• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelabelan Harmonious dari Graf Hasil Penjumlahan

BAB II PELABELAN HARMONIOUS PADA HASIL OPERASI GRAF

3.2 Pelabelan Harmonious dari Graf Hasil Penjumlahan

Pada Subbab 2.3 telah dijelaskan mengenai operasi penjumlahan pada graf. Teorema 3.2 menyatakan bahwa graf hasil penjumlahan graf harmonious yang banyak simpul sama dengan banyak busurnya dengan graf yang tidak memiliki busur adalah harmonious.

Teorema 3.2

Jika šŗā€² adalah graf harmonious dan š‘‰ šŗā€² = |šø(šŗā€²)|. Maka šŗ = šŗā€² + š¾ š‘š

adalah graf harmonious. Bukti

Misalkan šø šŗā€² = |š‘‰(šŗā€²)| = š‘› dan š‘‰ š¾ = š‘š maka šø šŗ =š‘š

šø šŗā€² + šø š¾ + š‘‰ šŗš‘š ′ š‘‰ š¾ = š‘› + 0 + š‘›š‘š = š‘›(š‘š + 1). Untuk š‘š mempermudah dimisalkan š‘˜ = š‘š + 1 maka label harmonious dari graf šŗ merupakan anggota dari ā„¤š‘˜š‘›.

Misalkan š‘‰ šŗ = {š‘£1, š‘£2, … , š‘£š‘›+š‘š} dengan š‘£1, š‘£2, … , š‘£š‘š ∈ š‘‰(š¾ ) dan š‘š š‘£š‘š+1, š‘£š‘š+2, … , š‘£š‘›+š‘š ∈ š‘‰ šŗā€² . Misalkan šæā€² adalah pelabelan harmonious dari šŗā€². Fungsi šæ: š‘‰ šŗ → ā„¤š‘˜š‘› didefinisikan sebagai

šæ š‘£š‘– = š‘– untuk 1 ≤ š‘– ≤ š‘š š‘“0(šæā€² š‘£š‘– ) untuk š‘š + 1 ≤ š‘– ≤ š‘› + š‘š

22

dengan š‘“0 adalah fungsi transisi yang memetakan elemen ā„¤š‘› ke ā„¤š‘˜š‘›.

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa šæ adalah label harmonious dari šŗ. šæ merupakan label harmonious dari šŗ jika dan hanya jika šæ adalah fungsi injektif dan ketika setiap busur š‘„š‘¦ ∈ šø(šŗ) dilabel dengan š‘Š(š‘„š‘¦) = šæ(š‘„) + šæ(š‘¦) menghasilkan label busur yang berbeda.

Pertama akan dibuktikan bahwa šæ adalah fungsi injektif. Untuk sem-barang simpul š‘£š‘–, š‘£š‘— ∈ š‘‰ šŗ , š‘– < š‘— akan dibuktikan bahwa šæ š‘£š‘– ≠ šæ(š‘£š‘—). Pembuktian dibagi menjadi 3 kasus. Kasus pertama untuk 1 ≤ š‘– < š‘— ≤ š‘š atau š‘£š‘–, š‘£š‘— ∈ š‘‰(š¾ ). Kasus kedua untuk 1 ≤ š‘– ≤ š‘š < š‘— ≤ š‘š + š‘› atau š‘£š‘š š‘– ∈ š‘‰(š¾ ) š‘š dan š‘£š‘— ∈ šŗā€². Kasus ketiga untuk š‘š + 1 ≤ š‘– < š‘— ≤ š‘š + š‘› atau š‘£š‘–, š‘£š‘— ∈ š‘‰(šŗā€²). Ketiga kasus ini diilustrasikan pada Gambar 3.4.

Untuk kasus pertama jika 1 ≤ š‘– < š‘— ≤ š‘š. šæ š‘£š‘– = š‘– dan šæ š‘£š‘— = š‘— . Karena 0 < 1 ≤ š‘– < š‘— ≤ š‘š < š‘˜š‘› berdasarkan Lema 2.1 maka šæ š‘£š‘– ≠ šæ š‘£š‘— . Untuk kasus kedua jika 1 ≤ š‘– ≤ š‘š < š‘— ≤ š‘š + š‘› maka šæ š‘£š‘– = š‘– dan šæ š‘£š‘— = š‘“0 šæā€² š‘£š‘— = š‘š‘˜ = š‘(š‘š + 1) untuk suatu nilai š‘. Karena 0 < š‘– < š‘˜ jelas bahwa šæ š‘£š‘– ≠ šæ š‘£š‘— .

Untuk kasus ketiga jika š‘š + 1 ≤ š‘– < š‘— ≤ š‘š + š‘›, maka šæā€² š‘£š‘– ≠ šæā€²(š‘£š‘—) karena šæā€² adalah label harmonious. Menurut Lema 3.2 š‘“0 adalah fungsi injektif sehingga š‘“0 šæā€² š‘£š‘– ≠ š‘“0(šæā€² š‘£š‘— ), artinya šæ š‘£š‘– ≠ šæ(š‘£š‘—).

G′ K m

Kasus 1

Kasus 2

Kasus 3

Gambar 3.4 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 simpul untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.2

23

Dari ketiga kasus di atas didapat bahwa untuk sembarang simpul š‘£š‘–, š‘£š‘— ∈ š‘‰ šŗ , š‘– ≠ š‘— maka šæ š‘£š‘– ≠ šæ(š‘£š‘—). Oleh karena itu terbukti bahwa šæ adalah fungsi injektif.

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa ketika setiap busur š‘„š‘¦ dilabel dengan š‘Š(š‘„š‘¦) = šæ(š‘„) + šæ(š‘¦) menghasilkan label busur yang berbeda. Jika š‘Šā€²adalah label busur dari šŗā€² maka untuk š‘£š‘–š‘£š‘— ∈ šø šŗā€² diperoleh

š‘Š š‘£š‘–š‘£š‘— = šæ š‘£š‘– + šæ š‘£š‘—

= š‘“0 šæā€² š‘£š‘– + š‘“0 šæā€² š‘£š‘—

= š‘“0 šæā€² š‘£š‘– + šæā€² š‘£š‘— berdasarkan Lema 3.3

= š‘“0 š‘Šā€² š‘£š‘–š‘£š‘—

Jika š‘£š‘–š‘£š‘— āˆ‰ šø(šŗā€²) dengan š‘– < š‘— maka š‘£š‘– ∈ š‘‰(š¾ ) dan š‘£š‘š š‘— ∈ š‘‰(šŗā€²) sehingga š‘Š š‘£š‘–š‘£š‘— = šæ š‘£š‘– + šæ š‘£š‘—

= š‘– + š‘“0 šæā€² š‘£š‘– = š‘“š‘– 0 + š‘“0 šæā€² š‘£š‘—

= š‘“š‘– šæā€² š‘£š‘—

Dengan menggunakan Lema 3.4 selanjutnya busur-busur di šŗ akan dikelompokkan sebagai berikut:

šø0 = {š‘„š‘¦|š‘„, š‘¦ ∈ š‘‰ šŗā€² } šø1 = {š‘„š‘£1|š‘„ ∈ š‘‰ šŗā€² , š‘£1 ∈ š‘‰(š¾ )} š‘š

24

šøš‘š = {š‘„š‘£š‘š|š‘„ ∈ š‘‰ šŗā€² , š‘£š‘š ∈ š‘‰(š¾ )} š‘š Pengelompokan ini diilustrasikan pada Gambar 3.5

Dari penjabaran label busur š‘Š diatas didapat untuk š‘„š‘¦ ∈ šø0 label busur š‘Š š‘„š‘¦ ∈ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜ (berdasarkan Lema 3.4) dan untuk š‘„š‘¦ ∈ šøš‘–, š‘– ≠ 0 label busur š‘Š š‘„š‘¦ ∈ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘– (berdasarkan Lema 3.4). Untuk sembarang

š‘’1, š‘’2 ∈ šø šŗ , š‘’1 ≠ š‘’2 dan š‘’1 ∈ šøš‘–, š‘’2 ∈ šøš‘— terdapat 2 kasus yaitu pertama š‘– ≠ š‘— dan kedua š‘– = š‘—. Lebih lanjut lagi kasus kedua dibagi menjadi 2 kasus yaitu kasus 2a dimana š‘– = š‘— = 0 dan kasus 2b dimana š‘– = š‘— ≠ 0. Gambar 3.6 menunjukkan ilustrasi dari ketiga kasus tersebut.

G′ K m Kasus 2b Kasus 1 Kasus 1 Kasus 2a G′ K m E0 (a) G′ (b) K m G′ (c) K m v1 E1 vi Ei

Gambar 3.5 Ilustrasi pengelompokan busur (a) E0 (b) E1(c) Ei

Gambar 3.6 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 busur untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.2

25

Kasus pertama adalah š‘– ≠ š‘—. Anggap š‘— > š‘–. Didapat 0 < š‘— āˆ’ š‘– < š‘˜. Ambil š‘– ∈ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜ + š‘– dan š‘— ∈ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘— . Diketahui š‘— āˆ’ š‘– = š‘— āˆ’ š‘– . Misalkan š‘Ž ∈ š‘— āˆ’ š‘– , berarti š‘Ž āˆ’ š‘— āˆ’ š‘– = š‘žš‘˜š‘› tetapi š‘Ž = š‘— āˆ’ š‘– + š‘žš‘˜š‘› ≠ š‘˜š‘„ + š‘žš‘˜š‘›, āˆ€š‘„ ∈ ℤ. Oleh karena itu š‘— āˆ’ š‘– ≠ š‘˜š‘„ , āˆ€š‘„ ∈ ℤ yang berarti š‘— āˆ’ š‘– āˆ‰ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜. Dari Teorema 2.2 didapat bahwa š‘– dan š‘— tidak berada pada koset yang sama atau dapat ditulis ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘– ≠ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘— . Dari Teorema 2.1 didapat bahwa (ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘– ) ∩ ā„¤š‘˜š‘› |š‘˜+ š‘— = āˆ… yang mengakibatkan š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š(š‘’2).

Kasus kedua adalah š‘– = š‘—. Kasus 2a adalah š‘– = š‘— = 0 atau š‘’1, š‘’2 ∈ šø(šŗā€²). Karena šŗā€² adalah graf harmonious maka š‘Šā€² š‘’1 ≠ š‘Šā€² š‘’2 . Karena š‘“0

adalah fungsi injektif (Lema 3.2) maka š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š š‘’2 . Kasus 2b adalah š‘– = š‘— ≠ 0 atau š‘’1, š‘’2 āˆ‰ šø(šŗā€²). Misalkan š‘’1 = š‘¢1š‘£š‘– dan š‘’2 = š‘¢2š‘£š‘— = š‘¢2š‘£š‘–. Maka š‘Š š‘’1 = š‘“š‘–(šæā€² š‘¢1 ) dan š‘Š š‘’2 = š‘“š‘–(šæā€² š‘¢2 ). Diketahui šæā€² š‘¢1 ≠ šæā€²(š‘¢2) karena šæā€² adalah label harmonious. Karena š‘“š‘– adalah fungsi injektif (Lema 3.2) maka š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š(š‘’2). Dari kasus-kasus tersebut didapatkan bahwa label busur š‘Š berbeda.

Karena šæ adalah fungsi injektif dan ketika setiap busur š‘„š‘¦ dilabel dengan š‘Š(š‘„š‘¦) = šæ(š‘„) + šæ(š‘¦) menghasilkan label busur yang berbeda maka šæ adalah label harmonious dari šŗ. āˆŽ

Gambar 3.7 menunjukkan Pelabelan harmonious dari graf korona š¶3. š¾1 dan Gambar 3.8 menunjukkan pelabelan harmonious dari hasil operasi penjumlahan graf tersebut dengan š¾ . 2

26

Gambar 3.7 Pelabelan harmonious pada C3∘K1

š¶3∘ š¾1 merupakan graf harmonious dengan pelabelan harmonious seperti yang diberikan pada Gambar 3.7. Simpul-simpul dari š¾ pada graf (š¶2 3∘ š¾1) + š¾2

dilabel dengan 1 dan 2. Simpul-simpul dari š¶3∘ š¾1 akan dilabel dengan šæ š‘£ = š‘“0 šæā€² š‘£ = 3šæā€² š‘£ . Contohnya untuk simpul š‘£ dengan label 3 Pada Gambar 3.7 dilabel dengan šæ š‘£ = 3 3 = 9 pada graf hasil operasi

penjumlahan (Gambar 3.8). Dengan mengikuti rumus pelabelan pada bukti Teorema 3.2, maka dapat diperoleh pelebalan untuk ((š¶3∘ š¾1) + š¾ pada 2 Gambar 3.8 berikut.

27

3.3 Pelabelan Harmonious dari Graf Hasil Kali Kartesian

Pada Subbab 2.3 juga telah dijelaskan tentang operasi perkalian kartesian pada graf. Teorema 3.3 menyatakan bahwa graf hasil kali kartesian dari graf harmonious yang banyak simpul sama dengan banyak busurnya dengan graf path dengan panjang 2 (atau š‘ƒ2) adalah harmonious. Lema 3.5 berikut dibutuhkan untuk membantu pembuktian Teorema 3.3.

Lema 3.5

Misalkan š‘– , š‘— ∈ ā„¤š‘› dengan n ganjil. Jika š‘– ≠ š‘— maka 2š‘– ≠ [2š‘—]. Bukti

Misalkan 2š‘– = [2š‘—] maka berlaku 2š‘– ∈ [2š‘—] yang berarti 2š‘– āˆ’ 2š‘— = š‘žš‘› untuk suatu š‘ž ∈ ℤ. Karena š‘› ganjil maka š‘ž genap, maka diperoleh š‘– āˆ’ š‘— = š‘žā€²š‘› untuk š‘žā€² = š‘ž/2, atau dapat ditulis š‘– = š‘— + š‘žā€²š‘›. Untuk sembarang š‘Ž ∈ [š‘–] berarti š‘Ž āˆ’ š‘– = š‘ž1š‘› untuk suatu š‘ž1 ∈ ℤ. Dengan menggantikan nilai š‘– didapat š‘Ž āˆ’ š‘— āˆ’ š‘žā€²š‘› = š‘ž1š‘› atau dapat ditulis š‘Ž āˆ’ š‘— = š‘ž2š‘› dengan š‘ž2 = š‘ž1+ š‘žā€². Didapat bahwa š‘– āŠ‚ [š‘—] dan dengan cara serupa juga dapat diperoleh š‘— āŠ‚ [š‘–] sehingga š‘– = [š‘—]. Akibatnya didapat jika š‘– ≠ š‘— maka 2š‘– ≠ [2š‘—]. āˆŽ

Teorema 3.3

Jika šŗā€² adalah graf harmonious dengan š‘‰ šŗā€² = šø šŗā€² = š‘› dengan š‘› ganjil maka šŗ = šŗā€² Ɨ š‘ƒ2 adalah graf harmonious.

Bukti

Misalkan š‘‰ šŗā€² = {š‘£1, š‘£2, … , š‘£š‘›} dan š‘‰ š‘ƒ2 = {š‘1, š‘2}. Berdasarkan definisi operasi hasil kali kartesian maka š‘‰ šŗ = {š‘£1š‘1, š‘£1š‘2, š‘£2š‘1,

š‘£2š‘2, … , š‘£š‘›š‘1, š‘£š‘›š‘2}. dan šø šŗ = š‘£š‘–š‘1, š‘£š‘—š‘1 | (š‘£š‘–, š‘£š‘—) ∈ šø(šŗā€²) ∪

28

pembacaan maka š‘£š‘–š‘š‘— akan ditulis sebagai š‘£š‘–š‘—. Karena šø šŗ = šø šŗā€² + šø šŗā€² + š‘‰ šŗā€² = 3š‘›. maka label harmonious pada šŗ merupakan elemen dari ℤ3š‘›.

Jika šæā€² adalah pelabelan harmonious dari šŗā€² didefinisikan fungsi šæ: š‘‰ šŗ → ℤ3š‘› sebagai berikut:

šæ š‘£š‘–š‘— = š‘“š‘—(šæā€² š‘£š‘– )

dengan š‘“š‘— adalah fungsi transisi yang memetakan elemen ā„¤š‘› ke ℤ3š‘› .

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa šæ adalah pelabelan harmonious pada šŗ. Pertama akan dibuktikan bahwa šæ adalah fungsi injektif, artinya untuk sembarang 2 simpul dari šŗ yaitu š‘£š‘–1š‘—1dan š‘£š‘–2š‘—2 maka šæ š‘£š‘–1š‘—1 ≠ šæ š‘£š‘–2š‘—2 . Pembuktian terbagi menjadi 2 kasus. Pertama š‘—1 = š‘—2 dan kedua š‘—1 ≠ š‘—2. Gambar 3.9 menunjukkan ilustrasi dari kedua kasus ini.

Pada kasus pertama, karena š‘—1 = š‘—2, jelas bahwa š‘–1 ≠ š‘–2. Karena šæā€² adalah label harmonious dari šŗā€² maka šæā€² š‘£š‘–1š‘—1 ≠ šæā€²(š‘£š‘–2š‘—2). Karena š‘“š‘—

merupakan fungsi injektif maka šæ š‘£š‘–1š‘—1 ≠ šæ(š‘£š‘–2š‘—2).

Pada kasus kedua, karena š‘—1 ≠ š‘—2, maka menurut Lema 3.4 berlaku šæ š‘£š‘–1š‘—1 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘—1 dan šæ š‘£š‘–2š‘—2 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘—2 . Jelas bahwa š‘—1 tidak

Kasus 1

Kasus 2

G′× š‘1 G′× š‘2

Gambar 3.9 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 simpul untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.3

29

berada pada koset yang sama dengan š‘—2 sehingga ℤ3š‘›|3+ š‘—1 ∩ ℤ3š‘›|3+ š‘—2 = āˆ… yang mengakibatkan šæ š‘£š‘–1š‘—1 ≠ šæ š‘£š‘–2š‘—2 .

Dari kedua kasus tersebut didapat bahwa šæ merupakan fungsi injektif. Selanjutnya akan dibuktikan jika setiap busur š‘„š‘¦ ∈ šø(šŗ) dilabel dengan š‘Š š‘„š‘¦ = šæ š‘„ + šæ(š‘¦) akan menghasilkan label yang berbeda.

Untuk sembarang busur dari šŗ yaitu š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 label busur š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = šæ š‘£š‘–1š‘—1 + šæ š‘£š‘–2š‘—2

= š‘“š‘—1 šæā€²(š‘£š‘–1) + š‘“š‘—2(šæā€²(š‘£š‘–2))

= š‘“š‘—1+š‘—2(šæā€²(š‘£š‘–1+ š‘£š‘–2)) (dari Lema 3.3)

Jika š‘£š‘–1 ≠ š‘£š‘–2 sesuai dengan definisi hasil kali kartesian jelas bahwa š‘—1 = š‘—2 maka

š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = š‘“š‘—1+š‘—1 šæā€² š‘£š‘–1 + šæā€² š‘£š‘–2

= š‘“2š‘—1 š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘£š‘–2 .

Lebih lanjut lagi, karena š‘—1 hanya mungkin bernilai 1 atau 2 maka jika š‘—1 = 1 maka š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = š‘“2(1) š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = š‘“2 š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 , artinya untuk š‘—1 = 1, š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 ∈ ℤ3š‘›|3+ 2 . Jika š‘—1 = 2 maka š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 =

š‘“2(2) š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = š‘“1 š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 , artinya untuk š‘—1 = 2, š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 ∈ ℤ3š‘›|3+ 1 .

Jika š‘£š‘–1= š‘£š‘–2 maka jelas bahwa š‘—1 ≠ š‘—2, sehingga didapat š‘—1+ š‘—2= 3. Maka š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 = š‘“š‘—1+š‘—2 šæā€²(š‘£š‘–1) + šæā€²(š‘£š‘–1)

30

Dari Lema 3.4 didapat bahwa š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 ∈ ℤ3š‘›|3+ 3 . Maka jelas bahwa š‘Š š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 ∈ ℤ3š‘›|3+ 0 . Untuk memudahkan, busur-busur di šŗ akan dikelompokkan sebagai berikut

šø0 = {š‘’|š‘Š(š‘’) ∈ ℤ3š‘›|3+ 0 } šø1= {š‘’|š‘Š(š‘’) ∈ ℤ3š‘›|3+ 1 } šø2 = {š‘’|š‘Š(š‘’) ∈ ℤ3š‘›|3+ 2 Pengelompokan ini diilustrasikan pada Gambar 3.10

Untuk sembarang 2 busur dari šŗ yaitu š‘’1 = š‘£š‘–1š‘—1š‘£š‘–2š‘—2 dan š‘’2 = š‘£š‘–3š‘—3š‘£š‘–4š‘—4 akan dibuktikan jika š‘’1 ≠ š‘’2 maka š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š š‘’2 . Pembuktian dibagi menjadi 3 kasus. Kasus pertama š‘’1 ∈ šøš‘– dan š‘’2 ∈ šøš‘— dimana š‘– ≠ š‘— . Kasus kedua š‘’1 ∈ šøš‘– dan š‘’2 ∈ šøš‘— dimana š‘– = š‘— ≠ 0 . Kasus ketiga š‘’1 ∈ šøš‘– dan š‘’2 ∈ šøš‘—dimana š‘– = š‘— = 0 . Gambar 3.11 menunjukkan ilustrasi dari ketiga kasus tersebut. G′× š‘ƒ1 G′× š‘ƒ2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus 2 Kasus 3 G′× š‘1 G′× š‘2 E0 E2 E1

Gambar 3.10 Ilustrasi pengelompokan busur pada šŗā€²Ć— š‘ƒ2

Gambar 3.11 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 busur untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.3

31

Untuk kasus pertama karena š‘– ≠ š‘— , jelas bahwa ℤ3š‘›|3+ š‘– ∩ ℤ3š‘›|3+ š‘— = āˆ…. Maka š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š(š‘’2).

Untuk kasus kedua, š‘Š š‘’1 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘– dan š‘Š š‘’2 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘—

dimana š‘– = š‘— ≠ 0 . Dari pengelompokan busur didapat bahwa š‘—1 = š‘—2dan š‘—3 = š‘—4 dengan label busur š‘Š š‘’1 = š‘“2š‘—1 š‘Šā€² š‘’1 atau š‘Š š‘’1 ∈ ℤ3š‘›|3+ 2š‘—1 dan š‘Š š‘’2 = š‘“2š‘—3 š‘Šā€² š‘’2 atau š‘Š š‘’1 ∈ ℤ3š‘›|3+ 2š‘—3 . Karena š‘– = š‘— maka š‘—1 = š‘—3. Karena š‘’1 ≠ š‘’2 didapat š‘£š‘–1š‘£š‘–2 ≠ š‘£š‘–3š‘£š‘–4. Karena šŗā€² adalah graf

harmonious maka š‘Šā€² š‘£š‘–1š‘£š‘–2 ≠ š‘Šā€² š‘£š‘–3š‘£š‘–4 . Karena š‘“2š‘—1 adalah fungsi injektif maka didapat š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š(š‘’2).

Untuk kasus ketiga, š‘Š š‘’1 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘– dan š‘Š š‘’2 ∈ ℤ3š‘›|3+ š‘— dimana š‘– = š‘— = 0 . Dari pengelompokan busur didapat š‘£š‘–1 = š‘£š‘–2 dan š‘£š‘–3= š‘£š‘–4 dengan label busur š‘Š š‘’1 = š‘“3 2šæā€² š‘£š‘–1 dan š‘Š š‘’2 = š‘“3 2šæā€² š‘£š‘–3 . Karena š‘’1 ≠ š‘’2 jelas bahwa š‘£š‘–1 ≠ š‘£š‘–3. Karena šŗā€² merupakan graf harmonious maka šæā€² š‘£š‘–1 ≠ šæā€² š‘£š‘–3 . Dari Lema 3.5 diperoleh 2šæā€² š‘£š‘–1 ≠ 2šæā€²(š‘£š‘–2). Karena š‘“3

merupakan fungsi injektif maka š‘“3 šæā€² š‘£š‘–1 ≠ š‘“3 šæā€² š‘£š‘–2 . Maka diperoleh š‘Š š‘’1 ≠ š‘Š(š‘’2).

Dari ketiga kasus tersebut diperoleh šŗ memiliki label busur yang berbeda. Karena šæ adalah fungsi injektif dan menghasilkan label busur yang berbeda maka šæ adalah label harmonious dari šŗ. āˆŽ

Gambar 3.12 menunjukkan pelabelan harmonious sebuah graf

unicyclic G dan Gambar 3.13 menunjukkan pelabelan harmonious dari hasil operasi perkalian kartesian graf G tersebut dengan graf llintasan š‘ƒ2dengan panjang 2.

32

Gambar 3.12 Pelabelan harmonious pada sebuah graf unicyclic

Misalkan š‘‰ š‘ƒ2 = {š‘1, š‘2} dan š‘‰ šŗ = {š‘£1, … , š‘£5}. Simpul-simpul dari šŗ Ɨ š‘ƒ2 akan dilabel dengan šæ š‘£š‘–š‘š‘— = š‘“š‘— šæā€² š‘£š‘– = 3šæā€² š‘£š‘– + š‘—.

Perhatikan simpul š‘£ dengan label 3 pada Gambar 3.12. Simpul š‘£š‘1 pada Gambar 3.13 akan dilabel dengan šæ š‘£š‘1 = 3 3 + 1 = 10 dan simpul š‘£š‘2

akan dilabel dengan šæ š‘£š‘2 = 3 3 + 2 = 11. Dengan mengikuti rumus pelabelan pada bukti Teorema 3.3, maka dapat diperoleh pelebalan untuk šŗ Ɨ š‘ƒ2 pada Gambar 3.13 berikut.

4 KESIMPULAN

Pelabelan harmonious šæ pada graf šŗ(š‘‰, šø) dimana šø šŗ ≄ |š‘‰ šŗ | adalah pemetaan injektif dari š‘‰ ke ℤ|šø| sedemikian sehingga ketika setiap busur š‘„š‘¦ dilabel dengan š‘Š š‘„š‘¦ = šæ(š‘„) + šæ(š‘¦) menghasilkan label busur yang berbeda.

Dengan pelabelan harmonious dari kelas-kelas graf yang telah diketahui dimungkinkan membangun graf harmonious baru dengan menggunakan pelabelan yang telah diketahui tersebut.

Dalam skripsi ini telah dibuktikan bahwa dapat ditemukan beberapa kelas graf harmonious yang dihasilkan dari operasi gabungan graf

harmonious yang memiliki jumlah busur yang sama, operasi penjumlahan graf harmonious dengan graf tanpa busur, dan operasi perkalian kartesian graf harmonious dengan jumlah busur ganjil dengan graf lintasan š‘ƒ2.

Pembangunan graf harmonious baru dari kelas-kelas graf harmonious yang telah diketahui sebelumnya masih mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut lagi untuk bahan penelitian yang akan datang.

34

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, A. (2001). Aljabar Linier. Bandung: Penerbit ITB.

Gallian, J. (2009). A Dynamic Survey of Graph Labeling. The Electronic

Journal of Combinatorics 6, #DS(6) .

Graham, R. L., & Sloane, N. J. (1980). On Additive Bases and Harmonious Graphs. SIAM J. Alg. Discrete Meth.

Harary, F. (1994). Graph Theory. Reading: Addison-Wesley.

Weisstein, E. W. (t.thn.). Graph Cartesian Product -- From Wolfram

Mathworld. Dipetik 5 11, 2009, dari MathWorld--A Wolfram Web Resource: http://mathworld.wolfram.com/GraphCartesianProduct.html

Youssef, M. Z. (2003). Two General Results on Harmonious Labelings. Ars

Dokumen terkait