EVALUASI MUTU INTERNAL (EMI) AKADEMI DAN POLITEKNIK
G. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
4. Kelulusan Mahasiswa
4.6 Partisipasi alumni dalam mendukung pengembangan PT dalam bentuk sumbangan dana sumbangan fasilitas dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran dan
pengembangan jejaring.
7 >25% dari jumlah total alumni terdata telah berpartisipasi dalam memberikan sumbangan dana, sumbangan fasilitas, dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran dan pengembangan jejaring.
73
sumbangan dana sumbangan fasilitas dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran dan pengembangan jejaring.
5 15-<20% dari jumlah total alumni terdata telah berpartisipas dalam memberikan sumbangan dana, sumbangan fasilitas, dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran dan pengembangan jejaring.
4 10-<15% dari jumlah total alumni terdata telah berpartisipasi dalam memberikan s sumbangan dana, sumbangan fasilitas, dan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran.
3 5-<10% dari jumlah total alumni terdata telah berpartisipasi dalam memberikan sumbangan dana dan sumbangan fasilitas.
2 Kurang dari 5 % dari jumlah total alumni terdata telah berpartisipasi dalam memberikan sumbangan dana dan sumbangan fasilitas.
1 Belum ada alumni memberikan partisipasi dalam memberikan dana alumni dan bersifat monumental.
4.7 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan yang pertama.
7 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama <3 bulan. 6 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama 3-6 bulan.
5 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama lebih dari 6 bulan hingga 9 bulan.
4 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama lebih dari 9 bulan hingga 12 bulan.
3 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama lebih dari 12 bulan hingga 15 bulan.
2 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama lebih dari 15 bulan hingga 18 bulan.
1 Masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan pertama >18 bulan.
4.8 Persentase lulusan yang menjadi entrepreuner dalam tiga tahun terakhir
7 > 25 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner 6 20-25 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner 5 15-<20 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner. 4 10-<15 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner. 3 5-<10 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner. 2 3-<5 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner. 1 <3 % dari lulusan PT menjadi entrepreuner.
5. Prestasi Mahasiswa
5.1 Pencapaian prestasi mahasiswa di tingkat propinsi/ wilayah, nasional, dan internasional.
7 >5% mahasiswa meraih prestasi di tingkat internasional. 6 3-5% mahasiswa meraih prestasi di tingkat internasional. 5 <3% mahasiswa meraih prestasi di tingkat internasional.
74
4 >10% mahasiswa meraih prestasi di tingkat nasional dan atau propinsi/wilayah. 3 5-10% mahasiswa meraih prestasi di tingkat nasional dan atau propinsi/wilayah. 2 <5% mahasiswa meraih prestasi di tingkat nasional dan atau propinsi/wilayah.
1 Tidak ada mahasiswa yang meraih prestasi baik di tingkat internasional, nasional, maupun propinsi/wilayah.
5.2 Upaya institusi untuk meningkatkan prestasi mahasiswa dalam bidang akademik dan non-akademik.
7 Adanya upaya dalam bentuk bimbingan peningkatan prestasi, pemberian bantuan dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi dilakukan secara terprogram yang
keberlanjutan.
6 Adanya upaya dalam bentuk bimbingan peningkatan prestasi, pemberian bantuan dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi dilakukan secara terprogram.
5 Dua dari tiga upaya dalam bentuk bimbingan peningkatan prestasi, penyediaan dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi, dilakukan secara terprogram, tetapi satu di antaranya bersifat parsial.
4 Satu dari tiga upaya berikut bimbingan peningkatan prestasi, pemberian bantuan dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi, dilakukan secara terprogram dan konsisten. 3 Satu dari tiga upaya dalam bentuk bimbingan, peningkatan prestasi, pemberian bantuan
dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi dilakukan secara terprogram, tetapi belum konsisten.
2 Ada upaya dalam bentuk bimbingan, peningkatan prestasi, pemberian bantuan dana, pemberian kesempatan untuk berpartisipasi tetapi tidak terprogram.
1 Belum ada upaya untuk memberi bimbingan, peningkatan prestasi, pemberian bantuan dana, dan pemberian kesempatan
75
H. STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
6. Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan
6.1 Ketersediaan tenaga pendidik dibanding jumlah mahasiswa yang memenuhi ketentuan perundangan.
7 1:≤30 dengan kualifikasi S3 ≥ 50% dan Lektor Kepala ≥50% 6 1:≤30 dengan kualifikasi S3 ≥ 50% atau Lektor Kepala ≥50% 5 1:≤30 dengan kualifikasi S3 10-<50% atau Lektor Kepala 10 -<50% 4 1:≤30 dengan kualifikasi S3 1-<10 atau Lektor Kepala 1-<10% 3 1:>30-50 dengan kualifikasi S2 50-100%
2 1:>30-50 dengan kualifikasi S2<50% 1 1:> 30-50 dengan kualifikasi S2 0%
6.2 Ketersediaan tenaga kependidikan dibanding jumlah mahasiswa.
7 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:<100. 6 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:100-150. 5 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:150-200. 4 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:200-250. 3 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:250-300. 2 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:300-350. 1 Rasio tenaga kependidikan dan mahasiswa 1:>350.
6.3 Ketersediaan sistem pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan.
7 PT memiliki 7 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten pada standar perencanaan, (1) rekrutmen, (2) seleksi, (3) pemberhentian, (4) orientasi dan penempatan, (5) pengembangan karier dan pendidikan lanjut, (6)
remunerasi, (7) penghargaan, dan sanksi.
6 PT memiliki 6 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten, dari 7 standar perencanaan, (1) rekrutmen, (2) seleksi, (3) pemberhentian, (4) orientasi dan penempatan, (5) pengembangan karier dan pendidikan lanjut, (6) remunerasi, (7) penghargaan, dan sanksi.
5 PT memiliki 5 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten, dari 7 standar perencanaan, (1) rekrutmen, (2) seleksi, (3) pemberhentian, (4) orientasi dan penempatan, (5) pengembangan karier dan pendidikan lanjut, (6) remunerasi, (7) penghargaan, dan sanksi.
4 PT memiliki 4 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten, dari 7 standar perencanaan, (1) rekrutmen, (2) seleksi, (3) pemberhentian, (4) orientasi dan penempatan, (5) pengembangan karier dan pendidikan lanjut, (6) remunerasi, (7) penghargaan, dan sanksi.
3 PT memiliki pedoman tertulis yang lengkap; tetapi tidak ada bukti dilaksanakan secara konsisten dari standar perencanaan, (1) rekrutmen, (2) seleksi, (3) pemberhentian, (4) orientasi dan penempatan, (5) pengembangan karier dan pendidikan lanjut, (6) remunerasi, (7) penghargaan, dan sanksi.
76
2 PT sudah memiliki upaya pengembangan tenaga dosen tetap dan tenaga kependidikan dan cukup baik, namun dukungan dana dari pihak institusi masih kurang, sehingga kurang memotivasi dosen dan tenaga kependidikan.
1 PT belum memiliki upaya pengembangan, dan jumlah dosen serta tenaga kepedidikan belum memadai.
6.4 Ketersediaan pedoman dan dokumen implementasi tentang sistem monitoring dan evaluasi, serta rekam jejak kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.
7 PT memiliki 3 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten tentang kinerja dosen di bidang (1) pendidikan (2) penelitian (3) pelayanan/ pengabdian kepada masyarakat yang terdokumentasi dengan baik.
6 PT memiliki 2 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten tentang kinerja dosen dari 3 bidang (1) pendidikan (2) penelitian (3) pelayanan/ pengabdian kepada masyarakat yang terdokumentasi dengan baik.
5 PT memiliki 1 pedoman tertulis yang lengkap; dan ada bukti dilaksanakan secara konsisten tentang kinerja dosen dari 3 bidang (1) pendidikan (2) penelitian (3) pelayanan/ pengabdian kepada masyarakat yang terdokumentasi dengan baik.
4 PT memiliki 1 satu pedoman tertulis yang lengkap; sudah dilaksanakan tetapi belum ada bukti pelaksanaan secara konsisten.
3 PT memiliki 1 pedoman tertulis yang lengkap, tetapi tidak dilaksanakan.
2 PT memiliki 1 pedoman tertulis yang tidak lengkap dan belum ada pelaksanaan.
1 PT belum memiliki pedoman dan bukti pelaksanaan.
E. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
7. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
7.1 Kecukupan koleksi perpustakaan, aksesibilitas termasuk ketersediaan dan kemudahan akses e-library untuk setiap bahan pustaka yang meliputi buku teks, jurnal internasional, jurnal nasional terakreditasi, dan prosiding.
7 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk setiap bahan pustaka berikut: (A) Buku teks dan perlengkapannya, (B) Skripsi, tesis, disertrasi, (C) Jurnal nasional belum terakreditasi, (D) Jurnal nasional terakreditasi, (E) Prosiding nasional/internasional (F) Jurnal international dengan sangat memadai untuk semua program studi.
6 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk A, B, C, D, E, dan F memadai untuk sebagaian besar program studi.
5 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk A, B, C, D, dan E dengan memadai untuk sebagaian besar program studi.
4 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk A, B, C, dan D dengan memadai untuk sebagian besar program studi.
3 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk A, B, dan C dengan memadai untuk seluruh program studi.
77
2 Tersedia koleksi perpustakaan, aksesibilitas mencakup e-library untuk A dan B untuk sebagaian besar program studi.
1 Tersedia koleksi perpustakaan, tetapi belum menggunakan e-library.
7.2 Angka efisiensi dan ketersediaan, akses, dan pendayagunaan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran seperti tempat praktikum, bengkel/studio, ruang simulasi, rumah sakit, puskesmas/balai kesehatan, green house, lahan untuk pertanian, dan sejenisnya.
7 Ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses penggunaan sarana dan prasarana “sangat memadai” (>75%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi, (D) Rumah Sakit/balai
kesehatan/poliklinik, dan (E) Green house dan sejenisnya.
6 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses penggunaan “ memadai” (sampai dengan 75%) penggunaan mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi, (D) Rumah Sakit/balai
kesehatan/poliklinik, dan (E) Green house dan sejenisnya.
5 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses penggunaan “ memadai” (sampai dengan 50%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi, (D) Rumah Sakit/balai kesehatan/poliklinik, dan (E)
Green house dan sejenisnya.
4 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses penggunaan “ belum memadai” (< 25%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B)
Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi, (D) Rumah Sakit/balai kesehatan/poliklinik, dan (E)
Green house dan sejenisnya.
3 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses
penggunaan “ kurang memadai” (sampai dengan 50%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi
2 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses penggunaan “ memadai” (sampai dengan 50%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio, (C) Ruang simulasi
1 Ketersediaan prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dan akses
penggunaan “ kurang memadai” (sampai dengan 25%) mencakup: (A) Tempat praktikum, (B) Bengkel/Studio
7.3 Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang berupa ruang serba guna, tempat olah raga, ruang himpunan mahasiswa, poliklinik, ruang ibadah/doa, green area, fasilitas
difable dan ruang bimbingan dan konseling.
7 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana mencakup: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green
78
6 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai mencakup 7-8 dari: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green area, (7) fasilitas difable, (8) ruang bimbingan dan konseling, dan (9) lainnya.
5 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai mencakup 5-6 dari: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green area, (7) fasilitas difable, (8) ruang bimbingan dan konseling, dan (9) lainnya.
4 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai mencakup 4 dari: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green area, (7) fasilitas difable, (8) ruang bimbingan dan konseling, dan (9) lainnya.
3 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai mencakup 3 dari: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green area, (7) fasilitas difable, (8) ruang bimbingan dan konseling, dan (9) lainnya.
2 Ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai mencakup 1-2 dari: (1) ruang serba guna, (2) tempat olah raga, (3) ruang himpunan mahasiswa, (4) poliklinik, (5) ruang ibadah/doa, (6) green area, (7) fasilitas difable, (8) ruang bimbingan dan konseling, dan (9) lainnya.
1 Belum tersedianya fasilitas sarana dan prasarana seperti daftar di atas.
8. Ketersediaan Sistem Informasi
8.1 Ketersediaan sistem informasi dan fasilitas TIK yang digunakan PT dalam proses pembelajaran dalam bentuk band width, hardware, software, e-learning, dan on-line
journal/library, dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas.
7 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3) learning, (4) e-library dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas dari keempat fasilitas TIK yang dimaksudkan.
6 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3) e-learning, (4) e-library dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas pada 3 dari keempat fasilitas TIK yang
dimaksudkan.
5 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3) e-learning, (4) e-library dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas pada 2 dari keempat fasilitas TIK yang
dimaksudkan.
4 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3) e-learning, (4) e-library dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas pada 1 dari keempat fasilitas TIK yang
79 dimaksudkan.
3 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3) e-learning, (4) e-library dengan tidak ada pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas.
2 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width dan hardware, (2) software, (3). e-library dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas.
1 Ketersediaan TIK mencakup: (1) band width hardware, (2) software, dengan pemeliharaan dan pemanfaatan yang jelas.
8.2 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi akademik dan non-akademik yang mencakup hardware dan software.
7 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 6 diantara 6 aspek : 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama.
6 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 5 di antara 6 dari daftar. 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama.
5 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 4 di antara 6 dari daftar. 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama.
4 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 3 di antara 6 dari daftar. 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama.
3 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 2 di antara 6 dari daftar. 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama.
2 Penggunaan dan pengembangan sistem informasi dalam administrasi untuk 1 di antara 6 dari daftar. 1. Proses Perkuliahan, 2. Administrasi Akademik , 3. Administrasi Umum, 4. Administrasi keuangan , 5. Pengelolaan Sarana dan prasarana, dan 6. Kerjasama. 1 Sistem informasi dalam administrasi belum satupun digunakan dan belum ada rencana
pengembangan.
8.3 Ketersediaan kapasitas internet dengan rasio bandwidth per mahasiswa yang memadai
7 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth > 25 kbps per mahasiswa 6 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth 15 - 25 kbps per mahasiswa 5 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth 5 - <15 kbps per mahasiswa 4 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth 1 - <5 kbps per mahasiswa 3 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth 0,5 - <1 kbps per mahasiswa
80
2 Kapasitas internet dengan rasio bandwidth <0,5 kbps per mahasiswa 1 Belum ada fasilitas internet
8.4 Aksesibilitas data dalam sistem informasi.
7 Data dikelola dengan komputer yang sangat terintegrasi, serta dapat diakses melalui jaringan internet.
6 Data dikelola dengan komputer yang terintegrasi, serta dapat diakses melalui jaringan internet.
5 Data dikelola dengan komputer, serta dapat diakses melalui jaringan luas internet (Wide
Area Network, WAN).
4 Data dikelola dengan komputer, serta dapat diakses melalui jaringan lokal (Local Area
Network, LAN).
3 Data dikelola dengan komputer tanpa jaringan. 2 Data dikelola secara manual.
1 Belum ada penanganan data.
8.5 Blue print pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pengamanan sistem informasi yang lengkap.
7 Blue print pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan, dan pengamanan sistem
informasi sangat lengkap, mengimplementasikan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan akses informasi yang sangat cepat didukung pendanaan yang sangat memadai. 6 Blue print pengembangan dan pengelolaan sangat lengkap, pemanfaatan dan pengamanan
sistem informasi, mengimplementasikan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan akses informasi yang sangat cepat didukung pendananan yang memadai.
5 Blue print pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan sistem informasi, dan pengamanan
sudah memperhitungkan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan akses informasi yang cepat didukung dengan pendanaan yang memadai.
4 Blue print pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan sistem informasi, dan pengamanan
sudah memperhitungkan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan akses informasi yang cepat, namun masih terbatas dengan pendanaan.
3 Blue print pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan sistem informasi, dan
pengamanan. cukup sesuai dengan kebutuhan saat ini.
2 Blue print pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan sistem informasi, dan
pengamanan. belum jelas.
1 Belum tersedia Blue print pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan sistem informasi, dan pengamanan.
81
F. STANDAR PENGELOLAAN
9. Tata Pamong
9.1 Kelengkapan dan kejelasan tata organisasi yang memungkinkan implementasi secara konsisten.
7 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 8 dari 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan, (5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
6 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 7 dari 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan, (5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
5 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 6 dari 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan, (5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
4 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 5 dari 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan, (5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
3 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 4 dar 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan,
82
(5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
2 PT memiliki kelengkapan dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi yang meliputi 3 dari 9 organ dan dilengkapi dengan deskripsi tertulis yang jelas tentang tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang menyangkut (1) struktur organisasi, (2) pimpinan institusi (3) senat perguruan tinggi/senat akademik, (4) satuan pengawasan, (5) dewan pertimbangan, (6) pelaksana kegiatan akademik, (7) pelaksana administrasi, pelayanan dan pendukung, (8) pelaksana penjaminan mutu, (9) unit perencana dan pengembangan Tri Dharma.
1 PT belum memiliki kelengkapan organ dan keefektifan, serta dokumentasi struktur organisasi.
10. Kepemimpinan
10.1 Karakteristik kepemimpinan yang efektif.
7 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki tiga dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1) kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, serta ada bukti efektivitas kepemimpinan.
6 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki tiga dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1) kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, tetapi tidak ada bukti efektivitas kepemimpinan.
5 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki tiga dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1) kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, tidak memiliki pedoman, tetapi ada bukti efektivitas kepemimpinan. 4 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki dua dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1)
kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, dan memiliki pedoman dan ada bukti efektivitas kepemimpinan. 3 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki dua dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1)
kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, dan memiliki pedoman, tetapi tidak ada bukti efektivitas kepemimpinan.
2 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki karakteristik berikut, yaitu (1) kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki
83
pedoman, memiliki pedoman dan ada bukti efektivitas kepemimpinan.
1 Kepemimpinan perguruan tinggi memiliki satu dari tiga karakteristik berikut, yaitu (1) kepemimpinan operasional, (2) kepemimpinan organisasi, (3) kepemimpinan publik dan memiliki pedoman, memiliki pedoman, tetapi tidak ada bukti efektivitas kepemimpinan.
10.2 Kejelasan sistem pengelolaan fungsional dan operasional PT.
7 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang dilaksanakan secara efektif, dilengkapi dengan pedoman pengelolaan dan bukti berupa dokumen pengelolaan.
6 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang dilaksanakan secara efektif, dilengkapi dengan pedoman pengelolaan, tetapi tanpa bukti berupa dokumen pengelolaan.
5 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup empat dari lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang dilaksanakan secara efektif, dilengkapi dengan bukti berupa dokumen pengelolaan. 4 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup empat dari
lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang dilaksanakan secara efektif, tetapi tidak dilengkapi oleh pedoman pengelolaan dan tidak ada bukti dokumen pengelolaan.
3 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup tiga dari lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang
dilaksanakan secara efektif, tetapi dilengkapi oleh ada bukti dokumen pengelolaan. 2 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup tiga dari lima
fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang dilaksanakan secara efektif, tetapi tidak dilengkapi oleh pedoman pengelolaan.
1 Sistem pengelolaan fungsional dan operasional perguruan tinggi mencakup dua dari lima fungsi pengelolaan (planning, organizing, staffing, leading, dan controlling) yang
dilaksanakan secara efektif, tetapi tidak dilengkapi oleh pedoman pengelolaan dan tidak ada bukti dokumen pengelolaan.
84 11. Sistem Pengelolaan
11.1 Kejelasan analisis jabatan, deskripsi tugas, program peningkatan kompetensi manajerial.
7 Perguruan tinggi memiliki 5 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang
sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan untuk pengelola unit kerja yang menggambarkan keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja. keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja.
6 Perguruan tinggi memiliki 4 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang
sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan untuk pengelola unit kerja yang menggambarkan keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja. 5 Perguruan tinggi memiliki 3 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian
tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan untuk pengelola unit kerja yang menggambarkan keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja. 4 Perguruan tinggi memiliki 2 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian
tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan untuk pengelola unit kerja yang menggambarkan keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja. 3 Perguruan tinggi memiliki 1 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian
tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan untuk pengelola unit kerja yang menggambarkan keefektifan dan efisiensi manajemen operasi di setiap unit kerja. 2 Perguruan tinggi memiliki 1 dari 5 aspek yaitu dokumen: (1) analisis jabatan, (2) uraian
tugas, (3) prosedur kerja, (4) program peningkatan kompetensi manajerial yang sistematis dan (5) dokumen proses pengelolaan namun pelaksanaan masih belum terlaksana efektif dan efisien.
1 Perguruan tinggi tidak memiliki kejelasan analisis jabatan, deskripsi tugas, program peningkatan kompetensi manajerial yang menjamin terjadinya proses pengelolaan yang efektif.
85
11.2 Diseminasi hasil kinerja PT sebagai akuntabilitas publik, serta keberkalaannya
7 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya secara berkala kepada semua stakeholders, minimal setiap tahun.
6 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya secara berkala kepada semua stakeholders, minimal setiap tiga tahun.
5 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya secara berkala kepada semua stakeholders, minimal setiap lima tahun.
4 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya secara berkala minimal setiap tahun, tetapi hanya untuk internal stakeholders.
3 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya secara berkala minimal tiga tahun, tetapi hanya untuk internal stakeholders.
2 Perguruan tinggi secara bertanggung jawab menyebarluaskan hasil kinerjanya kepada internal stakeholders, tetapi tidak dilakukan secara berkala.
1 Perguruan tinggi tidak menyebarluaskan hasil kinerjanya kepada stakeholders.
12. Seleksi Mahasiswa Baru
12.1 Sistem penerimaan mahasiswa baru yang menerapkan prinsip-prinsip ekuitas.
7 Sistem penerimaan mahasiswa baru memberikan kesempatan yang sama pada seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan atas dasar apa pun juga.
6 Sistem penerimaan mahasiswa baru memberikan kesempatan yang sama pada seluruh lapisan masyarakat dengan mempertimbangkan gender.
5 Sistem penerimaan mahasiswa baru memberikan kesempatan yang sama pada seluruh lapisan masyarakat dengan mempertimbangkan gender dan asal mahasiswa.
4 Sistem penerimaan mahasiswa baru memberikan kesempatan yang sama pada seluruh lapisan masyarakat dengan mempertimbangkan gender dan asal mahasiswa serta