2.2. Kualitas Air
2.2.1. Parameter Kualitas Air 1. Parameter Fisika
2.2.1.3. Parameter Biologi
Fecal Coli dan Total Koliform. James dan Evison (1979) dalam Taufik (2003) menyatakan bahwa banyak parameter mikrobiologi yang dapat digunakan
10
untuk mengetahui kualitas air, sebagai contoh : jumlah total virus bakteri, bacteriophages, jamur (fungi), actinomycetes, protozoa, nemathoda dan alga. Namun untuk kemudahan, kecepatan dan ketepatan pada tes maka bakteri telah dihilangkan dalam penelaahan kualitas air. Oleh sebab itu, banyak metode standar dalam penelaahan kualitas air dipersempit pada jumlah maksimum dari indikator bakteri sebagai limbah fecal ( koliform, fecal koliform/Escherichia coli, fecal streptococcus dan Clostridium pertringeus). Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 air dengan kelas I maksimal mengandung fecal coliform 100 jml/100 ml, kelas II maksimal 1000 jml/100 ml, kelas III dan IV 2000 jml/100 ml.
2.2.2. Kriteria dan Baku Mutu Air
Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001). Baku mutu air ditetapkan pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan mencantumkan pembatasan konsentrasi dari berbagai parameter kualitas air. Baku mutu air berlaku untuk lingkungan perairan suatu badan air, sedangkan baku mutu limbah berlaku untuk limbah cair yang masuk ke perairan (Widiastuty, 2001).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 air diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu :
Kelas Satu : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas Dua : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
11
Kelas tiga : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk membudidayakan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau untuk keperluan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas empat : Air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama.
2.2.3.Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Air
Pencemaran Air. Pencemaran air dapat diartikan sebagai masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat atau energi, dan komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan (komposisi) air oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas air turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1988).
Ada tiga penyebab utama tercemarnya badan air, yaitu (1) peningkatan konsumsi atau penggunaan air sehubungan dengan peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, (2) terjadinya pemusatan penduduk dan industri diikuti buangan limbahnya, (3) rendahnya investasi sosial ekonomi dan sosial budaya untuk memperbaiki lingkungan hidup, seperti investasi untuk pembuatan sanitasi dan keperluan lain (Brown, 1987).
Menurut Hynes (1972) ada dua jenis sumber pencemar perairan, yaitu point source dan non point source. Point source adalah pencemaran yang dapat diketahui secara pasti sumbernya, misalnya limbah industri, sedangkan non point source adalah pencemaran yang tidak diketahui secara pasti sumbernya, yaitu pencemar yang masuk ke perairan bersama air hujan dan limpasan permukaan.
Tata Guna Lahan. Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989). Secara umum penggunaan lahan di Indonesia merupakan akibat nyata dari suatu proses yang lama dari adanya interaksi yang tetap, adanya keseimbangan, serta keadaan dinamis antara aktifitas-aktifitas
12
penduduk diatas lahan dan keterbatasan-keterbatasan di dalam lingkungan tempat hidup (As-syakur dkk., 2010).
Menurut Viessman et al., (1977), dalam Taufik (2003), perubahan penutupan lahan memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap aliran sungai dan karakteristik aliran permukaan DAS. Perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi kapasitas infiltrasi tanah dan perubahan penggunaan lahan yang merubah sifat atau ciri vegetasi dapat memberikan dampak penting waktu dan volume aliran. Perubahan penggunaan lahan dapat meningkatkan atau menurunkan volume aliran permukaan serta laju maksimum dan waktu aliran suatu DAS. Pada dasarnya tujuan yang ingin dicapai dengan pengelolaan vegetasi atau tata guna lahan adalah agar DAS secara keseluruhan dapat berperan atau memberikan manfaat sebesar-besarnya secara lestari bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup serta kesejahteraannya, sehingga selain dapat menampung perkembangan dan dinamika kegiatan ekonomi masyarakat setempat maka pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengantisipasi permasalahan yang mungkin terjadi.
Menurut Mahmudi (2002), kegiatan tata guna lahan yang bersifat merubah tipe atau jenis penutupan lahan dalam suatu DAS seringkali dapat memperbesar atau memperkecil hasil air, perubahan dari suatu jenis vegetasi ke jenis vegetasi lainnya adalah umum dalam pengelolaan sumberdaya alam. Penebangan hutan, perladangan berpindah, atau perubahan tata guna lahan hutan menjadi areal pertanian, padang rumput atau pemukiman adalah contoh yang sering dijumpai di daerah-daerah yang sedang tumbuh. Terjadinya perubahan tata guna lahan dan jenis vegetasi tersebut dalam skala besar dan bersifat permanen akan mempengaruhi besar kecilnya air pada sistem hidrologi. Perubahan atau perkembangan pola penggunaan lahan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor alami dan faktor manusia. Faktor alami antara lain tanah, air, iklim, pola musim dan land form, erosi dan kemiringan lahan. Faktor manusia berpengaruh lebih dominan dibanding faktor alami dan dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan pengaruh luar seperti kebijakan nasional dan internasional. Pengaruh penggunaan lahan terhadap aliran sungai utama erat kaitannya dengan fungsi vegetasi sebagai penutup lahan dan sumber bahan organik
13
yang dapat meningkatkan kapasitas infiltrasi. Disamping itu, secara fisik vegetasi akan menahan aliran permukaan dan meningkatkan surface detention dan depression storage (simpangan permukaan) sehingga menurunkan besar aliran sungai.
Manan (1997) mengemukakan, keberadaan hutan pada suatu DAS dapat mengurangi terjadinya erosi dan sedimentasi, sehingga dapat menghasilkan kualitas air yang tinggi. Luasan hutan dan perlakuan yang dilakukan dalam pengelolaannya, secara langsung akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang dihasilkan. Selain itu, perubahan lahan menjadi daerah pemukiman cenderung mengakibatkan dampak negatif, khususnya bila ditinjau dari laju erosi. Pada lahan terbuka terjadinya erosi tanah akan semakin tinggi, karena permukaan tanah yang tidak terlindung akan mengakibatkan air hujan yang jatuh ke tanah akan menggerus permukaan tanah lalu membawa hasil gerusan ke dalam badan perairan sehingga mutu perairan berubah.
14
III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2011 di Sub DAS Cisadane hulu (Gambar 2). Analisis contoh air dilakukan di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup - Institut Pertanian Bogor (PPLH-IPB) dan laboratorium fisika-kimia Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (ITSL) IPB.
3.2. Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol sampel, GPS (Global Positioning System), termometer, kertas lakmus, spidol, kertas label, serta alat-alat untuk mengukur kualitas air di lapangan, sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk analisis air di laboratorium adalah : aquades, dan bahan-bahan kimia lainnya yang sesuai dengan kebutuhan analisis. Alat yang digunakan antara lain oven, pipet, tabung reaksi, labu takar, timbangan sartorius, AAS, Spektrofotometer dan lain-lain.
3.3. Pelaksanaan Penelitian
3.3.1. Penetapan Lokasi
Penetapan lokasi pengambilan contoh air dilakukan berdasarkan komposisi jenis tanah dan penggunaan lahan yang berbeda dari hulu ke hilir, yaitu tepatnya di Desa Srogol, Cibalung, Pamoyanan, Mulyaharja dan Empang. Deskripsi lokasi pengambilan contoh air yaitu sebagai berikut :
1. Lokasi Srogol
Lokasi penelitian yang pertama yaitu pada ketinggian 525 m diatas permukaan laut (dpl), di daerah Srogol (106049’35,3”BT – 06044’56,1”LS), tepatnya di Kampung Pangarakan, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor (Gambar 2a). Lokasi ini merupakan daerah hulu Sungai Cisadane, rumah penduduk masih sedikit dan terdapat hutan, persawahan, pohon kelapa, pisang, dan bambu di sekitarnya. Gambar 1 menunjukkan situasi pengambilan contoh air di lokasi penelitian.
15
a. b.
c. d.
e.
Gambar 1. Situasi daerah pengamatan a. Srogol, b. Cibalung, c. Pamoyanan, d. Mulyaharja, dan e. Empang, Bogor.
2. Lokasi Cibalung
Lokasi kedua yaitu berada pada ketinggian 416 m dpl, tepatnya di Desa Cibalung (106048’85,9”BT – 06041’94,4”LS), Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor (Gambar 2b). Pada lokasi ini terdapat persawahan, pemukiman dan beberapa villa di sekitarnya.
16
3. Lokasi Pamoyanan
Lokasi ketiga berada berada di Pamoyanan (106048’61,8”BT –06038’26,6”LS), dengan ketinggian tempat 333 m dpl, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor (Gambar 2c). Pada lokasi ini berdekatan dengan peternakan ayam dan pemukiman cukup padat.
4. Lokasi Mulyaharja
Lokasi keempat berada di Bogor Nirwana Residen (BNR) (106047’91,3”BT – 06037’11,6”LS), tepatnya di Desa Mulyaharja, Kabupaten Bogor (Gambar 2d). Lokasi ini berada pada ketinggian 275 m dpl. Pada lokasi ini dijumpai ladang dan perumahan-perumahan.
5. Lokasi Empang
Lokasi terakhir yaitu berada pada ketinggian 273 m dpl, tepatnya di (106047’67,4”BT – 06036’67,9”LS), Kecamatan Taman Sari, Kota Bogor (Gambar 2e). Pada lokasi ini terdapat pemukiman yang padat, berdekatan dengan pasar tumpah dan pembuangan sampah serta kegiatan mandi cuci dan kakus (MCK).
3.3.2. Pengambilan Contoh Air
Pengambilan contoh air pada lokasi terpilih dilakukan dua kali yang mewakili debit rendah dan tinggi. Pengambilan contoh air sungai ketika debit rendah dilakukan saat tidak ada hujan yaitu tanggal 26 juli 2011. Disamping itu, diketahui bahwa cuaca enam hari berturut-turut sebelum dilakukan pengamatan dalam keadaan debit rendah atau tidak ada hujan (Sumber: BMKG, 2011). Selanjutnya, pengambilan contoh air ketika debit tinggi dilakukan pada tanggal 8 oktober 2011 yaitu sesaat sesudah hujan dengan data curah hujan 6.2 mm. Menurut Stasiun Pondok Gede Bogor, dua hari sebelum dilakukan pengamatan telah terjadi hujan dengan besaran curah hujan 16.5 dan 30 mm (Sumber: BMKG, 2011). Contoh air yang diambil di tiap lokasi pengamatan sebanyak kurang lebih 1.5 L. Kemudian, contoh air dianalisis terhadap sifat-sifat fisika dan kimianya. Peta lokasi pengambilan contoh air ditunjukkan pada Gambar 2.
17 Gambar 2. Peta lokasi pengambilan contoh air
3.3.3. Analisis Sifat-Sifat Air
Parameter kualitas air yang diamati yaitu parameter fisika dan kimia. Parameter fisika meliputi suhu dan total padatan tersuspensi (TSS), sedangkan parameter kimia meliputi pH, kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD), nitrat (NO3), fosfat (PO4) dan timbal (Pb). Analisis contoh air dilakukan di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB dan Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Parameter sifat-sifat fisik dan kimia air yang diamati beserta metode/alat yang digunakan berdasarkan Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (APHA, 1998) seperti disajikan pada Tabel 1.
18 Tabel 1. Parameter sifat-sifat fisik dan kimia air yang diamati beserta metode/alat yang digunakan (APHA,1998) dan tempat analisis/pengamatan.
Parameter Unit Alat/Metode Tempat
Fisika
Suhu 0C Thermometer/Pemuaian Lapang
TSS mg/l Filter/Gravimetrik Lab.
Kimia
pH - pH meter,Lakmus/Potensiometrik Lapang BOD mg/l Buret/Modifikasi Winkler dan Inkubasi Lab.
Nitrat mg/l N-Kjehdahl Lab.
Fosfat mg/l Spectronic 20 Lab.
Timbal mg/l AAS Lab.
3.3.4. Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan data pengamatan terhadap data standar baku mutu air menurut PP No. 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Lokasi Penelitian
4.1.1. Jaringan Sungai
Sungai Cisadane berhulu di Gunung Pangrango dan mengalir dari selatan menuju utara melewati Kabupaten Bogor (Kecamatan Nanggung, Caringin, Cijeruk, Ciomas, Ciampea, Rumpin, dan Cilangkap), Kabupaten Tangerang dan akhirnya bermuara di laut Jawa (Arwindrasti, 1997). Panjang Sungai Cisadane sekitar 140 km (PUSDI-PSL IPB, 1979 dalam Ben et al., 1994).
Sungai Cisadane merupakan sungai permanen, artinya sungai yang selalu berair sepanjang tahun. Sungai ini memiliki pola anak sungai dendritik Lahan di sepanjang aliran Sungai Cisadane tersebut banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk berbagai aktivitas (Reid, 1961).
4.1.2. Jenis tanah
Tanah di Sub DAS Cisadane hulu bervariasi, yang terdiri dari tujuh jenis tanah. Ketujuh jenis tanah ini membentuk delapan Satuan Peta Tanah (SPT) Luasan SPT pada lokasi penelitian tersaji pada Tabel 2, dan peta jenis tanah di lokasi penelitian Sub DAS Cisadane Hulu disajikan pada Gambar 3.
Tabel 2. Luasan Satuan Peta Tanah Sub DAS Cisadane Hulu
SPT Jenis Tanah Luas (Ha) %
1 Andic Humitropepts 4501 19,62
2 Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 7591 33,10 3 Asosiasi Typic Humitropepts-Typic Eutropepts 403 1,76 4 Asosiasi Typic Tropopsamments-Andic Humitropep 3725 16,24 5 Kompleks Typic Troporthents-Typic Fluvaquents 1683 7,34
6 Typic Eutropepts 1998 8,71
7 Typic Humitropepts 2487 10,84
8 Typic Tropopsamments 549 2,40
Total 22937 100
Sumber : Hasil dan analisis peta tanah 1 : 100.000 DAS Cisadane, Puslittanak (1992) diolah.
20 Gambar 3. Peta jenis tanah di lokasi penelitian Sub DAS Cisadane Hulu, Bogor.
Satuan Peta Tanah yang dominan pada Sub DAS Cisadane hulu adalah asosiasi Typic Hapludands (Andosol Coklat dan Andosol Kekuningan)- Typic Tropopsamments (Regosol Coklat dan Regosol Kekelabuan) yang memiliki luasan 33.10 persen dari total wilayah Sub DAS Cisadane.Tabel 3 menunjukkan komposisi jenis tanah pada tiap daerah tangkapan air.
Typic Hapludands (Andosol Coklat dan Andosol Kekuningan) terbentuk dari
tuf dan abu volkan intermedier. Tanah telah mempunyai perkembangan profil lemah, penampang tanah sedang sampai sangat dalam, lapisan atas kaya bahan organik berwarna coklat gelap sampai coklat kekuningan, tekstur sedang sampai agak kasar berpasir semu (pseudosand) dan berbatu. Lapisan bawah berwarna coklat hingga coklat kekuningan, struktur lemah granular, konsistensi smeary atau licin diantara jari-jari tangan, merupakan ciri utama pada tanah ini. Tingkat kesuburan cukup baik, terutama yang bertekstur sedang.
21
Typic Tropopsamments (Regosol Coklat dan Regosol Kekelabuan)
terbentuk dari endapan lahar terdiri dari abu dan pasir. Kedalaman tanah sedang sampai dalam, tekstur kasar (pasir, kerikil, dan batu). Tingkat kesuburan sedang. Jenis tanah ini sering dijumpai berasosiasi dengan tanah Latosol dan Andosol.
Typic Troporthents (Aluvial Coklat Kekelabuan) merupakan jenis tanah yang belum mengalami perkembangan struktur, terbentuk dari bahan endapan volkan muda terdiri dari abu, pasir, batu, tuf volkan atau campurannya. Penampang tanah bervariasi dari dalam sampai dangkal.
Typic Fluvaquents (Aluvial Kelabu) belum mengalami perkembangan
struktur, terbentuk dari bahan alluvium yang terdiri dari endapan liat, debu dan pasir atau campurannya. Penampang tanah berlapis dengan kedalaman bervariasi. Umumnya tanah ini berpotensi cukup baik untuk persawahan. Tanah ini setara dengan Aluvial Kelabu dan Aluvial Coklat Kekelabuan.
Tabel 3. Komposisi jenis tanah pada tiap titik pengamatan kualitas air.
Titik
Pengamatan Jenis Tanah
Komposisi (%)
Total (%)
Srogol Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 100 100 Cibalung Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 62.78
100
Andic Humitropepts 37.22
Pamoyanan Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 55.11
100
Andic Humitropepts 32.67
Kompleks Typic Troportheuts-Typic Fluvaquents 12.22 Mulyaharja Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 55.11
100
Andic Humitropepts 32.67
Kompleks Typic Troportheuts-Typic Fluvaquents 12.22 Empang Asosiasi Typic Hapludands-Typic Tropopsamments 53.54
100
Andic Humitropepts 31.74
Kompleks Typic Troportheuts-Typic Fluvaquents 11.87 Asosiasi Typic Humitropepts-Typic Eutropepts 2.85
Sumber : Hasil dan analisis peta tanah 1 : 100.000 DAS Cisadane, Puslittanak (1992) diolah.
22 Andic Humitropepts (Latosol Coklat) dan Typic Humitropepts (Latosol Coklat dan Latosol Kemerahan) berkembang dari tuf volkan andesitik sampai basaltik. Sebagian Typic Humitropepts terbentuk dari batu kapur (gamping). Tanah yang berkembang dari batu kapur umumnya dangkal, terdapat pecahan batu kapur dalam penampangnya. Tanah lapisan atas berwarna gelap, kaya bahan organik, struktur tanah remah, konsistensi lekat dan plastis. Sifat fisik tanah cukup baik, permeabilitas agak lambat, tingkat kesuburan tanah sedang.
Typic Eutropepts (Latosol Coklat dan Latosol Coklat Kemerahan)
berkembang dari tuf volkan andesitik sampai basaltik. Penampang tanah umumnya dalam, permeabilitas agak lambat, kesuburan tanah sedang.
4.1.3. Tata Guna Lahan
Jenis penggunaan lahan di lokasi penelitian ditunjukkan pada Gambar 4.
23
Penggunaan lahan di Sub DAS Cisadane hulu terdiri dari hutan, persawahan, perkebunan, semak belukar, tegalan dan tanah kosong, gedung dan pemukiman.
Lokasi pengambilan contoh air di Desa Srogol dan Cibalung berada di bagian hulu sungai dengan penggunaan lahan dominan adalah hutan, perkebunan dan persawahan. Lokasi pengambilan contoh air di Desa Pamoyanan yang berada di Kabupaten Bogor mewakili bagian tengah sungai. Sebagian besar penggunaan lahan di sekitar sungai dimanfaatkan untuk pemukiman, perkebunan dan persawahan. Lokasi pengambilan contoh air di Desa Mulyaharja dan Empang berada di hilir dan termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten dan Kota Bogor. Penggunaan lahan di sekitar sungai cenderung didominasi oleh pemukiman, gedung dan industri. Jenis penggunaan lahan di Cisadane hulu disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Jenis penggunaan lahan di Sub DAS Cisadane.
Penggunaan lahan Luas (ha) %
Air Tawar 86,58 0,38 Belukar/Semak 2002,37 8,73 Gedung 12,81 0,06 Hutan 4489,48 19,57 Kebun/Perkebunan 3673,62 16,01 Pemukiman 3599,88 15,69 Rumput/Tanah kosong 429,69 1,87 Sawah Irigasi 1428,98 6,23
Sawah Tadah Hujan 3205,68 13,97
Tanah Berbatu 1,75 0,01
Tegalan/Ladang 4011,00 17,48
Total 22941,84 100
Sumber : Hasil dan analisis peta penggunaan lahan 1 :150.000 DAS Cisadane, PPT (2005) diolah.
Berdasarkan komposisi jenis penggunaan lahan yang ditemukan pada radius 100 m dari tiap lokasi pengambilan contoh air disajikan pada Tabel 5.
24 Tabel 5. Komposisi penggunaan lahan dalam radius 100 m dari sungai di tiap lokasi
pengambilan contoh air.
Sumber : Hasil analisis penggunaan lahan DAS Cisadane, Google Earth (2012)
diolah.
4.2. Kualitas Air
Pengamatan kualitas air dilakukan dengan cara menganalisis sifat fisika dan kimia air.
4.2.1. Parameter Fisika
Suhu. Suhu air Sungai Cisadane berkisar 23.5-27 0C (Gambar 5). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara umum suhu air sungai di bagian hulu saat tidak ada hujan (debit rendah) dan sesaat sesudah hujan (debit tinggi) relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah tengah-hilir. Hal ini karena daerah hulu merupakan daerah yang tinggi, sehingga memiliki tekanan udara yang rendah akibatnya suhu udara maupun suhu air cenderung lebih rendah dibandingkan dengan daerah hilir yang memiliki tekanan udara lebih tinggi. Selain itu, penggunaan lahan di daerah hulu cenderung di dominasi vegetasi yang bertajuk tinggi, sehingga radiasi matahari tidak sepenuhnya langsung mengenai permukaan badan air karena tertahan oleh tajuk yang berfungsi sebagai canopy (penutupan oleh vegetasi), akibatnya suhu udara dan air di sekitar lokasi pengamatan relatif rendah. Fungsi lain dari banyaknya vegetasi adalah radiasi panas yang dihasilkan oleh matahari diserap untuk pertumbuhan tanaman dan juga untuk proses transpirasi (pelepasan molekul air tanaman ke atmosfer). Proses tersebut menyebabkan suhu udara lebih rendah karena energi matahari yang dapat berfungsi untuk meningkatkan suhu udara lebih banyak
Lokasi Pemukiman (%) Vegetasi (%) Lainnya (%) Total (%)
Srogol 5 90 5 100
Cibalung 11.6 76.6 11.8 100
Pamoyanan 33.3 46.6 20.1 100
Mulyaharja 30 56.6 13.4 100
25
digunakan untuk proses transpirasi dan evaporasi (penguapan air dari tanah dan badan air; danau, sungai dll) maupun fotosintesis tanaman.
Gambar 5. Nilai suhu pada lima lokasi di Sungai Cisadane, Bogor.
Sebagaimana yang dikatakan Barus (2001), pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis, dan juga faktor canopy dari pepohonan yang tumbuh di tepi sungai.
Berdasarkan waktu pengamatan saat tidak hujan, suhu air Sungai Cisadane relatif lebih besar dibandingkan dengan suhu air sesaat sesudah hujan. Besarnya suhu air pada pengamatan sebelum hujan dapat terjadi karena saat pengambilan contoh air dilakukan ketika intensitas matahari optimal, sehingga suhu udara menjadi tinggi. Akibatnya pertukaran panas antara udara dan air di sekelilingnya menjadi meningkat.
Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid / TSS). Hasil
pengukuran konsentrasi TSS ditunjukkan pada Gambar 6. Secara umum hasil TSS dari hulu ke hilir tidak menunjukkan adanya kecenderungan tertentu. Hasil pengamatan saat tidak ada hujan (debit rendah) menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan konsentrasi (dari hulu ke hilir) yaitu berkisar 220-340 mg/l. Nilai konsentrasi TSS tertinggi terdapat di Desa Mulyaharja sebesar 340 mg/l yang terletak di hilir. Hal ini terjadi karena daerah hilir mendapat masukan limbah (alami dan
25,0 27,0 26,5 26,1 26,0 23,5 24,0 24,8 25,0 25,8 0,0 10,0 20,0 30,0
Srogol Cibalung Pamoyanan Mulyaharja Empang Sebelum hujan Sesudah hujan
Hulu Hilir Su hu (˚ C )
26
buatan) yang berasal dari daerah sekitar maupun dari aliran sungai sebelumnya yang berasal dari hulu. Bagian hilir didominasi pemukiman penduduk dengan populasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian hulu sungai. Umumnya masyarakat/penduduk membuang sampah dan limbah rumah tangga langsung ke badan sungai, limbah tersebut akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan padatan yang terlarut atau tersuspensikan. Akibatnya kandungan padatan tersebut mengalami peningkatan yang dapat meningkatkan pengukuran kandungan padatan tersuspensi di badan sungai. Besarnya kandungan tersuspensi di badan sungai dapat mempengaruhi ekosistem perairan, terutama berkaitan dengan proses fotosintesis. Menurut Fardiaz (1992), padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam air, sehingga mempengaruhi asupan oksigen melalui proses fotosintesis dan meningkatnya kekeruhan air.
Gambar 6. Nilai TSS pada lima lokasi di Sungai Cisadane, Bogor.
Hasil pengamatan sesaat sesudah hujan (debit tinggi) menunjukkan kandungan TSS yang berfluktuasi dan tidak menunjukkan pola tertentu. Namun tampak bahwa kandungan TSS tertinggi berada di bagian hulu (Srogol). Desa Srogol memiliki asosiasi jenis tanah Typic Hapludands-Typic Tropopsamments, jenis tanah ini memiliki ciri struktur lemah, gembur dan berfragmen kasar (pasir,kerikil dan
220 290 310 340 220 320 260 280 160 260 0 200 400
Srogol Cibalung Pamoyanan Mulyaharja Empang Sebelum hujan Sesudah hujan
T S S (m g /L ) Hulu Hilir
27
batu). Kriteria tanah tersebut berpeluang menyebabkan erosi semakin besar apabila terjadi hujan. Tingginya kandungan TSS di daerah hulu disinyalir karena adanya erosi yang berasal dari hulu. Erosi di lokasi pengamatan dapat disebabkan oleh adanya pukulan air hujan yang langsung mengenai permukaan tanah, sehingga partikel tanah yang tererosi ditransportasikan oleh air melalui run-off dan masuk ke badan air. Akibatnya kandungan padatan terlarut/tersuspensi di bagian hulu relatif tinggi