ABST RACT
B. PE NE LITIAN TE RDAHULU
Teori menyatakan bahwa keputusan pengungkapan sukarela merupakan fungsi dari insentif partisipan-partisipan yang saling bertentangan. Namun, ada sedikit peluang untuk menginvestigasi topik ini secara empiris. Bhoraj dkk, 2004 mengidentifikasi setting yang memberi peluang seperti itu: industri kelistrikan yang bertransisi ke deregulasi. Bhoraj, dkk 2004 memperhitungkan dua tipe pengungkapan sukarela: strategi untuk mempertahankan basis pelanggan yang sudah ada dan rencana untuk mengeksploitasi peluang yang muncul di bawah deregulasi. Peneliti juga menguji pengungkapan-pengungkapan ini karena keduanya bersifat sukarela, relevan dengan semua sampel, dan menyebarkan informasi positif mengenai prospek perusahaan dalam lingkungan yang deregulated. Mereka memperhitung-kan tiga target partisipan: regulator industri, partisipan pasar modal, dan pesaing dalam pasar produk. Mereka menemukan bahwa indeks pengungkapan berhubungan negatif dengan stranded cost dalam yuridiksi dimana topik pemulihan stranded cost tidak terpecahkan; ini konsisten dengan prediksi mengenai insentif pengaturan. Lebih lanjut, bukti penelitian mengindikasikan bahwa insentif yang berkaitan dengan pasar berhubungan positif dengan indeks pengungkapan.
Seiring dengan transisi industri ke deregulasi, pengungkapan sukarela mengenai rencana strategis untuk mengatasi lingkungan yang berubah secara dramatis menjadi topik yang makin penting. Partisipan pasar modal akan memikirkan prospek perusahaan dalam lingkungan yang deregulated, sehingga perusahaan memiliki insentif untuk menyajikan pengungkapan sukarela mengenai strategi masa depan mereka guna memastikan kesinambungan operasional dan keuangan. Sebaliknya, karena hambatan masuk maupun keluar akan berkurang di bawah deregulasi, perusahaan memiliki insentif untuk mencegah informasi jatuh ke tangan pesaing guna mempertahankan keunggulan strategis mereka. Terakhir, perusahaan dengan stranded cost yang tinggi memiliki insentif yang menurun untuk mengungkapkan informasi positif mengenai
prospek perusahaan, dalam kasus dimana regulator telah mengukur mekanisme pemulihan biaya untuk investasi yang tidak dapat dipulihkan di bawah deregulasi.
Secara keseluruhan, Bhoraj dkk 2004 menemukan bahwa keputusan pengungkapan sukarela umumnya konsisten dengan prediksi mereka mengenai insentif untuk menyajikan pengungkapan. Perusahaan dengan stranded cost tinggi yang beroperasi dalam yuridiksi dimana regulator telah membangun metode pemulihan biaya- menyajikan pengungkapan keseluruhan yang lebih sedikit; ini konsisten dengan insentif untuk memperlihatkan kesan sensitif kepada regulator dalam lingkungan deregulated. Namun, hanya pengungkapan mengenai rencana untuk mengeksploitasi peluang pertumbuhan baru yang dipengaruhi oleh insentif pengaturan. Pengungkapan ini meningkat tajam setelah insentif pengaturan turun, namun menurun untuk perusahaan yang beroperasi dalam pasar yang lebih atraktif; ini konsisten dengan tekanan untuk mencegah informasi strategis jatuh ke tangan pesaing yang potensial. Perusahaan tampaknya tidak mengekspektasikan keputusan pengaturan yang lebih ketat terkait topik stranded cost, jika mereka mengungkapkan rencana mereka untuk mempertahankan basis pelanggan yang sudah ada. Pengungkapan ini digerakkan oleh insentif untuk menurunkan ketidakpastian mengenai kesinambungan hidup perusahaan di bawah deregulasi untuk alasan-alasan yang berkaitan dengan pasar modal.
Hannifa 2006 melakukan penelitian tentang pengaruh budaya, corporate governance dan pengungkapan pada perusahaan di Malaysia Hasil dari model regresi penuh mengindikasikan bahwa hanya dua kelompok variabel, yaitu corporate governance dan karakteristik spesifik perusahaan, yang berhubungan dengan tingkat pengungkapan. Signifikansi dua variabel corporate governance (yakni anggota keluarga yang duduk dalam dewan direksi dan ketua dewan non-eksekutif) mengindikasikan arti penting kedua variabel ini sebagai determinan pengungkapan sukarela. Secara khusus, ketua dewan non-eksekutif berhubungan negatif dengan tingkat pengungkapan sukarela dan memiliki koefisien regresi yang tertinggi. Hasil ini bertentangan dengan teori agensi yang menyatakan bahwa ketua dewan non-eksekutif diperlukan sebagai mekanisme check and balance. Temuan ini memperlihatkan bahwa sebagai agen, ketua dewan non-eksekutif memperoleh nilai guna yang lebih besar dengan menjaga kerahasiaan informasi pribadi.
Clarkson dkk, 2004 menguji pengungkapan remunerasi CE O di Australia selama tahun 1998-2004. Pengungkapan ini diwajibkan pertama kali oleh Company Law Review Act 1998. Perusahaan umumnya gagal mematuhi CLR98 hingga ketentuannya dirumuskan oleh Director and E xecutive Disclosures by Disclosing E ntities (AASB1046), yang diterbitkan pada tahun 2004. Dengan sampel sebanyak 124 perusahaan, Clarkson dkk 2006 menemukan peningkatan pengungkapan yang signifikan, baik setelah penerbitan CLRA98 maupun AASB1046. Mereka juga menemukan bahwa ukuran perusahaan, corporate governance, kualitas auditor, status cross-listing, dan pengawasan publik merupakan penjelas pengungkapan yang signifikan. Hasil Clarkson dkk 2006 mengindikasikan bahwa pengungkapan yang berkualitas tinggi hanya akan terjadi melalui ketentuan formal yang terperinci, dan bahwa peraturan berbasis prinsip yang melibatkan flek sibelitas interpretatif tidak selalu menghasilkan level pengungkapan yang diinginkan.
Dalam penelitiannya Clarkson dkk 2006 yang menguji perubahan level pengungkapan remunerasi CE O selama periode 1998-2004. Mereka memprediksi bahwa aka nada peningkatan level pengungkapan, baik sebagai respon terhadap pengenalan CLRA98 (Juli 2008) yang mewajibkan peningkatan pengungkapan mengenai lini yang terspesifikasi maupun penerbitan AASB1046 (Januari 2004) yang menetapkan ketentuan pengungkapan yang terperinci secara eksplisit. Selain itu, peneliti berpendapat bahwa level pengungkapan juga dapat meningkat seiring peningkatan pengawasan publik terhadap pengungkapan yang mengikuti peristiwa tertentu.
Konsisten dengan prediksi mereka menemukan peningkatan level pengungkapan remunerasi CE O yang signifikan dari tahun 1998 hingga 1999, seiring pengenalan CLRA98; dan dari tahun 2003-2004, seiring penerbitan AASB1046. meskipun mereka juga menemukan peningkatan level pengungkapan yang sistematis secara berturut-turun dari tahun 1999 hingga 2003, peningkatan ini relatif lebih moderat. Bukti juga memperlihatkan bahwa peningkatan ini sebagian berkaitan dengan level pengawasan pers terhadap remunerasi eksekutif. Mereka juga menemukan bahwa ukuran perusahaan, corporate governance, kualitas auditor, dan status cross-listing, merupakan penjelas pengungkapan remunerasi CE O yang signifikan. Namun, hasil regresi tahunan mengindikasikan bahwa determinan pengungkapan remunerasi CE O berubah di sepanjang periode penelitian, seiring lingkungan governance perusahaan yang memainkan peran yang signifikan selama periode terjadinya peningkatan pengawasan publik; namun seiring pengenalan AASB1046 dan CLE RP9 pada tahun 2004, peran ini digantikan oleh regulasi.
Secara keseluruhan, mereka memandang bahwa bukti ini menunjukkan bahwa cara yang paling efektif untuk meningkatkan pengungkapan adalah melalui saluran pengaturan formal. Berdasarkan hasil yang dilaporkan, pengawasan publik dan ‘fine tuning’ merupakan alat yang tidak begitu efektif untuk mempengaruhi perubahan pengungkapan. Secara rata-rata, sampel yang diperoleh hingga regulasi diwajibkan pada tahun 2004 sebelum menyajikan pengungkapan dengan kualitas yang lebih baik, bukannya meningkatkan kualitas pengungkapan secara sukarela untuk menyesuaikan diri dengan spirit regulasi sebelumnya (misalnya CLRA98 dan PN68). Hasilnya mengindikasikan bahwa pengungkapan yang berkualitas tinggi hanya akan terjadi melalui ketentuan formal yang terperinci, dan bahwa peraturan berbasis prinsip yang melibatkan flek sibelitas interpretatif tidak selalu menghasilkan level pengungkapan yang diinginkan.
Penelitian Dye 1990 membandingkan pengungkapan yang dilakukan secara sukarela oleh perusahaan dengan pengungkapan wajib yang “optimal- dalam model satu periode yang menggunakan banyak perusahaan, dimana ada covariance di antara arus kas perusahaan. Perbandingan ini penting karena dalam situasi dimana ada dua tipe pengungkapan ini, mungkin untuk mengekonomiskan proses penyusunan pengungkapan wajib. Faktor utama yang memberikan kontribusi bagi keberadaan atau keabsenan korespondensi antara pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela adalah: (1) karakteristik externality yang berkaitan dengan pengungkapan perusahaan, (2) hubungan antara preferensi risiko pemegang saham-perusahaan yang melakukan pengungkapan dan preferensi risiko investor luar, dan (3) berapa banyak pertimbangan
relatif yang ditetapkan bagi preferensi pemegang saham dan preferensi investor luar dalam fungsi kemakmuran sosial yang mempengaruhi kebijakan pengungkapan wajib yang optimal, dan (4) struktur covariance di antara arus kas perusahaan (Dye 1990).
Francis dkk, 2008 menginvestigasi hubungan antara pengungkapan sukarela, kualitas laba, dan biaya modal. Peneliti juga menemukan bahwa perusahaan dengan kualitas laba yang baik memiliki lebih banyak pengungkapan sukarela yang luas (yang diwakili oleh indeks item yang ditemukan dalam laporan keuangan 677 perusahaan dan 10-K filling pada tahun fiskal 2001) dibanding perusahaan dengan kualitas laba yang buruk. Dalam pengujian yang tidak bersyarat, mereka menemukan bahwa pengungkapan sukarela yang lebih banyak berhubungan dengan biaya modal yang lebih rendah. Namun, konsisten dengan hubungan komplementer di antara pengungkapan dan kualitas laba, mereka menemukan bahwa pengaruh pengungkapan pada biaya modal berkurang secara substansial atau bahkan benar-benar hilang (tergantung pada proxy biaya modal yang digunakan) ketika peneliti mengkondisikan kualitas laba. Perluasan investigasi ke proxi alternatif menunjukkan bahwa temuan ditahan terhadap ukuran kualitas laba dan biaya modal, namun tidak terhadap ukuran pengungkapan sukarela lainnya. Secara khusus, ditemukan hubungan negatif untuk ukuran pengungkapan sukarela yang didasarkan pada ramalan manajemen dan conference call, dan Francis dkk, 2008 tidak menemukan eksistensi hubungan untuk ukuran yang didasarkan pada press release.
Penelitian Banghoj dan Plenborg 2008 menguji apakah level pengungkapan sukarela mempengaruhi hubungan antara return saat ini dan laba masa depan. Teori ekonomi menyatakan: perusahaan mungkin menemukan bahwa menyajikan informasi tambahan (pengungkapan sukarela) kepada investor dan analis- menguntungkan. Hasilnya mengindikasikan bahwa pengungkapan sukarela yang lebih banyak tidak meningkatkan hubungan antara return saat ini dan laba masa depan (return saat ini tidak mencerminkan lebih banyak berita mengenai laba masa depan). Temuan ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah informasi sukarela dalam laporan keuangan tahunan mengandung informasi yang memiliki nilai relevan berkaitan dengan laba masa depan, atau apakah investor tidak mampu memasukkan informasi sukarela ke dalam estimasi nilai perusahaan.
Botosan (1997) menguji asosiasi antara tingkat pengungkatan dan biaya modal ekuitas dengan cara meregresi estimat spesifik perusahaan dari biaya modal ekuitas terhadap beta pasar, ukuran perusahaan, dan ukuran tingkat pengungkapan yang dikembangkan sendiri. Ukuran tingkat pengungkapan didasarkan pada jumlah pengungkapan sukarela yang ada dalam laporan tahunan 122 perusahaan sampel. Hasulnya menunjukkan bahwa pengungkapan yang semakin besar berasosiasi dengan biaya modal ekuitas yang semakin rendah, bagi perusahaan sampel yang menarik sedikit analisis.
Sengupta (1998) menginvestigasi hubungan antara kualitas pengungkapan secara keseluruhan dan biaya utang. Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan dengan rating kualitas pengungkapan tinggi dari analisis finansial menikmati biaya bunga efektif yang lebih rendah dari penerbitan utang. Hasil ini konsisten dengan argumen bahwa kebijakan pengungkapan yang tepat waktu dan rinci mengurangi persepsi resiko pemberi pinjaman dan underwriter atas perusahaan pengungkap, sehingga mengurangi
biaya utang. Hasil ini juga mengindikasikan arti penting relatif dari pengungkapan adalah lebih besar dalam situasi ketika ada ketidakpastian pasar yang cukup besar tentang perusahaan yang direfleksikan dengan variansi return saham.
Rappaport (1998) menjelaskan bahwa biaya modal, yang terdiri atas biaya utang dan biaya ekuitas, merupakan komponen penting dalam menentukan prediksi aliran kas operasi dalam penghitungan nilai pemegang saham. Hasil penelitian Bignon dan Breton (2004), Botosan (1997) dan Sangupta (1998) menunjukkan bahwa pengungkapan informasi oleh perusahaan berpengaruh pada biaya ekuitas dan biaya utang. Dengan demikian, pengungkapan informasi oleh perusahaan mempengaruhi biaya modal, sehingga nilai pemegang saham juga akan terpengaruh oleh pengungkapan informasi yang dilakuakn oleh perusahaan. Pengungkapan yang semakin tinggi akan memperkecil biaya utang dan biaya ekuitas, sehingga rata-rata tertimbang dari aliran kas operasi yang diprediksi akan semakin tinggi dan akan mengakibatkan nilai pemegang saham menjadi semakin tinggi.
Hannifa dan Cooke 2002, Berkaitan dengan tipe industri, perusahaan dalam semua sektor ditemukan mengungkapkan lebih sedikit informasi dibanding sektor konstruksi, dimana koefisien terendah ditemukan pada sektor konsumsi. Temuan ini tidak konsisten dengan penelitian Soh (1996), yang menemukan bahwa perusahaan Malaysia dalam sektor perdagangan mengungkapkan informasi yang relatif lebih banyak dibanding perusahaan dalam sektor lainnya. Penjelasan yang mungkin adalah motivasi politik, karena selama periode penelitian ini, gagasan untuk ’think big’ mendorong pertumbuhan proyek-proyek besar yang diprioritaskan pada perusahaan konstruksi lokal. Meskipun begitu, perusahaan dagang mengungkapkan lebih banyak informasi dibanding sektor lain, kecuali perusahaan konstruksi.
C. SIMPULAN
Tujuan penulisan makalah ini untuk mereview jenis pengungkapan dan karakteristik yang melekat pada jenis pengungkapan, simpulan yang dapat diambil adalah:
1) Bhoraj dkk. (2004) membuktikan jika keputusan pengungkapan sukarela umumnya konsisten dengan prediksi mereka mengenai insentif untuk menyajikan pengungkapan. Perusahaan dengan stranded cost tinggi yang beroperasi dalam yuridiksi dimana regulator telah membangun metode pemulihan biaya menyajikan pengungkapan keseluruhan yang lebih sedikit; ini konsisten dengan insentif untuk memperlihatkan kesan sensitif kepada regulator dalam lingkungan deregulated. Hannifa 2006 menyatakan corporate governance dan karakteristik spesifik perusahaan, yang berhubungan dengan tingkat pengungkapan. Signifikansi dua variabel corporate governance mengindikasikan arti penting kedua variabel ini sebagai determinan pengungkapan sukarela.
2) Clarkson dkk. (2006) menguji pengungkapan remunerasi CE O di Australia selama tahun 1998-2004 menemukan bahwa ukuran perusahaan, corporate governance, kualitas auditor, status cross-listing, dan pengawasan publik merupakan penjelas pengungkapan yang signifikan. Clarkson dkk. (2006) mengindikasi bahwa
pengungkapan yang berkualitas tinggi hanya akan terjadi melalui ketentuan formal yang terperinci, dan peraturan berbasis prinsip yang melibatkan fleksibilitas interpretatif tidak selalu menghasilkan level pengungkapan yang diinginkan.
3) Francis dkk. (2008) menginvestigasi hubungan antara pengungkapan sukarela, kualitas laba, dan biaya modal. Peneliti juga menemukan bahwa perusahaan dengan kualitas laba yang baik memiliki lebih banyak pengungkapan sukarela yang luas. Penelitian Banghoj dan Plenborg (2008) mengindikasikan bahwa pengungkapan sukarela yang lebih banyak tidak meningkatkan hubungan antara return saat ini dan laba masa depan. Botosan (1997) menguji asosiasi antara tingkat pengungkatan dan biaya modal ekuitas hasilnya menunjukkan bahwa pengungkapan yang semakin besar berasosiasi dengan biaya modal ekuitas yang semakin rendah, bagi perusahaan sampel yang menarik sedikit analisis.
4) Sengupta (1998) menginvestigasi hubungan antara kualitas pengungkapan secara keseluruhan dan biaya utang. Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan dengan rating kualitas pengungkapan tinggi dari analisis finansial menikmati biaya bunga efektif yang lebih rendah dari penerbitan utang. Hasil penelitian Bignon dan Breton (2004), Botosan (1997) dan Sangupta (1998) menunjukkan bahwa pengungkapan informasi oleh perusahaan berpengaruh pada biaya ekuitas dan biaya utang. Pengungkapan yang semakin tinggi akan memperkecil biaya utang dan biaya ekuitas, sehingga rata-rata tertimbang dari aliran kas operasi yang diprediksi akan semakin tinggi dan akan mengakibatkan nilai pemegang saham menjadi semakin tinggi.
RE FE RE NSI
Bagnoli, Mark, and Susang Watts. 2007. Financial Reporting and Supplemental Voluntary Disclosures. Journal of A ccounting Research. Vol. 45 No. 5. Pp. 885-913. Banghøj, Jesper Thomas Plenborg. 2008. Value Relevance of Voluntary Disclosure in
The Annual Report. A ccounting and Finance. 48 pp. 159–180.
Bignon, V., dan R. Breton. 2004. Accounting Transparency and the Cost of Capital. Working Paper
Bhojraj, Sanjeev, Walter G. Blacconiere, And Julia D. D'Souza. 2004. Voluntary Disclosure In A Multi-Audience Setting: An E mpirical Investigation. The Accounting Review. Vol. 79, No. 4 Pp. 921-947
Botosan, Christine A. 1997. Disclosure Level and Cost of E quity Capital. The A ccounting Review. Vol. 72, No. 3, pp. 323-349.
______, Christine A., and Mary S. Harris. 2000. Motivations for a Change in Disclosure Frequency and its Consequences: an E xamination of Voluntary Quarterly Segment Disclosures. Journal of A ccounting Research, Vol. 38. No. 2 autumn.
Birt, Jacqueline L., Chris M. Bilson, Tom Smith and Robert E. Whaley. 2006. Ownership, Competition, and Financial Disclosure. A ustralian Journal of Management, Vol. 31, No. 2.
Bushman, Robert M., Joseph D. Piotrosk I, and Abbie J. Smit. 2004. What Determines Corporate Transparency? Journal of A ccounting Research. Vol. 42 No. 2.
Carcello, J.V. dan T.L. Neal. 1997. Audit Committee Characteristics and Auditor Reporting. Working Paper.
Chow, Chee W., Kamal Haddad, and Mark Hirst. 1996. An E xperimental Market’s Investigation of Discretionary Financial Disclosure. A bacus Vol. 32 No. 2. Pp. 133-152.
Clarkson, Peter, Ami Lammerts Van Bueren, Julie Walker. 2006. Chief E xecutive Officer Remuneration Disclosure Quality: Corporate Responses To An E volving Disclosure E nvironment. A ccounting and Finance 46 (2006) 771–796.
Clubb, Colin. 2006. Discussion of ‘Do Better-Governed Australian Firms Make More Informative Disclosures?’. Journal of Business F inance & A ccounting, Vol. 33(3) & (4), pp. 451–458.
Darrell, W. Walden, and Bill N. 1997. E nvironmental Disclosures and Public Policy Pressure. Journalof A ccounting and Public Policy. Vol. 16 pp. 125-154.
Depoers, Florence. 2000. A Cost-Benefit Study of Voluntary Disclosure: Some E mpirical Evidence from French Listed Companies. The E uropean A ccounting Review. Vol. 9 No. 2 pp. 245-263.
Dye, Ronald A. 1990. Mandatory Versus Voluntary Disclosures: The Cases of Financial and Real E xternalities. The A ccounting Review. Vol. 65 No. 1. pp. 1-24. Diamond, D., W., dan Verrechia R. E . 1991. Disclosure, Liquidity and the Cost of the
Capital. The Journal of Finance, Vol. XLVI No.4.
Francis, Jennifer, Dhananja Nanda, Per Olsson. 2008. Voluntary Disclosure, E arnings Quality, and Cost of Capital. Journal of Accounting Research. Vol. 46 No. 1 March 2008.
Gelb, David, Brian R. Greenstein. 2004. Accounting Disclosures And Industry Concentration: An Empirical Comparison of The Political Cost and the Proprietary Cost Hypotheses. Journal of A ccounting and Finance Research - Winter II. Gietzmann, Miles B. and Marco Trombetta. 2003. Disclosure Interactions: Accounting Policy Choice and Voluntary Disclosure E ffects on the Cost of Rising Outside Capital. A ccounting and Business Research. Vol. 33. No. 3. pp. 187-205.
Gigler, Frank B., Thomas Hemmer. 2001. Conservatism, Optimal Disclosure Policy, and The Timeliness of Financial Reports. The A ccounting Review. Vol. 76, No. 4 October. Pp. 471–493.
Gill, Amiram, 2008. Corporate governance as Social Responsibility: A Research Agenda, Berk eley Journal of International L aw, Vol. 26.
Hannifa, R. M, and T.E . Cooke. 2002. Culture Corporate Governance and Disclosure in Malaysian Corporations. A bacus. Vol. 38. No. 3.
Hapsoro, Dodi, 2006. Mekanisme Corporate Governance, Transparansi dan Konsekuensi E konomi, Studi E mpiris di Pasar Modal Indonesia, Disertasi Tidak Dipublikasi, Universitas Gadjah Mada.
Healy, P.M. dan Palepu G. 2001. Information Asymmetry, Corporate Disclosure, and the Capital Market: A Review of the E mpirical Disclosure Literature. Journal of Accounting and E conomics, Vol 31.
Ho, Simon S.M, Kar Shun Wong/ 2001. A Study of the Relationship between Corporate Governance Structure and the E xtent of Voluntary Disclosure. Journal of International A ccounting, A uditing & Taxation 10, pp. 139-156.
Hoitash, Udi, Rani Hoitash, and Jean C. Bedard. 2009. Corporate Governance and Internal Control over Financial Reporting: A Comparison of Regulatory Regimes. The A ccounting Review. Vol. 84, No. 3. pp. 839–867.
Holder, Lori, Webb Cohen, Jeffrey, Leda Nath, and David Wood. 2008. A Survey of Governance Disclosures among U.S. Firms. Journal of Business E thics 83:543– 563.
Ingram, Robert W., and Katherine Beal Frazier. 1980. E nvironmental Performance and Corporate Disclosure. Journal of A ccounting Research, Vol. 18, No. 2. Autumn, pp. 614-622.
Jiang, Yabing, Viju Raghupathi, And Wullianallur Raghupathi. 2008. Content and Design of Corporate Governance Web Sites. Information Systems Management, 26: 13–27.
Khomsiyah, 2005. Analisis Hubungan Struktur dan Indeks Corporate Governance dengan Kualitas Pengungkapan, Disertasi Tidak Dipublikasi, Universitas Gadjah Mada.
Kumar, Gaurav, W. Mark Wilder, and Morris H. Stocks. 2008. Voluntary Accounting Disclosures by U.S.-Listed Asian Companies. Journal of International A ccounting Research. Vol. 7, No. 1 Pp. 25–50.
Leung, Sidney, Bertrand Horwitz. 2004. Director Ownership and Voluntary Segment Disclosure: Hong Kong E vidence. Journal of International Financial Management and A ccounting, V ol. 15 No. 3.
Leuz, Christian and Robert E . Verrecchia. 2000. The E conomic Consequences of Increased Disclosure. Journal of A ccounting Research. Vol. 38, pp. 91-124
Li, Yue, Gordon D. Richardson, and Daniel B. Thornton. 1997. Corporate Disclosure of Environmental Liability Information: Theory and E vidence. Contemporary A ccounting Research. Vol. 14 No. 3 (Fall 1997). Pp. 435-474.
Luft, Janet Mobus. 2005. Mandatory E nvironmental Disclosures in a Legitimacy Theory Context. A ccounting, A uditing & A ccountability Journal. Vol. 18, No. 4. pp. 492-517.
Mangena, Musa and Richard Pike. 2005. The E ffect of Audit Committee Shareholding, Financial E xpertise and Size on Interim Financial Disclosures. A ccounting and Business Research. Vol. 35. No. 4. pp. 327-349.
Parker, Lee D. 2007. Financial And E xternal Reporting Research: The Broadening Corporate Governance Challenge. A ccounting and Business Research, Vol. 37. No. 1. pp. 39-54.
Patelli, Lorenzo, Annalisa Prencipe. 2007. The Relationship between Voluntary Disclosure and Independent Directors in the Presence of a Dominant Shareholder. E uropean A ccounting Review. Vol. 16, No. 1, pp. 5–33.
Peter Clarkson, Ami Lammerts Van Bueren, Julie Walker. 2006. Chief E xecutive Officer Remuneration Disclosure Quality: Corporate Responses to an Evolving Disclosure E nvironment. Accounting and Finance Vol. 46 pp. 771–796.
Prakash, S. Sethi And Olga E melianova. 2006. A Failed Strategy of Using Voluntary Codes of Conduct by the Global Mining Industry. Corporate Governance, Vol. 6 No. 3, Pp. 226-238.
Prencipe, Annalisa. 2004. Proprietary Costs and Determinants of Voluntary Segment Disclosure: E vidence from Italian Listed Companies. E uropean A ccounting Review. Vol. 13, No. 2, 319–340.
Sengupta, P. 1998. Corporate Disclosure Quality and The Cst of Debt. The Accounting Review Vol. 73 No.4.
Septiyanti, Ratna, 2007. Pengaruh Risiko E kspropriasi pada Hubungan antara Struktur Corporate Governance dan Pengungkapan Informasi serta Implikasinya pada Nilai Perusahaan. Disertasi Tidak Dipublikasi. Universitas Gadjah Mada.
Singhvi, Surendra S., and Harsha B. Desai. 1971. An E mpirical Analysis of the Quality of Corporate Financial Disclosure. The A ccounting Review, Vol. 46, No. 1, pp. 129-138.
Sinnadurai, Philip T. 2008. Voluntary Disclosure of Good and Bad E arnings News in a Low Litigation Setting. A ccounting Perspectives / Perspectives Comptables. Vol. 7 No. 4. Pp. 317-340.
Surat Keputusan Ketua Bapepam N0. Kep-17/PM/1995 tentang Pengungkapan Dalam Laporan Tahunan di Indonesia.
Surat Keputusan Ketua Bapepam N0. Kep-38/PM/1996 tentang Pengungkapan Dalam Laporan Tahunan di Indonesia
Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang E konomi, Keuangan dan Industri (E KUIN) N0. Kep-10/M.EKUIN/08/1999 tentang Pembentukan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG).
Surat Keputusan Ketua Bapepam N0. Kep-06/PM/2000 yang berisi Peraturan Bapepam No. VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan.
Surat E daran N0. 02/PM/2002 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan E miten atau Perusahaan Publik.
Fitra Dharma*
ABST RACT
This study aimed to find whether the empirical evidence of performance-based reward systems will affect