BAB II PELABELAN HARMONIOUS PADA HASIL OPERASI GRAF
3.2 Pelabelan Harmonious dari Graf Hasil Penjumlahan
Pada Subbab 2.3 telah dijelaskan mengenai operasi penjumlahan pada graf. Teorema 3.2 menyatakan bahwa graf hasil penjumlahan graf harmonious yang banyak simpul sama dengan banyak busurnya dengan graf yang tidak memiliki busur adalah harmonious.
Teorema 3.2
Jika šŗā² adalah graf harmonious dan š šŗā² = |šø(šŗā²)|. Maka šŗ = šŗā² + š¾ š
adalah graf harmonious. Bukti
Misalkan šø šŗā² = |š(šŗā²)| = š dan š š¾ = š maka šø šŗ =š
šø šŗā² + šø š¾ + š šŗš ā² š š¾ = š + 0 + šš = š(š + 1). Untuk š mempermudah dimisalkan š = š + 1 maka label harmonious dari graf šŗ merupakan anggota dari ā¤šš.
Misalkan š šŗ = {š£1, š£2, ⦠, š£š+š} dengan š£1, š£2, ⦠, š£š ā š(š¾ ) dan š š£š+1, š£š+2, ⦠, š£š+š ā š šŗā² . Misalkan šæā² adalah pelabelan harmonious dari šŗā². Fungsi šæ: š šŗ ā ā¤šš didefinisikan sebagai
šæ š£š = š untuk 1 ⤠š ⤠š š0(šæā² š£š ) untuk š + 1 ⤠š ⤠š + š
22
dengan š0 adalah fungsi transisi yang memetakan elemen ā¤š ke ā¤šš.
Selanjutnya akan dibuktikan bahwa šæ adalah label harmonious dari šŗ. šæ merupakan label harmonious dari šŗ jika dan hanya jika šæ adalah fungsi injektif dan ketika setiap busur š„š¦ ā šø(šŗ) dilabel dengan š(š„š¦) = šæ(š„) + šæ(š¦) menghasilkan label busur yang berbeda.
Pertama akan dibuktikan bahwa šæ adalah fungsi injektif. Untuk sem-barang simpul š£š, š£š ā š šŗ , š < š akan dibuktikan bahwa šæ š£š ā šæ(š£š). Pembuktian dibagi menjadi 3 kasus. Kasus pertama untuk 1 ⤠š < š ⤠š atau š£š, š£š ā š(š¾ ). Kasus kedua untuk 1 ⤠š ⤠š < š ⤠š + š atau š£š š ā š(š¾ ) š dan š£š ā šŗā². Kasus ketiga untuk š + 1 ⤠š < š ⤠š + š atau š£š, š£š ā š(šŗā²). Ketiga kasus ini diilustrasikan pada Gambar 3.4.
Untuk kasus pertama jika 1 ⤠š < š ⤠š. šæ š£š = š dan šæ š£š = š . Karena 0 < 1 ⤠š < š ⤠š < šš berdasarkan Lema 2.1 maka šæ š£š ā šæ š£š . Untuk kasus kedua jika 1 ⤠š ⤠š < š ⤠š + š maka šæ š£š = š dan šæ š£š = š0 šæā² š£š = šš = š(š + 1) untuk suatu nilai š. Karena 0 < š < š jelas bahwa šæ š£š ā šæ š£š .
Untuk kasus ketiga jika š + 1 ⤠š < š ⤠š + š, maka šæā² š£š ā šæā²(š£š) karena šæā² adalah label harmonious. Menurut Lema 3.2 š0 adalah fungsi injektif sehingga š0 šæā² š£š ā š0(šæā² š£š ), artinya šæ š£š ā šæ(š£š).
Gā² K m
Kasus 1
Kasus 2
Kasus 3
Gambar 3.4 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 simpul untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.2
23
Dari ketiga kasus di atas didapat bahwa untuk sembarang simpul š£š, š£š ā š šŗ , š ā š maka šæ š£š ā šæ(š£š). Oleh karena itu terbukti bahwa šæ adalah fungsi injektif.
Selanjutnya akan dibuktikan bahwa ketika setiap busur š„š¦ dilabel dengan š(š„š¦) = šæ(š„) + šæ(š¦) menghasilkan label busur yang berbeda. Jika šā²adalah label busur dari šŗā² maka untuk š£šš£š ā šø šŗā² diperoleh
š š£šš£š = šæ š£š + šæ š£š
= š0 šæā² š£š + š0 šæā² š£š
= š0 šæā² š£š + šæā² š£š berdasarkan Lema 3.3
= š0 šā² š£šš£š
Jika š£šš£š ā šø(šŗā²) dengan š < š maka š£š ā š(š¾ ) dan š£š š ā š(šŗā²) sehingga š š£šš£š = šæ š£š + šæ š£š
= š + š0 šæā² š£š = šš 0 + š0 šæā² š£š
= šš šæā² š£š
Dengan menggunakan Lema 3.4 selanjutnya busur-busur di šŗ akan dikelompokkan sebagai berikut:
šø0 = {š„š¦|š„, š¦ ā š šŗā² } šø1 = {š„š£1|š„ ā š šŗā² , š£1 ā š(š¾ )} š
24
šøš = {š„š£š|š„ ā š šŗā² , š£š ā š(š¾ )} š Pengelompokan ini diilustrasikan pada Gambar 3.5
Dari penjabaran label busur š diatas didapat untuk š„š¦ ā šø0 label busur š š„š¦ ā ā¤šš |š (berdasarkan Lema 3.4) dan untuk š„š¦ ā šøš, š ā 0 label busur š š„š¦ ā ā¤šš |š+ š (berdasarkan Lema 3.4). Untuk sembarang
š1, š2 ā šø šŗ , š1 ā š2 dan š1 ā šøš, š2 ā šøš terdapat 2 kasus yaitu pertama š ā š dan kedua š = š. Lebih lanjut lagi kasus kedua dibagi menjadi 2 kasus yaitu kasus 2a dimana š = š = 0 dan kasus 2b dimana š = š ā 0. Gambar 3.6 menunjukkan ilustrasi dari ketiga kasus tersebut.
Gā² K m Kasus 2b Kasus 1 Kasus 1 Kasus 2a Gā² K m E0 (a) Gā² (b) K m Gā² (c) K m v1 E1 vi Ei
Gambar 3.5 Ilustrasi pengelompokan busur (a) E0 (b) E1(c) Ei
Gambar 3.6 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 busur untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.2
25
Kasus pertama adalah š ā š. Anggap š > š. Didapat 0 < š ā š < š. Ambil š ā ā¤šš |š + š dan š ā ā¤šš |š+ š . Diketahui š ā š = š ā š . Misalkan š ā š ā š , berarti š ā š ā š = ššš tetapi š = š ā š + ššš ā šš„ + ššš, āš„ ā ā¤. Oleh karena itu š ā š ā šš„ , āš„ ā ⤠yang berarti š ā š ā ā¤šš |š. Dari Teorema 2.2 didapat bahwa š dan š tidak berada pada koset yang sama atau dapat ditulis ā¤šš |š+ š ā ā¤šš |š+ š . Dari Teorema 2.1 didapat bahwa (ā¤šš |š+ š ) ā© ā¤šš |š+ š = ā yang mengakibatkan š š1 ā š(š2).
Kasus kedua adalah š = š. Kasus 2a adalah š = š = 0 atau š1, š2 ā šø(šŗā²). Karena šŗā² adalah graf harmonious maka šā² š1 ā šā² š2 . Karena š0
adalah fungsi injektif (Lema 3.2) maka š š1 ā š š2 . Kasus 2b adalah š = š ā 0 atau š1, š2 ā šø(šŗā²). Misalkan š1 = š¢1š£š dan š2 = š¢2š£š = š¢2š£š. Maka š š1 = šš(šæā² š¢1 ) dan š š2 = šš(šæā² š¢2 ). Diketahui šæā² š¢1 ā šæā²(š¢2) karena šæā² adalah label harmonious. Karena šš adalah fungsi injektif (Lema 3.2) maka š š1 ā š(š2). Dari kasus-kasus tersebut didapatkan bahwa label busur š berbeda.
Karena šæ adalah fungsi injektif dan ketika setiap busur š„š¦ dilabel dengan š(š„š¦) = šæ(š„) + šæ(š¦) menghasilkan label busur yang berbeda maka šæ adalah label harmonious dari šŗ. ā
Gambar 3.7 menunjukkan Pelabelan harmonious dari graf korona š¶3. š¾1 dan Gambar 3.8 menunjukkan pelabelan harmonious dari hasil operasi penjumlahan graf tersebut dengan š¾ . 2
26
Gambar 3.7 Pelabelan harmonious pada C3āK1
š¶3ā š¾1 merupakan graf harmonious dengan pelabelan harmonious seperti yang diberikan pada Gambar 3.7. Simpul-simpul dari š¾ pada graf (š¶2 3ā š¾1) + š¾2
dilabel dengan 1 dan 2. Simpul-simpul dari š¶3ā š¾1 akan dilabel dengan šæ š£ = š0 šæā² š£ = 3šæā² š£ . Contohnya untuk simpul š£ dengan label 3 Pada Gambar 3.7 dilabel dengan šæ š£ = 3 3 = 9 pada graf hasil operasi
penjumlahan (Gambar 3.8). Dengan mengikuti rumus pelabelan pada bukti Teorema 3.2, maka dapat diperoleh pelebalan untuk ((š¶3ā š¾1) + š¾ pada 2 Gambar 3.8 berikut.
27
3.3 Pelabelan Harmonious dari Graf Hasil Kali Kartesian
Pada Subbab 2.3 juga telah dijelaskan tentang operasi perkalian kartesian pada graf. Teorema 3.3 menyatakan bahwa graf hasil kali kartesian dari graf harmonious yang banyak simpul sama dengan banyak busurnya dengan graf path dengan panjang 2 (atau š2) adalah harmonious. Lema 3.5 berikut dibutuhkan untuk membantu pembuktian Teorema 3.3.
Lema 3.5
Misalkan š , š ā ā¤š dengan n ganjil. Jika š ā š maka 2š ā [2š]. Bukti
Misalkan 2š = [2š] maka berlaku 2š ā [2š] yang berarti 2š ā 2š = šš untuk suatu š ā ā¤. Karena š ganjil maka š genap, maka diperoleh š ā š = šā²š untuk šā² = š/2, atau dapat ditulis š = š + šā²š. Untuk sembarang š ā [š] berarti š ā š = š1š untuk suatu š1 ā ā¤. Dengan menggantikan nilai š didapat š ā š ā šā²š = š1š atau dapat ditulis š ā š = š2š dengan š2 = š1+ šā². Didapat bahwa š ā [š] dan dengan cara serupa juga dapat diperoleh š ā [š] sehingga š = [š]. Akibatnya didapat jika š ā š maka 2š ā [2š]. ā
Teorema 3.3
Jika šŗā² adalah graf harmonious dengan š šŗā² = šø šŗā² = š dengan š ganjil maka šŗ = šŗā² Ć š2 adalah graf harmonious.
Bukti
Misalkan š šŗā² = {š£1, š£2, ⦠, š£š} dan š š2 = {š1, š2}. Berdasarkan definisi operasi hasil kali kartesian maka š šŗ = {š£1š1, š£1š2, š£2š1,
š£2š2, ⦠, š£šš1, š£šš2}. dan šø šŗ = š£šš1, š£šš1 | (š£š, š£š) ā šø(šŗā²) āŖ
28
pembacaan maka š£ššš akan ditulis sebagai š£šš. Karena šø šŗ = šø šŗā² + šø šŗā² + š šŗā² = 3š. maka label harmonious pada šŗ merupakan elemen dari ā¤3š.
Jika šæā² adalah pelabelan harmonious dari šŗā² didefinisikan fungsi šæ: š šŗ ā ā¤3š sebagai berikut:
šæ š£šš = šš(šæā² š£š )
dengan šš adalah fungsi transisi yang memetakan elemen ā¤š ke ā¤3š .
Selanjutnya akan dibuktikan bahwa šæ adalah pelabelan harmonious pada šŗ. Pertama akan dibuktikan bahwa šæ adalah fungsi injektif, artinya untuk sembarang 2 simpul dari šŗ yaitu š£š1š1dan š£š2š2 maka šæ š£š1š1 ā šæ š£š2š2 . Pembuktian terbagi menjadi 2 kasus. Pertama š1 = š2 dan kedua š1 ā š2. Gambar 3.9 menunjukkan ilustrasi dari kedua kasus ini.
Pada kasus pertama, karena š1 = š2, jelas bahwa š1 ā š2. Karena šæā² adalah label harmonious dari šŗā² maka šæā² š£š1š1 ā šæā²(š£š2š2). Karena šš
merupakan fungsi injektif maka šæ š£š1š1 ā šæ(š£š2š2).
Pada kasus kedua, karena š1 ā š2, maka menurut Lema 3.4 berlaku šæ š£š1š1 ā ā¤3š|3+ š1 dan šæ š£š2š2 ā ā¤3š|3+ š2 . Jelas bahwa š1 tidak
Kasus 1
Kasus 2
Gā²Ć š1 Gā²Ć š2
Gambar 3.9 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 simpul untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.3
29
berada pada koset yang sama dengan š2 sehingga ā¤3š|3+ š1 ā© ā¤3š|3+ š2 = ā yang mengakibatkan šæ š£š1š1 ā šæ š£š2š2 .
Dari kedua kasus tersebut didapat bahwa šæ merupakan fungsi injektif. Selanjutnya akan dibuktikan jika setiap busur š„š¦ ā šø(šŗ) dilabel dengan š š„š¦ = šæ š„ + šæ(š¦) akan menghasilkan label yang berbeda.
Untuk sembarang busur dari šŗ yaitu š£š1š1š£š2š2 label busur š š£š1š1š£š2š2 = šæ š£š1š1 + šæ š£š2š2
= šš1 šæā²(š£š1) + šš2(šæā²(š£š2))
= šš1+š2(šæā²(š£š1+ š£š2)) (dari Lema 3.3)
Jika š£š1 ā š£š2 sesuai dengan definisi hasil kali kartesian jelas bahwa š1 = š2 maka
š š£š1š1š£š2š2 = šš1+š1 šæā² š£š1 + šæā² š£š2
= š2š1 šā² š£š1š£š2 .
Lebih lanjut lagi, karena š1 hanya mungkin bernilai 1 atau 2 maka jika š1 = 1 maka š š£š1š1š£š2š2 = š2(1) šā² š£š1š1š£š2š2 = š2 šā² š£š1š1š£š2š2 , artinya untuk š1 = 1, š š£š1š1š£š2š2 ā ā¤3š|3+ 2 . Jika š1 = 2 maka š š£š1š1š£š2š2 =
š2(2) šā² š£š1š1š£š2š2 = š1 šā² š£š1š1š£š2š2 , artinya untuk š1 = 2, š š£š1š1š£š2š2 ā ā¤3š|3+ 1 .
Jika š£š1= š£š2 maka jelas bahwa š1 ā š2, sehingga didapat š1+ š2= 3. Maka š š£š1š1š£š2š2 = šš1+š2 šæā²(š£š1) + šæā²(š£š1)
30
Dari Lema 3.4 didapat bahwa š š£š1š1š£š2š2 ā ā¤3š|3+ 3 . Maka jelas bahwa š š£š1š1š£š2š2 ā ā¤3š|3+ 0 . Untuk memudahkan, busur-busur di šŗ akan dikelompokkan sebagai berikut
šø0 = {š|š(š) ā ā¤3š|3+ 0 } šø1= {š|š(š) ā ā¤3š|3+ 1 } šø2 = {š|š(š) ā ā¤3š|3+ 2 Pengelompokan ini diilustrasikan pada Gambar 3.10
Untuk sembarang 2 busur dari šŗ yaitu š1 = š£š1š1š£š2š2 dan š2 = š£š3š3š£š4š4 akan dibuktikan jika š1 ā š2 maka š š1 ā š š2 . Pembuktian dibagi menjadi 3 kasus. Kasus pertama š1 ā šøš dan š2 ā šøš dimana š ā š . Kasus kedua š1 ā šøš dan š2 ā šøš dimana š = š ā 0 . Kasus ketiga š1 ā šøš dan š2 ā šøšdimana š = š = 0 . Gambar 3.11 menunjukkan ilustrasi dari ketiga kasus tersebut. Gā²Ć š1 Gā²Ć š2 Kasus 1 Kasus 1 Kasus 2 Kasus 3 Gā²Ć š1 Gā²Ć š2 E0 E2 E1
Gambar 3.10 Ilustrasi pengelompokan busur pada šŗā²Ć š2
Gambar 3.11 Ilustrasi pengambilan sembarang 2 busur untuk ketiga kasus pada pembuktian Teorema 3.3
31
Untuk kasus pertama karena š ā š , jelas bahwa ā¤3š|3+ š ā© ā¤3š|3+ š = ā . Maka š š1 ā š(š2).
Untuk kasus kedua, š š1 ā ā¤3š|3+ š dan š š2 ā ā¤3š|3+ š
dimana š = š ā 0 . Dari pengelompokan busur didapat bahwa š1 = š2dan š3 = š4 dengan label busur š š1 = š2š1 šā² š1 atau š š1 ā ā¤3š|3+ 2š1 dan š š2 = š2š3 šā² š2 atau š š1 ā ā¤3š|3+ 2š3 . Karena š = š maka š1 = š3. Karena š1 ā š2 didapat š£š1š£š2 ā š£š3š£š4. Karena šŗā² adalah graf
harmonious maka šā² š£š1š£š2 ā šā² š£š3š£š4 . Karena š2š1 adalah fungsi injektif maka didapat š š1 ā š(š2).
Untuk kasus ketiga, š š1 ā ā¤3š|3+ š dan š š2 ā ā¤3š|3+ š dimana š = š = 0 . Dari pengelompokan busur didapat š£š1 = š£š2 dan š£š3= š£š4 dengan label busur š š1 = š3 2šæā² š£š1 dan š š2 = š3 2šæā² š£š3 . Karena š1 ā š2 jelas bahwa š£š1 ā š£š3. Karena šŗā² merupakan graf harmonious maka šæā² š£š1 ā šæā² š£š3 . Dari Lema 3.5 diperoleh 2šæā² š£š1 ā 2šæā²(š£š2). Karena š3
merupakan fungsi injektif maka š3 šæā² š£š1 ā š3 šæā² š£š2 . Maka diperoleh š š1 ā š(š2).
Dari ketiga kasus tersebut diperoleh šŗ memiliki label busur yang berbeda. Karena šæ adalah fungsi injektif dan menghasilkan label busur yang berbeda maka šæ adalah label harmonious dari šŗ. ā
Gambar 3.12 menunjukkan pelabelan harmonious sebuah graf
unicyclic G dan Gambar 3.13 menunjukkan pelabelan harmonious dari hasil operasi perkalian kartesian graf G tersebut dengan graf llintasan š2dengan panjang 2.
32
Gambar 3.12 Pelabelan harmonious pada sebuah graf unicyclic
Misalkan š š2 = {š1, š2} dan š šŗ = {š£1, ⦠, š£5}. Simpul-simpul dari šŗ Ć š2 akan dilabel dengan šæ š£ššš = šš šæā² š£š = 3šæā² š£š + š.
Perhatikan simpul š£ dengan label 3 pada Gambar 3.12. Simpul š£š1 pada Gambar 3.13 akan dilabel dengan šæ š£š1 = 3 3 + 1 = 10 dan simpul š£š2
akan dilabel dengan šæ š£š2 = 3 3 + 2 = 11. Dengan mengikuti rumus pelabelan pada bukti Teorema 3.3, maka dapat diperoleh pelebalan untuk šŗ Ć š2 pada Gambar 3.13 berikut.
4 KESIMPULAN
Pelabelan harmonious šæ pada graf šŗ(š, šø) dimana šø šŗ ā„ |š šŗ | adalah pemetaan injektif dari š ke ā¤|šø| sedemikian sehingga ketika setiap busur š„š¦ dilabel dengan š š„š¦ = šæ(š„) + šæ(š¦) menghasilkan label busur yang berbeda.
Dengan pelabelan harmonious dari kelas-kelas graf yang telah diketahui dimungkinkan membangun graf harmonious baru dengan menggunakan pelabelan yang telah diketahui tersebut.
Dalam skripsi ini telah dibuktikan bahwa dapat ditemukan beberapa kelas graf harmonious yang dihasilkan dari operasi gabungan graf
harmonious yang memiliki jumlah busur yang sama, operasi penjumlahan graf harmonious dengan graf tanpa busur, dan operasi perkalian kartesian graf harmonious dengan jumlah busur ganjil dengan graf lintasan š2.
Pembangunan graf harmonious baru dari kelas-kelas graf harmonious yang telah diketahui sebelumnya masih mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut lagi untuk bahan penelitian yang akan datang.
34
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, A. (2001). Aljabar Linier. Bandung: Penerbit ITB.
Gallian, J. (2009). A Dynamic Survey of Graph Labeling. The Electronic
Journal of Combinatorics 6, #DS(6) .
Graham, R. L., & Sloane, N. J. (1980). On Additive Bases and Harmonious Graphs. SIAM J. Alg. Discrete Meth.
Harary, F. (1994). Graph Theory. Reading: Addison-Wesley.
Weisstein, E. W. (t.thn.). Graph Cartesian Product -- From Wolfram
Mathworld. Dipetik 5 11, 2009, dari MathWorld--A Wolfram Web Resource: http://mathworld.wolfram.com/GraphCartesianProduct.html
Youssef, M. Z. (2003). Two General Results on Harmonious Labelings. Ars