• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter dasar gempabumi antara lain [3]:

1. Origin Time

Origin Time merupakan waktu awal kejadian gempabumi, yaitu waktu terlepasnya akumulasi tegangan energi dalam bentuk penjalaran gelombang gempabumi [7].

2. Magnitudo

Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Besaran ini akan bernilai sama meskipun diukur dari tempat yang berbeda [3].

Magnitudo gempa terjadi di permukaan bumi dan dihitung dengan melibatkan amplitudo maksimum gelombang yang terekam oleh alat seismograf, yaitu suatu alat pencatat getaran seismik. Seismograf ditempatkan

20 di berbagai lokasi di bumi. Seismograf akan mencatat setiap getaran yang sampai ke alat tersebut. Satuan yang dipakai untuk mengukur besarnya magnitudo gempa adalah Skala Richter (SR).

Ada beberapa definisi magnitudo yang dikenal dalam kajian gempabumi, Ms (surface-wave magnitudo) yang diperkenalkan oleh Guttenberg menggunakan fase gelombang permukaan gelombang Rayleigh, Mb (body-wave magnitudo) diukur berdasar amplitudo gelombang badan,

baik P maupun S. Berikut adalah beberapa jenis magnitudo : a. magnitudo lokal (Ml )

Magnitudo lokal Ml diperkenalkan oleh Richter di awal tahun 1930-an dengan menggunakan data kejadian gempabumi di daerah Kalifornia yang direkam oleh Seismograf Wood-Anderson. Menurutnya dengan mengetahui jarak episenter ke seismograf dan mengukur amplitudo maksimum dari sinyal yang tercatat di seismograf maka dapat dilakukan pendekatan untuk mengetahui besarnya gempabumi yang terjadi. (USGS, 2002) [7]

b. magnitudo gelombang badan (Mb)

Terbatasnya penggunaan magnitudo lokal untuk jarak tertentu membuat dikembangkannya tipe magnitudo yang bisa digunakan secara luas. Salah satunya adalah Mb atau magnitudo bodi (Body-Wave Magnitudo). Magnitudo ini didefenisikan berdasarkan catatan amplitudo

21 dari gelombang P yang menjalar melalui bagian dalam bumi (Lay. T and Wallace. T. C. 1995) [7].

c. magnitudo gelombang permukaan (Ms)

Selain magnitudo bodi dikembangkan pula, Magnitudo permukaan (Surface-Wave Magnitudo). Magnitudo tipe ini didapatkan sebagai hasil pengukuran terhadap gelombang permukaan (Surface wave) [3].

Hubungan antara Ms dan Mb dapat dinyatakan dalam persamaan

[3] : Ms = 1,59 Mb – 3.97 (2.1)

3. Jarak Episenter dan Hiposenter

Hiposenter adalah daerah di dalam lapisan kulit bumi, dimana deformasi/patahan terjadi. Sedangkan episenter merupakan titik pada permukaan bumi yang merupakan proyeksi tegak lurus dari titik pusat gempabumi (hiposenter). Di peta biasanya digambar dengan sebuah titik koordinat, tetapi sebenarnya adalah suatu kawasan yang cukup luas [3].

4. Kedalaman Sumber Gempa

Kedalaman sumber gempa (h) adalah jarak dari titik sumber gempa (hiposenter) dengan permukaan diatas sumber (episenter). Klasifikasi kedalaman sumber gempa dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Gempa dangkal (h = 0 – 70 km) b. Gempa menengah (h = 71- 300 km) c. Gempa dalam (h > 300 km)

22 2.2.5 Intensitas

Intensitas dapat didefinisikan sebagai suatu klasifikasi kekuatan getaran di suatu tempat selama gempabumi, dalam hal dampak kerusakan yang diamati. Hal ini berpengaruh pada kondisi-kondisi penggunaan skala intensitas. Untuk menegaskan hal ini, secara tradisional telah digunakan angka Romawi dalam menyatakan nilai intensitas [8].

Skala Sieberg (1912, 1923) menjadi landasan semua skala intensitas modern yang terdiri atas dua belas tingkat. Versi 1923 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Wood dan Neumann (1931) dan dinamakan Skala Mercalli yang Dimodifikasi (Modified Mercalli Scale). Dasar skalanya adalah getaran atau goyangan pada saat gempa yang dapat dirasakan manusia sebagai skala terendah dan hancurnya bangunan sebagai skala tertinggi [8].

Bersifat lebih subyektif. Intensitas gempa bumi merupakan skala kedua yang dipakai dalam menyatakan sebuah gempa bumi. Skala intensitas menunjukan tingkat kerusakan di permukaan bumi. Skala ini dikembangkan oleh Mercalli pada tahun 1902, seorang ahli seismologi dari Italia dan sekarang lebih dikenal dengan skala Mercalli yang dimodifikasi, digunakan untuk menggambarkan intensitas pengaruh gempa bumi terhadap manusia berdasarkan goncangan (goyahnya bangunan), pecahnya kaca, retaknya tanah, larinya orang–orang keluar. Bangunan dan permukaan bumi dalam satuan angka dari I sampai XII. Skala lain yaitu Medvedev – Sponhever – Karnik yang lebih familiar digunakan di Eropa dan Skala Rossi Forrel.

23 Secara lebih rinci skala tersebut dinyatakan sebagai berikut:

1. Skala Rossi – Forrel (1874 – 1878) a. Terekam oleh Instrumen.

b. Dirasakan sejumlah kecil manusia dalam keadaan diam.

c. Dirasakan cukup kuat beberapa orang dalam keadaan diam.

d. Dirasakan dalam sejumlah orang dalam keadaan bergerak.

e. Umumnya dirasakan setiap orang, membunyikan lonceng dan menggerakkan perabot.

f. Membangunkan yang tidur, membunyikan lonceng dan menghentikan gerak jam.

g. Kepanikan, membunyikan lonceng, menjatuhkan yang tergantung.

h. Meretakkan dinding bangunan.

i. Merusakkan sebagian atau keseluruhan bangunan.

j. Bencana besar, meruntuhkan gunung.

2. Skala Richter

Dibuat oleh Charles Richter (1935) 1 – 8,8 skala (Skala Logaritma). Dasar kerja skala ini adalah dengan pengukuran amplitudo maksimum gelombang seismik pada jarak 161 km, dengan mengukur perbedaan waktu tempuh gelombang P dan gelombang S. Kemudian ditambahkan faktor empiris (berdasarkan kenyataan melemahnya gelombang saat menjauhi fokus).

24 Tabel 2.1 Skala Richter dan Pembandingnya

Skala Richter Peningkatan Kekuatan Energi yang dibebaskan - ledakan TNT

1 1 170 g

2 10 6 kg

3 100 179 kg

4 1000 5 metric ton

5 10000 179 metric ton

6 100000 5643 metric ton

7 1000000 179100 metric ton

8 10000000 5463000 metric ton

3. Skala Mercalli

Diciptakan oleh seismologist Italia, Guisseppe Mercalli pada tahun 1902 dan dimodifikasi oleh seorang ahli seismologi Amerika sehingga menjadi suatu skala absolut. Berikut adalah tabel intensitas skala Mercalli [8]:

Tabel 2.2 Skala Mercalli yang Dimodifikasi (Modified Mercalli Scale) Skala

MMI

Dampak kerusakan

I

Tidak dirasakan oleh kebanyakan orang, hanya beberapa orang dapat merasakan dalam situasi tertentu. Sangat dan merupakan dampak periode panjang gempabumi besar.

II Dapat dirasakan oleh beberapa orang yang sedang diam atau istirahat.

25 Dapat memindahkan dan menjatuhkan benda-benda.

III

Dirasakan oleh sedikit orang, terutama yang berada di dalam rumah, seperti getaran yang berasal dari kendaraan berat yang melintas dekat rumah. Durasi getaran dapat diperkirakan.

IV

Dirasakan oleh banyak orang, beberapa orang terbangun saat tidur, piring dan jendela bergetar. Dapat mendengar suara-suara yang berasal dari pecahan barang pecah belah. Benda-benda yang bergantung tampak berayun-ayun. Getaran dirasakan seperti ada truk berat lewat. Mobil yang berhenti tampak bergoyang.

V

Dirasakan oleh setiap orang yang saling berdekatan. Banyak orang terbangun disaat tidur. Terjadi retakan pada dinding. Barang-barang terbalik dan pohon-pohon mengalami kerusakan. Cairan tampak bergoyang, sebagian tumpah. Beberapa benda kecil yang tidak stabil bergeser atau terguling. Pintupintu berayun, menutup dan membuka. Daun jendela pigura gambar bergerak-gerak.

VI

Dirasakan oleh seiap orang, terjadi runtuhan tembok dan terjadi kerusakan pada menara atau tugu. Orang berjalan menjadi terhuyung-huyung.

Jendela kaca, piring dan barang pecah-belah menjadi retak atau pecah.

Plester yang lemah dan bangunan masonri D retak.

VII Setiap orang berlarian keluar rumah. Terjadi kerusakan pada bangunan

26 masonri D, termasuk retak-retak. Dapat dirasakan oleh orang-orang yang

berada di dalam kendaraan. Terjadi beberapa keretakan pada bangunan mansori C. Terjadi longsoran dan runtuhan kecil pada tebing berpasir atau berkerikil.beton selokan irigasi rusak.

VIII

Orang yang mengendarai mobil terpengaruh. Bangunan mansori C rusak dan sebagian rubuh. Beberapa kerusakan terjadi pada bangunan mansori B. Tidak ada kerusakan pada bangunan mansori A. Kerangka rumah

tergeser dari fondasinya. Pilar-pilar yang rapuh patah. Dahan-dahan patah dari pohonnya. Terjadi perubahan aliran atau suhu mata air dan sumur.

Terjadi retakan pada tanah. Terjadi retakan pada tanah basah atau lereng yang curam. Tersemburnya pasir dan lumpur dari dalam tanah.

IX

Terjadi kepanikan umum. Bangunan mansori D hancur; C rusak berat, sebagian roboh total; B rusak serius (kerusakan umum terhadap fondasinya). Kerangka terbengkokkan. Terjadi kerusakan parah pada waduk. Pipa di bawah tanah pecah. Terjadi retakan tanah yang mencolok.

Di daerah aluvial, pasir dan lumpur memancar keluar, terjadi air-mancur gempabumi dan kawah pasir.

X

Hampir semua bangunan berstruktur beton dan kayu rusak. Tanah retak-retak, jalan kereta api bengkok, pipa-pipa pecah. Terjadi kerusakan parah pada bendungan, tanggul dan tambak.

XI Beberapa struktur bangunan beton tersisa. Terjadi retakan yang panjang di

27 sepanjang permukaan tanah. Pipa terpotong dan terjadi longsoran tanah dan rel kereta api terputus.

XII

Kerusakan total. Gelombang permukaan tanah dapat teramati dan benda-benda terlempar ke udara. Massa batuan besar berpindah tempat.

Bangunan mansori A : pengerjaannya, adukan semennya dan rancang

bangunannya baik; diperkuat secara lateral dan diikat bersama dengan menggunakan baja; dirancang terhadap gaya lateral.

Bangunan mansori B : pengerjaan dan adukan semennya baik; diperkuat

tetapi tidak dirancang secara rinci, tahan terhadap gaya lateral.

Bangunan mansori C : pengerjaan dan adukan semennya biasa; tidak ada

kelemahan yang ekstrim seperti kesalahan pada pengikatan pada pojok-pojok, tetapi juga tidak diperkuat atau tidak juga dirancang tahan terhadap gaya lateral.

Bangunan mansori D : materialnya lemah, seperti misalnya batako; adukan

semennya buruk; pengerjaannya berstandar rendah; secara horizontal lemah.

Dokumen terkait