• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII KETENTUAN LAIN

PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas Pasal 2

Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian “UMUM” pasal ini memberikan batasan (definisi) mengenai notaris dan wewenangnya sebagai penjabaran dari pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenai siapa yang dimaksud dengan pejabat umum dan sampai seberapa jauh wewenangnya dalam rangka pembuatan akta otentik, mengingat kenyataan bahwa pasal 1868 tersebut tidak memberikan uraian mengenai hal itu.

Dalam pasal ini juga sekaligus dicantumkan wewenang dari notaris mengenai pembuatan akta-akta otentik dan tugas-tugas lainnya, baik yang telah ada pengaturannya dalam perundang-undangan, namun didalam praktek telah diakui sebagai termasuk dalam wewenang notaris, namun demikian sepanjang mengenai yang disebut terakhir ini untuk memberikan landasan hukumnya.

Pasal 3

Pasal ini mengatur mengenai pengangkatan dan pemberhentian notaris oleh presiden selaku Kepala Negara

Pengangkatan notaris oleh Presiden bukan tidak beralasan

Notaris sebagai pejabat umum, adalah organ negara yang menjalankan fungsi dan kekuasaan negara untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum yaitu untuk membuat alat bukti tertulis dan otentik dalam bidang hukum perdata (privaatrechtelijk); notaris bukan organ pemerintah atau pejabat tata usaha negara yang menjalankan kekuasaan negara untuk memberikan pelayanan negara kepada masyarakat umum dalam bidang hukum publik (publiekrechtelijk). Menurut sistem hukum, pemerintah/eksekutip atau pejabat tata usaha negara, tidak memiliki kewenangan karena tidak memperoleh pelimpahan dari negara untuk membuat alat bukti tertulis otentik dalam bidang hukum perdata yang berupa akta otentik. Didalam hal ini Presiden selaku Kepala Negara, hak untuk mengangkat notaris sebagai pejabat umum, tidak dapat dan tidak boleh didelegasikan kepada siapapun termasuk kepada pemerintah. Karena dalam hal ini tidak terdapat hak-hak perdata (privaterechten) yang dapat diperlakukan oleh pemiliknya menurut sekehendak hatinya, akan tetapi

hal itu adalah suatu hak publik (publiek recht), yang pelaksanaannya itu adalah kewajiban (welks uitoefening plicht is).

Inti dari tugas notaris sebagai pejabat umum ialah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta jasa-jasa notaris, yang pada asasnya adalah sama dengan tugas hakim yang memberi putusan tentang keadilan antara para pihak yang bersengketa.

Notaris didalam menjalankan jabatannya sebagai pejabat umum harus senantiasa menghayati dan mengingat sumpah jabatannya, yang antara lain berbunyi : “Saya bersumpah/berjanji akan menjalankan jabatan saya dengan jujur, seksama dan tidak berpihak”.

Baik hakim maupun notaris dalam menjalankan jabatannya harus bebas dari pengaruh dan tekanan dari kekuasaan eksekutip, maupun judikatip, sehingga cukup beralasan pengangkatan notaris tidak dilakukan oleh badan eksekutip, akan tetapi oleh Kepala Negara, sebagaimana halnya dahulu dilakukan oleh Gubernur Jendral

Berdasarkan pertimbangan di atas pulalah semula ditentukan notaris diangkat untuk seumur hidup, akan tetapi kemudian asas tersebut dihilangkan dari pasal 3 Peraturan Jabatan Notaris, yang demikian untuk menyesuaikan dengan kedudukan pada umumnya dari para pejabat peradilan di Indonesia pada waktu itu.

Diadakannya semula ketentuan pengangkatan seumur hidup tidak lain dimaksudkan untuk lebih menjamin para notaris dapat menjalankan jabatannya dengan bebas, tanpa takut-takut akan pengaruh dari badan eksekutip maupun judikatip.

Selain berdasarkan hal-hal tersebut di atas, pengangkatan notaris oleh Kepala Negara adalah juga beralasan, mengingat ketentuan dalam perundang-undangan yang berlaku yang menyatakan grosse dari akta-akta notaris, yang di bagian atasnya tercantum perkataan-perkataan: “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KE-TUHANAN YANG MAHA ESA” mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama kekuatan hukumnya dengan putusan/vonnis hakim yang telah mempunyai kekuatan tetap dan pasti untuk dijalankan (inkracht van gewijsde). Hal ini mengandung arti, bahwa notaris diperlengkapi dengan kekuasaan umum (met openbaar gezag bekleed).

Sampai kira-kira tahun 1956 pengangkatan dan pemberhentian para notaris dilakukan oleh Presiden selaku Kepala Negara, namun sesudah itu, dilakukan oleh Menteri Kehakiman, tanpa diketahui alasannya maupun dasar hukumnya, sedang pasal 3 Peraturan Jabatan Notaris tidak ada mengalami perubahan.

Pasal 4 a.)

Cukup Jelas b.)

Cukup Jelas

c.)

Seorang notaris, untuk dapat menjalankan jabatannya sebagai pejabat umum yang profesional, sebagaimana halnya profesi-profesi yang lain mutlak harus mengikuti pendidikan keahlian, spesialis dan pelatihan kemahiran dengan pembimbing, pendidik ataupun pelatih yang ahli dibidangnya, demikian pula harus sudah teruji kemampuannya dengan dinyatakan lulus ujian; adapun penyelenggara pendidikan maupun penguji itu, karena menyangkut pendidikan spesialis atau keahlian, berdasarkan undang-undang tentang sistem pendidikan nasional maupun berdasarkan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang hal itu, kewenangan dan tanggungjawab mengenai hal itu berada pada kelompok profesi yang terinstitusi in casu adalah Ikatan Notaris Indonesia. Hal itu dapat dipahami karena yang tahu tentang keahlian di bidang kenotariatan adalah para notaris yang tergabung dalam organisasi profesi Ikatan Notaris Indonesia.

d.)

Masa kerja pada kantor notaris sebelum ia lulus pendidikan atau sebelum memperoleh predikat kandidat notaris, tidak dihitung dalam persyaratan ketentuan yang dimaksud dalam sub d ini. Praktek kerja secara nyata di kantor notaris, mutlak harus dijalankan, dan harus dinyatakan “laik” praktek oleh notaris seniornya itu, mengingat bahwa pelaksanaan jabatan notaris itu, adalah menyangkut keahlian, kemahiran, ketrampilan sebagai terapan dari teori dan ilmu hukum maupun berbagai peraturan-perundangan yang menjadi dasar bagi notaris didalam menjalankan tugas-jabatannya agar ada jaminan kepastian hukum bagi masyarakat yang dilayani dan meminta jasanya.

Pasal 5

Dengan pengawasan, yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk melakukan pembinaan dan pengawasan dan juga mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus serta menjatuhkan sanksi atau hukuman terhadap notaris, baik di dalam maupun di luar menjalankan jabatannya, pada tempatnyalah dan saat yang sangat tepat jika sejak awal dewan yang bersifat mandiri itu sudah ambil bagian dengan memberikan pertimbangan, apakah seseorang laik praktek atau tidak, untuk menjalankan tugas jabatan sebagai notaris.

g.)

Notaris sebagai pejabat umum, yang bukan pegawai pemerintah dan bukan pejabat tata usaha negara, ia mandiri dan tidak mempunyai atasan dan tidak dibawah kekuasaan siapapun. Berdasarkan pertimbangan itu, perlu ada suatu lembaga atau instansi yang menentukan standard profesinya. Hal demikian berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat yang dilayaninya, dari kerugian yang mungkin diderita, akibat ketidak-mampuan atau akibat rendahnya mutu atau kualitas dari seorang notaris atau pelayanan yang tidak profesional. Maka dari itu, tidak ada kelompok profesional. Maka dari itu, tidak ada kelompok profesi manapun, yang lebih tepat untuk dimintakan rekomendasinya dalam bidang kenotariatan kecuali organisasi profesi yaitu Ikatan Notaris Indonesia.

Pasal 6 Ayat (1) a.)

Cukup Jelas b.)

Dalam undang-undang ini batas usia untuk diberhentikan dengan hormat sebagai notaris ditetapkan 70 tahun, berbeda dengan batas usia yang ditetapkan dalam Peraturan Jabatan Notaris – S. 1860 no.3 yakni 65 tahun.

Adapun pertimbangan untuk meningkatkan batas usia untuk diberhentikan dengan hormat sebagai notaris ialah mengingat kenyataan bahwa batas usia 65 tahun ditetapkan berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris yang dibuat dalam tahun 1860, pada waktu mana tingkat usia rata-rata dari orang Indonesia dewasa ini, sehingga cukup beralasan untuk meningkatkan batas usia tersebut menjadi 70 tahun.

Selain berdasarkan pertimbangan tersebut diatas juga tidak boleh dilupakan, bahwa notaris diangkat oleh Penguasa, akan tetapi tidak mendapat gaji dari Penguasa dan diberhentikan oleh Penguasa tanpa mendapat uang pensiun dari Penguasa.

c.)

Team penguji kesehatan yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah suatu team yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan yang terdiri dari sejumlah dokter yang bekerja secara bersama, dibentuk disetiap ibukota propinsi atau ibukota kabupaten/kotamadya atau ditempat lain yang dipandang perlu oleh Menteri Kesehatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ayat 2

Cukup Jelas

Pasal 7 Ayat (1)

Cukup Jelas Ayat (2)

Cukup Jelas Ayat (3)

Yang dimaksud dengan “berkantor tunggal” dalam ayat ini ialah mempunyai hanya satu kantor di tempat kedudukan yang ditetapkan baginya, sehingga tidak diperkenankan mempunyai kantor cabang maupun kantor perwakilan, baik ditempat kedudukannya maupun ditempat lain diluar tempat kedudukannya.

Ayat (4)

Seperti telah diuraikan didalam penjelasan umum, bahwa yang dimaksud dengan pengertian dipecat sementara, adalah terjemahan dari istilah schorsing. Bukan diberhentikan. Ia masih notaris.

Didalam hal notaris yang dijatuhi sanksi atau hukuman schorsing, maka notaris tersebut, selama menjalani schorsing, tidak diperbolehkan menjalankan jabatannya, termasuk membuat akta-akta otentik. Segera setelah masa schorsing berakhir atau dicabut oleh penguasa yang berwenang, secara hukum seketika itu ia berwenang kembali untuk menjalankan jabatannya sebagai notaris.

Ayat (5)

Cukup Jelas Pasal 8

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Pengertian dipecat dari jabatannya, adalah sebagai terjemahan dari istilan ontzetting, artinya sama dengan dibebas tugaskan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.

Akan tetapi ia masih tetap sebagai notaris. Belum dan tidak berhenti sebagai notaris.

Pasal 9

Cukup jelas.

Pasal 10

Cukup jelas.

Pasal 11 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “nama” adalah nama dirinya sendiri yang bagi masyarakat Eropa dikenal dengan “nama kecil”. Namun demikian diperbolehkan menuliskan nama keluarga, misalnya orangtuanya yang dalam budaya barat disebut nama famili, tidak termasuk nama suami atau nama keluarga dari suami, bagi notaris wanita yang telah menikah.

Bentuk dan ukuran cap jabatan sebagai berikut :

a. berbentuk bundar dan di dalamnya terdapat dua lingkaran, yakni lingkaran luar dan lingkaran dalam ;

b. garis tengah dari lingkaran luar berukuran 3,50 cm ; c. garis tengah dari lingkaran dalam berukuran 2,50 cm;

d. di antara kedua lingkaran yang dimaksud pada huruf b dan c dicantumkan secara lengkap nama kecil dan nama keluarga serta tempat kedudukan notaris, dengan ketentuan sepanjang mengenai nama kecil dapat juga hanya mencantumkan huruf atau huruf-huruf pertama dari nama kecil ;

e. di bagian tengah dalam lingkaran terdapat lambang garuda.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cap jabatan bagi notaris pengganti, tersendiri, tidak menggunakan cap jabatan notaris yang digantikannya, tetapi segala sesuatu mengenai hal itu seperti halnya dengan cap jabatan notaris yang digantikan olehnya.

Pasal 12

Cukup jelas.

Pasal 13

Cukup jelas.

Pasal 14

Cukup jelas.

Pasal 15

Cukup jelas.

Pasal 16

Cukup jelas.

Pasal 17 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Peraturan perundang-undangan mengenai pengangkatan anak yang telah diatur adalah mengenai pengangkatan anak yang berlaku bagi warga negara Indonesia keturunan Cina dalam S. 1917 no. 129, yaitu Adopsi nasional yang dilakukan dengan akta notaris. Adapun mengenai pengangkatan dari anak yang berkewarganegaraan Indonesia oleh orang tua yang berkewarganegaraan asing (adopsi Internasional) belum ada peraturan perundang-undangannya.

Dalam praktek adopsi internasional di dasarkan pada jurisprudensi.

Setiap permohonan adopsi internasional diajukan kepada pengadilan negeri yang meliputi daerah hukum tempat tinggal anak tersebut dengan syarat-syarat tertentu dan bukan oleh notaris dengan akta notaris.

Pasal 18 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “alasan yang berdasar” adalah “gegroderedenen”.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 19 Ayat (1)

Jabatan notaris tidak dapat dirangkap antara lain dengan jabatan sebagai pejabat negara, pegawai negeri dan pemberi bantuan hukum.

Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pegawai negeri adalah sebagaimana dimaksud dalam U.U. No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.

Yang dimaksud dengan pemberi bantuan hukum adalah mereka yang menjalankan pekerjaan memberi bantuan hukum yang terdiri dari advokat, pengacara dan penasehat hukum (konsultan hukum).

Namun demikian, sekalipun jabatan atau pekerjaan rangkap itu, tidak secara jelas dan tegas dilarang dalam undang-undang ini, sepanjang jabatan atau pekerjaan rangkap itu dapat menghambat atau mengganggu pelaksanaan jabatan sebagai notaris, antara lain dan termasuk akan tetapi tidak hanya terbatas pada kerahasiaan, keberpihakan dan kemandirian dari notaris menjadi terabaikan, maka pekerjaan atau jabatan yang demikian itu termasuk dan dikwalifikasikan atau dikategorikan atau disamakan dengan yang dilarang dan tidak boleh dirangkap dengan jabatan notaris.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Ayat (5)

Yang dimaksud dengan perserikatan perdata adalah “maatschap”.

Notaris didalam menjalankan tugasjabatannya tetap terikat untuk menjaga kerahasiaan, kemandirian dan ketidak berpihakan, karenanya undang-undang tidak membuka peluang bagi para notaris untuk mengadakan maatschap didalam menjalankan jabatannya.

Adapun yang dimaksud dengan menjalankan jabatannya, antara lain melangsungkan dan mengesahkan didalam pembuatan akta, memiliki, menyimpan, memelihara dan mengelola protokolnya, termasuk repertorium, klapper, daftar-daftar atau register lain yang diharuskan oleh peraturan perundangan. Bagi setiap dan semua notaris harus mempunyai protokol sendiri dan mandiri, tanpa mengikutsertakan siapapun juga, didalam hal melangsungkan atau mengesahkan akta-akta yang dibuat dihadapannya demikian pula penyampaian kehendak dari yang meminta jasa kepadanya, harus dijaga kerahasiaanya demikian pula kemandirian itu, setiap dan semua notaris tidak mungkin mengadakan maatshap. Terbuka kemungkinan bagi notaris dan diantara sesama notaris untuk mengadakan maatschap, jika hal itu diadakan diluar menjalankan jabatan, dan hanya dalam hal itu sajalah yang terbuka kemungkinannya untuk itu. Tata cara, prosedur maupun bentuk serta aturan

tentang perserikatan perdata atau maatschap, diatur dan/atau ditentukan oleh Menteri, setelah mendengar pendapat dari organisasi profesi yaitu Ikatan Notaris Indonesia.

Ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal 20 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Pencantuman hari, tanggal, bulan dan tahun pada bagian awal akta, merupakan kebiasaan yang bermanfaat, akan tetapi bukan perintah undang-undang, sedangkan yang diperintahkan oleh undang-undang adalah penyebutan serta pencantuman keterangan tempat dimana akta itu dilangsungkan diresmikan, demikian pula hari, tanggal, bulan dan tahun akta itu dibuat, diresmikan atau dilangsungkan, sehingga uraian tersebut dicantumkan atau dimua pada baian akhir dari akta yang bersangkutan.

Ayat ( 3)

a. yang dimaksud dengan “sebegitu jauh” adalah sejauh data-data tentang pekerjaan dan/atau kedudukan dalam masyarakat dari orang yang diwakili diketahui oleh yang mewakili/yang menghadap ;

b. yang dimaksud dengan “penetapan” adalah putusan pengadilan dan keputusan instansi atau badan lain ;

c. yang dimaksud dengan “saksi akta” adalah saksi yang menyaksikan pembacaan akta oleh notaris dan penanda tanganan akta oleh penghadap dan

“saksi pengenal” adalah saksi yang memperkenalkan masing-masing penghadap kepada notaris ;

Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 21

Cukup jelas.

Pasal 22

Cukup jelas.

Pasal 23

Cukup jelas.

Pasal 24 Ayat (1)

Apabila peraturan perundang-undangan yang lain menentukan akta harus dibuat dalam bahasa Indonesia, pengecualian dalam ayat (1) ini tidak berlaku.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 25 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Keterangan dan alasan yang diberikan oleh penghadap tentang tidak dapat membubuhkan tanda tangannya yang dinyatakan secara tegas dalam akta, berlaku sebagai pengganti tanda tangan.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Ayat (5)

Cukup jelas.

Ayat (6)

Cukup jelas.

Ayat (7)

Cukup jelas.

Pasal 26 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan pencatatan harta kekayaan adalah “boedel beschrijving”.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 27

Cukup jelas.

Pasal 28

Cukup jelas.

Pasal 29

Cukup jelas.

Pasal 30

Cukup jelas.

Pasal 31

Cukup jelas.

Pasal 32 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “dalam suatu kedudukan” adalah antara lain sebagai Direktur suatu perseroan atau ketua Yayasan, sedang sebagai “kuasa” adalah apabila seseorang menerima kuasa dari orang lain dengan lisan bertindak berdasarkan surat kuasa.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 33 Ayat (1)

Yang dimaksud dalam ayat ini dengan “penetapan” adalah “erfstelling”, sedang dengan “ketentuan” dimaksudkan “beschikking”.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 34

Cukup jelas.

Pasal 35 Ayat (1)

Bagian kalimat yang berbunyi : “Terkecuali dalam hal-hal yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lain”(dalam pasal 40 Peraturan Jabatan Notaris berbunyi “Uitgezonded in de bijde algemene verordeningen voorziene gevallen”), mempunyai kaitan dengan ketentuan-ketentuan dalam pasal 848 dst. Kitab Undang-undang Acara Perdata dan pasal 35 Undang-undang no. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (dahulu pasal 22 Ord. Pajak Pendapatan dan pasal 43a Ord. Pajak Perseroan).

Berdasarkan prosedure yang diatur dalam pasal 848 dst, Kitab Undang-undang Acara Perdata, apabila hakim berpendapat seseorang yang tidak menjadi pihak dalam suatu akta mempunyai kepentingan pada akta itu, kepadanya dapat diberikan secara paksa salinan dsb. dari akta itu. Hal inilah yang dimaksudkan dalam pasal 35 ayat (1), dengan menyatakan “Dengan pengecualian dalam hal-hal yang diatur dalam peraturan perundang-undanga lain”. Hal ini tidak beratri mengurangi isi ketentuan dalam pasal 35 ayat (1) maupun isi sumpah rahasia jabatan notaris sebagaimana diatur dalam pasal 10 undang-undang ini, yang mana pasal 35 mempunyai hubungan yang erat dengan pasal 10 undang-undang ini, oleh karena adanya ketetapan hakim yang memerintahkan notaris untuk memberikan salinan dari akta itu bukan berarti sebagai suatu penyimpangan atau pengurangan terhadap pasal 35 ayat (1) maupun pasal 10 undang-undang ini, akan tetapi hakim dengn ketetapannya itu menyatakan orang yang bersangkutan sebagai pihak yang mempunyai kepentingan pada akta itu, sebagaimana halnya dengan orang-orang yang disebut dalam pasal 35 ayat (1) dan sesuai dengan ketentuan dalam pasal 35 ayat (1) berhak untuk memperleh salinan dsb. dari akta itu sebagai yang berkepentingan pada akta itu dan untuk itu hakim memerintahkan kepada notaris yang bersangkutan untuk memberikannya.

Adapun mengenai yang diatur dalam pasal 35 ayat (1) Undang-undang no. 6 tahun 1983, didalam ayat (2) dari pasal tersebut dinyatakan dengan tegas, bahwa dalam hal pihak ketiga yang bersangkutan i.c notaris terikat oleh kewajiban untuk merahasiakan, kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan atau dengan perkataan lain notaris dibebaskan dari sumpat rahasia jabatannya.

Yang perlu dipertanyakan dalam hal ini ialah apakah ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal 8, 11 dan 21 Undang-undang no. 3 tahun 1971 tentang pemberantasan Korupsi serta pasal 12 (2) U.U. no. 11 Pnps tahun 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi mengadakan derogasi terhadap pasal 35 jo. Pasal 10 undang-undang ini ?

Dalam hubungannya dengan pertanyaan di atas perlu diperhatikan bahwa martabat, kedudukan atau pekerjaan dari notaris semata-mata (perbandingkan pasal 1909 K.U.H. Perdata) telah mewajibkan kepadanya untuk merahasiakan pengetahuannya, sama halnya dengan para petugas, pejabat tertentu lainnya, sedang selain berdasarkan pasal 10 undang-undang ini juga bersumpah/berjanji untuk merahasiakan serapat-rapatnya isi aktanya, sebagaimana juga halnya dahulu diatur dalam pasal 17 Peraturan Jabatan Notaris (S.1860 no. 3)

Menurut kenyataanya dengan adanya sumpah rahasia jabatan notaris tersebut, disamping kewajiban merahasiakan berdasarkan martabat, kedudukan dan pekerjaannya, pembuat undang-undang masih menganggap perlu unruk dapat menerobos atau meniadakan kewajiban dari notaris untuk merahasiakan sebagaimana diatur dalam pasal 17 jo. pasal 40 Peraturan Jabatan Notaris (S. 1860 – 3) sekarang diatur dalam pasal 10 jo. pasal 35 undang-undang ini yang tidak hanya memberikan hak bagi notaris untuk mengundurkan diri sebagai saksi, akan tetapi merupakan kewajiban, membuat dan menetapkan suatu ketentuan yang tidak hanya didasarkan kepada perkataan-perkataan “diwajibkan” atau “tidak dapat menolak” ataupun dengan perkataan-perkataan lain yang mengandung makna yang serupa itu, akan tetapi dengan secara tegas menyatakan “kewajiban untuk merahasiakan ditiadakan” atau dengan perkataan lain dibebaskan dari kewajiban untuk merahasiakan, sebagaimana terdapat dalam pasal 35 ayat (2) Undang-undang no. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan-ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan, yang merupakan satu-satunya pasal yang berbunyi sedemikian dalam perundang-undangan yang ada berlaku di Indonesia.

Didasarkan pada uraian di atas, maka sifat eksepsional dari Undang-undang no. 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Korupsi maupun Undang-undang no. 11 Pnps tahun 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi tidak dapat mengadakan derogasi terhadap pasal 35 jo. pasal 10 undang-undang ini.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 36

Grosse adalah salinan dari minuta akta notaris yang mempunyai titel dan kekuatan eksekutorial, yang pada bagian atasnya memuat kata-kata “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti halnya dan yang terdapat pada putusan atau vonnis hakim yang telah mempunyai kekuatan tetap dan pasti untuk dijalankan atau dieksekusi secara paksa (inkracht van gewijsde), pada bagian bawah atau bagian penutup memuat kata-kata “Diberikan sebagai grosse pertama”, dengan menyebutkan nama dari orang yang memintanya dan untuk siapa grosse itu dikeluarkan serta tanggal pengeluaraanya.

Bagi pihak yang berkepentingan pada akta, antara lain para kreditur, demikian pula yang mempunyai hak menuntut pihak lain untuk melaksanakan kewajiban memenuhi

prestasinya yang diperjanjikan didalam akta notaris, dapat meminta dan berhak untuk memperoleh grosse pertama dari akta tersebut. Bagi siapapun yang memegang grosse pertama, tanpa usah melalui gugat ginugat melalui pengadilan, dapat langsung dan secara serta merta meminta kepada ketua pengadilan agar dilakukan eksekusi apa yang menjadi tuntutan atau yang menjadi haknya berdasarkan dan sebagaimana yang tercantum didalam akta notaris tersebut. Dengan demikian dan oleh karena itu, isi dari perjanjian atau kesepakatan yang termuat didalam akta notaris itu, sama dengan dan mempunyai kekuatan hukum seperti amar putusan atau vonnis hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan tetapi untuk dijalankan (inkracht van gewijsde). Untuk itulah lembaga grosse pertama dari akta notaris oleh sistem hukum diciptakan, agar para pencari keadilan dapat menyelesaikan sengketa atau perselisihan dalam hukum perdata, dengan cara yang sederhana,didalam waktu yang cepat dan

prestasinya yang diperjanjikan didalam akta notaris, dapat meminta dan berhak untuk memperoleh grosse pertama dari akta tersebut. Bagi siapapun yang memegang grosse pertama, tanpa usah melalui gugat ginugat melalui pengadilan, dapat langsung dan secara serta merta meminta kepada ketua pengadilan agar dilakukan eksekusi apa yang menjadi tuntutan atau yang menjadi haknya berdasarkan dan sebagaimana yang tercantum didalam akta notaris tersebut. Dengan demikian dan oleh karena itu, isi dari perjanjian atau kesepakatan yang termuat didalam akta notaris itu, sama dengan dan mempunyai kekuatan hukum seperti amar putusan atau vonnis hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan tetapi untuk dijalankan (inkracht van gewijsde). Untuk itulah lembaga grosse pertama dari akta notaris oleh sistem hukum diciptakan, agar para pencari keadilan dapat menyelesaikan sengketa atau perselisihan dalam hukum perdata, dengan cara yang sederhana,didalam waktu yang cepat dan

Dokumen terkait