• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

PEDOMAN KAJIAN DOKUMEN

No. Aspek dokumentasi

1. Visi dan misi program BIPA 2. Kurikulum pembelajaan BIPA

3. Rencana Pembelajaran Semester (RPS) 4. Program book

5. Modul pembelajaran

6. Data pendidik program BIPA (Dosen dan Tutor) 7. Data mahasiswa program BIPA

8. Sarana dan prasarana 9. Slogan-slogan

10. Kegiatan Intrakurikuler pembelajaran BIPA 11. Kegiatan Ekstrakurikuler pembelajaran BIPA

150 Lampiran 4. Transkrip Wawancara Hari/Tanggal : Selasa, 21 Februari 2017 Pukul : 09.00 – 10.00

Lokasi : Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan Nama : AF

Jabatan : Dosen BIPA dan Staf KUIK

1. Peneliti : Apa saja visi dan misi program pembelajaraan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta ?

AF : Visi Program BIPA KUIK UNY adalah “Mewujudkan program

pembelajaran bahasa yang mampu meningkatkan wawasan pembelajar dan pengajar tentang Indonesia dan budaya pembelajar serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tertulis untuk beragam tujuan melalui serangkaian kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip prinsip ilmiah, kemanusiaan,

profesionalisme dan penghormatan terhadap keragaman budaya.”

Sedangkan misinya antara lain sebagai berikut: menyelenggarakan pembelajaran yang menghasilkan lulusan yang mampu mengenal dan mengapresiasi bahasa dan budaya Indonesia sekaligus peningkatan kemampuan budaya asing para pengajar dengan perspektif antarbudaya, mengembangkan pengkajian tentang pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

151

AF : Pendidikan di mana kita bisa menerima peserta didik dari berbagai latar belakang dan pendidikan yang membagi budaya dari perbedaan tersebut untuk saling belajar.

3. Peneliti : Apakah program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta mengaplikasikan pendidikan multikultural?

AF : Sudah, seperti yang tertera dalam visi misinya tadi kan tercantum bahwa tujuannya melalui serangkaian kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, kemanusian, profesionalisme dan penghormatan terhadap keragaman budaya. Selain itu juga salah satu misinya kan menyelenggarakan pembelajaran bahasa Indonesia yang menghasilkan lulusan yang mampu mengenal dan mengapresiasi budaya dan bahasa Indonesia sekaligus peningkatan pengetahuan budaya asing para pengajar dengan perspektif antarbudaya. Dengan begitu sangat jelas bahwa pembelajaran BIPA di UNY harus mengaplikasikan pendidikan multikultural.

4. Peneliti : Bagaimana kurikulum program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta?

AF : Untuk kurikulum pendidikan multikultural di dalamnya secara ekplisit namun dalam pembelajaran secara inplisit. Selain itu, untuk kurikulumnya, selain mereka mendapatkan pembelajaran bahasa di dalam kelas, mereka juga memiliki kegiatan pembelajaran budaya di luar kelas seperti tutorial yang kadang dilaksanakan di luar kelas seperti di pasar,

152

selain itu ada workshop tari, gamelan, batik, dan lainnya, dan yang terakhir ada ekskursi ke tempat-tempat wisata bersejarah seperti Kraton, candi-candi. Selain itu ada cultute camp juga yang mengajarkan mereka budaya Indonesia secara langsung live in di desa agar mereka merasakan budaya Indonesia secara nyata. Ada juga kegiatan bakti sosial untuk sekolah mitra dan selain memberikan bantun buku, mereka juga membawa cemilan untuk anak-anak di sekolah tersebut dan mengajar bahasa Inggris. Dan untuk acara besar tahunan UNY kita punya Global Culture Festival yang bertujuan untuk belajar dan berbagi budaya lain baik untuk mahasiswa program BIPA UNY maupun untuk umum yang diharapkan dapat menambah pemahaman mereka tentang orang lain dan dengan harapan dapat meningkatkan rasa saling menghargai dan menghormati dan tidak ada sikap skeptis antarsatu sama lain.

5. Peneliti : Bagaimana strategi dan metode pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta dalam mengaplikasikan pendidikan multikultural?

AF : untuk strategi dan metode kami menyerahkannya kepada pengajar baik dosen maupun tutor, biasanya pendidikan multikultural itu bisa dari materi pembelajarannya yaitu tentang budaya-budaya tiap mahasiswa yang tidak hanya Indonesia saja, maupun dari strateginya yang lebih student center yang memberikan kesempatan yang sama kepada mahasiswa, karena kami selalu menekankan kepada para pengajar untuk selalu memberi kesempatan yang sama kepada mereka dalam keaktifan.

153

6. Peneli : Bagaimana pemahaman para pendidik program pembelajaran BIPA memiliki pengetahuan pendidikan multikultural?

AF : para pendidik maupun tutor sudah memiliki Cross Cultural Understanding dan kami selalu mengingatkan para pengajar untuk bersikap adil dan memberikan kesempatan yang sama kepada mahasiswa di dalam kelas tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka.

7. Peneli : Apakah para pendidik (Dosen dan Tutor) Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta mendapatkan diklat pembelajaran?

AF : ya, para dosen sudah mendapatkan diklat dan sudah bersertifikasi pengajar BIPA dan sudah melewati seleksi, begitupun dengan tutor sudah mendapatkan dosen walaupun tidak seinsten dosen, karena dengan harapan mereka dapat mengajar dengan baik di dalam kelas, tidak hanya kemampuan mengajar bahasanya namun kemampuan lainnya dan pemahaman tentang bagaimana mengajar dalam kelas yang multikultural.

8. Peneliti : Bagaimana evaluasi yang dilakukan Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan sebagai lembaga penyelenggara pembelajaran BIPA di Universitas Negeri Yogyakarta?

AF : Evaluasi program selain evaluasi oleh pihak kantor, kami juga memberikan evaluasi program dengan mahasiswa langsung, dan menurut mereka program pembelajaran BIPA di UNY sudah sangat bagus, tapi kita merasa masih belum sempurna dan tertata dengan rapi.

154

9. Peneliti : Nilai apakah yang ingin dibangun dari pendidikan multikultural yang diaplikasikan dalam program pembelajaran BIPA yang diselenggarakan?

AF : secara inplisit nilai yang ingin dibangun yaitu rasa saling menghargai, saling menghormati, mengharmoniskan perbedaan, rasa damai, dan membangun toleransi. Dan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa penanaman pemahaman itu tidak hanya kegiatan pembelajaran bahasa di dalam kelas saya, namun di luar kelas juga seperti contohnya kegiatan tahunan Global Culture Festival yang akan kami selenggarakan bulan depan.

10. Peneliti : Apa saja faktor pendukung dan penghambat pembelajaran BIPA yang memiliki mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda?

AF : Faktor pendukungnya UNY memili dosen-dosen dan tutor-tutor yang berkualitas, fasilitas dari UNY yang sudah cukup mendukung dan bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa asing. Sedangkan faktor penghambatnya mereka dari negara berbeda-beda dengan budaya berbeda-beda dan memiliki gaya belajar yang berbeda pula. Selain itu untuk tutor dan dosen tidak ada penghambat yang signifikan paling untuk tutor hanya masalah waktu dan pengalaman mereka untuk terbiasa yang dipengaruhi latar belakang jurusannya.

155 Hari/Tanggal : Senin, 13 Februari 2017 Pukul : 11.40 – 12.30

Lokasi : Kelas BIPA KNB PPs UNY Nama : MD

Jabatan : Dosen

1. Peneliti : Bagaimana pengetahuan Anda tentang pendidikan multikultural? MD : pendidikan multikultural adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan asal budaya, asal negara, asal daerah para peserta didik. Jadi dalam pembelajarannya pun sangat menghargai perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak menyinggung perbedaan-perbedaan yang ada, justru dengan perbedaan itulah yang akan membuat pembelajaran jadi semakin inovatif dan kreatif. 2. Peneliti : Apa latar belakang pendidikan Anda?

MD : S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

3. Peneliti : Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta mengaplikasikan pendidikan multikultural? MD : saya pikir BIPA di UNY sudah mengaplikasikan itu, karena memang selama pengalaman menjadi pengajar, di UNY ini telah menghargai bagaimana latar belakang mahasiswa. Kami menindak lanjuti sikap-sikap dari mahasiswa masing-masing dari Negara-negara berbeda itu dengan tidak membeda-membedakan, jadi kami tetap menghargai perbedaan itu dan kami juga tetap mengenalkan budaya dari Indonesia. Budaya Indonesia yang dikenalkanpun tidak hari budaya Jawa atau Jogja saja, tapi daerah lain pula di Indonesia.

156

4. Peneliti : Bagaimana kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta?

MD : Kurikulum BIPA sangat menekankan bahwa pembelajaran bahasa tidak hanya bahasa saja, tapi budaya juga. Dan kita juga harus paham budaya lain dari negara yang lain.

5. Peneliti : Bagaimana metode dan strategi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta?

MD : metodenya macam-macam, tergantung mata pelajaran yang diampu, untuk menghadirkan multikulturalisme kami menghadirkan tema-tema budaya walaupun misal dalam kelas tata bahasa. Sedangkan untuk kelas berbicara lebih explore lagi, bisa saling sharing satu sama lain. Tadi kami saling berbagi cerita tentang karya sastra dari masing-masing negara dan dari Indonesia juga. Jadi saya pikir dengan begitu keberagaman budaya akan lebih terasa. Strateginya saya lebih senang dengan pendekatan personal, artinya ketika kita sudah dekat dengan mahasiswa, dengan begitu walaupun searogan-arogannya mahasiswa, kalau kita sudah dekat dan disegani mereka akan nurut dengan kita. Dengan begitu kita akan bisa tahu strategi apa yang cocok untuk mereka, karena multikultural tadi, jadi untuk setiap peserta didik strateginya pun sangat berbeda-beda, karena kita di dunia BIPA. Jadi kita harus melihat dulu dari negara mana, kebiasaannya seperti apa, bahkan dari satu negara pun kebiasaannya berbeda-beda. Kita harus peka dan terus berinovasi.

157

6. Peneliti : Apakah pendidik pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta mendapatkan diklat pembelajaran?

MD : Ya, karena untuk bisa jadi pengajar BIPA itu harus memiliki sertifikat pengajar BIPA dan saya juga sebelum menjadi dosen, saya juga mendapatkan pengalaman langsung ketika dulu menjadi tutor. Dan semua dosen juga tidak semua bisa menjadi pengajar BIPA, walaupun latar belakangnya dari jurusan bahasa, jadi bener-bener harus punya sertifikat layak sebagai pengajar BIPA, karena semua orang bisa mengajar mahasiswa asing yang sangat beragam.

7. Peneliti : Bagaimana evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta?

MD : evaluasi dosen biasanya dilakukan satu semester sekali, tapi saya pikir masih belum maksimal, karena beliau-beliau sangat sibuk, jadi untuk mencapai titik temupun sangat susah. Selain itu untuk evaluasi pembelajaran juga selalu dilaksanakan, baik dari prosesnya maupun dari kurikulumnya, karena kurikulum BIPAnya juga kan berubah-ubah, disesuaikan dengan perkembangan zaman.

8. Peneliti : Nilai apakah yang ingin dibangun dari pendidikan multikultural yang diaplikasikan dalam program pembelajaran BIPA yang diselenggarakan? MD : saya tidak memaksakan mereka untuk bisa sesuai seperti orang Indonesia, tapi setidaknya saya ingin membangun nilai kekeluargaan, karena tidak semua negara memiliki nilai itu yang tinggi, nilai lebih menghargai,

158

lebih ramah. Setidaknya akan mereka rasakan di sini dan akan dibawa ke negara mereka ketika pulang nanti.

9. Peneliti : Apa saja faktor pendukung dan penghambat pembelajaran BIPA yang memiliki mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda?

MD : Pendukung pembelajaran dari sarana prasarana sudah bagus, kekurangannya kurikulum yang masih baru jadi untuk pembelajaran masih bingung dan kita belum satu untuk bahan ajar, harus bisa bijaksana dalam menyikapi perbedaan mereka karena ada juga beberapa mahasiswa yang sudah beradaptasi atau yang berkarakter keras.

159 Hari/Tanggal : Kamis, 3 Februari 2017 Pukul : 10.00 – 10.30

Tempat : Hall Rektorat UNY Nama : VG

Jabatan : Tutor

1. Peneliti : Bagaimana pengetahuan Anda tentang pendidikan multikultural? VG : Menurut saya pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mengedepankan pemahaman lintas budaya sehingga munculah toleransi antarbudaya yang mampu menyelesaikan suatu konflik. Pendidikan ini menanamkan kesadaran akan pentingnya hidup damai dalam perbedaan, menjunjung tinggi nilai persamaan derajat, dan menciptakan perdamaian sesama manusia.

2. Peneliti : Apa latar belakang pendidikan Anda?

VG : Sedang menempuh studi di jurusan pendidikan bahasa Inggris semester 8.

3. Peneliti : Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta mengaplikasikan pendidikan multikultural? VG : Ya. Pembelajaran BIPA di UNY menerapkan pendidikan multikultural, dapat dilihat dari mahasiswa dari berbagai negara memiliki hak yang sama di UNY dalam pembelajaran di dalam kelas.

4. Peneliti : Bagaimana kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta?

160

VG : Kurikulum BIPA di UNY sudah disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa yang digolongkan menjadi kelas dasar, menengah, dan lanjut yang mengacu pada sistem CEFR, serta untuk penggolongan dan pembagian kelasnya berdasarkan hasil tes penempatan kemampuan mahasiswa masing- masing.

5. Peneliti : Bagaimana metode pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Yogyakarta?

VG : Metode pembelajaran BIPA di UNY beragam, mulai dari pembelajaran di dalam kelas, di luar kelas berupa praktik, maupun ekskursi. Mahasiswa BIPA juga banyak melakukan pembelajaran di luar kelas di mana langsung mengaplikasikan materi yang di dapat di dalam kelas. Biasanya pemahaman multikultural itu disisipkan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Mahasiswa diminta berbaur langsung dengan budaya di Indonesia tanpa memandang dari negara mana ia berasal. Saat pembelajaran di dalam kelas pun, mahasiswa diminta untuk saling membantu apabila ada yang kesulitan dalam memahami materi. Scaffolding diterapkan tanpa memandang darimana ia berasal.

6. Peneliti : Apakah pendidik pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta mendapatkan diklat pembelajaran?

VG : Ya, kami mendapatkan diklat untuk persiapan mengajar. Diklat BIPA dilaksanakan 2 hari berturut-turut. Di dalamnya terdapat materi untuk mendukung pembelajaran BIPA, di antaranya public speaking, evaluasi

161

pembelajaran, tutorial pembuatan silabus, dan penguatan SOP tutorial. Pemahaman CCU saya dapatkan dalam sebuah mata kuliah CCU selama satu semester. Pemahaman CCU dalam BIPA tidak diberikan dalam bentuk materi saat diklat maupun pertemuan resmi lainnya, melainkan diterapkan dalam pembelajaran BIPA secara langsung maupun didiskusikan dalam agenda evaluasi rutin.

7. Peneliti : Bagaimana evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Universitas Negeri Yogyakarta?

VG : Evaluasi dilakukan dua minggu sekali untuk melihat kemajuan pembelajaran, menyelesaikan masalah dan mencari solusi atas kendala-kendala yang dialami dalam pembelajaran BIPA baik yang dialami tutor maupun yang dialami mahasiswa program BIPA.

8. Peneliti : Nilai apakah yang ingin dibangun dari pendidikan multikultural yang diaplikasikan dalam program pemlajaran BIPA yang diselenggarakan? VG : Nilai yang ingin saya bangun pada setiap pembelajaran adalah nilai toleransi. Perbedaan latar belakang mahasiswa harus dipandang sebagai hal wajar dan dihormati, bahkan perbedaan itu merupakan keistimewaan masing-masing mahasiswa. Rasa saling menghormati perbedaan inilah yang nantinya menimbulkan sikap toleransi.

9. Peneliti : Apa saja faktor pendukung dan penghambat pembelajaran BIPA yang memiliki mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda?

VG : Faktor pendukungnya yaitu partisipasi aktif mahasiswa, kemauan mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia, toleransi yang tinggi

162

antarmahasiswa. Sedangkan untuk penghambat adanya sensitivitas pribadi dalam diri mahasiswa sehingga mudah tersinggung, banyaknya hal baru yang ditemui mahasiswa sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di luar kendali tutor, kendala bahasa apabila mahasiswa tidak begitu menguasai bahasa Inggris.

163 Hari/Tanggal : Rabu, 8 Februari 2017 Pukul : 13.30 – 14.00

Lokasi : Kelas BIPA KNB PPs UNY Nama : JN

Jabatan : Mahasiswa program BIPA KNB

1. Peneliti : Can you introduce yourself? (your name, where are you come from, etc)

JN : dari Uganda, Afrika Timur

2. Peneliti : What are your purpose of joining BIPA program in Yogyakarta State University?

JN : Joining BIPA’s program for marter degree next semester, because my master degree program menggunakan bahasa Indonesia in Biology Education master degree.

3. Peneliti : How far are your knowledge about multicultural education? JN : Multicultural education is education where students from different backround, different languages come together and they study in the same class.

4. Peneliti : Is BIPA program in YSU applying multicultural education? JN : That is very true, because for the first time I started attending my BIPA class I was able to really get interaction with students from different countries, the lecturer would they do equal treatment to their student those from Europe, Asia, Afrika, actually no any differetnt. And the tutors also. I

164

glad to say in UNY for BIPA program such a great work to make sure all students to understand bahasa Indonesia

5. Peneliti : How about the learning method used by the educators (Lecturers and tutors)?

JN : The learning method is very good, I love learner centre method teaching in BIPA class, because always motivated me to ask question and active when I don’t understood. Always lectures and tutors give us assignment to go and practice the language from the foodcourt and assignment to do at home And very commuticative each other both the teachers and tutors also. 6. Peneliti : How is the learning material used by the lecturers and the tutors?

JN : learning material very good also, they use culture, food, and they give us real food sometimes, when we learn about shopping they brong us to pasar bringharjo and when we learn about food in Indonesia they bring us real food like nasi goren,g bakso, gado – gado and others food. And in the class they not only talk about Indonesian culture also, but for the learning material both lecturars or tutors also ask us about culture, life, and anything about ours also. They asked each student for make sure we all understood or no.

7. Peneliti : Do the lecturers and the tutors give the same treatment for every sdudent in the learning process?

JN : yeah, as I said before, that they give us the same treatment, they give us the chance to ask, to give opinion and they don’t care where we from,

165

Europe, Asia, or Africa. And Internasional Officers alsa treat us with the same treatment, I have not faced discrimination.

8. Peneliti : How is the infratuctur and media of BIPA program in UNY? JN : I don’t know facilities in another University in Indonesia, but if I compare with my University in Uganda for me fasilities and infreatuctur in UNY for BIPA’s program is enough. It is very good, the projector, screen, teaching material is very interesting

9. Peneliti : Have you received any kind of discrimination when it comes to learning process in the class or outside the class from Officer of Internasional Office, The tutos, the lecturers or friends from BIPA program?

JN : No, I have not faced.

10.Peneliti : What kind of the value have you received from the lecturers or the tutors that have been changed your perspective and attitude from multicultural education in BIPA learning process?

JN : I realize that in the world not only my culture exist I learn to respect anothers culture, love others culture, appreciate each others, loving in others and being peace.

11.Peneliti : What are the supporting factors that help you in learning process on BIPA program that has multicultural students?

JN : I have purpose to study bahasa Indonesia, socialize with the local people, friendly, the teachers like I said before good in teaching method and care to all student, my class is sosial, we always interact and share each

166

others, also the tutors sometime bring their friend to our class so we have new friends and experience.

12.Peneliti : What kind of obstacles you faced that make the learning process more difficult at the backround of the students came from different culture? JN : The one obstacles is the language, because the students in BIPA program come from different country, we speak different languages so communication sometimes become a problem because we wanna say something but sometimes they don’t understand. Culture also and no good motivation from the teachers.

167 Lampiran 5. Catatan Lapangan

CATATAN LAPANGAN I