Pengukuran diameter dilakukan pada seminggu sekali dengan menggunakan alat jangka sorong. Setiap melakukan pengukuran diameter pohon dilakukan dua kali agar data yang diperoleh lebih akurat.
b. Tinggi
Tinggi pohon diukur seminggu sekali dengan menggunakan penggaris. Pengukuran tinggi pohon ini dimulai dari bagian batang pohon di atas permukaan tanah sampai pada pucuk daun yang tertinggi. Supaya tidak terjadi perubahan digunakan ajir.
c. Jumlah Daun
Jumlah daun juga diukur seminggu sekali dengan menghitung jumlah daun yang ditinggalkan.
d. Bobot Kering
Setelah kegiatan perlakuan dan pengamatan diameter, tinggi dan jumlah daun berakhir maka dilakukan pemotongan atau pemisahan batang dengan akar.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Bagian batang dan daun dicuci dengan air dan dibiarkan kering, kemudian dimasukkan ke dalam amplop yang telah diberi lobang dan label sesuai dengan perlakuan. Kemudian dikeringkan dengan oven pada temperature 700C selama ± 48 jam. Setelah pengeringan dengan oven masing-masing bahan ditimbang dengan menggunakan alat timbangan elektrik. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada masing-masing bagian akar tanaman.
e. Rasio Tajuk Akar
Rasio tajuk akar dihitung dengan membandingkan bobot kering tajuk dengan bobot kering akar. Untuk memperoleh rasio tajuk akar digunakan rumus :
Rasio Tajuk Akar =
Akar Kering Bobot Tajuk Kering Bobot
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Diameter Tanaman
Hasil analisis sidik ragam pertambahan diameter ketiga jenis klon dari 0 MST sampai 12 MST yang disajikan pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter tanaman, perbedaan perlakuan penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter tanaman, interaksi antara jenis klon dan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter tanaman. Rataan pertambahan diameter dengan jenis klon dan perlakuan penyiraman yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.
0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu Setelah T anam) Rataan Diameter (mm) A1 A2 A3
Gambar 1. Grafik rataan pertambahan diameter ketiga jenis klon dengan jenis klon yang berbeda.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu Setelah T anam) Rataan Diameter (mm) B1 B2 B3 B4
Gambar 2. Grafik rataan pertambahan diameter ketiga jenis klon dengan perlakuan penyiraman yang berbeda.
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan diameter ketiga jenis klon dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan diameter perlakuan penyiraman 70% (B2) dan berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan diameter dengan perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Rata-rata pertambahan diameter ketiga jenis klon dengan perlakuan penyiraman 100% (B2) juga berbeda nyata dengan perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Hasil Uji Jarak Duncan pertambahan diameter ketiga jenis klon dapat dilihat pada Tabel 1.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Tabel 1. Hasil Uji Jarak Duncan Pertambahan Diameter (mm) Ketiga Jenis Klon dari Umur 0 MST Umur 12 MST
Jenis Klon Penyiraman Rata-rata Jenis B1 (100%) B2 (70%) B3 (50%) B4 (30%) A1 1.23 1.46 1.56 1.98 1.56 A2 1.25 1.56 1.76 1.77 1.59 A3 1.42 1.67 2.39 1.80 1.82 Rata-rata Penyiraman 1.30 a 1.56a 1.90b 1.85b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Tinggi Tanaman
Hasil analisis sidik ragam pertambahan tinggi ketiga jenis klon antara 12 MST dengan 0 MST yang disajikan pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, perlakuan penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman, sedangkan interaksi antara jenis klon dan perlakuan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman. Rataan pertambahan tinggi bibit dengan jenis klon dan perlakuan penyiraman yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. 0 10 20 30 40 50 60 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu Setelah T anam) Rataan T inggi (cm) A1 A2 A3
Gambar 3. Grafik rataan pertambahan tinggi ketiga jenis klon dengan jenis klon yang berbeda.
0 10 20 30 40 50 60 70 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu setelah T anam) Rataan T inggi (cm)
B1 B2 B3 B4
Gambar 4. Grafik rataan pertambahan tinggi ketiga jenis klon dengan Perlakuan yang berbeda.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan tinggi bibit dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit dengan perlakuan penyiraman 70% (B2), rata-rata pertambahan tinggi bibit dengan perlakuan penyiraman 50% (B3) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit dengan perlakuan 30% (B4). Rata-rata pertambahan tinggi bibit dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan tinggi perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Demikian juga dengan rata-rata pertambahan tinggi bibit perlakuan penyiraman 70% (B2) berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan tinggi perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Hasil Uji Jarak Duncan pertambahan tinggi ketiga jenis klon dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji Jarak Duncan Pertambahan Tinggi (cm) Ketiga Jenis Klon dari Umur 0 MST Umur 12 MST Jenis Klon Penyiraman Rata-rata jenis B1 (100%) B2 (70%) B3 (50%) B4 (30%) A1 16.54 17.48 24.00 24.56 20.65 A2 19.18 21.60 27.20 22.72 22.68 A3 21.24 20.86 24.94 23.22 22.57 Rata-rata Penyiraman 18.99 a 19.98a 25.38b 23.50b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. Jumlah Daun
Hasil analisis sidik ragam pertambahan jumlah daun ke tiga jenis klon dari 0 MST sampai 12 MST yang disajikan pada lampiran 6 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun tanaman, perlakuan penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun, sedangkan interaksi antara jenis klon dan perlakuan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun. Rataan pertambahan jumlah daun ketiga jenis klon dengan jenis klon dan perlakuan penyiraman yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 5 dan Gambar 6.
0 20 40 60 80 100 120 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu Setelah T anam) Rataan Jumlah Daun A1 A2 A3
Gambar 5. Grafik rataan pertambahan jumlah daun ke tiga jenis klon dengan jenis klon yang berbeda.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (Minggu Setelah T anam) Rataan Jumlah Daun B1 B2 B3 B4
Grafik 6. Rataan pertambahan jumlah daun ke tiga jenis klon dengan perlakuan penyiraman yang berbeda.
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap jenis klon menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan jumlah daun jenis klon IND-61 (A2) berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan jumlah daun jenis klon IND-47 (A1) dan IND-60 (A3). Sedangkan rata-rata pertambahan jumlah daun jenis klon IND-47 (A1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan jumlah daun jenis klon IND-60 (A3).
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan jumlah daun dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan jumlah daun perlakuan penyiraman 70% (B2) dan berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Rata-rata pertambahan jumlah daun perlakuan penyiraman 70% (B2) tidak berbeda nyata dengan rata-rata pertambahan jumlah daun perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Rata-rata pertambahan jumlah daun dengan perlakuan penyiraman 50% (B3) tidak
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
berbeda nyata dengan perlakuan penyiraman 30% (B4). Hasil Uji Jarak Duncan pertambahan jumlah daun ketiga jenis klon dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Uji Jarak Duncan Pertambahan Jumlah Daun Ketiga Jenis Klon dari Umur 0 MST Umur 12 MST
Jenis Klon Penyiraman Rata-rata jenis B1 (100%) B2 (70%) B3 (50%) B4 (30%) A1 31.8 40.0 46.2 55.4 43.35a A2 55.6 70.2 103.6 92.6 80.5b A3 40.0 48.4 48.2 51.6 47.05a Rata-rata Penyiraman 42.47a 52.87ab 66.00b 66.53b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Bobot Kering Tajuk
Hasil analisis sidik ragam bobot kering tajuk ketiga jenis klon yang disajikan pada Lampiran 8 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk, perlakuan penyiraman berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering tajuk, sedangkan interaksi antara jenis klon dan perlakuan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk. Rataan bobot kering tajuk bibit ketiga jenis klon dapat dilihat pada Gambar 7.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. 7.7 6.82 9.04 9.449.12 10.02 11.96 12.92 11.74 12.14 10.54 9.44 0 2 4 6 8 10 12 14 Rataan Bobot Kering Tajuk (gram) B1 B2 B3 B4 Perlakuan Penyiraman A1 A2 A3
Gambar 7. Diagram rataan bobot kering tajuk ke tiga jenis klon
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata bobot kering tajuk dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) berbeda nyata dengan rata-rata bobot kering tajuk perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Rata-rata bobot kering tajuk dengan perlakuan penyiraman 70% (B2) tidak berbeda nyata dengan rata-rata perlakuan penyiraman 100% (B1) dan 30% (B4) tetapi berbeda nyata dengan rata-rata bobot kering tajuk perlakuan penyiraman 70% (B3). Hasil Uji Jarak Duncan bobot kering tajuk bibit dapat dilihat pada Tabel 4.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Tabel 4. Hasil Uji Jarak Duncan Bobot Kering Tajuk Ketiga Jenis Klon dari Umur 12 MST Jenis Klon Penyiraman Rata-rata jenis B1 (100%) B2 (70%) B3 (50%) B4 (30%) A1 7.70 9.44 11.96 12.14 10.31 A2 6.82 9.12 12.92 10.54 9.85 A3 9.04 10.02 11.74 9.44 10.06 Rata-rata Penyiraman 7.85 a 9.53ab 12.21c 10.71bc
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Bobot Kering Akar
Hasil analisis sidik ragam bobot kering akar ke tiga jenis klon yang disajikan pada Lampiran 10 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar tanaman, perlakuan penyiraman berpengaruh sangat nyata terhadap bobot kering akar, sedangkan interaksi antara jenis klon dan perlakuan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar. Grafik rataan bobot kering akar ke tiga jenis klon dapat dilihat Gambar 8.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. 2.4 1.82 2.2 2.9 2.14 2.62 3.68 2.96 3.7 3.88 3.14 3.7 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 Rataan Bobot Kering Akar (gram) B1 B2 B3 B4 Perlakuan Penyiraman A1 A2 A3
Gambar 8. Diagram rataan bobot kering akar (gram)
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap jenis klon menunjukkan bahwa rata-rata bobot kering akar jenis klon IND-61 (A2) berbeda nyata dengan rata-rata bobot kering akar jenis klon IND-47 (A1) dan IND-60 (A3). Rata-rata bobot kering akar jenis klon IND-47 (A1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata bobot kering akar jenis klon IND-60 (A3).
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata bobot kering akar dengan perlakuan penyiraman 100% (B1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata bobot kering akar perlakuan penyiraman 70% (B2) dan berbeda nyata dengan bobot kering akar perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Rata-rata bobot kering akar perlakuan peyiraman 70% (B2) berbeda nyata dengan bobot kering akar perlakuan penyiraman 50% (B3) dan 30% (B4). Hasil Uji jarak Duncan pada bobot kering akar ke tiga jenis klon dapat dilihat pada Tabel 5.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Tabel 5. Hasil Uji Jarak Duncan Bobot Kering Akar Ketiga Jenis Klon dari Umur 12 MST Jenis Klon Penyiraman Rata-rata jenis B1 (100%) B2 (70%) B3 (50%) B4 (30%) A1 2.4 2.9 3.68 3.88 3.22b A2 1.82 2.14 2.96 3.14 2.52a A3 2.2 2.62 3.7 3.7 3.06b Rata-rata Penyiraman 2.14 a 2.55a 3.45b 3.57b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Rasio Tajuk Akar
Hasil analisis ragam rasio tajuk akar ke tiga jenis klon yang disajikan pada lampiran 12 menunjukkan bahwa perbedaan jenis klon berpengaruh nyata terhadap rasio tajuk akar, perlakuan penyiraman juga berpengaruh nyata terhadap rasio tajuk akar, sedangkan interaksi jenis klon dengan perlakuan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap rasio tajuk akar. Rataan rasio tajuk akar ke tiga jenis klon dapat dilihat pada gambar 9.
3.25 3.78 4.10 3.29 4.36 3.94 3.38 4.58 3.18 3.103.43 2.59 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 Rataan Rasio Tajuk Akar B1 B2 B3 B4 Perlakuan Penyiraman A1 A2 A3
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Gambar 7. Diagram Rataan Rasio Tajuk Akar bibit Eucalyptus grandis x
Eucalyptus urophylla
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap jenis klon menunjukkan bahwa rata-rata rasio tajuk akar jenis klon IND-61 (A2) berbeda nyata dengan jenis klon IND-47 (A1) dan jenis klon IND-60 (A3). Rata-rata rasio tajuk akar jenis klon IND-47 (A1) tidak berbeda nyata dengan rata-rata rasio tajuk akar jenis klon IND-60 (A3).
Hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman menunjukkan bahwa rata-rata rasio tajuk akar dengan perlakuan penyiraman 30% (B4) berbeda nyata dengan rasio tajuk akar dengan perlakuan penyiraman 100% (B1), perlakuan penyiraman 70% (B2) dan perlakuan penyiraman 50% (B3). Uji Jarak Duncan rasio tajuk akar antara perlakuan penyiraman 100% (B1), 70% (B2) dan 50% (B3) tidak terdapat perbedaan yang nyata. Uji Jarak Duncan rata-rata rasio tajuk akar ke tiga jenis klon dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Hasil Uji Jarak Duncan Rasio Tajuk Akar Ketiga Jenis Klon dari Umur 12 MST Jenis Klon Penyiraman Rata-rata jenis B1(100%) B2(70%) B3(50%) B4(30%) A1 3.25 3.29 3.38 3.10 3.26a A2 3.78 4.36 4.58 3.43 4.04b A3 4.10 3.94 3.18 2.59 3.45a Rata-rata Penyiraman 3.71 b 3.86b 3.71b 3.04a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Duncan pada taraf 5%
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. B. Pembahasan
Pengaruh Jenis Klon Terhadap Pertambahan Pertumbuhan Bibit Eucalyptus grandis x Eucalyptus urophylla
Perbedaan jenis klon memberi pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun, bobot kering akar dan rasio tajuk akar ke tiga jenis klon. Setelah dilakukan Uji Jarak Duncan terhadap bobot kering akar dan pertambahan jumlah daun diketahui bahwa jenis klon IND-47 (A1) berbeda nyata dengan jenis klon IND-61 (A2). Jenis klon IND-47 (A1) memiliki rata-rata bobot kering akar paling tinggi yaitu 3,22 gram dengan rata-rata pertambahan jumlah daun paling sedikit yaitu 43,35. Sedangkan jenis klon IND-61 (A2) memiliki bobot kering akar paling rendah yaitu 2,52 gram dengan pertambahan jumlah daun paling banyak yaitu 80,5. Jika dilihat dari kedua parameter tersebut jenis klon IND-61 (A2) dapat dikatakan memiliki ketahanan bibit yang lebih baik terhadap cekaman kekeringan dibandingkan dengan jenis klon IND-47 (A1) dan jenis klon IND-60 (A3). Hal ini juga didukung dengan hasil analisis jenis klon yang memberi pengaruh yang nyata terhadap rasio tajuk akar dan adanya perbedaan yang nyata antara rata-rata rasio tajuk akar jenis klon IND-47 (A1) dan IND-61 (A2) dimana rata-rata rasio tajuk akar tertinggi adalah jenis klon IND-61 (A2) sebesar 4,04 sedangkan rasio tajuk akar jenis klon IND-47 (A1) merupakan rata-rata rasio tajuk akar yang terendah yaitu 3.26. Sitompul dan Guritno (1995) mengatakan bahwa pada tanah yang subur akar yang relatif sedikit cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang relatif besar dalam penyediaan air dan unsur hara. Namun dari penelitian ini penyediaan air terhadap tanaman bervariasi sehingga dapat dikatakan bahwa pada keadaan persediaan air yang berbeda-beda jenis klon IND-61 (A2) memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jenis klon IND-47 (A1).
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Hasil analisis ragam jenis klon ke tiga jenis klon menunjukkan bahwa jenis klon tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap parameter diameter, tinggi dan bobot kering tajuk ke tiga jenis klon. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada umumnya pertambahan diameter dan tinggi bibit pohon tergolong sedikit pada waktu yang pendek didukung dengan jenis klon ke tiga jenis klon yang berasal dari hasil persilangan dengan jenis induk yang sama sehingga perbedaan jenis klon tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap bobot kering tajuk ke tiga jenis klon.
Pengaruh Perlakuan Penyiraman Terhadap Ketiga Jenis Klon
Perlakuan penyiraman memberi pengaruh yang nyata terhadap diameter ketiga jenis klon dimana nilai rata-rata tertinggi ditemukan pada perlakuan penyiraman 30% (B4) dan 50% (B3). Hal yang sama juga terjadi pada parameter tinggi, jumlah daun, bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat kekeringan (ketersediaan air berdasarkan kapasitas lapang) maka semakin tinggi peningkatan pertambahan diameter, jumlah daun, bobot kering tajuk dan bobot kering akar ketiga jenis klon. Pengaruh perlakuan penyiraman yang nyata terhadap rata-rata pertambahan jumlah daun dan bobot kering akar ketiga jenis klon terjadi pada perlakuan penyiraman paling sedikit (tingkat kekeringan paling tinggi dalam percobaan ini) yaitu pada perlakuan penyiraman 30% (B4). Hal ini diduga terjadi karena perakaran ketiga jenis klon pada tingkat ketersediaan air yang sedikit masih dapat melaksanakan fungsinya untuk menyerap air dan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Menurut Sitompul dan Guritno (1995), jika tanaman berada pada kondisi kekurangan air dan unsur hara, tanaman membentuk akar lebih banyak yang mungkin ditujukan untuk meningkatkan serapan yang menghasilkan nisbah tajuk/akar yang rendah. Hal ini sesuai dengan hasil Uji Jarak Duncan terhadap perlakuan penyiraman yang menunjukkan bahwa rata-rata rasio tajuk akar ketiga jenis klon yang terendah adalah pada perlakuan penyiraman 30% (B4) yaitu 3,04, sedangkan rata-rata rasio tajuk akar ketiga jenis klon yang tertinggi adalah pada perlakuan penyiraman 70% (B2) sebesar 3,86. Pada tingkat penyiraman yang kecil persediaan air bagi pertumbuhan tanaman sedikit sehingga perakaran tanaman bertambah agar dapat menyerap air sebanyak-banyaknya untuk mempertahankan agar pertumbuhannya tetap normal.
Pada tanah yang mengalami kekeringan air dapat memacu pertumbuhan akar agar dapat menyerap air untuk kebutuhan tanaman. Kekeringan tanah juga menyebabkan partikel-partikel tanah menjadi lebih mudah terpisah sehingga akar tanaman lebih mudah menembus tanah untuk mencari sumber air bagi pertumbuhannya. Perakaran Eucalyptus sp pada umumnya selain memiliki perakaran yang dalam juga membentuk jaringan yang rapat dekat permukaan tanah pada tanah-tanah kering agar air yang jatuh di atas permukaan tanah lebih mudah dan cepat diserap.
Pengaruh perlakuan penyiraman yang nyata terhadap diameter, tinggi, dan bobot kering tajuk terjadi pada perlakuan penyiraman 50% (B3). Hal ini diduga terjadi karena kemungkinan pada tingkat ketersediaan air kurang dari 50% kapasitas lapang ketiga jenis klon mengalami penurunan tekanan osmosis sehingga terjadi penarikan air dari daun ke akar. Hal ini dapat menyebabkan
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
terhambatnya fungsi daun sebagai organ tumbuhan yang menyediakan energi bagi tanaman sehingga terjadi penurunan pertambahan tinggi, jumlah daun dan bobot kering tajuk pada perlakuan penyiraman 30% (B4).
Perlakuan penyiraman 100% (B1) dan 70% (B2) memiliki nilai rata-rata tinggi, jumlah daun dan bobot kering tajuk ke tiga jenis klon yang rendah. Hal ini kemungkinan terjadi sebagai akibat terjadinya kelebihan air. Menurut Ismal (1993), Air yang terlalu banyak dapat merusak tumbuhan tergantung dari spesiesnya. Air yang berlebihan dapat memperburuk drainase dan menyebabkan aerasi yang tidak baik. Air yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan temperatur tanah sebagai media tumbuh tanaman menjadi rendah. Abidin (1991) mengatakan bahwa temperatur yang rendah akan mengurangi absorpsi air. Penurunan temperatur ini tidak hanya berpengaruh secara langsung terhadap absorpsi air, tetapi juga secara tidak langsung terhadap pertumbuhan akar dan aktivitas sintesis di dalam akar.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Jenis klon yang lebih tahan terhadap cekaman kekeringan adalah jenis klon IND-61 (A2) karena jenis klon tersebut memiliki rata-rata tertinggi pada parameter jumlah daun dan rasio tajuk akar dan memiliki rata-rata bobot kering akar paling rendah.
2. Ketiga jenis klon dapat bertahan hidup hingga pada tingkat penyiraman paling rendah yaitu pada tingkat penyiraman 30% (B4) dari penyiraman berdasarkan kapasitas lapang.
B. Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik terutama untuk mengetahui pengaruh jenis klon dan perlakuan penyiraman terhadap parameter diameter, tinggi dan jumlah daun sebaiknya menggunakan bibit yang lebih seragam dari awal penanaman. Selain itu juga perlakuan penyiraman sebaiknya diberikan berdasarkan jumlah air yang hilang sehingga ketersediaan air pada tanaman tetap sesuai dengan tingkat cekaman kekeringan yang dicobakan.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010. DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 1991. Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman. Penerbit Angkasa. Bandung. Anonim. 1997. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jurusan Tanah
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anonim. 2008. Hubungan Air dan Tanaman. Februari 2008.
Barja, P.R., Antonio M.M., Edson C.S., Antônio C.N.M., Pedro L.C.A.A. 2003.
Photosyntetic Induction in Eucalyptus urograndis Seedlings and Cutting Measured By Means of An Open Photoacoustic.
Diakses Tanggal 8 Juli 2008.
Hakim, Nyakpa N.M.Y., Lubis A.M., Nugroho, Diha M.A., Go Ban Hong, dan Bailey H.H. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarata.
Ismal, G. 1993. Ekologi Tumbuhan dan Tanaman Pertanian. Angkasa Raya. Padang
Kapisa. N., H. A. F. Mashud dan R. Harahap. 1999. Pemilihan Jenis Eucalyptus
sp. Laporan Satu Tahun Setelah Penanaman. Buletin Penelitian
Kehutanan. Balai Penelitian Kehutanan. Pematang Siantar. Khaeruddin. 1999. Pembibitan Tanaman HTI. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nurcahyaningsih. 2004. Perbanyakan Eucalyptus pellita secara kultur jaringan (Multiplication of Eucalyptus pellita in Vitro). http://www.biotiflorda.or.id/indekx.phh?. Diakses tanggal 8 Juli 2008. Poerwowidodo. 1991. Gatra Tanah Dalam Pembangunan Hutan Tanaman di
Indonesia. Penerbit Rajawali. Jakarta.
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Sitompul, S.M. dan Guritno, B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Sugiharto, B., U. Murdiyatmo., H. Sakakibara. 2002. Kloning dan Karakterisasi Gen Ketahanan Cekaman Kekeringan pada Tanaman Tebu. Jurnal
ILMU DASAR, Vol.3 No.1.
Sutedjo, M.M. dan Kartasaoetra A.G. 1989. Tumbuhan dan Organ-organnya. Bina Aksara. Jakarta
Sutedjo, M.M. dan Kartasaoetra A.G. 2002. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta.
Sutisna, Titi, Kalimah, Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Hutan di Indonesia. Penerbit Porsea. Jakarta.
Toruan N., Wijana, N., Guharja, E., Aswidinnoor H., Yahya S., Subronto. 2001. Respons Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) terhadap Cekaman Kekeringan. Menara Perkebunan.
tanggal 5 Juni 2008
Wibowo, S. 2006.Rehabilitasi Hutan Pasca Operasi Illegal Logging. Wana Aksara. Tangerang-Banten.
Widyatmoko, K. 2006. Analisis Tanggapan Tanaman Tebu Terhadap Cekaman Kekeringan
World Agroforestry Centre. 2004. Agroforestry Database Eucalyptus urophylla.
Saleh Mardin Gulo : Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan, 2010.
Lampiran 1. Data Pertambahan Diameter Bibit Eucalyptus grandis x Eucalyptus urophylla Antara Umur 12 MST dengan Umur 0 MST Jenis Klon Penyiraman Ulangan Total Rata-rata I II III IV V (Milimeter) A1 B1 1.30 1.20 1.85 0.90 0.90 6.15 1.23 B2 1.85 1.35 1.40 1.40 1.30 7.30 1.46 B3 1.85 1.50 1.90 1.35 1.20 7.80 1.56 B4 2.60 1.60 1.85 2.05 1.80 9.90 1.98 A2 B1 1.00 1.20 0.65 1.10 2.30 6.25 1.25 B2 1.65 1.25 1.40 1.90 1.60 7.80 1.56 B3 1.40 1.75 2.60 1.25 1.80 8.80 1.76 B4 1.25 2.00 1.50 1.95 2.15 8.85 1.77 A3 B1 0.80 1.35 1.90 1.50 1.55 7.10 1.42 B2 1.70 1.90 1.35 2.00 1.40 8.35 1.67 B3 2.10 2.20 3.00 2.50 2.15 11.95 2.39 B4 2.20 1.50 1.95 1.85 1.50 9.00 1.80 Total 19.70 18.80 21.35 19.75 19.65 99.25
Lampiran 2. Analisis Ragam Pertambahan Diameter Bibit Eucalyptus grandis x Eucalyptus urophylla Antara Umur 12 MST dengan