BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Nilai Densitas dengan Penggunaan Stepwedge
Dengan didapatkan parameter penyinaran radiografi lumbal lateral menggunakan teknik kV tinggi, diharapkan densitas hasil radiografi lumbal lateral akan mendekati nilai densitas kV standar. Maka nilai rentang kontras yang dihasilkan juga akan tidak jauh berbeda, atau akan lebih baik. Sehingga hasil film radiografi yang dihasilkan dengan teknik kV tinggi juga dapat digunakan untuk menghasilkan diagnosa yang baik bagi pasien.
Untuk mendapatkan nilai densitas dan kontras pada film, dilakukan penyinaran pada film yang diletakkan dalam kaset. Penyinaran dilakukan dengan menggunakan faktor eksposi (FE) seperti pada Tabel 4.1 yakni dengan FE teknik kV standar dan FE teknik kV tinggi. Diatas kaset diletakkan stepwedge guna mendapatkan perbedaan densitas pada film.
Melalui proses pencucian di kamar gelap, film diukur densitasnya dengan menggunakan alat densitometer. Maka didapatkan film dengan rentang perbedaan densitas masing-masing tingkatan, yang dihasilkan dari perbedaan atenuasi stepwedge terhadap sinar-X yang diberikan. Pada stepwedge yang memiliki ketebalan paling tinggi didapatkan gambaran densitas film radiopaque (putih), densitas ini semakin menuju hitam sesuai dengan tingkatan pada stepwedge.
Sehingga pada rentang stepwedge yang paling tipis didapati densitas yang paling tinggi.
Setelah dilakukan pengukuran nilai densitas film yang terbentuk oleh stepwedge dari kedua teknik, maka didapat grafik densitas film yang disinari dengan menggunakan pesawat sinar-X. Grafik densitas dari keempat masing-masing teknik penyinaran digambarkan seperti berikut ini :
Gambar IV.2. Grafik Densitas Radiografi Teknik kV standar dan kV Tinggi Dari gambar grafik densitas, untuk teknik kV standar FE yakni bermula pada 75, 80, 82, dan 85 kV dengan arus yang sama yakni 12,5 mAs. Sementara itu untuk teknik kV tinggi, FE yang digunakan yakni 88 kV/6,7 mAs, 90 kV/8 mAs, 92 kV/8 mAs, dan 102 kV/ 6,4 mAs. Grafik densitas dari kedua teknik penyinaran tersebut menunjukkan bahwa nilai densitas radiografi yang dihasilkan dari penyinaran teknik kV tinggi lebih besar dibanding dari nilai densitas kV standar.
Hal ini dapat dilihat pada densitas 102 kV, 6,4 mAs nilai densitasnya bermula pada step pertama yakni 1,56 dan berakhir pada step kesepuluh dengan nilai 3,37. Sedangkan nilai densitas terendah dihasilkan oleh teknik kV standar yakni pada FE 75 kV, 12,5 mAs. Nilai densitasnya berawal pada step pertama yakni 0,81 dan perlahan naik pada step terakhir yakni step kesepuluh dengan nilai 2,98. Hasil ini menunjukkan bahwa densitas yang diperoleh pada teknik kV tinggi lebih besar akibat nilai tegangan yang digunakan lebih besar sehingga potensi derajat kehitaman pada film radiografi meningkat.
Dari hasil perhitungan nilai kontras radiografi, nilai kontras radiografi teknik kV tinggi tidaklah jauh berbeda dibandingkan nilai kontras radiografi teknik kV standar. Dapat dilihat pada FE teknik kV tinggi nilai kontras berturut-turut sebesar 3,61, 3,89, 3,63, dan 3,76. Sementara itu, nilai kontras pada FE teknik kV standar nilai kontras yakni bermula pada 3,92, 3,91, 3,58 dan 3,61. Ini mengindikasikan bahwa perbedaan nilai kontras radiografi dari kedua teknik penyinaran tidaklah jauh berbeda sehingga gambaran dari teknik kV tinggi masih layak untuk digunakan dalam radiografi.
Meningkatkan nilai tegangan dapat meningkatkan nilai densitas suatu radiografi akibat radiasi hambur yang ditimbulkan. Tapi peningkatan densitas ini tidaklah terlalu berpengaruh terhadap penghitaman gambaran radiografi karena terbantu oleh kontras yang dihasilkan. Dimana kontras yang diperoleh tidaklah jauh berbeda dengan radiografi kV standar. Kontras yang baik ini diperoleh dengan menurunkan arus (mAs) setengah dari kondisi semula dari teknik kV standar, yang mana menunjukkan kuantitas suatu sinar-X yang dihasilkan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian tentang pengaruh penggunaan kV tinggi terhadap dosis radiasi dan kualitas gambar radiografi pada pemeriksaan lumbal lateral dengan menggunakan grid, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada penggunaan teknik kV tinggi dengan objek pantom pada pemeriksaan lumbal lateral, menghasilkan rentang dosis yang terukur sebesar 0,258 – 0,802 mGy. Sedangkan pada penggunaan teknik kV standar menghasilkan rentang dosis sebesar 0,917 – 1,402 mGy. Penggunaan kV tinggi dan mAs yang kecil akan mempengaruhi jumlah dosis sehingga menghasilkan dosis yang rendah dari tegangan standar.
2. Dari hasil penelitian densitas dengan menggunakan stepwedge dari kedua kondisi teknik penyinaran (kV standar dan kV tinggi) didapatkan kualitas densitas yang bervariasi. Dapat dilihat nilai densitas teknik kV tinggi lebih besar dari teknik kV standar . Perbedaan nilai densitas ini mempengaruhi nilai kontras dari kedua teknik penyinaran, yang menunjukkan bahwa kontras gambaran radiografi pada teknik kV tinggi masih layak untuk digunakan walaupun tegangan dinaikkan.
V.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan banyak sample terhadap penilaian densitas dan kontras radiografi dari kedua teknik penyinaran kV tinggi maupun kV standar.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Abdallah Y. M., Hemair M. M. dan Algaddal A. S., 2015. “Valuation of Radiation Dose in Lumbosacral Examination”. Journal of Science and Research 4, 2422-2424.
[2] Akhadi M. 2000. Dasar-dasar Proteksi Radiasi, Edisi I, Jakarta, Rinekka Cipta.
[3] .Naji A. T. dan Jaafar M. S., 2016. “Radiation Exposure Factors Affecting on the Capability of Anti-scattered X-ray Grid in Reducing Backscattered Radiation”. Journal of Engineering and Technical Research 6, 37-40.
[4] Fahmi A., Firdausi K. S. dan Budi W. S., 2012. “Pengaruh Faktor Eksposi pada Pemeriksaan Abdomen terhadap Kualitas Radiograf dan Paparan Radiasi menggunakan Computed Radiography”, Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Diponegoro 11:4, 109-118.
[5] Raju D.T. dan Shanthi K., 2014. “Analysis on X-Ray Parameters of Exposure by Measuring X-Ray Tube Voltage and Time Exposure”. Journal of Engineering and Science 3, 69-73.
[6] Pearce E. C. 2008. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
[7] Putz R. dan Pabst R., 2003. Sobotta Atlas Anatomi dan Manusia Jilid 2, Buku Kedokteran, Jakarta.
[8] Ballinger P. W. dan Frank E. D., 1999. Merril’s Atlas of Radiographic Positions & Radiologic Procedures Tenth Edition Volume one, Mosby, St.
Louis Missouri.
[9] Bushberg J. T. 2002. The Essential Physics of Medical Imaging, Lippincott Williams & Wilkins, California.
[10] Rahman N. 2009. Radiofotografi, Universitas Baiturrahmah, Padang.
[11] Ball J. dan Price, T., 1990. Chesney’s Radiographic Imaging, Blackwell Scientific Publication, Oxford, London.
[12] Fosbinder R. A. dan Kelsey C. A., 2002. Essentials of Radiologic Science, McGraw-Hill, United States.
[13] Podgorsak E. B. 2003. Basic Radiation Physics. Dalam Podgorsak, E.B (Ed).
Radiation Oncology Physics, A Handbook for Teachers and Students, 26-29, International Atomic Energy, Austria.
[14] BATAN. 2013. Dasar Fisika Radiasi Medik, Pusdiklat BATAN, Jakarta.
[15] Jarvinen H. 2011. Introduction to Patient Dose Quantites, Measurement Approches and Effective Dose Estimate in Diagnostic and Interventional Radiology Procedures, STUK, Sofia, Belgia.
[16] IAEA. 2013. Dosimetry in Diagnostic Radiology, International Atomic Energy Agency, United States.
Lampiran 1. Penentuan Parameter Teknik kV Tinggi
1. Untuk 73 kV, 12,5 mAs maka untuk teknik kV Tinggi 85 kV, mAs adalah:
(
)
x mAs1 = mAs2(
)
x 12,5 = 6,42. Untuk 75 kV, 12,5 mAs maka untuk teknik kV Tinggi 88 kV, mAs adalah:
(
)
x mAs1 = mAs2(
)
x 12,5 = 6,73. Untuk 80 kV, 12,5 mAs maka untuk teknik kV Tinggi 90 kV, mAs adalah:
(
)
x mAs1 = mAs2(
)
x 12,5 = 7,84. Untuk 82 kV, 12,5 mAs maka untuk teknik kV Tinggi 92 kV, mAs adalah:
(
)
x mAs1 = mAs2(
)
x 12,5 = 7,85. Untuk 85 kV, 12,5 mAs maka untuk teknik kV Tinggi 102 kV, mAs adalah:
(
)
x mAs1 = mAs2(
)
x 12,5 = 6,4Lampiran 2. Background Dose (Surveymeter) X-ray off X-ray off
Rata-rata (sebelum penyinaran) (setelah.penyinaran)
85,7 nSv 51,3 nSv 111,35 nSv
Nilai dosis =
nSv = 0,11135 µSv = 0,11135 µGy
Lampiran 3. Data Faktor Penyinaran menggunakan detektor multimeter
Lampiran 4. Dosis Radiasi Hambur Teknik kV Standar
Lampiran 5. Dosis Radiasi Hambur Teknik kV Tinggi
73 12,5 0,917 85 6,4 0,2583
75 12,5 0,959 88 6,7 0,3773
80 12,5 1,22 90 8 0,4118
82 12,5 1,302 92 8 0,52
85 12,5 1,402 102 6,4 0,802
kV Tinggi
Tegangan Arus Dosis
kV Standar (kV)
Arus Dosis
(mAs) (mGy) (kV) (mAs) (mGy) Tegangan
73 917,9 - 0, 11135 917, 78 0,917
75 959,7 - 0,11135 959,58 0,959
80 1220,02 - 0,11135 1219,9 1,22
82 1302,04 - 0,11135 1301,04 1,301
85 1402,2 - 0,11135 1402,08 1,402
Tegangan
Dosis kV1 - Background Dose Dosis Dosis
(µGy) (mGy)
(kV)
Lampiran 6. Data Densitas Film A1 dan A2 dengan kedua Teknik Penyinaran
Nilai Densitas terendah untuk 75 kV: Nilai Densitas terendah untuk 88 kV:
D1 = 0,25 + 0,81 D1 = 0,25 + 1,1
= 1,06 = 1,35
Nilai Densitas tertinggi untuk 75 kV: Nilai Densitas tertinggi untuk 88 kV:
D2 = 2,00 + 2,98 D2 = 2,00 + 2,96 = 4,98 = 4,96
Maka nilai kontras 75 kV: Maka nilai kontras 88 kV:
85 258,5 - 0, 11135 258,38 0,258
88 377,5 - 0,11135 377,38 0,377
90 432,0 - 0,11135 431,88 0,432
92 501,1 - 0,11135 500,98 0,5
102 802,3 - 0,11135 802,28 0,802
Tegangan
Dosis kV2 - Back ground Dose Dosis Dosis
(µGy) (mGy)
(kV)
0,3 0,81 1,1
0,6 1,06 1,43
0,9 1,37 1,79
1,2 1,73 2,1
1,5 2,08 2,43
1,8 2,37 2,62
2,1 2,62 2,78
2,4 2,78 2,88
2,7 2,88 2,94
3 2,98 2,96
kV Tinggi
Log kV Standar
Eksposure 75 kV, 12,5 mAs 88 kV, 6,7 mAs
C = D2 – D1 C = D2 – D1
= 4,98 – 1,06 = 4,96 – 1,35 = 3,92 = 3,61
Lampiran 7. Data Densitas Film B1 dan B2 dengan kedua Teknik Penyinaran
Nilai Densitas terendah untuk 80 kV: Nilai Densitas terendah untuk 90 kV:
D1 = 0,25 + 1,1 D1 = 0,25 + 1,13
= 1,35 = 1,38
Nilai Densitas tertinggi untuk 80 kV: Nilai Densitas tertinggi untuk 90 kV:
D2 = 2,00 + 3,26 D2 = 2,00 + 3,27 = 5,26 = 5,27
Maka nilai kontras 80 kV: Maka nilai kontras 90 kV:
C = D2 – D1 C = D2 – D1
= 5,26 – 1,35 = 5,27 – 1,38 = 3,91 = 3,89
0,3 1,1 1,13
0,6 1,17 1,22
0,9 1,3 1,44
1,2 1,55 1,8
1,5 1,88 2,19
1,8 2,33 2,47
2,1 2,68 2,78
2,4 3 3,03
2,7 3,25 3,24
3 3,26 3,27
Log kV Standar kV Tinggi
Eksposure 80 kV, 12,5 mAs 90 kV, 8 mAs
Lampiran 8. Data Densitas Film C1 dan C2 dengan kedua Teknik Penyinaran
Nilai Densitas terendah untuk 82 kV: Nilai Densitas terendah untuk 92 kV:
D1 = 0,25 + 1,34 D1 = 0,25 + 1,45 = 1,59 = 1,70
Nilai Densitas tertinggi untuk 82 kV: Nilai Densitas tertinggi untuk 92 kV:
D2 = 2,00 + 3,17 D2 = 2,00 + 3,33 = 5,17 = 5,33
Maka nilai kontras 82 kV: Maka nilai kontras 92 kV:
C = D2 – D1 C = D2 – D1
= 5,17 – 1,59 = 5,33 – 1,70 = 3,58 = 3,63
0,3 1,34 1,45
0,6 1,35 1,5
0,9 1,44 1,68
1,2 1,7 2,08
1,5 2,2 2,44
1,8 2,56 2,78
2,1 2,78 2,97
2,4 3 3,12
2,7 3,15 3,27
3 3,17 3,33
kV Standar kV Tinggi Log
Eksposure 82 kV, 12,5 mAs 92 kV, 8 mAs
Lampiran 9. Data Densitas Film D1 dan D2 dengan kedua Teknik Penyinaran
Nilai Densitas terendah untuk 85 kV: Nilai Densitas terendah untuk 102 kV:
D1 = 0,25 + 1,47 D1 = 0,25 + 1,56 = 1,72 = 1,81
Nilai Densitas tertinggi untuk 85 kV: Nilai Densitas tertinggi untuk 102 kV:
D2 = 2,00 + 3,33 D2 = 2,00 + 3,37 = 5,33 = 5,37
Maka nilai kontras 85 kV: Maka nilai kontras 102 kV:
C = D2 – D1 C = D2 – D1
= 5,33 – 1,72 = 5,37 – 1,81 = 3,61 = 3,76
0,3 1,47 1,56
0,6 1,6 1,7
0,9 1,76 1,98
1,2 2 2,29
1,5 2,38 2,68
1,8 2,67 2,98
2,1 2,94 3,24
2,4 3,1 3,3
2,7 3,28 3,34
3 3,33 3,37
Log kV Standar kV Tinggi Eksposure 85 kV, 12,5 mAs 102 kV, 6,4 mAs
Lampiran 10. Nilai Faktor Bobot Berbagai Organ Tubuh ( ) No. Organ / Jaringan Tubuh
1. Gonad 0, 20
2. Sumsum Tulang 0, 12
3. Colon 0, 12
4. Lambung 0, 12
5. Paru - paru 0, 12
6. Ginjal 0, 05
7. Payudara 0, 05
8. Liver 0, 05
9. Oesophagus 0, 05
10. Kelenjar Gondok (Tiroid) 0, 05
11. Kulit 0, 01
12. Permukaan Tulang 0, 01
13. Organ / Jaringan Tubuh Lainnya 0, 05
Lampiran 11. Penyinaran pada objek dengan detektor Multimeter