PENODAAN AGAMA
C. Argumen penolakan Undang-undang Nomor 1/PNPS/1965 karena dinilai bertentangan hak asasi manusia
3. Pasal 2 ayat (2) UU Nomor 1/PNPS/1965 Bertentangan Dengan UUD 1945
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, berbunyi:
“Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/aliran terlarang, satu dan lain
setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.”
Substansi Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 bertentangan dengan UUD 1945, maka dengan sendirinya ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang a quo sebagai hukum proseduralnya, menjadi bertentangan pula dengan UUD 1945. Tanpa hal itu pun, sesungguhnya Pasal a quo bertentangan dengan UUD 1945.
3.a Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 Bertentangan Dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Mengenai Negara Hukum
Salah satu ciri negara hukum adalah adanya perlindungan hak asasi manusia, termasuk perlindungan atas kebebasan hak atas kebebasan beragama atau keyakinan. Bagian dari hak kebebasan beragama atau berkeyakinan adalah manifestasi keagamaan (forum eksternum) termasuk hak untuk berserikat untuk menjalankan institusi keagamaan, dan untuk berkumpul dalam menjalankan ibadah (forum internum). Dengan demikian membentuk organisasi keagamaan atau aliran kepercayaan merupakan bagian dari hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan.
Organisasi keagamaan atau aliran kepercayaan juga dilindungi oleh Pasal 21 (kebebasan berkumpul secara damai), dan Pasal 22 ayat (1) (kebebasan berserikat) Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik.
Pembubaran serta pernyataan terlarang terhadap suatu organisasi atau aliran kepercayaan yang didasarkan semata-mata pada adanya penafsiran dan kegiatan yang dinilai menyimpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, oleh karenanya tidak dapat dibenarkan dalam suatu Negara Hukum, sebab akan melanggar hak asasi manusia sebagaimana disebutkan di atas.
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 bertentangan dengan prinsip negara hukum karena prosedur pembubaran organisasi dimaksud bertentangan dengan prinsip toleransi, keragaman, dan pemikiran terbuka. Proses pembubaran organisasi dan pelarangan organisasi, seharusnya dilakukan melalui proses peradilan yang adil, independen dan terbuka, dengan mempertimbangkan hak atas kebebasan beragama, keragaman dan toleransi.
Pembatasan atas kebebasan berserikat atau berorganisasi tersebut harus dilakukan atas dasar kebutuhan (neccesary) di dalam suatu masyarakat yang demokratis. Prinsip proporsionality juga yang melandasi pembatasan tersebut, di mana jenis dan intensitas tindakan pembatasan memang diperlukan untuk mencapai alasan-alasan (justified reasons) pembatasan tersebut. Masyarakat demokratis menegaskan pembatasan tersebut harus sesuai dengan prinsip standard minimum demokrasi yang ada di dalam United Nation Charter, Deklarasi HAM PBB 1948, Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, dan Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Keragaman, toleransi dan pemikiran terbuka merupakan landasan suatu masyarakat demokratis.
Sedangkan terkait dengan pembubaran atau pelarangan aliran kepercayaan, hal ini sama sekali tidak boleh dilakukan, oleh karena aliran lahir dari penafsiran yang merupakan bagian dari forum internum. Yang boleh dilakukan adalah melakukan pembatasan atau pelarangan terhadap tindakan yang berbentuk menganjurkan kebencian atau tindakan-tindakan lain yang bertentangan dengan keselamatan publik, ketertiban umum, perlindungan kesehatan atau moral masyarakat, atau perlindungan hak dan kebebasan orang lain.
Ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, bertentangan prinsip Negara Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945.
Atas dasar pertimbangan tersebut, telah jelas bertentangan dengan UUD 1945, maka sudah sepatutnya Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dengan segala akibat hukumnya.
3.b Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 Bertentangan Dengan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 Mengenai Jaminan Atas Kebebasan Berserikat, Berkumpul dan Mengeluarkan Pendapat
Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945, berbunyi:“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”.
a. Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, yang berbunyi:“Setiap orang berhak untuk berkumpul, berpendapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai.”
b. Pasal 22 ayat (1) Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, diratifikasi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005, yang berbunyi: “Setiap orang berhak atas kebebasan untuk berserikat dengan orang lain, termasuk hak untuk membentuk dan bergabung dalam serikat pekerja untuk melindungi kepentingannya.”
Membentuk organisasi keagamaan dilindungi dalam dua aspek hak asasi manusia, baik sebagai salah satu bagian dari kebebasan beragama maupun kebebasan berserikat dan berkumpul. Pembatasan atau pelarangan terhadap organisasi atau aliran kepercayaan dalam konteks kebebasan berserikat dan berkumpul hanya dapat dibenarkan, sesuai Pasal 20 ayat (2) Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, yang berbunyi :
“Any advocacy of national, racial or religious hatred that constitutes incitement to discrimination, hostility or violence shall be prohibited by law”
Terjemahan:
(setiap advokasi atas dasar kebencian agama, ras,bangsa yang mengakibatkan hasutan untuk diskriminasi, permusuhan dan kekerasan harus dilarang oleh hukum).
Jo. Pasal 22 ayat (2) Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, yang berbunyi :
“No restrictions may be placed on the exercise of this right other than those which are prescribed by law and which are necessary in a democratic society in the interests of national security or public safety, public order (ordre public), the protection of public health or morals or the protection of the rights and freedoms of others. This article shall not prevent the imposition of lawful restrictions on members of the armed forces and of the police in their exercise of this right.
Terjemahan:
(Tidak boleh ada pembatasan-pembatasan yang mungkin dilakukan terhadap pelaksanaan hak atas kebebasan berserikat kecuali didasarkan atas hukum yang dibutuhkan di dalam suatu masyarakat yang demokratis atas dasar kepentingan-kepentingan keamanan nasional
atau keamanan publik, perlindungan kesehatan publik atau moral-moral, pelindungan hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain).
Berdasarkan alasan-alasan pembatasan tersebut di atas, perbedaan tafsir tidak termasuk alasan pembatasan yang sah terhadap kebebasan berserikat. Dengan demikian, sebuah organisasi tidak dapat dibubarkan berdasarkan perbedaan tafsir.
Atas dasar pertimbangan tersebut, ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, bertentangan dengan kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat sebagaimana diatur dalam Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 dan oleh karenanya telah jelas bertentangan dengan UUD 1945, maka sudah sepatutnya Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dengan segala akibat hukumnya.
4. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 Bertentangan Dengan