PERAN KERAJAAN GOWA DALAM PERNIAGAAN ABAD XVII
C. Perdagangan Keramik Asing di Makassar
C. 5. Pedagang Arab dan India
C. 5. Pedagang Arab dan India
Mengenai riwayat hubungan antara Timur Tengah dengan Nusantara (khususnya Makassar) terutama kita tahu dari kisah perjalanan spiritual Muhammad Yusuf Al-Maqassari (1627-1699) atau yang lebih dikenal sebagai Syeikh Yusuf ke Timur Tengah dalam abad ke-XVII. Tavernier, pengembara Prancis yang mengunjungi Makassar pada tahun 1660, menceritakan bahwa ketika raja Makassar sedang mempertimbangkan untuk masuk Islam, ia juga didekati seorang Jesuit Portugis agar masuk Kristen. Penguasa Makassar ini dilaporkan
22
Effendy A.R. Muslimin, Perdagangan Keramik Di Nusantara (Makassar: Indobis, 2002).Hal. 142.
74 bersedia meninggalkan kepercayaannya kepada berhala jika ”orang-orang Mohammedan” dapat mengirimkan kepadanya dua atau tiga ”moullah” atau ”doktor” paling cakap dari Makkah, atau orang Kristen dapat mengirimkan orang Jesuit paling ahli, sehingga ia diberi pengajaran tentang kedua agama ini. Selanjutnya Tavernier menulis; ...dalam waktu delapan bulan, mereka (kaum Muslim) mengirim dari Makkah dua ”Moullah” ahli; sehingga ketika Raja Makassar melihat bahwa orang-orang Jesuit tidak ada yang datang kepadanya, maka ia segera memeluk Islam.23
Mengenai produk apa yang dijual oleh pedagang-pedagang Arab dan Timur-Tengah ini tidaklah jelas. Tapi ada juga keterangan yang memberitakan bahwa para pedagang Arab ini memperdagangkan hasil bumi seperti rempah-rempah, hasil hutan, hasil tambang, dan hasil pertanian.24
23
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia. (Bandung: Mizan, 1995). Hal. 56-57.
24Ibid.
75 BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari bab-bab terdahulu yang telah menjelaskan mengenai tahap-tahap berkembangnya Kerajaan Gowa dalam perniagaan abad XVII, maka dapatlah diketahui bahwa berkembangnya Kerajaan Gowa sebagai salah satu pusat perdagangan dan transito di Nusantara diakibatkan oleh peran Kerajaan Gowa yang turut bermain dalam pengembangan perdagangan.
Kemunculan Kerajaan Gowa sebagai bandar besar yang turut serta dalam percaturan perdagangan di Nusantara baru dimulai setelah Raja Gowa ke- IX, Karaeng Tumaparissi Kallonna (1510-1546), membuat kota raja di Benteng Somba Opu. Namun nama Makassar sesungguhnya telah dikenal sejak abad ke-13. Dugaan itu didasarkan atas faktor Internal dan faktor eksternal. Faktor internal sendiri terdiri atas tiga hal. Pertama, sebelum masa pemerintahannya, istana raja dan pusat pemerintahan berada di Tamalatea (wilayah Sungguminasa) yang terletak jauh dari wilayah pantai (kurang lebih 6 km). Hal ini dipandang sebagai faktor yang menunjukkan bahwa kerajaan itu berorientasi ke dunia agraris.
Kedua, raja ini yang mengawali pemindahan istana dan pusat
pemerintahan ke Benteng Somba Opu yang dibangun di pesisir dekat muara sungai Je’ne berang, wilayah Somba Opu ini yang dijadikan sebagai Bandar niaga kerajaan itu, sehingga dipandang sebagai awal kerajaan terlibat dalam dunia niaga.
76 Terakhir pada masa pemerintahannya baru dikenal adanya jabatan syahbandar yang bertugas mengatur lalu lintas niaga dan pajak perdagangan di pelabuhan. Faktor eksternalnya sendiri terdiri atas beberapa hal diantaranya yakni,
Pertama, adalah letaknya yang strategis karena posisinya berada di tengah-tengah
dunia perdagangan. Dan Kedua, adanya intervensi bangsa Eropa dalam dunia niaga yang telah memberikan peluang bagi para pedagang dipusat niaga yang mengitarinya dan mengalihkan kegiatan mereka ke Makassar. Dan juga perkembangan Makassar menjadi sebuah pusat perdagangan di Nusantara dikarenakan adanya interaksi perdagangan seperti beras, hewan ternak, keramik, budak, lada serta rempah-rempah yang telah memicu Makassar menjadi Kerajaan maritim di Indonesia bagian Timur. Dengan adanya komoditas-komoditas tersebut maka Makassar khusunya Kerajaan Gowa cukup dikenal oleh khalayak ramai tidak hanya di Asia tetapi juga sampai ke Eropa.
Raja mengembangkan perdagangan di Kerajaan Gowa dengan cara melakukan politik ekspansi ke pedalaman dan juga dengan berupaya memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pedagang. Politik ekspansi ke pedalaman ini berfungsi tidak hanya sebagai perluasan wilayah, tetapi juga di manfaatkan untuk mencari wilayah sokongan baru penghasil komoditi perdagangan. Selanjutnya, keamanan dan kenyamanan yang telah diberikan oleh kerajaan Gowa kepada para pedagang agar transaksi perdagangan berjalan lancar juga telah menjadi pemicu pesatnya perdagangan di Makassar.
Ditambah juga dengan kepemimpinan Raja Gowa yang memerintah dari tahun 1593-1639 (Sultan Alauddin), 1639-1653 (Sultan Malikussaid), 1653-1669 (Sultan Hasanuddin), inilah raja-raja yang mampu mengembangkan dan
77 mempertahankan kejayaan serta ke eksistensiannya dari pengaruh luar, khususnya orang Eropa walaupun pada masa Sultan Hasanuddin sedikit mengalami kegoncangan dalam perdagangan namun tidak menyurutkan cita-cita Kerajaan Gowa untuk tetap menjadi pelabuhan perdagangan Internasional maupun hanya sebagai transito para pedagang dari seluruh Nusantara.
78 DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara, Bandung: Rosda, 1999.
_____________, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nunsantara: Mizan, Jakarta, 1999.
B, Adrian, Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke 16 dan 17, Depok: Komunitas Bambu, 2008.
_____________, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut
Sulawesi Abad XIX, Depok: Komunitas Bambu, 2008.
Burger, D. H. Sejarah Ekonomis Sociologis, Jakarta: Pradnyaparamita, 1956. Cense, A.A. dan H.J. Heeren, Pelajaran dan Pengaruh Kebudajaan
Makassar-Bugis di Pantai Utara Australia, Djakarta: Bhratara, 1972.
Dg. Abdurrazak, Patunru, Sejarah Gowa, Ujung Pandang: YKSS, 1983.
Gerrit Knaap dan Heather Sutherland, Monsoon Traders: Ships, Skippers and
Commodities in Eighteenth-Century Makassar, Leiden: KITLV, 2004.
Gerrit J. Knaap, Shallow waters, rising tide; Shipping and trade in Java around
1775, Leiden: KITLV, 1996.
Hall, Kenneth R., Maritime Trade and State Development in Early Southeast asia, Honolulu: University of Hawai Press, 1985.
Hamid, Pananrangi. Sejarah Daerah Gowa, Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Niali Tradisional, 1990.
Hamonic, Gilbert. Studi Perbandingan Kosmogoni Sulawesi Selatan tentang Naskah Asal-Usul Dewata-dewata Bugis: Citra Masyarakat Indonesia, Jakarta: PT. Sinar Harapan-Archipel, 1983.
79 Hamsjah Dg Mangemba, Kota Makassar Dalam Lintasan Sejarah, Makassar:
Lembaga Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, 1972.
Kadir, Abd. Ahmad. Islam di Tanah Gowa, Makassar: Indobis Graphic Design, 2004.
Kartodirjo, Sartono, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
_____________, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 sampai 1900 dari
Emporium sampai Imperium, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta : Balai Pustaka, 1984.
Leur, J.C. van, Indonesian trade and society Lessays in asian social and economic
history, Bandung :Sumur Bandung, 1960.
M. A. P. Meilink Roelofz, Asian Trade and European Influencein Indonesian
Archipelago Between 1500 and about 1630. The Hague, Martinus Nijhoff.
Mattulada, Latoa, Jogyakarta: Gajah Mada University Vers, 1985.
________, Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, Ujung Pandang: Bhakti Baru-Berita Utama, 1982.
Mukhlis, Sejarah Kebudayaan Sulawesi. Jakarta: DEPDIKBUD, 1995.
_______, Sejarah Sosial Daerah Sulawesi-Selatan, Mobilitas Sosial Kota
Makassar 1900-1950. Jakarta: DEPDIKBUD Ditjarahnitra, 1984/1985.
Muslimin A.R. Effendy, Perdagangan Keramik Di Nusantara. Makassar: Indobis, 2002
Muthahhari, Murtadha, Masyarakat dan Sejarah. Bandung: Mizan, 1992.
Pusponegoro, Nugroho Susantao dan Marwati Djoned, Sejarah Nasional
80 PUSPINDO, Sejarah Pelayaran Niaga Di Indonesia, Jilid I: Pra Sejarah Hingga
17 Agustus 1945. Jakarta: Yayasan Pusat Studi Pelayaran Niaga Di
Indonesia / PUSPINDO, 1990.
Poelinggomang, L. Edward. Makassar abad XIX: Studi Tentang Kebijakan
Perdagangan Maritim, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.
Reid, Anthony, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah
Angin, Terj-, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.
_____________, Dari Ekspansi Hingga Krisis: Jaringan Perdagangan Global
Asia Tenggara 1450-1680, Jilid II, Terj-, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1998.
Sagimun, M. D., Sultan Hassanudin Ayam Jantan dari Ufuk Timur. Jakarta: Balai Pustaka, 1992.
Schrieke, B. O., Indonesian Sociological Studies, Jilid I & 2, Bandung: The Hague, 1955.
Sianipar, T. Obat dan mantera Peranan Dukun dalam Masyarakat
Bugis-Makassar, dalam Dukun Mantra Kepercayaan Masyarakat, Jakarta:
Grafikatama Jaya, 1992.
Soeminto, Aqip, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), 1985.
Stapel, F.W. Het Bongaais Verdrag, Leiden: Rijksuniversiteit Leiden, 1922. Subagya, Rachmat. Agama Asli Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan, 1981.
Supratikno Rahardjo, Kota-Kota Prakolonial Indonesia Pertumbuhan Dan
81 Sutherland, H. Eastern Emporium and Company Town: Trade and Society in
Eighteenth-Century Makassar, dalam Frank Broeze, (ed.) Brides of the
Sea: Port Cities of Asia from 16t–20th Centuries, Kensington: New South
Wales University Press, 1989.
Vlekke, H. M., Bernard, NUSANTARA: Sejarah Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.
Wasis, Widjiono, Ensiklopedia Nusantara, Mawar Gempita, 1989.
W.P. Groeneveldt. Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Terj-, Depok: Komunitas Bambu, 2008.
Wiharyanto, A Kardiyat, Asia Tenggara Zaman Pranasionalime, Jogjakarta: Universitas Sanata Dharma, 2005.
Wolters, O.W, Early Indonesian, commerce :a study of the origins of Srividjaya, New York :Cornell University Press, 1967.
Zuhri, Saefudin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya, Bandung: Al-Ma’arif, 1981.
Artikel/Jurnal/Laporan Penelitian/
Andaya, Leonard Y., The Heritage of arung Palakka, A History of South Sulawesi
(Celebes) in the Seventeenth Century, The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
VKI, No. 91.
M. A. P. Meilink Roelofz, Asian Trade and European Influencein Indonesian
Archipelago Between 1500 and about 1630. The Hague, Martinus Nijhoff.
Nurhadi. Laporan Penelitian Kepurbakalaan Kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan. 1985.
82 Sulistyo, Bambang. Perdagangan Bebas di Makassar pada Abad XIX : Tinjauan
Dari Dimensi Sosial dan Politik. 1970.
William Milburn, Oriental Commerce: Containing a Geographical Description of the principal Places in The East Indies, China, and Japan, with their
Produce, Manifacture, and Trade. London, 1813.
Arsip Nasional Republik Indonesia-Jakarta
1666 (18 November) “Bongaisch Tractaat (contract van vreide vrind in bond genootschaap tuschen de heer Cornelis Speelman en den Paduka Sierie Sulthan Kaslan oudijn koning van
Macassar en descelfs”, bundel No. 273. dan “Geschiedkundig
overzigt van Celebes”, 1 band. Bundel No. 294.
Skripsi/Tesis/Desertasi Seminar
Abbas, Irwan. Bulan Sabit di Pulau Pinisi: Suatu Studi Kepustakaan Islam
Terhadap Masyarakat di Kerajaan Gowa 1605-1669. Tesis Fakultas
Pascasarjana UNM, Makassar: Universitas Negeri Makassar, 1991.
Darmawati A. Somba Opu dalam Jaringan Pelayaran dan Perdagangan
Nusantara Abad XVII. Tesis Fakultas Pascasarjana UNM, Makassar:
Universitas Negeri Makassar, 2002.
Rasyid, Abd. Asba. Perdagangan di Makassar Pada Masa Akhir Kolonial
Belanda 1896 – 1958: Kapitalisme dan Kompetisi Perdagangan Dunia.
83 Gambar 1 Kepulauan Sulawesi1 1
Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka A History of South Sulawesi in The (Celebes) Seventeenth Century, (VKI, The Hague – Martinus Nijhoff (Perpustakaan LIPI), 1981). Hal. 198.
84 Gambar 2
Peta Pelabuhan Somba Opu Abad XVII2
2
M.D. Sagimun, Somba Opu. Ujung Pandang: Panitia Seminar Sejarah Perlawanan Rakyat Sulawesi Selatan Menentang Penjajahan Asing (1975). Hal. 218.
85 Gambar 3
Pelabuhan Somba Opu (Makassar Tahun 1638)3
3
Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. Expansion and Crisis, Vol. II. (New Haven: London-YalleUniversity Press, 1993). Hal. 82-83.
86 Gambar 4
Pelabuhan Somba Opu (Makassar Tahun 1638)4
4
Anthony Reid, Indonesian Heritage Early Modern History, (Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc., 1996).
87 Gambar 5
Mata Uang Yang Beredar pada Abad XVII5
5
Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid I (Jakarta: Gramedia, 1990). Hal. 161.
88 Lampiran 1.a
Gambar 1 Perahu Dagang Eropa6
6
Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, Penerjemah: R.Z. Leirissa, P. Soemitro ed., (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999). Hal. 54
89 Lampiran 1.b
Gambar 2
Perahu Dagang China (Jung China)7
7
Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, Penerjemah: R.Z. Leirissa, P. Soemitro ed., (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999). Hal. 55.
90 Lampiran 1.c
Gambar 3 Gambar Perahu Pinisi8
8
Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, Penerjemah: R.Z. Leirissa, P. Soemitro ed., (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999). Hal. 56.
91 Lampiran 1.d.
Gambar 4
Perahu Dagang Jung Asia Tenggara dan Perahu Dagang Melayu9
9
Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, Penerjemah: R.Z. Leirissa, P. Soemitro ed., (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999). Hal. 50.
92 Lampiran 1.e.
Gambar 5
Jenis Mata Uang Yang Beredar Pada Abad ke-XVII10
10
Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid I, (Jakarta: Gramedia, 1990). Hal.161
93 Lampiran II
Silsilah Raja-Raja Gowa11
Daftar Raja-raja Gowa yang memerintah sampai sesudah peperangan antara Gowa dan VOC.
I. TuManurunga ri Tamalate (1320-1345) II. Tumasalangga Baraya (1345-1370) III. I Puang Loe Lembang (1370-1395) IV. I Tuniatabanri (1395-1420)
V. Karampang Ri Gowa (1420-1445) VI. Tunatangka Lopi (1445-1460)
VII. Batara Gowa Tumenanga ri Parallakenna (1460) VIII. I Pakereta Tunijallo ri Pasukki (1460-1510)
IX. Daeng Matanre Karaeng Mangngutungi Tumaparrisi Kallonna (1510-1546)
X. I Marioga Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
XI. I Tajibarani Daeng Karaeng Data’Tunibatta (1565)
XII. I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)
XIII. I Tepukaraeng Daeng Pirambu Karaeng Botolangkasa Tunipasulu (1590-1593)
XIV. I Mangngarangngi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (memerintah 1593 -1639)
XV. I Mannuntungi Daeng Matola Karaeng Lakiung Sultan Muhammad Said Tumenanga ri Papambatunna (memerintah 1639-1653)
XVI. I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Muttawang Karaeng Botomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla’pangka (memerintah 1653 – 1669; lahir 12 januari 1631, wafat 12 juni 1670)
XVII. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tumammalianga ri Allu’ (memerintah : 1669 – 1674)
XVIII. Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara (1674-1677)
XIX. I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung (1677-1709)
XX. La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
11
Sagimun, M. D., Sultan Hassanudin Ayam Jantan dari Ufuk Timur. (Jakarta: Balai Pustaka, 1992). Hal. 181.