GAMBARAN UMUM WAYANG KULITPURWA GAYA PORONGAN SAJIAN BAMBANG SUGIO
C. Struktur Adegan Lakon Irawan RabiSajian Bambang Sugio Struktur dalam ilmu kesusastraan adalah bangunan, di dalamnya
1. Pathet Sepuluh dan Pathet Wolu a.Jejer Negara Dwarawati
Di Negara Dwarawati, Prabu Kresna dihadap Raden Samba, Patih Udawa, dan Raden Setyaki menerima kedatangan seorang tamu yaitu Prabu Baladewa dari Negara Mandura. Prabu Kresna menyambut kedatangan Prabu Baladewa dengan menyuruhnya makan di bale
pambujanan yang diantarkan oleh Raden Samba.
Tidak lama kemudian datang Nyi Kadarsih seorang janda miskin dari Desa Andhongsumawi melamar Dewi Titisari yang akan dijodohkan dengan putranya bernama Bambang Wijakusuma. Prabu Kresna menerima lamaran tersebut dengan senang hati meskipun Nyi Kadarsih seorang janda yang miskin.Selang beberapa waktu kemudian datang Prabu Baladewa yang baru saja selesai makan dari bale pambujanan.Prabu Kresna memberitahu Prabu Baladewa bahwa Dewi Titisari akan
dinikahkan dengan Bambang Wijakusuma. Mendengar hal tersebut Prabu Baladewa kaget, karena tujuannya juga ingin melamar Dewi Titisari, yang akan dijodohkan dengan Raden Lesmana Mandrakumara putranya Raja Hastina Prabu Duryudana.
Gambar 2. Jejer Dwarawati Prabu Kresna menerima kedatangan Prabu Baladewa dan Nyi Kadarsih (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Prabu Baladewa menyuruh Prabu Kresna membatalkan lamaran Nyi Kadarsih, akan tetapi Prabu Kresna tidak bisa menarik kembali perkataanya karena diaseorang raja.Prabu Baladewa kemudian membatalkan lamaran Nyi Kadarsih secara sepihak, dengan alasan rakyat miskin tidak pantas menikahi putriraja, dan mengancamingin membunuh Nyi Kadarsih dengan Kyai Alugara jika tidak segera pulang ke Desa Andhongsumawi. Keputusan Prabu Kresna ini membuat konflik di antara Prabu Baladewa dengan Nyi Kadarsih, untuk menengahi konflik tersebut Prabu Kresna menyuruh keduannya menunggu keputusan di Alun-alun
Dwarawati. Sidang ini berakhir ditandai dengan sang raja kondur
ngedhaton.
b. AdeganLimbukan
Adegan Limbukandalang menyajikan gending-gendinglanggam seperti langgam Luntur, Jaka mlarat, dan humor-humor segar untuk menghibur penonton, serta menyampaikan acara hajatan si penanggap. Adegan ini sama sekali tidak ada kaitannya denganalur lakon Irawan Rabi.
Gambar 3. Adegan Limbukan, tokoh Limbuk kiri dan Cangik kanan (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
c. Adegan paseban njaba
Prabu Baladewa memberitahu Raden Kartamarma, Bambang Aswatama, dan Raden Dursasana kalau lamarannya belum diterima oleh Prabu Kresna, karena ada seseorang yang menghalangi tujuannya yaitu Nyi Kadarsih. Prabu Baladewa memerintahkanmereka bertiga agar membujuk Nyi Kadarsih membatalkan niatnya melamar Dewi Titisari.
Jika Nyi Kadarsih masih tetap keras kepala harus disingkirkan dengan cara kekerasan.
Gambar 4. Adegan paseban njaba, tokoh Prabu Baladewa kanan, dihadap Raden Kartamarma kiri depan,Bambang Aswatama kiri tengah, dan Raden Dursasana kiri belakang (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Raden Kartamarma, Bambang Aswatama, dan Raden Dursasana kemudian bersegera melaksanakan perintahnya Prabu Baladewa pergi menemui Nyi Kadarsih di Alun-alun Dwarawati.
d. Adegan Alun-alun Dwarawati I
Raden Kartamarma dan Raden Dursasana membujuk Nyi Kadarsih agar pulang ke Andhongsumawi dengan alasan Prabu Kresna menolak lamarannya. Nyi Kadarsih tidak percaya akan hal itu, sebelum mendengar pernyataan langsung dari Prabu Kresna.Mendengar jawaban Nyi Kadarsih yang keras kepala, Raden Kartamarma langsung mendorong dan menendang Nyi Kadarsih hingga jatuh terlentang. Nyi Kadarsih
seorang perempuan yang lemah tidak bisa membela diri disaat fisiknya disakiti oleh Raden Kartamarma.
Gambar 5. Adegan Alun-alun Dwarawati I, Raden Kartamarma kiri memukul Nyi Kadarsih kanan, Raden Dursasana kiribelakang (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Tidak hanya Raden Kartamarma yang memukuli Nyi Kadarsih, Raden Dursasana dan Bambang Aswatama juga ikut serta menghajar Nyi Kadarsih hinggababak belur, berakhir pingsantergeletak di tanah.
e. Desa Andhongsumawi I
Di Desa Andhongsumawi Bambang Wijangkara anaknya Nyi Kadarsih mempunyai firasat buruk, hatinya dihantui rasa bersalah karena membiarkan Nyi Kadarsih pergi sendirian ke Istana Dwarawati melamar Dewi Titisari. Perumpamaannya seperti meninggalkan bayi di pinggir telaga. Bambang Wijangkara berfirasat seakan-akan Nyi Kadarsih tertimpa suatu keburukan. Bambang Wijangkara mengadukan firasatnya kepada Bagong. Sebagai seorang abdi, Bagong menyarankan Bambang
Wijangkara agar bersegera menyusul Nyi Kadarsih ke Istana Dwarawati, untuk memastikan keadaan Nyi Kadarsih.
Gambar 6. Adegan di Desa Andhongsumawi I, Bambang Wijangkara kanan, dan Bagong kiri (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Bambang Wijangkara dan Bagong kemudian pergi menyusul Nyi Kadarsih ke Istana Dwarawati, merekaberjalan dengan kesaktiannya mengikuti hembusan angin.
f. Alun-alun Dwarawati II
Setibanya di Alun-alun Dwarawati, Bambang Wijangkara sedih karena menemukan Nyi Kadarsih tergeletak dalam keadaan pingsan, mukanya babak belur seperti habis dipukuli orang, dan pakaiannya sebagian ada yang sobek. Bagong sebagai abdi menasehati Bambang Wijangkara agar bersegera menyadarkan Nyi Kadarsih dengan ilmu kesaktiannya. Bambang Wijangkara mengusap wajah Nyi Kadarsih hingga sadar kembali. Nyi Kadarsih mengadu pada Bambang Wijangkara
kalau lamarannya Bambang Wijakusuma telah diterima oleh Prabu Kresna, akan tetapi Prabu Baladewairi hati akan hal itu. Sampai berani memerintahkan Raden Kartamarma, Bambang Aswatama, dan Raden Dursasana untuk mengeroyok dirinya dengan kekerasan.
Gambar 7. Adegan Alun-alun Dwarawati II, Nyi Kadarsih kanan, Bambang Wijangkara kiri, dan Bagong kiri belakang (Repro: VCD lakon
Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Setelah mendengar cerita ibunya, Bambang Wijangkara marah, bertriwikrama menjadi kera biru pergi mendatangi Kurawa untuk membalaskan dendam.
g. Perang Gagal
Bambang Wijangkara menantang Raden Kartamarma untuk beradu kesaktian, terjadilah perkelahian yang sangat sengit di antara keduanya. Di akhir peperangan Bambang Wijangkara berhasil mengalahkan Raden Kartamarma hingga lari ketakutan. Raden Aswatama dan Raden
Dursasana datang membantu, terjadi peperangan dengan Bambang Wijangkara, peperangan ini dimenangkan oleh Bambang Wijangkara.
Gambar 8. Perang dugangan, Bambang Wijangkara kanan melawan Bambang Aswatamakiri (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Dari kejahuan Prabu Baladewa membawa Kyai Nenggala untuk membunuh Bambang Wijangkara, akan tetapi berhasil dihalangi oleh Prabu Kresna. Konflik ini dapat dilerai oleh Prabu Kresna dengan cara mendirikan sayembara. Isi sayembaranya adalah barangsiapa mempunyai harimau yang bisa berbicara layaknya manusia, maka lamarnya diterima oleh Dewi Titisari.
h. Adegan Candakan I
Nyi Kadarsih menyuruh Bambang Wijangkara untuk membujuk Bambang Wijakusuma agar mau membatalkan niatnya menikahi Dewi Titisari karena syarat sayembara sangat berat. Bambang Wijangkara
bersedia melaksanakan perintah Nyi Kadarsih, kemudian meraka bertiga pergi ke Desa Andhongsumawi.
i. Adegan Desa Andhongsumawi II
Nyi Kadarsih membujuk Bambang Wijakusuma agar membatalkan niatnya menikahi Dewi Titisari karena sayembara yang didirikan Prabu Kresna terlalu berat yakni meminta harimau yang bisa berbicara layaknya manusia. Mendengar hal tersebut Bambang Wijakusuma merengek kepada Bambang Wijangkara agar mau mencarikan harimau tersebut.
Gambar 9. Adegan Desa Andhongsumawi II, tokohBambang Wijakusuma kanan depan,Semar kanan belakang,menghadap Nyi Kadarsih kiri depan, Bambang Wijangkara kiri tengah, dan Bagong kiri belakang (Repro: VCD lakon Irawan Rabi sajian Bambang Sugio).
Semar sebagai pamong berpendapat bahwaBambang Wijangkara sebagai saudara tertua, pengganti sosok seorang ayah seharusnya membantu mencarikan harimau tersebut demi tercapainya cita-cita Bambang Wijakusuma. Nyi Kadarsih juga sependapat dengan pernyataan Semar, Nyi Kadarsih kemudian menyuruh Bambang Wijangkara mencari
harimau. Bambang Wijangkara pun bersedia, kemudian ia pergi mencari harimau bersama Bagong.