• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasir merupakan agregat halus yang terdiri dari butiran sebesar 0,14 mm - 5 mm, didapat dari batuan alam (natural sand) atau dapat juga dengan memecahnya

(artificial sand), tergantung dari kondisi pembentukan tempat terjadinya. Pasir alam dapat dapat dibedakan atas, pasir galian, pasir sungai, dan pasir laut.

Pasir merupakan efek yang penting pada ketahanan dari bata kontruksi, pasir yang digunakan untuk pembuatan sampel ini pasir sungai yang ukuran butirnya yang sangat halus yang lolos ayakan 100 mess. Butiran pasir yang halus ditambah semen maka mengisi rongga butiran yang halus mendapat hasil yang baik tetapi jika butiran pasir kasar hasilnya kurang memuaskan karena rongga antara butiran cukup lebar sehingga tegangan tidak dapat menyebar secara merata.

Kandungan air dengan pasir juga sangat tergantung pembuatan bata kontruksi jika dengan kandungan air yang semula menempati rongga menguap secara bersamaan dengan terjadinya reaksi hidrasi sehingga terbentuk rongga yang dapat memproses suatu kontruksi. Selain itu pasir juga berpengaruh terhadap sifat tahan susut dan keretakan pada produk bahan bangunan campuran semen (Van Vlack, L.H, 1984).

2.5. Semen

Semen adalah bahan yang digunakan untuk campuran agregat (pasir halus dan kasar). Fungsi utama semen sebagai bahan perekat untuk mengikat butir-butir agregat sehingga membentuk suatu massa yang padat dan mengisi rongga rongga udara

diantara butir-butir agregat banyak digunakan pada pembangunan di sektor kontruksi sipil (Abdul Rais, 2007).

Semen merupakan pembentuk untuk paving block. Jenis semen yang dipergunakan untuk pembuatan paving block adalah Portland, pengaruh dari semen pada kekuatan paving block untuk suatu perbandingan bahan-bahan ditentukan oleh kehalusan butiran-butiran dan komposisi kimianya melalui hydrasi untuk mengikat dan menyatukan agregat menjadi padat. Semua jenis semen portland mempunyai komponen kimia yang sama yang menentukan sifat-sifatnya adalah relatif dengan komponen-komponen kimia tersebut. Komponen-komponen utama dari semen adalah, Trikalsium Aluminat (C3A), Trikalsium Silikat (C3S), Dikalsium (C2S) dan Tetrakalsium Aluminoferrit (C4AF) (Torben. C. Teknologi Bahan Beton).

2.6. Karakteristik Bahan 2.6.1. Sifat Fisis

2.6.1.1. Densitas

Densitas adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi densitas (massa jenis) suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Densitas rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki densitas lebih tinggi akan memiliki volume yang lebih rendah dari pada benda bermassa sama yang memiliki densitas

lebih rendah. Densitas (massa jenis) berfungsi untuk menentukan perbandingan massa benda dengan volume benda. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat yang sama berapapun massanya dan berapapun volumenya akan memiliki densitas yang sama pula, oleh sebab itu dikatakan bahwa massa jenis atau densitas merupakan ciri khas (sidik jari) suatu zat.

Air memiliki densitas yang dipandang sebagai refrensi nilai pada kondisi standar suhu 4ºC tekanan 1 atmosfir secara internasional massa jenis air 1 gr/cm³ (Tambunan T.D, 2008).

Untuk menghitung besarnya densitas dipergunakan persamaan matematis berikut: V m = Di mana: = densitas (gr/cm3) (2.1) m = massa (gr), V = volum (cm3) 2.6.1.2. Porositas

Porositas adalah pori-pori yang terdapat dalam sampel porositas merupakan satuan-satuan yang menyatakan keporositasan material yang dihitung dengan mencari (%).

Persentase porositas dapat diketahui berdasarkan daya serap bahan terhadap air yaitu perbandingan volume air yang diserap dengan volume total sampel. Secara matematis hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut (Sembiring, 1994):

(2.2) % 100 x / air V ) m - (m = Porositas % t k b

Di mana: mb = massa basah (gr) air = massa jenis (gr/cm3)

mk = massa kering (gr) Vt= volum total sampel (cm3)

2.6.1.3. Daya serap air

Besar kecilnya penyerapan air oleh mortar sangat dipengaruhi pori atau rongga yang terdapat pada mortar. Semakin banyak pori-pori yang terkandung dalam mortar maka akan semakin besar pula penyerapan sehingga ketahanannya akan berkurang. Rongga (pori) yang terdapat pada mortar terjadi karena kurang tepatnya kualitas dan komposisi material penyusunnya. Pengaruh rasio yang terlalu besar dapat menyebabkan rongga, karena terdapat air yang tidak bereaksi dan kemudian menguap dan meninggalkan rongga (Sipayung M, 1995).

Daya serap air dirumuskan sebagai berikut:

% 100 × kering sampel Berat kering sampel Berat - jenuh sampel Berat = air Penyerapan (2.3)

2.6.2. Sifat Mekanik 2.6.2.1. Kuat tekan

Persamaan kuatan tekan (compressive strength) suatu bahan merupakan perbandingan besarnya beban maksimum yang dapat ditahan bahan dengan luas penampang bahan yang mengalami gaya tersebut.

Secara matematis besarnya kuat tekan suatu bahan:

Di mana: P = kuat tekan (N/m2) F = Gaya maksimum (N)

A = Luas permukaan benda uji (m2)

Tekanan adalah suatu kuantitas skalar. Satuan dalam sistem Internasional dari tekanan adalah Pascal singkatan dari Pa, 1 Pa=1 Newton/meter² (Haliday & Resniek, 1978). (2.4) A F = P maks

2.6.2.2. Kekuatan patah (bending strength)

Kekuatan Patah sering disebut Modulus of Rapture (MOR) yang menyatakan ukuran ketahan bahan terhadap tekanan mekanis dan tekanan panas (thermal stress). Metode yang digunakan dengan titik tumpu (Sijabat Kaston, 2007).

Persamaan Kekuatan Patah (bending strength) suatu bahan dinyatakan sebagai berikut:

d L

b

Gambar 2.4. Contoh Benda Uji Bending Streght

2 2 3 tan bh PL Patah Kekua = (2.5)

dengan:

P = gaya penekan (kgf) L = jarak dua penumpu (cm) b, h = dimensi sampel (cm) 2.6.2.3. Kuat impak

Kuat impak adalah suatu kriteria penting untuk mengetahui kegetasan suatu bahan kuat impak juga merupakan nilai impak (pukul) suatu bahan yang dalam keadaan biasa bersifat liat, namun berubah menjadi getas akibat pembebanan tiba-tiba pada suatu kondisi tertentu dengan satuan Newton meter.

Batang uji pada dua tumpuan, sedemikian rapa sehingga yang ditekik terletak di tengah-tengah dengan tolernsi ± 0,5 mm (seperti gambar di bawah ini).

Gambar 2.5. Contoh Batang Uji Impak

Pada penentuan nilai impak dilakukan perhitungan nilai chappy, yaitu:

2 kgfm/cm S AK = KC o (2.6)

dengan : KC = nilai impak chappy (kgfm/cm2) AK = harga impak takik (kgfm)

So = luas semula di bawah takik dari batang benda uji (cm2)

Harga impak menjadi besar dengan meningkatnya absorbsi kadar air dan menjadi kecil karena pengeringan (Surdia, 1985).

2.6.2.4. Kekerasan

Kekerasan adalah kriteria untuk menyatakan intensitas terhadap suatu bahan terhadap deformasi yang disebabkan objek lain. Kekerasan dapat juga didefinisikan sebagai ketahanan bahan terhadap penetrasi pada permukaan, namun pada umumnya terhadap deformasi plastis karena pada bahan yang ulet kekerasan memiliki hubungan yang sejajar dengan kekuatan. Cara pengukuran kekerasan dapat ditetapkan dengan deformasi yang berbeda, yaitu kekerasan Brinnel, Rochwell, Vickers, (Andrita, 2007). Pengujian kekerasan dilakukan dengan alat digital Equotip Hardness Tester, di mana hasil dapat dibaca secara langsung dan diperoleh dalam satuan HB (Hardness of Brinnel) yang dapat dikoreksi nilainya ke satuan Hardness of Vickers. Alat uji kekerasan menggunakan indektor yang bentuknya berupa bola kecil, piramid, atau titik indentor berfungsi sebagai pembuat jejak pada logam (sampel) dengan pembebanan tertentu, nilai kekerasan diperoleh setelah diameter jejak diukur. kekerasan menyatakan ketahanan (Subagyo Joko, 1994).

Kekerasan (HV) suatu bahan dapat ditentukan dengan persamaan berikut: 2 V D P 8544 , 1 = H (2.7) dengan : HV = kekerasan Vickers (kgf/mm2)

P = beban yang diberikan (kgf)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Dokumen terkait