• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Tanaman Kangkung

2.6.3 Parameter Kualitas Tanaman

Kualitas tanaman dapat dilihat secara kasat mata seperti tinggi tanaman, banyak daun dan warna pada tanaman. Rata-rata panjang tanaman kangkung pada hari ke-7 adalah 8.24 cm, pada hari ke-14 adalah 9.98 cm dan pada hari ke-21 adalah 15.24 cm. Rata-rata jumlah daun tanaman kangkung pada hari ke-7 adalah sebanyak 4.6 helai, pada hari ke-14 adalah sebanyak 5.4 helai dan pada hari ke-21 sebanyak 6.6 helai. Rata-rata panjang daun tanaman kangkung pada hari ke-7 adalah 3.74 cm, hari ke-14 adalah 5.9 cm dan pada hari ke 21 adalah 6.81 cm [47]. Tanaman kangkung siap dipanen setelah umur tanaman kangkung 21 hari [41].

Sedangkan tanaman kangkung yang sehat adalah tanaman yang tidak memiliki karat putih atau bercak putih dan bercak coklat kehitam-hitaman. Bercak tersebut menandai bahwa tanaman tersebut terserang penyakit jamur [48].

Universitas Pertamina - 5

Universitas Pertamina - 15

BAB III

KONSEP PERANCANGAN

3.1 Diagram Alir Perancangan

Perancangan sistem aeroponik cerdas ini akan dilakukan bertahap, tahapan-tahapan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3. 1 di bawah ini:

Gambar 3. 1. Diagram Alir Perancangan Sistem Aeroponik Cerdas

Diagram alir seperti pada Gambar 3. 1 akan menjadi acuan dalam proses perancangan sistem aeroponik cerdas. Akan tetapi apabila ditemukan kondisi tertentu dimana dalam kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk tetap mengikuti acuan yang telah dibuat, maka perlu adanya fleksibilitas dalam merancang sistem aeroponik cerdas ini.

16 - Universitas Pertamina

3.2 Pertimbangan Perancangan

Dalam proses perancangan sistem aeroponik cerdas ini ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan seperti pemilihan tanaman yang akan digunakan. Pemilihan tanaman terbatas untuk tanaman yang siap panen dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan. Lalu sistem refrigerasi, penempatan kipas yang dijadikan sebagai exhaust yang diharapkan dapat membuang udara panas keluar dan penggunaan peltier untuk menurunkan suhu sehingga didapatkan suhu sesuai dengan yang diinginkan. Peletakkan microprocessor dan sensor-sensor agar tidak terkena percikan air.

3.3 Analisis Teknis

Produk dapat dikatakan berhasil apabila telah dapat melakukan penyiraman secara otomatis, dapat memonitoring suhum kelembapan dan intensitas cahaya yang ditampilkan melalui oled dan juga data diakses melalui internet secara real time. Dapat mengendalikan suhu dikisaran yang telah ditentukan, dapat mempertahankan kelembapan diatas 60% dan dapat memberikan cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman tanpa mengandalkan matahari secara terus-menerus.

3.4 Peralatan dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sistem aeroponik ini dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori pertama adalah microcontroller yang digunakan, lalu kategori berikutnya adalah sensor yang digunakan kategori ketiga adalah aktuator yang digunakan dan aktegori terakhir adalah wadah dari sistem aeroponik. Seluruh peralatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3. 1 Alat dan Bahan

Kategori Peralatan Jumlah

Microcontroller Wemos D1 Mini 2

Sensor

DHT 11 1

BH 1750 1

Aktuator

Ultrasonic Mist Maker 2

Peltier Set 1

Universitas Pertamina - 17

3.5 Waktu Pengerjaan

Waktu pengerjaan tugas akhir ini dilakukan mulai dari bulan Januari 2020 hingga bulan Juli 2020. Pengerjaan dilakukan dimulai dari pembuatan proposal, perancangan, pembangunan alat, pembuatan jurnal hingga pembuatan laporan. Rincian dari waktu pengerjaan dapat dilihar pada Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3. 2 Waktu Pengerjaan

3.6 Desain Sistem

Sistem dibuat dengan memperhatikan beberapa aspek seperti penyebaran pendistribusian air, peletakan sensor sehingga pembacaan sensor dapat mengintepretasikan suhu dan kelembapan pada akar tanaman dan peletakan modul LED sehingga cahaya yang dipancarkan dapat diterima secara merata seperti ditunjukan pada Gambar 3. 2.

(a)

18 - Universitas Pertamina

(b)

(c)

Gambar 3. 2 Desain Chamber (a) Tampak Depan, (b) Tampak Atas dan (c) Tampak Belakang Sistem dibangun dengan menggunakan box yang memiliki ukuran 90x60x45 cm. Sistem didesain dengan memiliki dua ruang, yaitu ruang tumbuh dan ruang akar yang dipisahkan oleh pembatas yang ditopang oleh paralon. Pada ruang tumbuh terdapat 4 buah modul LED yang dapat dipasang dan dilepas. Lalu sensor cahaya diletakan pada sekat dengan menghadap ke atas agar pembacaan pada sensor intensitas cahaya merepresentasikan banyaknya cahaya yang diterima oleh tanaman. Sensor suhu dan kelembapan dipasangkan di sekat dengan menghadap ke ruang akar, sejajar dengan akar tanaman agar pembacaan sensor suhu dan kelembapan merepresentasikan suhu dan kelembapan pada akar tanaman. Sekat dilubangi sebanyak 6 lubang dengan diameter 5 cm yang kemudian akan diisi dengan netpot sebagai alas untuk tanaman. Pada ruang tumbuh ditambahkan kipas yang mengarah keluar untuk membuang udara panas sehingga dapat menurunkan suhu pada ruang akar.

Ruang akar didesain agar memiliki kondisi minim terkena cahaya dari luar atau gelap untuk merepresentasikan kondisi akar tanaman di dalam tanah. Pada ruang akar terdapat 2 buah mist maker yang digunakan untuk mendistribusikan air dan nutrisi dalam bentuk kabut seperti pada Gambar 3.

2 (a). Peltier dipasang pada sisi belakang ruang akar peltier yang digunakan adalah peltier set, dimana peltier sudah terpasang dua heatsink pada masing-masing sisi dan pada heatsink sisi panas sudah

Universitas Pertamina - 19 terpasang kipas untuk menurunkan suhu pada sisi panas. Pada heatsink sisi dingin dipasangkan water block yang digunakan untuk mengaliri air sehingga suhu pada air yang ditampung di wadah akan turun.

Sistem pengendalian suhu dirancang agar peltier menyala saat suhu berada di atas 29°𝐶 dan akan mati saat suhu berada di 25°𝐶. Sistem pengendalian kelembapan dirancang agar mist maker dapat menyala saat kelembapan berada di bawah 60% dan akan mati saat kelembapan berada di 80%.

3.7 Diagram Skematik

Diagram skematik sistem dapat dilihat pada Gambar 3. 3 berikut

Gambar 3. 3 Diagram Skematik

Pada Gambar 3. 3 dapat dilihat bahwa sistem menggunakan dua Wemos D1 mini, satu relay 4 channel, saru relay 2 channel, satu sensor suhu dan kelembapan DHT 11, satu sensor intensitas cahaya BH 1750, dua mist maker, satu buah kipas, satu buah peltier set, dua buah modul LED bulat dan dua buah modul LED kotak.

Wemos D1 mini 1 terintegerasi dengan ThingSpeak untuk memonitoring suhu, kelembapan dan kondisi dari aktuator sedangkan Wemos D1 mini 2 terintegerasi dengan ThingSpeak untuk memonitoring intensitas cahaya dan mengendalikan aktuator.

Wemos D1 mini dan mist maker mendapatkan suplai listrik dari soket. Kipas, modul LED dan peltier set mendapatkan suplai listrik dari power supply.

3.8 Blok Diagram Sistem

Sistem secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 3. 4 berikut.

20 - Universitas Pertamina

Gambar 3. 4 Blok Diagram Sistem

Dapat dilihat bahwa terdapat dua microcontroller yang memiliki perannya masing-masing. Pada microcontroller yang ditandai oleh kotak berwarna coklat memiliki peran untuk mengendalikan Relay 4 Channel yang terhubung dengan aktuator seperti Peltier Set, Mistmaker, Kipas dan Pompa Air. Lalu microcontroller tersebut terhubung dengan sensor suhu dan kelembapan dan juga platform IoT. Microcontroller mengirimkan data berupa suhu dan kelembapan melalui internet ke platform IoT.

Microcontroller yang ditandai dengan kotak berwarna oranye memiliki peran untuk mengendalikan Relay 2 Channel dan juga modul LED. Relay 2 Channel dapat menghidupkan atau mematikan Relay 4 Channel sehingga apabila Relay 4 Channel dimatikan, maka seluruh aktuator seperti Peltier Set, Mistmaker, Kipas dan Pompa Air akan mati. Microcontroller tersebut dapat mematikan dan menyalakan Modul LED dan juga terhubung dengan sensor intensitas cahaya. Microcontroller akan mengirimkan data berupa pembacaan intensitas cahaya ke platform IoT dan juga dapat menerima data dari platform IoT sehingga dapat mengendalikan Relay 2 Channel dan Modul LED melalui Graphical User Interface (GUI).

Universitas Pertamina - 15

Universitas Pertamina - 21

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembangunan Sistem

Sistem dibangun dengan landasan rancangan yang telah dibuat seperti yang telah dijelaskan pada bagian desain alat. Sistem dibangun dengan menggunakan kotak kontainer dengan ukuran 90x60x45 cm. Pengimplementasian desain dimulai dari melubangi kotak kontainer di baigan-bagian tertentu seperti pada Gambar 4. 1 (b). Impraboard dibentuk sesuai dengan ukuran kotak kontainer dan dilubangi sebanyak enam buah yang digunakan untuk wadah netpot seperti pada Gambar 4. 1 (a)

(a)

(b)

Gambar 4. 1 Pembentukan Impraboard dan (b) Lubang pada Kontak Kontainer

Kotak kontainer bagian luar kemudian diwarnai dengan warna hitam untuk meminimalisir cahaya yang masuk ke ruang akar.

22 - Universitas Pertamina

Gambar 4. 2 Pemasangan (a) Peltier dan (b) Water Block

Peltier diletakan di sisi belakang kontainer yang telah dilubangi dengan sisi dingin berada di dalam ruang akar dan sisi panas berada di luar seperti dapat dilihat pada Gambar 4. 2 (a). Karena kondisi iklim yang cenderung panas, maka peltier dimanfaatkan untuk mendinginkan ruang akar.

Water block ditempel pada heatsink sisi dingin dapat dilihat pada Gambar 4. 2 (b) untuk mengaliri air agar suhu air turun. Di tengah kotak kontainer diberikan wadah untuk mist maker. Mist maker diletakkan di wadah yang telah disediakan dapat dilihat pada Gambar 4. 3, wadah tersebut dialiri air yang telah melewati water block oleh pompa air.

Universitas Pertamina - 23 Gambar 4. 3 Mist Maker dan Wadah Mist Maker

Sensor DHT 11 dipasang pada salah satu lubang impraboard dengan menghadap ke bawah sedangkan sensor BH 1750 dipasang pada sisi atas impraboard dengan mengadap ke atas seperti yang telah dijelaskan pada bagian desain alat dan dapat dilihat pada Gambar 4. 4 di bawah.

Gambar 4. 4 Peletakan Sensor pada Impraboard Sistem pencahayaan dapat dilihat pada Gambar 4. 5 berikut.

24 - Universitas Pertamina

Gambar 4. 5 Sistem Pencahayaan

Modul LED dipasang di atas sistem aeroponik dengan ketinggan 35 cm. Modul LED dipasang tidak terlalu dekat dengan tanaman karena jika dipasang terlalu dekat dapat membahayakan tanaman seperti daun dari tanaman yang terbakar. Modul LED yang digunakan berjumlah empat buah dengan dua buah modul berjumlah 24 LED dan dua buah modul berjumlah 16 LED sehingga total LED yang digunakan berjumlah 80 buah.

Microcontroller, relay dan power supply diletakan di junction box yang berada di samping sistem seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4. 6 berikut

Gambar 4. 6 Junction Box

Pada Gambar 4. 6 seluruh peralatan elektronik berpusat pada junction box. Junction box dibuat sehingga peralatan elektronik berpusat pada satu lokasi untuk mempermudah jika ingin dilakukan perbaikan dan juga agar sistem terlihat lebih rapih.

Universitas Pertamina - 25 Setelah sistem selesai dibangun, maka hasil akhir dari sistem dapat dilihat pada Gambar 4.

7 berikut.

Gambar 4. 7 Sistem saat Pencahayaan Aktif

Pada Gambar 4. 7 dapat dilihat saat sistem pencahayaan aktif. Setelah seluruh komponen terpasang dan berjalan dengan baik, maka sistem aeroponik telah selesai dibangun.

4.2 Sistem Pemantauan

Setelah sistem selesai dibangun, dilakukan uji coba untuk melihat apakah sistem yang telah dibangun bekerja dengan baik. Pada Gambar 4. 8 dan Gambar 4. 9 secara berurutan di bawah dapat dilihat bahwa suhu dan kelembapan serta keadaan dari aktuator dapat dipantau melalui internet

26 - Universitas Pertamina

Gambar 4. 8 Pemantauan Suhu, Kelembapan dan Intensitas Cahaya Melalui Internet Pada Gambar 4. 8 terdapat enam kolom yang masing-masing memberikan informasi berbeda-beda. Pada kolom dengan judul “Temperature” menunjukan nilai pasti dari suhu yang disajikan dalam bentuk angka dengan ketelitian 1 angka di belakang koma. Pada kolom dengan judul

“Humidity” menunjukan nilai pasti dari kelembapan yang disajikan dalam bentuk angka. Pada kolom dengan judul “Light Intensity” menunjukan nilai pasti dari intensitas cahaya yang disajikan dalam bentuk angka. Pada kolom dengan judul “Field 1 Chart” menunjukan perubahan suhu terhadap waktu yang disajikan dalam bentuk grafik. Pada kolom dengan judul “Field 2 Chart” menunjukan perubahan kelembapan terhadap waktu yang disajikan dalam bentuk grafik. Pada kolom dengan judul

“Field 3 Chart” menunjukan perubahan intensitas cahaya terhadap waktu yang disajikan dalam bentuk grafik.

Universitas Pertamina - 27 Gambar 4. 9 Pemantauan Keadaan Aktuator Melalui Internet

Pada Gambar 4. 9 terdapat empat kolom yang masing-masing memberikan informasi berbeda-beda. Pada kolom dengan judul “Field 3 Chart” menunjukan keadaan dari peltier yang disajikan dalam bentuk grafik, dimana “1” berarti peltier menyala dan “0” berarti peltier mati. Pada kolom dengan judul “Field 4 Chart” menunjukan keadaan dari mist maker yang disajikan dalam bentuk grafik, dimana “1” berarti peltier menyala dan “0” berarti mist maker mati. Pada kolom dengan judul “Field 5 Chart” menunjukan keadaan dari kipas yang disajikan dalam bentuk grafik, dimana “1” berarti peltier menyala dan “0” berarti kipas mati. Pada kolom dengan judul “Channel Location” menunjukan lokasi dari sistem yang disajikan dalam bentuk peta.

Pembacaan parameter dilakukan setiap lima menit sekali, hal tersebut dikarenakan microcontroller diatur sehingga mengirimkan data ke platform IoT setiap lima menit sekali. Data tersebut kemudian tersimpan dalam platform IoT dan dapat diunduh.

4.3 Sistem Pengendalian

Selain dapat memantau melalui jaringan internet, sistem juga didesain untuk dapat dikendalikan melalui jaringan internet dengan menggunakan Graphical User Interface (GUI) seperti pada Gambar 4. 10.

28 - Universitas Pertamina

Gambar 4. 10 Graphical User Interface (GUI)

Aktuator seperti peltier, ultrasonic msit maker, kipas dan pompa air dapat dihidupkan atau dimatikan dengan menekan tombol pada Gambar 4. 11.

Gambar 4. 11 Tombol untuk Menghidupkan atau Mematikan Aktuator

Tombol ‘ON’ digunakan untuk menyalakan aktuator sedangkan tombol ‘OFF’ digunakan untuk mematikan aktuator.

Untuk mengatur LED dapat dilakukan dengan menekan tombol pada Gambar 4. 12berikut.

Gambar 4. 12 (a) Tombol untuk Mematikan LED, (b) Tombol untuk Menyalakan LED dengan Warna Putih dan (c) Tombol untuk Menyalakan LED dengan Warna Merah-Biru

Universitas Pertamina - 29 Dapat dilihat pada Gambar 4. 12 bahwa LED memiliki tiga konfigurasi yang pertama yaitu mematikan LED dengan cara menekan tombol pada seperti pada Gambar 4. 12(a), lalu berikutnya adalah menyalakan LED dengan warna putih dengan cara menekan tombol seperti yang ditunjukan pada Gambar 4. 12(b) dan konfigurasi yang terakhir yaitu menyalakan LED dengan warna merah-biru dengan cara menekan tombol seperti yang ditunjukan oleh Gambar 4. 12(c).

Untuk tombol pengendalian, setelah tombol ditekan akan diteruskan ke sebuah tautan. Jika angka yang keluar adalah “0” seperti pada Gambar 4. 13(a), maka pengendalian tidak berhasil sehingga harus diulang. Jika angka yang keluar bukanlah angka “0” seperti pada Gambar 4. 13(b), maka pengendalian berhasil.

Gambar 4. 13 Tautan Jika (a) Pengendalian Gagal dan (b) Pengendalian Berhasil

Berhasil atau gagalnya pengendalian yang dilakukan tergantung dari server yang digunakan yaitu ThingSpeak.

Untuk memantau suhu, kelembapan, intensitas cahaya dan keadaan dari aktuator dapat dilakukan dengan cara menekan tombol seperti pada Gambar 4. 14

Gambar 4. 14 Tombol untuk Memantau Parameter dan Aktuator

Pada Gambar 4. 14 adalah tombol-tombol yang digunakan untuk memantau parameter dan juga keadaan dari aktuator. Jika tombol ditekan, maka akan diteruskan ke sebuah tautan yang memiliki tampilan seperti pada Gambar 4. 8 atau Gambar 4. 9

Microcontroller diatur sehingga dapat menerima data melalui platform IoT setiap lima belas detik sekali, sehingga kecepatan pengendalian pada sistem ini membutuhkan waktu paling lama lima belas detik.

30 - Universitas Pertamina

4.3.1 Suhu Ruang Akar

Sistem pengendalian suhu diuji untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan aktuator.

Pengujian dilakukan sebanyak dua kali dengan kondisi aktuator tidak aktif dan dengan kondisi aktuator aktif. Aktuator yang digunakan untuk mengatur suhu adalah peltier dan kipas. Peltier diatur sehingga akan aktif apabila suhu pada ruang akar berada di atas 29°𝐶 dan akan tidak aktif saat suhu pada ruang akar di bawah 25°𝐶 , Didapatkan hasil seperti pada Gambar 4. 15 di bawah.

Gambar 4. 15 Suhu Dikendalikan dan Tidak Dikendalikan

Pada Gambar 4. 15 dapat dilihat bahwa suhu saat aktuator tidak aktif ditunjukan oleh grafik berwarna merah. Saat aktuator tidak aktif, variasi suhu berada di antara 29-32.9°𝐶 dengan rata-rata 30.94°𝐶.

Suhu puncak terjadi pada pukul 15.00. Pada pukul 15.00 sistem terpapar sinar matahari dari celah pintu dari arah timur dan jendela dari arah barat. Ukuran pintu lebih besar daripada ukuran jendela sehingga lebih mempengaruhi suhu pada sistem. Suhu terendah terjadi pada sekitar pukul 08.00.

Pengujian dengan kondisi aktuator aktif bertujuan untuk mengetahui bagaimana performa sistem pengendalian dalam mengendalikan suhu. Pada Gambar 4. 15 dapat dilihat bahwa suhu saat aktuator aktif ditunjukan oleh grafik berwarna biru. Saat kondisi aktuator aktif, suhu berhasil diturunkan sehingga berada di bawah suhu saat aktuator tidak aktif seperti yang dapat dilihat pada grafik Gambar 4. 15 Dari 225 data yang diambil dengan rata-rata 28.83°𝐶, hanya 16 data yang menunjukan bahwa suhu berada di atas 30°𝐶. Dikarenakan suhu pada ruang akar tidak pernah berada di bawah 25°𝐶, maka dalam percobaan ini peltier selalu ada dalam kondisi aktif.

Kedua data tersebut memang diambil pada dua hari yang berbeda, tetapi pada accuweather.com menunjukan bahwa kedua hari tersebut memiliki rata-rata suhu yang sama karena hanya terpaut beberapa hari.

4.3.2 Kelembapan Ruang Akar

Sistem pengendalian kelembapan diuji untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan aktuator. Pengujian dilakukan sebanyak dua kali dengan kondisi aktuator tidak aktif dan dengan kondisi aktuator aktif. Aktuator yang digunakan untuk mengendalikan kelembapan pada ruang akar adalah mist maker. Pada awalnya mist maker diatur sehingga akan aktif apabila kelembapan pada

Universitas Pertamina - 31 ruang akar berada di bawah 60% dan akan tidak aktif apabila kelembapan sudah berada di atas 80%.

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan tanaman, ditemukan permasalah bahwa pada kondisi tertentu kelembapann konstan berada di atas 60% saat kondisi mist maker tidak aktif. Pada kondisi tersebut menyebabkan tanaman kering dan mati.

Lalu dilakukan perubahan yaitu mengganti kondisi aktif pada mist maker dengan menggunakan timer menjadi aktif selama 5 menit dan akan mati selama 5 menit. Pemilihan waktu pada timer tersebut didasari dengan beberapa pertimbangan dari beberapa referensi yang didapatkan.

Beberapa referensi menyebutkan sistem pendistribusian air sebaiknya dinyalakan secara terus-menerus [49]. Referensi lain menyebutkan bahwa sebaiknya dinyalakan selama satu menit dan dimatikan selama satu menit [50]. Adapula yang menyebutkan dinyalakan selama dua menit dan dimatikan selama sepuluh menit [10]. Tetapi pada dasarnya, hal tersebut harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Semakin sebentar waktu menyala pada alat pendistribusian airm semakin besar kemungkinan tanaman akan mengalami kekeringan. Jika kekeringan terjadi, maka tanaman akan mati. Untuk itu ditetapkan pengaturan waktu dengan menyala selama lima menit dan mati selama lima menit. Hal ini dilakukan untuk mengurangi cycle mati/nyala pada alat dan juga untuk menghindari terjadinya kekeringan.

Pada percobaan ini kelembapan sudah konstan berada di atas 60%, sesuai dengan kelembapan yang diinginkan. Dilakukan percobaan dengan menggunakan tanaman dan hasilnya tanaman tetap mati. Kabut yang dihasilkan oleh mist maker tidak dapat menjangkau akar dari tanaman sehingga menyebabkan tanaman kering dan mati.

Dilakukan perbaikan dengan mengubah arah kipas yang sebelumnya mengarah ke luar ruang akar, diubah sehingga kipas tersebut mengarah ke ruang akar untuk meniup kabut sehingga dapat mengenai akar dari tanaman. Setelah dilakukan percobaan, tanaman dapat hidup pada sistem yang telah dibangun.

Grafik perbandingan antara kelembapan yang dikendalikan dengan kelembapan yang tidak dikendalikan dapat dilihat pada Gambar 4. 16 di bawah

Gambar 4. 16 Grafik Kelembapan Dikendalikan dan Tidak Dikendalikan

32 - Universitas Pertamina

Pada Gambar 4. 16 dapat dilihat bahwa kelembapan saat aktuator tidak aktif ditunjukan oleh grafik berwarna merah. Saar aktuator tidak aktif, kelembapan cenderung berada di antara 60-70%. Pada sekitar pukul 11.00 hingga 17.00 kelembapan berada di bawah 60%. Dijelaskan bahwa salah satu syarat tumbuh tanaman adalah berada di kondisi yang kelembapannya di atas 60%. Akan tetapi kelembapan tersebut bukanlah kelembapan pada akar tanaman melainkan pada permukaan tanaman.

Sehingga pada akar tanaman dibutuhkan kelembapan yang lebih tinggi.

Pengujian dengan kondisi aktuator aktif menghasilkan ruang akar yang penuh dengan kabut.

Kelembapan pada ruang akar dapat dilihat pada Gambar 4. 16 yang ditunjukan oleh grafik berwarna biru. Grafik tersebut menunjukan bahwa kelembapan pada ruang akar berada di 95%. Pembacaan kelembapan tersebut menunjukan bahwa sensor kelembapan DHT 11 sudah berada di titik jenuh.

Sensor DHT 11 yang basah menyebabkan pembacaan kelembapan berada di luar kemampuan dari sensor DHT 11. DHT 11 mampu membaca kelembapan maksimal sebesar 90%. Saat kondisi aktuator menyala, dilakukan percobaan dengan menggunakan HTC-1 alat pengukur kelembapan. Didapatkan hasil bahwa kelembapan pada ruang akar saat kondisi aktuator menyala yaitu 99%.

4.3.3 Pencahayaan

Sistem pencahayaan pada sistem diuji untuk megnetahui pengaruh dari penggunaan aktuator.

Pengujian dilakukan sebanyak dua kali dengan kondisi aktuator pencahayaan aktif dan tidak aktif.

Aktuator yang digunakan untuk memberikan pencahayaan adalah modul LED. Modul LED diatur sehingga memancarkan cahaya merah dan biru. Cahaya merah dan biru dipilih dikarenakan cahaya yang paling banyak diserap oleh tanaman adalah cahaya merah dan biru [51]. Pemasangan modul LED dilakukan untuk menambahkan sumber cahaya yang dapat digunakan tanaman untuk berfotosintesis.

Grafik perbandingan antara intensitas cahaya saat module LED diaktifkan dan saat module LED tidak diaktifkan dapat dilihat pada Gambar 4. 17 di bawah

Gambar 4. 17 Intensitas Cahaya saat LED Aktif dan LED Tidak Aktif

Pada Gambar 4. 17 dapat dilihat intensitas cahaya saat LED tidak aktif yang ditunjukan oleh grafik berwarna abu-abu dan saat LED aktif yang ditunjukan oleh grafik berwarna ungu. Saat LED tidak aktif, intensitas cahaya maksimal berada pada kisaran pukul 10.00. Pada pukul 00.00 hingga 06.00

Universitas Pertamina - 33 dan pukul 18.00 hingga 24.00 pembacaan intensitas cahaya yaitu 0 dikarenakan tidak ada sumber cahaya sama sekali.

Setelah dilakukan pengujian dengan kondisi LED aktif, dapat dilihat pada Gambar 4. 17

Setelah dilakukan pengujian dengan kondisi LED aktif, dapat dilihat pada Gambar 4. 17

Dokumen terkait