ANALISA PENGAMATAN PROYEK
4.4 Pekerjaan Stressing Box Girder
Stressing girder merupakan proses penarikan kabel tendon yang ada didalam girder untuk menjadikan girder sebagai beton prategang. Beton prategang merupakan beton hasil pabrikan (precast) yang didesain sedemikan rupa yang fungsinya sebagai komponen struktural yang langsung menerima beban-beban lalu lintas setelah slab yang kemudian menyalurkan beban ke kolom dan diteruskan ke pondasi.
Pemberian tegangan pada kabel tendon (stressing) dapat dilakukan dengan dua sistem, yaitu : Pre-tensioning dan Post-tensioning.
Pre-tensioning, merupkan prinsip penegangan yang dilakukan sebelum tendon dicor atau sebelum beton mengeras diberi gaya prategang.
Pos-tensioning, merupakan pinsip penegangan yang dilakukan dengan kondisi beton terlebih dahulu dicor dan dibiarkan mengeras sebelum diberi gaya prategang.
Pada proyek pembangunan ini girder hasil pabrikan berasal dari Jaya Beton Indonesia dan stressing jembatan box girder menggunakan metode Pos-Tension, dimana stressing tendon dilakukan setelah pengecoran dan sesudah umur beton mencapai kuat tekan sekitar 80% fc’ atau sekitar 1 -2 hari. Stressing tendon dilakukan secara bersamaan pada kedua sisi segmen box (metode balanced).
63 4.4.1 Proses Pekerjaan Stressing Box Girder
Pelaksanaan pekerjaan stressing pada box girder adalah sebagai berikut : 1. Pemasangan Tendon
Memasukkan tendon/strand ke dalam ducting atau selonsong dengan cara di dorong / pushing. dimana jumlah tendon yang dipasang susai dengan jumlah strand yang direncanakan pada masing-masing tendon. Pemasangan tendon ini dilakukan oleh tenaga manusia dan dibutuhkan sekitar 4 orang.
2. Pemasangan Angkur
Memasukkan angkur block pada ujung tendon/strand hingga mendekati casting. Dimana pemsangan angkur block ini sebagai pengunci tendon/strand yang telah terpasang sebelumnya.
Gambar 4.43 Pemasangan Angkur 3. Pemasangan Crown Wedges
64 4. Setting Hidraulic Jack
Alat hydraulic jack digunakan untuk menarik kabel tendon.
Gambar 4.45 Pekerja sedang menyeting Hidraulyc Jack
5. Penarikan / Stressing
Setelah semua siap, maka dilakukan proses stressing. Dimana proses penarikan atau stressing ini dilakukan secara permanen dan disesuaikan dengan kalkulasi perencanaan.
Stressing dilakukan dengan menarik strand satu persatu dan dilakukan pada ujung kabel strand saja.
65 6. Pembacaan dan Pencatatan Stressing
Nilai stressing yang didapat pada Dial Hidraulic Jack dibandingkan dengan kalkulasi perencanaan. Dimana perbedaan antara nilai perencanaan dan di lapangan tidak boleh lebih dari 7%.
Gambar 4.47 Pembacaan dan Pencatatan Stressing
7. Cutting dan Patching
Cutting merupakan pekerjaan memotong sisa strand setelah stressing dilakukan. Dan untuk menjaga agar udara dan air tidak masuk ke selongsong dan tendon/strand melalui angkur maka perlu ditutup dengan semen yang biasa disebut proses patching.
66 8. Melakukan Grouting
Saluran kabel yang ditegangkan setelah betonnya dicor biasanya digrouting (diisi adukan semen) segera setelah penegangan dan pemasangan angker. Dimana grouting menggunakan masterflow dan air yang diaduk dengan menggunakan mesin pengaduk sebelum dipompakan kedalam ducting dengan mesin pompa grouting.
Beberapa fungsi grouting antara lain:
1. Mencegah getaran akibat beban hidup (vibration) 2. Mencegah karatan pada strand
3. Menjaga temperatur baja supaya tetap stabil 4. Mematikan tendon supaya tidak bergerak
67
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah pelaksanaan kerja praktek pada proyek pembangunan Jalan Layang Khusus Busway (JLKB) Kapt. Tendean – Blok M – Ciledug paket Trunojoyo ini, banyak sekali manfaat dan pelajaran yang kami peroleh dalam bidang teknik sipil, baik yang menyangkut teknis di lapangan maupun manajemen proyek. Pengalaman-pengalaman ini melengkapi pengetahuan yang kami dapatkan di bangku perkuliahan.
Antara lain mengenai aplikasi ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah dengan pekerjaan yang ada di lapangan termasuk masalah-masalah yang dihadapi. Melalui kerja praktek ini juga diketahui bahwa tidak semua teori yang diterima pada bangku kuliah dilaksanakan di lapangan, karena tata cara pelaksanaan dan alat yang digunakan mengikuti perkembangan teknologi serta berorientasi pada pengalaman.
Beberapa hal yang dapat kami simpulkan dari kerja praktek ini adalah :
a. Pembangunan Jalan Layang Khusus Busway (JLKB) Kapt. Tendean – Blok M – Ciledug paket Trunojoyo bertujuan meningkatkan keandalan Bus Transjakarta Koridor XIII dan dapat terintegritas dengan Mass Rapid Transit (MRT) sehingga memudahkan masyarakat untuk melakukan integrasi antar moda.
b. Pembangunan Jalan Layang Khusus Busway (JLKB) Kapt. Tendean – Blok M – Ciledug paket Trunojoyo terbagi menjadi beberapa zona, yaitu :
i) Zona 1 : P1-P5 sepanjang 175 m, termasuk Ramp Off ii) Zona 2 : P5-P10 sepanjang 250 m, termasuk Ramp On iii) Zona 3 : P10-P17 sepanjang 350 m
iv) Zona 4 : P17-P21 sepanjang 200 m v) Zona 5 : P21-P25 sepanjang 231 m
c. Pelaksanaan pekerjaan secara umum berjalan dengan baik, walaupun terdapat beberapa kendala yang menyebabkan keterlambatan proyek, salah satunya adalah pergeseran koordinat lapangan dengan perencanaan bagian Expansion Joint di Pier 16.
68 d. Box Girder yang digunakan pada proyek ini memiliki panjang 2,95 m dan lebar 9
m, dengan berat rata-rata 40 ton dan memiliki mutu f’c 50 Mpa dan kekuatan mutu K-600.
e. Sistem pemasangan box girder dengan metode Balance Cantilever dengan menggunakan alat Launching Gantry dan Crane.
f. Pengawasan terhadap keselamatan pekerja cukup baik. Hal ini terlihat dengan hampir seluruh pekerja menggunakan APD (Alat Pengaman Diri) pada saat jam bekerja.
g. Pengawasan dan pengendalian mutu bahan dan hasil pekerjaan cukup baik sehingga menjamin tercapainya kualitas yang disyaratkan.
5.2 Saran
Saran yang dapat diambil dari kerja praktek ini, antara lain :
a. Pengecekan kualitas alat berat sehinga tidak membuat pelaksanaan terganggu dan terhambat.
b. Penerapan K3 pada proyek sudah berjalan dengan baik terlihat dari pekerja yang sudah menggunakan APD saat berada di lapangan dan spanduk-spanduk K3 yang banyak terdapat dilokasi proyek. Namun masih ada satu dua pekerja yang masih belum menggunakan APD saat berada di lapangan, alangkah baiknya bila semua pekerja di lapangan menggunakan APD dengan lebih menggerncarkan safety patrol yang sudah dilaksanakan.