a) Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perirn pedalaman dan perairan kepulauan;
b) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 3 GT;
c) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam minus 2 m;
d) Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan sekaligus.
8
Berdasarkan fungsinya menurut Lubis (2006), terdapat dua jenis pengelompokkan fungsi pelabuhan perikanan yaitu ditinjau dari pendekatan kepentingan dan dari segi aktivitasnya, namun kedua jenis kelompok tersebut pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Fungsi pelabuhan perikanan berdasarkan pendekatan kepentingan adalah sebagai berikut:
1) Fungi maritim, yaitu pelabuhan perikanan mempunyai aktivitas-aktivitas yang bersifat kemaritiman, yaitu suatu tempat kontak bagi nelayan atau pemilik kapal, antara laut dan daratan untuk semua aktivitasnya.
2) Fungsi pemasaran, yaitu suatu tempat awal untuk mempersiapkan pemasaran produksi perikanan dengan melakukan transaksi pelelangan ikan.
3) Fungsi jasa, yaitu meliputi seluruh jasa-jasa pelabuhan mulai dari ikan didaratkan sampai ikan didistribusikan.
Pengelolaan Lingkungan Pelabuhan Perikanan
Peningkatan pelayanan pelabuhan perikanan kepada pengguna pelabuhan dalam upaya meningkatkan mutu produktivitas ikan yang dapat berkompetisi secara internasional, maka perlu dilakukan pengelolaan pelabuhan perikanan yang berwawasan Iingkungan (Sari, 2003).
Hal yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, maka upaya dan langkah-langkah yang bisa ditempuh, yaitu:
1) Menciptakan Pelabuhan Perikanan yang bersih dan sehat
2) Menyempurnakan sarana dan prasarana untuk meningkatkan mutu ikan, termasuk di dalamnya penyediaan laboratorium untuk pemeriksaan mutu ikan dan kualitas air.
3) Menyediakan fasilitas pengolahan Iimbah
4) Menjaga kelestarian ekosistem perairan yang menjadi prioritas utama dalam mengambil langkah kebijakan dalam rangka meningkatkan fungsi dan peranan pelabuhan perikanan
5) Menyelaraskan pengelolaan pelabuhan perikanan dengan program pantai lestari terpadu yang dicanangkan oleh pemerintah
6) Penyiapan sumberdaya manusia pengelola pelabuhan perikanan yang profesional sesuai dengan bidangnya.
Untuk melakukan pengelolaan, perlu diperhatikan berbagai kendala yang biasa timbul pada sistem pengelolaan yang biasa terjadi selama ini. Permasalahan-permasalahan yang ada, misalnya (JICA, 2002):
1) Kelembagaan/struktur organisasi pelabuhan perikanan yang ada belum berfungsi secara optimal karena belum ada rincian tugas masing-masing petugas.
2) Sumber daya manusia pelabuhan perikanan saat ini kualitas dan kuantitasnya belum memenuhi kebutuhan yang diharapkan. Belum terpenuhinya penempatan SDM sesuai latar belakang pendidikan dan keahlian.
3) Fasilitas pelabuhan perikanan pada saat ini belum memenuhi standar pelayanan. Sehingga sering menjadi masalah dalam optimalisasi pengelolaan pelabuhan perikanan.
4) Belum adanya koordinasi yang efektif dan persepsi yang sama dalam pemahaman visi dan misi pengelolaan pelabuhan perikanan antara pengelola pelabuhan perikanan dengan pemerintah daerah.
9 5) Kurangnya kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan pelabuhan perikanan karena minimnya pengetahuan mereka dan kurangnya sosialisasi pemahaman tentang pengelolaan pelabuhan perikanan. 6) Tata kerja pengelolaan pelabuhan perikanan pada umumnya baru dilaksanakan
pada tahap sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang ada tapi belum diperjelas dengan prosedur operasional standar (SOP) untuk masingmasing kegiatan, misalnya SOP bongkar, SOP muat, SOP tambat labuh dan SOP pelelangan.
7) Kurangnya kesadaran pihak pengelola pelabuhan terhadap pelestarian ekosistem perairan, sehingga faktor lingkungan tidak terintegrasi ke dalam kebijakan pengelolaan pelabuhan.
Pelabuhan berwawasan lingkungan merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Republik Indonesia mendukung kesepakatan internasional pada
Deklarasi Johannesburg Summit tentang pembangunan berkelanjutan. Indonesia
telah memiliki program dan strategi pembangunan berkelanjutan, merupakan Agenda 21 Nasional. Dimana di dalamnya termasuk pengelolaan terpadu wilayah pesisir dan lautan, salah satu kegiatannya adalah kegiatan pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian pelabuhan (Siahaan, 2012).
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (2004) dalam konsep pengembangan pelabuhan berwawasan lingkungan harus dibenahi beberapa standar dan kualitas pengelolaan lingkungan yaitu:
1) Menurunnya beban pencemaran yang masuk ke pelabuhan, terutama limbah cair, sampah, sedimen, minyak dan limbah B3 (Bahan Berbahaya beracun), sehingga dapat terwujud peningkatan kualitas kebersihan sisi daratan dan perairan pelabuhan.
2) Meningkatnya kenyamanan dan keamanan pelabuhan termasuk kebersihan, keteduhan, dan keasrian lingkungan dalam kawasan pelabuhan.
3) Meningkatnya kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia pengelola lingkungan di kawasan pelabuhan.
4) Meningkatnya kinerja pelayanan dan keselamatan kerja di pelabuhan.
5) Diimplementasikannya peraturan dan pedoman teknis mendukung pengelolaan lingkungan pelabuhan.
6) Meningkatnya peran aktif stakeholders dalam mewujudkan pelabuhan yang berwawasan lingkungan.
Ravikumar (1993) menyampaikan, secara umum pengoperasian pelabuhan perikanan dilakukan oleh pihak swasta baik perseorangan maupun perusahaan dan pemerintah. Dalam beberapa kasus operasional pelabuhan perikanan dikelola oleh pihak swasta melalui system kontrak. Namun demikian, apapun tipe kepemilikan/pengelolaan pelabuhan, bukan menjadi hambatan bahwa pencemaran pelabuhan merupakan masalah yang harus ditangani secara serius dan perlu diawasi secara khusus melalui pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang tepat, sesuai dengan peraturan perundang undangan dan pendidikan tentang lingkungan terhadap pengguna pelabuhan. Selanjutnya dalam upaya memastikan bahwa pelaksanaan pengelolaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka pengelola pelabuhan harus menyediakan fasilitas penampungan dan pengolahan limbah yang memadai (reception facilities).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 61 tahun 2009 tentang kepelabuhanan fasilitas pokok pelabuhan selain dermaga, gudang dan
10
fasilitas pokok lainnya diyatakan juga bahwa fasilitas pokok pelabuhan termasuk fasilitas penampungan dan pengolahan limbah serta tempat penyimpanan bahan berbahaya dan beracun (B3) atau dikenal dengan istilah reception facilities. Selanjutnya disampaikan juga dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2009 tentang Pengelolaan Limbah di Pelabuhan, bahwa pengelola dapat menyediakan fasilitas pengelolaan limbah untuk seluruh atau sebagian jenis limbah.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.08/MEN/2012 tentang Kepelabuhanan Perikanan pada pasal 3 ayat (5) huruf k menyebutkan bahwa fungsi pemerintahan dipelabuhan perikanan adalah pengendalian lingkungan. Sebagai salah satu faktor untuk menunjang pengendalian lingkungan tersebut dilaksanakan aktivitas yang terkait dengan keamanan, ketertiban dan kebersihan (K3) di pelabuhan perikanan. Hal ini sekanjutnya diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap No. 16/KEP.DJPT/2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kebersihan, Keamanan dan Ketertiban (K3).
Ketentuan keamanan, ketertiban dan kebersihan (K3) di pelabuhan perikanan tersebut meliputi:
1. Setiap unit kerja/usaha yang beroperasi yang beroperasi di kawasan pelabuhan perikanan berkewajiban menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing dan dalam pelaksanaannya dapat membentuk satuan keamanan (satpam internal);
2. Setiap kejadian atau kasus yang berkaitan dengan masalah keamanan/ketertiban yang timbul di masing-masing unit kerja/usaha di kawasan pelabuhan perikanan wajib dilaporkan kepada kepala pelabuhan perikanan;
3. Setiap orang dilarang melakukan hal-hal yang dapat mengganggu dna membahayakan kepentingan umum seperti bahaya kebakaran dan pencemaran lingkungan;
4. Kegiatan K3 dilakukan setiap hari
5. Kegiatan keamanan dilakukan selama 24 jam;
6. Dilakukan kegiatan pembinaan dan pelatihan kepada petugas dan para pemangku kepentingan secara berkala;
7. Aparat pelabuhan perikanan melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada pengguna jasa pelabuhan perikanan.
8. Untuk menunjang pelaksanaan K3 dilakukan pengadaan dan pemeliharaan peralatan penunjang kegiatan.
Menurut Siar et al. (2011) pencemaran di lingkungan pelabuhan yang berasal dari limbah perkotaan harus ditangani oleh pengelola pelabuhan yang paham dan kompeten terkait pencemaran, terutama dari kegiatan perikanan dan khususnya terhadap limbah dari kapal. Hal ini mengacu kepada International
Maritime Organization’s International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973, yang umum dikenal dengan MARPOL 73/78. Tujuan secara
umum, agar pengelola pelabuhan perikanan mengetahui peraturan MARPOL 73/78 beserta lampirannya, termasuk dampak dari kegiatan penangkapan ikan. Ravikumar (1993) menyampaikan bahwa peraturan pencegahan pencemaran dari kapal telah ditetapkan secara Internasional. International Marine Orgasization (IMO) telah menetapkan peraturan International Convention for the Prevention of
11 Negara. Negara-negara yang telah meratifikasi MARPOL 73/78 hendaknya menerapkan peraturan ini termasuk lampirannya secara terintregrasi. Lampiran I, IV dan V dapat diterapkan pada kegiatan kapal penangkap ikan dan industri perikanan. Lin dan Jong (2007) menyampaikan kegiatan kapal penangkap ikan dalam operasinya harus mengacu pada MARPOL 73/78.
Peraturan MARPOL 73/78 diratifikasi oleh Indonesia dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 46 tahun 1986 tentang International
Convention for the Prevention of Pollution from the Ship 1973 and Protocol of 1978 Relating to the International Convention for the Prevention of Pollution from the ship 1973 (MARPOL, 1973-1978. Selain itu, pengaturan mengenai laut
secara umum diatur dalam United Nations Convertion on the Law of Sea 1982 (UNCLOS, 1982) yang diratifikasi dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 1985 dan dikenal dengan hukum laut (Law of The Sea, 1982). Secara umum negara-negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut serta harus mengambil semua tindakan untuk mencegah, mengurangi dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut dari sumber apapun.
Pencemaran Lingkungan Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan sistem bisnis perikanan, merupakan salah satu sumber pencemar terhadap lingkungan pesisir dan lautan. Sidabutar (2008) bahwa salah satu sumber pencemar di lingkungan pesisir dan laut adalah berasal dari lingkungan laut dan dominan berasal dari kegiatan aktivitas kapal yang ada di pelabuhan. Kegiatan ini menyebabkan pencemaran minyak terutama minyak yang berasal dari kegiatan yang dihasilkan oleh kapal, baik limbah ceceran-ceceran oli bekas maupun bahan bakar mesin dan dari sistem bilga kapal.
Menurut Chen dan Liu (2013), limbah di laut merupakan masalah pencemaran global yang telah menjadi permasalahan lingkungan utama di berbagai benua. Hal tersebut bersumber dari berbagai kegiatan seperti industri atau kegiatan pembuangan limbah ke laut dari berbagai sumber. Secara umum, telah diketahui bahwa limbah seperti plastik, unit penangkapan ikan yang tidak terpakai/rusak, akan memberikan dampak negatif terhadap berbagai aspek diantaranya kesehatan manusia, habitat ekosistem laut, kelimpahan biota, keindahan pantai, keamanan navigasi dan kegiatan perikanan. Secara keseluruhan, lebih dari 80% limbah di laut berasal dari kegiatan/aktivitas di darat yang masuk melalui system drainase, sungai, angin atau kelalaian manusia. Namun demikian, terutama Sebagian besar berasal dari kegiatan di laut terutama kapal.
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan kapal penangkap ikan jumlahnya sedikit, bila dibandingkan dengan limbah yang dihasilkan dari kapal niaga dan kegiatan di darat. Namun demikian, bila dihitung dari jumlah kapalnya yang besar (sekitar 2,5 juta kapal) yang beroperasi di setiap benua dan lautan, secara kumulatif memberikan masukan limbah yang perlu dipertimbangkan terutama di wilayah tertentu seperti pelabuhan. Dalam pandangan ekologi, kegagalan dalam pengelolaan limbah menjadi masalah dalam melindungi dan menjaga pencemaran laut (Chen dan Liu, 2013).
12
Siar et al. (2011) menyampaikan bahwa secara khusus, pencemaran limbah di pelabuhan perikanan berasal dari tiga sumber utama:
1. Limbah perkotaan, (lbuangan limbah kota yang bermuara menuju pelabuhan) 2. Kegiatan perikanan (oli, solar, limbah di darat, limbah cair dan padat,
anti-fouling dan lain sebagainya).
3. Industri (buangan limbah pada saluran air).
Pencemaran pesisir dan laut didefinisikan sebagai dampak negatif (pengaruh yang membahayakan) terhadap kualitas perairan, kehidupan biota, sumberdaya dan kenyamanan (amenities) ekosistem laut serta kesehatan manusia dan nilai guna lainnya dari ekosistem laut. Dampak negatif tersebut disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh pembuangan limbah-limbah kedalam laut yang berasal dari kegiatan manusia (GESAMP, 1986).
Masuknya bahan pencemar ke dalam badan perairan yang berlebihan dan terus menerus secara cepat mengakibatkan beban pencemaran (pollution load) meningkat melebihi kapasitas asimilasi (assimilative capacity). Bila kecenderungan ini terus terjadi maka degradasi kondisi lingkungan akan terjadi dan perairan tersebut menjadi tercemar. Selain kerugian ekonomis, kerugian lain yang dapat timbul adalah kerugian kesehatan manusia dari lingkungan sekitar. Tingginya tingkat konsentrasi bahan berbahaya beracun (B3) yang mencemari perairan akan berakumulasi pada ikan, kerang maupun biota laut lainnya yang dikonsumsi oleh manusia, dan apabila dikonsumsi akan menyebabkan gangguan kesehatan. Dampak lain yang dapat ditimbulkan dari pencemaran perairan adalah adanya dampak estetika (pariwisata), air yang tercemar akan mengalami perubahan pada bentuk fisiknya, seperti menimbulkan bau, berubah menjadi keruh atau berwarna hijau gelap karena blomming algae (Sidabutar, 2008). Selain itu, Dahuri et al. (1996) menyampaikan juga bahwa limbah industri, limbah cair pemukiman, limbah cair perkotaan, pertambangan, pelayaran, pertanian dan perikanan budidaya, dapat menyebabkan oksigen terlarut dalam air berkurang.
Tercemarnya suatu perairan akan menyebabkan perubahan struktur komunitas biota yang hidup di dalamnya. Untuk mengetahui dan sebagai dasar penilaian terhadap adanya pengaruh/dampak lingkungan (pencemaran laut) yang telah terjadi di perairan/pelabuhan dapat dilihat dari pengambilan sampel dengan menggunakan nilai ambang batas (NAB) yang merupakan kriteria Baku Mutu Air Laut, sesuai Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 51 tahun 2004 Lampiran 1 untuk pelabuhan.
Wu et. al., (2010) menyampaikan, kegiatan manusia telah memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan dan fungsi ekosistemnya. Kondisi ini telah menyebabkan tekanan terhadap lingkungan yang menyebabkan penurunan kualitas air, kelimpahan biota hilangnya habitat tertentu dan secara keseluruhan menurunkan kualitas biotanya. Hal ini menjadi penting untuk mencegah dan memonitoring pencemaran air untuk mengetahui baik secara spasial maupun temporal kualitas air dan mendiagnosa kondisi terkini dari kualitas air. Peraturan mengenai kualitas air berdasarkan kelasnya yang digunakan sebagai dasar dan batasan memiliki baku mutu tertentu. Parameter kualitas air yang mendekati atau tidak sesuia dengan baku mutu merupakan hal yang penting untuk mengevaluasi konsentrasi dari parameter tersebut. Masing-masing kualitas parameter tersebut dapat saja termasuk dalam salah satu dari beberapa kelas bakumutunya. Hal ini tidak keseluruhan dari parameter dapat termasuk dalam satu kelas. Keberagaman
13 kelas kualitas air dalam satu lokasi sampling dapat menyebabkan kesulitan dalam penentuan kualitasnya pada lokasi tersebut.
Danulat et al. (2002) menyebutkan bahwa limbah dari aktivitas manusia yang masuk keperairan pesisir dan pelabuhan yang berlangsung dalam waktu lama, dapat menyebabkan beberapa dampak pada biota plankton dan benthos. Perkembangan plankton dan organisme patogen, dapat juga mengganggu aktivitas lainnya seperti pariwisata penangkapan ikan dan kesehatan manusia. Selain terhadap kualitas air dan biota, limbah dari aktivitas manusia yang masuk keperairan pesisir dan pelabuhan dapat mengkontaminasi sedimennnya. Buruaem
et al. (2012) kontaminasi terhadap sedimen oleh logam berat berdampak terhadap
ekosistem pesisir dan menjadi masalah yang dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengerukan. Penelitian yang dilakukan di Brazil, diketahui konsentrasi logam berat di lokasi pelabuhan lebih tinggi dibanding dengan di wilayah lepas pantainya. Analisis terhadap sedimen diketahui terdapat peningkatan kandungan logam Hg, Cd, CU, Ni dan Zn.
Ondiveila et al,. (2012) mengemukakan lingkungan pelabuhan merupakan subyek yang tidak dapat diprediksi kondisinya terkait dengan banyaknya parameter fisika kimia atau kontaminan yang masuk perairan. Pada kenyataannya hasil dari suatu kelompok tertentu dari dampak terhadap lingkungan perairan berhubungan dengan (1) sirkulasi air, (2) kualitas air, (3) kualitas sedimen, dan (4) kelimpahan biota. Dengan demikian, jumlah variabel yang harus dianalisis pada lingkungan perairan harus besar. Selain itu, tidak ada pendekatan yang dapat digunakan sebagai indikator dalam mengevaluasi status kondisi lingkungan dan identifikasi hubungannya antara pengaruh aktivitas manusia dan komponen lingkungan yang penting.
Wu et al. (2011) Beberapa tahun terakhir ini, analisis statistik multivariate seperti analisis kluster efektif diterapkan dalam mengevaluasi karakteristik kualitas perairan baik secara temporal maupun spasial. Analisis kluster dengan pola unsupervised yang mengelompokan objek yang mirip dalam satu kelas antara yang satu dengan yang lainnya, merupakan salah satu metode yang diakui.
Menurut Kitsoiu et al. (2011) banyak teknik analisis multivariat yang digunakan untuk menganalisa trend spasial atau hanya sekedar untuk mengeliminasi variabel-variabel dalam penelitian lingkungan. Proses analisis data ini menggunakan data contoh diskrit; faktor-faktor lingkungan seperti parameter kimia, parameter fisika dan parameter biologi. Analisis multivariat yang banyak digunakan dalam kajian dan evaluasi pencemaran laut salah satunya analisis kluster. Para ekologis telah mengumpulkan informasi lebih dari satu abad dalam memprakirakan hubungan antara objek dalam satu wilayah pengambilan contoh termasuk variabel yang menjelaskannya.
Penentuan hubungan antara lokasi dan parameter lingkungan dalam langkah pertama yaitu melakukan analisis numerik terhadap data lingkungannya. Langkah selanjutnya pengelompokan objek berdasarkan kesamaannya. Pengelompokan ini biasanya di ilustrasikan dalam bentuk dendrogram. Pemilihan ukuran kesamaan suatu kelompok dilakukan berdasarkan nilai koofesien jarak euclidian lebih cocok digunakan terhadap variabel air, biota dan variabel abiotik lainnya. Nilai mutlak yang digunakan antara jarak euclidian yaitu d(j,k) = Σi|xij − xik| yang diketahui telah memberikan hasil terbaik. Dalam analisis tersebut hasil perbandingan antara
14
TWINSPAN, diketahui ward linkage sebagai agglomerative algorithmic terbaik dalam penentuannya (Kitsoiu et al. 2011).
Perhitungan terhadap analisis kluster dapat dilakukan melalui software, diantaranya yaitu dengan MINITAB. Wahyudi 2007 menyampaikan Piranti lunak ini merupakan piranti untuk kajian statistika. Piranti lunak ini memberikan salah satu fasilitas analisis yaitu anaisis kluster yang merupakan analisis multivariate. Minitab saat ini banyak digunakan untuk membantu kajian similaritas.
Analisis SWOT dalam Pengelolaan Lingkungan Pelabuhan Perikkanan
Pengelolaan lingkungan sebagai usaha sadar untuk memelihara dan/atau melestarikan serta memperbaiki mutu lingkungan agar dapat memenuhi kebutuhan manusia sebaik-baiknya. Pengertian lingkungan hidup menurut Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diatur dalam pasal 1 dinyatakan bahwa kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Pengelolaan lingkungan hidup mempunyai ruang lingkup yang secara luas dengan cara beraneka ragam pula. Menurut Otto Sumarwoto (1989) secara garis besar ada 4 (empat) lingkup pengelolaan lingkungan meliputi:
1. Pengelolaan lingkungan secara rutin.
2. Perencanaan dini dalam pengelolaan lingkungan suatu daerah yang menjadi dasar dan tutunan bagi perencana pembangunan.
3. Perencanaan pengelolaan lingkungan berdasarkan perkiraan dampak lingkungan yang akan terjadi sebagai akibat suatu proyek pembangunan yang direncanakan.
4. Perencanaan pengelolaan lingkungan untuk memperbaiki lingkungan yang mengalami kerusakan karena alamiah maupun ulah manusia sendiri.
Menurut Chen dan Liu (2013) dalam tataran kebijakan, dalam strategi pengelolaan lingkungan di pelabuhan perikanan hal yang sangat penting dilakukan yaitu untuk mendorong nelayan agar tidak membuang membuang limbah di laut. Limbah yang ada hendaknya dibawa kepelabuhan di darat. Dalam hal ini, strategi yang dapat dilakukan pemerintah sebagai pengelola pelabuhan meliputi:
1. Pengembangan mekanisme pelaksanaan pengelolaan limbah
2. Pendidikan/penyampaian mengenai pencegahan pencemaran lingkungan hidup 3. Penyediaan reception facilities di pelabuhan
4. Pemberian reward
5. Pembuatan peraturan atau SOP
Agar pelaksanaan pengelolaan lingkungan di pelabuhan perikanan dapat berjalan dengan baik, perlu adanya suatu strategi sesuai dengan karakteristik dan kondisi lingkungannya. Strategi tersebut dapat diformulasikan dengan analisis SWOT. Strategi pengelolaan lingkungan di pelabuhan perikanan dengan melakukan analisis terhadap kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat), diharapkan dapat membantu dalam memahami kondisi tertentu dari pelaksanaan pengelolaan lingkungan di pelabuhan perikanan. Data pendukung analisis merupakan hasil kajian terhadap berbagai sumber termasuk laporan pihak pelabuhan perikanan, pelaksanaan
15 pengelolaan limbah dipelabuhan perikanan, peraturan terkait pengelolaan limbah di pelabuhan perikanan, studi pustaka dan wawancara mendalam dengan pelaku di pelabuhan perikanan.
Menurut Rangkuti (2006), analisis SWOT adalah identifikasi secara sistematik terhadap kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dari faktor internal serta peluang (opportunity) dan ancaman (threat) dari faktor eksternal dari suatu sektor. Analisis SWOT berfungsi untuk mengetahui hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat pula meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Start and Hovland (2004) menyampaikan bahwa analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) yang terdapat dalam suatu kegiatan. Kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) tersebut dapat diartikan sebagai berikut:
1) Kekuatan: karakteristik kegiatan atau pelaku kegiatan yang memberikan keuntungan.
2) Kelemahan (atau Keterbatasan): karakteristik yang menempatkan pelaku kegiatan dalam kerugian.
3) Peluang: kesempatan eksternal untuk meningkatkan kinerja (misalnya membuat keuntungan yang lebih besar) di lingkungan sekitar.
4) Ancaman: unsur eksternal dalam lingkungan yang dapat menyebabkan masalah.
Pelaksanaan analisis SWOT tersebut melibatkan penentuan tujuan kegiatan dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menguntungkan dan tidak menguntungkan untuk mencapai tujuan itu. Identifikasi SWOT sangat penting karena langkah-langkah berikutnya dalam proses perencanaan untuk pencapaian tujuan yang dipilih mungkin diturunkan dari analisis SWOT ini. Pertama, para pembuat keputusan harus menentukan apakah tujuan dapat dicapai. Jika tujuannya tidak dapat dicapai, maka tujuan yang berbeda harus dipilih dan proses SWOT diulang. Hasil SWOT biasanya sering disajikan dalam bentuk matriks. Sebuah perkiraan tentang lingkungan eksternal cenderung difokuskan pada apa yang terjadi di luar organisasi atau pada bidang yang belum tentu mempengaruhi strategi, tetapi dapat saja mempengaruhi strategi, baik secara positif maupun negatif. Gambar 2 merangkum beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Panigrahi (2012) yang melakukan penelitian evaluasi terhadap penentian zonasi wilayah pesisir, mengemukakan bahwa analisis SWOT merupakan metode yang umum digunakan dalam membantu identifikasi arahan strategi dalam suatu organisasi. Hal ini dilakukan dengan melihat kondisi kinerja saat ini agar menghasilkan informasi yang berguna mengenai keberlanjutan masa depan, dengan mempertimbangkan kondisi sistem. Peramalan kemampuan dalam teknik