• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Kualitas Air Lindi

3. Parameter mikrobiologi air lindi

Alaerts dan Santika (1984) menyatakan bahwa bakte ri yang sering digunakan sebagai indikator untuk menilai kualitas perairan adalah bakteri koliform, fecal koliform, dan fecal streptococcus. Bakteri koliform merupakan bakteri yang berasal dari tinja manusia, hewan berdarah panas, hewan berdarah dingin, dan dari tanah. Bakteri koliform mudah dideteksi, sehingga jika bakteri tersebut ditemui dalam sampel air berarti air tersebut tercemar oleh tinja dan kemungkinan besar perairan tersebut mengandung bakteri patogen. Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, kadar maksimum total koliform yang diperbolehkan pada perairan umum yang diperuntukkan untuk mengairi pertanaman dan peternakan sebesar 10.000 MPN/100ml.

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Januari – 12 Februari 2005 bertempat pada saluran pembuangan air lindi TPA sampah Galuga, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor (Lampiran 1 dan Gambar 2). Kemudian sampel yang didapatkan dianalisis pada Laboratorium Produktifitas dan Lingkungan Perairan, serta Laboratorium Lingkungan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

B. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol sampel air, botol gelap steril untuk sampel mikrobiologi, botol BOD 125 ml, termometer alkohol, tongkat berskala, stopwatch, vacuum pump, spektrofotometer, pH-meter , kertas millipore 0,45 µm, kertas saring Whatman no. 42, plastik polybag hitam, kertas alumunium dan coolbox.

Bahan yang dipakai adala h bahan kimia untuk titrasi DO dan bahan-bahan kimia untuk analisis laboratorium.

C. Metode Kerja

1. Stasiun penelitian dan pengambilan contoh

Air contoh yang diteliti diambil dari 5 stasiun pengamatan (Gambar 2). Stasiun 1 merupakan saluran irigasi yang mengalirkan air ke persawahan penduduk. Stasiun 2 adalah saluran pembuangan air lindi menuju ke perairan umum dari kolam-kolam pengendapan lindi TPA Galuga. Stasiun 3 merupakan saluran pertemuan air irigasi dengan air lindi. Air irigasi masuk kedalam saluran melalui pipa paralon dengan ketinggian yang sedikit lebih tinggi dari pada saluran air lindi. Stasiun 4 merupakan saluran perairan umum yang ditutupi dengan pepohonan rimbun di sepanjang pinggir saluran. Jarak antara stasiun 1, 2, 3 dan 4 sekita r 15 – 25 meter. Stasiun 5 merupakan sumur penduduk yang terdekat (± 20 m) dengan TPA Galuga dengan kedalaman 3 m.

Pengambilan contoh dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dengan 4 (empat) kali pengulangan pada setiap stasiun. Pada setiap stasiun dilakukan pe ngamatan langsung parameter suhu, oksigen terlarut, dan debit aliran air buangan lindi. Pengambilan contoh dilakukan pada pukul 06.00 (pagi), 11.00 (siang), 18.00 (sore) dan 24.00 (malam). Pada stasiun 5 dilakukan hanya pada pukul 11.00 WIB. Setiap pengambilan contoh, parameter yang langsung diukur adalah suhu, debit, dan oksigen terlarut, kemudian air contoh dimasukkan kedalam botol sampel untuk dilakukan analisa parameter yang lain pada laboratorium.

2. Pengukuran parameter fisika, kimia dan mikrobiologi

Pengukuran dan analisa parameter fisika, kimia, dan biologi dilakukan secara in-situ maupun di laboratorium. Parameter-parameter yang dianalisa dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Parameter yang dianalisa

Parameter Satuan Metode/Alat Keterangan

Fisika

1. Suhu 0C Pemuaian / Termometer alkohol In-situ

2. TSS mg/l Gravimetrik / millipore 0,45µm Laboratorium

Kimia

1. pH - Potensiometrik / pH-meter Laboratorium

2. Oksigen terlarut mg/l Modifikasi Winkler / botol DO In-situ

3. BOD5 mg/l Modifikasi Winkler dan

inkubasi 5 hari / botol DO

Laboratorium

4. COD mg/l Titrimetrik K2Cr2O7 / buret

titran

Laboratorium

5. Amonia total mg/l Phenate/ Spektrofotometer ë =

640 nm

Laboratorium

6. Nitrat mg/l Brucine/ Spektrofotometer ë =

410 nm

Laboratorium

7. Sulfat mg/l Turbidimetrik/ Spektrofotometer

ë = 420 nm

Laboratorium

8. Besi mg/l Phenantroline/ Spektrofotometer

ë = 510 nm

Laboratorium Mikrobiologi

Gambar 2. Sketsa lokasi stasiun penelitian Keterangan :

Tumpukan sampah

Batas tumpukan sampah Tempat pengolahan sampah menjadi kompos

Pos jaga TPA Ga luga Rumah penduduk Kampung Lalamping Kolam pengumpul air lindi Penyekat Kolam pengolahan A Kolam pengolahan B Kolam pengolahan C Kolam pengolahan D Stasiun 1 (saluran irigasi) Stasiun 2 (saluran air lindi) Stasiun 3

(saluran pertemuan air lindi dengan air irigasi) Stasiun 4 (saluran perairan umum) Sumur penduduk Persawahan A B C D

D. Analisis Data

1. Analisis beban bahan pencemar

Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya beban bahan pencemar parameter tertentu (BOD, COD atau TSS) pada air lindi yang terbuang keperairan umum (Metcalf dan Eddy, 1991).

Beban bahan pencemar tersebut dihitung dengan menggunakan rumus:

L = C x Q

Keterangan :

L = Beban bahan pencemar dari parameter tertentu ( kg/hari) C = Konsentrasi bahan pencemar dari parameter tertentu (mg/l) Q = Debit air limbah (m3/hari)

2. Metode STORET

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pencemaran air akibat masuknya air lindi pada saluran perairan umum. Penggunaan metode STORET memberikan keuntungan dalam mengetahui baik buruknya kualitas badan air untuk suatu peruntukkan, serta dapat diketahui pula parameter yang tidak memenuhi persyaratan baku mutu tertentu (Canter, 1977).

Langkah-langkah dalam penggunaan STORET antara lain :

1. Membuat tabel hasil analisis kualitas fisika, kimia, biologis yang terukur selama pengamatan yang mencakup nilai maksimum, minimum dan rata-rata.

2. Pada tabel yang sama, dicantumkan nilai baku mutu (kelas III untuk budidaya perikanan dan pengairan tanaman, sesuai dengan Peraturan Pemerintah R.I. No. 82 tahun 2001) untuk masing-masing parameter.

3. Membandingkan nilai minimum, maksimum dan rata-rata dengan nilai baku mutu yang ditetapkan.

4. Memberikan skor terhadap masing-masing parameter tersebut sebagai berikut:

a. Skor nol (0), jika nilai-nilai parameter hasil pengukuran memenuhi baku mutu atau masih dibawah nilai baku mutu.

b. Skor (-1 s/d -9), jika nilai-nilai parameter hasil pengukuran telah melebihi nilai baku mutu yang ditetapkan dan jumlah contoh air yang diukur <10.

c. Skor (-2 s/d -18), jika nilai-nilai parameter hasil pengukuran telah melebihi nilai baku mutu yang ditetapkan dan jumlah contoh air yang diukur lebih dari atau sama dengan 10 ( 10). Untuk rincian pemberian skor pada butir b dan c dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu perairan berdasarkan metode STORET (Canter, 1977)

Parameter Jumlah contoh Nilai

Fisika Kimia Biologi

Minimum -1 -2 -3 maksimum -1 -2 -3 < 10 Rata -rata -3 -6 -9 Minimum -2 -4 -6 maksimum -2 -4 -6 10 Rata -rata -6 -12 -18

d. Setelah masing-masing memiliki skor, nilai-nilai skor dari seluruh parameter fisika, kimia, biologi tersebut dijumlahkan dan dibandingkan dengan nilai berdasarkan baku mutu air yang ditentukan US-EPA (United State-Environmental Protection Agency) seperti tercantum dalam Tabel 7.

Tabel 7. Klasifikasi mutu air berdasarkan US-EPA

Kelas Jumlah total skor Mutu air

A 0 Baik sekali

B -1 s/d -10 Baik

C -11 s/d -30 Sedang

D -31 Buruk

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Tempat Penampungan Akhir (TPA) sampah Galuga terletak di Kampung Lalamping, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sekitar 25 km dari pusat kota Bogor. TPA sampah Galuga ini sudah beroperasi menerima buangan sampah dari kota Bogor sejak tahun 1992. Secara administratif TPA sampah Galuga ini berbatasan dengan :

Sebelah utara : Areal pertanian Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang

Sebelah timur : Perbukitan Kampung Cimangir

Sebelah selatan : Kampung Moyan, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang

Sebelah barat : Kampung Lalamping, Desa Galuga

Keseluruhan luas TPA sampah Galuga sebesar 9,8 Ha, dengan luas areal buang (areal pembongkaran dan penampungan sampah) sebesar 8,24 Ha. Sedangkan luas infrastruktur penunjang lainnya sebesar 1,56 Ha.

Sebagai tempat pembuangan akhir, TPA sampah Galuga menerima masukan sampah dari Kota Bogor dan sebagian sampah dari Kabupaten Bogor. Berdasarkan sumbernya sampah yang masuk TPA sampah Galuga sangat beragam, seperti sampah pemukiman, sampah pasar, pertokoan, sampah sapuan jalan raya dan sampah dari kawasan industri. Sampah tersebut kemudian diangkut ke TPA sampah Galuga dengan armada truk yang berjumlah 65 - 70 unit. Berdasarkan data dari DKP (2001) sampah yang dapat terangkut per harinya sebesar 1.391 m3 (Tabel 8). Sebesar 1.092 m3 per hari jenis sampah yang masuk merupakan sampah organik (Tabel 9). Sampah yang masuk kedalam TPA langsung diratakan oleh petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor dengan alat berat dan sebagian pemulung melakukan penyortiran barang-barang yang dapat didaur ulang.

Kampung Lalamping merupakan pemukiman penduduk yang letaknya paling dekat dengan TPA sampah Galuga. Mata pencaharian sebagian besar penduduk Kampung Lalamping adalah sebagai pemulung yang bergantung

hidupnya dari keberadaan TPA sampah Galuga. Untuk kebutuhan sehari-harinya mereka menggunakan sumber air dari sumur dan tangki air bersih yang disediakan Pemerintah Kota Bogor. Penduduk Kampung Lalamping yang berada di sebelah barat TPA Galuga sering mengeluhkan mengenai bau yang ditimbulkan TPA Galuga yang sesekali terasa sangat menyengat, akan tetapi karena sudah turun temurun menempati daerah tersebut mereka menganggap sudah biasa dan mereka harus menjalaninya. Salah satu kompensasi yang diterima penduduk Kampung Lalamping dari Pemerintah Kota Bogor adalah adanya pengobatan gratis setiap tiga bulan sekali.

Tabel 8. Timbulan dan jumlah sampah terangkut per hari ber dasarkan sumber sampah

Terangkut

Sumber sampah Timbulan

(m3) (m3) %

Pemukiman (64,2 %) 1.347 765 36,4

Pasar (12,5 %) 262 233 11,1

Pertokoan, restoran dan hotel

(7,1 %) 149 125 6,0

Fasilitas umum dan sosial (4,2 %) 88 73 3,5

Sapuan jalan (7,3 %) 154 120 5,7

Kawasan industri (4,7 %) 99 75 3,6

Jumlah 2099 1.391 66,3

Sumber : DKP Kota Bogor, 2001

Tabel 9. Komposisi dan timbulan sampah yang terangkut per hari berdasarkan jenis sampah

Terangkut

Jenis sampah Timbulan

(m3) (m3) (%) Organik (75,2 %) 1.580 1.092 52,0 Kertas (6,05 %) 127 79 3,8 Plastik (8,53 %) 179 86 4,1 Logam (1,76 %) 37 22 1,0 Kaca/gelas (2,10 %) 44 29 1,4 Karet (1,67 %) 35 26 1,2 Kain/tekstil (1,91 %) 40 25 1,2 Kayu (1,91 %) 25 15 0,7 Lain- lain (1,52 %) 32 17 0,8 Jumlah 2.099 1.391 66,3

B. Lindi Sampah TPA Galuga

Lindi sampah TPA Galuga dihasilkan oleh tumpukan sampah yang ditampung. Komposisi lindi yang terbentuk akan sesuai dengan jenis sampah yang masuk kedalam TPA. Air lindi yang terbentuk berwarna hitam kemerahan dengan bau menyengat. Secara gravitasi air lindi yang terbentuk mengalir ke tempat yang lebih rendah melalui saluran permanen yang terbuat dari tembok beton dengan panjang saluran sekitar 400 m, lebar 1 – 1,5 m dan dalam 0,5 – 1 m. Lindi tersebut kemudian masuk kedalam kola m pengolahan (pengendapan) permanen sebanyak 4 buah (Lampiran 7). Pada keempat kolam pengolahan ini, lindi yang masuk akan diendapkan dan selanjutnya dikeluarkan kesaluran pembuangan. Saluran pembuangan ini dibuat tidak permanen dengan lebar 1 m dan tinggi air sekitar 10 - 25 cm yang langsung berhubungan dengan saluran irigasi penduduk.

C. Pengolahan Air Lindi

TPA sampah Galuga mempunyai 4 buah kolam pengolahan. Sebelum air lindi hasil buangan sampah terbuang keperairan umum, lindi tersebut diolah terlebih dahulu pada kolam-kolam pengolahan. Menurut DKP (2003) keempat kolam tersebut dirancang dengan fungsi tertentu. Kolam pengolahan pertama mempunyai fungsi sebagai kolam aerasi dengan ukuran ± 20 m3. Kolam pengolahan kedua dan ketiga sebagai kolam flokulasi dengan ukuran masing-masing ± 40 m3 dan kolam keempat sebagai kolam pengendapan mempunyai ukuran ± 12 m3 (Lampiran 7). Kenyataannya pada saat pengamatan setiap bak pengolahan tersebut tidak difungsikan sesuai dengan seharusnya. Pada setiap bak pengolahan, air lindi yang masuk hanya dialirkan, diendapkan, kemudian dikeluarkan kesaluran perairan umum tanpa ada proses pengolahan lebih lanjut. Hal ini sangat disayangkan, karena bak pengolahan yang telah dirancang tidak dioperasikan sesuai dengan fungsinya.

D. Kualitas Air Lindi

1. Parameter Fisika Air Lindi a. Suhu

Pada tiap stasiun terlihat penyebaran suhu yang hampir sama, dari Gambar 3 terlihat sebaran suhu tertinggi pada setiap stasiun adalah pada pengamatan siang hari yaitu berkisar antara 30 – 32 oC. Sedangkan sebaran suhu terendah terjadi pada pa gi hari yang berkisar antara 23 – 26,5 oC. Gambar 3 juga menunjukkan bahwa pola fluktuasi suhu pada saluran perairan tersebut adalah rendah pada pagi hari, kemudian terjadi kenaikan suhu yang drastis pada siang hari, dan selanjutnya berangsur -angsur menurun pada sore sampai malam hari. Suhu dipengaruhi oleh faktor penyinaran sinar matahari dan proses dekomposisi yang terjadi pada tiap stasiun. Apabila dibandingkan dengan baku mutu kelas III Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, pada pengamatan pagi dan siang hari telah melebihi baku mutu sehingga perairan ini tidak sesuai untuk pengairan tanaman dan budidaya perikanan.

Baku mutu

Gambar 3. Hasil pengukuran suhu tiap pengamatan

b. TSS (Total Suspended Solid)

Pada Gambar 4, TSS tiap pengamatan menunjukan nilai yang beragam. Pada stasiun 1 terlihat, nilai TSS dari pengamatan pagi sampai sore hari mengalami kenaikan dar i 14 mg/l sampai 41 mg/l, akan tetapi pada malam hari terjadi penurunan sampai 4 mg/l. Hal ini diduga karena pada pagi sampai siang hari komposisi pasir dan lumpur akibat limpasan dari persawahan meningkat sedangkan pada malam hari komposisi pasir dan lumpurnya berkurang dapat

22 24 26 28 30 32 34

pagi siang sore malam

waktu

Suhu (oC)

dilihat dari penampakan air contoh yang lebih jernih daripada pagi, siang, dan sore.

Gambar 4. Hasil pengukuran TSS tiap pengamatan

Pada stasiun 2 terlihat pola yang terus meningkat, pagi hari sebesar 23 mg/l sampai 27 mg/l pada malam hari. Kondisi ini diduga karena adanya peningkatan kandungan pasir halus, lumpur, dan bahan organik tidak terlarut yang ikut terbawa air lindi. Lain halnya dengan stasiun 3 dan 4, pada pengamatan pagi sampai sore hari cenderung konstan, ke mudian mengalami kenaikan pada waktu malam hari sampai 76 mg/l (stasiun 3) dan 68 mg/l (stasiun 4). Nilai TSS yang lebih tinggi pada malam hari ini diduga karena sebelum pengamatan terjadi hujan sehingga sedimen dasar yang berupa lumpur dan pasir terangka t kepermukaan.

Secara keseluruhan nilai TSS pada saluran pembuangan lindi ini berkisar antara 4 mg/l (terendah) sampai 68 mg/l (tertinggi). Apabila dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 nilainya masih di bawah 400 mg/l. Oleh karena itu, dalam hal ini perairan tersebut masih sesuai digunakan untuk budidaya ikan dan pengairan tanaman.

2. Parameter Kimia Air Lindi a. pH

Terlihat pada Gambar 5 adanya perbedaan nilai pH perairan pada stasiun 1 (saluran irigasi) dengan stasiun pengamatan yang lain. Pada stasiun 1 kondisi nilai pH perairannya sebesar 6,44 pada pagi hari (tertinggi) dan 6,02 pada malam hari (terendah). Pada stasiun pengamatan yang lainnya menunjukkan nilai pH

0 10 20 30 40 50 60 70 80

pagi siang sore malam

waktu

TSS (mg/l)

yang konstan antara 7,36 – 7,58 yang masih bisa digolongkan dalam nilai pH yang netral.

Baku mutu

Gambar 5. Hasil pengukuran pH tiap pengamatan

Pada stasiun 1 nilai pHnya sedikit lebih rendah diduga karena adanya run off pupuk pertanian dan humus (unsur hara) yang terlarut masuk kedalam perairan. Pada stasiun 2, 3 dan 4 karena sudah adanya masukan lindi kedalam perairan, maka perubahan nilai pH sangat tergantung kepada proses dekomposisi di dalam air lindi tersebut. Menurut Pohland dan Harper (1985) seiring dengan pertambahan umur tumpukan sampah, pada tumpukan sampah akan terjadi fase fermentasi metana sebagai hasil dekomposisi biologis anaerobik yang hampir sempurna dengan nilai pH yang berfluktuasi antara 7,5 – 9.

b. DO (Dissolved Oxygen)

Pada Gambar 6 terlihat bahwa pada stasiun 1 kandungan oksigen terlarut dipagi hari sebesar 5,06 mg/l dan menunjukkan pola harian yang terus menurun menjadi 3,67 mg/l (siang hari), 3,37 mg/l (sore hari), dan 2,18 mg/l pada malam hari. Pada pagi hari sebelum pengamatan, terjadi hujan yang diduga meningkatkan oksigen terlarut di perairan karena bertambahnya ketinggian air dan kecepatan aliran air sehingga difusi oksigen dari udara meningkat, walaupun proses fotosintesis masih sedikit terjadi.

Pada siang hari, karena kondisi stasiun 1 yang teduh, masukan sinar mataharinya sedikit mengakibatkan proses fotosintesis yang terjadi pun sedikit.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

pagi siang waktu sore malam

pH

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa masukan oksigen hasil dari fotosintesis sedikit dan difusi dari udara pun berkurang karena menurunnya kecepatan aliran, sehingga oksigen yang ada akan menurun karena terpakai oleh dekomposisi bahan organik dari limpasan persawahan.

Baku mutu

Gambar 6. Hasil pengukuran oksigen terlarut tiap pengamatan

Kandungan oksigen pada stasiun 2 yang terlihat pada Gambar 6 menunjukkan nilai yang sangat rendah, pagi dan siang hari sebesar 0,79 mg/l kemudian naik pada sore hari (1,29 mg/l) dan malam hari turun sampai 0,49 mg/l. Kondisi stasiun 2 yang terbuka memungkinkan penetrasi sinar matahari yang cukup untuk proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Kandungan bahan organik yang tinggi dari buangan lindi menyebabkan pemakaian oksigen untuk menguraikan bahan organik oleh mikroba pada perairan juga tinggi, sehingga oksigen dari hasil fotosintesis akan terpakai yang mengakibatkan oksigen yang terlarut di perairan tetap rendah.

Begitu pula yang terjadi pada stasiun 4, yang kandungan oksigen terlarut yang terukur sebesar 0,79 mg/l (pagi); 0,89 mg/l (siang dan sore); dan 0,39 mg/l (malam). Kondisi stasiun 4 yang teduh menyebabkan proses fotosintesis yang terjadi hanya menghasilkan sedikit oksigen. Bahan organik yang melewati stasiun 4 merupakan akumulasi dari stasiun 1, 2 dan 3, sehingga banyaknya bahan organik yang terakumulasi akan mengakibatkan semakin banyaknya kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik tersebut. Implikasinya kandungan oksigen terlarut dalam perairan akan semakin rendah. Terlebih lagi pada

0 1 2 3 4 5 6

pagi siang sore malam

waktu

DO (mg/l)

pengamatan malam hari dengan tidak adanya masukan dari proses fotosintesis, maka oksigen akan semakin rendah.

Pada stasiun 3, kandungan oksigen terlarutnya cenderung fluktuatif, tertinggi pada pagi hari (3,18 mg/l) kemudian menurun menjadi 0,7 mg/l pada siang hari, tetapi pada sore hari naik sedikit menjadi 1,3 mg/l dan kembali menurun menjadi 0,7 mg/l pada malam hari. Kondisi kandungan oksigen terlarut yang seperti ini diduga karena stasiun 3 merupakan pertemuan massa air dari saluran irigasi (stasiun 1) dengan saluran pembuangan lindi (stasiun 2) sehingga kondisinya selalu berubah-ubah. Secara keseluruhan kandungan oksige n terlarut pada saluran yang sudah tercampur dengan air lindi menunjukkan kondisi yang kurang dari 2 mg/l. Apabila air tersebut digunakan untuk budidaya perikanan akan mengakibatkan kematian pada ikan.

c. BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)

Pada Gambar 7, terlihat kebutuhan jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk mendekomposisi bahan organik secara biologis sangat bervariasi tiap waktu pengamatan. Pada stasiun 1 dan 2 membentuk pola fluktuasi kandungan BOD5 yang sama, pada pagi hari sebesar 69,43 mg/l (stasiun 1), dan 99,18 mg/l (stasiun 2); pada siang hari naik menjadi 74,39 mg/l (stasiun 1), dan 119,02 mg/l (stasiun 2); kemudian sore hari turun menjadi 39,67 mg/l (stasiun 1), dan 54,55 mg/l (stasiun 2); dan malam harinya naik kembali menjadi 59,51 mg/l (stasiun 1), dan 99,18 mg/l (stasiun 2).

baku mutu

Gambar 7. Hasil pengukuran BOD5 tiap pengamatan

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

pagi siang sore malam

waktu

BOD (mg/l)

Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa pada siang hari suhu pada permukaan perairan yang meningkat dapat memicu aktivitas mikroba dalam menguraikan bahan organik yang berada dalam perairan, sehingga kebutuhan oksigen untuk menguraikannya pun semakin besar. Kemudian pada sore hari terlihat nilai BOD5 menurun, hal ini diduga karena intensitas aktivitas mikroba yang menguraikan bahan organik menurun, sehingga jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik juga menurun. Peningkatan BOD5 pada malam hari diduga karena bertambahnya masukan bahan organik pada stasiun 1 akibat limpasan dari persawahan karena terjadi hujan dan pada stasiun 2 bertambahnya bahan organik dari lindi tidak terendapkan pada kolam pengendapan, sehingga kebutuhan untuk mendekomposisikannya pun bertambah.

Pada stasiun 3 yang merupakan daerah pertemuan massa air dari saluran irigasi dengan saluran pe mbuangan lindi menunjukkan nilai BOD5 sebesar 34,71 mg/l (pagi hari), 54,55 mg/l (siang hari), kemudian naik menjadi 173,57 mg/l (sore hari) dan turun menjadi 54,55 mg/l (malam). Fluktuasi kenaikan yang terjadi pada sore hari diduga karena adanya masukan limpasan bahan organik akibat dari kegiatan penduduk Kampung Lalamping. Pada malam harinya nilai BOD5nya kembali turun, hal ini diasumsikan bahwa pada malam hari keberadaan mikroba di stasiun 3 lebih sedikit, sehingga nilai BOD5nya pun lebih rendah. Secara umum pada kondisi stasiun 3 yang merupakan daerah pertemuan, keadaan nilai – nilai parameter yang diamati tidak menentu.

Pada stasiun 4 terlihat pola yang relatif tidak jauh berubah sejak pagi hari niali BOD5 sebesar 104,14 mg/l lalu menurun pada siang hari menjadi 79,35 mg/l dan naik kembali menjadi 99,28 mg/l (sore hari) dan 94,22 mg/l (malam hari). Kondisi stasiun 4 yang tidak mengalami banyak perubahan dengan masukan hanya dari stasiun 3, mengambarkan bahwa besarnya bahan organik yang dapat terurai secara biologis karena masukkan air lindi berkisar antara 79,35 mg/l sampai dengan 104,14 mg/l.

Apabila dibandingkan dengan baku mutu kualitas air kelas III (kegiatan perikanan dan pengairan tanaman) nilai BOD5 tersebut sudah jauh melebihi baku mutu (Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001). Hal ini terlihat nyata pada lingkungan sekitar saluran pembuangan lindi, bahwa persawahan yang diairi

dengan air irigasi yang tercampur dengan air lindi tidak produktif lagi. Oleh karena itu, perairan pada saluran pembuangan lindi ini dapat dianggap telah mengalami pencemaran.

d. COD (Chemical Oxygen Demand)

Pada Gambar 8 COD pada stasiun 1 menunjukkan nilai yang lebih rendah dan pola yang terus menurun dari pagi hari (2002,15 mg/l) sampai malam hari (706,34 mg/l). Dari nilai tersebut dapat diketahui bahwa COD stasiun 1 lebih besar dari pada nilai BOD5nya, tingginya nilai COD ini diduga karena adanya bocoran atau rembesan air lindi yang mempengaruhi kandungan bahan organik pada stasiun 1 ini. Oleh karena itu bahan organik yang melewati stasiun 1 berupa bahan organik yang sukar didegradasi secara biologis lebih banyak dari pada bahan organik yang mudah terdegradasi secara biologis.

Pada stasiun 2, 3, dan 4 terlihat pola yang sama, terjadi kenaikan nilai COD masing-masing stasiun pada siang hari, menurun pada sore dan malam hari. Hal ini berarti pada siang hari kandungan bahan organik yang dapat dioksidasi dengan dikromat lebih banyak. Selain itu dapat menggambarkan bahwa pada siang hari di stasiun tersebut bahan organik yang sukar di degradasi secara biologis lebih banyak dan semakin besar pada stasiun 4 (5541,55 mg/l). Nilai COD yang meningkat pada siang hari ini diduga karena terjadinya masukan air hujan pada lahan TPA pada pagi harinya yang melarutkan bahan organik pada timbunan sampah dan membawa bahan organik terlarut tersebut melewati stasiun 2, 3 dan 4 pada siang harinya.

baku mutu

Gambar 8. Hasil pengukuran COD tiap pengamatan

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000

pagi siang sore malam

waktu

COD (mg/l)

Menurut Pohland dan Harper (1985) dengan nilai COD rata-rata pada saluran pembuangan lindi seperti diatas dapat dikategorikan bahwa kekuatan organik air lindinya dalam kategori menengah. Apabila dibandingkan dengan baku mutu (Peraturan Pemerintah No. 82, 2001), keadaan perairan seperti ini

Dokumen terkait