• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA Pada bab ini berisi:

PAPARAN DATA DAN TEMUAN DATA

B. Paparan Data Penelitian

1. Profil Narasumber

a. SH yang peneliti wawancara pada tanggal 21 Mei 2016 pukul 11.15

WIB di ruang perpustakaan adalah guru PAI kelas VIII dan kelas VII (D,E,F). Saat ini beliau berusia 46 Tahun dan bertempat tinggal di Galangan RT 06 RW 05 Gentan, Susukan, Semarang.

b. SM yang peneliti wawancara pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 10.00

WIB di ruang BK adalah guru PAI kelas IX dan VII (A,B,C). Saat ini beliau berusia 55 Tahun dan bertempat tinggal di Ngrumpuk RT 01 RW 08 Sendang, Karanggede, Boyolali.

c. DR siswa laki-laki yang peneliti wawancara pada tanggal 18 Mei

2016 pukul 11.00 WIB di halaman sekolah adalah siswa kelas VII A. Saat ini berusia 13 Tahun yang bertempat tinggal di desa Tegalsari dan merupakan siswa yang diajar oleh SM.

d. LM siswa perempuan yang peneliti wawancara pada tanggal 19 Mei

2016 pukul 11.45 WIB di ruang kelas VIII A adalah siswa kelas VIII A. Saat ini berusia 14 Tahun yang bertempat tinggal di desa Klimas dan merupakan siswa yang diajar oleh SH.

e. SK siswa perempuan yang peneliti wawancara pada tanggal 21 Mei

2016 pukul 12.10 WIB di depan kelas VIII D adalah siswa kelas VIII D. Saat ini berusia 13 Tahun yang bertempat tinggal di desa Tretes dan merupakan siswa yang diajar oleh SH.

f. VJ siswa laki-laki yang peneliti wawancara pada tanggal 21 Mei 2016 pukul 12.45 WIB di depan sekolah adalah siswa kelas VIII E. Saat ini berusia 13 Tahun yang bertempat tinggal di desa Bangkok dan merupakan siswa yang diajar oleh SH.

g. ZA siswa laki-laki yang peneliti wawancara pada tanggal 17 Mei

2016 pukul 13.00 WIB di rumah siswa adalah siswa kelas VII C. Saat ini berusia 13 Tahun yang bertempat tinggal di dusun Randusari dan merupakan siswa yang diajar oleh SM

2. Upaya Guru PAI untuk Mengenali dan Memahami Emosi Siswa di

SMP N 1 Karanggede

Temuan penelitian yang ada di lapangan menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan guru PAI untuk mengenali dan memahami emosi siswa saat di kelas berdasarkan observasi yaitu:

Untuk mengenali emosi siswa di kelas guru memberi

pertanyaan kepada seluruh siswa “hewan apa yang kalian

tidak sukai?” dari pertanyaan itu guru dapat mengenali bentuk reaksi emosi siswa melalui ekspresi saat menjawab pertanyaan. Jawaban siswa bermacam-macam di kelas tersebut dan ekspresi emosi merekapun juga berbeda. Ada anak yang merasa jijik ketika dia bilang tidak suka bekicot dan kodok, ada yang benci ketika mengatakan bahwa dia tidak suka ular, ada juga anak yang merasa takut saat dia bilang tidak suka bebek. Respon siswa dengan jawaban yang disampaikan siswa lain sangat beragam seperti mengejek dan mentertawakan. Guru berusaha menciptakan dan mengkondisikan kelas kembali agar tenang seperti sebelumnya. Guru melakukan humor yang ramah dan berinteraksi dengan baik. Lalu upaya

guru dalam memahami emosi siswa yaitu dengan

mendengarkan dan memahami perasaan anak saat

tersebut. Selain memberi pertanyaan untuk mengenali emosi siswa guru juga memberi apresiasi (hadiah) kepada siswa yang

mampu memberi jawaban dan alasan untuk pertanyaan“halal

atau haramkah hukum memakan lele padahal makanan lele dari kotoran atau bangkai, kalau ada yang bisa menjawab ibu kasih uang 50 ribu, tapi dikasih alasan yang rasional ya ?”. dari pertanyaan itu muncul ekspresi emosi rasa jijik saat membayangkan makanan yang dimakan lele, ada yang termotivasi berlomba-lomba menjawab dengan benar agar mendapat hadiah. Karena tak ada satu pun alasan yang benar mengenai halal haramnya lele, guru menjelaskan secara singkat, jelas, masuk akal dan mampu diterima siswa (VIII F, 30/04/2016:09.30).

Saat pembiasaan berinfaq dan shalat dhuha guru dapat mengenali berbagai emosi siswa. Ketika penarikan uang infaq anak-anak begitu antusias untuk mengeluarkan uangnya namun ada beberapa anak yang terlihat tidak tenang dan panik karena takut di ejek teman sebab tidak dapat melakukan infaq . Sementara ketika melakukan pembiasaan waktu shalat dhuha anak terlihat begitu bersemangat menuju mushola (VII A, 17/05/2016/:07.00). Begitu juga saat shalat dzuhur berjamaah anak-anak begitu antusias menuju mushola agar tidak

ketinggalan untuk shalat berjamaah (VIII A,

19/05/2016:11.15). Upaya guru dalam memahami emosi siswa dengan selalu memberi motivasi untuk mempertahankan semangat dan rasa senang dalam melakukan hal yang positif. Sementara upaya guru dalam memahami emosi siswa yang tidak tenang dan panik karena tidak mengeluarkan infaq, guru melakukan pendekatan dan bertanya kendala yang dialami serta memberikan jalan keluar dalam mengatasi kendala siswa.

Untuk mengenali emosi siswa di kelas guru memberikan cerita tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, melalui cerita tersebut muncul emosi-emosi positif yang berupa rasa ingin tahu yang terlihat saat anak bertanya kepada guru yang berkaitan dengan cerita yang disampaikan oleh guru, rasa takjub atau tertarik yang ditandai anak benar-benar menyimak dan mendengarkan cerita. Lalu upaya guru dalam memahami emosi siswa yaitu dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan siswa (VII C, 17/05/2016: 07.50).

Untuk mengenali dan memahami emosi siswa upaya guru yaitu dengan mengamati perilaku siswa dan memberi perhatian kepada siswa yang terlihat gelisah, melamun, dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Perhatian itu diberikan dengan cara memanggil nama siswa dengan lembut dan penuh kasih sayang, dengan cara itu anak

mengabaikan atau tidak memperhatikan, guru memberinya tugas untuk membaca surat al-Alaq yang bertujuan agar anak dapat mengendalikan diri (VII A, 17/05/2016/:07.00).

Dalam upaya mengenali dan memahami emosi siswa peneliti melakukan wawancara dengan guru PAI mengenai kondisi dan masalah yang berkaitan dengan kecerdasan emosional siswa.

SMP Negeri 1 Karanggede setiap tingkat kelas terdiri dari 6 kelas A sampai F. Ada kelas unggulan yaitu kelas A. Kondisi kecerdasan emosional siswa di SMP Negeri 1 Karanggede tentu saja bermacam- macam karena latar belakang siswa satu dengan siswa lain yang berbeda-beda.

Kondisi kecerdasan emosional siswa yang berada di ruang kelas A (Unggulan) tentu berbeda dengan kelas F yang terkenal kelas paling ramai. Tapi secara keseluruhan kecerdasan emosional siswa SMP Negeri 1 Karanggede bisa dibilang baik sebagaimana penuturan SM guru PAI yang mengajar di kelas IX (A-F) dan VII (A-C) (18/05/2016:10.00):

“Kondisinya ya bermacam-macam ada yang anak itu yang cepat tanggap, cepat menanggapi pesan-pesan yang disampaikan oleh guru melalui materi yang diajarkan. Yang kedua ada yang sedang dan ada yang sangat rendah. Prosentasenya kalau disini ya 75% keatas kebanyakan sedang baik bila dibandingkan sekolah swasta karena saya

pernah mengajar di swasta.”

Sedangkan menurut SH yang juga merupakan guru PAI yang mengajar di kelas VIII (A-F) dan kelas VII (D-F) (21/05/2016:11.15):

“bervariasi ya dari yang baik, lumayan baik, ada yang kurang baik. Secara umum masih baik tapi hanya ada

beberapa anak yang kurang baik.”

Untuk mengetahui kondisi kecerdasan emosional siswa SMP Negeri 1 Karanggede, peneliti mewawancarai beberapa siswa. Jawaban mereka pun berbeda-beda, ada yang mengatakan sudah cukup baik, ada juga yang mengatakan belum baik. SK siswa kelas VIII D (21/05/2016:12.10) mengatakan:

“Menurut saya, belum baik karena banyak siswa yang

ngomong saru.”

Sedangkan menurut LM siswa kelas VIII A (19/05/2016:11.45) mengungkapkan:

“Kalau menurut saya sudah baik karena toleransinya tinggi,

tetapi masih ada anak yang belum bisa mengontrol

emosinya.”

Hal serupa juga diungkapkan ZA siswa kelas VII C (17/05/2016:13.00):

“Ya baik, karena tingkat kesadaran siswa yang tinggi,

terlihat sudah banyak siswa yang membawa Al-qur’an dari

rumah dan melakukan kegiatan pembiasaan dengan

disiplin”

Selama peneliti melakukan observasi baik di kelas maupun diluar kelas. Peneliti menemukan siswa yang berada di kelas VII A (18/05/2016:07.00) dan VIII A (19/05/2016:11.15) siswanya cenderung aktif dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, suasana di kelas pun nyaman dan tenang. Menurut Mubayidh (2006:112) anak yang

tenang dan tenteram lebih mampu menyerap pelajaran daripada anak penakut atau gelisah.

Berbeda dengan kelas VIII F (30/04/2016:09.30) siswanya ramai dan bahkan ada yang berbicara kotor. Dalam situasi itu guru mengajarkan kepada muridnya bagaimana mengendalikan ucapannya bagaimana mengarahkan perilaku mereka, dan bagaimana mengatasi masalah yang mereka hadapi serta memahami perasaan anak.

Dari hasil wawancara dan observasi mengenai kondisi kecerdasan emosional siswa SMP Negeri 1 Karanggede, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional siswa SMP Negeri 1 Karanggede bervariasi, ada yang baik, ada yang kurang baik dan ada yang tidak baik.

Pertanyaan selanjutnya bertujuan untuk mengetahui masalah yang sering muncul di SMP Negeri 1 Karanggede yang berkaitan dengan kecerdasan emosional (mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, empati, dan menjalin hubungan dengan orng lain). Menurut SH (21/05/2016:11.15):

“Masalah yang sering muncul, sama teman itu kalau ada hal

sedikit langsung ngumpat (ngomong kotor) kalau bolos paling cuma satu dua orang yang sampai ke BK (Bimbingan Konseling). Apalagi yang nongkrongnya di kantin bulek situ bisa dibedakan anaknya gimana tingkah lakunya kalau di kelas. Ya nakalnya biasa masih sewajarnya dalam arti belum sampai yang luar biasa. Dalam mengembangkan empatinya juga ada pembiasaan infaq tapi yang disayangkan masih ada bagian kecil yang nggak mau entah karena nggak ada atau emang nggak mau atau ada faktor lain, walaupun ada siswa yang melebihi kewajiban mereka.

Sama halnya dengan yang diungkapkan SK (21/05/2016:12.10) siswa kelas VIII:

“...Kadang suka ngomong saru..”

Sedangkan menurut SM yang juga guru PAI (18/05/2016:10.00) mengatakan:

“ya masalahnya rame didalam kelas, guru menerangkan tidak memperhatikan, terus anak-anak yang izinnya kebelakang itu lama tapi lama kembali ke kelasnya entah

kurang apa ya mbak apa nggak minat apa piye ya mbak.

Trus masalah yang berkaitan dengan empati, kalau guru sering mencatat infaqnya mereka infaq, tapi kalau tak pasrahke siswa tidak pada infaq, yang infaq sedikit. terus kesadaran dalam berinfaq kurang. Tapi mayoritas infaqnya lancar. Kalau dalam berteman bergerombol mbak kalau dipisah tempat duduknya kembali lagi. Yang pendiam ya

sama yang pendiam.”

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi mengenai masalah yang sering muncul mengenai kecerdasan emosional di SMP Negeri 1 Karanggede, peneliti menyimpulkan bahwa masalah yang timbul disebabkan karena kurangnya kemampuan kesadaran diri dan kurangnya kemampuan pengaturan diri. Mengumpat (berbicara kotor) dilatarbelakangi karena lingkungan dan pengaruh teman dan bisa juga karena dirinya sendiri yang tidak bisa mengelola emosinya.

Untuk mengetahui upaya guru dalam mengenali dan memahami emosi siswa penulis mewawancarai beberapa siswa yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa ketika tidak menyukai cara guru mengajar. Sikap yang ditunjukkan siswa bermacam-macam ada

teman sebangku, menaruh kepala di atas kepala, dan ada yang tidak memperhatikan guru. Sebagaimana hasil wawancara dengan DR siswa kelas VII A (18/05/2016:11.00):

“tetap diam dan mendengarkan”

Dengan SK siswa kelas VIII D (21/05/2016:12.10):

“Menaruh kepala di atas meja”

Dengan LM siswa kelas VIII A (19/05/2016:11.45):

“Menundukkan kepala kalau nggak ya cerita dengan teman

sebangku. Tapi kadang kalau ingat orang tua dirumah aku

berusaha untuk semangat mbak.”

3. Metode Guru PAI dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional

Siswa SMP Negeri 1 Karanggede

Salah satu kemampuan yang dituntut dari seorang guru adalah kompetensinya dalam memilih metode pengajaran yang tepat untuk bahan pelajaran yang akan diajarkan. Ketepatan pemilihan metode mengajar sangat penting karena akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran.

Metode yang digunakan oleh guru PAI dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Karanggede bermacam-macam., antara guru PAI yang satu dengan yang lainnya pun berbeda. Sebagaimana hasil wawancara dengan SM (18/05/2016:10.00):

“tanya jawab, ceramah, pemberian tugas, belajar di masjid,

Begitu juga dengan SH (21/05/2016:11.15):

“tanya jawab bisa, kalau yang kelas 8 itu ada sosiodrama

dan itu nanti mereka harus ngasih abtraksinya, teladan apa yang bisa diambil dari drama yang ditampilkan. Dan penugasan juga bisa yaa kan kalau ada tugas suruh tanya ketokoh masyarakat setempat. Kalau ada permasalahan ini coba tanya ke pak kyainya dari masing-masing itu kan

jawaban mereka berbeda-beda dan kita sharingkan

(diskusi). Dan pada materi sejarah (tarikh) ibu biasanya

menggunakan metode diskusi dengan membuat kelompok.”

Berdasarkan observasi metode-metode tersebut dilakukan oleh guru PAI dengan cara penyampaian yang berbeda-beda baik SM maupun SH.

Metode ceramah yang dilakukan SM dan SH divariasi dengan metode tanya jawab. Dalam pelaksanaannya para guru menggunakan kata-kata yang sederhana, jelas dan mudah dipahami oleh para siswa, menggunakan papan tulis untuk menjelaskan pokok bahasan yang disampaikan, memberikan ilustrasi, menghubungkan materi dengan contoh-contoh yang konkrit serta guru selalu mengingatkan siswa untuk senantiasa bersikap tenang dalam pembelajaran, yang membedakan dalam pengunaan metode ini SM ketika menggunakan metode ceramah di kelas VII C (17/05/2016:07.50) memasukkan cerita atau kisah-kisah di dalamnya.

Hasil observasi di kelas VIII F (30/04/2016:9.30):

Guru memberi tugas mencari alasan ilmiah diharamkannya binatang, serta bahaya dan manfaatnya. Dan memberikan pilihan kepada anak dalam menyelesaikan tugasnya.

Terlihat ketika guru mengatakan “silahkan selesaikan

mengerjakan dengan mencari sumber di perpustakaan, browsing di internet, atau dimana saja”

Dengan adanya tugas tersebut siswa secara bertahap berkembang kemampuan dirinya (kesadaran diri) dan kepercayaan diri yang kuat. Karena dengan mencari alasan ilmiah diharamkannya binatang serta bahaya dan manfaatnya, siswa memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif, mandiri dan bertanggung jawab.

Dalam proses pengembangan kecerdasan emosi di SMP N 1 Karanggede, guru melakukan beberapa kegiatan pembelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh SH guru PAI (21/05/2016:11.15):

“Ngasih ceritalah ya cerita bisa cerita asli dari televisi,

internet, atau bisa ngangkat cerita dari teman-temannya, dan dari kakak kelas. Bisa juga pas lagi tadarus ada ayat-ayat yang pas dengan keadaan pada waktu kegiatan itu berlangsungdibacakan, disinggung dan dihubungkan dengan pengalaman sehari-hari. Dan ngasih motivasi dengan cara memberi kisah yang bisa mereka contoh. Agar siswa

termotivasi “ooh yaa ternyata kalau mereka bisa kenapa

saya nggak bisa. Bisa juga pada waktu materi akhlak dendam munafik mencari kasus-kasus di lingkungan mereka sendiri. Mencari contoh ekspresi dendam atau marah, yang terdekat dari siswa bisa di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Dari masing-masing siswa contohnya akan berbeda. Karena marahnya kita dengan marahnya mereka kan berbeda. Paling seru anak-anak saat pelajaran dendam munafik. Saat ibu bertanya siapa yang pernah marah terus anak-anak antusias mengeluarkan perasaannya. Lalu ibu tanya kenapa marah, dan anak-anak akhirnya bercerita. Kalau pengertiannya kan bisa di baca-baca sendiri, jadi kalau materi akhlak hanya cerita-cerita saja. Mengalisis lingkungan sekitar bagaimana dendam munafik

itu. Untuk anak yang belum bisa membaca Al-qur’an

diwajibkan mengikuti Ekstra BTQ yang pengajarnya dibantu kakak kelas yang sudah bisa. Kalau waktu tadarus di kelas untuk mengembangkan empati ibu menawarkan pahala investasi untuk di akhirat siapa yang mau ngajari

juga akan mengembangkan kemampuan siswa dalam

menjalin hubungan dengan temannya.”

Hal yang sama juga dikatakan SM (18/05/2016:10.00):

“anak disuruh cerita, membaca hasil kerjaan siswa yang

lain”

4. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam

Menerapkan/mengimplementasikan Metode Pengembangan

Kecerdasan Emosional Pada siswa di SMP N 1 Karanggede

a. Faktor Pendukung

1) Dewan guru

Berdasarkan hasil wawancara dengan SM

(18/05/2016:10.00), beliau mengatakan:

“...banyaknya guru-guru yang beragama Islam dapat

membantu membimbing siswa ketika tadarus Al-

Qur’an setiap pagi sebelum pelajaran dimulai.”

Segenap dewan guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengembangan kecerdasan emosional siswa. Jadi kerjasama antara dewan guru menjadi pendukung guru PAI dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa.

2) Kesadaran Anak

Semua upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosional akan tampak sia-sia jika tidak ada kesadaran anak untuk mengolah kemampuan dalam mengenali emosi diri, pengaturan diri, memotivasi diri, memahami perasaan

orang lain, dan kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain. SH (21/05/2016:11.15) mengatakan bahwa:

“Yang mendukung anak-anak care yaa dalam

menerima masukan dari kita. Anak-anak hatinya terbuka. Kita marah seapapun udah besoknya bu siti

bu siti lagi..”

Sama halnya yang diungkapkan oleh SM (18/05/2016:10.00), beliau mengatakan:

“faktor yang yang mendukung ya anak-anak sadar

membawa kitab suci Al-Qur’an dan iqro’...”

3) Kegiatan Siswa

Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, faktor pendukung yang lain dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa adalah kegiatan siswa yang sudah berjalan seperti tadarus selama 15 menit sebelum pelajaran, sholat dhuha sebelum pelajaran, dan pembiasaan berinfaq setelah pelajaran PAI selesai.

b. Faktor Penghambat

1) Latar Belakang Anak

Setiap anak berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang baik dari orangtuanya akan tumbuh menjadi

pribadi yang baik. Sebagaimana penuturan SH

(21/05/2016:11.15):

permasalahan dalam proses belajar mengajar di

rumahnya tinggal dengan mbahnya.”

Beliau SM (18/05/2016:10.00) juga mengatakan:

“..ada anak yang dari orangtuanya itu tidak

memperhatikan anaknya..,”

2) Jam Belajar

Waktu pembelajaran untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hanya 2x45 menit. Hal ini menjadi penghambat dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa, seperti hasil wawancara dengan SH (21/05/2016:11.15):

“...Kita bisa bimbing di sekolah hanya 2 jam dan itu

pun gak bisa fokus ke dia aja...”

3) Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 1 Karanggede bisa dibilang cukup lengkap. Sarana dan prasarana di SMP Negeri 1 Karanggede ini menjadi penunjang dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa. Terutama dengan adanya mushola yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Tetapi dengan kondisi mushola yang kecil menjadi penghambat untuk kegitan pengembangan kecerdasan emosional karena mushola

yang tidak mencukupi, sebagaimana penuturan SM

(18/05/2016:10.00):

“Faktor penghambat, mushola sekolahan belum

4) Lingkungan Pergaulan

Lingkungan pergaulan besar pengaruhnya terhadap

kecerdasan emosional siswa. Jika siswa bergaul dengan teman yang bicaranya kotor tentu dalam berbicara ikut menjadi kotor. SH (21/05/2016:11.15) mengungkapkan bahwa:

“...Apalagi yang nongkrongnya di kantin bulek situ bisa dibedakan anaknya gimana tingkah lakunya kalau

di kelas..”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh SM (18/05/2016:10.00):

“...Terus sama anak-anak yang bergerombol kalau dipisah tempat duduknya itu nanti balik lagi. Kalau berteman itu ya yang menengan sama yang menengan

kalau yang rame sama yang rame.”

5) Kesadaran Anak Yang Kadang Kurang Dalam Berempati

Kesadaran anak yang terkadang kurang juga menjadi hambatan dalam mengembangkan kecerdasan emosional, sebagaimana yang diungkapkan oleh SM (18/05/2016:10.00):

“..terus kesadaran dalam berinfaq kurang. Tapi mayoritas infaqnya lancar.”

Berinfaq merupakan salah satu cara dalam mengembangkan rasa empati siswa selain itu juga mengembangkan kemampuan dalam membina hubungan dengan orang lain.

6) Perhatian Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Yang Kurang

Sebagaimana yang dikatakan SM (18/05/2016:10.00):

“ada anak yang dari orang tuanya itu tidak memperhatikan anaknya”

Untuk itu perhatian orang tua terhadap anak sangatlah penting, karena orang tua adalah pendidik pertama untuk perkembangan kecerdasan anaknya baik cerdas secara akademis maupun cerdas secara emosi. Apalagi anak-anak yang tinggal dengan simbahnya karena orang tua sibuk bekerja, pendidikan yang didapat dirumah akan berbeda dengan hasil didikan dari orang tuanya.

BAB IV

Dokumen terkait