eksekusi jaminan. Pelaksanaan eksekusi jaminan oleh PT. Bussan Auto Finance akibat debitur wanprestasi dalam perjanjian jual beli. Upaya hukum yang dilakukan oleh debitur terhadap eksekusi barang jaminan yang menggunakan debt collector. Hambatan yang dihadapi PT. Bussan Auto Finance dalam eksekusi barangan jaminan.
Bab V, Berisikan tentang kesimpulan dari serangkaian pembahasan skripsi berdasarkan analisis yang telah dilakukan serta saran-saran untuk disampaikan kepada objek penelitian atau bagi penelitian yang akan datang.
WANPRESTASI DALAM UNDANG-UNDANG JAMINAN FIDUSIA
D. Pengertian dan Dasar Hukum Fidusia
Kata fidusia berasal dari bahasa Belanda yaitu fiducie sedangkan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership yang berarti kepercayaan.
Kepercayaan yang dimaksud merupakan kepercayaan yang diberikan dari debitur kepada kreditur sebagai pemindahan milik atau untuk suatu jaminan saja guna keperluan utang.44 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan, fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.
Di samping istilah fidusia, dikenal juga istilah jaminan fidusia. Istilah jaminan fidusia ini dikenal dalam Pasal 1 ayat (2) UUJF. Jaminan fidusia yaitu, hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang
44 Salim H.S., Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Jakarta, Grafindo Persada, 2014, hlm 55
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.
Fidusia mengandung dua pengertian yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Sebagai kata benda, fidusia mengandung arti seseorang yang diberi amanah guna mengurus kepentingan pihak ketiga, dengan iktikad baik, penuh ketelitian, bersikap hati-hati, dan terus terang. Sebagai kata sifat, fidusia menunjuk pada pengertian tentang hal yang berhubungan dengan kepercayaan.45
Semula pengaturan jaminan fidusia tidak dalam bentuk Undang-Undang, akan tetapi tumbuh dan berkembang melalui yurisprudensi-yurisprudensi. Di Belanda demikian pula, Burgerlijk Wetboek (BW) Belanda juga tidak mengatur mengenai fidusia ini, Dengan sendirinya KUHPerdata juga tidak mengatur lembaga fidusia. Untuk pertama kalinya tahun 2011, eksistensi lembaga fidusia diakui melalui undang-undang, yaitu dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun. Undang-Undang ini mengatur mengenai hak milik atas satuan rumah susun yang dapat dijadikan jaminan uatang yang dapat dibebani lembaga fidusia, Kemudian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang juga memberikan kemungkinan terhadap rumah-rumah yang dibangun diatas tanah yang dimiliki oleh pihak lain yang dibebabni dengan jaminan fidusia.46
Dilihat dari yurisprudensi dan peraturan perundang-undangan, yang menjadi dasar hukum fidusia, antara lain:
45 Imron Rosyadi, Jaminan Kebendaan Berdasarkan Akad Syariah: Aspek Perikatan, Prosedur Pembebanan dan Eksekusi, Jakarta: Kencana, 2017, hlm 155
46 Rachmadi Usman, Hukum Kebendaan, Jakarta, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hlm 288.
1. Arrest Hoge Raad 1929, tentang Bierbrouwerij Arrest (negeri Belanda).
2. Arrest Hoggerechtshof tentang BPM-Clynet Arrest (Indonesia) 3. Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.47 E. Objek dan Sertifikat Jaminan Fidusia
Objek fidusia sebagaimana terdapat dalam Pasal 1 ayat (2) UUJF dan sebaagaimana ditentukan dalam Pasal 1 ayat (4) dan Pasal 3 UUJF, mendapat penjabaran lebih lanjut pada Pasal 9 UUJF yang mengatakan bahwa jaminan fidusia dapat diberikan terhadap satu atau lebih satuan atau jenis benda, termasuk piutang, baik yang telah ada pada saat jaminan debrikan maupun diperoleh kemudian. Dari ketentuan tersebut objek jaminan fidusia dapat satu benda tertentu atau lebih.48
Objek jaminan fidusia adalah benda-benda apa yang dijadikan jaminan utang dengan dibebani jaminan fidusia. Benda-benda yang dapat dibebani jaminan fidusia yaitu :
1. Benda bergerak berwujud
a. Kendaraan bermotor seperti mobil, truk, bus dan sepeda motor.
b. Mesin-mesin pabrik yang tidak melekat pada tanah atau bangunan pabrik, alat-alat inventaris kantor.
c. Perhiasan.
d. Persediaan barang atau inventori, stock barang, stock barang dagangan dengan daftar mutasi barang.
47 Salim HS., Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Op.Cit, hlm 50
48 J. Satrio, Hukum Jaminan Dan Hak-Hak Jaminan Kebendaan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2007, hlm 196
e. Kapal laut berukuran di bawah 20 meter.
f. Perkakas rumah tangga seperti mebel, radio, televisi, almari es danmesin jahit.
g. Alat-alat perhiasan seperti traktor pembajak sawah dan mesin penyedot air.
2. Benda bergerak tidak berwujud, contohnya:
a. Wesel.
b. Sertifikat deposito.
c. Saham.
d. Obligasi.
e. Konosemen.
f. Piutang ynag diperoleh pada saat jaminan diberikan atau yangdiperoleh kemudian
g. Deposito berjangka.
3. Hasil dari benda yang menjadi objek jaminan baik benda bergerak berwujud atau benda bergerak tidak berwujud atau hasil dari benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.
4. Klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia diasuransikan.
5. Benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yaitu hak milik satuan rumah susun di atas tanah hak pakai atas tanah negara (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun) dan bangunan rumah yang dibangun di atas tanah orang lain sesuai Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
6. Benda-benda termasuk piutang yang telah ada pada saat jaminan diberikanmaupun piutang yang diperoleh kemudian hari.49
Secara formal, objek jaminan fidusia yaitu barang-barang bergerak dan tidak bergerak, berwujud maupun tidak berwujud, kecuali mengenai hak tanggungan, hipotik kapal laut, hipotik pesawat terbang dan gadai.50Sebagai tanda bukti adanya jaminan fidusia, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 14 ayat (1) UUJF, Kantor Pendaftaran Fidusia menerbitkan sertifikat jaminan fidusia untuk selanjutnya menyerahkan kepada penerima fidusia, sertifikat jaminan fidusia tersebut pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan fidusia. Selain itu, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 6 ayat (3) Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. M.01.06 tahun 2001 bahwa No. Tanggal dan Jam Penerimaan Pendaftaran Jaminan Fidusia sama dengan No, Tanggal dan Jam yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia yang diterbitkan untuk permohonan.51
Sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia Dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, terkait dengan Pendaftaran Jaminan Fidusia, menyatakan bahwa permohonan pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 memuat:
a. identitas pihak Pemberi Fidusia dan Penerima Fidusia;
49 Sutarno, Aspek-aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Bandung, Alpabeta, 2009, hlm.
212-213
50 Tri Widiyono, Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Perbankan di Indonesia, Bogor, Ghalia Indonesia, 2006, hlm. 269
51 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Jakarta, Sinar Grafika, 2009, hlm 214
b. tanggal, nomor akta Jaminan Fidusia, nama, dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta Jaminan Fidusia;
c. data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;
d. uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan
fidusia;
e. nilai penjaminan; dan
f. nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia F. Ketentuan Eksekusi Barang Jaminan Fidusia dalam
Undang-Undang Jaminan Fidusia
Debitur melakukan ingkar janji (wanprestasi) karena ketidakmampuannya bersifat mutlak, kreditur harus membebaskan debitur dari kewajiban membayar prestasi atau memberikan kebijakan hapus tagih.Jika debitur wanprestasinya karena itikad tidak baik, dapat diumumkan kepada masyarakat luas sebagai debitur nakal dan dikenakan sangsi paksa badan atau hukuman lainnya.52
Praktiknya dalam peradilan cidera janji yang dilakukan debitur pemberi fidusia pada umumnya adalah debitur tidak memenuhi kewajiban membayar hutang atau membayar angsuran kredit. Akibatnya, kreditur penerima fidusia melakukan penyitaan terhadap benda jaminan fidusia dan debitur harus membayar bunga, ongkos dan biaya perkara.53Banyak kesalahan yang terjadi pada proses persetujuan kredit kendaraan khususnya sepeda motor membuat macetnya proses angsuran diantaranya:
1. Syarat-syarat yang tidak terpenuhi, terkadang sales kendaraannya adalah teman sendiri atau yang sudah kenal atau malah sales tersebut mengejar
52 Subekti, R, dan R. Tjitrosudibio, Loc.Cit.
53 Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan yang Didambakan, Bandung, Alumni, 2015, hlm.238
target penjualan yang dengan sengaja mempermudah proses persyaratanya padahal ada persyaratan yang tidak lengkap.
2. Murahnya down payment (DP)54 minimum, DP murah bisa menjadi jebakan bagi konsumen karena murahnya maka jangka waktu kredit panjang dan DP biasanya dibebankan ke proses kredit tersebut. Pemerintah menerbitkan pembatasan DP minimum kredit kendaraan bermotor. Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan PMK Nomor 43/PMK.010/2012 tentang Uang Muka Pembiayaan Konsumen, dimana penetapan uang muka pembiayaan kendaraan roda dua minimal 20% (dua puluh persen), kendaraan roda empat produktif minimal 20% (dua puluh persen), kendaraan roda empat non produktif minimal 25% (dua puluh lima persen). Suatu hal yang positif karena dengan diaturnya biaya DP minimum yang harus ditebus oleh konsumen, konsumen harus punya dana yang cukup untuk membayar DP Pasal 5 PMK No.130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan.
Minimum menghindari macetnya angsuran pembayaran karena konsumen tidak mampu untuk membayar.
3. Pihak finance berlomba-lomba untuk memasarkan dan mendapatkan kredit dari pembeli. Perlindungan hukum bagi rakyat dan pemerintah diarahkan kepada:
a. Usaha mencegah terjadinya sengketa atau sedapat mungkin mengurangi terjadinya sengketa, hubungan sarana perlindungan hukum preventif patut diutamakan dari sarana perlindungan represif.
54 Down Payment adalah uang muka murni, berkisar 20 persen atau 30 persen dari harga kendaraan.
b. Usaha untuk menyelesaikan sengketa antara pemerintah, rakyat dengan cara musyawarah.
c. Penyelesaian sengketa dengan jalan peradilan, peradilan hendaklah dengan ultimum remedium dan peradilan forum konfrontasi, sehingga peradilan harus mencerminkan suasana damai dan tentram terutama melalui hubungan acaranya.55
Ketentuan dalam Pasal 29 ayat (1) UUJF telah mengatur pelaksanaan eksekusi atas benda yang objek jaminan fidusia, yang menyatakan sebagai berikut:
(1) Apabila debitur atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi terhadap Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan cara:
a. pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) oleh Penerima Fidusia.
b. penjualan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaan Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;
c. penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak.
(2) Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud dalama ayat (1) huruf c dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh Pemberi dan atau Penerima Fidusia kepada pihak-pihak yang
55 Pramana, Aditya Perlindungan Hukum Terhadap Kreditur Pemegang Hak Tanggungan, Surabaya, Mitra Ilmu, 2006, hlm. 43
berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang tersebar di daerah yang bersangkutan.56
Dengan demikian UUJF telah mengatur cara atau menciptakan beberapa model eksekusi atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (1) UUJF, dapat diketahui bahwa apabila debitur cedera janji, eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Eksekusi berdasarkan grosse sertifikat jaminan fidusia atau title ekskutorial (secara fiat eksekusi) yang terdapat dalam sertifikat jaminan fidusia, yang dilakukan oleh penerima fidusia.
b. Ekseskusi berdasarkan pelaksanaan parate eksekusi melalui pelelangan umum oleh penerima fidusia.
c. Eksekusi secara penjualan di bawah tangan oleh kreditur pemberi fidusia.57 Berdasarkasan Pasal 29 ayat (1) UUJF bertolak belakang dengan Putusan MK 18/PUU-XVII/2019, yang menyatakan bahwa perusahaan pembiayaan saat ini tidak boleh lagi menarik kendaraan, kecuali dengan permohonan lebih dulu ke Pengadilan Negeri. Dalam Putusan MK 18/PUU-XVII/2019, yakni norma Pasal 15 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, dengan kutipan berikut:
(2) Sertifikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
(3) Apabila debitur cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak untuk menjual Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya sendiri.58
56 Rachmadi Usman, Op.Cit, hlm 230
57 Ibid.
Putusan MK Nomor 18/PUU-XVII/2019, tertanggal 6 Januari 2020 mekanisme eksekusi objek jaminan fidusia diubah oleh Mahkamah Konstitusi sepanjang tidak diberikan secara sukarela oleh debitur. Sebelumnya, UU Fidusia membolehkan kreditur mengeksekusi sendiri objek jaminan fidusia, namun sejak ada putusan MK tersebut, untuk melaksanakan eksekusi, kreditur harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri. Namun pelaksanaan eksekusi langsung oleh kreditur tanpa melalui Pengadilan Negeri dapat dilakukan apabila debitur mengakui adanya wanprestasi atau cedera janji dalam perjanjiannya dengan kreditur59
Proses pengamanan eksekusi atas jaminan fidusia ini tercantum dalam Pasal 7 Peraturan Kapolri No. 8 tahun 2011, dimana permohonan pengamanan eksekusi tersebut harus diajukan secara tertulis oleh penerima jaminan fidusia atau kuasa hukumnya kepada Kapolda/Kapolres tempat eksekusi dilaksanakan.
Pemohon wajib melampirkan surat kuasa dari penerima jaminan fidusia bila permohonan diajukan oleh kuasa hukum penerima jaminan fidusia. Sesuai yang tercantum Perkapolri Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia Pasal 8 ayat (1) untuk pengajuan permohonan eksekusi, pihak pemohon eksekusi harus melampirkan :
1. Salinan akta jaminan fidusia;
2. Salinan sertifikat jaminan fidusia;
3. Surat peringatan kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya, dalam hal ini telah diberikan pada debitur sebanyak 2 kali dibuktikan dengan tanda terima;
4. Identitas pelaksana eksekusi;
58 Ardito Ramadhan, Putusan-mk-leasing-tak-boleh-lakukan-penarikan-sepihak-harus-lewat/diakses dari https:// nasional.kompas.com/read/2020/01/11/10521441/tanggal 15 April 2021 Pukul 19.00 Wib
59 Vera Rimbawani Sushanty, Tinjauan Yuridis Terhadap Debt Collector Dan Leasing Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019, Gorontalo Law Review Volume 3 - No. 1 – April 2020, hlm 70
5. Surat tugas pelaksanaan eksekusi.
PERKAPOLRI menjelaskan bagaimana mekanisme untuk pelaksanaan eksekusi terhadap penarikan kendaraan bermotor yang diatur di dalam Pasal 14 dan 15, yaitu:
Pasal 14 Tahapan pelaksanaan pengamanan eksekusi meliputi:
a. Tahap persiapan;
b. Tahap pelaksanaan; dan
c. Tahap pengawasan dan pengendalian.
Pasal 15 ayat 1-4 yang berbunyi :
(1) Tahap persiapan pengamanan eksekusi meliputi:
a. Penyusunan perencanaan; dan b. Rapat koordinasi.
(2) Penyusunan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi kegiatan:
a. Membuat perkiraan intelijen;
b. Menyusun rencana pengamanan eksekusi, yang sekurang-kurangnya memuat:
1) Waktu pelaksanaan eksekusi;
2) Jumlah personel, kebutuhan anggaran, dan peralatan;
3) Pola pengamanan;dan 4) Cara bertindak.
(3) Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan sebelum pengamanan eksekusi.
(4) Materi rapat koordinasi meliputi:
a. Penjelasan status hukum jaminan fidusia;
b. Kondisi dan hakikat ancaman di lokasi eksekusi dan sekitarnya;
c. Jumlah personel Polri yang dilibatkan;
d. Peralatan yang diperlukan; dan e. Penjelasan cara bertindak.
PERJANJIAN JUAL BELI DALAM KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA
D. Wanprestasi dalam Perjanjian Jual Beli
Wanprestasi merupakan kondisi dimana debitur tidak dapat melaksanakan kewajiban prestasinya ditentukan dalam perikatan khususnya perjanjian, sehingga wanprestasi merupakan pelanggaran kewajiban kontraktual.60
Perjanjian jual-beli dengan cicilan antara pihak leasing dengan debitur dengan menyerahkan barang atau benda yang dikreditkan, artinya memberikan hak kepemilikan atas barang tersebut kepada debitur, sehingga debitur berhak menjual atau menyewakan barang tersebut. Pemilik barang dilarang mengambil kembali barangnya, jika debitur menunggak pembayaran, dan sudah lebih dari sepertiga harga yang telah diangsurkan maka penuntutan kembali barang tersebut harus melalui pengadilan apabila tidak memiliki sertifikat jaminan fidusia atas barang tersebut.61
Perjanjian pembiayaan dengan penyerahan hak milik secara fidusia dibuat dengan kesepakatan antara perusahaan pembiayaan dan konsumen. Di mana isi perjanjian berupa klausula-klausula baku yang merupakan syarat-syarat yang dibuat secara sepihak oleh perusahaan pembiayaan dan dituangkan dalam suatu dokumen perjanjian yang mengikat serta wajib dipenuhi oleh konsumen, maka
60 Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia : dalam Perspektif Perbandingan (Bagian Pertama), Ctk. 1, Yogyakarta, FH UII Press, 2013, hlm 278
61 Fuady Munir, Hukum Tentang Pembiayaan, Op.Cit, hlm 22
posisi konsumen lemah, sehingga harus mengikuti semua syarat yang telah dibuat oleh perusahaan pembiayaan.62
Hal ini bertentangan dengan Pasal 4 (c) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, bahwa konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.
Perjanjian pembiayaan antara perusahaan pembiayaan dan konsumen hanya menguntungkan pihak perusahaan pembiayaan tanpa memperdulikan konsumen.
Dimana jika konsumen tidak membayar selama tiga bulan, maka pihak perusahaan pembiayaan dapat menarik secara paksa. Konsumen menandatangani perjanjian dengan perusahaan pembiayaan sebagai pemilik barang, namun pembayarannya melalui kredit. Hal ini bertentangan dengan Pasal 18 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, bahwa pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen atau perjanjian apabila menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.63
Sebelum kontrak jual beli perusahan harus cermat dalam meneliti menilai kemampuan debitur dalam membeli kendaraan bermotor. Dalam rangka memenuhi tuntutan global khususnya standar operasional, standar hukum tentang
62 Juwita, Leasing Dalam Perspektif Perlindungan Konsumen Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, jlps.iblam.ac.id/ index.php/jurnal-hukum-dan-kebijakan/../63byS.suardi.2016, diakses 15 April 2021 Pukul 20.21 Wib
63Ibid
eksistensi suatu lembaga keuangan nonbank, perusahaan pembiayaan harus menyesuaikan diri dengan standar tersebut. Perusahaan pembiayaan sebagai salah satu lembaga keuangan non bank merupakan produk bangsa Indonesia, akan terpandang di mata dunia khususnya di dalam globalisasi perdagangan.64
Jual beli kendaraan bermotor harga barang yang telah disepakati bersama dalam perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah terjadi pelunasan pada perjanjian jual beli angsuran dengan pembayaran pertama barang atau kendaraan bermotor telah diserahkan kepada pembeli sebagai konsumen untuk digunakan.65
Tidak terlaksananya perjanjian disebabkan oleh banyak faktor, sehingga tindakan tidak melaksanakan kewajiban oleh salah satu pihak akan merugikan pihak lainnya. Tindakan tidak melaksanakan kewajibannya, dikatakan pihak yang bersangkutan telah melakukan wanprestasi. Akibat wanprestasi yang dilakukan tersebut, maka terhadap pelakunya tentunya memperoleh akibat hukum dengan sanksi tertentu. Secara moril pihak yang wanprestasi akan merasa malu selalu didatangi dan ditegur oleh pihak yang dirugikan pada saat dilakukan penagihan.66
Jual beli kredit merupakan jenis jual beli yang populer bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Jual beli kredit merupakan mekanisme jual beli dimana harga barang dibayar secara berkala atau cicilan dalam jangka waktu yang
64 Anesthesi Blezinsky Sangerokim, Perlindungan Terhadap Konsumen Dalam Kontrak Jual Beli Kendaraan Bermotor Secara Angsuran, Lex Privatum Vol. VIII/No. 3/Jul-Sep/2020, hlm7
65 Ibid.
66M. Jafar, Wanprestasi Penjual Dalam Perjanjian Jual Beli Meubel JIM Bidang Hukum Keperdataan, Vol. 2(4) November 2018, hlm 790
disepakati. Dimana penjual harus menyerahkan barang secara kontan, sedangkan pembeli membayar harga secara cicilan dalam jumlah dan jangka waktu tertentu.67
Jual beli kredit adalah transaksi jual beli dimana barang diterima pada waktu transaksi dengan pembayaran tidak tunai dengan harga yang lebih mahal daripada harga tunai serta pembeli melunasi kewajibannya dengan cara angsuran tertentu dalam jangka waktu tertentu. Hakikatnya membeli barang secara kredit adalah membeli barang dengan cara berhutang.68
Perjanjian jual beli ini merupakan perjanjian yang ada bersama dengan adanya perjanjian pembiayaan konsumen sebagai perjanjian pokok. Perjanjian jual beli ini digolongkan ke dalam perjanjian jual beli yang diatur dalam Pasal 1457-1518 KUHPerdata, tetapi pelaksanaan pembayaran digantungkan pada syarat yang disepakati, yaitu perjanjian pembiayaan konsumen. Pasal 1513 KUHPerdata bahwa pembeli wajib membayar harga pembelian pada waktu dan tempat pembayaran yang ditetapkan menurut perjanjian. Syarat waktu pembayaran ditetapkan dalam perjanjian pembiayaan konsumen yaitu pembayaran secara tunai oleh perusahaan pembiayaan ketika penjual menyerahkan nota pembelian yang ditandatangani oleh pembeli.69
E. Ketentuan Umum Wenprestasi Dalam Perjanjian Jual Beli Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Perjanjian jual beli di Indonesia diatur dalam Buku III KUHPerdata. secara historis, KUHPerdata berasal dari Code Civil Perancis. Kemudian Code Civil tersebut diadopsi Nederland, sehingga dimuat ke dalam Nederland Burgerlijk
67 Salim HS, Op.Cit, hlm. 161
68 Erwadi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer, Bogor, Berkat Mulia Insani, 2014, hlm. 372
69 Sunaryo, Op.Cit, hlm 97
Wetboek dengan beberapa perubahan. Di zaman kolonial, Nederland Wetboek ini diberlakukan juga di Hindia Belanda menjadi Burgerlijk Wetboek voor Indonesia, yang sekarang dikenal dengan KUHPerdata. KUHPerdata ini berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) masih berlaku hingga saat ini.70
Sistem jual beli angsuran atau kredit memang tidak diatur secara khusus dalam KUHPerdata tapi pembeli harus dilindungi dari kerugian. Karena itu pula, kemungkinan bermunculan perjanjian-perjanjian dalam bentuk-bentuk yang baru selain dari perjanjian yang sudah diatur di dalam undang-undang seperti perjanjian jual beli, sewa menyewa dan tukar menukar. Sekalipun macam-macam perjanjian yang sudah diatur di dalam undang-undang pada saat ini, tetapi pada mulanya juga merupakan suatu jenis perjanjian yang baru pada waktu itu.71
Perjanjian jual beli kendaraan dalam aktivitas masyarakat saat ini sangat banyak dilakukan, terutama guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan bisnis dalam pelaksanaan transaksi bisnis dengan harapan para pelaksana memperoleh
Perjanjian jual beli kendaraan dalam aktivitas masyarakat saat ini sangat banyak dilakukan, terutama guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan bisnis dalam pelaksanaan transaksi bisnis dengan harapan para pelaksana memperoleh