115 Grafik 69 Perkembangan Mandatori Bioethanol dalam Premium
4.6. PBB dan PPH Migas
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) juga berlaku untuk sektor minyak dan gas bumi sebagaimana diatur dalam PMK No. 76/PMK.03/2013 yang diperbaharui dangan PMK No. 26/PMK.03/2015. PBB adalah pajak sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994. PBB sektor pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi (PBB Migas) adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minyak Bumi dan Gas Bumi.
Subjek Pajak PBB Migas merupakan orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan, atas objek pajak PBB Migas dikenakan kewajiban membayar PBB Migas menjadi Wajib Pajak PBB Migas. Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan apabila tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP Pengganti.
Subjek Pajak atau Wajib Pajak melakukan pendaftaran atau pemutakhiran objek pajak PBB Migas dan PBB Panas Bumi dengan mengisi SPOP dan LSPOP dengan jelas, benar, dan lengkap, serta dilampiri dokumen pendukung isian SPOP dan LSPOP, serta menyampaikan SPOP dan LSPOP kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya SPOP dan LSPOP.Subjek Pajak atau Wajib Pajak yang pada suatu tahun pajak mengajukan terminasi atas Kontrak Kerja Sama pertambangan minyak bumi dan gas bumi harus menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak dan dilampiri dokumen pendukung. Pemberitahuan secara tertulis disampaikan paling lambat pada akhir tahun pajak pengajuan terminasi. Selanjutnya,
119
Kantor Pelayanan Pajak meneliti pemberitahuan dan memberitahukan hasilnya secara tertulis kepada Subjek Pajak atau Wajib Pajak paling lambat 1 (satu) bulan sejak diterimanya pemberitahuan.
Direktorat Jenderal Pajak berkoordinasi dengan Kementerian ESDM atau badan atau instansi yang bidang tugas dan kewenangannya menyelenggarakan pengelolaan kegiatan usaha pertambangan migas untuk pelaksanaan sosialisasi mengenai tata cara pengisian dan pengembalian SPOP dan LSPOP, percepatan pengembalian SPOP dan LSPOP, data yang terkait dengan pengisian SPOP dan LSPOP, pelaksanaan klarifikasi SPOP dan LSPOP, keberadaan dan status Subjek Pajak, pergantian operator dan terminasi atas Kontrak Kerja Sama pertambangan migas, penyampaian SPPT PBB Migas kepada Subjek Pajak atau Wajib Pajak.
Direktur Jenderal Pajak melakukan penelitian dan dapat dilanjutkan dengan klarifikasi atas SPOP dan LSPOP yang diterima dari Subjek Pajak atau Wajib Pajak dan berkoordinasi dengan KESDM atau institusi yang ditunjuk wajib menindaklanjuti dengan meneruskan permintaan klarifikasi SPOP dan LSPOP kepada Subjek Pajak atau Wajib Pajak. Selanjutnya, Subjek Pajak atau Wajib Pajak wajib memberikan tanggapan tertulis dan pembetulan SPOP dan LSPOP kepada KESDM atau institusi yang ditunjuk untuk diteruskan kepada Direktur Jenderal Pajak.
Pengenaan PBB merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan
NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore
merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang eksploitasi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. Pemberlakuan wajib PBB kepada objek pajak
usaha migas harus dilakukan sebagai amanat UU 12/1994 dan semestinya tidak membebani usaha migas, apalagi usaha migas dapat memperoleh fasilitas pengurangan PBB untuk pertambangan migas pada tahap eksplorasi, sebagaimana diatur dalam Permen Keuangan Nomor 267/PMK.011/2014. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak bumi dan/atau gasbumi di wilayah kerja atau wilayah sejenisnya. Pengurangan PBB diberikan kepada Wajib Pajak atas PBB Migas yang terutang yang tercantum dalam SPPT untuk Tubuh Bumi sebesar 100% (seratus persen) dari PBB Migas yang terutang. Tubuh Bumi adalah bagian bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Wajib Pajak yang dapat diberikan Pengurangan PBB Migas adalah Wajib Pajak yang memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Wajib Pajak yang menandatangani kontrak kerja sama setelah
berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi Yang Dapat Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Hulu Minyak dan Gas Bumi;
b. Wajib Pajak yang menyampaikan SPOP; dan
c. Wajib Pajak yang melampirkan surat rekomendasi dari Menteri ESDM yang menyatakan bahwa objek PBB Migas masih pada tahap eksplorasi.
Pengurangan PBB dapat diberikan setiap tahun untuk jangka waktu paling lama 6 (enam) tahun, terhitung sejak tanggal ditandatanganinya kontrak kerja sama. Jangka waktu dapat diperpanjang paling lama untuk jangka waktu 4 (empat) tahun sepanjang telah terdapat surat rekomendasi dari Menteri ESDM yang menyatakan bahwa objek PBB Migas masih pada tahap eksplorasi. Selanjutnya, Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan SPPT dengan mencantumkan besarnya Pengurangan PBB merupakan bukti telah dilakukannya Pengurangan PBB. Pengurangan PBB diberikan untuk SPPT mulai tahun pajak 2015.
121
Selain PBB Migas, usaha hulu migas juga dikenakan PPh Migas. Penghasilan bruto kontraktor adalah penghasilan dalam rangka kontrak bagi hasil, penghasilan kontrak jasa, dan penghasilan lain diluar kontrak kerja sama. Perhitungan PPh atas penghasilan kontrak kerja sama dihitung berdasarkan nilai realisasi minyak dan /
atau gas bumi bagian kontraktor dari equity share dan FTP share
ditambah minyak dan / atau gas bumi yang berasal dari pengembalian biaya operasi ditambah minyak dan /atau gas bumi tambahan yang berasal dari pemberian insentif atau karena hal lain dikurangi nilai realisasi DMO minyak dan / atau gas bumi ditambah
Imbalan DMO ditambah varian harga atas lifting. Perhitungan PPh
atas penghasilan dalam rangka kontrak jasa dihitung berdasarkan imbalan yang diterima dari Pemerintah ditambah nilai realisasi penjualan atas minyak dan / atau gas bumi yang berasal dari pengembalian biaya operasi. Penghasilan lain di luar kontrak kerja
sama terdiri atas uplift atau imbalan lain yang sejenis dan atau
penghasilan yang berasal dari pengalihan participating interest.
Biaya operasi terdiri atas biaya eksplorasi, biaya eksploitasi, dan biaya lain. Hal ini nampak bahwa kegiatan eksplorasi dikenakan PPh padahal belum menemukan migas. Untuk medorong investasi di sektor migas, Presiden Jokowi berencana mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang biaya operasi yang dapat dikembalikan dan perlakuan pajak penghasilan di bidang usaha hulu migas. Selama investor hulu migas harus kena Pajak Penghasilan (PPh) meski belum dapat hasil dari proses eksploitasi migas, maka dunia permigasan Indonesia dianggap kurang menarik di tengah kondisi ekonomi saat ini. Mencabut atau merevisi PP 79/2010 akan memberikan konsekuensi bagi negara, yakni kehilangan pendapatan negara dalam jangka pendek tetapi dampaknya mengutungkan dalam jangka panjang.
PP 79/2010 menjadi momok investasi eksplorasi migas di Indonesia dan bersifat kontraproduktif terhadap kegiatan eksplorasi yang ingin ditingkatkan secara signifikan oleh Pemerintah. PP 79/2010 juga membatasi ruang bagi Pemerintah untuk membuat Kontrak dengan
menggunakan Blok Basis yang mana akan menunjang terjadinya kegiatan eksplorasi secara masif di Indonesia, apalagi pengaturan PPh migas dalam PP 79/2010 sudah diatur dalam Pedoman Tata
Kerja. PP 79/2010 juga menghilangkan prinsip assume and
discharge yang merupakan ciri khas dari sistem PSC dan menjadi daya tarik bagi investor. Dengan adanya PP 79/2010 juga terbuka kemungkinan bahwa Pemerintah digugat di Arbitrase Internasional
antara lain berdasarkan pelanggaran Bilateral Investment Treaty,
karena sebagian ketentuan dan penerapan PP 79/2010
bertentangan dengan kontrak bagi hasil migas[Andang, 2015].