Gunung Raung merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen yang terdiri dari beberapa gunung, diantaranya Gn.Suket (2.950mdpl), Gn.Raung (3.332mdpl), Gn.Pendil (2.338), Gn.Rante (2.664), Gn.Merapi (2.800), Gn.Remuk (2.092), dan Kawah Ijen.Gunung Raung adalah sebuah gunung besar yang unik dan berbeda dengan gunung lainnya di Pulau Jawa. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips dengan kedalaman sekitar 500 meter dalamnya, yang selalu berasap dan sering menyemburkan api dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100m. Gunung Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan.
Cerita mistis tentang Gunung Raung masih kuat melekat di benak masyarakat setempat. Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus Tahun 1638 M. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.
Konon, menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata. Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda di tempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun. Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan
menampakkan wujudnya. Bila demikian, kemungkinan akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.
Lereng selatan Gunung Raung merupakan hutan belantara yang berakhir pada hutan-hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani dan desa-desa yang masuk wilayah Kabupaten Jember. Hutan belantara tersebut merupakan hutan lindung yang juga menjadi tanggung jawab Perhutani. Sejak era reformasi, hutan lindung tersebut dibuka oleh warga desa sekitar hutan untuk dijadikan kebun kopi. Salah satu desa yang warganya ikut membuka dan mempunyai keterlibatan dengan proses tersebut hingga sekarang adalah Desa Sidomulyo.
Desa Hutan: Sidomulyo dan Sejarahnya
Sidomulyo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Silo Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur. Desa ini berada di pinggiran hutan yang merupakan kaki Gunung Raung sebelah timur. Secara administratif, desa ini berbatasan dengan Desa Sumberjati di sebelah utara, Desa Garahan di sebelah barat, Desa Pace di sebelah selatan, dan Desa Curah Leduk di sebelah timur. Desa yang terakhir ini masuk wilayah Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwangi. Dengan demikian Sidomulyo merupakan desa paling timur dari Kabupaten Jember yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi. Sidomulyo mempunyai 5 dusun, 3 diantaranya ada di wilayah desa, dan 2 dusun sisanya di wilayah perkebunan negara maupun swasta (lihat Gambar 2). Dusun yang ada di dalam wilayah desa adalah: Krajan (Sidomulyo), Curah Damar, dan Curah Manis. Sedangkan dusun yang ada di wilayah perkebunan adalah: Gunung Gumitir dan Tanah Manis (seringkali disebut Gugutama) yang ada di wilayahnya PTPN XII, dan Garahan Kidul yang ada di wilayahnya PT. Perusahaan Perkebunan Indonesia, salah satu anak perusahaan PT. Ledokombo (LDO Group) Jember. Pada saat penelitian terdapat sebuah dusun persiapan yang merupakan bagian dari Dusun Curahdamar, yaitu Dusun Sidodadi. Perkampungan ini berada di wilayah yang dikelola oleh Perhutani. Warga yang tinggal sebagian besar adalah para pesanggem atau anak cucunya, karena memang sejarahnya mereka yang pertama bertempat tinggal di wilayah ini dulunya didatangkan oleh Perhutani sebagai pekerja di hutan produksi yang dikelola oleh Perhutani.
37
Gambar 2. Peta Desa Sidomulyo
Untuk sampai ke pusat kecamatannya yang bernama Silo, warga Sidomulyo harus menempuh jarak ± 13 km. Sedangkan apabila ingin ke ibukota Kabupaten Jember, mereka harus menempuh jalan beraspal yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi sepanjang ± 40 km. Jalan ini termasuk jalan propinsi yang merupakan jalur selatan Jawa yang menuju ke ujung selatan Jawa untuk menyeberang ke Bali. Sehingga apabila jalur utara Jawa menuju ke Bali mengalami hambatan, jalur ini merupakan jalur alternatif yang bisa ditempuh lewat Situbondo dan Bondowoso maupun Lumajang sebelum masuk ke Jember. Sedangkan untuk sampai ke Surabaya yang merupakan ibukota propinsinya (Jawa Timur) warga Sidomulyo harus menempuh jarak ± 267 km. Sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan Sidomulyo dengan wilayah lainnya secara umum cukup beragam.
Secara geografis Sidomulyo berada di lereng sebelah selatan Gunung Raung, sehingga mempunyai topografi daerah perbukitan. Ketinggiannya ± 560 m di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata ± 2000 mm/tahun, dan suhu rata-rata ± 21°C. Dengan kondisi alam seperti ini, maka tidak mengherankan apabila lingkungannya cukup asri dan sejuk. Bahkan di pinggir jalan propinsi yang melintasi desa ini banyak menjadi tempat istirahat para pelintas, khususnya pengendara sepeda
motor yang sekedar melepas penat sambil menghirup udara segar serta menikmati pemandangan alam. Pada suatu pertemuan kelompok tani yang peneliti ikuti, dikemukakan oleh seorang penyuluh perkebunan bahwa ke depan Desa Sidomulyo akan dijadikan desa wisata. Pemilihannya berdasarkan pertimbangan banyaknya potensi yang dapat dipasarkan dan merupakan pintu gerbang sebelah timur masuk Kabupaten Jember. Sehingga mereka yang masuk ke Jember dari sebelah timur akan disambut oleh desa wisata yang menawarkan berbagai potensi yang bisa dinikmati.
Riwayat jadi dan tumbuhnya Desa Sidomulyo kiranya tidak berbeda dengan desa-desa yang lain. Alasan-alasan pokok untuk membentuk masyarakat yang kemudian menjadi kesatuan hukum yang bernama desa tidak berbeda dengan yang diungkapkan oleh Kartohadikoesoemo (1953), yaitu: pertama, untuk hidup yaitu mencari makan, pakaian dan perumahan; kedua, untuk mempertahankan hidupnya terhadap ancaman dari luar; dan ketiga, untuk mencapai kemajuan dalam hidupnya. Sebagai desa pertanian, pertama-tama dibentuk oleh sekumpulan manusia sebuah masyarakat pertanian. Mereka bersama-sama membuka hutan belukar dan masing- masing atau bersama-sama mengolah tanah yang kosong untuk ditanami tumbuh- tumbuhan yang dapat menghasilkan bahan makanan. Semakin baik keadaan tanah yang dibuka, semakin banyak orang yang menggabungkan diri untuk turut bertempat tinggal menetap di tempat tersebut. Dan semakin ringan pula orang dapat menjalankan kewajibannya untuk mempertahankan diri dari terhadap bahaya alam yang menimpa atau serangan binatang buas dari hutan belukar. Demikianlah dapat dimengerti, bahwa di daerah-daerah yang subur tanahnya kemudian terdapat masyarakat yang besar dan tergabung dalam ikatan desa yang kuat dan banyak penduduknya.
Menurut sejarahnya, Sidomulyo dulunya masuk dalam wilayah Desa Garahan yang ada di sebelah baratnya. Penduduk Dusun Curah Manis dan Curah Damar (dusun-dusun pertama) merupakan pendatang dari Pulau Madura yang dahulu menjadi buruh perkebunan Belanda pada akhir abad 19. Sehingga tidak mengherankan apabila sampai sekarang mayoritas penduduk dari kedua dusun tersebut merupakan etnis Madura. Sedangkan penduduk Dusun Krajan merupakan pendatang dari Banyuwangi, sehingga sekarang lebih dikenal sebagai Kampung Jawa. Mereka ini dahulunya adalah para pesanggem yang kemudian membeli tanah-
39
tanah yang ada di desa. Sedangkan untuk dusun-dusun yang ada di wilayah perkebunan didiami oleh para buruh perkebunan yang tinggal di emplasemen. Tanah- tanah yang mereka tempati statusnya berada di bawah hak perkebunan (HGU). Selain mendapat upah dari perusahaan dengan sistem borongan, mereka juga mendapat hak pengelolaan atau pemanfaatan lahan di sela-sela tanaman utama untuk ditanami palawija, sayur-sayuran atau rumput-rumputan.
Tanah di Sidomulyo yang sekarang dikuasai dan dimiliki para warga dahulunya merupakan padang ilalang tempat penggembalaan kuda. Para buruh perkebunan tersebut mulai mencoba menanami padang tersebut dengan tanaman singkong. Awalnya memang sulit karena tanahnya berpasir, tetapi lambat laun mereka berhasil. Adanya kotoran kuda yang digembalakan di tanah tersebut kiranya mampu memperbaiki struktur tanah, sehingga menjadi subur dan dapat ditanami. Kesuburan tanah ini mendorong mereka berpindah dari tmpat tinggal di perkebunan menuju ke padang ini yang lambat laun menjadi pemukiman. Penguasaan tanah ini pada waktu itu tidak menjadi permasalahan karena menurut warga selain berupa tanah kritis yang tidak bermanfaat juga tidak masuk dalam wilayah perkebunan atau hutan yang sudah ditetapkan Belanda sebagai kawasan terlarang.
Perkembangan penduduk menjadikan padang ilalang tersebut menjadi pemukiman sebagaimana layaknya desa. Ketika wilayah tersebut sudah habis terbagi dan dikuasai, maka yang terjadi adalah fragmentasi tanah menjadi luasan yang lebih kecil melalui jual beli atau warisan. Kondisinya sekarang dari 4.984,3 hektar wilayah Desa Sidomulyo yang dikuasai oleh 2070 kepala keluarga adalah berupa pemukiman (16 ha), persawahan (131,6 ha), ladang/tegalan (24,3 ha), dan perkebunan rakyat (309,9 ha) yang totalnya hanyalah 481,8 ha atau kurang dari 10%. Selebihnya adalah perkebunan swasta dan negara, kawasan hutan (lindung, produksi dan cagar alam) dan fasilitas umum. Sehingga dapat dibayangkan betapa kecilnya penguasaan masing-masing kepala keluarga terhadap tanah untuk menopang kehidupannya. Kondisi ini sangat ironis dengan adanya perkebunan dan hutan dengan berbagai statusnya yang masih luas di sekitar mereka.
Sidomulyo resmi menjadi desa pada tahun 1988 dengan Pjs. Pak Hs10 (pegawai kecamatan) sampai tahun 1998. Pada tahun 1999 diadakan pemilihan kepala desa (pilkades) dengan dua calon, yaitu Pak Sd (Dusun K) dan Pak SB (Sekdes sekarang, Dusun CD). Hasilnya selisih tipis, yaitu 83 suara dimenangkan Pak Sd. Tetapi ada beberapa permasalahan sehingga baru bisa dilantik 1,5 tahun kemudian. Selama masa itu, kepala desa dijabat Pak Kn (pegawai kecamatan). Pada Tahun 2008, saat masa jabatan kades habis diadakan pilkades dengan calon mantan kades sebelumnya (Pak Sd) melawan Pak Mj (Dusun K) . Hasilnya dimenangkan Pak Mj dengan selisih yang cukup banyak (1000 suara lebih dari 3000an pemilih).
Terpilihnya Pak Mj menyimpan cerita yang tidak kalah menarik. Awalnya tidak ada rencana atau persiapan dari Pak Mj untuk maju dalam pilkades. Bahkan orang tuanya (Pak K, Dsn K) yang menjadi ketua kelompok tani Sidomulyo I sempat melarang anaknya dicalonkan. Setelah mendapat jaminan dari para tokoh masyarakat untuk didukung, terutama setelah Pak Kyai M (Dsn CD) yang mempunyai pesantren juga datang sendiri ke rumahnya untuk meminta anaknya (Pak Mj) untuk maju, barulah Pak Kusni memberi ijin dan merestui Pak Mj ikut dalam pilkades. Pemilihan Pak Mj sebagai kandidat pun melewati proses yang cukup alot. Tidak adanya kandidat yang maju selain Kades incumbent, membuat warga cukup kesal. Apalagi selama itu mereka merasa bahwa Kades mereka sudah banyak melakukan penyimpangan dan tidak layak lagi memimpin desa. Beberapa tokoh desa, terutama yang tergabung dalam kelompok tani sering membahas hal tersebut dalam pertemuan-pertemuannya. Pak Mj sendiri mengaku akan mau maju apabila sudah tidak ada lagi kandidat yang maju untuk menandingi Kades incumbent. Akhirnya menjelang pilkades barulah disepakati untuk mengusung Pak Mj sebagai calon Kades dan akhirnya memang berhasil dengan selisih suara yang menunjukkan bahwa memang warga Sidomulyo sudah tidak mau lagi dipimpin Kades yang lama.
Kelompok Tani Sidomulyo I, terutama para tokohnya memegang peran yang sangat penting dalam mengantarkan Pak Mj sebagai Kades terpilih. Kelompok ini awalnya adalah pecahan dari Kelompok Tani Suluh Tani I yang diketuai oleh Pak Mt. Sejak berkurangnya kepercayaan anggota pada ketuanya, beberapa anggota
10
41
kemudian keluar dan membentuk kelompok sendiri yang kemudian bernama Sidomulyo I. Para tokohnya adalah mereka yang kemudian menjadi pengurus, diantaranya Pak K (ayah dari Pak Mj), Pak Ms, dan Pak HS. Ketiga orang ini adalah yang dituakan dan kemudian menjadi ketua, sekretaris dan bendahara. Selain ketiga pengurus harian tersebut terdapat seksi-seksi yang diisi oleh orang-orang muda yang sebenarnya mereka inilah yang menggerakkan roda organisasi kelompok. Terdapat seksi gotong-royong yang dipercayakan kepada Pak Sm, seksi penghubung yang dipercayakan kepada Pak Sn, Dusun K, seksi simpan pinjam yang dipercayakan kepada Pak Bs dan seksi pemasaran yang dipercayakan kepada Pak Sw.
Kondisi Umum dan Prasarana Desa Sidomulyo
Jumlah penduduk Desa Sidomulyo keseluruhan pada tahun 200711 adalah 9.999 jiwa, yang terdiri dari 4.469 jiwa penduduk laki-laki dan 5.530 jiwa penduduk perempuan yang terhimpun dalam 2070 kepala keluarga (KK). Berdasarkan usia kerja (16-55 tahun), penduduk Sidomulyo yang termasuk dalam golongan ini mencapai jumlah 6.367 jiwa (63,77%). Sisanya sebesar 2.625 jiwa (26,29%) berada pada usia 0-15 tahun, dan 992 jiwa (9,93%) berada pada usia 56 tahun ke atas. Dengan demikian, penduduk Sidomulyo termasuk golongan penduduk berusia muda yang berada pada umur produktif (usia kerja).
Tingkat pendidikan penduduk Sidomulyo kebanyakan tamat SD/sederajat, jumlahnya sebanyak 1.996 jiwa (33,60%). Meskipun demikian banyak juga yang tidak tamat SD/sederajat, jumlahnya mencapai 1.497 jiwa (25,20%). Sedangkan yang tamat SLTP/sederajat sebanyak 1.198 jiwa (20,16%), tamat SLTA/sederajat sebanyak 998 jiwa (16,8%), tamat D1 sebanyak 78 jiwa (1,31%), tamat D2 sebanyak 71 jiwa (1,19%), tamat D3 sebanyak 60 jiwa (1%), dan tamat S1 sebanyak 43 jiwa (0,72%). Sarana pendidikan formal yang ada di Sidomulyo sudah sampai pada tingkat SLTA. Hanya saja untuk tingkat SLTP dan SLTA masih berupa sekolah swasta yaitu madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah yang ada di lingkungan suatu pondok pesantren. Terdapat 6 buah SD Negeri dan 1 MI Swasta yang juga dimiliki oleh pondok pesantren. Di samping itu terdapat juga madrasah diniyah (setingkat
11
SD), tetapi hanya mengajarkan mata pelajaran agama Islam serta sarana pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-kanak:TK dan Pendidikan Anak Usia Dini: PAUD).
Migrasi penduduk Sidomulyo tergolong rendah, dan sebagian besar adalah migrasi ke luar karena pekerjaan. Mereka ini adalah para pemuda yang bekerja di kota-kota seperti Jember, Banyuwangi, Bali dan Surabaya. Ada juga yang menjadi TKI di luar negeri (Timur Tengah dan Korea) dan semuanya para wanita (TKW). Migrasi masuk biasanya terjadi karena perkawinan. Dari keterangan para perangkat desa dan masyarakat jumlah mereka yang pindah ke luar atau masuk tidak lebih dari hitungan jari. Mereka yang pindah ke luar biasanya adalah mereka yang sebelumnya menempuh pendidikan di luar Sidomulyo. Selain itu tidak banyak cerita sukses dari mereka yang bermigrasi ke luar daerah menyebabkan minat warga untuk ke luar daerah rendah. Mereka mengganggap bahwa di desa sendiri banyak peluang yang bisa dikerjakan.
Kondisi Agraria Desa Sidomulyo
Desa Sidomulyo memiliki luas wilayah sebesar 4.984,3 hektar dengan penggunaan sebagian besarnya untuk areal perkebunan dan hutan, sedangkan selebihnya terdiri dari pemukiman umum, pertanian sawah, ladang/tegalan, bangunan, sarana rekreasi dan olahraga serta kuburan. Secara rinci tata guna tanah di Sidomulyo dapat dilihat pada Tabel 2. Dari Tabel 2 terlihat bahwa Sidomulyo merupakan desa hutan dengan pertanian yang didominasi sistem perkebunan. Adapun komoditi perkebunannya adalah kopi, dan merupakan salah satu desa yang masuk dalam kecamatan penghasil kopi terbesar di Jember yaitu Kecamatan Silo (BPS Jember, 2008).
Hutan lindung yang tercatat 1.849,9 ha sejak masa reformasi dimasuki para warga baik yang berasal dari Sidomulyo maupun luar desa. Mereka menebang pohon-pohon yang ada sebagimana yang dilakukan para nenek moyangnya. Lahan hutan yang pohonnya sudah jarang kemudian ditanami kopi. Sekarang hampir semuanya sudah berubah menjadi kebun kopi. Dari kejauhan masih tampak sebagai hutan karena memang kelihatan hijau, padahal hijau tersebut adalah daun-daun tanaman kopi yang diselingi beberapa pohon besar dan tanaman sela yang berupa tanaman buah-buahan seperti alpukat, durian, pete, dan sebagainya (Lampiran 5).
43
Tabel 2. Luas Wilayah Desa Sidomulyo Menurut Penggunaan
No Penggunaan Luas (Ha) %
1 Pemukiman Umum 16 0.32%
2 Pertanian Sawah
a. Sawah Irigasi 55 1.10%
b. Sawah Setengah Teknis 20 0.40% c. Sawah Tadah Hujan 56.6 1.14%
3 Ladang/Tegalan 24.3 0.49% 4 Perkebunan a. Rakyat 309.9 6.22% b.Negara 1192.5 23.93% c. Swasta 542.6 10.89% 5 Hutan a. Hutan Lindung 1849.9 37.11% b. Hutan Produksi 772.7 15.50% c. Hutan Cagar Alam 135 2.71% 6 Bangunan
a. Perkantoran 0.5 0.01%
b. Sekolah 2.5 0.05%
c. Pasar 0.5 0.01%
d. Jalan 1.8 0.04%
8 Rekreasi dan Olahraga
a. Lapangan Sepak Bola 1.5 0.03% b. Lapangan Voli dan Basket 0.5 0.01% 9 Lain-lain (kuburan) 2.5 0.05%
Jumlah 4984.3 100%
Sumber : Monografi Desa Sidomulyo, 2007 (Diolah, 2009).
Struktur Mata Pencaharian Desa Sidomulyo
Struktur mata pencaharian penduduk Sidomulyo terdiri dari: 5.126 jiwa (88,08%) bekerja sebagai petani, 671 jiwa (11,45%) bekerja di sektor jasa/perdagangan, dan 27 jiwa (0,46%) bekerja di sektor industri. Petani yang dimaksud di sini adalah mereka yang pekerjaan/sumber mata pencaharian utamanya berasal dari kegiatan pertanian yang terdiri dari petani pemilik penggarap, penggarap, dan buruh tani serta peternak. Sedangkan sektor jasa/perdagangan yang dimaksud adalah mereka yang kegiatan ekonomi utamanya berasal dari perdagangan seperti pedagang hasil-hasil pertanian atau membuka toko. Sektor industri yang dimaksud adalah mereka yang bekerja sebagai buruh pada beberapa pabrik yang berada di sekitar Desa Sidomulyo, seperti pabrik gondorukem milik Perhutani, pabrik pemecah batu milik swasta, dan juga pabrik pengolah kopi milik PTPN. Meskipun demikian pada kenyataannya mata pencaharian masyarakat Sidomulyo
menganut pola mata pencaharian ganda. Ada beberapa petani yang juga berprofesi sebagai pedagang atau sebaliknya. Ada pedagang yang kadang-kadang juga bekerja di pabrik atau sebaliknya, dan ada juga mereka yang bekerja di pabrik tetapi mempunyai lahan yang kadang digarapkan atau dikerjakan sendiri.
Hasil survei terhadap 30 rumah tangga petani di semua dusun yang ada di Desa Sidomulyo menunjukkan, bahwa hampir semua rumah tangga melakukan diversifikasi mata pencaharian. Tidak ada satupun yang menggantungkan sumber penghidupannya pada satu pekerjaan. Kalaupun ada yang bekerja hanya sebagai petani, mereka melakukan diversifikasi tanaman. Tujuannya adalah agar mereka dapat memperoleh penghasilan tidak hanya pada saat panen tanaman utama, melainkan juga dari tanaman-tanaman penunjang. Meskipun demikian terdapat karakteristik diantara dusun-dusun yang ada, yaitu antara dusun yang ada di wilayah desa dengan dusun yang ada di wilayah perkebunan.
Mereka yang bertempat tinggal di dusun yang ada di wilayah desa (Dusun Krajan, Curahdamar dan Curahmanis) sebagian besar mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani, baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Adapun pekerjaan sampingannya adalah sebagai pedagang atau buruh tani. Sedangkan mereka yang tinggal di dusun yang ada di wilayah perkebunan (Dusun Gunung Gumitir, Tanah Manis dan Sidodadi) mempunyai pekerjaan utama sebagai buruh perkebunan, dan sejak adanya pembukaan hutan lindung mereka juga ikut mempunyai kebun-kebun kopi di sana dan menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Bahkan dalam perkembangannya sekarang justru pekerjaan di kebun kopinya yang diutamakan. Warga yang tinggal di Dusun Sidodadi merupakan para “pesanggem”, yaitu mereka yang mempunyai kontrak pekerjaan dengan Perhutani untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan di kebun-kebun yang dikelola Perhutani, seperti memelihara tanaman pinus yang belum produktif, mengambil getah pinus yang sudah produktif, dan sebagainya. Sebagai pesanggem mereka mendapat lahan yang ada di areal Perhutani untuk didirikan tempat tinggal, hak mengusahakan petak yang belum produktif (tanaman belum menghasilkan) dengan tanaman-tanaman musiman, dan upah proporsional (Rp. 1.750,-/kg) dari hasil getah pinus yang berhasil dipanennya. Sama dengan mereka yang tinggal di dua dusun yang ada di wilayah perkebunan, sejak adanya pembukaan hutan oleh warga untuk kebun kopi mereka ini
45
juga tidak mau ketinggalan. Sehingga walaupun pada masa-masa akhir dan setelah petak yang ada di hutan lindung hampir habis, akhirnya mereka pun ikut membuka hutan lindung untuk dijadikan kebun kopi.
Sebelum adanya reklaiming hutan lindung yang kemudian dijadikan kebun kopi oleh warga Sidomulyo, rata-rata kepemilikan kebun kopi dari rumah tangga yang disurvei adalah 1 hektar (Lampiran 1). Bahkan banyak diantara mereka yang tidak punya kebun sama sekali, terutama mereka yang tinggal di dusun yang ada di wilayah perkebunan. Rata-rata kebun kopi hasil reklaiming dari rumah tangga yang disurvei adalah 1,5 hektar. Kebun seluas ini tentu saja sangat berarti bagi mereka dalam sebagai sumber mata pencaharian. Dari satu hektar kebun kopi yang sudah produktif (umur 4 tahun lebih), rata-rata dapat menghasilkan 1 ton kopi beras. Seandainya harga per kg kopi adalah Rp. 14.000,00 seperti pada musim panen tahun 2009, maka tidak kurang dari 14 juta rupiah yang dapat mereka hasilkan dari kebun kopi tersebut. Tentu saja angka sebesar ini masih kotor dan harus dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkannya (rata-rata sekitar 4 juta/hektar) yang biasanya berasal dari hutang.. Sehingga rata-rata pendapatan bersih dari 1 hektar kebun kopi pada tahun 2009 akan mencapai 10 juta rupiah.
Kelembagaan Lokal Desa Sidomulyo
Kelembagaan dalam perspektif sosiologi dapat dipahami sebagai tata abstraksi yang lebih tinggi dari pada grup, organisasi dan sistem sosial lainnya (Bertrand, 1974 dalam Dharmawan, et al, 2004). Perspektif ini memandang kelembagaan sebagai kompleks peraturan dan peranan sosial secara abstrak dan memandang asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi yang kongkrit. Sedangkan pengembangan kelembagaan dapat diartikan sebagai proses pelembagaan yakni suatu proses strukturisasi antar hubungan melalui enkulturasi norma-norma dan nilai-nilai baru mengenai kebutuhan pokok manusia.
Kelembagaan yang masih sangat kuat dipegang oleh warga desa Sidomulyo adalah gotong royong. Gotong-royong sebagai kompleks peraturan dan peranan