• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Hukum Waris Islam Pada Masyarakat

BAB II PELAKSANAAN HUKUM WARIS ISLAM PADA

E. Pelaksanaan Hukum Waris Islam Pada Masyarakat

Manusia adalah mahluk yang dikaruniai oleh Allah SWT dengan berbagai kelebihan dibanding mahluk-mahluk Allah yang lainnya. Yang paling istimewa adalah bahwa manusia dikaruniai akal sebagai bekal melaksanakan tugas utama

82Eman Suparman,Hukum Waris Indonesia dalam Persfektif Islam, Adat, dan BW,Bandung:

dibumi ini baik sebagai khalifah Allah maupun sebagai hamba Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa melepaskan diri dari aktivitas yang bernuansa hukum. Selama melakukan aktivitasnya, manusia berarti melakukan tindakan hukum tetapi permasalahannya banyak manusia yang tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan tindakan hukum. Agar apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan aturan hukum yang ada, manusia harus memahami dan menyadari berbagai aturan hukum yang terkait. Hukum kewarisan yang bahkan sampai sekarang (baik Hukum Waris Adat, Hukum Waris Islam maupun Hukum Waris Barat) merupakan hukum positif yang ditetapkan atau ditegakkan (enforcement) pengadilan. Menurut Mantan Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan, bermacam-macam hukum kewarisan tersebut walau tanpa kodifikasi tanpa unifikasi, tidak berarti tidak ada hukum nasional. Keanekaragama hukum kewarisan tersebut diatas tidak semata-mata sebagai fenomena normatif dan politik hukum, melainkan karena faktor sosiologis, cultural, keyakinan dan lain sebagainya.

Demikian juga seperti hukum waris adat juga beraneka ragam, seperti hukum waris menurut susunan masyarakat patrilineal, matrilineal, dan parental yang masing- masing susunan masyarakat tersebut dapat dijumpai perbedaan-perbedaan dalam hukum kewarisannya. Baik berkenaan dengan pengertian pewarisan, obyek pewarisan, pewarisan, penerima waris, cara-cara pewarisan, kewajiban pembagian warisan, pelaksanaan pembagian warisan. Hubungan antara pewarisan dengan hak- hak pihak ketiga, hubungan pewarisan dengan hak-hak perolehan hak lainnya (seperti hibah,wasiat dan lain-lain), asa-asas yang mengatur hubungan antara sistem

kewarisan yang berbeda yang meliputi asas-asas apabila ada sengketa, titik taut antara sistem hukum kewarisan dan obyek atau subyek kewarisan yang tidak berada dalam yurisdiksinya.

Setiap Muslim seharusnya atau bisa dikatakan wajib memahami permasalahan hukum, khususnya hukum Islam. Aktivitas seorang Muslim sehari-harinya tidak bisa lepas dari permasalahan hukum Islam, baik ketika dia melakukan ibadah kepada Allah maupun ketika dia melakukan hubungan sosial di tengah-tengah masyarakatnya. Memahami hukum Islam secara mendalam bukanlah pekerjaan yang mudah mengingat begitu kompleksnya permasalahan hukum Islam.83 Dibutuhkan kualifikasi yang cukup lama untuk hal tersebut. Seseorang yang ingin mendalami hukum Islam harus memahami dahulu permasalahan Islam secara umum, karena hukum Islam merupakan bagian dari ajaran Islam, bukan keseluruhannya. Bahwa hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Keberadaan hukum Islam sangat ditentukan oleh keberadaan umat Islam. Pada perkembangan selanjutnya hukum Islam menjadi salah satu bidang kajian ilmiah di antara bidang-bidang kajian dalam Islam. Dalam perjalanan kodifikasi hukum nasional Indonesia, keberadaan hukum Islam menjadi sangat penting, hukum Islam juga menjadi inspirator dan dinamisator dalam pengembangan hukum nasional.

Dalam pasal 29 batang tubuh UUD 1945 ayat (1) neraga Republik Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini hanya dapat ditafsirkan antara lain:

a. Dalam negara Republik Indonesia tidak boleh terjadi atau berlaku sesuatu yang bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum Islam bagi umat Islam, atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Nasrani, atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Hindu Bali bagi orang-orang Hindu-Bali, atau yang bertentangan dengan kesusilaan agama Budha bagi orang Budha. Hali itu berarti di dalam wilayah negara Republik Indonesia ini tidak boleh berlaku atau diberlakukan hukum yang bertentangan dengan norma-norma (hukum) agama dan kesusilaan bangsa Indonesia.

b. Negara Republik Indonesia wajib menjalankan syari’at Islam bagi orang Islam, syari’at Nasrani bagi orang Nasrani, dan syari’at Hindu-Bali bagi orang Hindu-Bali. Sekedar menjalankan syari’at tersebut memerlukan perantaraan kekuasaan negara. Ini berarti negara harus menyediakan fasilitas agar hukum yang berasal dari agama yang dianut oleh bangsa Indonesia dapat terlaksana sepanjang pelaksanaan hukum agama itu memerlukan bantuan alat kekuasaan atau penyelenggaraan negara. Artinya, penyelenggara negara berkewajiban menjalankan syari’at yang dipeluk oleh bangsa Indonesia untuk kepentingan pemeluk agama bersangkutan.

c. Syari’at yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara untuk menjalankannya dan karena itu dapat dijalankan sendiri oleh setiap pemeluk agama yang bersangkutan, menjadi kewajiban pribadi terhadap Allah bagi setiap orang itu menjalankannya sendiri menurut gamanya masing-masing. Ini berarti hukum yang berasal dari suatu agama yang diakui di negara Republik Indonesia yang dapat dijalankan sendiri oleh masing-masing pemeluk agama bersangkutan (misalnya hukum-hukum yang berkenaan dengan ibadah, yaitu hukum yang pada umumnya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan) biarkan pemeluk agama itu sendiri melaksanakannya menurut kepercayaan agamanya masing-masing.84

Pemerintah Republik Indonesia menyatakan bahwa ayat (1) pasal 29 UUD 1945 itu merupakan dasar dari kehidupan hukum bidang keagamaan, pada tahun 1970, perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam pasal 29 UUD 1945 itu dijadikan landasan dan sumber hukum dalam mewujudkan keadilan dalam Negara Republik Indonesia. Menurut pasal 4 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1970

84H. Mohammad Daud Ali,Asas-Asas Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata

peradilan di Indonesia harus dilakukan demi keadilan berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.85

Sehingga berdasarkan penelitian, pada umumnya pelaksanaan Hukum Waris pada masyarakat Batak Toba di Kota Medan sebagian besar memakai Hukum Waris Islam, dengan terciptanya kesadaran hukum yang ditanamkan dari setiap masyarakat Batak Toba di Kota Medan maka dalam pembagian harta warisannya menggunakan Hukum warisan Islam karena pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam merupakan bagian dari ajaran agamanya dan menjadi kewajiban agama Islam baginya. Dan unsur-unsur adat mulai berkurang dengan sendirinya Sehingga masing-masing ahli waris mengetahui haknya sesuai hukum faraidh. Pembagian secara waris Islam merupakan pembagian dengan nilai keadilan yang paling tinggi karena keadilan yang telah diterapkan otomatis akan mencegah munculnya berbagai konflik dalam keluarga. Dan hanya sebagian kecil masyarakat Batak Toba yang menggunakan berdasarkan Hukum Adat.

F. Proses Pewarisan Dan Pembagian Harta Warisan Dalam Masyarakat Adat

Dokumen terkait