• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Paradigma Teoritis

Komitmen Pernikahan Pada Pasangan Batak Toba yang Tidak Memiliki Anak

Laki-Laki Pernikahan

Nilai Budaya

Batak Toba

Melanjutkan keturunan laki-laki

Perceraian

Komitmen Pernikahan

Personal Moral Struktural

Faktor yang Mempengaruhi:

1. Tingkat Kepuasan 2. Kualitas Alternatif 3. Ukuran Investasi

Keterangan:

Mempengaruhi/dipengaruhi

Berhubungan

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode ilmiah merupakan suatu cara untuk menerapkan prinsip logis terhadap suatu penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran atau suatu cara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran ilmu agar memecahkan masalah (Almack, dalam Siregar, 2013). Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang melakukan analisis hanya pada taraf deskriptif dimana hanya terbatas pada penggambaran data secara faktual. Data akan diolah dan disajikan secara ringkas serta sistematik sehingga mudah untuk dibaca, dipahami, dan disimpulkan (Azwar, 2017).

A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Variabel adalah konsep yang memiliki variasi nilai. Variabel juga merupakan suatu konsep, proposisi, atau objek yang memiliki berbagai nilai didalamnya. Variabel juga diartikan sebagi suatu sifat kasus yang memiliki lebih dari satu kategori (Yusuf, 2014). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah komitmen pernikahan.

B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN

Definisi operasional merupakan suatu batasan yang diberikan kepada variabel-variabel yang akan diteliti untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian dari variabel itu sendiri. (Notoatmodjo, 2010). Definisi operasional

niat dan keinginan yang dirasakan oleh pasangan untuk tetap bertahan dan melanjutkan hubungan secara personal, moral, dan struktural. Secara personal adalah keinginan individu untuk bertahan terhadap pasangannya. Secara moral berarti individu ingin bertahan terhadap pasangannya karena merasakan memiliki kewajiban secara moral. Secara struktural dimana individu ingin bertahan terhadap pasangannya karena merasa ada hambatan untuk meninggalkan pasangan.

Komitmen pernikahan akan diukur menggunakan skala komitmen pernikahan yang disusun berdasarkan aspek komitmen pernikahan oleh Johnson dan koleganya (1999). Penilaian pengukuran pada skala komitmen pernikahan adalah tinggi atau rendahnya tingkat komitmen pernikahan. Hasil penilaian dari komitmen perikahan diperoleh dari skor total pada skala komitmen pernikahan.

Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala komitmen pernikahan maka semakin tinggi komitmen pernikahan pada pasangan suami-istri. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh dari skala komitmen pernikahan maka semakin rendah komitmen pernikahan pasangan suami-istri.

C. SAMPEL DAN POPULASI PENELITIAN 1. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan kelompok subjek yang akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian yang harus memiliki beberapa ciri atau karakteristik bersama yang dapat membedakannya dengan subjek lainnya (Azwar, 2017). Populasi pada penelitian ini merupakan jenis populasi indefinite. Populasi indifinite merupakan objek penelitian yang tak terbatas atau sulit dihitung jumlahnya (Yusuf, 2014).

35

Karena keterbatasan peneliti untuk menjangkau seluruh populasi maka peneliti hanya akan mengambil sebagian dari populasi. Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dipilih dan akan mewakili populasi tersebut dan memiliki karakteristik yang sama dengan populasi (Yusuf, 2014). Azwar (2012a) menyatakan bahwa secara tradisional, statistik menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak. Dalam penelitian ini, jumlah total sampel adalah 100 orang yang merupakan suami dan istri dengan kriteria yang sesuai.

Karakteristik populasi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Suami dan istri dengan latar belakang etnis Batak Toba.

b. Tidak memiliki anak laki-laki. Hal ini berhubungan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian dimana ketiadaan keturunan laki-laki dalam keluarga Batak Toba merupakan alasan terbesar terjadinya perceraian.

c. Tidak berencana untuk memiliki anak lagi. Hal ini dikarenakan oleh tujuan penelitian untuk melihat komitmen pernikahan pada individu Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki. Sehingga apabila pasangan masih berencana memiliki anak lagi terdapat kemungkinan pasangan tersebut memperoleh anak laki-laki.

2. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel atau yang biasa disebut dengan teknik sampling merupakan suatu cara atau teknik tertentu yang digunakan dalam mengambil sampel, sehingga sampel tersebut sebisa mungkin mewakili populasinya (Notoatmodjo, 2010). Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling merupakan cara

pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil responden untuk dijadikan sampel berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu (Siregar, 2013).

Sehingga pengambilan sampel dilakukan oleh peneliti dengan cara mengambil dari perkumpulan atau organisasi yang berisi orang-orang dengan etnis Batak Toba.

D. ALAT UKUR PENELITIAN

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mendapatkan, mengolah, dan menginterpretasikan informasi dari responden dengan menggunakan pola ukur yang sama (Siregar, 2013). Alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala. Skala merupakan suatu perangkat pertanyaan yang disusun untuk mengungkap suatu atribut dengan respon yang diberikan terhadap pertanyaan tersebut (Azwar, 2012a). Teknik skala dapat memberikan hasil yang cukup berarti apabila peneliti dapat memilih jenis skala yang sesuai dengan jenis data yang akan dikumpulkan dan tujuan penelitian yang ada (Yusuf, 2014).

Skala yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala komitmen pernikahan yang disusun berdasarkan aspek komitmen pernikahan oleh Jonhson dan koleganya (1999). Skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek yang membentuk komitmen pernikahan personal, moral, dan struktural. Skala ini memberikan lima pilihan jawaban yaitu, sangat setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Distribusi item dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

37

Tabel 3.1. Blueprint Alat Ukur Komitmen Pernikahan

Aspek Indikator Keterangan Item

Perso-nal

Love (Daya Tarik

Pasangan)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa tertarik dengan pasangan.

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa tertarik bukan hanya pada pasangan, namun juga

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa menjadi pasangan (suami/istri) merupakan identitas

Ingin terus menjalin hubungan karena memiliki nilai-nilai

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa memiliki tanggung

Ingin terus menjalin hubungan karena memiliki nilai konsistensi.

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa akan kehilangan alternatif yang ada.

3, 15, 23, 31

Social Pressure (Tekanan Sosial)

Ingin terus menjalin hubungan karena tidak disetujui oleh orang-orang terdekat untuk bercerai. merasa bahwa perceraian akan membuat segala hal dalam pernikahan menjadi sia-sia.

12, 16, 24, 39

E. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Validitas Alat Ukur

Validitas memiliki arti sejauhmana suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya dan dikatakan tinggi apabila dapat menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang diukur seperti tujuan pengukuran yang dikehendaki (Azwar, 2012b). Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content). Haynes dan koleganya (1995) mengatakan bahwa validitas isi merupakan sejauhmana elemen-elemen pada suatu intrumen ukur benar-benar relevan dan merupakan representasi konstrak yang sesuai dengan tujuan pengukuran. Ley (2007) mengatakan bahwa validitas isi merupakan kelayakan suatu tes sebagai sampel dari domain aitem yang akan diukur (dalam Azwar, 2012b). Validitas isi akan membutuhkan penggunaan professional judgement. Professional judgement yang akan dilakukan adalah dengan berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

2. Reliabilitas Alat Ukur

Reliabilitas adalah suatu pengukuran yang dapat menghasilkan data yang konsisten, stabil, yang dilihat dari sejauhmana hasil dari suatu proses pengukuran dapat dipercaya. Dikatakan dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama akan diperoleh hasil yang kurang lebih sama, selama aspek yang diukur memang belum berubah (Azwar, 2012b). Pendekatan reliabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konsistensi internal.

39

Konsistensi internal memiliki makna konsistensi diantara aitem dalam tes sebagai indikasi bahwa tes tersebut berfungsi sebagai pengukuran yang reliabel.

Estimasi reliabilitas dapat dilakukan dengan analisis pada distribusi skor aitem atau kelompok aitem. Pendekatan konsistensi internal juga dianggap praktis karena hanya dengan satu kali pengenaan tes akan memperoleh distibusi skor tes (Azwar, 2012b). Pengujian reliabilitas akan menggunakan pengolahan data statistik.

3. Uji Beda Daya Aitem

Daya beda aitem merupakan sejauhmana aitem dapat membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Hal ini diukur dengan cara menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala dan akan dihasilkan koefisien korelasi aitem-total. Pemilihan aitem akan dilakukan berdasarkan pada koefisien korelasi aitem-total yang diperoleh (Azwar, 2012b).

F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR

Uji coba alat ukur dilakukan dengan analisis daya diskriminasi aitem dan akan menggunakan pengolahan data statistik. Analisis daya diskriminasi aitem akan menggunakan batasan rix ≥ 0.30, sehingga aitem yang memiliki koefisien korelasi di atas 0.30 dianggap memuaskan. Azwar (2012a) berpendapat bahwa sebagai kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total biasanya akan menggunakan batasan di atas 0.30, semua aitem yang mencapai nilai koefisien korelasi minimal sebesar 0.30 dianggap memiliki daya beda yang memuaskan.

Setelah dilakukan uji coba, diperoleh bahwa terdapat beberapa aitem yang memiliki koefisien korelasi total dibawah 0.30. Berdasarkan hasil uji coba, diperoleh bahwa dari 40 aitem yang telah disusun terdapat 31 aitem yang memiliki nilai koefisien korelasi total di atas 0.30 dengan rentang nilai sebesar 0.318 sampai dengan 0.768, dan 9 aitem dengan nilai koefisien korelasi total di bawah 0.30. Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan juga diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0.900 dari skala komitmen pernikahan tersebut.

Berdasarkan hasil uji coba alat ukur, peneliti mengambil 28 aitem dari 31 aitem yang memiliki nilai koefisien korelasi total di atas 0.30. Pengurangan aitem dilakukan agar setiap aspek memiliki jumlah aitem yang tidak jauh berbeda.

Analisis statistik yang dilakukan terhadap 28 aitem diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0.938. Sehingga dalam penelitian yang sebenarnya, alat ukur yang digunakan adalah alat ukur komitmen pernikahan yang disusun berdasarkan aspek komitmen pernikahan oleh Johnson dan koleganya (1999) dengan jumlah aitem 28 butir. Berikut adalah blue print alat ukur komitmen pernikahan yang digunakan dalam penelitian:

Tabel 3.2. Blueprint Alat Ukur Komitmen Pernikahan yang Digunakan dalam Penelitian

Aspek Indikator Keterangan Item

Personal Love

(Daya Tarik Pasangan)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa tertarik dengan pasangan.

1, 8, 22

Marital Satisfaction (Daya Tarik

Hubungan)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa tertarik bukan hanya pada pasangan, namun juga pada hubungan yang dijalani.

4, 17, 25

41

Couple Identity (Identitas Pasangan)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa menjadi

Ingin terus menjalin hubungan karena memiliki nilai-nilai tersendiri terhadap perceraian.

2, 14, 23

Partner Contract (Kontrak Pasangan)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa memiliki

Ingin terus menjalin hubungan karena memiliki nilai konsistensi.

6, 12, 20

Struktural Alternatives (Alternatif)

Ingin terus menjalin hubungan karena merasa akan kehilangan alternatif yang ada.

3, 10, 15

Social Pressure (Tekanan Sosial)

Ingin terus menjalin hubungan karena tidak disetujui oleh orang-orang terdekat untuk merasa bahwa perceraian akan membuat segala hal dalam penelitian, (2) Tahap pelaksanaan penelitian, dan (3) tahap pengolahan data.

1. Tahap Persiapan Penelitian

Tahap persiapan yang dilakukan oleh peneliti adalah : a. Pembuatan Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan skala komitmen pernikahan. Penyusunan skala dimulai dengan membuat blue-print dan kemudian dioperasionalkan ke dalam bentuk aitem.

b. Uji Coba Alat Ukur

Setelah penyusunan alat ukur selesai, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji coba alat ukur.

c. Revisi Alat Ukur

Hasil dari uji coba alat ukur akan digunakan untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya. Kemudian peneliti akan menyusun kembali alat ukur yang akan digunakan untuk penelitian yang sebenarnya.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Tahap pelaksanaan penelitian adalah tahap dimana peneliti menyebarkan skala kepada responden untuk di isi. Skala diberikan dalam bentuk hardcopy dan secara langsung kepada responden oleh peneliti.

3. Tahap Pengolahan Data

Setelah data telah terkumpul maka akan dilakukan pengolahan data.

Pengolahan data dilakukan menggunakan pengolahan data statistik.

43

H. METODE ANALISIS DATA

Data akan dianalisis secara kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif.

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang melakukan analisis hanya pada taraf deskriptif dimana hanya terbatas pada penggambaran data secara faktual. Data akan diolah dan disajikan secara ringkas serta sistematik sehingga mudah untuk dibaca, dipahami, dan disimpulkan (Azwar, 2017). Data yang akan diolah untuk menentukan skor maksimum dan minimum, mean, serta standar deviasi. Data yang diperoleh juga akan digunakan untuk mengkategorisasikan sesuai dengan kategorisasi yang ada. Analisis data yang dilakukan akan menggunakan pengolahan data statistik.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yang terdiri dari suami dan istri beretnis Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki dengan rentang usia 24-65 tahun. Subjek penelitian akan dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, agama, dan usia.

1. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, maka penyebaran subjek dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.1. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin N Persentase

Laki-laki 50 50%

Perempuan 50 50%

Total 100 100%

Berdasarkan tabel 4.1., dapat diketahui bahwa subjek penelitian dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 50 orang (50%) dan subjek penelitian dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 50 orang (50%).

2. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Agama

Jika dilihat berdasarkan agama yang dianut, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 4.2. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Agama

Agama N Persentase

Islam 30 30%

Kristen Katolik 2 2%

Kristem Protestan 68 68%

Total 100 100%

45

Berdasarkan tabel 4.2., dapat diketahui bahwa subjek yang menganut agama Kristen Protestan merupakan jumlah terbanyak, yaitu 68 orang (68%).

Selanjutnya disusul oleh jumlah subjek yang menganut agama Islam, yaitu sebanyak 30 orang (30%). Subjek dengan jumlah terkecil adalah subjek yang menganut agama Kristen Katolik, yaitu sebanyak 2 orang (2%).

3. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Usia

Jika dilihat berdasarkan usia, maka penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 4.3. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Usia

Usia N Persentase

Dewasa awal 16 16%

Dewasa menengah 82 82%

Dewasa akhir 2 2%

Total 100 100%

Berdasarkan tabel 4.3., dapat diketahui bahwa subjek penelitian yang paling banyak adalah yang berada pada usia masa dewasa menengah (40-60 tahun), yaitu sebanyak 82 orang (82%). Subjek yang berada pada usia dewasa awal (18-40) menyusul dengan jumlah subjek sebanyak 16 orang (16%). Subjek dengan jumlah paling sedikit berada pada usia dewasa akhir (diatas 60 tahun), yaitu sebanyak 2 orang (2%).

B. Hasil Utama Penelitian

Hasil utama penelitian ini akan menggambarkan komitmen pernikahan secara umum serta berdasarkan aspek-aspek komitmen pernikahan pada individu Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki.

1. Gambaran Komitmen Pernikahan Secara Umum

Gambaran komitmen pernikahan pada individu Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki secara umum dapat dilihat berdasarkan skor mean, standar deviasi, skor minimum, dan skor maksimum dari skor skala komitmen pernikahan. Berikut merupakan tabel nilai empirik dan nilai hipotetik pada subjek penelitian:

Tabel 4.4. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Komitmen Pernikahan

Variabel Nilai Empirik Nilai Hipotetik

Komitmen

Berdasarkan tabel 4.4., dapat diketahui bahwa skor minimum komitmen pernikahan dari 100 subjek penelitian adalah sebesar 85 dan skor maksimum adalah 140. Data pada tabel juga menunjukkan bahwa mean empirik dari komitmen pernikahan adalah sebesar 118.81 dengan standar deviasi sebesar 11.15. Berdasarkan tabel juga dapat diketahui bahwa mean hipotetik dari komitmen pernikahan adalah sebesar 84 dengan standar deviasi sebesar 18.67.

Selanjutnya subjek akan dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu komitmen pernikahan tinggi, sedang, dan rendah. Pengelompokan komitmen pernikahan subjek penelitian dilakukan dengan pengkategorian sesuai yang tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.5. Kategori Norma Nilai Komitmen Pernikahan

Variabel Rentang Nilai Kategori Komitmen

47

Berdasarkan kategorisasi norma komitmen pernikahan pada tabel 4.5, maka diperoleh pengelompokan komitmen pernikahan seperti yang tertera pada tabel berikut:

Tabel 4.6. Pengelompokan Komitmen Pernikahan Subjek

Rentang Skor Kategori N Persentase

X < 65.33 Rendah 0 0%

65.33 ≤ X ≤ 102.67

Sedang 8 8%

X > 102.67 Tinggi 92 92%

Berdasarkan tabel 4.6., dapat diketahui bahwa dari 100 orang subjek penelitian, sebanyak 92 orang (92%) memiliki komitmen pernikahan yang tinggi, 8 orang (8%) memiliki komitmen pernikahan yang sedang, dan tidak ada yang berada pada kategori komitmen pernikahan rendah.

2. Gambaran Komitmen Pernikahan Berdasarkan Aspek

Gambaran komitmen pernikahan pada individu Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki secara umum juga dapat dilihat dari skor mean, standar deviasi, skor maksimum, dan skor minimum dari skor aspek komitmen pernikahan. Adapun aspek dari komitmen pernikahan adalah, personal, moral, dan struktural.

a. Gambaran Komitmen Pernikahan Berdasarkan Aspek Personal

Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan nilai empirik dan nilai hipotetik pada subjek penelitian:

Tabel 4.7. Nilai Empirik dan Hipotetik Komitmen Pernikahan Pada Aspek Personal

Empirik Hipotetik

Skor Skor Mean SD Skor Skor Mean SD

Maks Min Maks Min

45 26 39.6 4.04 45 9 27 6

Berdasarkan tabel 4.7., dapat diketahui bahwa skor minimum pada aspek personal dari 100 subjek penelitian adalah sebesar 26 dan skor maksimum sebesar 45. Data pada tabel juga menunjukkan bahwa mean empirik dari aspek personal komitmen pernikahan adalah sebesar 39.6 dengan standar deviasi sebesar 4.04.

Nilai mean hipotetik diketahui bahwa sebesar 27 dengan standar deviasi sebesar 6.

Pengelompokan komitmen pernikahan berdasarkan aspek personal adalah seperti yang tertera di tabel berikut:

Tabel 4.8. Pengelompokan Aspek Personal

Rentang Skor Kategori N Persentase

X < 21 Rendah 0 0%

21 ≤ X ≤ 33 Sedang 8 8%

X > 33 Tinggi 92 92%

Berdasarkan tabel 4.8., dapat diketahui bahwa berdasarkan aspek personal, dari 100 subjek penelitian terdapat 92 orang (92%) yang tergolong pada komitmen pernikahan tinggi, 8 orang (8%) pada komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada (0%) yang tergolong pada komitmen pernikahan rendah.

b. Gambaran Komitmen Pernikahan Berdasarkan Aspek Moral

Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan nilai empirik dan nilai hipotetik pada subjek penelitian:

Tabel 4.9. Nilai Empirik dan Hipotetik Komitmen Pernikahan Pada Aspek Moral

Empirik Hipotetik

Skor Skor Mean SD Skor Skor Mean SD

49

Maks Min Maks Min

40 24 34.57 3.35 40 8 24 5.33

Berdasarkan tabel 4.9., dapat diketahui bahwa skor minimum pada aspek moral dari 100 subjek penelitian adalah sebesar 24 dan skor maksimum sebesar 40. Data pada tabel juga menunjukkan bahwa mean empirik dari aspek moral komitmen pernikahan adalah sebesar 34.57 dengan standar deviasi sebesar 3.35.

Nilai mean hipotetik diketahui bahwa sebesar 24 dengan standar deviasi sebesar 5.33.

Pengelompokan komitmen pernikahan berdasarkan aspek moral adalah seperti yang tertera di tabel berikut:

Tabel 4.10. Pengelompokan Aspek Moral

Rentang Skor Kategori N Persentase

X < 18.67 Rendah 0 0%

18.67 ≤ X ≤ 29.33

Sedang 7 7%

X > 29.33 Tinggi 93 93%

Berdasarkan tabel 4.10., dapat diketahui bahwa berdasarkan aspek moral, dari 100 subjek penelitian terdapat 93 orang (93%) yang tergolong pada komitmen pernikahan tinggi, 7 orang (7%) pada komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada (0%) yang tergolong pada komitmen pernikahan rendah.

c. Gambaran Komitmen Pernikahan Berdasarkan Aspek Struktural

Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan nilai empirik dan nilai hipotetik pada subjek penelitian:

Tabel 4.11. Nilai Empirik dan Hipotetik Komitmen Pernikahan Pada Aspek moral komitmen pernikahan adalah sebesar 44.64 dengan standar deviasi sebesar 5.35. Nilai mean hipotetik diketahui bahwa sebesar 33 dengan standar deviasi sebesar 7.33.

Pengelompokan komitmen pernikahan berdasarkan aspek struktural adalah seperti yang tertera di tabel berikut:

Tabel 4.12. Pengelompokan Aspek Struktural

Rentang Skor Kategori N Persentase

X < 25.67 Rendah 0 0%

25.67 ≤ X ≤ 40.33

Sedang 21 21%

X > 40.33 Tinggi 79 79%

Berdasarkan tabel 4.12., dapat diketahui bahwa berdasarkan aspek struktural, dari 100 subjek penelitian terdapat 79 orang (79%) yang tergolong pada komitmen pernikahan tinggi, 21 orang (21%) pada komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada (0%) yang tergolong pada komitmen pernikahan rendah.

51

C. Hasil Tambahan

1. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Gambaran komitmen pernikahan pada subjek berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.13. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis

Kelamin N Persentase Mean Kategori

Tinggi Sedang Rendah

Laki-Laki 50 50% 117.34 43 7 0

Perempuan 50 50% 120.28 49 1 0

Berdasarkan tabel 4.13, dapat diketahui bahwa dari 50 orang (50%) subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi sebanyak 43 orang, 7 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan rendah.

Berdasarkan tabel 4.13. juga diketahui bahwa dari 50 orang (50%) subjek penelitian yang berjenis kelamin perempuan, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi sebanyak 49 orang, 1 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan rendah.

Data pada tabel juga menunjukkan skor mean subjek yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 117.34 dan 120.28 untuk subjek yang berjenis kelamin perempuan.

2. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Agama Gambaran komitmen pernikahan pada subjek berdasarkan agama yang dianut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.14. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Agama Agama N Persentase Mean

Kategori

Tinggi Sedang Rendah

Islam 30 30% 116.83 27 3 0

Kristen Protestan

68 68% 119.28 63 5 0

Kristen Katolik

2 2% 132,5 2 0 0

Berdasarkan tabel 4.14., dapat diketahui bahwa dari 30 orang (30%) subjek penelitian yang beragama Islam, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi terdapat sebanyak 27 orang, 3 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan rendah.

Berdasarkan tabel di atas juga diketahui bahwa dari 68 orang (68%) subjek penelitian yang beragama Kristen Protestan, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi ada sebanyak 63 orang, 5 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan rendah.

Kemudian, untuk subjek yang beragama Kristen Katolik yaitu sebanyak 2 orang (2%) dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi. Data pada tabel juga menunjukkan skor mean subjek yang beragama Islam sebesar 116.83, 119.28 untuk subjek yang beragama Kristen Protestan, dan 132,5 untuk subjek penelitian yang beragama Kristen Katolik.

3. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Usia

Gambaran komitmen pernikahan pada subjek berdasarkan rentang usia dapat dilihat pada tabel berikut:

53

Tabel 4.15. Gambaran Komitmen Pernikahan Subjek Berdasarkan Usia

Berdasarkan tabel 4.15., dapat diketahui bahwa dari 16 orang (16%) subjek penelitian yang berada pada usia dewasa awal, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi terdapat sebanyak 14 orang, 2 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen

Berdasarkan tabel 4.15., dapat diketahui bahwa dari 16 orang (16%) subjek penelitian yang berada pada usia dewasa awal, yang dikategorikan dalam komitmen pernikahan tinggi terdapat sebanyak 14 orang, 2 orang dalam komitmen pernikahan sedang, dan tidak ada yang dikategorikan dalam komitmen

Dokumen terkait