BAB II LANDASAN TEORI
B. Paradigma Pedagogi Reflektif
1. Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)
Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata paradigma adalah suatu kerangka berpikir atau model dari teori ilmu pengetahuan/perubahan model. Pengertian paradigma dalam hal ini dapat diartikan sebagai sebuah model atau pendekatan dalam proses pembelajaran. Pedagogi artinya cara pengajar mendamping peserta didik dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pedagogi mempunyai pengertian yang lebih luas karena meliputi pandangan hidup dan visi mengenai idealnya seorang peserta didik sehingga akan mencakup arah dan tujuan semua aspek pendidikan.
Istilah reflektif dipakai dalam arti menyimak kembali dengan penuh perhatian bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan agar dapat menangkap maknanya secara lebih mendalam. Refleksi mengandung pengertian sebuah proses yang mampu memunculkan makna dalam pengalaman manusiawi. Refleksi berkaitan erat dengan pengalaman batin seseorang untuk menemukan nilai-nilai hidup yang hakiki. Refleksi juga merupakan proses yang membentuk karakter/kepribadian dan melahirkan kebebasan dalam penentuan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Proses refleksi akan membentuk suara hati seperti: keyakinan, nilai, sikap, dan seluruh cara bernalar peserta didik sedemikian rupa sehingga peserta didik diantar
dengan baik dalam melewati tahap mengerti ke tahap berbuat sesuai dengan pengertian dan kemampuannya.
Pendidikan sesungguhnya memiliki tujuan yang luhur, tetapi pada kenyataannya tidak menghasilkan orang yang seperti diharapkan. Kebanyakan peserta didik hanya menguasai teori tetapi kurang bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang cerdas intelektualnya belum tentu berhasil dalam kehidupannya, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan uraian tersebut di bawah ini diuraikan mengenai tujuan PPR bagi pendidik dan peserta didik.
a. Tujuan PPR bagi pendidik
Tujuan PPR bagi pendidik, yaitu membantu para pendidik untuk:
1) Semakin memahami peserta didik
2) Semakin bersedia mendampingi perkembangannya 3) Semakin lebih baik dalam menyajikan materi ajarnya 4) Memperhatikan kaitan perkembangan intelektual dan moral 5) Mengadaptasi materi dan metode ajar demi tujuan
pendidikan
6) Mengembangkan daya reflektif terkait dengan pengalaman sebagai pendidik, pengajar, dan pendamping.
b. Tujuan PPR bagi peserta didik
Tujuan PPR bagi peserta didik, yaitu membantu peserta didik untuk menjadi:
1) Manusia bagi sesama 2) Manusia yang utuh
3) Manusia yang secara intelektual berkompeten, terbuka untuk pengembangan religius
4) Manusia yang sanggup mencintai dan dicintai
5) Manusia yang berkomitmen untuk menegakkan keadilan dalam pelayanannya pada orang lain (umat Allah)
6) Manusia yang berkompeten dan berhati nurani
7) Membentuk pemimpin pelayanan, dengan meniru Yesus Kristus
2. Langkah-langkah Pembelajaran dalam PPR
Dalam PPR proses pengembangan nilai kemanusiaan ditumbuhkan melalui pengalaman, refleksi, aksi, evaluasi, dan konteks. Proses belajar disemangati oleh suasana perhatian pada setiap pribadi dan peran pendidik hanyalah sebagai fasilitator. Perhatian pada setiap pribadi menjiwai proses pembelajaran berpola PPR karena menganggap setiap anak adalah unik, pribadi yang bernilai. Dia adalah subyek pembelajar bukan obyek. Dalam situasi apapun berhak untuk dihargai dan mendapatkan rasa hormat.
Pendidik bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan, pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, dan
para ahli. Peserta didik sendirilah yang aktif belajar menemukan kebenaran. Sebagai fasilitator, seorang pendidik berperan untuk menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung. Pendidik juga hendaknya hadir memberikan stimulasi, memotivasi, dan meneguhkan usaha peserta didik untuk belajar.
Dinamika Pembelajaran PPR: a. Konteks
Secara sederhana konteks dapat diartikan sebagai kesiapan murid untuk belajar. Konteks dapat berupa segala kemungkinan yang dapat membantu/menghalangi proses pembelajaran dan perkembangannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan kesadaran konteks belajar yaitu :
1) Kehidupan peserta didik, meliputi keluarga, kelompok teman sebaya, keadaan sosial, ekonomi, musik, media, dan kenyataan hidup yang lain.
2) Keadaan sosio-ekonomis dan politik yang menjadi lingkup kehidupan peserta didik.
3) Suasana sekolah, yang meliputi norma-norma, harapan, relasi antar warga sekolah yang menciptakan suasana kehidupan sekolah. Suasana sekolah yang positif untuk proses belajar ditandai dengan adanya: perhatian terhadap mutu akademik, saling mempercayai, saling menghargai, saling membantu, kompetisi yang sehat, dorongan untuk menjadi lebih baik.
4) Pengertian, keyakinan, sikap, dan nilai yang dibawa seorang peserta didik. Pendidik berusaha membantu peserta didik menyadari hal-hal dalam diri mereka yang dibawa ke sekolah. b. Pengalaman
PPR ingin agar peserta didik sungguh-sungguh mengalami proses belajar, yang melibatkan aktivitas otak, hati, tubuh (indera), dan kehendak. Informasi diterima indera, kemudian diolah otak dengan melibatkan perasaan yang kemudian memunculkan kehendak. Kerja pikiran dalam mengolah informasi diperlancar melalui pertanyaan, penyelidikan, dan usaha menemukan hubungan-hubungan yang ada.
Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa para peserta didik datang ke sekolah sudah dengan membawa pengalaman mereka sendiri. Pendidik hendaknya membantu peserta didik menyadari pengalaman yang sudah mereka miliki kemudian pendidik merangsang dan mendorong mereka untuk mengolah pengalaman baru hasil interaksi kegiatan balajar.
Pengalaman ada dua jenis, yaitu langsung dan tidak langsung. Pengalaman tidak langsung misalnya kegiatan di ruang kelas, membaca buku, melihat gambar, mencermati peta, menonton film, berdiskusi, dan sebagainya. Pengalaman langsung misalnya: kerja praktikum, mengerjakan tugas lapangan, berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, melakukan kunjungan, mengadakan wawancara, dan sebagainya.
Pengalaman belajar dapat diperoleh melalui: prapelajaran, pertanyaan-pertanyaan, aktivitas sendiri, pemecahan masalah, belajar bersama, berpikir kreatif, drama, tutorial teman.
c. Refleksi
Pada dasarnya refleksi berarti meninjau kembali pengalaman, topik tertentu, gagasan, reaksi , spontan maupun yang direncanakan dari pelbagai sudut pandang secara rasional dengan tujuan agar semakin mampu memahami maknanya secara penuh. Melalui refleksi kita berusaha menangkap makna yang lebih dalam dari suatu pengalaman. Refleksi yang benar selalu mengarahkan kita ke masa depan, yakni pembentukan sikap, pola pikir, dan perilaku baru untuk waktu-waktu selanjutnya.
Tujuan refleksi dalam PPR adalah membentuk hati yang peka dan peduli, internalisasi nilai-nilai, membangun hasrat, dan sikap. Dengan itu semua kita berharap peserta didik terdorong untuk memulai perilaku baru sesuai dengan kesadaran-kesadaran yang diperoleh selama proses belajar.
Refleksi meningkatkan perkembangan emosi, pengetahuan, kesadaran nilai, rasa sosial, spiritualitas, kemandirian, kebebasan, dan keteguhan dalam mengambil keputusan. Kemampuan manusiawi yang diperlukan dalam refleksi adalah kesadaran diri, hati nurani, imajinasi, pikiran, ingatan, dan perasaan. Refleksi merupakan suatu proses yang memunculkan makna dalam setiap pengalamannya. Hal itu dapat
dilakukan dengan melalui cara, memulai memahami siapa dirinya dan bagaimana seharusnya bersikap.
Buah refleksi adalah kehendak, yakni dorongan dari dalam untuk melakukan sesuatu. Melalui refleksi kita berharap terjadi perubahan perilaku atau terbentuknya perilaku baru. Refleksi yang benar selalu mengarah kepada aksi, tindakan.
d. Aksi
Aksi dalam PPR berarti perilaku yang mencerminkan pertumbuhan batin berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan. Pembentukan aksi dimulai dengan membuat pilihan dalam batin, dan selanjutnya adalah mewujudkan putusan batin tersebut dalam tindakan. Pada tahap ini peserta didik mengalami perubahan sikap, terjadi pola pikir baru, dan meengembangkan perilaku berdasarkan putusan batinnya itu.
Prinsip yang perlu pendidik pegang adalah berpikir besar dan melaksanakannya dari yang kecil. Peran pendidik adalah mendampingi, menguatkan, dan meneguhkan sehingga perilaku yang ingin dikembangkan itu sungguh tertanam dalam diri peserta didik. e. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan untuk mengetahui kemajuan yang dicapai dalam proses pembelajaran baik peserta didik maupun pendidik. Dalam PPR penilaian tidak hanya untuk mengetahui kemajuan akademiknya saja, tetapi memperhatikan pada pertumbuhan
peserta didik secara menyeluruh sebagai makhluk pribadi maupun sosial. Untuk itu pendidik dituntut mempertimbangkan umur, bakat, kemampuan, dan tingkat perkembangan pribadi setiap peserta didik.
Dalam sebuah kegiatan penilaian sangat baik jika terjadi hubungan saling percaya dan saling menghargai antara pendidik dan peserta didik. Saat penilaian merupakan saat yang baik untuk menyemangati peserta didik maupun mendorong peserta didik menyimak kembali hal-hal yang telah dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bijaksana, memunculkan sudut pandang lain, memberikan informasi yang dibutuhkan, dan mengajak memandang masalah dari sudut pandang lain.
Jadi, dengan adanya evaluasi peserta didik dapat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya secara menyeluruh mencakup pemahaman, sikap, prioritas-prioritas dan kegiatan yang selaras dengan menjadi manusia demi orang lain. Bagi pendidik evaluasi bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana proses belajar yang disampaikan membantu peserta didik dapat memahami dan menilai pengalaman mereka, pembentukan nilai-nilai dan menjadi pelaku perubahan pola pikir, sikap, dan tindakan sosial.
Dari uraian tentang unsur-unsur dinamika pembelajaran berpola Paradigma Pedagogi Reflektif di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran
ditunjukkan dengan adanya kegiatan-kegiatan sebagai berikut (Susento,2010):
1) Pendidik menyesuaikan nilai kemanusiaan yang akan ditumbuhkan dengan konteks peserta didik dan materi pelajaran;
2) Peserta didik mengalami nilai kemanusiaan dalam kegiatan pembelajaran;
3) Peserta didik merefleksikan pengalaman terkait dengan nilai kemanusiaan;
4) Peserta didik membangun niat atau melakukan aksi untuk mewujudkan nilai kemanusiaan;
5) Pendidik mengevaluasi proses belajar nilai kemanusiaan pada diri para peserta didik.
PPR dalam pelaksanaannya meliputi lima aspek yakni: (1) Memerhatikan konteks peserta didik antara lain dari aspek akademis, spiritual, psikis, fisik, budaya, ekonomi. (2) Mengajak peserta didik masuk dalam pengalaman belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. (3) Mengajak peserta didik berefleksi untuk menemukan maksud, tujuan, nilai, makna dan manfaat dari pengalaman belajar. (4) Melaksanakan apa yang disadari dalam refleksi sebagai hal yang baik, benar, dan bermanfaat dalam perbuatan nyata. (5) Melaksanakan evaluasi untuk mengukur keberhasilan akademis dan perkembangan kepribadiaan peserta didik. (Subagya, dkk: 2008:41-44).
Keunggulan PPR adalah menjadikan para peserta didik dan pendidik saling belajar mengembangkan kompetensi secara utuh (competence), saling mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani (conscience) dan saling terlibat dengan penuh bela rasa bagi sesama (compassion).