• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAERAHOUTPUT

2.1.4. Pelabuhan Udara

Pelabuhan udara merupakan sebuah fasilitas tempat pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat. Bandar udara yang paling sederhana minimal memiliki sebuah landas pacu namun bandara-bandara besar biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya. Menurut Annex 14 dari ICAO(International Civil Aviation Organization): Bandar udara adalah area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan) yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat. Sedangkan definisi bandar udara menurut PT Angkasa Pura adalah lapangan udara, termasuk segala bangunan dan peralatan yang merupakan kelengkapan minimal untuk menjamin tersedianya fasilitas bagi angkutan udara untuk masyarakat.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dalam Dwipoyanthi (2012) mengatakan bandar udara memiliki peran sebagai:

a. Simpul dalam jaringan transportasi udara yang digambarkan sebagai titik lokasi bandar udara yang menjadi pertemuan beberapa jaringan dan rute penerbangan sesuai hierarki bandar udara.

b. Pintu gerbang kegiatan perekonomian dalam upaya pemerataan pembangunan, pertumbuhan dan stabilitas ekonomi serta keselarasan

20

pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang digambarkan sebagai lokasi dan wilayah di sekitar bandar udara yang menjadi pintu masuk dan keluar kegiatan perekonomian.

c. Tempat kegiatan alih moda transportasi, dalam bentuk interkoneksi antar moda pada simpul transportasi guna memenuhi tuntutan peningkatan kualitas pelayanan yang terpadu dan berkesinambungan yang digambarkan sebagai tempat perpindahan moda transportasi udara ke moda transportasi lain atau sebaliknya.

d. Pendorong dan penunjang kegiatan industri, perdagangan dan/atau pariwisata dalam menggerakkan dinamika pembangunan nasional, serta keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya, digambarkan sebagai lokasi bandar udara yang memudahkan transportasi udara pada wilayah di sekitarya.

e. Pembuka isolasi daerah, digambarkan dengan lokasi bandar udara yang dapat membuka daerah terisolir karena kondisi geografis dan/atau karena sulitnya moda transportasi lain.

f. Pengembangan daerah perbatasan, digambarkan dengan lokasi bandar udara yang memperhatikan tingkat prioritas pengembangan daerah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia di kepulauan dan/atau di daratan.

g. Penanganan bencana, digambarkan dengan lokasi bandar udara yang memperhatikan kemudahan transportasi udara untuk penanganan bencana alam pada wilayah sekitarnya.

h. Prasarana memperkokoh Wawasan Nusantara dan kedaulatan negara, digambarkan dengan titik-titik lokasi bandar udara yang dihubungkan dengan jaringan dan rute penerbangan yang mempersatukan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang peran pembangunan infrastruktur dalam perekonomian daerah telah banyak dilakukan, baik dengan menggunakan analaisis Input-Output maupun metode lain. Berdasarkan penelitian-penilitian tersebut membuktikan bahwa infrastruktur merupakan faktor yang penting dalam menunjang kegiatan ekonomi dalam peningkatan upaya peningkatan perekonomian. Beberapa penelitian mengenai infrastruktur diantara lain adalah sebagai berikut:

Menurut Barus (2009) dalam Disertasinya yang berjudul “Dampak Pembangunan Infrastruktur Dalam Perekonomian Wilayah Provinsi Kalimantan Timur: Analisis Input-output Antarregion” dijelaskan bahwa pembangunan infrstruktur di Kalimantan Timur memberikan dampak multiplier yang besar terhadap pendapatan wilayah dan terbukti mampu mengurangi ketimpangan antar wilayah di Kalimantan Timur.

Legowo (2009) yang menganalisis tentang infrastruktur transportasi, keterkaitan antarwilayah dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jabodetabek menyatakan bahwa terdapat pengaruh nyata antara investasi trasnportasi di satu wilayah terhadap aktivitas ekonomi wilayah tersebut dan wilayah sekitarnya. Keberadaan dan perkembangan jumlah unit-unit aktivitas ekonomi di sektor-

22

sektor seperti perdagangan, pengangkutan, perumahan dan industry dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur transportasi yang dalam hal ini di dekati dengan nilai investasinya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yanuar (2006) yang berjudul Keterkaitan Pembangunan Infrastruktur dan Pertumbuhan Output Serta Dampaknya Terhadap Kesenjangan di Indonesia membuktikan bahwa infrastruktur memiliki nilai koefisien determinasi yang cukup besar dan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan output. Secara umum infrastruktur memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan output pada sektor pertanian dan industri.

Nurjanti (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Dampak Infrastruktur Transportasi dan Teknologi Komunikasi Terhadap Nilai Tukar Perdagangan di ASEAN dan Asia Timur menerangkan bahwa infrastruktur transportasi berpengaruh terhadap nilai tukar perdagangan baik kawasan ASEAN maupun Asia Timur. Kenaikan variabel indeks infrastruktur transportasi menyebabkan kenaikan nilai tukar perdagangan menyebabkan kenaikan nilai tukar perdagangan Negara ASEAN dan Asia Timur. Infrastruktur transportasi meliputi Bandar udara, kualitas pelabuhan, jumlah kendaraan bermotor, telepon dan penyediaan layanan internet serta jalur navigasi air.

Beberapa penelitian tentang pembangunan bandara baik di dalam negeri maupun luar negeri telah dilakukan sebelumnya. University of Michingan pada tahun 2006 melakukan penelitian mengenai peranan Bandara Metropolitan Detroit dalam perekonomian, berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat

diketahui bahwa Bandara Metropolitan Detroit memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian daerah dan negara. Peranannya adalah mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara serta permintaan barang dan jasa. Sedangkan Dwipoyanthi dalam penelitian nya tentang pembangunan Bandara international Jawa Barat di Kabupaten Majalengka membuktikan bahwa bila pembangunan bandara dilakukan di lokasi yang tepat maka dapat meningkatkan pendapatan daerah dan meningkatkan perekonomian namun bila sebaliknya maka akan terjadi penurunan pendapatan daerah akibat terhambatnya kegiatan ekonomi yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian wilayah tersebut.

Penelitian lain dilakukan oleh State of Connecticut pada tahun 2005 yang membuktikan bahwa Bandara Internasional Bradley memiliki kaitan yang sangat erat dalam penyerapan tenaga kerja, nilai pendapatan dan output dari negara Connecticut sendiri. Dengan adanya bandara maka secara tidak langsung meningkatkan sektor-sektor perekonomian yang ada di sekitar bandara seperti restoran, parker, took-toko dan tempat rekreasi dan secara langsung berpengaruh pada pelayanan bisnis, penumpang pesawat, dan jasa pendukung operasional serta jasa pemerintah.

2.3. Kerangka Pemikiran

Kemajuan suatu daerah dapat dilihat dari kontribusi PDRB yang dihasilkan terhadap pembentukan PDB nasional. Daerah yang memberikan kontribusi yang cukup tinggi merupakan daerah yang potensial untuk dijadikan pusat pembangunan ekonomi demi terwujudnya program percepatan

24

pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan kegiatan perekonomian suatu wilayah tidak lepas dari penyediaan infrastruktur pendukung khususnya infrastruktur transportasi, oleh karena itu pembangunan infrastruktur merupakan prioritas pembangunan pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah Kalimantan Timur dimana program MP3EI akan diterapkan di provinsi ini.

Menurut Polak dan Heertje dalam Legowo (2009) transportasi infrastruktur memiliki peran menciptakan nilai (value) suatu barang. Sesuai teori neoklasik, suatu barang memiliki nilai sesuai dengan biaya produksi atau secara spesifik oleh biaya pengorbanan tenaga kerja yang dikeluarkan atasnya. Transportasi merupakan suatu alat yang dapat menciptakan nilai yang lebih tinggi pada suatu barang, sehingga barang tersebut dapat memenuhi kepuasan konsumen. Dalam hal ini transportasi memberikan nilai bagi suatu barang melalui proses pemindahan barang dari pusat produksi ke pusat konsumsi. Penciptaan nilai atas barang oleh transportasi ini menjadikan transposrtasi sebagai suatu alat yang bernilai secara ekonomi.

Salah satu program prioritas pembangunan infrastruktur yang akan dilaksanakan adalah pembangunan Bandara Internasional Sepinggan yang merupakan pintu utama lalu lintas transportasi udara di provinsi Kalimantan Timur. Analisis dengan menggunakan Metode Input-Output digunakan dalam penelitian ini akan menjelaskan tentang seberapa besar pembangunan Bandara Internasioanal Sepinggan dapat memberikan dampak penyebaran, pengganda dan keterkaitan antar sektor lain.

Gambar 2.3. Rincian Metode Input-Output

Tabel input-output dan analisisnya pertama kali dikembangkan oleh Profesor Wassily Leontief pada akhir dekade 1930-an. Untuk pengembangan tersebut ia memenangkan hadiah Nobel untuk ilmu ekonomi pada tahun 1973. Dalam perkembangannya, metode-metode yang diturunkan dari suatu Tabel IO semakin banyak diterapkan sebagai alat analisis dan perencanaan ekonomi yang praktis dan bersifat kuantitatif (BPS, 2000)

Analisis input-output merupakan suatu peralatan analisis keseimbangan umum. Alat analisis ini didasarkan pada suatu situasi perekonomian dan bukan pendekatan teoritis ala Walras semata. Keseimbangan dalam analisis input-output didasarkan arus transaksi antar

AnalisisDampak Penyebaran Analisis Pengganda Analisis Keterkaitan

Peningkatan Output Perekonomian dan Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Kalimantan Timur Keterkaitan Ke Depan Keterkaitan Ke Belakang Pengganda Output Pengganda Pendapatan RT Kofisien Penyebaran Kepekaan Penyebaran

26

pelaku perekonomian. Penekanan utama dalam analisis input-output ini adalah pada sisi produksi. Teknologi produksi yang digunakan oleh perekonomian tersebut memegang peranan penting dalam analisis. Lebih spesifik lagi, teknologi yang memegang peranan besar adalah teknologi dalam kaitannya dengan penggunaan input antara (Nazara, 2005).

Melalui model I-O dapat ditunjukkan seberapa besar aliran keterkaitan antarsektor dalam suatu perekonomian. Konsep dasar model I-O didasarkan atas : (1) struktur perekonomian disusun dari berbagai sektor (industri) yang satu sama lain berinteraksi melalui transaksi jual-beli, (2) output suatu sektor dijual kepada sektor lainnya untuk memenuhi permintaan akhir rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal, dan ekspor, (3) input suatu sektor dibeli dari sektor-sektor lainnya dan rumah tangga dalam bentuk jasa dan tenaga kerja, pemerintah dalam bentuk pajak tidak langsung, penyusutan, surplus usaha dan impor, (4) hubungan input-output bersifat linier, (5) dalam suatu kurun waktu analisis biasanya satu tahun, total input sama dengan total output, dan (6) suatu sektor terdiri dari satu atau beberapa perusahaan.

Dalam menyusun table I-O yang bersifat statis dan terbuka, menurut Badan Pusat Statistik (2008), transaksi yang digunakan harus memenuhi tiga asumsi prinsip dasar, yaitu :

1. Asumsi Keseragaman (homogenitas) yang mensyaratkan bahwa tiap sector memproduksi suatu output tunggal dengan struktur input tunggal, bahwa tidak ada substitusi otomatis anatar berbagai sektor.

2. Asumsi kesebandingan (proporsionalitas) yang mensyaratkan bahwa dalam proses produksi, hubungan antara input dengan output merupakan fungsi linier, yaitu tiap jenis input yang diserap oleh sector tertentu naik atau turun, sebanding dengan kenaikan atau penurunan output sektor tersebut

3. Asumsi penjumlahan (aditivitas), yaitu suatu asumsi yang menyebutkan bahwa efek total pelaksanaan produksi di berbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah. Ini berarti bahwa diluar sistem input- output semua pengaruh luar diabaikan.

2.3.1. Asumsi Kelebihan dan Keterbatasan dalam Model Tabel Input- Output

Sebagai alat analisis Model Tabel Input-Output memiliki keuntungan dan keterbatasan dalam melakukan analisis. Keuntungan yang diperoleh dalam menggunakan table I-O antara lain :

1. Dapat digunakan untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output, nilai tambah, penerimaan pajak, impor dan penyerapan tenaga kerja dalam berbagai sektor.

2. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan subtitusi.

3. Untuk mengetahui sektor sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

28

4. Memberikan deskripsi mengenai keadaan suatu perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah.

5. Dapat digunakan sebagai bahan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja dan modal dalam perencanaan pembangunan ekonomi suatu wilayah.

Sedangkan adapun kelemahan dalam penggunaan table I-O adalah :

1. Asumsi yang sedikit restriktif

2. Biaya pengumpulan data yang besar

3. Hambatan dalam mengembangkan model dinamik.

Apabila berbagai hambatan yang muncul dapat diatasi dengan baik, maka model I-O merupakan model yang canggih untuk merencanakan pembangunan ekonomi suatu wilayah secara terintegrasi. Cara tepat mengatasi hambatan tersebut juga dapat menutupi kelemahan-kelemahan dalam analisis tabel I-O, sehungga tabel I-O dapat tetap menjadi model andal dalam menganalisis perekonomian secara lengkap dan komprehensif

2.3.2. Struktur Tabel Input-Output

Menurut Daryanto (2010) secara garis besar tabel Input-Output memuat dua neraca yang aling terintegrasi, yakni neraca endogen dan neraca eksogen. Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas produksi, baik itu menjadi putput antara maupun input antara masuk dalam neraca endogen. Sementara faktor-faktor yang merupakan komponen dari permintaan akhir dan

input primer dimasukkan dalam neraca eksogen. Jumlah dari input antara dengan input primer akan menghasilkan total input, sedangkan jumlah dari output antara dan permintaan akhir mengahsilkan total output. Dengan demikian anatomi dasar Tabel Input-Output secara sederhana dapat disampaikan sebagai berikut:

Tabel. 2.1. Anatomi Dasar Tabel Input-Output

Output Antara Permintaan Akhir Total Output Input Antara Zij Fj Xj Input Primer Vi Total Input Xi Sumber: Daryanto, 2010

Dalam bentuk dasar tabel I-O ini, notasi Zij melambangkan transaksi

ekonomi (penjualan output antara dan pembelian input antara). Kuadran ini merupakan neraca endogen yang sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam neraca eksogen, terutama oleh permintaan akhir yaitu Fj

yang terbagi atas beberapa komponen meliputi konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, modal dan perubahan stok modal, serta ekspor. Sedangkan neraca eksogen lainnya adalah input primer Vi yang terdiri atas

upah/gaji, surplus usaha, penyusutann dan pajak tidak langsung.

Matriks-matriks yang disajikan dalam tabel Input-Output dibedakan sesuai dengan sifat dan jenis transaksinya. Untuk memperjelas gambaran mengenai penyajian tabel Input-Output, berikut ini diberikan ilustrasi tabel

30

Input-Output dalam perekonomian yang terdiri dari n sektor produksi, yaitu

sektor 1,2,………n. Ilustrasi tabel Input-Output dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel. 2.2. Ilustrasi Tabel Input-Output

Permintaan Antara Sektor Industri Permintaan Akhir Jumlah Output 1 2 3 Input Antara Sektor Produksi 1 Z11 Z12 Z13 Y1 X1 2 Z21 Z22 Z23 Y2 X2 3 Z31 Z32 Z33 Y3 X3 Input Primer V1 V2 V3 Total Input X1 X2 X3 Sumber: Daryanto, 2010

Ada tiga matriks dasar yang dapat dilihat dalam tabel 2.2. yakni: 1. Matriks Z atau matriks transaksi input antar,

2. Matriks Y tau matriks permintaan akhir yang terdiri atas permintaan untuk konsumsi rumah tangga (C), pemerintah (G), investasi (I), dan ekspor (X), 3. Matriks V atau matriks input primer yang terdiri atas upah/gaji (W), surplus

usaha (S), penyusutan (D) dan pajak tidak langsung/minus subsidi(T). Bila dilihat secara horizontal, setiap baris isi sel total output menunjukkan bagaimana output suatu sektor itu dialokasikan, yang mana sebagian untuk memenuhi permintaan antara pada sektor produksi dan sebagian lagi untuk memenuhi permintaan akhir. Sedangkan isi sel menurut garis vertical menggambarkan distribusi pemakaian input antara dan input primer pada suatu sektor produksi.

Alokasi Output

Struktur Input

2.4.Tahap-tahap Analisis

Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis terhadap data pada Tabel Input-Output Provinsi Kalimantan Timur tahun 2009. Data yang dianalisis dari Tabel Input-Output tersebut adalah data transaksi domestik atas dasar harga produsen. Menurut BPS dalam Tabel Input-Output Provinsi Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2009, tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen menunjukkan hubungan langsung antara sektor penghasil produksi dalam negeri dengan sektor pemakainya, tanpa dipengaruhi lagi oleh margin perdagangan dan biaya pengangkutan, oleh karena itu koefisien teknis yang diturunkan dari jenis tabel ini lebih memiliki keunggulan analisis karena setiap kenaikan permintaan dapat diukur langsung pengaruhnya terhadap kenaikan produksi dalam negeri.

Dalam Tabel IO Kalimantan Timur tahun 2009 tidak terdapat sektor yang menggambarkan secara spesifik mengenai keberadaan bandara sehingga dilakukan pendekatan dengan mengasumsikan sektor bandara untuk mewakili keberadaan bandara tersebut.

Adapun tahap-tahap analisis pada penelitian ini secara garis besar antara lain: 1. Mengagregasikan sektor-sektor pada tabel transaksi domestik atas dasar harga

produsen. Agregasi sektor adalah proses penggabungan beberapa sektor Input-Output menjadi satu sektor yang lebih besar. Agregasi sektor harus memperhatikan sifat masing-masing sektor. Dalam Tabel Input-Output Provinsi Kalimantan Timur tahun 2009 klasifikasi lima puluh sektor kemudian sektor-sektor tersebut diagregasi menjadi tiga belas sektor. Agregasi menjadi tiga belas sektor dilakukan untuk melihat dampak

32

penyebaran dan keterkaitan sektor bangunan serta multiplier output dan pendapatan rumah tangga.

2. Mengelompokkan sektor-sektor yang telah diagregasi ke dalam tabel di Microsoft Excel dan memberi nama atau kode sesuai dengan yang tercantum dalam Provinsi Kalimantan Timur tahun 2009.

3. Dilakukan perkiraan untuk indikator-indikator seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, struktur investasi dan ekspor impor untuk tahun 2010 yang diambil dari nilai yang terdapat di PDRB menurut Penggunaan tahun 2010.

4. Melakukan proses input data dari tabel di Microsoft Excel pada software IOAP 1.0.1 (Input Output Analysis for Practitioners) untuk kemudian data diolah oleh software tersebut.

5. Setelah data selesai diolah selanjutnya dilakukan simulasi investasi dengan mengalikan nilai investasi dari investasi APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan PT. Angkasa Pura I selaku pengelola bandara dengan nilai multipliernya kemudian dilakukan analisis mengenai kontribusi peningkatan output dan pendapatan akibat adanya investasi pembangunan tersebut.

3.1 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data Tabel Input-Output Propinsi Kalimantan Timur tahun 2009 klasifikasi lima puluh sektor, data investasi APBD Propinsi Kalimantan Timur dan investasi PT. Angkasa Pura I serta data-data pendukung lainnya yang didapat dari Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Timur, Badan Pusat Statistik Pusat dan PT. Angkasa Pura I serta sumber-sumber lainnya. Dalam analisis ini dibantu oleh perangkat lunak Microsoft Excel dan IOAP 1.0.1 untuk mendapatkan nilai multiplier, keterkaitan serta dampak penyebaran.

3.2. Metode Analisis

3.2.1. Analisis Keterkaitan

Analisis keterkaitan dapat memberi gambaran mengenai keterkaitan antar sektor. Keterkaitan terdiri dari keterkaitan ke depan baik langsung maupun langsung tidak langsung serta keterkaitan ke belakang secara langsung maupun langsunng tidak langsung. Keterkaitan ke depan sendiri memberikan informasi mengenai derajat keterkaitan antara suatu sektor yang menghasilkan output yang digunakan sebagai input dari sektor lain. Sedangkan keterkaitan ke belakang digunakan untuk melihat derajat keterkaitan suatu sektor yang memasok input untuk sektor yang diteliti.

34

1. Keterkaitan Langsung ke Depan

Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut :

Di mana:

2. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan

Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan menunjukkan akibat dari suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output bagi sektor tersebut secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.

Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut :

Di mana:

= keterkaitan langsung ke depan sektor i

= unsur matriks koefisien teknis

n = jumlah sektor

= keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i

= unsur matriks kebalikan Leontief

3. Keterkaitan Langsung ke Belakang

Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut :

Di mana:

= keterkaitan langsung ke belakang sektor i

= unsur matriks koefisien teknis

= jumlah sektor

4. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang

Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total.

Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut :

Di mana:

= keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang sektor i

= unsur matriks kebalikan Leontief

36

3.2.2. Analisis Dampak Penyebaran

Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan maupun ke belakang belum cukup untuk digunakan sebagai landasan pemilihan sektor kunci. Indikator- indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir tiap sektor tidak sama. Oleh karena itu harus dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak seluruh sektor. Analisis ini sebagai dampak penyebaran yang dapat menentukan suatu sektor dapat menumbuhkan sektor hulu atau hilirnya. Dampak penyebaran ini terdiri dari:

1. Koefisien Penyebaran

Konsep koefisien penyebaran (daya penyebaran ke belakang/daya menarik) bermanfaat untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya melalui mekanisme transaksi pasar input. Konsep ini sering juga diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan industri hulunya. Suatu sektor dikatakan mempunyai koefisien penyebaran yang tinggi apabila Pd sektor tersebut mempunyai nilai lebih besar dari satu, dan sebaliknya jika nilai Pd sektor tersebut lebih kecil dari satu. Rumus yang digunakan untuk mencari nilai koefisien penyebaran adalah :

Pd =

Di mana:

Pd = koefisien penyebaran sektor

= matriks kebalikan Leontif

Nilai koefisien penyebaran dari suatu sektor menunjukkan bahwa kenaikan satu unit output sektor tersebut akan menyebabkan naiknya output sektor-sektor lain yang menyediakan input bagi sektor itu, termasuk itu sendiri sebesar nilai koefisien penyebarannya.

2. Kepekaan Penyebaran

Konsep ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat kepekaan suatu sektor terhadap sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Konsep ini diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan industri hilirnya. Jika Sd>1 artinya sektor tersebut mempunyai kemampuan kuat untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Namun jika Sdi<1 artinya

sektor tersebut kurang mempunyai kemampuan untuk mendorong sektor hilirnya. Rumus untuk mencari nilai kepekaan penyebaran adalah :

Sd =

Dimana :

Sd = kepekaan penyebaran sektor i

= unsur matriks kebalikan Leontif model terbuka

n

= jumlah sektor

Nilai kepekaan penyebaran suatu sektor menunjukan bahwa kenaikan satu output dari suatu sektor akan menyebabkan naiknya output sektor-sektor lain yang menggunakan output dari sektor itu, termasuk sektor itu sendiri sebesar nilai kepekaan penyebarannya.

38

3.2.3. Analisis Multiplier

Multiplier ini menggambarkan bahwa terjadinya peningkatan akivitas suatu sektor akan meningkatkan aktivitas sektor tersebut atau sektor lainnya sebesar niai penggandanya. Pada dasarnya analisis angka pengganda mencoba melihat apa yang terjadi pada variable-variabel endogen tertentu apabila terjadi

Dokumen terkait