• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELA ANTARA NEGERI LATUHALAT DAN NEGERI ALANG

Debby Latukolan, S.Pd.

D

i Pulau Ambon, ada satu negeri namanya Negeri Alang. Di Negeri Alang ini ada salah satu keluarga bangsawan yang mempunyai marga Huwae. Keluarga bangsawan ini mempunyai satu anak laki-laki yang bernama Petrus Huwae. Anak ini masih bujangan. Pekerjaan Petrus Huwae ini sebagai seorang petani, tetapi dia juga suka berburu. Suatu hari Petrus menyampaikan keinginannya kepada bapaknya bahwa dia ingin pergi berburu.

“Ayah, saya ingin pergi berburu. Tolong berikan beberapa orang pengawal untuk pergi berburu bersama-sama,” pintanya.

“Iya anakku, kapan engkau akan pergi berburu? Ayah akan memberikan beberapa orang pengawal untuk pergi bersamamu.”

Hari yang ditentukan tiba. Ayahnya memberikan beberapa orang pengawal untuk pergi bersama-sama Petrus. Petrus bersama pengawal-pengawalnya berjalan menyusuri daerah sekitar Pulau Ambon dan tidak terduga mereka telah sampai di pesisir Pantai Latuhalat yang bernama Malulang.

Ketika Petrus bersama pengawalnya berjalan-jalan di seputaran Pantai Malulang, tiba-tiba Petrus melihat seorang gadis cantik dan manis parasnya. Petrus segera mendekati gadis itu untuk berkenalan dengannya. Petrus benar-benar telah jatuh hati kepadanya.

Petrus bertanya pada gadis itu, “Hai gadis cantik, siapakah namamu? Bolehkah saya berkenalan denganmu?”

Dengan tersipu malu gadis itu mau berkenalan dengan Petrus dan menyebutkan namanya. “Nama saya Costantia Lekatompessy.” Gadis itu tersipu.

Petrus senang sekali bisa berkenalan dengan Costantia. Setelah berkenalan dengan Costantia, Petrus bersama pengawal-pengawalnya segera pulang kembali ke Alang. Sesampainya mereka di Alang, Petrus segera menemui orang tuanya. Petrus hendak segera mengungkapkan perasaan hatinya itu.

“Ayah dan Ibu, tadi saya bertemu dengan seorang gadis yang cantik di Pantai Latuhalat. Kami berdua sudah berkenalan. Namanya Costantia dengan marga Lekatompessy. Saya benar-benar telah jatuh cinta kepadanya. Apakah Ayah dan Ibu mau meminang dia menjadi istriku?” pinta Petrus.

Mendengar perkataan anak mereka, segeralah orang tuanya mengumpulkan kaum keluarga dan semuanya setuju dengan maksud anak mereka Petrus Huwae untuk meminang Costantia. Tidak lama, berkumpullah keluarga bangsawan Petrus Huwae untuk segera berangkat bertemu dengan orang tua dan keluarga Costantia Lekatompessy di Latuhalat.

Kedatangan semua keluarga Petrus Huwae diterima dengan baik oleh keluarga Costantia. Orang tua Petrus dan keluarganya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Latuhalat.

“Kami datang dari Negeri Alang. Pertama-tama, kami keluarga besar Huwae meminta maaf kepada keluarga besar Lekatompessy kalau kedatangan kami membuat keluarga besar Lekatompessy bertanya-tanya ada apa yang terjadi. Kami datang dari Negeri Alang untuk meminang anak gadis bapa, ibu, dan saudara semua yang bernama Costantia untuk menjadi istri anak kami Petrus Huwae, karena mereka sudah saling cinta,” jelas juru bicara yang dipercayakan keluarga Huwae.

Keluarga besar Costantia setuju dan mengabulkan permintaan dari keluarga Petrus dan mereka langsung menentukan tanggal dan hari perkawinan anak-anak mereka. Keluarga dari Petrus Huwae begitu senang sekali karena permintaan mereka disetujui oleh keluarga Costantia.

Sesudah selesai perundingan, keluarga bangsawan Alang kembali pulang ke Alang dengan menggunakan Arumbai. Setelah para tamu kembali pulang, datanglah satu moyang dari keluarga Costantia Lekatompessy bernama moyang Sakti Tawan. Moyang tersebut datang kepada kedua orang tua serta sanak keluarga dan mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan pertemuan yang telah dilakukan oleh kedua keluarga dan dia tidak ingin memberikan anak gadis mereka, Costantia, untuk menjadi istri dari anak bangsawan Alang.

“Saya tidak setuju dengan pertemuan yang sudah dilakukan oleh kalian semua. Saya juga tidak ingin memberikan Costantia ini menjadi istri dari orang Alang tadi,” bentak Moyang Sakti Tawan.

Semua keluarga yang ada sangat terkejut dan mereka akan merasa malu kepada keluarga bangsawan Alang jika hal itu terjadi. Namun, moyang Sakti Tawan mempunyai suatu rencana yang disampaikan kepada keluarga Costantia.

“Jangan kalian terkejut dan takut, nanti saya akan membuat sebuah patung (boneka) yang persis sekali dengan Costantia. Patung itu terbuat dari isi batang sagu. Patung itu bisa berjalan, duduk, isap rokok, dan tersenyum. Hanya patung itu tidak bisa berbicara.

Keluarga menyetujui rencana dari Moyang Sakti Tawan. Moyang Sakti Tawan memberi perintah kepada hamba-hambanya untuk pergi ke hutan dan menebang sebatang pohon sagu yang ada di dalam dusun yang bernama Waaipuang. Mereka harus membelah batang sagu itu, mengambil isi

batang sagu atau disebut meor dan membawanya kepada Moyang Sakti Tawan.

Hamba-hambanya pergi ke hutan dan mereka mengerjakan semua perintah dari Moyang Sakti Tawan. Mereka membawa isi batang sagu/meor itu kepada Moyang Sakti Tawan. Moyang Sakti Tawan mulai mengukir isi batang sagu tersebut serupa dan sepadan dengan anak Costantia.

Moyang Sakti Tawan juga menyuruh hamba-hambanya untuk memotong kayu guna membuat satu Arumbai yang akan dipakai nanti pada hari yang telah ditentukan saat Costantia harus keluar dari Latuhalat menuju Alang. Nantinya patung atau boneka itu harus naik ke Arumbai yang sudah dibuat. Moyang Sakti Tawan juga menyuruh membuat sebuah lubang di belakang Arumbai. Setelah semua sudah dikerjakan oleh hamba-hambanya, ia memeriksa Arumbai itu dan dia dapati masih kurang satu lubang di bagian belakang.

Setelah tiba hari yang telah ditentukan, datanglah orang tua Petrus beserta keluarganya dengan menggunakan Arumbai. Mereka singgah di Pantai Malulang, tempat kediaman Costantia. Mereka disambut dengan begitu meriah oleh keluarga Costantia. Tifa dan Totobuang dipakai untuk memeriahkan acara penyambutan tersebut.

Sebelum keluarga bangsawan Alang kembali ke Alang, Moyang Sakti Tawan menunjuk seorang dayang yang dipercayai untuk nantinya duduk bersama-sama dengan anak gadis di dalam Arumbai itu. Moyang Sati Tawan memberi perintah kepada dayang bahwa saat mereka telah sampai di Tanjung Nama Hatu dan wajah boneka atau patung itu menunduk ke air, dia harus mengangkat pantat patung atau boneka itu dan menceburkannya ke air laut sebelum mereka tiba di Alang.

Sesampainya para keluarga bangsawan Alang tiba di tanjung Nama Hatu maka dayang itu menjalankan perintah

dari Moyang Sakti Tawan. Saat patung atau boneka itu menunduk mukanya ke dalam air laut, pada saat itu juga dayang mengangkat pantat patung itu dan patung atau boneka itu jatuh ke dalam laut dan tenggelam. Dayang itu berteriak dengan suara yang keras bahwa tuan Putri (Costantia) sudah tenggelam.

Ketika anak bangsawan Alang (Petrus Huwae) ini mendengar bahwa istrinya tenggelam, maka dengan tidak ragu-ragu Petrus Huwae menerjunkan dirinya ke dalam laut untuk menolong istrinya. Tetapi sayang, Petrus tidak mendapati istrinya yang tenggelam itu. Sebaliknya, tubuh Petrus berubah menjadi seekor buaya. Pada saat yang bersamaan, Costantia yang selama itu bersembunyi di atas solder di Malulang juga segera berubah menjadi seekor buaya tembaga. Buaya tembaga itu ada sampai saat ini di dalam mata rumah marga Lekatompessy.

Sesudah tiga hari berlalu, patung atau boneka itu terdampar di pelabuhan Liliboy. Lalu orang Liliboy mengatakan bahwa orang Alang telah tertipu. Sangka mereka pastilah mata orang Alang buta sehingga meor sagu disangka orang. Sejak saat itu, orang tua bangsawan Alang datang kembali ke Latuhalat untuk mengangkat satu perjanjian persaudaraan yang disebut pela antara Negeri Latuhalat dan Negeri Alang.