Hasil Belajar meningkat
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Paparan Data Siklus I
2. Paparan Data Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran Berbasis Masalah dalam peningkatan hasil belajar IPS pada siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa siklus II ini dilaksanakan hampir sama dengan siklus I, dua kali pertemuan dan diakhiri dengan tes. Hanya saja semua kekurangan yang ditemukan pada siklus I direvisi pada siklus II.
a. Perencanaan
1) Pertemuan Pertama
Perencanaan merupakan program guru dan peneliti dalam mempersiapkan segala komponen yang berkaitan dengan pembelajaran dalam peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran Berbasis Masalah pada siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu diadakan persiapan atau perencanaan siklus II.
a) Mengadakan pertemuan dengan guru kelas VA untuk menelaah kekurangan dan hambatan yang dialami pada siklus I untuk materi yang akan diajarkan.
b) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan materi yang akan diajarkan.
c) Membuat materi yang akan diajarkan, yaitu pengaruh letak geografis Indonesia terhadap ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.
e) Membuat lembar observasi untuk mengamati proses belajar mengajar Siklus II.
f) Membuat tes akhir Siklus II. 2) Pertemuan Kedua
Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu diadakan persiapan atau perencanaan siklus II.
a) Mengadakan pertemuan dengan guru kelas VA untuk menelaah kekurangan dan hambatan yang dialami pada pertemuan I untuk materi yang akan diajarkan.
b) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan materi yang akan diajarkan.
c) Membuat materi yang akan diajarkan, yaitu pengaruh letak geografis Indonesia terhadap ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.
d) Merancang bentuk dan model kelompok dalam pembelajaran.
e) Membuat lembar observasi untuk mengamati proses belajar mengajar Siklus II.
f) Membuat tes akhir Siklus II. b. Pelaksanaan
1) Pertemuan Pertama
Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan pertama penelitian ini mengikuti langkah skenario sebagai berikut:
43
b) Guru mengadakan apersepsi.
c) Guru menyampaikan tujuan materi dan strategi yang akan diterapkan. d) Guru memberikan motivasi siswa untuk terlibat pada pemecahan masalah. e) Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah
disiapkan, yaitu mengikuti prosedur berdasarkan tahapan model pembelajaran berbasis masalah, sepert orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, membelajarkan materi pembelajaran Pengaruh letak geografis Indonesia terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat.
f) Memantau keaktifan Siswa dalam melakukan pemecahan masalah.
g) Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan ataupemecahan masalah mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
h) Guru memberikan soal latihan .
i) Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. j) Guru menutup pelajaran.
2) Pertemuan Kedua
Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan kedua dalam penelitian ini mengikuti langkah skenario sebagai berikut:
a) Guru membuka pelajaran. b) Guru mengadakan apersepsi.
c) Guru menyampaikan tujuan materi dan strategi yang akan diterapkan. d) Guru memberikan motivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan
masalah yang dipilih.
e) Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan, yaitu mengikuti prosedur berdasarkan tahap-tahap pemebelajaran Berbasis Masalah serta membelajarkan materi pembelajaran Pengaruh letak geografis Indonesia terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat.
f) Memantau keaktifan siswa dalam belajar kelompok melaksanakan pemecahan masalah.
g) Mengevaluasi hasil pemantauan dan melaksanakan tes pada akhir siklus II untuk mengevaluasi tingkat ketuntasan belajar siswa.
h) Melakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. i) Guru menutup pelajaran.
d. Observasi dan Evaluasi
1) Pertemuan Pertama
Dalam peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran Berbasis masalah pada siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Guru tidak terlepas dari perhatian terhadap perubahan sikap siswa, keaktifan siswa, dan tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang dialaminya. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan.
45
Berdasarkan hasil observasi dapat dinyatakan bahwa kegiatan siswa pada siklus II pertemuan I ini menunjukkan semangat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran yang tinggi. Dalam hal ini, siswa antusias dalam belajar. Hal ini tampak dari tingginya perhatian dan keseriusan dari siswa dalam menanggapi materi. Sikap siswa pada umumnya tinggi dalam memberikan tanggapan atau respon terhadap model yang disajikan.
Pada saat guru memantau siswa dalam mempelajari materi terutama pada saat melakukan kegiatan pemecahan masalah, ternyata pada umumnya siswa yang benar-benar aktif. Siswa yang melakukan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran seperti ngobrol sesama teman dan mengerjakan tugas pelajaran yang lain sudah berkurang. Setelah bekerja secara berkelompok rata-rata siswa melakukan aktivitas yang ada hubungannya dengan pelajaran sehingga pada saat diskusi dan persentase berlangsung, Siswa rata-rata sudah aktif dalam kelompoknya.
Selama kegiatan berlangsung hingga akhir pertemuan siklus II pertemuan pertama sudah berjalan sesuai yang dinginkan. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama dalam tiap kelompok mengalami peningkatan, kemampuan berpikir krits siswa lebih meningkat, mereka yang cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan mengutip dari buku, sudah mampu mengemukakan penedapatnya terhadap analisis tersebut. Siswa sudah mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata.
Berdasarkan hasil observasi ditemukan hal berikut ini:
a. Penguatan dan motivasi yang diberikan kepada Siswa sangat tinggi. b. Struktur dan variasi kelompok yang kreatif .
c. Jumlah dan tingkat kesulitan soal sesuai dengan waktu sehingga Siswa mampu menyelesaikan dengan baik.
d. Setting tempat duduk antar tiap kelompok sudah tertata dengan baik sehingga kejadian-kejadian yang kurang positif jarang terlihat lagi.
e. Guru mampu membimbimbing, mengembangkan dan menyajikan hasil karya seperti laporan.
f. Siswa memahami sepenuhnya materi pelajaran.
g. Siswa meminta bantuan kepada teman atau guru pada saat kerja kelompok jika ada hal yang kurang dipahami.
h. Kerja sama dalam kelompok sudah terjalin dengan baik. i. Siswa tidak melakukan kegiatan lain dalam kerja kelompok. j. Siswa mampu menjawab pertanyaan yang diberikan.
Berdasarkan urain tersebut dapat dinyatakan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran Berbasis Masalah pada pertemuan pertama siklus II dikategorikan mengalami peningkatan yang signifikan.
2) Pertemuan Kedua
Peningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, Guru tidak terlepas dari perhatian yang besar terhadap
47
perubahan sikap siswa, keaktifan siswa, dan tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang dialaminya. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan.
Berdasarkan hasil observasi dapat dinyatakan bahwa kegiatan siswa pada siklus II pertemuan II ini menunjukkan semangat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran yang sangat tinggi. Dalam hal ini, siswa antusias dalam belajar. Hal ini tampak dari tingginya perhatian dan keseriusan dari Siswa dalam menanggapi materi. Sikap siswa pada umumnya tinggi dalam memberikan tanggapan atau respons terhadap model yang disajikan.
Berdasarkan hasil observasi ditemukan hal berikut ini:
a) Penguatan dan motivasi yang diberikan kepada siswa sangat tinggi. b) Struktur dan variasi kelompok yang kreatif.
c) Jumlah dan tingkat kesulitan soal atau masalaha sesuai dengan waktu sehingga siswa mampu menyelesaikan dengan baik.
d) Setting tempat duduk antar tiap kelompok sudah tertata dengan baik sehingga kejadian-kejadian yang kurang positif tidak muncul.
e) Guru mampu mengarahkan siswa dalam penyelidikan individual maupun kelompok.
f) Siswa memahami sepenuhnya materi pelajaran berdasarkanpemecahan masalah.
g) Siswa meminta bantuan kepada teman atau guru pada saat kerja kelompok jika ada hal yang kurang dipahami.
h) Kerja sama antara anggota kelompok sudah terjalin dengan baik. i) Siswa tidak melakukan kegiatan lain dalam kerja kelompok. j) Siswa mampu mengerjakan tes evaluasi yang diberikan.
Berdasarkan urain tersebut dapat dinyatakan bahwa tingkat keaktifan Siswa dalam pembelajaran Berbasis Masalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS di kelas VA pada pertemuan kedua siklus II dikategorikan mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Sama halnya pada siklus I, tes hasil belajar pada siklus II ini dengan pokok bahasan Pengaruh letak geografis Indonesia terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat dilaksanakan dengan bentuk ulangan harian. Hasil analisis kantitatif menunjukkan bahwa skor rata-rata yang dicapai oleh Siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa yang diajarkan dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah pada siklus II disajikan dalam tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa Kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa pada Siklus II
Statistik Nilai Statistik
Subjek 24 Skor maksimal 100,00 Jumlah Nilai 2010 Skor Rata-rata 83,75 Skor Tertinggi 95,00 Skor Terendah 75,00
49
Dari tabel 4.3. skor rata-rata hasil belajar IPS siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa setelah diterapkan pembelajaran Berbasis Masalah pada siklus II adalah 83,75 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Dari skor rata-rata tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabipaten Gowa pada siklus II sebesar 83,75 %. Sekalipun sudah terjadi peningkatan pada siklus ini, namun masih terdapat siswa yang melakukan kegiatan lain selama proses pembelajaran berlangsung.
Secara individual, skor yang dicapai siswa bervariasi dari skor minimum 75 sampai dengan skor maksimum 95 dari skor tertinggi (ideal) yang mungkin dicapai 100 dengan Skor rata-rata 83,75. Ini berarti bahwa hasil belajar IPS Siswa cukup bervariasi dari skor hasil belajar yang sangat rendah sampai dengan skor hasil belajar yang tinggi.
Nilai rata-rata hasil belajar Siswa yang diperoleh setelah proses belajar mengajar selama siklus II berlangsung yaitu sebesar 83,75 Setelah dikategorisasikan berdasarkan tabel di atas, mengetahui bahwa tingkat penguasaan siswa kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa berada pada kategori sangat tinggi.
Apabila hasil belajar siswa pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VI SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa pada Siklus II
Tingkat Penguasaan
Kategori Frekuensi Persentase
0% - 74% 75% - 100% Tidak tuntas Tuntas 0 24 0 100 Jumlah 24 100
Sumber : Data d olah dari lampiran 7
Diagaram Batang 4.2 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VA SD Inpres Paku Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa pada Siklus II
Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa persentase ketuntasan belajar Siswa setelah diajar dengan pembelajaran Berbasis Masalah sebesar 24 orang siswa termasuk dalam kategori tuntas, dengan kata lain semua siswa termasuk dalam kategori tuntas.
0% 20% 40% 60% 80% 100% Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas
51
d. Hasil Analisis Refleksi
Disamping terjadinya peningkatan hasil belajar IPS selama berlangsungnya penelitian dari Siklus I hingga Siklus II, tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada aktivitas belajar siswa terhadap pelajaran IPS. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan Siklus I dan Siklus II.
Dari hasil analisis terhadap refleksi dan perubahan siswa dapat disimpulkan ke dalam kategori sebagai berikut :
1. Kehadiran siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar pada setiap pertemuan semakin meningkat, hal ini ditandai dengan semakin berkurangnya jumlah siswa yang tidak mengikuti proses belajar mengajar. Pada Siklus I persentase kehadiran siswa 80.00% meningkat menjadi 95.00% pada Siklus II, ini berarti terjadi peningkatan selama proses pembelajaran.
2. Kemampuan berpikir siswa semakin meningkat, sehingga pembelajaran lebih bermakna danhasilnya dapat diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
3. Motivasi dan minat siswa dalam proses pembelajaran semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang mulai aktif pada pembahasan materi dan mengajukan pertanyaan tentang materi yang kurang dimengerti. Disamping itu Siswa juga aktif pada kegiatanpemecahan masalah. Sedangkan siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung semakin berkurang.
4. Pada awalnya kebanyakan siswa cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku tanpa mengemukakan analisisnya terhadap pendapat tersebut, namun jumlahnya semakin berkurang.
5. Keberanian dan rasa percaya diri siswa terlihat meningkat yang ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa yang bertanya atau menjawab suatu pertanyaan tanpa berpatokan pada buku.
Adapula yang berpendapat bahwa kesenangan terhadap pelajaran IPS relatif, artinya pada saat materi pelajaran yang diajarkan mudah mereka senang belajar. Tetapi jika materi yang diajarkan sulit maka mereka kurang senang menerima materi pelajaran. Selain itu dalam mempelajari IPS kebanyakan siswa berhayal ketika mengutip suatu pernyataan dari buku tanpa mengemukakan analisisnya terhadap pernyataan tersebut. Dengan mempelajari IPS dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap siswa. Motivasi siswa dalam belajar IPS setelah digunakan model pembelajaran Berbasis Masalah meningkat.
Pada umumnya siswa menanggapi positif tentang penerapan pembelajaran Berbasis Masalah, karena dengan model pembelajaran tersebut siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam pemecahan masalah melalui pemecahan masalah. Siswa yang merasa kurang memahami dapat lebih mengerti setelah melakukanpemecahan masalah. Dan dengan adanya kerjasama antara siswa maka bukan hanya akan terjadi interaksi antar siswa tetapi juga interaksi antar siswa dan guru.
53
Bagaimana hambatan dalam belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran Berbasis Masalah? Hambatan siswa dalam belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran Berbasis Masalah adalah :
a. Kemampuan berpikir siswa masih kurang dikarenakan kebiasaannya menjawab suatu pertanyaan dengan mengutip pada buku.
b. Penyajian materi terlalu cepat sehingga siswa masih kurang mengerti.
c. Masih kurangnya sarana dan prasarana pendukung dalam meningkatkan proses belajar mengajar.
d. Dalam proses pengajaran model pembelajaran Berbasis Masalah membutuhkan waktu yang banyak