BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Karakteristik Pelabuhan
4.2.18 Pelabuhan Waikyon
Pelabuhan Waikyon digunakan sebagai sandaran kapal-kapal untuk pengangkutan penumpang, biasanya Pelabuhan waikyon ramai dikunjungi oleh para pemudik. Pelabuhan Waikyon yang terletak di Pulau Makian adalah nama salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara, Indonesia, dan ibukota kecamatan terletak di desa Kota.
Kecamatan ini memiliki luas 55,50 km² dan penduduk ditahun 2020 berjumlah 10.124 jiwa. Waikyon juga merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 19 merupakan letak Pelabuhan Waikyon yang diambil dari
google earth dan pada Tabel 4. 20 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Waikyon.
Pulau Makeang (makian) memiliki pelabuhan yang terbaik yang merupakan tempat pertemuan pedagang-pedagang asing serta merupakan pelabuhan transit yang penting dalam perdagangan rempah, dibandingkan dengan pulau-pulau rempah lainnya.
Makeang memproduksi cengkeh terbesar dan terbaik. Rumphyus, bahkan menyebut Makeang sebagai “tanah moyang cengkeh” dan tanah moyang ‘tjengkeh radja’.
Gambar 4. 19 Pelabuhan Waikyon
Tabel 4. 20 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Waikyon Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Waikyon Babang, Laromabati 4.2.19 Pelabuhan Saketa
Pelabuhan Saketa, yang terletak di Kecamatan Gane Barat.
Gane Barat adalah nama salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara, Indonesia, dan ibukota kecamatan terletak di desa Saketa. Kecamatan ini memiliki luas 493,67 km². Mayoritas warga menggantungkan
hidup dari bekerja sebagai petani dan buruh. Tanaman andalan warga diantaranya pala, kelapa, dan cengkeh. Dapat dilihat pada Gambar 4. 20 merupakan letak Pelabuhan Saketa yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 21 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Saketa.
Gambar 4. 20 Pelabuhan Saketa
Tabel 4. 21 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Saketa Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Saketa Babang
4.2.20 Pelabuhan Dolik
Pelabuhan Dolik berada di Kecamatan Gane Barat Utara. Gane Barat Utara merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 21 merupakan letak Pelabuhan Dolik yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 22 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Dolik.
Gambar 4. 21 Pelabuhan Dolik
Tabel 4. 22 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Dolik Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Dolik Babang
4.2.21 Pelabuhan Pasipalele
Pelabuhan Pasipalele terletak di Kecamatan Gane Barat Selatan. Gane Barat Selatan menjadi salah satu kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 22 merupakan letak Pelabuhan Pasipalele yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 23 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Pasipalele.
Gambar 4. 22 Pelabuhan Pasipalele
Tabel 4. 23 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Pasipalele Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Pasipalele Babang
4.2.22 Pelabuhan Kukupang
Pelabuhan Kukupang terletak di Kecamatan Kepulauan Joronga. Kepulauan Joronga merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 23 merupakan letak Pelabuhan Kukupang yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 24 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Kukupang.
Gambar 4. 23 Pelabuhan Kukupang
Tabel 4. 24 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Kukupang Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Kukupang Babang
4.2.23 Pelabuhan Gane Luar
Pelabuhan Gane Luar berada di Kecamatan Gane Timur Selatan. Pelabuhan ini biasanya melayani wisatawan domestic maupun mancanegara yang ingin menyeberangi ke Kepulauan Widi. Dapat dilihat pada Gambar 4. 24 merupakan letak Pelabuhan Gane Luar yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 25 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Gane Luar.
Gambar 4. 24 Pelabuhan Gane Luar
Tabel 4. 25 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Gane Luar Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Gane Luar Babang
4.2.24 Pelabuhan Bisui
Pelabuhan Bisui terletak di Kecamatan Gane Timur Tengah.
Pelabuhan ini hanya memiliki 2 tujuan dari pelayaran kapal, yaitu ke Pelabuhan Babang dan ke Pelabuhan Mafa. Dapat dilihat pada Gambar 4. 25 merupakan letak Pelabuhan Bisui yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 26 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Bisui.
Gambar 4. 25 Pelabuhan Bisui
Tabel 4. 26 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Bisui Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Bisui Babang, Mafa
4.2.25 Pelabuhan Mafa
Pelabuhan Mafa yang terletak di Kecamatan Gane Timur merupakan salah satu wilayah yang menjadi kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 26 merupakan letak Pelabuhan Mafa yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 27 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Mafa.
Gambar 4. 26 Pelabuhan Mafa
Tabel 4. 27 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Mafa Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Mafa Babang, Bisui
4.2.26 Pelabuhan Wayaloar
Pelabuhan Wayaloar terletak di Pulau Obi Kecamatan Obi Selatan. Pelabuhan ini hanya melayani satu rute pelayaran kapal, yaitu ke Pelabuhan Babang. Dapat dilihat pada Gambar 4. 27 merupakan letak Pelabuhan Wayaloar yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 28 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Wayaloar.
Gambar 4. 27 Pelabuhan Wayaloar
Tabel 4. 28 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Wayaloar Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Wayaloar Babang
4.2.27 Pelabuhan Laiwui
Pelabuhan Laiwui termasuk salah satu pelabuhan regional yang melayani kapal mulai dari 35 GT-5000 GT baik kapal pengumpan, cargo, kapal tradisional dan dimanfaatkan juga sebagai sarana transportasi menuju kepulauan Obi dari Ternate atau Labuha. Laiwui terletak di Pulau Obi Kecamatan Obi. Laiwui juga menjadi kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan daya dukung lingkungan hidup dan dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi berdasarkan Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032. Dapat dilihat pada Gambar 4. 28 merupakan letak Pelabuhan Laiwui yang diambil dari google
earth dan pada Tabel 4. 29 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Laiwui.
Gambar 4. 28 Pelabuhan Laiwui
Tabel 4. 29 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Laiwui Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Laiwui Madopolo, Jikohay, Sum
4.2.28 Pelabuhan Jikohay
Pelabuhan Jikohay terletak Pulau Obilatu Kecamatan Obi Barat. Pelabuhan ini hanya melayani satu rute pelayaran, yaitu menuju Pelabuhan Laiwui. Dapat dilihat pada Gambar 4. 29 merupakan letak Pelabuhan Jikohay yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 30 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Jikohay.
Gambar 4. 29 Pelabuhan Jikohay
Tabel 4. 30 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Jikohay Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Jikohay Laiwui
4.2.29 Pelabuhan Sum
Pelabuhan Sum terletak di Pulau Obi Kecamatan Obi Timur.
Pelabuhan Sum hanya memiliki pelayaran dari dan ke Laiwui.
Dapat dilihat pada Gambar 4. 30 merupakan letak Pelabuhan Sum yang diambil dari google earth dan pada Tabel 4. 31 merupakan rute tujuan dari Pelabuhan Sum.
Gambar 4. 30 Pelabuhan Sum
Tabel 4. 31 Asal dan Tujuan di Pelabuhan Sum Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Sum Laiwui
Gambar 4. 31 Peta Pelayaran Kapal
Gambar 4. 31 merupakan rute pelayaran kapal di Kabupaten Halmahera Selatan. Angka yang terdapat pada gambar tersebut menunjukkan pelabuhan yang ada berdasarkan Tabel 4. 2. Dapat dilihat garis berwarna hijau merupakan pelayaran dari Pelabuhan Babang, yang berwarna biru merupakan pelayaran dari Pelabuhan Labuha dimana Pelabuhan Babang dan Labuha merupakan pelabuhan yang terletak di pulau utama (Pulau Bacan). Sedangkan
yang berwarna orange merupakan rute dari pelabuhan diluar pulau utama.
4.3 Grafik Representasi
Rute pelayaran berdasarkan data sekunder yang didapat merupakan gambaran jaringan nyata yang direpresentasikan dalam bentuk grafik. Gambar 4. 36 menunjukkan grafik representasi dari rute pelayaran antar pelabuhan tiap kecamatan/pulau di Kabupaten Halmahera Selatan. Dengam memisalkan pelabuhan sebagai simpul/vertex (v) dan pergerakan antar pelabuhan satu dengan yang lain sebagai tautan/edge (e). Gambar grafik representasi di dapat dengan cara:
1. Mempersiapkan data yang diperlukan yaitu: data pelabuhan yang ditinjau dan rute antar pelabuhan tujuan sebagaimana yang telah dilampirkan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 4. 32 Data Pelayaran di Kabupaten Halmahera Selatan Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Labuha Bajo, Indari, Yaba, Indong, Jiko, Palamea, Leleojaya, Busua, Laluin, Guruapin, Jikotamo, Madopolo
Babang
Bibinoi, Pigaraja, Yaba, Laromabati, Waikyon, Saketa, Dolik, Pasipalele, Kukupang, Gane Luar, Bisui, Mafa, Madopolo, Jikotamo, Wayaloar
Bajo Labuha
Indari Labuha
Yaba Labuha, Babang
Indong Labuha
Jiko Labuha
Palamea Labuha
Leleojaya Labuha
Busua Labuha
Laluin Labuha
Guruapin Labuha
Jikotamo Labuha, Babang
Madopolo Labuha, Babang, Laiwui
Bibinoi Babang
Pigaraja Babang
Laromabati Babang, Waikyon Waikyon Babang, Laromabati
Saketa Babang
Dolik Babang
Pasipalele Babang
Kukupang Babang
Gane Luar Babang
Bisui Babang, Mafa
Mafa Babang, Bisui
Wayaloar Babang
Laiwui Madopolo, Jikohay, Sum
Jikohay Laiwui
Sum Laiwui
(sumber : Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2012-2032)
2. Dari data yang ada dapat digambarkan dengan menggunakan shape dan memisalkan lingkaran sebagai pelabuhan (node/simpul) lalu dihubungkan dengan garis lurus dengan panah menunjukkan koneksi antar pelabuhan, sesuai dengan data rute antar pelabuhan yang ada.
- Misalnya seperti gambar di bawah ini, berdasarkan data yang ada, pelabuhan Laiwui memiliki 2 koneksi antara lain:
Tabel 4. 33 Ilustrasi tahap 2 grafik representasi kapal Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Laiwui Madopolo, Jikohay, Sum
- Gambarkan menggunakan fitur shape di excel, lalu dihubungkan dengan garis dengan panah menunjukkan ke pelabuhan tujuan.
Gambar 4. 32 Ilustrasi tahap 2 grafik representasi kapal 3. Lalu untuk menambahkan node/pelabuhan lainnya dengan
menambahkan fitur dengan garis koneksi yang di bedakan warnanya untuk mempermudah membedakan rute pelayaran pelabuhan asalnya.
Tabel 4. 34 Ilustrasi tahap 3 grafik representasi kapal Pelabuhan Asal Pelabuhan Tujuan
Yaba Labuha, Babang
Madopolo Labuha, Babang, Laiwui Laiwui Madopolo, Jikohay, Sum
Madopolo
Laiwui
Jikohay Sum
Gambar 4. 33 Ilustrasi tahap 3 grafik representasi kapal 4. Lakukan untuk semua data yang ada sehingga
menghasilkan grafik representasi seperti gambar 4. 33.
5. Gambaran grafik representasi lebih jelas untuk masing-masing pelabuhan, terdapat di sub-sub selanjutnya akan ditampilkan detail untuk masing-masing pelabuhan.
4.4 Matriks Konektivitas
Grafik Representasi pada Gambar 4. 36 direpresentasikan sebagai matriks konektivitas (Tabel 4. 35), yang mengekspresikan konektivitas dari setiap pelabuhan satu dengan pelabuhan lainnya.
Mempresentasikan matriks konektivitas dari grafik representasi, dapat dilakukan dengan cara:
1. Matriks konektivitas melibatkan sejumlah baris dan kolom yang setara dengan jumlah pelabuhan yang ditinjau.
Madopolo
Laiwui
Jikohay Sum
Labuha Babang
Yaba
Gambar 4. 34 Ilustrasi tahap 1 matriks konektivitas kapal 2. Pelabuhan yang ditinjau berjumlah 29 pelabuhan, maka
matriks konektivitasnya adalah grid 29 X 29.
3. Setiap pelabuhan yang saling terhubung diberikan nilai 1 di selnya (misalkan Labuha – Bajo). Sedangkan setiap pelabuhan yang tidak terhubung diberikan nilai 0 (misalkan Labuha – Labuha).
Gambar 4. 35 Ilustrasi tahap 3 matriks konektivitas kapal 4. Lakukan untuk semua data yang ada.
5. Perlu diketahui, matriks konektivitas tidak langsung antar pelabuhan.
Matriks konektivitas dapat dilihat pada tabel 4. 35. Pada tabel matriks konektivitas dapat memberikan ukuran konektivitas yang sangat mendasar dengan menjumlahkan koneksi-koneksi yang ada.
Dimana penjumlahan dari nilai-nilai di sel matriks konektivitas dapat menunjukkan tingkat konektivitas tidak langsung tiap pelabuhan. Pelabuhan Babang merupakan pelabuhan dengan indeks konektivitas langsung tertinggi, yaitu sebesar 15 koneksi langsung (24,5902 %). Sedangkan Pelabuhan Bajo, Indari, Indong, Jiko, Palamea, Leleojaya, Busua, Laluin, Guruapin, Bibinoi, Pigaraja, Saketa, Dolik, Pasipalele, Kukupang, Gane Luar, Wayaloar, Laiwui, Jikohay dan Sum merupakan pelabuhan dengan indeks konektivitas paling rendah, yaitu 1 koneksi (1,6393 %).
Baris Kolom
Labuha Babang Bajo Indari Yaba Indong
Labuha 0 0 1 1 1 1
Babang 0 0 0 0 1 0
Bajo 1 0 0 0 0 0
79 Gambar 4. 36 Garfik Representasi pada Kapal
Labuha Babang
Tabel 4. 35 Matriks Konektivitas Jaringan pada Kapal
= Pulau Utama
1 = Pelabuhan Sudah Terhubung 0 = Pelabuhan Belum Terhubung
Labuha Babang Bajo Indari Yaba Indong Jiko Palamea Leleojaya Busua Laluin Guruapin Jikotamo Madopolo Bibinoi Pigaraja Laromabati Waikyon Saketa Dolik Pasipalele Kukupang Gane Luar Bisui Mafa Wayaloar Laiwui Jikohay Sum SUM %
Labuha 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 19.67213
4.5 Karakteristik Seaplane dan Waterbase 4.5.1 Karakteristik Seaplane
Seaplane adalah pesawat yang bisa beroperasi di air dan udara.
Seaplane menjadi menarik karena mampu terbang di salju dan permukaan danau. Menerbangkan dan mendaratkan seaplane tidak jauh berbeda dengan pesawat biasa, perbedaannya adalah bisa terbang bisa terbang dan mendarat di permukaan air namun memerlukan keahlian khusus pada pilotnya. Pilot seaplane harus mengerti karakteristik permukaan air untuk lepas landas dan mendarat dengan aman di air. Permukaan landasan pacu adalah materi statis yang kuat, sedangkan permukaan air berubah – ubah karena merupakan fluida, sehingga harus adanya pelatihan khusus pilot untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan saat beroperasi.
Seaplane merupakan free floating, tidak mempunyai rem, seaplane akan selalu bergerak tergantung keadaan yang ditimbulkan oleh angin, arus air, dorongan baling – baling dan inersia. Ada tiga posisi atau attitude pada seaplane untuk bergerak di air : posisi idling, posisi ploughing dan posisi planning atau posisi on the step.
Seaplane dengan keadaan mesin pada RPM rendah akan tetap berada pada kondisi diam atau beristirahat di atas air, inilah yang dinamakan idling position. Kecepatan saat taxy biasanya berada di bawah 6 atau 7 knot sehingga air laut tidak mengenai baling – baling yang dapat menimbulkan korosi. Dalam kondisi angin tenang dan ringan, lift harus dikontrol dengan baik dan kekuatan penuh agar moncong pesawat dapat naik dan dapat mengurangi semburan air ke baling – baling, dan untuk meningkatkan maneuver pesawat.
Gambar 4. 37 Posisi Idling pada saat taxiing seaplane (sumber : www.pilotfriend.com)
Ketika daya dan kecepatan RPM meningkat dari posisi idle, nose atau moncong seaplane akan terangkat atau ploughing position. Kondisi ini tidak disarankan untuk taxiing kecuali pada saat kondisi air bergelombang kasar yang menginginkan untuk menaikkan baling – baling agar tidak terkena semburan air atau ketika seaplane memutar arah saat angin kencang. Untuk posisi ini, harus pada kekuatan penuh dan elevator dikontrol.
Gambar 4. 38 Posisi Nose Up
Pada tugas akhir ini hanya akan meninjau tentang seaplane jenis Viking Twin Otter Series 400 yang sama juga digunakan di
Waterbase Pulau Bawah, Kepulauan Riau. Untuk karakteristiknya sebagai berikut.
Gambaran Umum 1. Dimensi Pesawat
- Tinggi Keseluruhan : 19 ft. 6 in (5,94 m) - Panjang Keseluruhan : 51 ft. 9 in (15,77 m) - Rentang Sayap : 65 ft. 0 in (19,81 m) - Rentang Ekor Horizontal : 20 ft. 8 in (6,29 m) 2. Dimensi Kabin
- Panjang : 18 ft. 5 in (5,61 m) - Tinggi : 4 ft. 11 in (1,50 m) - Lebar : 5 ft. 9 in (1,75 m) 3. Pintu Kabin Sisi Kiri
50 in x 56 in (1,27 m x 1,42 m) 4. Pintu Kabin Sisi Kanan
30 in x 45 in (0,76 m x 1,16 m)
Berat dan Kapasitas Desain
- Maks. Berat Take Off : 12.500 lbs. (5.670 kg) - Maks. Berat Landing : 12.300 lbs. (5.579 kg) - Berat Kosong Lengkap : 7.445 lbs. (3.377 kg) - Kapasitas Tangki : 1.419 L
- Bahan Bakar Jarak Jauh : 337 L
Pengaturan Umum
Gambar 4. 39 Dimensi Viking Twin Otter Series 400 (sumber : vikingair.com)
4.5.2 Karakteristik Waterbase
Bandar udara perairan atau waterbase merupakan perpaduan antara bandar udara dan pelabuhan laut. Sehingga pada waterbase memungkinkannya perlengkapan dan peralatan yang harus ada pada keduanya. Secara perhitungan pembangunan waterbase lebih hemat dan efisiensi lahan dibandingkan dengan pembuatan infrastruktur lain, misalnya bandar udara di darat. Pembuatan waterbase hanya memerlukan kurang lebih 100 m x 55 x untuk apron (tempat menaik turunkan penumpang dan kargo) tanpa perlu adanya runway hanya memerlukan taxiway dengan luasan 15 m x 45 m. Dibandingkan dengan bandar udara di darat yang memerlukan runway 800 m dengan lebar 30 m ditambah dengan terminal dan apron. Sehingga dapat dikatakan biaya pembuatan waterbase lebih murah dan efisien lahan dibandingkan dengan pembangunan bandar udara di darat.
Gambar 4. 40 Jarak bebas obstacle (sumber : www.faa.gov)
Adapun beberapa persyaratan teknis fasilitas yang wajib dipenuhi suatu waterbase berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/ 227/ VIII/ 2010, yaitu:
A. Persyaratan Teknis Fasilitas Sisi Air 1) Landasan Pacu (Water Operating Area)
a. Dimensi water operating area, disesuaikan dengan kemampuan seaplane terbesar yang beroperasi.
b. Kedalaman perairan dipersyaratkan 1,8 m atau minimum pada kedalaman 1 m untuk seaplane mesin tunggal.
c. Kemiringan bebas dari water operation naik 7% setiap 300 m
d. Kondisi permukaan air :
Ketinggian gelombang tidak tinggi dan hindari gelombang air yang terjadi akibat kapal lewat.
Kecepatan arus air tidak melebihi kecepatan 5,5 km/jam.
Permukaan air harus bersih dari puing-puing yang mengambang.
2) Jalur Taxiway
a. Dimensi jalur taxiway untuk minimum panjang 45 m menuju fasilitas tambat/ramp atau dermaga apung untuk menghindari angina dan arus.
b. Jarak bebas jalur taxiway terhadap halangan (obstruction) adalah 15 m.
c. Kolam putar (Turning Basins).
Kolam putar mempunyai persyaratan bebas radius 60 m dan berdekatan dengan fasilitas darat serta berada di ujung wilayah operasi.
Jarak bebas (clearance) kolam putar dengan halangan adalah 15 m.
Penambatan (Anchorage)
- Tambatan harus memberikan perlindungan maksimal terhadap angin kencang dan gelombang.
- Tambatan ditempatkan pada lokasi yang dapat dilihat dengan jelas oleh pilot.
- Tambatan harus cukup kuat menahan gaya dan bebas seaplane pada waktu diterpa angina.
- Panjang tali kekang harus 6 kali panjang seaplane.
- Jarak antara tambatan dengan tambatan lain untuk jenis kapal twin-float tidak boleh kurang dari dua kali panjang tali kekang atau 38 m.
Gambar 4. 41 Landasan Pacu (Water Operating Area) (sumber : www.faa.gov)
B. Persyaratan Teknis Fasilitas Pesisir (Shoreline Facilities) 1) Peluncur (Slipway)
a. Lokasi suatu peluncuran seaplane harus mempunyai kemiringan dan ketinggiannya tidak melebihi 0,6 m dan minimum kedalaman air tidak kurang dari 1,5 m.
b. Dimensi bagian dalam peluncuran harus mempunyai ruang bebas 0,6 sampai 1 m lebih lebar dari float dan 1 sampai 1,2 m lebih panjang dari rudder down float length.
c. Kelengkapan pelindung yang terbuat dari bahan elastis, karet yang dipasang antara dinding dengan kapal udara.
2) Kemiringan (Ramps) adalah jalur penarikan seaplane untuk dinaikan ke darat. Ukuran dari ramp lebih lebar dari float seaplane, seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 4. 42 Ramps untuk seaplane (sumber : avstop.com)
a. Lokasi minimum 30 m dari garis pantai.
b. Karakteristik ramps landau dan pada daerah berbatasan dengan air diberi perkuatan supaya tidak longsor, kemiringan lereng tidak lebih dari 6:1 atau yang dianjurkan 10:1.
c. Lebar sebuah jalur untuk penarikan dengan lebar 9 m sampai 12 m, dapat menampung pergerakan seaplane yang ditarik dan kemungkinan terpaan angin.
d. Permukaan ramp tertutup air dengan kedalaman terendah adalah 15 cm.
e. Tie down yaitu termpat mengkaitkan tali penarik dipasang di darat pada sumbu pelurus arah Tarik dan kedua sisi ramps. Tie down harus cukup kuat tertanam pada pondasi beton bertulang dibawah tanah.
f. Jarak antar ramp satu dengan yang lain adalah 6 m.
3) Dermaga Tetap (Fixed Pier)
a. Lokasi minimum 30 m dari kolam labuh kapal udara.
b. Dermaga tetap minimum berada pada jarak 15 m dari jalur taxiing pesawat udara.
4) Dermaga Apung (Floating Pier) adalah dermaga yang flexible dapat naik turun sesuai dengan pasang dan surut air gelombang.
a. Dermaga apung kecil mempunyai ukuran 3 sampai 4,5 m yang dirancang dapat mendukung 1.134 kg akan menangani satu seaplane. Untuk dermaga yang dapat menampung sandar dua seaplane dibutuhkan daya dukung dermaga 2.268 kg.
b. Dimensi dermaga ditentukan oleh panjang pesawat yang tambat. Yang direkomendasikan panjang dermaga adalah panjang seaplane ditambah 6 m pada ujung depan dan belakang seaplane. Lebar dermaga apung adalah 3 m.
c. Gang adalah jalur penghubung dari dermaga ke darat dengan lebar minimum 1,5 m. Gang dilengkapi dnegan pegangan tangan (hand railing) dengan tinggi 1 m.
5) Tambatan memiliki bermacam-macam bentuk dan berat tergantung pada kegunaan dan kondisi kedalaman. Tanda permanent atau tambatan lampu pelampung tidak lebih berat dari 100 kg ketika ditenggelamkan. Tambatan dirancang sedemikian rupa agar kuat menahan beban sewaktu seaplane ditambat.
6) Tambatan Apung (Mooring Buoy) harus dapat mendukung berat tali/ kawat tambatan, kelengkapan lain dan aksesoris tumpuan apabila ekstra tambahan diperlukan.
Gambar 4. 43 Penambat yang dilakukan pada seaplane dengan satu tali tambat
(sumber : www.faa.gov)
7) Lampu (Lighting) waterbase wajib dilengkapi dengan fasilitas identifikasi waterbase dan water operating area jika untuk pengoperasian pada malam hari.
a. Lampu Suar sebagai penerangan identifikasi waterbase dengan warna putih dan kuning secara berkedip dengan rata-rata 12 sampai dengan 30 kedip/
menit. Pada area lalu lintas kapal perlu dilengkapi dengan radio untuk menginformasikan pesawat yang akan berangkat atau tiba.
b. Lampu Sorot (Flood Lights) wajib dipasang untuk menerangi apron. Pelampung, ramps, dan dermaga serta tidak menyilaukan pandangan mata penerbang pada saat melakukan aktivitas penerbangan.
c. Prosedur pendekatan untuk pendaratan, batal pendaratan dan keberangkatan.
d. Alat bantu observasi cuaca, arah dan kecepatan angin.
8) Bandar Udara Perairan (waterbase) wajib dilengkapi kantong angin (wind sock) yang dapat dilihat dengan jelas oleh pilot dari ketinggian 200 feet serta tidak terhalang oleh bangunan yang dapat mempengaruhi arah dan
kecepatan angin. Kantong angin (wind sock) dapat dibuat dari jenis bahan yang ringan dengan warna orange atau kombinasi orange – putih dengan warna kontras pada kedua ujungnya (orange – putih – orange – putih – orange) dan ukuran untuk medium size yaitu 60 cm diameter lingkar besar, 2,4 cm panjang dan 30 cm diameter lingkar kecil, atau untuk ukuran small size yaitu 30 cm diameter lingkar besar, 1,2 cm panjang dan 15 cm diameter lingkar kecil.
Gambar 4. 44 Berbagai macam ukuran windsock (sumber : windsockonline.co.za)
Dalam persyaratan standar operasional waterbase, apron pada waterbase harus mampu mengakomodasi jumlah dan ukuran seaplane dan tambatan. Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, perhitungan dimensi apron dilakukan berdasarkan perkiraan penggunaan dalam 5 tahun. Selain dari apron, persyaratan operasi yang paling penting adalah adanya marka bandar udara. Marka yang disebut berbentuk simbol anchorage, sebagai penanda letak bandar udara. Marka tersebut digambarkan diatas pelataran yang mudah terlihat dari udara oleh pilot seaplane. Marka tersebut berwarna kuning dengan ukuran minimum panjang 4 m dan lebar 2,5 m.
Pelatakan hangar harus terpisah dengan gedung administrasi dan dibuatkan jalur tersendiri, hal tersebut untuk menghindari
Pelatakan hangar harus terpisah dengan gedung administrasi dan dibuatkan jalur tersendiri, hal tersebut untuk menghindari