• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedagang Laki-laki dengan Pembeli Perempuan

Dalam dokumen T LIN 1201132 Chapter1 (Halaman 94-99)

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.4 Pola Interaksi Percakapan pada Transaksi Pedagang dan Pembel

4.4.1 Proses Pembukaan dan Penutupan Percakapan ( openings and Closings )

4.4.1.2 Pedagang Laki-laki dengan Pembeli Perempuan

Percakapan yang terjadi antara pedagang laki-laki dan pembeli perempuan secara umum menggunakan pola pembukaan Dalam percakapan transaksi antara pedagang laki-laki dan pembeli perempuan terdapat hanya satu pembuka

percakapan yang terjadi. Pembukaan diawali dengan pertanyaan. Seperti dalam potongan percakapan berikut:

1. BP1 :ieu tomat sabaraha↑

(ini berapa tomat harganya) 2. DL1 :bae tilu rebu

(tiga ribu saja tidak apa-apa)

Potongan percakapan tersebut merupakan awal dari dari percakapan dengan diawali oleh pertanyaan dari pembeli dan direspon dengan sebuah jawaban dari penjual. Pembuka percakapan diawali oleh pembelinya bukan oleh penjual.

Sementara itu pada proses penutupan percakapan terjadi dengan isarat bahwa pembeli sudah merasa cukup membeli barang yang dibeli dengan cara lebih detil seperti ungkapan menyerahkan barang dan menghitung harga seperti dalam percakapan berikut:

10. BP1 : sabaraha (berapa)

11. DL2 : sabelas lima(.) genep lima (.) lima janten dua dua

(Sebelas lima enam lima lima (ribu) jadi dua dua (dua puluh dua ribu Sementara itu ungkapan penutup yang menggambarkan penyerahan terdapat dalam potongan percakapan berikut:

9. BP2 : entos we (sudah saja)

10. DL2 : mangga(.) lima rebu: (ini (.) lima ribu)

Maka secara umum hampir sama seperti pembukaan dan penutupan yang terjadi pada pedagang laki-laki yang berhadapan dengan pembeli laki-laki, pada saat pembeli perempuan hendak membeli barang dari seorang pedagang laki-laki pun banyak menggunakan pertanyaan yang mengharapkan jawaban. Pertanyaan itu muncul baik dari pihak pedagang ataupun pembeli. Pedagang bertanya untuk

menawarkan barang daganganya sedangakan pembeli bertanya untuk mengetahui harga barang yang hendak dibelinya. Sementara itu untuk penutup pembeli biasanya memberikan sebuah permintaan yang kemudian diakhiri dengan kegiatan non verbal berupa memberikan uang yang selanjutnya diakhir dengan ucapan terimakasih seperti kata nuhun.

4.4.1.3 Pedagang Perempuan dengan Pembeli Laki-laki

Percakapan yang terjadi antara pedagang perempuan dan Pembeli laki-laki secara umum. Dalam percakapan transaksi antara pedagang perempuan dengan pembeli laki-laki sebagaimana terdapat dalam ujaran data bahwa pembukaan yang terjadi sangat sederhana yaitu selalu diawali oleh pertanyaan dari pembeli seperti dalam potongan percakapan berikut:

1. BL1 : Cik ceu cengek dua rebueun mah (coba ceu cabe rawitnya dua ribu) 2. DP1 : sabaraha

(berapa)

Potongan percakapan tersebut merupakan awal dari percakapan dengan diawali oleh permintaan dari pembeli dan direspon dengan sebuah pertanyaan dari penjual. Pembuka percakapan diawali oleh pembelinya bukan oleh penjual. Percakapan ini diawali dengan sebuah permintaan yang datang langsung oleh pembeli.

Sementara itu pada terdapat juga proses penutupan percakapan yang terjadi dengan isarat bahwa pembeli sudah merasa cukup membeli barang yang dibeli. Hal ini ditandai dengan tindakan non verbal serta kalimat “mangga” yang merupakan sebuah kata untuk mengungkapkan bahwa seseorang hendak pergi terlebih dahulu. Seperti dalam percakapan berikut:

8. DP1 : opat belas wios tilu (.) belas lima wae

9. BL2 : (..) mangga

(ini (sambil mengembalikan uang)

Pada potongan percakapan di atas kita melihat penutup percakapan yang terjadi dengan bentuk ungkapan sopan yang dengan hendak meminta ijin untuk terlebih dahulu meninggalkan tempat percakapan. Dari empat percakapan yang ada seluruhnya diakhiri dengan sebuah ungkapan yang hampir sama. Sehingga ini mengindikasikan bahwa proses penutupan sebenarnya berjalan dengan sesuai apa yang ada dalam komponen percakapan dan ini berbeda dengan pembukaan percakapan yang jarang dilakukan.

Maka berdasarkan pemaparan dan contoh dalam potongan percakapan yang disebutkan, dapat dikatakan bahwa pedagang perempuan yang melakukan transaksi dengan pembeli laki-laki mempunyai pola pembukaan percakapan sangat sederhana yaitu selalu diawali oleh pertanyaan dari pembeli, permintaan dari pembeli yang selanjutnya dilanjutkan oleh jawaban dan pengabulan yang dilakukan oleh pedagang. Sedangkan untuk penutup percakapanya baik pedagang atau pembeli lebih sering menggunakan kalimat yang sopan dengan menggunakan pengungkapa ijin untuk pergi terlebih dahulu serta pemersilahkan oleh pedagang.

4.4.1.4 Pedagang Perempuan dengan Pembeli Perempuan

Percakapan yang terjadi antara pedagang perempuan dan Pembeli perempuan memang tidak jauh berbeda dengan percakapan lainnya dalm konteks pasar. Dalam percakapan transaksi yang mereka lakukan terdapat hanya satu pembuka percakapan yang terjadi yaitu dengan pola penggunaan pertanyaan dan jawaban. Seperti yang tergambar dalam potongan percakapan berikut:

Kode percakapan DP1BP1 1. BP1 : :teh sabaraha(.) bonteng? (teh(kakak) berapa ini mentimun) 2. DP1 : genep rebu maratu:s↑

(enam ribu lima ratus)

Dan juga dalam percakapan lain yaitu : 5. BP2 : te:h ieu sabaraha bonteng

(teh ini berapa timun) 6. DP1 : lima rebu (tersenyum) (lima ribu (tersenyum)

Potongan percakapan tersebut menunjukan bahwa pedagang perempuan pada dasarnya sedikit merasa malas untuk mengungkapkan tawarannya terhadap pembeli. Awal dalam percakapan selalu diawali oleh pembelinnya dengan secara langsung dan dengan langsung pula dijawab oleh pedagangnya. Sementara itu pada proses penutupan percakapan terjadi dengan isarat bahwa pembeli sudah merasa cukup membeli barang yang dibeli atau dengan ditandai tindakan non verbal mengangguk atau melayani dari pembeli. Seperti dalam percakapan berikut:

Kode Percakapan DP1BP2 8. DP1: oh mangga tilu satengah

Lima rebu sareng tilu satengah janten dalapan lima (oh silakan bu tiga setengah (tiga ribu lima ratus) 9. BP2 : mangga

(ini bu)

Dalam potongan tersebut terlihat penutup percakapan diakhiri dengan sebuah ujaran yang muncul sebagai tanda menyerahkan dan serah terima dari satu pembicara dengan pembicara lainnya. Sebenarnya ungkapan terakhir yang diungkap seharusnya akan disertai dengan tindakan non verbal yaitu berupa penyerahan uang atas apa yang telah dibeli oleh pembeli. Tindakan itu menggambarkan bahwa pilihan seorang pembeli itu terpusat pada dua pilihan yaitu membuat ijin untuk meninggalkan tempat percakapan atau tidak melakukan ungkapan verbal apapun dan langsung saja meninggalkan tempat tersebut.

Maka berdasarkan potongan percakapan yang diambil sebagai contoh tersebut maka mungkin kita dapat menggambarkan bahwa memang pada saat pedagang perempuan dan pembeli perempuan terlibat dalam sebuah transaksi, pembeli mempunyai peranan dominan dalam mengawali percakapan. Pertanyaaan demi pertanyaan diajukan oleh pembeli. Pedagang hanya menjawab saja pertanyaan yang diajukan. Beberapa ungkapan non verbal juga mengikuti dalam tuturan yang ada. Terkadang mereka menggunakan ungkapan tersebut untuk menolak, mempersilahkan dan menjawab pertanyaan.

Dalam dokumen T LIN 1201132 Chapter1 (Halaman 94-99)