• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Parameter Fisika-Kimia Perairan

Tabel 4.5 Parameter Fisika-kimia perairan pada setiap stasiun penelitian.

No Parameter Satuan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 2: Daerah Bebas Aktivitas Stasiun 3: Daerah Keramba Jaring Apung

4.2.1 Suhu

Nilai suhu yang diperoleh pada stasiun 1, 2 dan 3 yaitu berkisar antara 26ºC -

28 ºC. Suhu tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan suhu yang terendah terdapat pada stasiun. Meskipun demikian, suhu dari ketiga stasiun tersebut tergolong suhu optimal perairan yang masih baik bagi kehidupan organisme perairan. Menurut Yudasmara (2011), kisaran suhu optimal bagi kehidupan organisme di perairan tropis adalah 20

0C – 30 0C. Menurut Ira (2014) suhu air merupakan faktor langsung yang mempengaruhi laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan meningkatkan laju metabolisme organisme pada perairan. Suhu air diepengaruhi oleh kondisi atmosfer dan intensitas penyinaran matahati yang masuk ke badan perairan. Peningkatan suhu perairan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme suatu perairan

27

4.2.2 Intensitas Cahaya

Nilai intensitas cahaya yang diperoleh pada stasiun 1, 2 dan 3 yaitu berkisar antara 608,8 – 678,75 candela. Nilai intensitas cahaya tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan nilai intensitas cahaya terendah terdapat pada stasiun 2, hal in dikarenakan terdapat banyak pepohonan disekitar stasiun sehingga intensitas cahaya menjadi lebih rendah. Menurut Mahyudin et al., (2015), cahaya merupakan unsur penting dalam kehidupan ikan, cahaya dibutuhkan ikan untuk mengejar mangsa, mengindari predator, membantu penglihatan ikan serta proses metabolisme ikan. Peranan cahaya matahari dalam kehidupan ikan secara tidak langsung adalah melalui rantai makanan.

Menurut Haryono et al., (2017) terbatasnya cahaya yang masuk ke dalam perairan akan mengganggu proses fotosintesis pada perairan yang berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. Menurut Barus (2004) intensitas cahaya sangat mempengaruhi fitoplankton dan perifiton pada suatu perairan, besarnya intensitas cahaya memiliki pengaruh besar pada proses fotosintesis.

4.2.3 Penetrasi Cahaya

Nilai penetrasi cahaya yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 102 – 150 cm. Nilai penetrasi cahaya tertinggi terdapat pada stasiun 2, hal ini dikarenakan pada stasiun 2 warna air jernih sehingga memudahkan cahaya menembus badan perairan, sedangkan pada stasiun 1 dan 3 warna air sedikit keruh dan kecoklatan sehingga menghambat cahaya menembus kedalam badan air.

Menurut Sumich (1992) kemampuan daya tembus sinar matahari ke dalam badan perairan sangat ditentukan oleh warna air, kandungan bahan-bahan organik maupun anorganik yang tersuspensi dalam perairan. Warna air yang jernih pada perairan memudahkan cahaya masuk menembus badan perairan sehingga nilai penetrasi cahaya lebih tinggi dan warna air yang keruh akan menyulitkan cahaya untuk masuk menembus badan berairan. Menurut Haryono et al., (2017) penetrasi cahaya dapat mempengaruhi habitat organisme perairan. Rendahnya nilai penetrasi dapat mengganggu kehidupan ikan dalam mencari makanan, berkurangnya cahaya yang masuk ke dalam badan air akan mengganggu proses penglihatan ikan terhadap mangsa atau makanan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4.2.4 pH

Nilai pH yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 8,15 – 8,4. Nilai pH tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan nilai pH terendah terdapat pada stasiun 2.

Menurut Ira (2014), kondisi perairan yang bersifat sangat asam atau sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme pada perairan karena akan mengakibatkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi dan sebagian besar organisme perairan sensitif terhadap perubahan pH. Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air berkisar antara 7 sampai dengan 8,5.

4.2.5 DO (Dissolved Oxygen)

Nilai oksigen terlarut yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 5,8 – 6, 25 mg/L. Nilai oksigen terlarut tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan nilai oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun 1. Suhu pada stasiun 2 lebih rendah sehingga mengakibatkan nilai oksigen terlarut semakin tinggi.

Menurut Mahyudin et al., (2015) suatu perairan dapat dikatakan baik dan mempunyai tingkat pencemaran yang rendah jika memiliki kadar DO (oksigen terlarut) lebih besar dari 5 mg/L. Nilai oksigen terlarut pada perairan yag masih alami tidak lebih dari 10 mg/L.

Menurut Ira (2014) oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme karena dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme dan efek tidak langsung yaitu meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang dapat membahayakan organisme pada erairan tersebut. Nilai DO sangat berhubungan dengan tingkat pencemaran, jenis limbah dan banyaknya bahan organik pada suatu perairan.

4.2.6 BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)

Nilai BOD5 yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 2,6 – 3,05 mg/L. Nilai BOD5 tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan nilai BOD5 terendah terdapat pada stasiun 1. Nilai BOD5 dari ketiga stasiun tersebut tergolong nilai yang masih baik bagi kehidupan organisme perairan.

29

Menurut Mahyudin et al., (2015) nilai BOD5 merupakan salah satu indikator untuk menentukan kecemaran suatu perairan. Perairan yang memiliki kadar BOD berkisar antara 0 – 10 mg/L dianggap perairan yang tingkat pencemarannya masih rendah. Semakin besar konsentrasi BOD menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran pada perairan tersebut.

4.2.7 Nitrat

Nilai Nitrat yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara <0.001 – 2,19 mg/L. Nilai terendah didapatkan pada stasiun 2 yaitu <0,001 dan nilai tertinggi didapatkan pada stasiun 3 yaitu 2,19. Nilai Nitrat terendah pada stasiun 2 disebabkan stasiun 2 merupakan perairan alami tanpa aktivitas sedangkan stasiun 3 merupakan perairan dengan aktivitas keramba jaring apung.

Menurut Effendi (2003) kadar nitrat pada suatu perairan alami hampir tidak lebih dari 0,1 mg/L. Menurut Ira (2014) nitrat merupakan salah satu nutrien senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersediaan nutrien.

4.2.8 Fosfat

Nilai Fosfat yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 0,02 – 0,03 mg/L. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 0,03 mg/L dan nilai terendah terdapat pada stasiun 2 dan 3 yaitu 0,02 mg/L. Nilai fosfat pada ketiga stasiun ini melebihi nilai baku mutu fosfat pada perairan.

Menurut Ira (2014) nilai baku mutu fosfat berdasarkan KepMen LH No. 51 adalah 0,015 mg/L. Fosfat dalam badan perairan bersumber dari limbah industri, limbah domestik serta hancuran bahan organik. Menurut Effendi (2003) kandungan fosfat total dalam perairan alami jarang melebihi 1 mg/L.

4.2.9 Kejenuhan Oksigen

Nilai kejenuhan oksigen yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 73,6% – 78,7%. Nilai kejenuhan oksigen tertinggi terdapat pada stasiun 3 dan nilai kejenuhan oksigen terendah terdapat pada stasiun 1. Stasiun 3 memiliki suhu yang lebih tinggi dan oksigen yang diukur lebih rendah sehingga menyebabkan nilai

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kejenuhan oksigen tinggi. Berdasarkan klasifikasi tingkat trofik, kejenuhan oksigen pada setiap lokasi pengamatan tergolong oligotrofik yaitu kejenuhan oksigen > 70%.

Menurut Salmin (2005) rendahnya kejenuhan oksigen berkaitan erat dengan berbagai aktifitas pada suatu perairan yang dapat mempengaruhi nilai kejenuhan oksigen seperti terjadinya pembuangan limbah organik berupa sampah. Adanya limbah organik tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan limbah tersebut.

4.2.10 Nilai Analisis Korelasi Pearson

Analisis Korelasi Pearson diperoleh dengan menganalisis hubungan kepadatan populasi dan faktor fisik-kimia perairan dengan menggunakan metode Pearson. Nilai Indeks korelasi (r) dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4.6 Nilai Korelasi Pearson antara kepadatan populasi dengan sifat fisika-kimia Di Danau Toba

Keterangan: + = Korelasi Positif (Searah) dan - = Korelasi Negatif (berlawanan)

Hasil uji analisis korelasi antara kepadatan populasi dengan parameter fisika-kimia perairan di Danau Toba memiliki nilai korelasi yang berbeda pada setiap parameternya. Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa nilai korelasi yang sangat kuat adalah kejenuhan oksigen, penetrasi cahaya, suhu, intensitas cahaya dan DO.

Nilai korelasi nitrat (NO3) tergolong kuat. Suhu, intensitas cahaya, pH, nitrat (N03) dan Fosfat (PO4) memiliki nilai korelasi negatif (-) yang menunjukkan nilai faktor fisik-kimia perairan tersebut berlawanan dengan nilai kepadatan populasi. Semakin tinggi nilai suhu, intensitas cahaya, pH, nitrat (NO3) dan Fosfat (PO4) maka nilai kepadatan populasi akan semakin rendah.

No Parameter Nilai Korelasi

1 Suhu - 0,976

31

Menurut Haryono et al., (2017) suhu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi ikan, jika suhu perairan tidak optimal maka akan mengganggu metabolisme ikan. Intensitas cahaya dan penetrasi cahaya juga sangat mempengaruhi kondisi ikan, fitoplankton membutuhkan cahaya yang masuk kedalam air untuk melakukan fotosintesis dan kurangnya cahaya yang masuk dalam perairan mengakibatkan terganggunya penglihatan ikan dalam melihat makanan atau mangsa.

Menurut Ira (2014) oksigen terlarut (DO) sangat berperan dalam perairan, ikan menggunakan oksigen terlarut untuk proses respirasi. Nilai kejenuhan oksigen yang tinggi menunjukkan kualitas oksigen telarut yang baik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB 5

Dokumen terkait