• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGERTIAN DAN PERATURAN LAYANAN PINJAM

4. Peer-To-Peer Lending

Pada dasarnya, praktik utang-piutang atau pinjam-meminjam uang ini biasa dilakukan antara orang dengan seseorang atau antara seseorang dengan suatu badan atau lembaga yang berbentuk badan hukum, misalnya bank, koperasi simpan-pinjam, atau dapat juga dilakukan antara suatu badan atau lembaga lainnya, misalnya antara suatu perseroan terbatas atau yayasan dengan suatu bank.

Sejatinya, tidak ada definisi secara spesifik mengenai pengertian tentang pinjam-meminjam uang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, namun pada ketentuan Pasal 1754 KUH Perdata disebutkan bahwa, “Pinjam-Meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang- barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari

macam dan keadaan yang sama pula.”10

Menurut Subekti, salah satu kriteria dalam membedakan antara pinjam pakai dan pinjam-meminjam adalah apakah barang yang dipinjamkan itu menghabis karena pemakaian atau tidak. Jika barang yang dipinjam itu menghabis karena pemakaian, itu adalah pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam ini dalam Bahasa Belanda disebut dengan

verbruiklening.11

a. Pengertian Financial Technology Berbasis Peer To Peer Lending Platform Fintech P2PL merupakan salah satu instrumen investasi baru dewasa ini yang ditawarkan dari layanan Fintech. Fintech jenis P2PL ini merupakan jenis platform Fintech yang paling banyak digunakan di

10

Indonesia (Burgerlijk Wetboek), Ketentuan Pasal 1754 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Staatsblaad, Nomor 23 Tahun 1847.

11

R. Subekti, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit (Termasuk Hak Tanggungan) Menurut Hukum Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1996), h. 3.

Indonesia sebagai moda bisnis maupun ekonomi masyarakat Indonesia yang terkoneksi oleh jaringan internet dengan menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam mendapatkannya tanpa melihat, waktu, tempat, maupun pertemuan terlebih dahulu antara kreditur dengan debitur, melainkan hanya bermodalkan smartphone yang terkoneksi internet sehingga siapapun dapat mengakses layanan Fintech P2PL ini.

Adapun pengertian Peer-To-Peer Lending adalah “a method of debt financing that enables individuals to borrow and lend money without the use of an official financial institutions as an intermediary. Peer to peer lending removes the middleman from the process, but also involves more time, effort and risk than the general brick and mortar lending

scenarios.”12

Berdasarkan definisi mengenai Peer to Peer Lending di atas, dapat diartikan bahwa Fintech P2PL adalah metode baru yang memungkinkan debitur mengajukan pinjaman tanpa jaminan melalui platform. Secara definitif, Fintech P2PL atau juga lazim dikenal sebagai social lending atau person-to-person lending merupakan salah satu manifestasi crowdfunding berbasis utang atau praktik pemberian pinjaman uang antar individu, dimana debitur dan kreditur dipertemukan melalui platform yang diselenggarakan oleh Perusahaan Fintech P2PL. Fintech P2PL ini memberikan wadah bagi seseorang yang hendak meminjam uang dari seseorang yang tidak pernah ditemui secara langsung sebelumnya. Begitu juga, kreditur dapat memberikan pinjaman kepada seseorang yang tidak dikenal sebelumnya dan informasi yang diketahui, melainkan hanya berdasarkan rekam jejak kredit dari debitur.

Dalam konteks pengertian pinjam-meminjam menurut ketentuan Pasal 1754 KUHPerdata disebutkan, bahwa “para pihak yang terlibat 12

Website https://www.investopedia.com/term/p/peer-to-peer-lending.asp, diakses pada 21 November 2019, pukul 12.00 BBWI.

adalah pemberi pinjaman dan penerima pinjaman dimana para pihak ini memiliki hubungan hukum secara langsung melalui perjanjian pinjam meminjam”, dimana hal ini berbeda dengan konsep pinjam-meminjam pada Fintech P2PL. hal ini dikarenakan para pihak dalam penyelenggaraan Fintech P2PL ini tidak memiliki hubungan hukum secara langsung antar debitur. Bahkan, di antara para pihak tersebut tidak mengenal secara langsung antara satu sama lain, ditambah dalam sistem Fintech P2PL ini terdapat pihak lain, yakni platform penyelenggara Perusahaan Fintech P2PL yang menghubungkan kepentingan antara para pihak ini, yakni debitur dan kreditur.13

b. Para Pihak dalam Penyelenggaraan Fintech P2PL

Adapun para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Fintech P2PL berbeda dengan para pihak yang terlibat dalam praktik perjanjian pinjam-meminjam uang sebagaimana ketentuan yang diatur pada Pasal 1754 Bab III KUHPerdata dimana hanya melibatkan kreditur dan debitur, namun dalam penyelenggaraan Fintech P2PL ini melibatkan lebih dari dua pihak, yakni sebagai berikut:14

1). Pihak Penyelenggara (Perusahaan) Layanan Fintech P2PL

Menurut ketentuan Pasal 1 Angka 6 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dikatakan, bahwa “Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan layanan pinjam meminjam uang

13

Ratna H. Juliayani PR, Hubungan Hukum Para Pihak Dalam Peer To Peer Lending, (Yogyakarta: Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, Universitas Islam Indonesia, 2018), h. 322.

berbasis teknologi informasi.” Selanjutnya, pada ketentuan Pasal 2 angka 2, berbunyi “bentuk badan hukum penyelenggara dapat berupa perseroan terbatas atau koperasi.” Kemudian, bagi pihak penyelenggara Fintech berbasis Peer To Peer Lending yang terdaftar dan berizin di OJK sebagaimana ketentuan Pasal 2 angka 2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi pada badan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas harus memenuhi segala ketentuan pada ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

2). Debitur (Penerima Pinjaman)

Ketentuan Pasal 1 Angka 7 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi menjelaskan bahwa “Penerima Pinjaman atau Debitur adalah orang dan/atau badan hukum yang mempunyai utang karena perjanjian layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.”

Lebih lanjut, ketentuan Pasal 15 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi menjelaskan, bahwa penerima pinjaman dalam sistem Fintech berbasis Peer To Peer Lending ini harus berasal dan berdomisili di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penerima pinjaman dapat berupa orang perseorangan Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia. Berdasarkan ketentuan tersebut, artinya debitur atau penerima pinjaman dalam penyelenggaraan Fintech P2PL, bukanlah perorangan Warga Negara Asing ataupun badan hukum asing.

Ketentuan Pasal 1 angka 8 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi menjelaskan, bahwa “Kreditur atau Pemberi Pinjaman adalah orang, badan hukum, dan/atau usaha yang mempunyai piutang, karena perjanjian layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.”

Lebih lanjut, ketentuan Pasal 16 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dinyatakan, bahwa “Kreditur atau Pemberi Pinjaman adalah orang perseorangan warga negara Indonesia, perseorangan warga negara asing, badan hukum Indonesia dan/atau asing, dan/atau lembaga internasional.”

4). Bank

Ketentuan Pasal 24 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi menjelaskan, bahwa “Penyelenggara wajib menggunakan escrow account dan virtual account dalam rangka layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.”

Di samping itu, penyelenggara juga wajib menyediakan virtual account bagi setiap pemberi pinjaman dan dalam rangka pelunasan pinjaman, maka penerima pinjaman melakukan pembayaran melalui escrow account penyelenggara untuk diteruskan ke virtual account pemberi pinjaman. Escrow account adalah15 rekening yang dibuka secara khusus untuk tujuan tertentu guna menampung dana yang dipercayakan kepada Bank Indonesia berdasarkan persyaratan tertentu

15

Penjelasan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/11/PBI/2001 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/24/PBI/2000 Tentang Hubungan Rekening Giro Antara Bank Indonesia dengan Pihak Ekstern.

sesuai dengan perjanjian tertulis. Sementara virtual account adalah16 nomor identifikasi pelanggan perusahaan (end user) yang dibuat oleh Bank untuk selanjutnya diberikan oleh perusahaan kepada pelanggannya (perseorangan maupun badan hukum) sebagai identifikasi penerimaan (collection).

5). Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, menjelaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan, selanjutnya disingkat OJK merupakan lembaga yang independen, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. Selanjutnya pada ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, menjelaskan bahwa OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan dalam sektor jasa keuangan.

OJK adalah instansi atau lembaga yang melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap tumbuh kembangnya Fintech, termasuk juga dalam penelitian ini yaitu Fintech P2PL ini yang merupakan bagian dari Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.17 Dalam sistem penyelenggaraan Fintech P2PL, OJK bertindak sebagai pemberi persetujuan pengajuan pendaftaran dan perizinan penyelenggaraan Fintech P2PL dan selaku pihak yang harus mendapatkan laporan secara berkala atas penyelenggaraan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (Fintech P2PL).

16

Mandiri Virtual Account, Website https://www.bankmandiri.co.id/virtual-account, diakses pada 29 November 2019, Pukul 02.00 BBWI.

17

Ernasari, dkk. Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Financial Technology : Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016, (Semarang: Diponegoro Law Journal Vol. 6, 2017).

c. Cara Kerja Fintech berbasis P2PL

Di Indonesia, Fintech P2PL memiliki payung hukum tersendiri sebagaimana diatur pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Dalam peraturan tersebut juga telah dijelaskan definisi Peer To Peer Lending (Layanan Pinjam Meminjam Uang), yakni sebagai berikut; dalam Pasal 1 ayat (3) Bab 1 Ketentuan Umum yang berbunyi, “Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik yang menggunakan jaringan internet.”

Platform Fintech P2PL ada di dalam konteks intermediasi keuangan, dikarenakan peran mereka sebagai perantara antara dua individu yang memakai situs maupun aplikasi sebagai kreditur dan debitur, sederhananya situs maupun platform layanan Fintech P2PL memfasilitasi hubungan keuangan di antara kedua belah pihak pengguna platform Fintech P2PL.18 Sebagaimana ditunjukkan pada ilustrasi gambar di bawah ini :

18

Ugochi Christine Amajuoyi, Thesis: Online Peer To Peer Lending Regulation: Justification, Classification and Remit in UK Law, (UK: University of Exeter, August 2016), h. 148.

Informasi Peminjam Pokok Investasi dan Bunga

Investor Kriteria Peminjam Investasi P2P Website Menganalisis Data: - Menilai Risiko

- Menyusun aturan sesuai dengan regulasi Pemerintah - Operasional dan administrasi

- Teknologi dan edukasi

- Menyeimbangkan antara permintaan pinjaman suplai dana dari investor Bagan di atas, menunjukkan bagaimana garis besar cara kerja platform Fintech P2PL di Indonesia. Adapun penyelenggara Fintech P2PL sebagai pengelola suatu marketplace (tempat bertemunya kreditur dan debitur) dimana kreditur mendapatkan akses lewat platform Fintech P2PL untuk melihat profil calon debitur.

Kegiatan usaha Fintech P2PL di Indonesia diatur dalam Pasal 5 Bagian Kedua tentang kegiatan usaha pada ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi yang berbunyi, “Penyelenggara menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan Layanan

Kebutuhan Pinjaman Pengembalian Pokok dan

Bunga

Peminjam (Debitur)

Administrasi Uang Pinjaman

Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dari pihak Pemberi Pinjaman kepada pihak Penerima Pinjaman yang sumber dananya berasal dari pihak Penerima Pinjaman.” Terkait bagan skema gambar di atas, berikut pemaparan singkat mengenai cara kerja Fintech berbasis Peer To Peer Lending:19

1). Proses Bagi Peminjam (Debitur)

Debitur sebagai calon debitur melakukan registrasi pada platform Fintech P2PL. Setelah melakukan registrasi, debitur akan mengajukan proposal peminjaman. Penyelenggara Fintech P2PL kemudian akan menganalisis nilai kredit, sejarah peminjaman, jumlah pendapatan debitur guna menentukan besaran bunga pinjaman dan skor debitur.

2). Proses Bagi Pemberi Pinjaman (Kreditur)

Kreditur akan memberikan informasi data diri pribadi kepada penyelenggara Fintech P2PL, seperti nama lengkap, nomor identitas KTP, nomor rekening, nomor telepon, dan seterusnya. Setelah proses registrasi kreditur dapat melihat profil debitur dan kemudian memutuskan kepada siapa pinjaman akan diberikan.

3). Proses Bagi Penyelenggara Fintech P2PL (Platform/Perusahaan) Platform Penyelenggara Fintech P2PL sebagai badan usaha di Indonesia akan mengelola data diri pribadi dari kreditur dan sekaligus mengelola dana dari kreditur merangkap data diri dari kreditur. Penyelenggara juga melakukan analisis kredit kepada debitur.

5. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang

Dokumen terkait