5.5 Komoditas Unggulan
5.5.2 Pelagis besar
Ikan pelagis besar yang diproduksi di Kabupaten Sukabumi sebagian besar adalah ikan yang bernilai ekonomi tinggi dan rata-rata telah menjadi sektor basis di Kabupaten Sukabumi. Hal ini berarti bahwa produksi ikan – ikan yang bernilai ekonomi tinggi terpusat di Kabupaten Sukabumi. Nilai LQ dari ikan pelagis besar disajikan pada Tabel 24.
Tabel 24. LQ pelagis besar berdasarkan hasil tangkapan di Kabupaten Sukabumi, Tahun 2000-2006 Tahun Jenis Ikan 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tenggiri 6,20210 0,28167 0,22012 0,36148 0,42206 0,37486 0,28277 Tuna 92,49922 19,29578 16,30144 17,26327 14,35442 13,00001 3,30056 Cakalang 81,80902 21,06984 13,74116 13,08425 5,44142 8,87469 6,80476 Tongkol 7,87596 1,70781 1,97507 0,90269 0,58920 0,53010 0,70138 Sumber : Data Diolah
Berdasarkan Tabel 24, dapat terlihat ada 4 jenis ikan yang semuanya menjadi sektor basis. Dua jenis diantaranya adalah ikan Tuna dan Cakalang yang tiap tahunnya menjadi sektor basis selama Tahun 2000-2006. Nilai LQ terbesar terjadi pada Tahun 2000 yaitu sebesar 92,49 untuk Tuna dan 81,80 untuk Cakalang. Kemudian pada Tahun 2001 ikan Tuna mengalami penurunan dengan nilai LQ sebesar 19,3 dan terus mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya. Begitu juga dengan Cakalang, pada Tahun 2001 mengalami penurunan dengan nilai LQ sebesar 21,06 kemudian turun drastis pada Tahun 2004 menjadi 5,4 dari nilai 13,08 pada Tahun 2003. Pada Tahun 2005 naik kembali dengan nilai sebesar 8,87 kemudian kembali turun pada Tahun 2006 menjadi 6,80. Dengan demikian, ikan Cakalang tetap menjadi komoditas terpenting di Kabupaten Sukabumi dan mengalami surplus produksi tiap tahunnya. Hal ini berarti Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi ikan pelagis besar yang tinggi dan berpotensi untuk diekspor.
0,00000 10,00000 20,00000 30,00000 40,00000 50,00000 60,00000 70,00000 80,00000 90,00000 100,00000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun LQ T enggiri T una Cakalang T ongkol
Gambar 16. Trend LQ pelagis besar di Kabupaten Sukabumi, Tahun 2000-2006
Berdasarkan analisis trend LQ pada Gambar 16, dapat dilihat bahwa nilai LQ ikan pelagis besar di Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat menjadi perhatian karena dengan kondisi yang demikian berarti dapat diindikasikan bahwa produksi pelagis besar di Kabupaten Sukabumi lama kelamaan tidak akan menjadi sektor basis dan ini berarti dapat menurunkan pendapatan wilayah Kabupaten Sukabumi.
Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi besar sebagai penghasil komoditas perikanan dunia khususnya tuna. Posisi perairan Indonesia yang terletak di antara Samudera Indoneisa dan Samudera Pasifik merupakan tempat perlintasan ikan tuna. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan hasil tangkapan ikan pelagis besar di Kabupaten Sukabumi yang cukup melimpah dan menjadikan pelagis besar sebagai komoditas unggulan. Dari hasil skoring yang dilakukan terhadap pelagis besar didapatkan dua jenis ikan ini yang terdapat di Kabupaten Sukabumi merupakan komoditas unggulan. Dengan demikian, sudah selayaknya pemerintah lebih meningkatkan perhatian untuk dapat menaikkan kembali industri ikan yang bernilai ekonomi tinggi seperti ikan tuna sehingga mampu meningkatkan kontribusi dalam pendapatan wilayah. Hasil skoring terhadap pelagis besar di Kabupaten Sukabumi disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25. Penentuan komoditas unggulan kelompok pelagis besar Kabupaten Sukabumi
No. Jenis Ikan Bobot LQ Pertumbuhan LQ Total Bobot Keterangan
1 Tenggiri 2 1 3 Bukan unggulan
2 Tuna 3 1 4 Unggulan
3 Cakalang 3 1 4 Unggulan
4 Tongkol 2 1 3 Bukan unggulan
Sumber : Data Diolah
Berdasarkan Tabel 25, dapat diketahui bahwa keempat jenis ikan pelagis besar di Kabupaten Sukabumi merupakan komoditas unggulan. Hal ini dibuktikan dari bobot LQ sebesar 3 yang berarti memiliki nilai LQ lebih dari satu. Namun jika dilihat dari sisi pertumbuhan LQ, keempat jenis ikan ini bernilai 1 yang berarti memiliki trend yang menurun. Trend yang menurun tersebut menunjukkan bahwa produksi komoditas ini terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh teknologi alat tangkap yang kurang memadai. Selain itu karena teknologi alat tangkap yang dimiliki nelayan masih terbatas, maka akan terjadi kelebihan tangkapan di perairan sekitar pantai karena rata-rata nelayan hanya mampu menangkap sampai daerah pantai saja.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah Kabupaten Sukabumi agar penurunan produksi tidak terjadi di tahun-tahun selanjutnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan teknologi alat tangkap yang ada di Kabupaten Sukabumi agar nelayan dapat melakukan penangkapan sampai ke perairan yang jauh dari pantai. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan pelagis besar di Kabupaten Sukabumi antara lain pancing dan gillnet.
5.5.3 Demersal
Ikan demersal yang diproduksi di Kabupaten Sukabumi ada 6 jenis, yaitu Manyung, Kakap, Cucut, Pari, Bawal Hitam dan Layur. Keenam jenis ikan inilah
yang selalu diproduksi sepanjang Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2006. Nilai LQ ikan Demersal ini disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26. LQ ikan demersal di Kabupaten Sukabumi, Tahun 2000-2006 Tahun Jenis Ikan 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Manyung 0,27359 0,16229 0,06565 0,13661 0,43625 0,37727 0,08021 Kakap 0,42317 0,42110 0,29111 1,50488 2,13149 2,05626 0,78270 Cucut 14,93207 2,12533 0,50422 2,62392 2,11462 1,86392 1,84464 Pari 7,45006 1,90329 0,32185 1,05221 1,94723 1,70098 0,50702 Bawal hitam - 0,08664 - 0,10896 0,39280 0,34999 0,13791 Layur 19,92743 2,66390 0,22972 3,37857 0,47077 0,50177 1,64453 Sumber : Data Diolah
Berdasarkan pada Tabel 26, dapat terlihat bahwa ada 6 jenis ikan demersal yang diproduksi tiap tahunnya, namun bila dilihat dari nilai LQ yang diperoleh, rata-rata ikan demersal di Kabupaten Sukabumi belum menjadi sektor basis. Hanya ada 3 jenis ikan yang hampir tiap tahun menjadi sektor basis. Ikan yang rata-rata LQ-nya lebih dari satu adalah Cucut, Pari dan Layur. Nilai LQ tertinggi terdapat pada Tahun 2000 yaitu Layur dengan nilai sebesar 19,92 diikuti oleh Cucut dengan nilai LQ sebesar 14,93 kemudian disusul Pari dengan nilai sebesar 7,45.
Pada Tahun 2001 nilai LQ mengalami penurunan yang cukup drastis. Ikan Layur pada Tahun 2001 mengalami penurunan nilai LQ menjadi 2,66 dari nilai 19,92 pada Tahun 2000. Kemudian turun kembali pada Tahun 2002 hingga mencapai nilai kurang dari satu yaitu sebesar 0,22 dan naik kembali dengan nilai lebih dari satu pada Tahun 2003 yaitu sebesar 3,37, akan tetapi turun lagi pada Tahun 2004 menjadi 0,47 dan 0,50 pada Tahun 2005 kemudian sedikit meningkat pada Tahun 2006 dan kembali menjadi sektor basis dengan nilai sebesar 1,64. Hal yang sama juga terjadi pada ikan Cucut yang mengalami penurunan nilai LQ pada Tahun 2001 menjadi 2,12 dari 14,93 pada Tahun 2000 kemudian turun pada Tahun 2002 menjadi 0,50, namun pada Tahun 2003 berhasil naik kembali dengan nilai 2,62 dan turun pada Tahun 2004
dengan nilai 2,11. Penurunan ini terus terjadi pada tahun berikutnya dengan nilai 1,86 pada Tahun 2005 dan nilai 1,84 pada Tahun 2006.
Dari nilai LQ kelompok ikan demersal Kabupaten Sukabumi selama 7 tahun ada 4 jenis ikan yang memiliki nilai LQ lebih dari 1 yaitu ikan Kakap, Cucut, Pari dan Layur. Hal ini berarti keempat jenis ikan ini menjadi komoditas penting yang diproduksi di Kabupaten Sukabumi dan mengalami surplus produksi. Dengan demikian Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi ikan demersal yang besar dan berpotensi untuk diekspor.
Berdasarkan analisis trend pada Gambar 17, dapat dilihat bahwa secara umum ikan demersal yang mengalami peningkatan pada Tahun 2006 hanya ikan Layur. Sedangkan 5 jenis ikan lainnya mengalami penurunan pada Tahun 2006.
0,00000 5,00000 10,00000 15,00000 20,00000 25,00000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun LQ Manyung Kakap Cucut Pari Baw al Hitam Layur
Gambar 17. Trend LQ ikan demersal di Kabupaten Sukabumi, Tahun 2000-2006
Berdasarkan hasil skoring yang dilakukan terhadap ikan demersal maka didapatkan bahwa yang menjadi komoditas unggulan dari kelompok demersal di Kabupaten Sukabumi adalah ikan Kakap. Hasil skoring terhadap kelompok demersal di Kabupaten Sukabumi disajikan pada Tabel 27.
Tabel 27. Penentuan komoditas unggulan kelompok demersal Kabupaten Sukabumi
No. Jenis Ikan Bobot LQ Pertumbuhan LQ Total Bobot Keterangan
1 Manyung 1 3 4 Unggulan
2 Kakap 3 3 6 Unggulan
3 Cucut 3 1 4 Unggulan
4 Pari 3 1 4 Unggulan
5 Bawal Hitam 1 3 4 Unggulan
6 Layur 3 1 4 Unggulan
Sumber : Data Diolah
Berdasarkan Tabel 27, dapat diketahui bahwa diantara keenam jenis ikan demersal yang tertangkap di Kabupaten Sukabumi, ternyata seluruhnya menjadi komoditas unggulan. Hal ini ditunjukkan dengan total bobot yang dimiliki oleh seluruh jenis ikan demersal yaitu 4 dan 6. Selama ini kakap memang merupakan komoditas yang cukup bernilai tinggi di pasaran. Oleh Karena itu perlu diadakan pengembangan terhadap komoditas ini agar produksinya dapat ditingkatkan dengan kualitas yang tinggi pula tentunya. Selain itu, jenis ikan demersal lainnya yaitu Manyung, Cucut, Pari, Bawal Hitam dan Layur merupakan komoditas yang cukup banyak dihasilkan hampir di seluruh kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Sukabumi seperti Kecamatan Palabuhanratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade dan Tegalbuled.