3.4 Alat dan Bahan Penelitian
3.4.2 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah batagor, media Nutrient Broth (NB), Nutrient Agar (NA), Salmonella Shigella Agar (SSA), Eosin Methylen Blue (EMB), media fermentasi karbohidrat, IMViC, citrate, dan indikator uji biokimia (erlich, methyl red, KOH)
3.5 Cara Kerja Penelitian
3.5.1 Tahap Persiapan
3.5.1.1 Sterilisasi Alat dan Bahan a. Sterilisasi Basah
Alat dan bahan yang disterilisasi dengan autoklaf diantaranya adalah media NA, EMB, SSA, NB, uji biokimia (gula-gula, IMViC, TSIA) baik yang akan maupun telah digunakan serta tabung reaksi dan tip yang dibungkus plastik.
Sterilisasi basah dilakukan menggunakan autoklaf pada suhu 121ᵒ C selama 1,5 jam.
b. Sterilisasi Kering
Alat dan bahan yang disterilisasi dengan oven diantaranya cawan petri, pinset, spatula yang sebelumnya telah dibungkus dengan kertas.
Sterilisasi kering dilakukan menggunakan oven sampai suhu mencapai 150ᵒC.
3.5.1.2 Pengambilan dan Persiapan Sampel
Sampel dibeli di lingkungan sekitar sekolah dasar negeri di Kecamatan Ciputat Timur yang menjual batagor yaitu terdapat 5 sekolah diantaranya SDN Cirendeu 01, SDN Pisangan 03, SDN Cempaka Putih 03, SDN Cempaka Putih 02, dan SDN Pisangan 05 dibeli dalam kondisi suhu bervariasi dalam kisaran waktu antara 12.00 sampai 13.00.
Sampel yang telah dibeli langsung dimasukkan kedalam kulkas dengan suhu 3ᵒC selama 3-4 jam agar kondisi makanan tidak mengalami perubahan. Ketika akan digunakan untuk pengujian, sampel dikeluarkan dari kulkas diblender hingga halus lalu ditimbang seberat 10gr.
3.5.2 Pembuatan Media dan Penanaman Sampel 3.5.2.1 Pembuatan Media NB dan Pengenceran
Media NB ditimbang sebanyak 2 gr, masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi akuades 153 mL. Kemudian panaskan dengan hotplate pada suhu 150˚C. Setelah itu tuang pada 7 tabung reaksi sebanyak 9mL dan 90mL pada erlenmeyer 250mL. Lakukan sterilisasi di autoklaf
pada suhu 121˚C. Setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Sampel yang telah diblender hingga halus dan ditimbang seberat 10gr lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer yang telah berisi 90mL NB.
Kemudian campuran sampel dan NB tadi di vortex hingga homogen. Lalu ambil sampel sebanyak 1mL menggunakan tip 1000μL, pindahkan ke dalam tabung reaksi 1 yang telah berisi NB sebanyak 9mL kemudian lakukan vortex kembali. Lakukan hal yang sama hingga tabung reaksi ke 6. Tabung reaksi ke 7 tidak dilakukan pengenceran dan dibiarkan hanya berisi NB untuk dijadikan sebagai kontrol negatif.
3.5.2.2 Pembuatan Media dan Penanaman Sampel pada NA
Media NA ditimbang sebanyak 4 gr, masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi akuades 140 mL. Kemudian panaskan dengan hotplate pada suhu 150˚C selama 15 menit. Setelah itu masukkan ke dalam tabung erlenmeyer 250mL. Lakukan sterilisasi di autoklaf pada suhu 121˚C. Tuang media kedalam cawan petri sebanyak ±20mL, bila telah mengeras masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Setelah dilakukan pengenceran, ambil sebanyak 0,1mL menggunakan mikropipet dengan tip 100μL dari tabung reaksi lalu teteskan pada 2 cawan petri berisi NA. Beri label pada masing-masing
cawan mulai dari “2-1;2-2” hingga “5-1;5-2”. Pada kontrol negatif ambil sebanyak 0,1ml dari tabung reaksi kontrol lalu teteskan pada satu cawan petri kemudian beri label “kontrol”. Siapkan batang L, rendam dalam alkohol. Lalu tiap akan digunakan keluarkan batang L dari alkohol dan dilewatkan diatas api 1-2 kali, diamkan hingga batang L tidak panas lagi.
Goreskan pada permukaan media untuk meratakan larutan sampel. Cawan yang sudah berisi sampel selanjutnya diinkubasi selama 24 jam.
3.5.2.3 Pembuatan Media dan Penanaman Sampel pada EMB dan SSA
Siapkan erlenmeyer dan gelas beker masing-masing berisi 40 mL akuades. Timbang media EMB sebanyak 1,5 gr masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 40 mL akuades. Kemudian panaskan dengan hotplate pada suhu 150˚C selama 15 menit. Setelah itu masukkan ke dalam tabung erlenmeyer 250mL. Sterilisasi erlenmeyer yang berisi akuades dan erlenmeyer yang berisi EMB di autoklaf pada suhu 121˚C. Tuang media EMB kedalam cawan petri sebanyak ±20mL, bila telah mengeras masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Timbang media SSA sebanyak 2,4 gr. Masukkan media SSA yang telah ditimbang ke dalam akuades pada erlenmeyer yang telah di sterilisasi. Kemudian panaskan dengan hotplate pada suhu 150˚C selama 15 menit. Tuang media kedalam cawan petri sebanyak ±20mL, bila telah mengeras masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Ambil 0,1ml larutan sampel dari pengenceran 10-1 lalu teteskan pada 2 cawan petri berisi EMB dan 2 cawan petri berisi SSA. Siapkan batang L, rendam dalam alkohol. Lalu tiap akan digunakan keluarkan batang L dari alkohol dan dilewatkan diatas api 1-2 kali, diamkan hingga batang L tidak panas lagi. Goreskan pada permukaan media untuk meratakan larutan sampel. Cawan yang sudah berisi sampel selanjutnya diinkubasi selama 24 jam.
3.5.2.4 Identifikasi Bakteri dengan Pewarnaan Gram
Bakteri yang telah tumbuh di media spesifik Salmonella Shigella Agar (SSA) dan Eosin Methylen Blue (EMB) diidentifikasi dengan menggunakan pewarnaan Gram. Mula-mula siapkan ose bulat, lalu panaskan ose hingga pijar kemudian ambil NaCl atau akuades steril menggunakan ose. Teteskan pada kaca objek yang sebelumnya telah diberi batas berbentuk oval dibagian bawahnya. Panaskan kembali ose hingga pijar, diamkan hingga tidak panas. Ambil koloni bakteri yang telah tumbuh pada media dengan ose, lalu oleskan pada kaca objek dan ratakan dengan NaCl atau akuades steril yang telah diteteskan sebelumnya (tidak melewati batas). Lewatkan kaca objek diatas api kecil atau diamkan hingga mengering sendiri. Letakkan kaca objek diatas rak pewarnaan. Teteskan Kristal Karbol Ungu (KKU) atau Gentian Violet, diamkan selama 5 menit, bilas dengan air mengalir. Teteskan Lugol, diamkan selama 1 menit, bilas dengan air mengalir. Teteskan alkohol sampai tidak ada lagi warna ungu yang luntur. Teteskan Safranin, diamkan 45 detik, bila dengan air mengalir. Lalu keringkan kaca objek dengan tisu (tidak di gosok atau diusap bagian atasnya). Teteskan minyak imersi diatas kaca objek lalu amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100x.
3.5.2.5 Pembuatan dan Identifikasi Bakteri dengan Uji Biokimia a) Media Gula-gula
Media gula-gula yang terdiri dari glukosa, laktosa, maltosa, mannitol, sukrosa ditimbang sebanyak 1 gr lalu masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 100mL akuades. Lalu tambahkan pepton water sebanyak 1 gr ke dalam gelas beker. Panaskan dengan hotplate pada suhu 150ᵒC selama 10 menit. Selagi dipanaskan, beri sedikit brom kresol purpur sampai warna larutan berubah menjadi ungu. Setelah itu tuang sebanyak 4mL pada tabung reaksi dan masukkan tabung durham dan beri label masing-masing tabung reaksi. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121˚C. Setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C..
Bakteri yang telah tumbuh pada media EMB dan SSA selanjutnya diinokulasi pada media gula-gula. Panaskan ose bulat hingga pijar, diamkan beberapa saat lalu ambil koloni bakteri, masukkan ke dalam tabung reaksi, aduk dengan memutar dan menaik turunkan ose hingga koloni tercampur dengan larutan. Letakkan media pada inkubator selama 24 jam. Hasil positif pada uji gula-gula adalah adanya perubahan warna medium menjadi kuning dan positif membentuk gas apabila terdapat gelembung udara pada tabung durham.
b) Media Methyl Red dan Voges-Proskauer
Media methyl red dan voges-proskauer masing-masing ditimbang sebanyak 2,5 gr lalu masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 50mL akuades. Panaskan dengan hotplate pada suhu 150ᵒC selama 10 menit. Setelah itu tuang sebanyak 4mL pada tabung reaksi. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121˚C. Setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Ambil koloni bakteri yang telah tumbuh pada media EMB dan SSA menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar dan didiamkan beberapa saat. Masukkan ose ke dalam tabung reaksi, aduk
dengan memutar dan menaik turunkan ose hingga koloni tercampur dengan larutan. Letakkan media pada inkubator selama 24 jam. Hasil positif pada uji MRVP adalah terbentuknya warna merah pada medium setelah ditambahkan indicator methyl red untuk MR dan KOH untuk VP.
c) Media Sulfide Indol Motility (SIM)
Media SIM ditimbang sebanyak 2 gr lalu masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 50mL akuades. Panaskan dengan hotplate pada suhu 150ᵒC selama 10 menit. Setelah itu tuang sebanyak 4mL pada tabung reaksi. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121˚C. Setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Siapkan ose jarum, panaskan hingga pijar lalu diamkan beberapa saat. Ambil koloni bakteri pada media EMB dan SSA lalu tusukkan pada media SIM secara lurus dan tepat ditengah. Letakkan media pada inkubator selama 24 jam. Hasil positif pada uji indol adalah terbentuknya warna merah pada medium setelah ditambahkan indikator erlich dan adanya hasil positif untuk motilitas adalah gambaran awan pada tempat tusukan
d) Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA)
Media TSIA ditimbang sebanyak 1,5 gr lalu masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 50mL akuades. Panaskan dengan hotplate pada suhu 150ᵒC selama 15 menit. Setelah itu tuang sebanyak 4mL pada tabung reaksi. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121˚C. Posisikan tabung secara miring sebesar 45ᵒ, setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Siapkan ose jarum, panaskan hingga pijar lalu diamkan beberapa saat. Ambil koloni bakteri pada media EMB dan SSA lalu goreskan ose pada permukaan media TSIA (bagian lereng/miring media), kemudian tusukkan ose secara lurus tepat di tengah media (sekali tusuk). Letakkan media pada inkubator selama 24 jam. Hasil positif pada uji TSIA adalah
adanya perubahan warna medium menjadi kuning dan terbentuknya gas sehingga medium terangkat keatas
e) Media Simmon Citrate Agar (Sitrat)
Media sitrat ditimbang sebanyak 1,5 gr lalu masukkan ke dalam gelas beker yang telah berisi 50mL akuades. Panaskan dengan hotplate pada suhu 150ᵒC selama 15 menit. Setelah itu tuang sebanyak 4mL pada tabung reaksi. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121˚C. Posisikan tabung secara miring sebesar 45ᵒ, setelah dingin masukkan kedalam kulkas bersuhu 3˚C.
Ambil koloni bakteri yang telah tumbuh pada media EMB dan SSA menggunakan ose bulat yang telah dipanaskan hingga pijar dan didiamkan beberapa saat lalu goreskan ose pada permukaan media Sitrat (bagian lereng media). Letakkan media pada inkubator selama 24 jam.
Hasil positif pada uji sitrat adalah adanya perubahan warna media menjadi biru.
3.6 Alur Penelitian
Bagan 3.1 Alur Penelitian 3.7 Managemen Data
Data penelitian hasil uji bakteri dari sampel batagor terhadap bakteri Escherichia coli serta Salmonella sp akan dijelaskan secara deskriptif dalam bentuk tabel untuk melihat jumlah bakteri yang terdapat pada batagor, hasil identifikasi bakteri E. coli dan Salmonella sp.
dilakukan dengan pewarnaan Gram maupun uji biokimia.
Pengenceran
43 BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Pembahasan
4.1.1 Hasil Kultur Bakteri dengan Metode TPC (Total Plate Count) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikerjakan dengan menanam sampel pada media agar Nutrient Agar (NA) tampak koloni bakteri yang tumbuh seperti tampak pada gambar berikut.
Gambar 4.1 Pertumbuhan bakteri pada sampel 1 di media NA dengan konsentrasi pengenceran 10-3 dan 10-4
Berdasarkan gambar diatas, pada media NA tampak koloni berbentuk bulat, berwarma putih dan bersifat universal sehingga bisa ditumbuhi bakteri baik Gram positif maupun negatif, dan tujuan isolasi pada media ini untuk menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Setiap koloni pada berbagai konsentrasi pengenceran yang telah tumbuh pada media NA dihitung, sehingga didapat hasil sebagai berikut.
Pengenceran 10-3 Pengenceran 10-4
Tabel 4.1 Jumlah Koloni pada Setiap Sampel dengan Berbagai Pengenceran
Sampel 1 : SDN Cirendeu 01 Sampel 4 :SDN Cempaka Putih 02 Sampel 2 : SDN Pisangan 03 Sampel 5 : SDN Pisangan 05 Sampel 3 : SDN Cempaka Putih 03
Selanjutnya untuk menentukan jumlah koloni bakteri pada setiap sampel, terlebih dahulu dilakukan perhitungan sesuai rumus perhitungan koloni per mL dan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.2 Jumlah Koloni Setiap Sampel Sesuai Rumus
Untuk menentukan rerata jumlah koloni pada tiap sampel dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus perhitungan rerata jumlah koloni bakteri tiap sampel dan didapatkan hasil sesuai tabel 4.3
Tabel 4.3 Interpretasi Penghitungan pada Setiap Sampel sampel Rata-rata jumlah
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan bahwa 4 dari 5 sampel yang diuji seluruhnya memiliki jumlah koloni yang melebihi ambang batas.
Berdasarkan keputusan Dirjen POM No 03726/B/SK/VII/89 bahwa ambang batas maksimum bakteri pada makanan adalah sejumlah 104 CFU/gram.37 Sampel 1 memiliki jumlah koloni terbanyak dibandingkan dengan sampel yang lain dengan jumlah koloni 1,3 x 106 CFU/gram, sedangkan sampel 4 merupakan sampel dengan jumlah koloni paling sedikit yakni sejumlah 1,1 x 103 CFU/gram dan merupakan satu-satunya sampel yang tidak melebihi ambang batas. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa jajanan batagor yang dijual di lingkungan sekolah dasar di wilayah Cirendeu, Pisangan, dan Cempaka Putih tidak layak dikonsumsi. Akan tetapi belum dapat ditentukan secara spesifik jenis bakteri yang tumbuh, karena hanya dihitung berdasarkan pertumbuhannya pada media NA.
Selain ketentuan mengenai nilai ambang batas jumlah koloni yang ditetapkan oleh BPOM berdasarkan metode ALT (Angka Lempeng Total) atau TPC (Total Plate Count), BPOM melalui Badan Standarisasi Nasional juga membuat ketetapan mengenai nilai ambang batas jumlah cemaran mikroba pada makanan berdasarkan metode APM atau MPN (Most Probable Number) maka kategori jajanan batagor termasuk dalam jenis makanan olahan lainnya dengan ambang batas maksimum <3/g atau <3/ml untuk jenis koliform (Escherichia coli) dan negatif/25 g atau negatif/25 ml untuk Salmonella sp.37
Penelitian terhadap ragam jajanan dilakukan oleh Tita Rialita dkk (2005) di lingkungan sekitar kampus Universitas Padjajaran Jatinangor Bandung didapatkan hasil tertinggi untuk MPN koliform sebanyak 240 sel/100 mL pada jajanan batagor. Sehingga disimpulkan dari rata-rata jumlah MPN pada jajanan batagor termasuk dalam risiko bahaya kategori tinggi karena melebihi ambang batas.
Penelitian pada makanan jajanan juga dilakukan oleh Mega Mirawati dkk (2014) di salah satu sekolah dasar di daerah Pondok Gede
Bekasi dan menunjukkan hasil positif terkontaminasi bakteri Salmonella sp.
pada 6 sampel dari 13 sampel sebesar 46% yang diuji menggunakan media SSA dan uji biokimia.
Dari beberapa hasil penelitian diatas dan penelitian yang saya lakukan, ada banyak faktor yang mampu mempengaruhi tercemarnya makanan jajanan yang dijual. Faktor tersebut diantaranya adalah :
1. Sumber bahan makanan yang terlebih dahulu terkontaminasi 2. Proses pengolahan makanan yang terkontaminasi baik dari
tempat maupun pengolah
3. Tahapan penyajian makanan yang meliputi tempat dan cara 4. Proses pemasaran makanan baik dari tempat makanan, tempat
pemasaran dan sanitasi penjual makanan yang kurang baik 4.1.2 Isolasi Bakteri dalam Media Spesifik dan Pewarnaan Gram
Setelah diisolasi pada media NA (Nutrient Agar), yang bertujuan untuk mengetahui bakteri yang terdapat pada sampel makanan maka selanjutnya dilakukan isolasi pada media Eosin Methylen Blue (EMB) dan media Salmonella Shigella Agar (SSA).
Sampel yang akan diinkubasi pada media EMB dan SSA diambil dari pengenceran 10-1 dan dilakukan inkubasi selama 24 jam dan didapatkan hasil seperti yang disajikan pada tabel 4.4
Tabel 4.4 Identifikasi bakteri berdasarkan warna koloni yang dihasilkan
Sampel EMB SSA
1 Pink, pink keunguan Pink
2 Hijau kilap logam, pink keunguan
Pink, putih
3 Pink, ungu Pink¸ putih, putih bertitik hitam 4 Hijau kilap logam, pink, pink
keunguan
Pink
5 Ungu Pink¸ putih, putih bertitik hitam
Berdasarkan tabel 4.4 hasil isolasi pada media EMB yang menghasilkan koloni berwarna hijau kilat logam terdapat pada sampel 2 dan 4, menurut Connie R. Mahon et al (2015) bakteri Escherichia coli merupakan bakteri yang dapat memfermentasi laktosa dengan cepat dan memproduksi banyak asam sehingga menghasilkan koloni kilap logam dengan endapan pigmen hijau metalik. Pada tabel 4.4 juga ditemukan koloni berwarna pink, pink keunguan¸dan ungu, menurut Ryan dan Ray (2014) terdapat bakteri lain yang dapat tumbuh pada media EMB yaitu famili Enterobacteriaceae contohnya Klebsiella sp., Enterobacter aerogenes, dan Pseudomonas aeruginosa.
Berbeda dengan E. coli bakteri Salmonella sp merupakan bakteri yang tidak memfermentasikan laktosa, sehingga pada tabel 4.4 terbentuk koloni yang berwarna putih dan putih dengan titik hitam pada sampel 2, 3, dan 5. Menurut Connie M. R et al (2015) media SSA juga dilengkapi dengan Fe (besi) sehingga bakteri yang dapat memecah asam amino yang mengandung sulfur dan berikatan dengan air akan menghasilkan H2S dan endapan berupa garam FeS yang berwarna hitam.
Gambar 4.2 Hasil Kultur Bakteri dari Sampel Batagor yang diisolasi pada media EMB dan SSA
Dari hasil isolasi pada media EMB dan SSA, didapatkan dari total 5 sampel yang diuji 2 diantaranya (40%) mengandung E. coli dengan koloni yang berwarna hijau kilap logam dan 3 diantaranya (60%) mengandung
Salmonella sp. dengan koloni berwarna putih atau putih dengan bintik hitam di tengahnya.
Menurut Yunaenah (2009) juga melakukan penelitian terhadap makanan jajanan termasuk batagor di lingkungan sekolah dasar di wilayah Jakarta Pusat yang diisolasi pada media EMB. Hasil yang didapatkan adalah 37 dari 65 sampel yang diteliti positif terkontaminasi E. coli.
Penelitian juga dilakukan oleh Nindya Permata (2015) dengan sampel berupa makanan jajanan termasuk batagor yang diisolasi pada media spesifik SSA dan didapatkan hasil 4 dari 11 sampel positif mengandung Salmonella sp termasuk salah satunya pada batagor. Dengan demikian makanan jajanan batagor ini tidak layak konsumsi karena jumlah kontaminasi bakterinya melebih ambang batas.
Penelitian lain dilakukan oleh Puspitasari RL (2013) dengan sampel makanan dan minuman yang didapat dari pedagang di sekitar sekolah dasar di daerah Sisingamangaraja dengan menggunakan media EMB, hasilnya menunjukkan bahwa batagor termasuk salah satu sampel makanan yang tercemar E. coli, dibuktikan dengan pertumbuhan koloni hijau kilap logam pada media EMB.
Aditia Lasinrang dan Muthiadin Cut (2015) juga melakukan penelitian untuk mengetahui kualitas mikrobiologis pada jajanan di sekitar kampus II UIN Alauddin. Hasil penelitian menunjukkan adanya cemaran oleh coliform yang melebihi ambang batas yakni 1.100 Coliform/gram pada sampel batagor dan batas nilai maksimum MPN adalah 10 coliform/gram.
Pada penelitian ini bakteri yang telah tumbuh pada media EMB dan SSA dilakukan identifikasi dengan menggunakan pewarnaan Gram untuk mengetahui morfologi dari bakteri tersebut dengan hasil sebagai berikut.
\
Gambar 4.3 Hasil Pewarnaan Gram dari Kultur Bakteri Berdasarkan hasil pewarnaan Gram yang diamati dengan mikroskop pada pembesaran 100x didapatkan 2 morfologi bakteri, yaitu bakteri yang berbentuk batang panjang, berwarna merah dan bersifat Gram negatif diduga bakteri Salmonella sp. dan bakteri dengan bentuk kokobasil (batang pendek), berwarna merah, dan bersifat Gram negatif yang diduga bakteri Escherichia coli.
4.1.3 Uji Biokimia terhadap Bakteri
Uji biokimia dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi setiap koloni yang tumbuh pada media EMB dan SSA, sehingga diperoleh sifat biokimia dan metabolisme bakteri tersebut.
Hasil uji biokimia pada masing-masing koloni baik pada media EMB maupun SSA adalah sebagai berikut.
Salmonella sp. Escherichia coli
A. Inokulasi Bakteri pada Media EMB 1. Uji Fermentasi Karbohidrat
Tabel 4.5 Uji Fermentasi Karbohidrat (gula-gula) dari media EMB
Hasil Uji Biokimia
Warna Koloni
Pink Pink
Keunguan
Hijau Kilat Logam
Ungu
Glukosa +g +g +g +g
Laktosa +g +g +g +g
Maltosa +g +g +g +g
Mannitol +g +g +g +g
Sukrosa +g +g +g +g
Hasil uji fermentasi karbohidrat didapatkan seluruh jenis koloni positif pada seluruh karbohidrat seperti glukosa, laktosa, maltosa, mannitol, dan sukrosa disertai dengan pembentukan gas. Menurut Harley (2012) perubahan warna media menjadi kuning karena adanya indikator phenol red akibat terbentuknya asam pada media uji fermentasi karbohidrat. Akan tetapi sesuai dengan hasil kultur pada media EMB dengan warna koloni yang terbentuk bergantung pada kemampuan bakteri dalam fermentasi laktosa, sehingga perubahan warna pada media uji karbohidrat juga bervariasi antara kuning pekat hingga kuning terang.
Pada media EMB terdapat koloni hijau kilat logam yang merupakan koloni Escherichia coli, menurut Jorgensen (2015) E. coli dapat memfermentasi glukosa, laktosa, maltosa, mannitol dan sukrosa yang sesuai dengan hasil pada penelitian ini.
Gambar 4.4 Hasil Positif Uji Gula-Gula
Menurut Connie R. Mahon et al (2015) apabila bakteri mampu memfermentasi semua karbohidrat maka artinya terjadi proses glikolisis yang menghasilkan produk akhir berupa piruvat yang akan dikonversi sehingga membentuk asam. Asam tersebut kemudian diubah menjadi H2 dan CO2 melalui mekanisme enzim hidrogen lyase sehingga menghasilkan gas, gas yang terbentuk akan terperangkap ke dalam tabung durham.39
2. Uji IMViC dan TSIA
Tabel 4.6 Uji IMVIC dan TSIA dari Media EMB
Hasil Uji Biokimia
Warna Koloni
Pink Pink
Keunguan
Hijau Kilat Logam
Ungu
Indol - - - -
Motility + + + +
MR + - + -
VP - - - -
Citrate + + + +
TSIA +/+ gas +/+ gas +/+ gas -/+ gas
Hasil uji IMViC pada koloni berwarna pink dan hijau kilap logam menunjukkan hasil (-, +, -, +). Pada penelitian ini hasil uji indol tidak sesuai
dengan karakteristik bakteri E. coli yang indolnya positif. Hal ini dapat terjadi karena produksi indol oleh bakteri belum cukup untuk bereaksi dengan dimetylaminobenzaldehide yang ada pada reagen erlich sehingga tidak menghasilkan senyawa rosindol yang berwarna merah. Akan tetapi menurut Connie R. Mahon et al (2015) bakteri dari genus Escherichia sebagian besar indolnya positif dan beberapa kultur dapat juga indolnya neagtif. 45
Hasil uji IMViC pada koloni pink keunguan dan ungu menunjukkan hasil (-, -, -, +). Pada penelitian ini uji MR tidak sesuai, hal ini disebabkan koloni yang tumbuh merupakan famili Enterobacteriaceae selain E. coli contohnya Enterobacter aerogenes yang merupakan bakteri butanediol fermenter sehingga pada uji MR pH yang dihasilkan >4 dan tidak mengubah warna indikator methyl red. Menurut Harley (2012) hasil MR negatif dapat juga disebabkan karena produksi asam campuran hasil fermentasi belum cukup untuk mengubah pH hingga ≤5 dan mengubah
Hasil uji IMViC pada koloni pink keunguan dan ungu menunjukkan hasil (-, -, -, +). Pada penelitian ini uji MR tidak sesuai, hal ini disebabkan koloni yang tumbuh merupakan famili Enterobacteriaceae selain E. coli contohnya Enterobacter aerogenes yang merupakan bakteri butanediol fermenter sehingga pada uji MR pH yang dihasilkan >4 dan tidak mengubah warna indikator methyl red. Menurut Harley (2012) hasil MR negatif dapat juga disebabkan karena produksi asam campuran hasil fermentasi belum cukup untuk mengubah pH hingga ≤5 dan mengubah