- Antar Provinsi (DKI Jakarta) Inti (Perusahaan) Cow-Calf Operation Stocker Pembibitan (Breeding)
Cluster I
Penggemukan (Fattening)Cluster II
Pasca Panen dan PemasaranCluster III
Pedet Lepas Sapih Bakalan /
Calon Induk
Perjanjian Kerja Sama
Anak Sapi
(Pedet/Calf) (Feeder Cattle) Sapi Bakalan (Slaughter Cattle) Sapi Siap Potong Sapi siap potong terjaga kualitas
Plasma
Klmpk
Profil dan Model Model Usaha
IV-
17LAPORAN AKHIR FEASIBILITY STUDY (FS)
PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DAN PENGGEMUKAN SAPI DI NUSA TENGGARA TIMUR
4.4 Pola Pengembangan Usaha: Model Inti-Plasma
Usaha pembiakan dan penggemukan sapi potong tidak hanya terkait dengan kepemilikan ternak di tingkat perusahaan semata, melainkan keterlibatan peran dari semua pihak, mulai dari mitra usaha (peternak dan kelembagaan pertanian), pemerintah daerah selaku pembuat dan pengambil kebijakan, serta perbankan dalam penyediaan pembiayaan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan usaha model inti-plasma adalah:
1. Pemerintah. Pemerintah yang dimaksud dalam model ini adalah
Peme-rintah Provinsi NTT, PemePeme-rintah Kabupaten Kupang, dan PemePeme-rintah Provinsi DKI Jakarta.
a. Pemerintah Provinsi NTT berperan dalam memfasilitasi komoditas yang dapat dikembangkan dan penentuan jumlah kuota pengeluaran ternak ke daerah pasar antar provinsi.
b. Pemerintah Kabupaten Kupang berperan dalam fasilitas perizinan terkait usaha peternakan, fasilitas infrastruktur penunjang di luar kawasan, serta membantu pembinaan kelompok peternak calon mitra usaha (plasma).
c. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berperan dalam penyediaan bibit sapi (indukan dan pejantan), peralatan penunjang reproduksi, dan pakan program pembibitan.
2. Perusahaan. Perusahaan berperan utama dalam akses permodalan
usaha (investasi), baik dari modal internal maupun perbankan sebagai penjamin (avalist). Selain itu, perusahaan harus berperan dalam pengadaan bibit/ bakalan sapi, teknis pemeliharaan, pemasaran, serta bersedia membeli seluruh produksi dari mitra usaha untuk selanjutnya dijual ke pihak lain atau industri pengolahan. Perusahaan direkomendasikan dapat memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi yang diperlukan untuk keperluan peternak plasma. Jika terdapat kendala dalam pembinaan teknis, perusahaan dapat melakukan kerja sama dengan pihak kelembagaan pertanian.
3. Peternak Plasma. Peternak yang dimaksud adalah individu yang
berminat memulai atau mengembangkan usaha yang telah mereka miliki dan tergabung dalam wadah kelompok peternak. Wadah kelompok peternak dapat memudahkan perusahaan inti membina para
Profil dan Model Model Usaha
IV-
18 plasma. Selain itu, keberadaan kelompok peternak dapat memudahkan aktivitas monitoring dan evaluasi (monev) kerja sama inti-plasma.4. Kelembagaan Pertanian. Kelembagaan pertanian merupakan lembaga
usaha berbadan hukum yang berperan sebagai induk kelompok-kelompok peternak. Kelembagaan pertanian mewakili individu/ke-lompok peternak melakukan kerja sama business to business (B to B) dengan perusahaan dan berperan sebagai fasilitator resulotion conflict di internal plasma.
5. Perbankan. Bank dapat memberikan pembiayaan investasi dan modal
kerja dalam rangka pengembangan usaha sapi potong melalui pola cluster. Skim pembiayaan yang digunakan sebaiknya ditentukan berdasarkan besarnya tingkat suku bunga yang sesuai dengan bentuk usaha yang dikembangkan, sehingga pelaku usaha (baik perushaan inti maupun peternak plasma) dapat memperoleh manfaat yang besar dari pembiayaan yang diberikan. Bank juga harus menentukan sistem pencairan kredit, penggunaan kredit, dan sistem pembayaran angsuran pokok pinjaman beserta bunganya yang disesuaikan dengan cash flow pelaku usaha.
Model usaha inti-plasma yang akan dikembangkan PD Dharma Jaya disajikan di Gambar 4.8.
Gambar 4.8 Skema Model Inti-Plasma PD Dharma Jaya di Desa
Fututeta Kabupaten Kupang, NTT
Pemerintah
Bank Perusahaan
(Suplai anak sapi dan penerima hasil
pembesaran) Kelembagaan Pertanian Kelompok Petani/ Peternak (Anggota Plasma) Perjanjian Kerja Sama Kebijakan Pembinaan Bagi Hasil
Biaya Produksi & Bimbingan Teknis Pemasaran Hasil
Akses Permodalan & Avalist
Aspek Kelayakan Usaha
Profil dan Model Model Usaha
IV-
19LAPORAN AKHIR FEASIBILITY STUDY (FS)
PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DAN PENGGEMUKAN SAPI DI NUSA TENGGARA TIMUR
Untuk aspek legal kerja sama kemitraan, kedua belah pihak membuat dan menandatangani perjanjian kerja sama. Dalam perjanjian tersebut dicantumkan kesepakatan kewajiban dan hak masing-masing pihak. Beberapa ketentuan kewajiban dari pihak inti dan plasma antara lain adalah:
1. Kewajiban Perusahaan (Inti)
a. Memberikan bantuan teknis budidaya/produksi dan penanganan hasil;
b. Melakukan pengawasan terhadap cara pemeliharaan dan pengelolaan untuk mencapai target usaha;
c. Melakukan pembelian produksi petani/peternak plasma; dan d. Membantu petani/peternak plasma dan perbankan di dalam
masalah pelunasan permodalan dan bunganya, serta bertindak sebagai avails dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani/peternak.
2. Kewajiban Peternak (Plasma)
a. Menyediakan lahan dan kandang untuk pemeliharaan sapi potong;
b. Menghimpun diri secara berkelompok dalam pengembangan usaha ternak sapi;
c. Melakukan pengawasan bersama-sama anggota kelompok terhadap cara pemeliharaan dan penanganan pascapanen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan;
d. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana usaha;
e. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi Dinas Peternakan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana usaha;
f. Mengadakan perawatan sesuai petunjuk perusahaan mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada perusahaan mitra; dan
g. Pada saat penjualan hasil petani/peternak akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong harga dasar ternak serta sejumlah kewajiban petani/ peternak (terutama saat petani/peternak plasma mengajukan permodalan dari bank).
Profil dan Model Model Usaha
IV-
204.5 Model Bisnis Canvas Usaha
Salah satu perangkat analisis yang bisa membantu kita menemukan model bisnis yang tepat dalam usaha pengembangan pembibitan dan penggemukan sapi di Desa Fatuteta, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah model bisnis kanvas. Model bisnis ini merupakan sebuah manajemen strategi bisnis yang memungkinkan bisnis yang akan dikembangkan untuk menggambarkan, mendesain kemudian mengerucutkan beberapa aspek bisnis menjadi satu strategi bisnis yang utuh sebagai Business Model Generation. Pada gambar berikut, dijelaskan sebuah framework sederhana untuk mempresentasikan elemen-elemen penting yang terdapat dalam pengembangan model bisnis usaha pembibitan dan penggemukan sapi di Desa Fatuteta, Kabupaten Kupang, NTT dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan.
Key Partners - Penyedia sapi bakalan - Supplaier pakan hijauan - Supplaier obat - Rumah Potong Hewan - Dinas Peternakan - Petugas Inseminator / Dokter Hewan - Kelompok Peternak Sekitar Pusat Pengembangan - BPTP - Perguruan Tinggi - LIPI Key Activities Penggemukan Sapi: - Pemilihan bakalan - Perawatan - Penggemukan - Penjualan Pembibitan Sapi: - Inseminasi buatan - Pemilihan bibit - Kemitraan Plasma Inti Value Propositions - Plasma nutfah terjaga
- Sapi sehat dan gemuk - Berkualitas - Harga kompetitif - Data record - Peningkatan dan kerja populasi mutu genetik - Produktivitas peternak meningkat - Pengetahuan meningkat Customer Relationships - Pengadaan website dan aksesibilitas informasi - Pengadaan email dan akses - Pembentukan kelompok ternak - Pengiriman /transportasi - Pelabuhan Customer Segments - Rumah Potong Hewan di DKI Jakarta - Konsumen PD Dharma Jaya Key Resources - Desain dan kontruksi kandang/ wilayah pengembangan - Tenaga ahli/pegawai - Jaringan bisnis - Market
- Bibit, pakan dan obat Channels - Sales/ marketing - Promosi dan transportasi - Pengembangan mutu genetik Cost Structure
- Biaya investasi: lahan, kandang, peralatan, mesin, infrastruktur
- Biaya operasional/variabel: pakan, bibit, tenaga kerja
Revenue Streams
- Penjualan dan pengiriman sapihidup - Pengembagan bibit unggul
- Pusat pendidikan dan pelatihan (teaching farm)
Social & Enviromental Cost
- Biaya eksternalitas: harga tanah, akses jalan - Biaya penanganan limbah, sanitasi, IPAL
- CSR cost, pengembangan masyarakat, fasilitas publik warga
Social & Enviromental Benefit
- Pemanfaatan pupuk organik
- Produktivitas peternak sekitar meningkat - Efisiensi dalam beternak para petani - Lebih menjaga lingkungan sekitar
Gambar 4.9 Model Bisnis Canvas Pengembangan Usaha Pembibitan dan
Penggemukan Sapi di Desa Fatuteta, Kabupaten Kupang, NTT.
5.1 Aspek Hukum
Secara legal formal, PD Dharma Jaya sebagai perusahaan pemrakarsa usaha kawasan Pengembangan Usaha Perbibitan dan Penggemukan Sapi di Provinsi Nusa Tenggara Timur telah memiliki aspek legal sebagai badan usaha milik daerah DKI Jakarta. Perusahaan Daerah Dharma Jaya didirikan berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 13 Tahun 1966 dan disahkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 78 Tahun 1971 tanggal 2 Agustus 1971. Kemudian Keputusan Gubernur tersebut dicabut dan diterbitkan Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 05 Tahun 1985 tanggal 15 Juni 1985 tentang Perusahaan Daerah Dharma Jaya Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang termuat dalam Lembaran Daerah Nomor 74 Tahun 1985 seri D Nomor 73 dan disahkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan Nomor 188.131.539.1309 tanggal 17 September 1985. Kemudian terjadi perubahan perda 5 tahun 1985 dengan Peraturan Daerah No. 11 tahun 2013.
Pelaksanaan kegiatan pengembangan usaha di kawasan Usaha Perbibitan Dan Penggemukan Sapi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diprakarsai oleh PD Dharma Jaya telah memenuhi aspek legal hukum yang jelas. Aspek legal pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan: (1) Surat Gubernur DKI Jakarta kepada Dirut PD Dharma Jaya dan PD Pasar No 274/-1.823.552.1 perihal Tindak Lanjut Perjanjian Kerjasama Pengembangan Agribisnis Sapi Potong di NTT, (2). PKS Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov NTT No. 47 tahun 2014/No. HK. 1441 tahun 2014 tentang Pengembangan Agribisnis Sapi Potong di Provinsi NTT, dan (3) PKS antara Kemenristek & Dikti, LIPI, PT Karya Anugerah Rumpin, PD Dharma Jaya, dan Pemerintah Kupang No. 014/PTKAR/04/2015 atau 22.sp.IV.2015 tentang Penerapan Pengembangan IPTEK Agribisnis Peternakan Sapi Terpadu.