BAB IX BENTUK KONTRAK
PASAL 6 PEKERJAAN PONDAS
A. Pekerjaan persiapan pondasi
a. Pekerjaan urugan pasir, alas pondasi dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari direksi lapangan dengan memeriksa kondisi tanah dasar pondasi tersebut.
b. Pasir urugan alas dasar pondasi harus bersih dan dipadatkan dengan tebal padat 5 cm
c. Untuk lantai kerja beton dipakai adukan semen : pasir : kerikil = 1 : 3 : 5. Permukaan lantai kerja harus rata, denga tebal minimum 5 cm.
B. Pondasi batu-bata
a. Pasangan pondasi batu-bata dengan perbandingan 1Pc : 3Pc yang berkwalitas baik dan mutu harus mendapat persetujuan Pengawas.
b. Batu-bata dipasang sesuai bentuk dan ukuran pondasi yang tertera dalam gambar bestek.
c. Antara pondasi batu-bata dan sloof harus diberi angkur baja tulangan diameter minimum 8 mm, panjang 40 cm, tiap jarak 1 meter.
C. Pondasi beton bertulang
a. Minimum 2 x 24 jam pengecoran, kontraktor wajib memberitahukan kepada direksi lapangan secara tertulis untuk memadatkan persetujuan. Bagian yang akan dicor tersebut harus dalam keadaan selesai dan rapi.
b. Bekesting atau cetakan boleh memakai papan, tetapi kontraktor tetap harus menjamin bahwa cetakan tidak akan mengalami perubahan bentuk selama pengecoran berlangsung.
c. Selama pelaksanaan pekerjaan pondasi, kontraktor diwajibkan memperhitungkan dampak negatif yang mungkin muncul akibat pekerjaan ini dan mencari penyelesaian dengan baik.
d. Setelah ketentuan diatas, berlaku pula peraturan-peraturan pekerjaan beton bertulang Indonesia.
e. Rencana pondasi harus disesuaikan dengan gambar bestek
f. Untuk melakukan pekerjaan pondasi beton bertulang campuran beton dibuat dengan perbandingan 1Pc : 2Pc : 3Krl.
g. Rencana pondasi harus disetujui terlebih dahulu olah pengawas atau pemberi tugas.
D. Bahan
a. Cement Portland
Cement Portland yang dipakai harus dari jenis 1 menurut peraturan Semen Indonesia 1972 (NI-8) atau British Standard No. 12 tahun 1965. Semen harus sampai ditempat pekerjaan harus dalam kondisi baik serta dalam kantong-kantong semen asli pabrik. Merk semen PC dianjurkan buatan dalam negeri seperti semen gersik, Tiga roda, Nusantara, semen padang dan lain-lain, dengan peraturan pengawasan. Semen harus disimpan dalam gudang kedap air, berventilasi baik diatas lantai dialaskan papan. Kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis. Penyimpanan selalu terpisah untuk setiap pengiriman pemilihan salah satu Merk semen adalah mengikat untuk penyelesaian proyek.
b. Agregat (Pasir, Kerikil atau batu pecah)
Agregat halus dan kasar, dapat dipakai agregat alami atau batu pecah dan memenuhi syarat PBI 1971 (NI-2) pasal 3.3.3.4 dan 3.5 agregar tidak boleh mengandung bahan yang dapat merusak beton dan ketahanan tulangan terdapat karat. Untuk itu kontraktor harus mengajukan contoh-contoh yang memenuhi syarat dari berbagai sumber (tempat pengambilan) antara lain boleh menggunakan air laut. Agregat harus disimpan ditempat yang terpisah dalam tumpukan tidak bolah lebih dari 1 (satu) meter, permukaan yang bersih, padat seta kering dan harus dicegah dari perkotaan.
c. Air
Air untuk campuran dan pemeliharaan beton harus dari air yang bersih (tidak berwarna) dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. Air tersebut harus memenuhi persyaratan menurut PBI 1971 (NI-2).
d. Besi
Besi bertulang yang dipakai harus dari besi mutu U-24 menurut PBI 1971 atau
Japanese Standard Class SR 24 atau Britist Standard No. 785-1938. Bila baja tulangan oleh pengawas diragukan kwalitasnya, harus diperiksa dilaboratorium (Lembaga Penelitian Bahan-Bahan yang diakui) atas biaya kontraktor. Ukuran besi harus sebagaimana tersebut dalam gambar, penggantian diameter lain, hanya diperkenankan atas persetujuan tertulis pengawas. Apabila penggantian disetujui maka luas penempang yang diperlukan tidak boleh kurang dari yang tertulis dalam gambar. Segala biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulang dari yang tercantum digambar menjadi tanggung jawab kontraktor. Semua besi tulangan harus disimpan ditempat yang bebas dari lembab dan dipisah sesuai dengan diameternya. Semua besi tulangan harus dilindungi terdapat segala macam kotoran serta sejauh mungkin dilindungi terhadap karat.
e. Syarat-syarat peleksanaan
1. Syarat-sarat umum beton ini mengikuti sepenuhnya peraturan Beton Berulang Indonesia 1971 (NI-2)
2. Konstruksi bertulang harus mencapai wajib kebersihan halaman dan bagian- bagian pekerjaan minimal 5 m keliling bangunan. Konstruksi betonbertulang harus mencapai mutu beton K-225 dengan besi tulangan U-24 atau sesuai dengan petunjuk pengawas.
3. Pekerjan pondasi dilakukan dengan penggalian tanah dengan kedalaman sesuai dengan gambar kerja. Bekas galian dibuang ketempat yang telah ditentukan. 4. Kostruksi beton dibuat sesuai ukuran-ukuran termasuk besi tulangan yang tertera
dalam gambar kerja pelaksanaan dan detail struktur beton. Apabila terdapat perbedaan ukuran pada gambar kerja, kontraktor wajib memberitahukan dengan secara tertulis kepada pengawas untuk mendapatkan persetujuannya sebelum melaksanakan pekerjaan tersebut.
5. Acuan harus dipasangan sedemikian rupa, baik rangka-rangka, penguat penyokong, penyangga dan konstruksi-konstruksi lainnya sehingga kuat dan tidak berubah bentuknya pada waktu pengecoran.
6. Tulangan dan sengkang tidak boleh melekat pada acuan atau tumpuan lain, untuk itu dibuat ganjalan dari pokok beton dengan syarat tebal dan pemasangan sesuai dengan PBI 1971.
7. Pembongkaran acuan/pemetian hanya dapat dilakukan 21 hari setelah
pengecoran dan mendapat izin tertulis dari pengawas.
8. Untuk membuat tulangan untuk batang-batang yang lurus dan dibengkokkan, sambungan-sambungan, kaitan-kaitan dan pembuatan sengkang disesuaikan dengan persyaratan yang tercantum dalam PBI 1971.
9. Tulangan dipasanga sedimikian rupa agar tidak mengalami perubahan bentuk selama berlangsungnya pengecoran dan toleransi pembuatan dan pasangan tulangan disesuaikan dengan persyaratan PBI 1971.
10.Persiapan pengcoran.
Sebelum pegecoran dilakukan, kontraktor wajib melaporkan kepada pengawas untuk memeriksa dan mendapakan persetujuan secara tertulis untuk dapat memulai pengecoran. Setelah pengawas memeriksa sesuatunya termasuk bahan, alat dan tenaga maka akan memutuskan dapat dimulai atau tidaknya pengecoran. 11.Pengecoran.
Pengadukan, pengangkutan dan pemadatan pengecoran dilaksanakan sesuai dengan ketentuan di FBI 1971 dan terutama harus diperhatikan pelaksanaan penakaran campuran beton, harus dengan kotak-kotak takaran yang sama bentuknya pengadukan beton harus dilaksanakan menggunakan mesin pengadukan beton (molen) yang masih bekerja dengan baik dan pemadatan didalam pemetian dilakuakan dengan menggunakan mesin penggetar (Vibrator).
12.Perawatan beton
Permukaan beton harus dilindungi dari pegeringan yang terlalu cepat dan tidak merata, antara lain dengan dibungkus atau ditutupi dengan karung goni yang dibasahi air terus menerus selama 14 (Empat belas) hari.
PASAL 7
PEKERJAAN BESI DAN BEKESTING
1. Besi beton harus berkwalitas baik dan berul-betul bulat serta diameternya sesuai dengan gambar.
2. Pemotongan dan pembengkokan dari besi beton dalam keadaan dingin dan dibentuk sesuai dengan gambar konstruksi. Tidak dibenarkan untuk meluruskan kembali dari besi beton yang telah dibengkokan tersebut.
3. Pemasangan besi beton harus teliti mungkin sesuai dimensi yang dalam gambar konstruksi, diikat kuta dengan kawat beton dan dengan kait-kait , dapat tegak lurus dengan dudukan deking (beton tahu) dan disetujui oleh pengawas. Sehubungan besi beton hanya boleh dilakukan pada daerah/tempat dan disambung las atau cara lain yang sudah mendapatkan persetujuan pengawas.
4. Bekesting beton dapat berupa kayu, besi atau bahan lain yang layak dari segi kwalitas untuk digunakan dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan/izin pengawas.
PASAL 8
PEKERJAAN BETON BERTULANG
1. Pekerjaan beton yang harus dilaksanakan adalah beton yang dinyatakan dalam gambar kerja. Pekerjaan beton bertulang dengan campuran 1Pc : 2Pc : 3Krl adalah untuk :
a. Pondasi Tapak, Balok Sloof, dan Ring Balok b. Kolom-kolom / Tiang penyangga
2. Pengecoran harus dilaksanakan atas persetujuan pengawas, setelah diadakan pemeriksaan pembesian dengan berita acara.
3. Pengecoran harus dilaksanakan sebaik mungkin dengan menggunakan alat penggetar (Vibrator) untuk menjamin beton cukup kuat, padat dan harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos, sarang-sarang koral yang dapat memperlemah konstruksi beton.
4. Apabila pengecoran akan dihentikan dan akan diteruskan pada berikutnya maka tempat pemberhentian tersebut harus disetujui oleh pengawas.
5. Selama proses pengerasan, beton tidak dibenarkan untuk dibebani, demikian juga untuk bagian konstruksi lain.
6. Pengecoran beton harus dilaksanakan sebaik mungkin dan menggunakan alat penggetar
(vibrator), pekerjaan dapat dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan pengawasan. 7. Segala sesuatu pekerjaan harus menurut ketentuan PBI 1971.
PASAL 9
PEKERJAAN PASANGAN BATA
1. Semua pasangan batu bata dengan campuran 1 Pc : 4Pc untuk dinding pagar, mulai dari Sloof sampai ke ring balok.
2. Pelaksanaan pasangan harus rapi, cermat dan baik sesuai dengan ketentuan untuk pasangan batu tebal ½ batu maupun.
3. Sebelum pasangan batu bata dipasang harus direndam terlebih dahulu sampai gelembung udara tidak terlihat lagi. Batu bata yang dipasang harus utuh, kecuali untuk las-lasnya atau sambungan.
4. Bidang dinding bata ½ batu yang luasnya lebih dari 8 m2 harus ditambah kolom dan balok penguat kolom 20 x 20 cm dengan tulangan pokok 4 buah diameter 12 mm dan 2 diameter 10, beugel diameter 8-20 cm.
5. Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton (kolom, balok, beton dan lain-lain) harus diberi stek-stek basi beton diameter 8 mm, jarak 30 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik/dicor bersamaan pengecoran beton dan bagian yang tertaman dalam pasangan ditempat yang tepat dan benar.
PASAL 10
PEKERJAAN CERUCUK
a. Lingkup Pekerjaan
- Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan- bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dicapai pekerjaan yang baik dan sempurna. - Meliputi pekerjaan pengadaan tiang-tiang cerucuk kayu belah, serta
seluruh detail dan ukuran jarak tiang ke tiang yang ditentukan detail gambar.
b. Persyaratan Bahan
a. Bahan kayu cerucuk yang digunakan harus tahan terhadap kondisi terendam air.
b. Kayu yang digunakan harus lurus tidak bengkok, karena akan sulit untuk ditancapkan kedalam tanah.
c. Kayu yangdigunakan berupa cerucuk kayu belah ukuran 12 x 12 cm dan cerucuk bulat berdiameter 10-15 cm
d. Bahan kayu yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat PPKI, PUBI 82 pasal 3 dan SII 0458-81, kayu yang tahan terendam dalam air.
e. Bahan kayu-kayu yang akan digunakan ini banyak terdapat didaerah-daerah yang bersangkutan, atau penggunaan kayu cerucuk yang sesuai dengan peraturan didaerah setempat.
f. Bahan kayu yang digunakan cocok dengan kondisi tanah gambut, atau rawa-rawa
c. Syarat-syarat Pelakasanaan
- Bahan cerucuk yang dipakai kayu kelas II tahan terhadap kondisi yang terendam didalam air serta untuk menggunakannya harus mendapat persetujuan dari direksi/pengawas.
- Cerucuk kayu belah ini dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran serta jarak antara tiang ke tiang yang telah ditetapkan dalam gambaryang memenuhi persyaratan dalam NI-2 pasal 5,1 dan peraturan bahan.
- tiang-tiang cerucuk kayu belah ini pada waktu pemancangan disentriskan dengan Station File Frame (SFF), dari kayu dengan berat manual penumbuk tidak lebih dari 50 Kg dengan menggunakan penutup alas dengan sepatu kayu ukuran 12 x 40 x 40 cm, sesuai dengan kondisi existing tanah dasar yang dikerjakan pada tanah rawa/ gambut.
- Pembukaan Station File Frame (SFF) dari kayu ini baru dibuka setelah memenuhi daya lekat antara kayu dan tanah sudah kuat dan memenuh persyaratan yang dicantumkan.
- Pemancangan cerucuk kayu belah yang dikerjakan sedalam kurang
lebih 5 meter, tergantung kondisi tanahnya dan sudah tidak dapat lagi masuk kedalam tanah.
- Sebelum pengerjaan pemancangan kayu ini dilaksanakan, dilakukan penumpukan bahan-bahan cerucuk kayu belah tidak jauh dari lokasi pemancangan.
PASAL 11
PEKERJAAN PLESTERSAN
1. Persiapan dinding yang akan diplesteran. Bahan yang digunakan adalah pasir pasang dan semen Portland, semua bahan plesteran harus diaduk dengan mesin/tangan sesuai persyaratan Direksi, semen yang masih baik saja yang boleh dipakai.
2. Syarat adukan
Kontraktor harus membuat dolak dengan ukuran sesuai persyaratan Direksi untuk ukuran pasir, semen dan split.
a) Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, batu bata yang akan diplester terlebih dahulu disiram air sampai merata semua. Batu bata yang akan diplesteran selalu dahulu basah begitu juga plesteran yang akan di aci.
b) Kontraktor halus membuat contoh plesteran dari setiap macam plesteran sesuai yang diminta Direksi, sehingga jenis/macam pekerjaan dapat dicapai.
c) Semua plesteran dinding dengan adukan 1Pc : 4Ps
d) Plesteran dinding sudah dapat dimulai apabila atap telah terpasang.
3. Sudut-sudut plesteran
Semua sudut horizontal, luar maupun dalam serta garis tegaknya dalam pekerjaan plesteran harus dilaksanakan secara sempurna tegak dan siku sudut luar hendaknya dibuat agak bulat.
PASAL 12
PEKERJAAN KAWAT DURI
1. Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dicapai pekerjaan yang baik dan sempurna.
2. Meliputi pekerjaan pengadaan kawat duri yang dipasang diatas ring balok sebanyak 5 lajur/baris dan setiap jarak tiga meter diberi tiang baja siku 40.40.4 yang ditentukan sesuai dengan detail gambar.
PASAL 12
PEKERJAAN PENGECATAN
1. Semua bagian / bidang yang akan dicat harus terlebih dahulu digosok dengan amplas kemudian baru dicat 1 (satu) kali.
2. Bidang-bidang yang telah dicat harus dilindungi dari kotoran-kotoran lain yang dapat merusak dan menurunkan mutu dari cat tersbut.
3. Warna-warna dari cat akan ditentukan kemudian olah Pemberi Tugas dan Pengawas.
PASAL 13
PEKERJAAN PEMBERSIHAN
Pembersihan sisa pekerjaan dilaksanakan secara bertahap, untuk memudahkan pekerjaan selanjutnya. Setelah semua pekerjaan pembangunan selesai Kontraktor wajib membersihkan bekas sisa pekerjaan maupun lingkungn pekerjaan.
PASAL 14 DOKUMENTASI
Guna melengkapi laporan, kontraktor wajib membuat photo-photo pada saat 0% (nol persen), 50% (lima puluh persen) dan 100% (seratus persen). Untuk setiap item pekerjaan, photo-photo tersebut disusun rapi bersama laporan harian akan diserahkan kepada pengawas untuk dijadikan dokumen.
PASAL 15
HAL-HAL LAIN PERATURAN PENUTUP
1. Kontraktor wajib membuat papan nama kegiatan yang ukuran dan isinya akan diberitahu kemudian.
2. Hal-hal lain mengenai perubahan konstruksi dapat diselesaikan antara kontraktor, Direksi lapangan / pengawas dan harus mendapatkan dari pengendalian kegiatan.
3. Mengenai segala perizinan sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan merupakan beban kontraktor.
PASAL 16