• Tidak ada hasil yang ditemukan

هنلا َنِّم

B. Penyajian Data

3. Pelaksanaan Pembinaan Budaya Religius Siswa

Kepala sekolah punya komitmen untuk melaksanakan program yang sudah direncanakan.Namun dalam hal SDM masih banyak mengalami kendala karena kompetensi guru tidak memadai , tapi prisip tidak ada rotan akar pun jadi asal ada kemauan dari para pembina untuk selalu berbenah dan terus membuat terobosan-terobosan baru agar pembinaan budaya religius siswa akan terus dapat dipertahankan dan dikembangkan.Kalau menunggu sempurna dan tidak berani mengambil bagian maka akan datang masa kehancuran nya.Keberhasilan dan kesuksesan program itu harus berani dan mau melaksanakan .

baik metode keteladanan, pembiasaan, penugasan dan demontrasi,Para pembina memiliki kompetensi walau tidak bertalar belakang guru PAI,namun mumpuni dalam memberikan materi pembinaan.

Dalam hal ini kepala sekolah sudah menjalankan fungsinya dengan baik sesuai dengan fungsi proses pelaksanaan pada manajemen dimana menurut Sondang P Siagan fungsi penggerak dan pelaksanaan merupakan proses motivating (membangkitkan motivasi), directing (memberikan arah) influencing(mempengaruhi) dan commanding (memberikan komando atau perintah)187

Fungsi penggerak dan pelaksanaan haruslah dimulai pada pimpinan organisasi.Seorang pemimpin harus mampu bersikap yaitu objektif dalam menghadapi berbagai persoalan organisasi melalui pengamatan,objektif dalam menghadapi perbedaan dan persamaan karakter stafnya baik sebagai individu maupun kelompok manusia.Pemimpin mempunyai tekad untuk mencapai kemajuan, peka terhadap lingkungan dan adanya kemmpuan bekerja sama dengan orang lain secara harmonis.Dengan kata lain, pemimpin harus peka dengan kodrat manusia yaitu mempunyai kekuatan dan kelemahan, tidak mungkin akan mampu bekerja sendiri dan pasti akan memerlukan bantuan orang lain, manusia mempunyai kebutuhan yang bersifat

187 Sondang P siagan,Fungsi-fungsi Manajemen,Jakarta:bumi aksara 2012,h.36

pribadi dan sosial, dan pada diri manusia kadang-kadang muncul juga sifat-sifat emosional.

Pelaksanaan (actuating) yang dilakukan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Katingan Tengah dalam pembinan budaya religius sudah sesuai dengan langkah dan makna dari fungsi manajemen pergerakan/pelaksanaan.Akan tetapi masih ada hal-hal yang belum terjangkau seperti pada masa pandemi ini ,kesulitan kami mengundang siswa dalam virtual dengan berbagai alasan siswa tidak ada paket dan sinyal, namun sebagian besar siswa juga termotivasi dalam pembinaan secara virtual.Dan kondisi ini belum tau kapan berakhir,namun pembinaan karakter harus tetap disampaikan dengan berbagai media pembelajaran yang sudah disiapkan dari mulai akun belajar,bazakah yang disiapka dinas pendidikan ,bagaimana pesan-pesan moral ini tersampaikan.

4. Pengawasan Pembinaan Budaya Religius Siswa

Pengawasan pembinaan budaya religius siswa SMA Muhammadiyah Katingan Tengah dilakukan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan dengan melakukan monitoring dan evaluasi. Pengawasan pembinaan budaya religius siswa di SMA Muhammadiyah Katingan Tengah dilakukan oleh pihak sekolah maupun pengawas sekolah dari dinas pendidikan. Pembinaan budaya religius siswa. Monitoring dan evaluasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memantau dan mengevaluasi

hasil pelaksanaan kegiatan maupun pembinaan budaya religius siswa apakah sudah berjalan dengan baik atau sebaliknya.

Langkah awal suatu pengawasan sebenarnya adalah perencanaan dan penetapan tujuan berdasarkan pada standar atau sasaran,Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistimatis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan dan melihat bahwa mutu pendidik digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin di dalam mencapai tujuan.Pengawasan terkadang juga disebut sebagia evaluating appraising atau correcting. Pengertian pengawasan yaitu proses penjamin pencapain tujuan organisasi. Jadi di sini ada kaitan yang erat antara pengawasan dan perencanaan.Pengawasan adalah proses pengamatan dari pada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.188

Pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan, apakah sesuai atau tidak dengan semestinya.kesimpulannya, pengawasan merupakan suatu usaha 188 Ibid,h.353

sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaa tujuan-tujuan perencanaan sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah di tetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan -penyimpngan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan.

Uraian diatas sejalan dengan hasil penelitian yang dikemukakan sebelumnya bahwa kegiatan pengawasan di SMA Muhammadiyah Katingn Tengah dilakukan dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan dengan melakukan monitoring dan evaluasi, dengan melakukan pengawasan dari awal kegiatan hingga akhir kegiatan. maka para pengawas dalam hal ini adalah dari pihak sekolah, dapat melihat langsung jalannya proses pelaksanan dan melakukan penilaian secara langsung. Selain itu monitoring dan evluasi yang dilakukan di SMA Muhammadiyah Katingan Tengah bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan maupun pembinaan budaya religius siswa apakah sudah berjalan dengan baik atau sebaliknya, apakah sudah sesuai dengan perencanaa ataukah belum dan apakah terjadi penyimpangan atau tidak.

Tujuan dari pengawasan yang dilakukan di SMA Muhammadiyah Katingan Tengah ini sejalan dengan sasaran dan pengawasan menurut Mutakalim yaitu:

a) Bahwa melalui pengawasan pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditentukan sunguh-sunguh dengan pola yang telah digariskan dalam rencana.

b) Bahwa struktur dan hirarki organisasi sesuai dengan pola telah di tentukan dalam rencana.

c) Bahwa seseorang sungguh-sungguh ditempatkan sesuai dengan bakat, keahlian dan pendidikan serta pengalamannya dan bahwa usaha pengembangan ketrampilan bawahan dilaksankan secara berencana, kontiniu dan sistimatis,189

Dari hasil penelitian di temukan dokumen berupa instrument monitoring dan evaluasi yang memuat laporan atau catatan pelaksanaan kegiatan untuk mengetahui target yang telah dicapai maupun yang belum tercapai dan untuk mengetahui kendala apa yang dihadapi dalam melaksanakan program kerja yang telah ditetapkan sebagai upaya perbaiakan pada pelaksanaan kegiatan berikutnya,dengan ditemukan dokumen tersebut maka langkah pengawasan yang dilakukan oleh pihak SMA Muhammadiyah Katingan Tengah sudah dapat memenuhi tahapan pengawasan yang dikemukakan oleh mutakalim dibawah ini:

Berdasarkan uraian tersebut mengenai jenis pengawasan yang dilakukan di SMA Muhammadiyah Katingan Tengah termasuk ke dalam jenis pengawasan intern di mana berdasarakan hasil penelitian proses 189 Ibid,H.355

pengawasan pembinaan pelaksanaan religius secara intern dilakukan oleh kepala sekolah dan ketua tim pembinaan.

Manajemen pembinaan budaya religius siswa SMA Muhammadiyah Katingan Tengah sudah menerapkan fungsi manajemen dengan baik, namun setiap program kadang tidak terlepas dari hambatan dan kendala, dari awal perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan sampai dengan pengawasan pembinaan budaya religius.Dari perencanan pembinaan hasil penelitian ditemukan masalah pembagian waktu untuk pelaksanaan pembinaan. Durasi yang ditentukan kadang bisa meleset tidak tepat waktu sehingga bisa menganggu kegiatan berikutnya, dan di dalam pelaksanaan pembinaan masih ada kendala pada pendampingan membaca Al-Qur’an karena dengan 9 ruang kelas yang ada beberapa guru tidak bisa hadir tepat waktu sehingga hal ini menganggu keberlangsungan dari kegiatan membaca Al-Qur’an.Hal ini akan di tindak lanjuti pada saat evaluasi program .Kelemahan dan kelebihan pada suatu perencanaan program pasti akan ditemukan pada setiap kegiatan.Namun kendala yang ada dapat diatasi dengan baik dengan terus melakukan koordinasi baik, koordinasi dengan kepala sekolah ,atau ketua tim juga selalu berkoordinasi dengan para pembina sehingga tujuan dari pembinaan budaya religius siswa tercapai dengan penanaman nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.

BAB VI

Dokumen terkait