BAB II PENGELOLA PROYEK
3.2. Metode Pelaksanaan
3.2.2. Pekerjaan Struktur Bawah
Pekerjaan struktur bawah merupakan pekerjaan paling awal sebelum pekerjaan struktur yang lainnya. Perencanaan struktur bawah harus dihitung secara teliti karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan paling penting dalam proyek. Struktur bawah sebuah bangunan berfungsi menyalurkan beban dari atas ke tanah. Perencanaan struktur bawah proyek ini diawali dengan penyelidikan tanah . Penyelidikan tanah dilakukan untuk mendapatkan data – data yang diperlukan sehingga pondasi yang akan dibuat dapat menahan beban dalam jangka waktu yang panjang.
Berdasarkan hasil dari penyelidikan tanah, struktur bawah Gedung Program Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro direncanakan menggunakan pondasi sumuran dengan kedalaman dan diameter yang berbeda. Pondasi sumuran ini dipasang pada 18 titik dengan menggunakan mutu beton K-300 (25Mpa) . Pada Tabel 3.1 menunjukkan dimensi dan kedalaman masing-masing pondasi sumuran dan Gambar 3.1 menunjukkan denah pondasi sumuran sedangkan untuk potongan pondasi sumuran dapat dilihat pada Gambar 3.9.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Tabel 3.1 Dimensi dan Penulangan Pondasi Sumuran
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP Keterangan :
DF = kedalaman pondasi (m)
D = diameter pondasi sumuran (m) B = lebar pile cap (m)
TH = tinggi pile cap (m)
AS = tulangan vertikal pada pile cap AS’ = tulangan horizontal pada pile cap ASS = tulangan pada sumuran
SKS = sengkang pada sumuran
Tipe DF D B TH
AS AS’ ASS SKS
Pondasi (meter) (meter) (meter) (meter)
P100 6 1 1,2 0,3 D16-150 D16-150 10D22 D10-150 P200 8 2 2,2 0,6 D19-150 D16-150 16D25 D13-150 P225 8 2,25 2,45 0,7 D19-150 D16-150 20D25 D13-150 P250 9 2,5 2,7 0,8 D19-150 D16-150 25D25 D13-150
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.8 Denah Rencana Pondasi Sumuran dan Pile Cap Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.9 Potongan Pondasi Sumuran
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Pada proyek ini pekerjaan pertama dalam pelaksanaan pekerjaan struktur bawah yaitu penggalian tanah sesuai kedalaman pondasi sumuran yang ditentukan. Kemudian dilanjutkan dengan memasang sumuran yang berupa pipa beton kedalam lubang galian tertentu satu persatu sesuai kedalaman pondasi yang direncanakan. Selanjutnya masukan tulangan pondasi sumuran secara vertikal (pastikan tegak lurus), setelah itu didalam pondasi sumuran tersebut dicor menggunakan ready mix.
a. Pile Cap
Pile cap adalah pelat beton bertulang yang menyatukan pondasi yaitu seperti pondasi sumuran. Pile cap berfungsi untuk mngikat kolom dengan sloof. Selain itu, pile cap juga berfungsi untuk menahan gaya geser pada pembebanan yang ada. Pada proyek ini mempunyai 4 tipe pile cap yang direncanakan menggunakan mutu beton K-350 (30 Mpa). Gambar 3.8 menunjukkan denah pile cap sedangkan
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Tabel 3.1 adalah dimensi dan penulangan pile cap . Pekerjaan pile cap dilakukan setelah pondasi sumuran selesai dicor.
b. Tie Beam
Tie beam adalah balok beton bertulang yang berada di bagian tanah yang menghubungkan kaki kolom serta pengikat antar pile cap satu ke pile cap yang lain (Puspantoro, 1984). Tie beam adalah balok beton bertulang yang bertumpu pada permukaan tanah dan berfungsi untuk mennghubungkan antar pile cap sehingga apabila terjadi penurunan pada pondasi tidak merusak struktur bangunan. Pada Proyek ini menggunakan mutu beton K-300 (24,9 Mpa) Pada Gambar 3.10 menunjukkan beberapa ukuran tie beam dan untuk denah tie beam dapat dilihat pada Gambar 3.11.
Gambar 3.10 Potongan Melintang Tie Beam
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Tabel 3.2 Dimensi dan Penulangan Tie Beam
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Gambar 3.11 Denah Rencana Tie Beam
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Dimens i
Tumpuan Lapangan
Tul.
Tipe Tul. Tul.
Se ngkang
Tul. Tul.
Se ngkang
(mm) Atas B awah Atas B awah Pinggang
TB1 300 x 600 4 D25 4 D25 D10 - 100 4 D25 4 D25 D10 - 150 2 D13 TB2 300 x 600 6 D25 4 D25 D10 - 75 4 D25 6 D25 D10 - 125 - TB3 250 x 600 3 D25 3 D25 D10 - 100 3 D25 3 D19 D10 - 150 2 D13 TB4 250 x 500 3 D25 3 D25 D10 - 100 3 D25 3 D25 D10 - 150 - TBA1 250 x 600 3 D25 3 D25 D10 - 100 3 D25 6 D25 D10 - 150 2 D13
Septa Maya Anjani 15.B1.0024 3.2.3 Pekerjaan Struktur Atas
Sruktur atas dalam pembangunan Gedung Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro terdiri dari kolom, balok, core wall , pelat lantai, dan tangga dengan menggunakan beton ready mix mutu K-350 (setara dengan f’c = 29,05 MPa). Mutu baja tulangan (fy) yang digunakan sebesar 400 MPa untuk tulangan ulir dengan diameter diatas 10 mm. Untuk tulangan polos diameter 10 mm atau kurang, menggunakan mutu baja (fy) sebesar 240 Mpa. Kolom praktis, ring balok, dan bagian – bagian lain yang tidak menahan beban menggunankan Mutu K-210 ( 17,5 Mpa ). Struktur atap yang direncanakan menggunakan profil baja IWF 250 x 125 x 6 x 9.
Pekerjaan struktur atas meliputi pekerjaan penulangan, pekerjaan bekisting dan pekerjaan beton (pengecoran).
a. Kolom
Kolom merupakan batang tekan vertikal dari struktur rangka yang menahan beban dari balok dan struktur-struktur diatasnya (Khoenadi, 2015). Pekerjaan kolom Gedung Program Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro dilakukan sesuai dengan gambar rencana. Gambar 3.12 menunjukkan rencana denah kolom untuk lantai dasar. Pada proyek ini, terdapat perbedaan dimensi kolom yaitu pada lantai 1-3 menggunakan dimensi kolom 100 cm 100 cm. Untuk lantai 4-6 menggunakan dimensi klom 80 cm 80 cm hal ini bertujuan agar beban yang di tahan pondasi tidak terlalu besar karena dimensi kolom yang besar. Jarak antar kolom adalah salah satu pengaruh besar kecilnya dimensi kolom yang dipakai.Selain itu, besar kecilnya beban yang dipikul akibat struktur diatasnya juga menjadi perhitungan dimensi kolom struktur. Ada beberapa macam ukuran kolom pada proyek pembangunan ini yang dapat kita lihat pada Tabel 3.3 di bawah ini.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Tabel 3.3 Dimensi dan Penulangan Kolom
TIPE DIMENSI TUL. POKOK TUL. SENGKANG
TUMPUAN LAPANGAN K1 100 x 100 24 D25 D13 – 100 D13 – 150 K2 80 x 80 16 D25 D10 – 100 D10 – 150 K3 60 x 60 8 D25 D10 – 100 D10 – 150 K4 30 x 30 8 D19 D10 – 75 D10 – 125 KL1 20 x 40 8 D16 D10 – 75 D10 – 125 KL2 20 x 45 10 D16 D10 – 75 D10 – 125 KL3 20 x 40 6 D16 D10 – 75 D10 – 125
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Gambar 3.12 Denah Rencana Kolom Lantai Dasar
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Pada proyek Gedung Program Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro memiliki dimensi dan penulangan kolom yang berbeda. Hal ini dikarenakan fungsi gedung tiap lantai yang tidak sama atau perhitungan pembebanan struktur diatasnya.Berikut adalah Gambar 3.13 yang menunjukkan dimensi dan penulangan pada kolom.
Gambar 3.13 Dimensi dan Penulangan Kolom
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Berikut Tabel 3.4 menunjukkan tipe kolom tiap lantai yaitu :
Tabel 3.4 Tipe Kolom tiap Lantai
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Sebelum membuat kolom, diawali dengan penentuan titik kolom , pemasangan tulangan, pemasangan bekisting, dan yang terakhir pengecoran. Berikut adalah tahap – tahap pelaksanaan pekerjaan kolom- kolom pada Proyek Pembangunan Gedung Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro :
a.1 Marking Kolom
Pekerjaan ini untuk menentuukan letak as kolom dimana kolom akan berdiri. Tujuan dari marking kolom adalah supaya kolom berdiri tegak dan as kolom tidak berubah. Pekerjaan ini perlu menggunakan theodolite,tali benang, meteran, dan unting-unting (bandul). Agar tidak terjadi kesalahan dalam marking kolom dan letak as sentris dengan letak as kolom sebelunya. Pekerjaan
Lantai Tipe Kolom
Lantai dasar K1, K3, KL1, KL2, KL3 Lantai 1 K1, KL1, KL2, KL3 Lantai 2 K1, KL1, KL2, KL3 Lantai 3 K2, KL1, KL2, KL3 Lantai 4 K2, KL1, KL2, KL3 Lantai 5 K2, KL1, KL2, KL3 Lantai 6 K2, KL1, KL2, KL3 Lantai Atap K2, K4, KL1, KL2, KL3
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
ini dilakukan setelah pekerjaan pile cap dan tie beam selesai. Pekerjaan ini dilakukan oleh 2 orang 1 operator theodolite dan 1 orang pemegng statif.
a.2 Fabrikasi dan Pemasangan Tulangan Kolom
Fabrikasi tulangan kolom adalah tulangan yang dipotong, dibengkokkan dan dirakit sesuai rencana. Sebelum memulai untuk pemasangan tulangan terlebih dahulu melakukan pekerjaan fabrikasi tulangan. Pada tahap pemotongan tulangan menggunakan alat bar cutter, sedangkan untuk pembengkokan tulangan menggunakan alat bar bender. Fabrikasi tulangan biasanya dilakukan ditempat Los kerja besi atau tempat khusus untuk fabrikasi tulangan.
Setelah fabrikasi tulangan, kemudian tulangan-tulangan diangkut menggunakan mobile crane ke lokasi kolom yang direncanakan. Pada tahap pemasangan tulangan, pertama kali yang dipasang adalah tulangan pokok kemudian disatukan dengan tulangan kolom sebelumnya. Sambungan diberi overlapping tulangan atau sambungan lewatan sepanjang 40D (40 kali diameter tulangan). setelah tulangan pokok terpasang, selanjutnya dipasang tulangan sengkang . Dalam pembuatan tulangan sengkang dengan jarak sesuai gambar rencana, pada bagian sengkang terdapat jarak tumpuan dengan rumus ¼ L dan jarak lapangan dengan rumus ½ L. Jarak tumpuan lebih kecil dari jarak lapangan karena pada bagian sengkang tumpuan menerima gaya dan momen yang lebih besar dibandingkan dengan bagian sengkang lapangan. Sehingga, jarak antar tulangan sengkang harus lebih rapat. Pemasangan tulangan menggunakan kawat bendrat untuk mengikat tulangan satu dengan lainnya.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.14 Fabrikasi Penulangan dan Bekisting Sumber : Dokumentasi Kerja Praktek, 2018
Gambar 3.15 Pemasangan Tulangan Kolom Sumber : Dokumentasi Kerja Praktek, 2018
a.3 Pemasangan Bekisiting Kolom
Bekisting merupakan cetakan untuk menentukan bentuk dari konstruksi beton pada saat beton masih segar dan besiat sementara. Menurut Stephens (1985), formwork atau bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah pengecoran dan beton kering, bekisting akan dilepas atau dibongkar apabila beton yang dituang telah mencapai kekuatan yang cukup.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Pada proyek ini, setelah proses penyambungan tulangan pada kolom selesai, maka dilakukan pemasangan tahu beton (beton decking) dan bekisting kolom. Beton decking atau tahu beton adalah beton yang berbentuk silinder dengan ukuran sesuai selimut beton. Untuk proses pembuatan bekisting menggunakan polywood sebagai bahan dari bekisting kolom. Pertama melakukan pengukuran dimensi dari kolom kemudian melapisinya dengan oli agar pada saat proses pelepasan bekisting tidak menempel. Setelah sudah siap, bekisting kemudian di pasang pada tulangan kolom dengan batuan mobile crane untuk mengangkatnya. Proses berikutnya setelah pemasangan bekisting selesai yaitu pemasangan penyangga (adjuster) untuk menyangga bekisiting kolom itu sendiri. Gambar 3.16 menunjukkan pembuatan dan pemasangan bekisting yang diangkat menggunakan mobile crane.
Gambar 3.16 Perakitan dan Pemasangan Bekisting Kolom Sumber : Dokumentasi Kerja Praktek, 2018
a.4 Pengecoran Kolom
Pengecoran kolom dilakukan setelah pemasangan bekisting selesai dengan menggunakan beton ready mix mutu K-350 (30 Mpa). Beton yang digunakan diangkut menggunakan concrete mixer truck dengan volume sekitar 5 m3 dan telah memenuhi persyaratan slump test. Beton ready mix diperoleh dari PT. Pioner Beton. Pada proyek ini, PT. Aretas selaku konsultan pengawas bertanggung jawab mengawasi pengujian slump test. Nilai slump yang diminta
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
sebesar 12 ± 2 cm. Contoh pengujian slump test dapat dilihat pada Gambar 3.17. Setelah itu, diambil 4 benda uji berbentuk silinder untuk dilakukan uji kuat tekan beton jika nilai slump test telah memenuhi persyaratan.
Gambar 3.17 Uji Slump Test Kolom di Lapangan Sumber : Dokumentasi Kerja Praktek, 2018
Gambar 3.18 Pengecoran Kolom Sumber : Dokumentasi Kerja Pratek, 2018
Proses selanjutnya, adalah pengecoran dengan menggunakan alat bantu concrete pump. Concrete Pump atau pompa beton merupakan alat pompa beton yang berfungsi untuk mentransfer beton dari mixer truck ke lokasi pengecoran. Alat ini berupa pompa tunggal dan sering disebut juga pompa portable. concrete pump memiliki Keuntungan ialah tidak dibutuhkan lahan yang luas untuk operasionalnya. Boom atau lengan robot, untuk transfer beton
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
cor dari mixer truck cukup panjang. Ukuran dari concrete pump adalah jenis standar dengan panjang boom mencapai 18 meter hingga 21 meter.
Selama proses pengecoran berlangsung, untuk meratakan hasil pengecoran maka digunakan sebuah concrete vibrator. Concrete vibrator digunakan tiap 2 menit sekali untuk menghindari terjadinya segregasi pada agregat. Pengecoran kolom dihentikan ketika sudah mencapai titik bawah balok struktur diatasnya. a.5 Pembongkaran Bekisting Kolom
Bekisting pada proyek ini bisa digunakan 2 – 3 kali dalam pemakaian pengecoran selanjutnya. Pembongkaran bekisting tidak membongkar seluruhnya hanya dikendorkan saja pada bagian tie rod yang terletak disamping kolom kemudian di tarik keatas dengan mobile crane. Hal itu dilakukan jika kolom diatasnya menggunakan ukuran yang sama. Pelepasan bekisting dilakukan saat beton dianggap mengeras atau minimal 72 jam setelah pengecoran selesai. Gambar 3.19 menunjukkan pembongkaran bekisting kolom.
Gambar 3.19 Pembongkaran Bekisting Kolom Sumber : Dokumentasi Kerja Pratek, 2018 b. Balok dan Pelat Lantai
Balok merupakan struktur bangunan terbuat dari bahan beton yang letaknya datar sebagai elemen horisontal. Balok menahan beban vertikal seperti berat sendiri balok, berat pelat lantai, berat dinding dan beban hidup selain itu, juga mendukung beban horizontal berupa beban gempa dan tekanan angin, kemudian menyalurkan beban-beban tersebut ke kolom. Selanjutnya, kolom
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
menyalurkannya ke pondasi. Pada Gambar 3.20 pekerjaan balok pada Gedung Program Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro dilaksanakan sesuai denah rencana balok pada lantai 2.
Perencanaan balok pada proyek ini memliliki 20 tipe. Masing-masing tipe mempunyai ukuran yang berbeda sesuai dengan beban yang dipikul. Dari Tabel 3.5 kita dapat mengetahui dimensi dan penulangan masing-masing balok struktur.
Gambar 3.20 Denah Rencana Balok Lantai 2
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Tabel 3.5 Perencanaan Dimensi dan Penulangan Balok Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Pelat lantai merupakan lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung tetapi merupakan lantai tingkat pembatas antara tingkat lain. Pelat lantai didukung oleh balok-balok dengan kolom yang menjadi tumpuannya.
Pada Proyek ini, pekerjaan balok dan pelat lantai dimulai dari pemasangan perancah, pekerjaan penulangan, pemasangan bekisting, dan diakhiri dengan pengecoran pelat lantai. Untuk tahap-tahap pekerjaan balok dan pelat lantai di lapangan adalah sebagai berikut :
b.1 Pemasangan Perancah ( Scaffolding )
Perancah merupakan konstruksi sementara dalam pelaksanaan konstruksi yang berfungsi untuk memikul bekisting balok dan pelat lantai, namun juga memiliki fungsi sebagai pemikul beban pekerja diatasnya yang mengerjakan pekerjaan balok dan pelat lantai. Ada beberapa bagian dari perancah yaitu main
Dimens i Tumpuan Lapangan Tul.
Tipe Tul. Tul. Tul. Tul.
(mm) Se ngkang Se ngkang Pinggang
Atas B awah Atas B awah
B1 400 x 800 6 D25 3 D25 D10 - 75 3 D25 6 D25 D10 - 125 4 D13 B2 400 x 700 7 D25 4 D25 D10 - 75 4 D25 7 D25 D10 - 125 2 D13 BL 200 x 400 3 D19 3 D19 D10 - 100 3 D19 3 D19 D10 - 150 - B1C 300 x 800 3 D25 2 D25 D10 - 100 2 D25 3 D25 D10 - 150 4 D13 B2C 300 x 700 3 D25 2 D25 D10 - 100 2 D25 3 D25 D10 - 150 2 D13 BD1 300 x 800 4 D25 3 D25 D10 - 75 3 D25 4 D25 D10 - 125 4 D13 BD2 300 x 700 5 D25 3 D25 D10 - 75 3 D25 5 D25 D10 - 125 2 D13 BT1 400 x 800 6 D25 3 D25 D10 - 100 3 D25 6 D25 D10 - 150 4 D13 BT2 300 x 700 4 D25 3 D25 D10 - 75 3 D25 4 D25 D10 - 125 4 D13 BA1 250 x 600 3 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 3 D19 D10 - 150 2 D10 BA2 250 x 400 3 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 3 D19 D10 - 150 - BR1 300 x 700 3 D25 3 D25 D10 - 75 3 D25 3 D25 D10 - 125 8 D25 BR2 700 x 300 6 D25 6 D25 D10 - 75 6 D25 6 D25 D10 - 150 2 D25 B1CK 300 x 800 3 D25 2 D25 D10 - 100 3 D25 2 D25 D10 - 150 2 D13 B2CK 300 x 700 3 D25 2 D25 D10 - 100 3 D25 2 D25 D10 - 150 2 D13 BD3K 400 x 600 6 D25 4 D25 D10 - 75 4 D25 6 D25 D10 - 125 2 D13 BA1K 250 x 600 3 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 2 D19 D10 - 150 2 D10 BA2K 250 x 400 3 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 2 D19 D10 - 150 - BDA1 300 x 700 3 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 3 D19 D10 - 150 2 D13 BDA2 250 x 400 4 D19 2 D19 D10 - 100 2 D19 2 D19 D10 - 150 -
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
frame, cross brace sebagai pengaku perancah, jack base sebagai penyangga bawah, u head sebagai penyangga atas, serta balok gelagar. Bagian atas u head dipasang balok gelagar kemudian diatasnya di pasang balok suri (balok yang menyalurkan beban-beban dari bekisting ke scaffolding) sebagai tumpuan perancah. Pekerjaan ini dikerjakan oleh 15 tukang kayu sekaligus mengerjakan pemasangan bekisting balok dan pelat lantai dengan perancah dipasang tiap jarak 1 meter.
Gambar 3.21 Pemasangan Scaffolding Sumber : Dokumentasi Kerja Pratek, 2018
b.2 Pemasangan Bekisting Balok
Pengecoran balok pada suatu proyek sangat diperlukan ketelitian mulai dari pembesian, pembuatan cetakan/ bekisting hingga pengecorannya. Maka dari itu, sebuah bekisting balok harus dibuat dengan teliti agar bekisting rata, kuat, siku dan lurus.
Setelah pemasangan perancah, balok suri-suri diletakkan di atas balok gelagar. Setelah bekisting dipasang kemudian dikunci dengan siku yang berada diatas balok suri-suri. Pemasangan bekisting balok dikerjakan oleh 15 orang tukang kayu sekaligus memasang perancah dan memasang bekisting pelat lantai.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.22 Pemasangan Bekisting Balok Sumber : Dokumentasi Kerja Pratek, 2018
b.3 Fabrikasi dan pemasangan tulangan balok
Pertama kali yang dilakukan sebelum pemasangan tulangan balok adalah fabrikasi/perakitan tulangan balok. Pada proyek ini, fabrikasi tulangan dilakukan di tempat khusus yaitu los kerja besi untuk tempat memotong dan membengkokkan. alat –alat yang digunakan untuk fabrikasi besi antara lain bar bender (untuk membengkokkan tulangan) dan bar cutter (untuk memotong tulangan). Kemudian tulangan balok diangkat dengan mobile crane dan dirakit langsung di lokasi balok sesuai shop drawing. Setelah itu tulaga balok, bagia alas dan samping balok diberi beton decking yang bertujuan untuk memberi jarak selimut beton antara bekisting dan tulangan. Tulangan balok di dalam bekisting dan ujung dari balok diletakkan pada bagian dalam tulangan kolom sepanjang 25D (25 kali diameter tulangan) sebagai penjangkaran. Tulangan diberi kawat bendrat untuk mengikat tulangan dan sengkang balok. Ada 2 macam sengkang yaitu sengkang tumpuan merupakan sengkang pada ¼ bentang dari samping kiri atau kanan balok. Sedangkan sengkang lapangan merupakan sengkang yang terletak ditengah-tengah balok disepanjang ½ bentang.
Jarak sengkang tumpuan dipasang merapat sedangkan sengkang lapangan dipasang lebih longgar. Hal itu terjadi karena pada sengkang tumpuan memikul
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
gaya dan momen yang lebih besar dibandingkan pada sengkang lapangan. Pada pekerjaan ini dikerjakan oleh 11 orang tukang besi. Gambar 3.23 menunjukkan pemasangan tulangan balok.
Gambar 3.23 Pemasangan Tulangan Balok Sumber : Dokumentasi Proyek, 2018
b.4 Pemasangan bekisting pelat lantai
Setelah pemasangan bekisting balok dan penulangan selanjutnya adalah pemasangan bekisting pelat lantai. Perancah disusun sejajar dengan perancah balok. Untuk perancah pelat lantai lebih tinggi daripada balok. Pada U-head dipasang balok kayu dan diatas balok kayu dipasang balok suri-suri dengan arah melintangnya. Setelah itu dipasang alas pelat dari polywoo.. Pekerjaan ini dikerjakan 15 tukang kayu sama dengan orang yang mengerjakan pekerjaan balok. Pemasangan bekisting pelat lantai dapat dilihat pada Gambar 3.24 dibawah ini.
Gambar 3.24 Pemasangan Bekisting Pelat Lantai
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
b.5 Fabrikasi dan pemasangan tulangan pelat lantai
Fabrikasi tulangan pelat dilakukan dengan alat – alat antara lain bar bender (alat untuk membengkokkan tulangan) dan bar cutter (alat untuk memotong tulangan). Besi – besi tulangan diangkut ke lokasi menggunakan mobile crane. Selanjutnya, pemasangan beton decking untuk memberikan jarak selimut beton.
Kemudian pemasangan tulangan bawah pelat lantai dan tulangan atasnya .Penaymbungan dilakukan dengan menggunakan kawat bendrat. Pekerjaan ini dikerjakan oleh 11 tukang besi. Pada Gambar 3.25 menunjukkan peemasangan tulangan pelat lantai.
Gambar 3.25 Pemasangan Tulangan pada Pelat Lantai Sumber : Dokumentasi Proyek, 2018
b.6 Pengecoran balok dan pelat lantai
Setelah bekisting dan penulangan selesai berikutnya adalah tahap pengecoran balok dan pelat lantai. Pekerjaan ini menggunakan beton ready mix yang diangkut dengan concrete mixer truck. Sebelum itu, dilakukan pembersihan bekisting sampai benar – benar bersih menggunakan air compressor. Tahap pertama, setelah concrete mixer truck datang maka diambil sampel untuk uji slump test. Setelah hasil uji slump test disetujui, kemudian mempersiapkan concrete mixer truck dan concrete pump. Boom atau lengan robot mentransfer ready mix dipasang sampai menjangkau balok dan pelat
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
yang akan dicor. Pada Gambar 3.26, ready mix disemprotkan pada balok dan pelat lantai. Beton yang telah di cor diratakan dengan garu seperti Gambar 3.27 kemudian dilakukan pemadatan dengan concrete vibrator.
Pemadatan beton cor ini dilakukan agar kualitas beton yang dihasilkan terhindar dari rongga – rongga udara dalam beton. Tetapi, perlu diingat penggunaan concrete vibrator ini maksimal digunakan selama 2 menit agar tidak terjadi segregasi agregat. Pekerjaan ini dikerjakan oleh 15 tukang cor, 4 orang operator vibrator, dan 4 orang operator concrete pump.
Gambar 3.26 Pengecoran Pelat Lantai dan Balok Sumber : Dokumentasi Proyek, 2018
Gambar 3.27 Perataan Permukaan Pelat Lantai
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
b.7 Pembongkaran bekisting balok dan pelat lantai.
Setelah pekerjaan pengecoran yaitu tahap pembongkaran perancah dan bekisting pelat lantai yang dilakukan setelah 7 hari selama pengecoran selesai dan 10 hari untuk bekisting balok. Pembongkaran ini dilakukan tidak bersamaan.
c. Tangga
Tangga adalah salah satu konstruksi yang berfungsi sebagai penghubung antara lantai bawah dengan lantai atasnya. Walaupun suatu bangunan terdapat lift tetapi tangga tetap harus dibuat dimana tangga ini bisa jadi akses darurat apabila lift sedang macet atau rusak.
Pada proyek pembangunan Gedung Program Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, pelaksanaan struktur tangga dilakukan sesuai shop drawing. Pada Gambar 3.28 menunjukkan denah tangga. Proyek ini terdapat 2 tipe tangga yaitu tangga utama dan tangga darurat. Tangga utama pada proyek ini berbentuk “U” dengan lebar tangga 160 cm dengan antrade 30 cm dan optrade 17,2 cm. Tangga utama terletak di samping lift. Sedangkan untuk tangga darurat memiliki lebar tangga 145 cm dengan antrade 30 cm dan optrade 17,2 cm. Untuk denah setiap tipe tangga dapat dilihat pada Gambar 3.29.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.28 Denah Rencana Tangga
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.29 Denah Tangga Tipe 1 dan 2 Lt. 1-2
Sumber : Shop Drawing Gedung Program Magister dan Doktor FSM UNDIP
Berikut adalah langkah – langkah dari pelaksanaan struktur tangga pembangunan Gedung Magister dan Doktor Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro :
c.1 Pemasangan perancah
Sebelum memulai pekerjaan bekisting tangga perlu diperhatikan ketinggian atau elevasi dibawahnya apakah perlu menggunakan perancah kayu saja atau dengan perancah besi ( scaffolding ). Untuk proyek ini menggunakan perancah besi dan pemasangan perancah untuk balok bordes iseperti Gambar 3.30 dilakukan oleh 2 orang tukang kayu sekaligus mengerjakan bekisting tangga.
Septa Maya Anjani 15.B1.0024
Gambar 3.30 Pemasangan Perancah Tangga Sumber : Dokumentasi Kerja Praktek, 2018
c.2 Pemasangan bekisting tangga
Pemasangan bekisting tangga ini tidak perlu difabrikasi dulu secara khusus karena dapat dilakukan saat penyetelan langsung. Hanya saja, saat penyetelan harus diperhatikan posisi kemiringan badan tangga. Maka dari itu, fungsi perancah dibawahnya sangat penting untuk menahan beban dan mempertahankan kemiringan tangga. Kemiringan tangga yang ditentukan