnya sebagai anti diabetes tanpa jelas disebutkan bahwa yang pertama baru sekadar kepercayaan dan yang kedua sudah dibuktikan secara ilmiah.

Manfaat Bunga Telang

Jika demikian, manfaat fungsional apa yang potensial dapat diberikan oleh bunga telang bagi tubuh manusia? Sebahagian di antaranya disajikan pada artikel ini dengan merujuk kepada ulasan yang ditulis oleh Marpaung (2020).

1. sebagai antioksidan yang telah dibuktikan melalui banyak penelitian.

Antioksidan membantu tubuh menghadapi keadaan stres oksidatif yang berpotensi menyebabkan terjadinya berbagai penyakit degeneratif.

2. sebagai antidiabetes baik melalui peningkatan sekresi insulin, penghambatan pembentukan produk akhir glikasi lanjut, maupun penghambatan kerja enzim-enzim yang terlibat dalam produksi glukosa dalam darah.

3. meliputi aktivitas yang terkait dengan regulasi kolesterol, penghambatan adipogenesis (pembentukan jaringan lemak) dan hiperlipidemia.

4. sebagai anti kanker. Ekstrak bunga telang dilaporkan menghambat

Buletin BPTP Aceh 123 penyebaran berbagai sel kanker, seperti

kanker payudara, ovarium, serviks dan hati.

5. Sebagai anti mikroorganisme. Ekstrak bunga telang memiliki aktivitas anti mikroorganisme yang luas, meliputi bakteri gram positif, gram negatif dan fungi. Manfaat lainnya adalah

6. sebagai anti peradangan, anti asma dan melindungi jaringan hati.

Satu hal yang patut digarisbawahi adalah sebagian besar manfaat tadi barulah terbukti secara eksperimental di laboratorium (in vitro), sebagian lagi pada hewan percobaan (in vivo) dan sangat sedikit yang telah mencapai tingkatan uji klinis. Penting pula untuk dikemukakan bahwa tidak semua dari manfaat tadi dimiliki oleh ekstrak air bunga telang, melainkan milik dari ekstrak dengan pelarut lain, seperti metanol, etanol, kloroform, heksana, dan lain-lain. Artinya, jika seseorang minum minuman bunga telang yang diperoleh melalui maserasi (perendaman) dalam air, tidaklah semua manfaat yang disebutkan tadi akan diperolehnya. Selain itu, yang perlu pula diperhatikan adalah efektivitas, dosis dan bioavailabilitas.

Komponen Bioaktif

Jika dilihat pada komponen bioaktif yang dimilikinya, maka boleh jadi potensi manfaat bunga telang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang sudah dilaporkan.

Pada bagian hidrofilik (suka air) dari ekstrak bunga telang terdapat berbagai anggota keluarga flavonoid seperti antosianin (yang menyebabkan ekstrak bunga telang berwarna biru indah), flavonol glikosida, flavon, flavanol, dan asam fenolat. Antosianin telah banyak diteliti dan terbukti memiliki manfaat fungsional yang luas, meliputi aktivitas sebagai antioksidan, antidiabetes, anti-virus, antikanker, antiinflamasi, antikolesterol, antialergi, antimikroorganisme, anti-arteriaterosklerosis, antihipertensi, mencegah diabetes, melindungi sistem kardiovaskular, menjaga kesehatan jaringan mata dan banyak manfaat kesehatan lainnya. Flavonol paling utama pada bunga telang adalah kaempferol

glikosida yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan.

Pada bunga telang terdapat empat senyawa flavon yang memiliki kemampuan menghambat angiogenesis pada sel kanker, yaitu scutellarin, baicalein, luteolin dan apigenin. Sementara itu, pada bagian lipofilik ekstrak bunga telang dijumpai beberapa jenis senyawa terpenoid. Di antaranya yang menarik perhatian adalah tarakserol, fitosterol dan tokoferol. Tarakserol dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi dan efek analgesik.

Fitosterol memiliki aktivitas antikolesterol, menghambat penyakit kardiovaskuler dan perkembangan kanker usus dan payudara, serta mengurangi risiko hiperlasia prostat jinak. Tokoferol berfungsi sebagai pelindung membran sel dari radikal lipida reaktif, mencegah aterosklerosis dan karsinogenesis.

Berdasarkan beberapa literatur dan analisis bioinformatik, ternyata kembang telang juga berpotensi sebagai antivirus, salah satunya untuk virus Corona. Kandungan bahan aktif bagian bunga yang berpotensi sebagai antivirus adalah Quercetin 3-(2G-rhamnosylrutinoside) yang menghambat aktivitas 3CLpro (proteinase utama) pada virus. 3CLpro berperan penting dalam kelangsungan hidup virus. Namun, tentunya perlu diperhatikan bahwa potensi kembang telang sebagai antivirus masih perlu dibuktikan dengan pengujian pra klinis dan klinis maupun pengujian lainnya untuk pembuktiannya secara ilmiah.

Sejauh ini, merujuk kepada penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa produksi minuman bunga telang sebagai minuman untuk mengendalikan gula darah adalah yang paling potensial. Hal ini didukung pula oleh beberapa karakteristik positif bunga telang seperti relatif stabil pada pH produk pangan dan terhadap panas selama proses. Sementara itu, aplikasi bunga telang sebagai sumber komponen bioaktif yang berperan sebagai antiinflamasi, antidiabetes pada penderita diabetes, antikanker, penurun kolesterol darah, dan lain-lain masih memerlukan serangkaian penelitian baik yang meliputi isolasi, karakterisasi, biovailabilitas dan uji klinis.

Buletin BPTP Aceh 124 Daftar Pustaka

Gomez, S. M. & Kalamani, K., 2003. Butterfly Pea (Clitoria ternatea): A Nutritive Multipurpose Forage Legume for the Tropics - An Overview.. Pakistan Journal of Nutrition, 2, pp. 374-379.

Hujatulu, T., & Aan, Y. (2012). Ekstraksi dan Karakterisasi Zat Warna Biru dari Bunga Telang (Clitoria ternatea L.).

Warta IHP, Volume 23(2): 9-16.

Kusrini, E., Tristantini, D. and Izza, N. (2017) Uji Aktivitas Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Sebagai Agen Anti-Katarak , Jurnal Jamu Indonesia, 2(1), pp. 30–36.

Marpaung, AM, 2020. Tinjauan Manfaat Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) bagi Kesehatan Manusia. Manuskrip diterima (accepted) di Journal of Functional Food and Nutraceutical.

Buletin BPTP Aceh 125 PENANGANAN KOLEKSI JADUL DI

TENGAH KEMAJUAN TEKNOLOGI