BAB II HASIL PEMBAHASAN
2.2. Diskusi Strategi Menangani Dampak Covid 19 Terhadap
1. Menangani dampak covid 19 ini perlu diperjelas siapa yang terlebih dahulu harus dibantu (rescue), yang perlu dilengkapi kelompok mana saja yang harus dibantu. Berikutnya perlu juga diperhatikan faktor keamanan, sumber daya, logistik dan distribusi sehingga penanganan dampak covid 19 ini tuntas.
2. Memaksimalkan program K3 di perusahaan (P2K3)
3. Pegawai yangdirumahkan dalam dua minggu terakhir ini sudah banyak sehingga diharapkan pemerintah dapat membantu para pegawai yang dirumahkan ini.
4. Perlu dipikirkan untuk tunjangan hari raya para pegawai dan karyawan yag dirumahkan ini. Setidaknya ada solusi untuk perusahaan pemberi tunjangan hari raya.
5. Estimasi jumlah beras masih tercukupi untuk 3 bulan kedepan, sehingga ketersediaan beras di Jawa Tengah masih aman untuk 3 bulan ke depan.
6. Target utama bantuan dampak covid 19 adalah penduduk miskin yang jumlahnya 40 % dari seluruh penduduk di JawaTengah
22 7. Aspek yang perlu diperhatikan : (1) aspek makro yaitu kebijakan pemerintah yang perlu segera disusun, (2) aspek mikro yaitu target siapa yang akan diberikan insentif segera.
8. Industri pariwisata adalah sektor yang paling besar terdampak covid 19 ini sehingga industri ini yang perlu diberikan solusi untuk penanganannya.
9. Peta Jalan Penanganan dampak Covid 19 : a. Asosiasi Pedagang Pasar
Kedaruratan jangka pendek (sektor informal)
Penanganan harus dilakukan secara sinkron dari hulu ke hilir
Implementasi pemberian stimulus kepada pedagang pasar sesuai dengan data yang dimiliki oleh asosiasi pedagang pasar sehingga pemberian stimulus ini tepat sasaran.
Stimulus untuk pedagang pasar berupa keringanan pajak, retribusi, parkir dll. Stimulus ini harus sinkron dalam arti tepat sasarannya dan stimulus ini benar-benar dapat membantu pedagang pasar pada masa pandemik covid 19 sekarang ini.
Kebijakan yang dibuat pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota harus sinkron artinya kebijakan yang disusun seiring dan sejalan serta tidak bertentangan satu dengan yang lain.
b. Jangka pendek (stabilisasi)
Data yang dimiliki oleh Dinas UMKM dapat digunakan untuk mencari sumber bahan baku.
Untuk membantu operasional usaha pedagang pasar dan UMKM supaya terus dapat berjalan dalam masa pandemic ini bisa menggunakan layanan daring untuk berbelanja, sehingga masyarakat tetap mudah berbelanja di pasar atau di UMKM.
Kantor pos membuka unit pengiriman produk-produk UMKM sehingga bisnis UMKM tetap berjalan lancar.
23 c. DRD Jawa Tengah
Data yang digunakan untuk memberikan insentif harus valid misalnya data dari SPSI mengenai berapa jumlah usaha yang masih beroperasi dan usaha yang sudah berhenti. Data dari Asita dan data dari serikat buruh. Artinya menggunakan data yang valid dan terbaru.
d. Asosiasi Pariwisata Jawa Tengah
Jangka pendek menyelamatkan usaha pariwisata, UMKM, dan sektor informal lainnya dengan stimulus atau insentif yang tepat sasaran pada masing-masing sektor.
24
BAB III PENUTUP
3.1. SIMPULAN
3.1.1. Mengidentifikasi Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Perekonomian Masyarakat Jawa Tengah.
1. Perdagangan adalah salah satu sektor yang paling terdampak pandemik covid-19. Asosiasi Pedagang pasar membutuhkan beberapa stimulus dari pemerintah dalam menghadapi covid 19. Beberapa stimulus yang diperlukan antara lain masalah distribusi barang ke masyarakat.
2. Dengan meningkatnya total kasus COVID 19 di Indonesia dan Jawa Tengah maka proyeksi pertumbuhan ekonomi negatif, didasarkan pada indikator: pertumbuhan PDB, harga ICP (US$/barel), nilai tukar rupiah (Rp/USD) dan inflasi (%).
3. Permasalahan yang dihadapi koperasi terletak pada bahan baku, produksi, pemasaran dan pembiayaan. Sehingga terjadi penurunan aset, omset, dan tenaga kerja yang masih memegang kontrak hingga akhir Maret 2020.
4. Permasalahan UMKM terletak pada bahan baku, produksi, pemasaran dan pembiayaan. Sedangkan UMKM mengalami penurunan omzet yang cukup tajam. Tetapi untuk UMKM berbasis online mengalami peningkatan omzet yang signifikan
5. Kegiatan Pariwisata saat ini lumpuh mengakibatkan dampak krisis ekonomi yang sangat luas tidak hanya berdampak terhadap Industri Pariwisata tetapi multi player efek terhadap UMKM yang mensuport kebutuhan Industri Pariwisata. Pandemi covid 19 ini melumpuhkan sektor aminitas penyedia venue hotel, convention, adanya kebijakan
25 menutup daya tarik wisata dan kebijakan lainya semua mengakibatkan lumpuhnya kegiatan Pariwisata.
6. Indutri pariwisata yang terdampak langsung covid 19 yaitu :
291 Hotel Bintang, 1.130 Non Bintang, 765 Homestay
211 Biro Perjalanan Wisata/313 Agent Perjalanan Wisata
694 Daya Tarik Wisata
1.021 pemandu Wisata
Industri MICE & EO
229 Desa Wisata
1.882 Catering & Rumah Makan
Transportasi Pariwisata
7. Dampak Terhadap Usaha & Pekerja Di Sektor Industri pariwisata
Perusahaan Kesulitan Membayar Gaji Karyawan
Membayar Operasional; Listrik, Telpon, Air, Bpjs Karyawan , Pajak
Kesulitan Membayar Cicilan Bank & Kewajiban Lainya
Himbauan Pemerintah Untuk Menutup Usaha
8. Secara umum seluruh transportasi/angkutan umum, carter dan online mengalami penurunan pendapatan.
3.1.2. Mengidentifikasi sektor yang paling rentan terkena Dampak Pandemi Covid-19 di Jawa Tengah.
Terdapat empat sektor yang paling tertekan akibat wabah Covid-19 yaitu rumah tangga, UMKM, Korporasi, dan sektor keuangan.
1. Sektor rumah tangga
Mengalami penurunan cukup besar dari sisi konsumsi. Sektor rumah tangga mengalami tekanan dari sisi konsumsi, karena masyarakat sudah tidak beraktivitas di luar rumah sehingga daya beli pun menurun. Sektor rumah tangga juga terancam kehilangan pendapatan
26 karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya terutama bagi keluarga miskin dan rentan di sektor informal.
2. Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
Mengalami tekanan akibat tidak dapat melakukan kegiatan usaha sehingga kemampuan untuk memenuhi kewajiban kredit terganggu.
Sektor UMKM mengalami tekanan yang sangat besar karena ada restriksi kegiatan ekonomi dan sosial. UMKM tertekan paling depan karena tidak ada kegiatan masyarakat.
3. Sektor korporasi (manufaktur, perdagangan, transportasi, serta pariwisata seperti perhotelan dan restoran).
Gangguan aktivitas sektor korporasi karena tekanan wabah covid-19 menyebabkan penurunan pada kinerja bisnis dan terjadi pemutusan hubungan kerja hingga serta ancaman kebangkrutan. Sektor korporasi mengalami tekanan dari supply chain yaitu pasokan bahan baku, produksi dan distribusinya, kemudian perdagangan mulai dari bahan baku, produksi, pemasaran dan pembiayaan. Untuk tranportasi dan pariwisata dari sisi aktivitas masyarakat yang terhenti sehingga jasa transportasi dan daya tarik wisata tidak dapat beroperasi.
4. Sektor keuangan
Mengalami tekanan akibat pandemi covid 19 ini. Perbankan dan perusahaan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas dan insolvency. Potensi persoalan likuiditas memunculkan ancaman di sektor ini, ditambah dengan volatilitas pasar keuangan dan capital flight yang menyebabkan tekanan makin besar.
3.2. REKOMENDASI 3.2.1. UMKM
A. Kebijakan Quick Response Bagi KUMKM Terdampak Covid – 19 Diskop UKM
27 STABILISASI (Maret-Mei)
Penyediaan Data :
Data UMKM terdampak & kebutuhan bahan baku.
Bahan baku substitusi.
Pemetaan sumber bahan baku.
Dana : Koperasi 335 juta, UKM 266 juta Kebijakan yang diambil :
Operasi Pasar:
Subsidi bagi UKM terdampak.
o Pengendalian stok bahan baku.
Instruksi Gubernur: Mengutamakan produk KUKM dalam pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
PEMULIHAN (Juni-Juli) Pendampingan :
Diversifikasi Produk
Restrukturisasi Usaha
Penguatan Pembiayaan
BIN & WAS Koperasi
Digitalisasi Marketing
Dana : Koperasi 502 juta, UKM 955 juta Kebijakan yang diambil :
Review Regulasi :
Pelonggaran regulasi impor bahan baku sementara.
Insentif Pajak Daerah :
Pemberian insentif pajak daerah
Realokasi APBD & Dana Desa :
Refocusing & Realokasi APBD Tk. I & II.
Percepatan penyaluran Dana Desa.
PENGEMBANGAN (Agustus–September)
28
Peningkatan Produktivitas & Daya Saing
Perluasan Jaringan Pemasaran
Penguatan Manajemen & Kelembagaan
Peningkata Kap. Pembiayaan
Peningkata Kualitas SDM
Dana yang digunakan Koperasi : 703 juta dan UKM :1,87 M Kebijakan yang diambil :
1. Optimalisasi Kebijakan
2. Peningkata Sinergisitas Pemerintah, Dunia Usaha, & Perguruan Tinggi
B. Usulan Subsidi Bagi KUMKM Terdampak Covid – 19
1. Pendataan KUMKM DISKOP- Prov/Kab/ Kota Maret - Mg-2 April 2. Penunjukan BUMD Penyalur -GUBERNUR Mg-4 Maret
3. Audit BUMD Penyalur oleh KAP-SEKDA & KAP Mg-4 Maret - Mg-2 April
4. Penyiapan Administrasi KUMKM Penerima- DISKOP,
INSPEKTORAT, BPKAD, BAPPEDA, & RO. KUM 2 April - Mg-3 April
5. Penyiapan Mekanisme Penyaluran- SEKDA, DISKOP Prov/Kab/Kota, BUMD Mg-2 April - Mg-3 April
6. Perhitungan Besaran Subsidi-TAPD Mg-2 April - Mg-3 April 7. Penetapan KUMKM Penerima Subsidi- GUBERNUR Mg - 4 April 8. Penyaluran Subsidi kepada KUMKM- BUMD & DISKOP Kab/
Kota Mg-4 April
3.2.2. Stabilisasi Harga dan Ketersediaan Pangan
1. Untuk meredam lonjakan harga pangan, langkah pertama yang harus ditempuh pemerintah provinsi adalah memetakan secara akurat ketersediaan/stok pangan secara real time. Pemetaan stok dan harga
29 pangan harus lebih intensif lagi sehingga dapat mendeteksi dini wilayah di mana saja yang beresiko terjadi rawan/krisis pangan.
2. Pemerintah harus lebih transparan dalam menginformasikan kepada publik terkait ketersediaan stok pangan dan strategi apa saja yang akan dilakukan guna menjaga stok pangan tetap terjaga dalam batas aman.
3. Pemerintah harus menjamin kelancaran sistem logistik pangan dari dan ke wilayah tersebut serta kesiapan distribusi ke level konsumen.
Ketersediaan pasokan pangan di tengah wabah Covid-19 semakin urgen karena sebulan lagi akan menghadapi bulan Ramadan.
4. Selain menjamin ketersediaan/stok bahan pangan, cara distribusi bantuan sosial dalam hal ini adalah sembako, memerlukan teknis baru untuk mencegah adanya perkumpulan warga yang menumpuk di suatu lokasi. Pendistribusian sembako dapat dilakukan dengan door to door service oleh pejabat yang berwenang di setiap daerah, atau dilakukan di kantor desa/kecamatan/kelurahan dengan pengaturan jadwal yang menyesuaikan kebutuhan lapangan.
3.2.3. Bantuan Sosial
1. Pemerintah bertanggungjawab untuk memastikan keselamatan warga serta jaminan kebutuhan dasar warga terutama kelompok miskin dan rentan miskin, ditambah pekerja informal yang terputus dari sumber penghasilan harian. Selain itu, dengan terus bertambahnya jumlah korban yang terpapar Covid-19 (PDP, OPD, dan Positif) sehingga, bagi penderita Covid-19 yang masuk kategori pekerja informal (terutama kepala rumah tangga) maka mereka tidak lagi bisa menafkahi keluarganya. Untuk itu, pemerintah harus mengalokasikan jaminan perlindungan sosial kepada para kelompok pekerja yang tengah masuk proses karantina ataupun penyembuhan.
30 2. Data dari BPS menyebutkan kelompok masyarakat 40% status sosial ekonomi terendah. Melalui basis data terpadu dari BPS, pemerintah melakukan pemetaan untuk penyaluran berbagai jenis bantuan sosial seperti Program PKH, KPS, KKS, KIP, Rastra, PBI BPJS Kesehatan.
Dengan melihat potensi bertambahnya kelompok rumah tangga (terutama pekerja informal) masuk dalam kategori rentan miskin, maka pemerintah patut mempertimbangkan perluasan bantuan sosial kepada kelompok tersebut.
3. Pembagian bantuan sosial tersebut harus difokuskan kepada:
a. Kelompok rumah tangga yang selama ini tercatat menerima bantuan sosial (dapat menggunakan data penerima raskin, data penerima Kartu Indonesia Sehat, data penduduk miskin di daerah),
b. Kelompok rumah tangga dengan KK yang sudah pensiun (dapat menggunakan data penerima gaji pensiun tetapi hal ini sangat tidak merata),
c. Kelompok rumah tangga berpendapatan rendah yang memiliki anak usia <15 tahun,
d. Kelompok wanita berpendapatan rendah yang sedang hamil dan perlu dicukupkan nutrisinya,
e. Kelompok lansia yang perlu dicukupkan nutrisinya, f. Kelompok pekerja harian/informal.
3.2.4. Keuangan dan Pajak
1. Untuk menjaga daya beli masyarakat sebagai dampak perlambatan putaran roda ekonomi, pemerintah dituntut untuk dapat mengurangi beban biaya yang secara langsung dalam kendali pemerintah, di antaranya tarif dasar listrik, BBM, dan air bersih.
31 2. Kebijakan pemerintah yang melakukan relaksasi Pajak Penghasilan baik pekerja industri manufaktur (penghapusan PPh 21 selama enam bulan) ataupun pajak badan untuk industri manufaktur (pembebasan PPh Impor 22 dan diskon PPh 25 sebesar 30%) untuk Koperasi dan UMKM.
3. Relaksasi kredit sebagai stimulus fiskal untuk mendorong produksi pada sektor manufaktur dimana terdapat banyak lapangan pekerjaan.
Ini secara langsung memberikan pendapatan bagi pekerja yang terdampak.
4. Memberlakukan kebijakan jangka pendek, dengan tetap memperhatikan kebijakan jangka panjang yang bersifat struktural.
Pengoptimalan Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang memperhatikan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam hal pemberian berupa uang pelatihan vokasi, dan akses pekerjaan baru selain perlunya melakukan relaksasi bagi kebijakan impor bahan baku kebutuhan industri.
3.2.5. Hotel dan Pariwisata 1. Periode Bencana
a. Kebijakan Perbankan (Restrukturisasi)
b. Pemerintah Memberi Stimulus Pinjaman Tanpa Agunan Dengan Bunga Rendah Untuk Kategori UMKM Dan BLT Kepada Karyawan Yang Sudah Di Rumahkan Agar Tidak Terjadi Phk
c. Keringanan Pembayaran Listrik, Air , BPJS Dan Lainya d. Relaksasi Pajak
e. Mengalihkan Dana Promosi Pariwisata Ke Promosi Tepat Sasaran 2. Periode Pemulihan
a. Kesiapan seluruh industri pariwisata jateng, dari sarpras aksesibelitas, anenitas, atraksi dengan cara steerilisasi dan
32 peralatan kesehatan untuk meyakinkan wisatawan agar aman saat berkunjung.
b. Mendorong pemerintah merealisasikan kerjasama yang sudah ada antar kabupaten, provinsi dengan perda, dengan tujuan menggerakan aktivitas kunjungan baik wisata maupun mice
c. Promosi lewat digital promotion maupun convensional. dll,
3.2.6. Transportasi
1. Pemerintah diharapkan memberikan berbagai insentif bagi usaha transportasi umum agar dapat mempertahankan bisnisnya. Beberapa insentif yang bisa diberikan diantaranya penangguhan sementara pajak kendaraan bermotor, pajak penghasilan, cicilan kredit kepada perbankan maupun lembaga keuangan lainnya dan penangguhan sementara retribusi-retribusi lainnya selama enam hingga 12 bulan ke depan.
2. Ketika kondisi wabah corona ini masih ada maka perlu ada dukungan pemerintah pada usaha-usaha transportasi darat supaya bisnis ini tidak akan benar-benar jatuh.