• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.4. Pecking Order Theory

Pada Pecking Order Theory terdapat hierarki dalam penentuan sumber dana yang akan perusahaan gunakan. Perusahaan akan menetapkan urutan dalam pemilihan keputusan pendanaan. Para manajer lebih memilih untuk menggunakan laba ditahan, utang dan penerbitan saham sebagai pilihan terakhir (Devi, 2016).

Perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan lebih tinggi cenderung akan memilih pendanaan internal dan menghindari pendanaan eksternal sebab dengan memilih pendaan internal perusahaan dapat meminimalisir biaya perusahaan dan masalah yang kemungkinan muncul dari kontrak perjanjian dari pihak luar apabila menggunakan pendanaan eksternal. Sedangkan perusahaan dengan tingkat keuntungan yang rendah akan memilih pendanaan eksternal sebab dana internal yang dimilikinya tidak mencukupi untuk kebutuhan operasional perusahaan sehingga memilih pendanaan eksternal yakni utang. Ada dua alasan mengapa perusahaan lebih menyukai utang dibandingkan dengan penerbitan saham.

Pertama sebab mempertimbangkan biaya emisi, karena biaya emisi obligasi akan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya emisi penerbitan saham baru sebab penerbitan saham baru akan menurunkan harga saham lama. Hal ini dikarenakan penerbitan saham baru akan ditafsirkan bahwa perusahaan sedang memiliki

kondisi keuangan yang kurang baik sehingga menjadi kabar buruk bagi pemegang saham dan membuat harga saham menurun.

2.1.5. Pengertian Kebijakan Struktur Modal Struktur Modal Perusahaan Kebijakan struktur modal merupakan keputusan penggunaan sumber dana utang untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan (Subagyo, 2013).

Menurut Brigham dan Houston (2019) struktur modal adalah kombinasi antara utang, saham preferen dan saham ekuitas yang digunakan perusahaan untuk merencanakan mendapatkan modal. Struktur modal merupakan penjelasan mengenai bagaimana cara perusahaan mendanai aset mereka melalui kombinasi utang jangka panjang, ekuitas dan surat berharga yang digabungkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebijakan struktur modal merupakan kemampuan perusahaan dalam menentukan perimbangan antara utang dan ekuitas.

Tujuan manajemen kebijakan struktur modal adalah menciptakan suatu kombinasi pendanaan sedemikian rupa agar perusahaan mampu memaksimalkan harga saham dan tercapainya nilai perusahaan yang maksimal.

Untuk mendapatkan kebijakan struktur modal yang baik perusahaan harus menentukan sumber dana yang akan digunakan baik pendanaan internal maupun pendanaan eksternal. Jika perusahaan ingin meminimalisir ketergantungan terhadap pihak luar maka perusahaan akan memilih sumber pendanaan dari internal perusahaan itu sendiri. Namun perusahaan juga harus memikirkan bagaimana perkembangan perusahaan jika hanya menggunakan pendanaan internal, agar perusahaan berkembang semakin besar dan mampu bersaing dengan

14

perusahaan lain maka harus berani mengambil risiko karena semakin besar perusahaan akan memerlukan dana yang lebih banyak, dalam situasi ini perusahaan membutuhkan sumber pendanaan dari luar perusahaan baik berupa utang maupun penerbitan saham baru, akan tetapi penerbitan saham baru akan memakan banyak biaya, sedangkan jika menggunakan utang perusahaan juga harus memperhitungkan berapa banyak dana yang perlu dipinjam oleh perusahaan dan apakah perusahaan mampu membayar utang tersebut.

Struktur modal yang optimal harus memiliki keseimbangan atara risiko dan manfaat yang akan perusahaan dapatkan di masa yang akan datang. Untuk menjaga keseimbangan tersebut akan lebih baik jika proporsi hutang yang digunakan lebih sedikit dari modal yang dimiliki, sehingga tanggungjawab perusahaan tidak lebih besar dari aset yang menjadi jaminan.

2.1.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Struktur Modal 2.1.6.1. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala di mana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan dengan cara antara lain total aset, penjualan nilai pasar saham, dan lain-lain (Jogianto, 2013). Ukuran perusahaan menunjukan bahwa perusahaan besar akan memiliki sumber pendanaan yang besar pula dan demikian sebaliknya. Oleh sebab itu ukuran perusahaan dapat digunakan untuk mewakili karakteristik keuangan.

Perusahaan dengan pendanaan yang stabil akan lebih mudah mendapatkan modal dari pasar modal dibanding dengan perusahaan kecil yang memiliki

pendanaan tidak stabil, sebab perusahaan yang lebih besar dinilai lebih mampu untuk memenuhi tanggungjawabnya. Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi nilai perusahaan, karena perusahaan besar mudah mendapatkan pendaan baik dari sumber internal maupun ekternal.

Skala suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan dalam menanggung risiko dalam pemenuhan tanggungjawab yang sudah menjadi kesepakan antara perusahaan dan pihak luar. Dengan sumber pendanaan yang baik menyebabkan perusahaan dengan skala yang lebih besar memiliki kemungkinan bangkrut lebih rendah dibanding dengan peusahaan dengan ukuran lebih kecil, sehingga perusahaan besar cenderung mempunyai hutang yang lebih besar daripada perusahaan kecil. Selain itu, perusahaan besar mempunyai sumber daya yang banyak guna meningkatkan nilai perusahaan sebab memiliki akses yang baik terhadap sumber-sumber pendanaan dari eksternal dibandingkan dengan perusahaan kecil.

2.1.6.2. Pertumbuhan Penjualan

Pertumbuhan penjualan merupakan kenaikan atau penurunan tingkat penjualan dari waktu ke waktu (Putri, 2016) Pertumbuhan penjualan dapat dikatakan sebagai berkembangnya perusahaan yang ditunjukan dengan jumlah pencapaian penjualan peruasahaan. Penjualan tahun sebelumnya menjadi dasar untuk meramal tingkat pertumbuhan penjualan tahun berikutnya.

Menurut Brigham dan Houston (2019) Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi harus menggunakan pendanaan eksternal. Perusahaan

16

dengan pertumbuhan penjualan yang stabil berarti mendapat keuntungan yang stabil pula, sehingga menjadi acuan para investor dalam menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Hal ini menjadi kelebihan bagi perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan yang sebab dapat menjadi jaminan untuk memperoleh pinjaman. Manfaat lain yang dirasakan perusahaan adalah meningkatnya laba perusahaan pun sehingga mempengaruhi besar kecilnya modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang terdiri dari laba ditahan dan saham biasa akan semakin besar seiring dengan bertambahnya laba operasi yang dimiliki perusahaan dan kemudian berdampak pada struktur modal yang optimal. Sebab perusahaan dengan persentase modal sendiri dalam struktur modal yang relatif lebih besar akan meningkatkan kredibilitas perusahaan tersebut.

2.1.6.3. Struktur Aset

Aset merupakan kekayaan atau harta yang dimiliki oleh perusahaan. Aset dapat digolongkan menjadi aset tetap, aset tidak berwujud dan aset lain-lain.

Penggolongan inilah yang kemudian disebut sebagai struktur aset. Struktur aset merupakan kekayaan atau sumber-sumber pembiayaan perusahaan yang diharapkan akan memberi manfaat di masa yang akan datang (Devi, 2016).

Menurut Brigham dan Houston (2019) Struktur aset merupakan komposisi aset perusahaan yang menunjukan berapa besar aset perusahaan yang dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman. Struktur aset merupakan bagian yang penting dalam struktur modal atau keputusan pendanaan suatu perusahaan, sebab aset-aset tetap perusahaan yang akan menjadi jaminan

apabila perusahaan suatu saat mengalami kesulitan keuangan dan tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk membayar utang. Apabila perusahaan memiliki struktur aset yang besar maka perusahaan tersebut cenderung memiliki risiko kebangkrutan (pailit) yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan dengan struktur aset yang jumlahnya lebih rendah, sebab semakin besar aset yang perusahaan miliki maka akan semakin besar pula pendapatan yang dihasilkan dari operasional perusahaan.

2.1.6.4. Cash Holding

Cash holding adalah keputusan yang berkaitan dengan ketersediaan kas pada tingkat yang optimal (Glingger dan Saddour, 2007). Musviyanti et al., (2021) menyatakan bahwa cash holding merupakan komoditas yang sangat liquid sehingga dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan.

Dapat jugadiartikan sebagai uang tunai yang diperlukan untuk kebutuhan operasi perusahaan sehari-hari seperti membeli inventaris, memberikan pinjaman,dan mendanai kebutuhan operasi lainnya.

Menurut Nainggolan (2017) Cash holding merupakan sumber pendanaan internal perusahaan yang kemudian akan digunakan untuk beberapa hal diantaranya sebagai pembelian kembali saham, melakukan investasi atau penyimpanannya untuk kepentingan perusahaan di masa yang akan datang.

Namun perusahaan harus dapat menggunakan kas yang dimilikinya dengan optimal, sebab apabila perusahaan melakukan penahanan kas terlalu besar dalam

Dokumen terkait