• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajaran Kepemimpinan dari Kisah Perjalanan Hijrah

Dalam dokumen Revolusi mental: memimpin sepenuh hati (Halaman 191-194)

Nabi SAW

S

ETIAP kali memperingati tahun baru hijriyah, hal yang tidak pernah saya lupakan adalah tentang kisah bagaimana kesulitan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya di perjalanan dari Makkah ke Madinah. Ketika itu belum ada kendaraan modern seperti sekarang. Padahal jarak antara Makkah dan Madinah cukup jauh. Jama’ah haji sekarang ini dengan berkendaraan bus antara Makkah dan Madinah harus menempuh antara 6 sampai 7 jam. Dari gambaran itu maka bisa dibayangkan, berapa lama perjalanan itu andaikan ditempuh dengan berjalan kaki, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah waktu hijrah itu.

Kita semua telah mengetahui, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang sukses.

Beliau telah mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang hidup secara damai, aman, dan sejahtera. Tentu, kapan dan di mana pun, bukan pekerjaan mudah untuk melakukan perubahan masyarakat dalam waktu yang singkat namun sedemikian mendasar itu.

Setelah kurang lebih 13 tahun di Makkah dan dihitung hasilnya kurang maksimal, maka Nabi SAW mengambil kebijakan strategis, yaitu hijrah ke Madinah. Perpindahan itu bukan pekerjaan mudah. Apalagi antara Makkah dan Madinah cukup jauh jaraknya. Sekarang saja, dengan kendaraan bus atau taksi harus ditempuh selama antara 5 hingga 6 jam. Tentu kepindahan itu sangat berat sekali, tatkala belum ada kendaraan seperti sekarang ini.

Akan tetapi, p

emimpin harus berani mengambil

keputusan, apapun beratnya.

Dalam perjuangan, tatkala di suatu tempat sudah tidak mendapatkan hasil maksimal, dihitung-hitung tantangan menjadi semakin berat, maka beliau mempelopori untuk berpindah, meninggalkan tanah kelahirannya, yaitu di Makkah. Nabi SAW melawan naluri kemanusiaan, sekalipun tempat kelahirannya, dan begitu pula Ka’bah, Mina, dan Arafah sebagai pusat kegiatan ritual berada di sekitar Makkah, beliau hijrah ke Madinah.

Memperhatikan peristiwa hijrah dan dikaitkan dengan persoalan terkini di Ibu Kota, yaitu tatkala penduduk Jakarta sudah sedemikian padat, sehari-hari macet, dan apalagi banjir, belum lagi polusi, dan lain-lain, mestinya para pemimpin negara ini juga berani mengambil keputusan, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah tersebut yaitu berpindah. Ibu kota negara yang selama ini di Jakarta dipindah ke kota lain misalnya, di kalimantan, Sulawesi, atau lainnya yang sekiranya memungkinkan dan dianggap lebih aman.

Memindah ibu kota memang sulit dan beresiko. Tetapi resiko dan kesulitan berpindah itu juga telah dialami oleh sang pemimpin 14 abad yang lalu. Mestinya ketika sehari-hari telah merasa sedemikian beratnya hidup di Jakarta, para pemimpin bangsa ini segera mengambil keputusan, yaitu kapan dan tahap-tahapnya dalam melakukan kepindahan itu. Semakin cepat semakin baik. Kelambatan dalam mengambil keputusan akan berakibat biaya dan

resiko semakin mahal dan berat. Banyak orang akan berspekulasi, masing-masing akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Perjalanan Nabi SAW dalam berhijrah tersebut menjadi lebih sulit dan menderita lagi, karena rombongan tersebut juga dikejar-kejar oleh orang-orang yang ketika itu memusuhi. Orang-orang kafir Quraisy tidak saja menghendaki Nabi SAW meninggalkan Makkah, tetapi lebih dari itu, adalah mengejar dan kalau berhasil membunuhnya. Perjalanan jauh itu tidak berbekalkan kebutuhan hidup yang cukup. Mereka hanya membawa sebatas apa adanya. Bahwa yang penting, mereka bisa pergi dari Makkah.

Atas dasar keadaan seperti itu, Nabi SAW dan para sahabat yang menyertainya, di perjalanan mengalami kekurangan bekal. Di tengah padang pasir, mereka merasakan kehausan yang amat sangat. Dalam keadaan seperti itu, Nabi dan para sahabat mendapati sebuah rumah yang sangat sederhana, dan ternyata dihuni oleh seorang nenek tua. Menurut riwayat, maka dimintailah nenek itu air sekedar untuk membasahi leher para sahabat.

Singkat cerita, bahwa jangankan air untuk orang lain, sekedar keperluan diri sendiri saja, nenek itu sudah tidak mempunyai. Nenek tua itu sendiri juga merasakan kehausan, karena sudah tidak ada air untuk diminumnya. Akan tetapi ternyata di sebelah rumah sederhana itu, terdapat seekor kambing kecil dan kurus. Segera Nabi SAW meminta izin, apakah diperkenankan mengambil susunya. Atas permintaan tamunya itu, nenek tua tersebut menunjukkan keheranannya. Dalam pikiran nenek, bagaimana kambing kecil dan kurus seperti itu bisa mengeluarkan susu. Tetapi, tuan rumah tersebut segera mempersilahkan, jika memang diinginkan.

Nenek tua, ---dalam kisah tersebut, merasa lebih heran lagi, ketika Nabi meminjam tempat untuk menampung susu yang akan diperas itu. Nenek tidak membayangkan bahwa usaha itu akan

akan mungkin mengeluarkan susu, apalagi sebanyak hingga satu gelas misalnya. Tetapi, nenek tua juga memberikan tempat itu. Dan ternyata, hal yang sangat mengherankan, dari kambing tua dan kurus itu keluarlah susu yang tidak henti-hentinya. Susu tersebut dibagi-bagikan kepada para sahabat hingga semua kebagian.

Sesuatu yang menarik dari kisah tersebut adalah terkait dengan kepemimpinan Nabi SAW yang sedemikian mulianya. Sekalipun Nabi sendiri yang memeras susu itu, ia tidak segera meminumnya. Susu itu secara bergiliran, diserahkan kepada masing-masing sahabat hingga kebagian semuanya, termasuk kepada nenek tua. Baru setelah semuanya kebagian, maka yang terakhir kali, Nabi SAW sendiri yang meminumnya.

Dalam perjanalan hijrah itu, Nabi SAW sebagai seorang pemimpin, berusaha untuk memenuhi kebutuhan para sahabatnya. Nabi SAW tidak menempatkan posisi dirinya sebagai orang yang dilayani, tetapi justru yang melayani. Di tengah-tengah suasana memberikan pelayanan itu, hal yang sangat menarik, Nabi SAW selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Dalam kasus pembagian susu tersebut, sekalipun dirinya sendiri juga tampak haus dan membutuhkannya, ia baru meminum setelah semuanya kebagian. Orang lain selalu diutamakan daripada dirinya sendiri. Bahkan, Nabi SAW sebagai pemimpin, bukan dijaga atau diamankan tetapi justru sebaliknya, menjaga dan mengamankan orang lain.

Kisah yang amat indah tersebut, saya peroleh dari cerita guru mengaji ketika masih kecil dulu di kampung. Cerita itu tidak pernah saya lupakan. Namun ternyata sangat berat sekali untuk dijalankan,

Nabi Muhammad SAW adalah

Dalam dokumen Revolusi mental: memimpin sepenuh hati (Halaman 191-194)

Dokumen terkait