C. BAYI BARU LAHIR 1. Definisi
6. PATOLOGI NEONATUS a. Asfisia Neonatorum
Keadan dimana bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan (Mochtar, 2012; h.291).
b. Ikterus
Ikterus adalah salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir akibat terjadinya hiperbilirubinemia (Vivian, 2010, h.74)
c. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu bayi baru lahir (Mochtar, 2012; h.305). Frekuensi BBLR di negara maju berkisar antara3,6-10,8%, di negara berkembang berkisar antara 10-43%. Rasi antara negara maju dan negara berkembang adalah 1:4. (Mochtar, 2012. h.305).
1) Faktor Penyebab a) Status Gizi Ibu
Menurut Marmi, 2015, h.257 mengatakan kualitas bayi lahir sangat bergantung pada asupan gizi ibu hamil. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil tersebut, dapat menggunakan beberapa cara antara lain : dengan memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur LILA, dan mengukur kadar Hb.
b) Umur Ibu Saat Hamil
Menurut Marmi, 2015. h.257-258 menyatan kehamilan dibawah usia 20 tahun dapat menimbulkan banyak permasalahan karena bisa mempengaruhi organ tubuh seperti rahim bahkan bayi bisa prematus dan BBLR. Hal ini disebabkan karena wanita yang hamil muda belum bisa memberikan suplai makanan yang baik dari tubuhnya untuk janin didalam rahimnya. Selain itu wanita tersebut juga bisa menderita anemia karena sebernyadia sendiri masih membutuhkan sel darah merah tetapi harus sudah dibagi dengan janin yang ada dalam kandungannya.
c) Umur Kehamilan
Menurut Marmi, 2015, h.258 m3nyatakan umur kehamilan dapat menentukan berat badan janin, semakin tua kehamilan maka berat badan janin akan semakin bertambah. Pada umur kehamilan 28 minggu berat janin
1000 gram, sedangkan pada kehamilan 37-42 minggu berat janin diperkirakan mencapai 2500-3500 gram d) Kehamilan Ganda
Menurut Marmi, 2015, h.258 menyatakan pada kehamilan kembar dengan distensi uterus yang berlebihan dapat menyebabkan persalinan prematur dengan BBLR. Kebutuhan ibu unuk pertumbuhan hamil kembar lebih besar sehingga terjadi defisiensi nutrisi seperti anemia hamil yang dapat mengganggu pertumbuhan janin dalam lahir.
e) Tingkat Pendidikan
Menutut Marmi, 2015, h.258 menyatakan tingkat pendidikan berkaitan dengan pengetahuan masalah kesehatan dan kehamilan yang akan berpengruh pada perilaku ibu, baik pada diri maupun terhadap perawatan kehamilannya serta pemenuhan gizi saat hamil.
f) Penyakit Ibu
Menurut Martmi, 2015, h.258-259 menyatakan Ada beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi berat badan bayi jika diderita ibu pada saat hamil misalnya : jantung, hipertensi, pre-eklamsi, dan eklamsi, diabetes miletus, karsinoma. Penyakit tersebut dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan intra unterine (IUGR) janin yang menyebabkan janin menjadi jauh lebih
kecil dan lemah dari pada yang diharapkan untuk tahap kehamilan bersangkutan.
g) Faktor Kebiasaan Ibu
Menurut Marmi, 2015, h.259 menyatakan kebiasaan ibu sebelum atau selama hamil yang buruk seperti merokok, minum alkohol, pecandu obat dan pemenuhan nutrisi yang salah dapat menyebabkan BBLR.
2) Akibat BBLR
a) Gangguan Tumbuh Kembang
Menurut Marmi, 2015, h.259 menytakan tingginya angka ibu hamil yang mengalami kurang gizi, seiring dengan risiko tinggi untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu hamil tidak menderita kekurangan gizi. Apabila tidak meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLR akan tumbuh dan berkembang lebih lambat, terlebih apabila kekurangan ASI.
b) Hipotermi
Menurut Marmi 2015, h. 260 mengatakan hal ini terjadi karena peningkatan penguapan akibat kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan perukaan tubuh yang lebih luas dibandingkan dengan bayi yang memiliki berat badan normal. Hipotermi pada BBLR juga terjadi karena pengaturan suhu yang belu berfungsi dengan baik dan produksi panas yang berkurang karena lemak coklat yang belum cukup.
c) Asfiksia
Menurut Marmi, 2015, h.26 menyatakan asfiksia atau gagal nafas secara spontan saat lahir sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal ini disebabkan karena kurangnya surfaktan , pertumbuhan dan perkembangan yang belum semprna, otot pernafasan yang lemah, dan tulang iga yang mudah melengkung. d) Kematian
Menurut Marmi, 2015, h.260 menyatakan kematian saat kelahiran maupu sesudah kelahiran cenderung terjadi pada BBLR. Hal ini dikarenakan organ tubuhnya belum berfungsi sempurna seperti bayi normal.
3) Penatalaksanaan a) Pengaturan Suhu
Mekanisme pengaturan tubuh bayi baru lahir belum berfungsi sempurna, unuk itu diperlukn pencegahan kehilangan panas pada tubuh bayi karena dapat mengalami hipotermi. Pencegahannya dengan cara yaitu: segera setelah lahir, keringkan permukaan tubuh bayi, hal ini juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi mulai pernafasan, selimuti bayi dengan selimut kain bersih, kering dan hangat, tutupi kepala bayi, anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI, tempatkan bayi dilingkungan hangat, rangsangan taktil. Menurut Indarso, F (2001) menyatakan bahwa untuk mempertahankan
suhu tubuh bayi dalam mencegah hipotermi adalah mengeringkan bayi segera setelah lahir, cara ini merupakan salah satu dari 7 rantai hangat yaitu : pertama menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering dan bersih. Kedua mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir. Ketiga menjaga bayi dalam keadaan hangat dengan didekapan dada ibu dan diselimuti. Keempat memberi ASI seumur hidup. Kelima mempertahankan bayi tetap hangat selama rujukan. Keenam memberikan penghangatan pada bayi baru lahir secara mandiri. Ketujuh menunda memandikan bayi sampai suhu tubuh normal.
(1) Skin To Skin Contact
Menurut Marmi, 2015, h.263 menyatakan dewasa ini sudah banyat sekali penelitian yang mennjukan bahwa ibu dan bayi harus berdekapan kulit ke kulit (bayi telanjang tidak dibedong) segera setelah lahir, juga setelahnya. Bayi lebih bahagia, suhu tubuh bayi stabil, dan lebih normal, detak jantung dan pernafasannya lebih stabil dan normal, serta gula darahnya meningkat.
(2) Kangaroo Mother Care
Menurut Marmi. 2015, h.264 menyatakan manfaat dari metode kangoroo adalah secara klinis dengan car ini detak jantung bayi stabil dan pernafasannya teraur sehingga penyebaran
oksigen ke seluruh tubuh lebih baik. Selain tu bayi menjadi lebih tenang, nyaman, dan tidak menangis.
b) Makanan
Menurut Marmi, 2015, h.267-268 menyatakan ASI merupakan makanan yang paling utama sehingga ASI-lah yang paling penting diberikan, bila faktor menghiapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diberikan dengan sendok perlahan-laha.
c) Hipoglikemi
Menurut Marmi, 2015, h.268 menyatakan mungkin timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir rendah, harus diantisipasi sebelum gejala imbul dengan pemeriksaan gds.
4) Diagnosis dan Gejala Klinik a) Sebelum Bayi Lahir
Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus, dan lahir mati, pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, penambahan berat badan ibu yang lambat dan tidak sesual mestinya, sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion arau bisa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum, atau perdarahan ante partum.(Mochtar, 2012, h.305-306)
b) Setelah Bayi Lahir
Bayi prematur yang lahirnya sebelum umur kehamilan 37 minggu. Prognosis Bayi Berat Lahir Rendah Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis akan lebih buruk bila berat badan bayi makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspiraisi pneumonia, perdarahan intra kranial, dan hipoglikemia.
d. Kelainan Kongenital
Kelainan dalam pertumbuhan janin yang terjadi sejak konsepsi dan selama dalam kandungan (Mochtar, 2012; h.298).
e. Caput Sucedaneum
Terjadinya edema dibawah kulit diantara periostenum dan kulit kepala bayi sebagai akibat pengeluaran cairan serum dari pembuluh darah (Mochtar, 2012; h.295).
f. Cepal Hematoma
Perdarahan antara periosteum dan tulang tengkorak terbatas tegas pada tulang yang bersangkutan dan tidak melewati sutura (Mochtar, 2012; h.295).
7. Klasifikasi Klinik Nilai APGAR